1) Yesus Kristus, Bahtera Nuh yang Sejati

Nama Tuhan (2)
Lalu Aku berkata:
Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku
untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”
(Ibrani 10:7)

The bible is not about me
The bible is about my Lord, Jesus Christ…

Itulah yang harus kita pahami sebelum kita membaca setiap lembaran Alkitab. Mengapa? Karena Alkitab memang tidak berbicara tentang kita. Izinkan aku menggunakan satu contoh kisah di Alkitab, yakni kisah Yusuf. Kita tahu bahwa Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya dan singkat cerita ia menjadi pelayan di rumah Potifar. Suatu waktu, ketika Potifar sedang tidak berada di rumahnya, istri Potifar datang kepada Yusuf dan merayunya. Namun, Yusuf memberikan respon yang luar biasa. Ia berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Yusuf kemudian melarikan diri secepat mungkin dan kelanjutan dari kisah ini adalah sejarah yang aku rasa sudah familiar bagi kita.

Nah, inilah poinku. Tiap kali membahas bagian firman Tuhan tersebut, kita cenderung berpikir bahwa kisah Yusuf hanya menggambarkan kehidupan kita. Kita tergoda untuk berpikir bahwa kitalah Yusuf di dalam hidup kita. Setelah selesai membaca atau mendengar firman tersebut, kita berpikir, “Lalu, apa action point yang bisa aku petik di sini? Action point-nya adalah aku harus berusaha hidup seperti Yusuf. Aku harus begini dan begitu supaya aku tidak tertimpa ini dan itu dan supaya aku mendapatkan berkat ini dan berkat itu.” Kemudian kita berdoa. Dan that’s all.

Apakah itu salah? Tidak, itu tidak salah. Tetapi jika kita berhenti hanya sampai di titik itu, kita akan kehilangan arti sebenarnya di balik kisah Yusuf tersebut, yang tentu saja bukan mengenai kita, melainkan tentang “Sang Yusuf yang sejati”, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.

Kisah Yusuf hanyalah satu dari banyak kisah di dalam perjanjian lama yang sering disalahgunakan dan disalahmengerti oleh banyak orang Kristen. Dan jika ada bagian firman Tuhan lain yang paling sering diabaikan, atau disalahmengerti, atau yang dianggap terlalu biasa, atau yang dianggap hanya cocok untuk didengar oleh anak-anak sekolah Minggu, kisah itu tentu saja adalah kisah tentang Nuh. Di bagian terdahulu, kita telah membahas mengenai Nuh dan bagaimana ia menggambarkan pribadi Kristus dan karya-Nya. Di bagian ini, kita akan melihat sisi lain dalam kisah ini. Lebih tepatnya, kita akan berfokus pada bahtera Nuh dan kita akan berusaha untuk menyelam lebih dalam ke dalam firman Allah untuk melihat bagaimana bahtera Nuh TERNYATA merupakan bayang-bayang dari Bahtera yang sesungguhnya yang akan datang kemudian, yaitu Tuhan kita, Tuhan Yesus Kristus.

Aku akan Menyertai Engkau

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1) Pohon-pohon gofir harus MATI untuk membangun bahtera tersebut

“Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir”
(Kejadian 6:14)

Dalam bagian firman Tuhan ini, kita mengetahui bahwa Tuhan memerintahkan agar Nuh membuat bahtera tersebut dari kayu gofir. Dengan kata lain, Nuh harus menebang pohon-pohon gofir untuk menjadikannya bahan bangunan bahtera. Apa yang Allah ingin sampaikan di balik peristiwa ini? Pohon-pohon itu harus mati supaya Nuh dan semua yang Allah tetapkan untuk diselamatkan bisa hidup. Inilah hal pertama yang harus kita mengerti mengenai keselamatan yang sejati, yakni bahwasanya keselamatan itu mahal harganya. Keselamatan selalu merupakan buah dari pengorbanan. Sesuatu harus mati untuk menjadi jalan keselamatan bagi manusia yang berdosa.

Hal yang sama juga dipertegas oleh Allah pada zaman Hukum Taurat. Dibutuhkan begitu banyak hewan ternak yang harus dikorbankan dan mati untuk menebus dosa bangsa Israel dan untuk menyelamatkan mereka dari Allah yang murka karena mereka telah melanggar hukum-Nya. Era Nuh dan Musa terpisah sekian ratus tahun lamanya tetapi cara Allah menyelamatkan umat-Nya tidak pernah berubah. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa manusia dapat memperoleh keselamatan dengan berusaha berbuat baik dan mengumpulkan pahala sebanyak mungkin sedemikian hingga jumlah pahala orang tersebut lebih banyak dibanding dosa-dosanya. Apa yang Alkitab ajarkan adalah bahwa satu-satunya cara Allah menyelamatkan umat-Nya yang berdosa adalah dengan memindahkan kesalahan orang tersebut kepada suatu objek dan objek itu harus mati sebagai ganti orang yang telah berdosa itu.

Nuh “menyelamatkan” umat manusia dengan mengorbankan begitu banyak pohon gofir untuk membangun bahtera. Musa “menyelamatkan” bangsa pilihan Allah, yakni bangsa Israel, dengan mempersembahkan begitu banyak hewan korban untuk penebusan dosa. Namun, kisah kasih Allah untuk umat-Nya belum selesai sampai di sana. Baik Nuh maupun Musa, bukanlah juruselamat yang sebenarnya. Begitu pula dengan bahtera Nuh dan hewan-hewan korban itu. Keduanya bukanlah penyelamat yang sejati, melainkan merupakan bayang-bayang dari Penyelamat yang sesungguhnya. Hanya satu Juruselamat yang kekal, hanya satu Bahtera Keselamatan yang sejati, hanya satu Korban yang berbau harum di hadirat Allah, Dialah Tuhan kita Yesus Kristus. Dialah Juruselamat yang menebus dosa seluruh umat manusia yang Allah selamatkan, yang mencakup orang-orang percaya sebelum zaman Kristus, pada zaman Kristus, dan setelah zaman Kristus.

Sebagaimana pohon gofir itu bertumbuh di atas bumi, Kristus adalah taruk dan tunas yang bertumbuh dari tanah yang kering (Yesaya 53:2). Sebagaimana pohon gofir itu harus ditebang dan terpisah dari tanah tempatnya bertumbuh, Kristus juga harus tersingkir dan terpisah dari dunia orang hidup (kaw-rath/dipotong, Daniel 9:26). Sebagaimana pohon gofir itu hidup dan mati sebagai sebuah bahtera keselamatan, Kristus juga hidup dan mati sebagai Juruselamat yang menebus umat-Nya. Ya, Kristuslah pohon gofir yang kekal. Kristuslah bahtera keselamatan yang sejati.

Akulah Gembala yang Baik

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2) Bahtera itu hanya memiliki SATU pintu

dan pasanglah pintunya pada lambungnya;
(Kejadian 6:16)

Hanya ada satu akses untuk masuk ke dalam bahtera itu, yakni sebuah pintu yang terletak di bagian lambungnya. Selain pintu tersebut, tidak ada jendela maupun pintu lain yang dapat dilewati untuk masuk ke dalam bahtera. Inilah gambaran dari keselamatan yang ada di dalam benak Allah kita. Pesan tersembunyi apa yang Allah ingin kita mengerti dari firman ini? Ya, hanya ada satu jalan menuju keselamatan.

Mungkin ada banyak jalan menuju Roma dan ada milyaran jalan menuju neraka namun hanya tersedia satu jalan menuju Kerajaan Sorga. Sama seperti Allah hanya menyediakan satu pintu untuk masuk ke dalam bahtera keselamatan itu, Ia menetapkan bahwa hanya ada satu pintu yang membawa umat-Nya menuju keselamatan. Dan Pintu itu adalah Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akulah Pintu 2

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia,
sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia
yang olehnya kita dapat diselamatkan.
(Kisah 4:12)

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yohanes 14:6)

Kristus adalah Pintu keselamatan yang Sejati. Dia jugalah Bahtera keselamatan yang Abadi. Namun, kisah ini tidak hanya sampai di sana. Sebagaimana bahtera Nuh memiliki pintu di perutnya, Kristus memiliki luka di perut-Nya akibat tikaman tombak prajurit yang menyalibkan-Nya (Yohanes 19:34). Dan sekalipun Ia telah bangkit dari maut, Ia tidak membiarkan luka itu hilang. Ia membawa luka itu bersama-Nya. Kau tahu mengapa? Karena luka di perut-Nya itu akan menjadi pintu yang menggiring seseorang kepada iman yang benar.

Suatu kali, orang itu berkata kepada-Nya:
Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?

Kata Yesus kepada orang itu:
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku.
Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Namun, orang itu belum benar-benar percaya kepada-Nya. Orang itu masih meragukan-Nya. Tidak lama setelah percakapan itu, Yesus dijatuhi hukuman mati, disalibkan, dan mati. Mengetahui Kristus telah mati, orang itu semakin tidak percaya pada perkataan-Nya. Namun, pada hari yang ketiga, Kristus bangkit dari kubur dan Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya tetapi orang itu tidak ada di sana. Teman-temannya kemudian menceritakan pada orang itu bahwa Kristus telah bangkit namun ia tidak percaya. Ia bahkan mengatakan:

Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya
dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu
dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.

Delapan hari kemudian, Kristus datang kepada para murid dan tentu saja kepada orang itu. Tuhan kita kemudian mendatangi orang itu dan berkata kepadanya:

Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku,
ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku
dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.

Melihat semua itu, orang itu berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Wooow, luar biasa, bukan? Di seluruh bagian Alkitab, tidak ada seorangpun yang menyatakan keilahian Kristus sesingkat dan sejelas orang itu. Kristus telah menjadi bahtera keselamatan baginya. Luka di perut-Nya telah menjadi pintu masuk yang membawa orang itu kepada hidup yang baru. Orang itu tidak lagi sekadar percaya, ia menjadi percaya bahwa Kristus adalah Allah yang sejati. Kristus kini ada di dalam orang itu dan orang itu ada di dalam Dia. Tidak berhenti sampai di sana, orang itu kemudian pergi ke banyak daerah di Asia, termasuk ke India, dan ia menjadi pintu yang menggiring banyak orang kepada Tuhan Yesus Kristus melalui Injil yang ia kabarkan.

Kau tahu siapa orang yang berbahagia itu? Tentu saja, ia adalah Rasul Tomas.

Dia Tertikam

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3) Allah memberikan UNDANGAN untuk masuk ke dalam bahtera itu

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh:
Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu,
sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.
(Kejadian 7:1)

Kata “masuklah” di dalam bagian firman Tuhan ini berasal dari bahasa Ibrani, yakni “bo”, yang lebih cocok diartikan sebagai sebuah “undangan” dibanding sebuah “perintah. Ya, Allah mengundang Nuh dan semua yang bersama dengannya untuk masuk ke dalam bahtera dan diselamatkan. Hal ini merupakan detail yang sangat penting untuk dipahamahi oleh setiap orang sebab ini menjelaskan karakteristik dari keselamatan yang Allah sediakan bagi umat-Nya.

Sekalipun secara kasat mata, bahtera tersebut dibangun oleh Nuh, bahtera itu pada hakekatnya adalah milik Allah. Dialah yang mengerjakan bahtera tersebut dan Dialah yang berkuasa penuh atasnya. Dialah yang menjadi Tuan Rumah atas bahtera tersebut dan Ia berhak mengundang siapa saja yang Ia kehendaki untuk datang ke dalamnya. Sama dengan itu, keselamatan yang kekal berasal dari Allah dan dikerjakan oleh Allah sehingga Dialah yang berhak mengundang setiap orang untuk datang menuju keselamatan-Nya.

Tuhan yang Mengerjakan

Jika kita menelusuri Alkitab lebih dalam, kita akan menemukan bahwa undangan yang Allah sampaikan pada Nuh ini merupakan undangan Allah yang pertama yang dicatat di Alkitab. Perhatikan bahwa undangan pertama dari Allah ini bukanlah undangan untuk menjadi kaya raya, bukan pula undangan untuk menjadi berkuasa, melainkan undangan untuk diselamatkan. Tidakkah ini mengajarkan sesuatu yang penting bagi kita? Tentu saja ini sangat penting sebab dengan pemahaman ini kita menjadi semakin mengerti bahwa apa yang selalu menjadi prioritas pertama bagi Allah untuk umat-Nya adalah keselamatan mereka dan hubungan yang dipulihkan antara Ia dan mereka. Allah MENYELAMATKAN umat-Nya dengan MENGUNDANG mereka untuk datang kepada-Nya dan berlindung di dalam-Nya sehingga di mana Ia berada di situ juga mereka ada.

Keselamatan yang sejati tidak berasal dari deretan peraturan ini itu yang harus dipenuhi untuk bisa menerimanya. Keselamatan yang sejati dari Allah adalah sebuah undangan. Lebih dari itu, di dalam Kristus, keselamatan adalah sebuah undangan TERBUKA. Barangsiapa percaya kepada Dia yang mengundang, lalu beranjak dari tempat di mana ia berada sebelumnya, dan datang kepada-Nya untuk memenuhi undangan agung itu, ialah yang akan beroleh hidup dan sukacita yang kekal bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya.

Memanggil Kamu

MARILAH kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
(Matius 11:28)

Itulah undangan sekaligus janji dari Yesus Kristus, Allah di atas segala allah. Dialah Allah yang mengundang Nuh untuk masuk ke dalam bahtera-Nya. Dia jugalah Allah yang mengundang setiap orang untuk datang berlindung dan untuk menikmati persekutuan yang intim, indah, dan kekal bersama-Nya. Dialah Gembala yang mencari domba-domba-Nya yang hilang. Dialah Ayah yang memanggil anak-anak-Nya yang memberontak untuk kembali kepada-Nya. Dialah Raja yang mengundang umat-Nya yang miskin, kelaparan, kesepian, sengsara, dan tak punya pengharapan untuk datang ke istana milik-Nya dan menikmati jamuan pesta yang kekal bersama-Nya.

Dia adalah Juruselamat. Hanya mereka yang mau merendahkan diri dan mengaku bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan dirinya sendirilah yang membutuhkan Juruselamat dan yang, tentu saja, akan diselamatkan oleh-Nya. Itulah keselamatan sejati yang berasal dari satu-satunya Allah yang benar dan yang hidup, yakni Allah yang tidak dikenal oleh dunia yang gelap ini.

Biarkanlah Dirimu Diselamatkan

#Bersambung

Advertisements

One thought on “1) Yesus Kristus, Bahtera Nuh yang Sejati

  1. Pingback: 1) Yesus Kristus, Bahtera Nuh yang Sejati | nathaniamey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s