1. Mengejar Kebahagiaan atau Kekudusan?

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil.

(Mazmur 1 : 1-3)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 A

Tahun 2014 sebentar lagi akan berlalu dan berganti menjadi tahun 2015. Ada begitu banyak cara yang dilakukan oleh masing-masing orang untuk mengisi waktu pergantian tahun ini. Ada yang bercengkerama bersama-sama dengan keluarga besar, ada yang bepergian bersama teman dekat, dan ada juga yang menikmatinya dalam kesendirian. Ada yang membuat resolusi untuk dilakukan di tahun depan, ada yang memasang target-target baru, dan ada juga yang mengilas balik semua kejadian penting yang telah terjadi di dalam hidupnya di tahun yang akan segera berlalu ini. Semua orang memiliki pengalaman yang berbeda di dalam tahun 2014 dan memiliki pengharapan yang berbeda pula untuk tahun yang baru. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka semua di pergantian tahun ini. Apakah itu?

Mereka mengharapkan tahun depan adalah tahun yang penuh KEBAHAGIAAN.

Kebahagiaan, itu merupakan harapan yang secara alami dimiliki oleh setiap orang. Tidak ada seorangpun yang hidup di muka bumi ini yang tidak ingin hidup berbahagia. Semua orang ingin hidup bahagia dan seperti apa yang dicetuskan dalam US Declaration of Independence, setiap orang berhak untuk mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) di dalam hidup yang dijalaninya.

Namun, ada satu masalah besar: dunia sama sekali tidak mengerti apa itu kebahagiaan. Bagi dunia, kebahagiaan adalah kondisi yang penuh dengan canda tawa dan senyuman, perasaan jauh dari atau lupa akan keberadaan masalah, atau kondisi di mana segala sesuatu berada di bawah kendali. Kebahagiaan adalah kekayaan, kesehatan, kesuksesan, dan kekuasaan. Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu meraih apa yang ia cita-citakan. Kebahagiaan adalah ketika seseorang memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang ia kehendaki tanpa ada seorangpun yang menghalangi. Kebahagiaan adalah ketika seseorang diterima dan dihargai. Kebebasan adalah ketika seseorang mampu memandang dirinya sebagai pribadi yang berharga terlepas dari pendapat siapapun.

Jika kau bertanya kepada orang-orang di luar sana, jawaban-jawaban seperti itulah yang akan kau dapatkan. Mungkin jawaban itu tidak akan keluar dari pengakuan atau penuturan bibir mereka namun gaya dan cara hidup mereka akan menegaskan bahwa hal-hal itulah yang mereka mengerti sebagai kebahagiaan dan itulah yang mengisi mimpi-mimpi mereka di masa pergantian tahun ini.

Lalu, apa tanggapan Alkitab mengenai definisi dunia tentang kebahagiaan itu? Memang benar bahwa untuk sekian waktu lamanya semua itu dapat membawa kenikmatan dan kegembiraan bagi mereka yang mendapatkannya. Namun, semua itu bukanlah kebahagiaan yang sejati dan yang ilahi menurut Firman Allah. Jika kebahagiaan adalah sama seperti apa yang dunia pahami dan inginkan, maka Tuhan kita tidak perlu turun dari sorga, menjadi manusia, dan mati di atas kayu salib untuk menanggung hukuman bagi orang-orang berdosa. Dunia sama sekali tidak mengenal apa itu kebahagiaan. Lebih buruk dari itu, dunia tidak sadar bahwa apa yang mereka kenal, harapkan, dan kejar selama ini bukanlah kebahagiaan melainkan tipuan iblis yang selalu berusaha memerangi Kerajaan Allah dan tidak pernah berhenti untuk menyesatkan dan membinasakan setiap orang.

Ayat - Pengkhotbah

Opini dan ekspektasi manusia bukanlah kebenaran. Satu-satunya kebenaran adalah Allah dan Firman-Nya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang percaya tidak boleh menyerahkan kesempatan kepada dunia dan manusia untuk mendefinisikan bagi kita apa itu kebahagiaan. Aku katakan ini dengan segenap hatiku, “Jangan biarkan Pak Mario Teguh mengartikan apa itu kebahagiaan padamu!”. Apa yang perlu kau dan aku lakukan adalah datang kepada Allah dan memohon belas kasih-Nya untuk menjelaskan dan mengajarkan kepada kita arti kebahagiaan yang sejati melalui Firman-Nya yang ada di Alkitab. Tidak hanya sampai di sana, kita perlu mengerti bahwa Allah tidak hanya ingin mengajarkan apa itu kebahagiaan tetapi Ia juga rindu memberikannya kepada setiap orang yang Ia kehendaki menurut kasih setia dan janji-Nya.

37104_777900745607921_4859655576686665285_n

Nah, untuk itulah aku mengajak kita semua untuk bersama-sama denganku belajar tentang arti kebahagiaan berdasarkan Firman Allah. Melalui pembelajaran kali ini, aku berharap kita mengerti apa kata Tuhan mengenai kebahagiaan yang sesungguhnya, dan setelah kita mengerti kita percaya, dan setelah kita percaya kita meminta, dan setelah kita meminta kita menerima, dan akhirnya segala sesuatu kita kembalikan hanya untuk memuliakan Allah kita.

Maukah engkau memahami Firman-Nya dengan lebih dalam?
Siapkah engkau diajar oleh-Nya?
Jika “Ya”, semoga pembelajaran (4 judul) kali ini dapat menjadi berkat bagimu dan bagiku.

Ayat - Ayub

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Kebahagiaan Berakar dari Kekudusan

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh
(Mazmur 1:1)

J. I. Packer - To be Godly

Prinsip pertama dari kebahagiaan yang sejati menurut Alkitab adalah kebahagiaan berakar dari kekudusan. Mereka yang berbahagia adalah mereka yang hidupnya kudus dan jauh dari dosa. Ini adalah kebenaran yang tidak dimengerti oleh dunia. Bagi dunia, dosa adalah sumber kenikmatan. Bagi dunia, kebebasan untuk berbuat dosa merupakan kebahagiaan itu sendiri. Tidak demikian apa yang Alkitab katakan. Firman Allah menegaskan bahwa dosalah yang menyebabkan datangnya penderitaan dan maut ke dalam dunia ini. Oleh sebab itu, satu-satunya jalan agar manusia mengalami kebahagiaan adalah apabila ia terlepas dari kuasa dan perbudakan dosa. Dengan kata lain, hanya mereka yang hidup di dalam kekudusan yang akan mengerti dan mengalami kebahagiaan yang berasal dari Allah.

Martyn Lloyd-Jones Holiness

Dan inilah yang selama ini aku kuatirkan, yakni kalau-kalau iblis telah menggiring Kekristenan, khususnya di Indonesia, ke arah yang ia kehendaki, yaitu “Kekristenan” tanpa kekudusan. Mengapa aku menuliskan “Kekristenan” dengan tanda petik? Sebab tidak mungkin Kekristenan terpisah dari kekudusan. Tidak ada Kekristenan tanpa kekudusan. Kekristenan yang sejati akan ditandai oleh kekudusan hidup.

Lihatlah ke sekelilingmu! Adakah ajaran dan ajakan untuk menjaga dan mengejar kekudusan hidup disampaikan di persekutuan atau gerejamu? Jika tidak ada, berjaga-jagalah dan berdoalah agar Tuhan tidak membiarkan persekutuanmu jatuh ke tangan si jahat. Adapun untukmu, tuliskanlah ini di dalam hati dan pikiranmu: kekudusan adalah syarat mutlak untuk kebahagiaan yang sejati.

10551030_10152688286638385_6168516039088401875_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kini pertanyaannya, bagaimanakah cara agar manusia dapat hidup kudus. Jika kita bertanya kepada orang-orang religius yang memenuhi dunia ini dengan segala peraturan-peraturan yang mereka miliki, maka kita akan mendapat beberapa jawaban seperti ini: “Lakukan ini maka kau akan hidup kudus!” atau “Lakukan itu maka kau akan benar di hadapan Allah!”

Jawaban seperti itu tidaklah lebih dari tong kosong yang nyaring bunyinya. Firman Tuhan berkata bahwa merupakan suatu kemustahilan bagi seorang manusia, yang telah jatuh ke dalam dosa, untuk dapat hidup benar dan kudus di hadapan Allah. Manusia memang dituntut oleh Allah untuk hidup benar dan kudus namun manusia tidak akan pernah mampu memenuhi tuntutan tersebut bahkan barang sedikitpun. Ibarat kain kotor tidak dapat membersihkan lantai yang kotor, usaha dan ibadah manusia yang tidak sempurna tidak mungkin dapat menyucikan orang itu dari dosa-dosanya.

Ayub 14 4

Satu-satunya cara agar manusia dapat hidup kudus adalah apabila status dan natur dari orang itu terlebih dahulu dikuduskan oleh Allah. Dengan darah Anak-Nya yang tercurah di atas kayu salib, Allah membasuh orang-orang yang berdosa dan menguduskan mereka. Status mereka bukan lagi “orang berdosa” dan “orang yang dimurkai”, melainkan “orang kudus”, “orang benar”, dan “anak Allah”. Inilah yang di dalam Alkitab disebut sebagai peristiwa pembenaran (justification). Tidak hanya itu, natur mereka pun ditransformasi dari yang awalnya adalah “orang yang mati secara spiritual” menjadi “orang yang terlahir kembali”. Di dalam Alkitab, peristiwa ini disebut dengan kelahiran kembali (regeneration). Semua anugerah itu dapat diterima oleh manusia bukan dengan perbuatan baik atau pengetahuan yang mereka miliki, melainkan melalui dan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus dan kepada karya penebusan yang telah Ia tunaikan melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman,
dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
(Roma 3:28)

pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita,
bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,
tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali
dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
(Titus 3:5)

Pada saat status dan natur seseorang dikuduskan, Allah tidak lagi mengingat-ingat kesalahan yang orang itu perbuat (Yesaya 43:25). Ia dinyatakan benar di hadapan Allah dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang Allah selamatkan. Setelah itu, barulah orang itu dapat masuk ke dalam fase pengudusan hidup (sanctification). Berbeda dengan peristiwa pembenaran dan lahir baru yang terjadi secara sekejap (instan) dengan hanya melalui iman, pengudusan hidup merupakan suatu proses yang berlangsung secara progresif melalui ketaatan di mana seseorang yang berada di bawah tuntunan dan penguatan Roh Kudus berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Di dalam proses ini, gaya hidup orang itu dipangkas dan dibersihkan. Ia yang awalnya menikmati dan bersahabat dengan dosa, kini dimampukan oleh Allah untuk membenci dan menjauhinya. Ia yang awalnya adalah budak dosa, kini dikuatkan oleh Allah untuk berperang, bahkan mengalahkannya (sekalipun kemenangan mutlak atas dosa baru akan tercapai ketika tubuh dosa diganti oleh Allah dengan tubuh yang baru). Ia yang awalnya hidup duniawi dan penuh kebebasan, kini dibawa menuju kepada hidup yang kudus, benar, fokus, dan rohani.

Ayat - Pengudusan

Hidup yang demikian tentu tidak mudah. Akan ada begitu banyak penyangkalan diri, bahkan tangisan, yang terjadi dalam proses ini. Namun, seperti apa yang telah dibahas di atas, justru di dalam penyakalan diri itulah seseorang akan digiring oleh Allah kepada kekudusan yang semakin terang dan di dalam kekudusan yang semakin terang itulah ada kebahagiaan dan sukacita yang semakin hari semakin nyata.

Dalam menuntun dan mendidik umat-Nya menjalani proses pengudusan hidup, Allah memiliki cara yang unik dan khusus untuk masing-masing anak-Nya. Pengalaman orang Kristen yang satu tentu tidak akan persis sama dengan pengalaman orang Kristen yang lain. Namun, itu tidak berarti bahwa Allah akan memakai sembarang macam cara untuk menguduskan anak-anak-Nya. Itu juga tidak berarti bahwa Allah akan membiarkan setiap anak-Nya untuk berjalan menurut pikiran dan perasaannya sendiri kemudian berasumsi bahwa itu adalah tuntunan dari Allah. Tidak, Allah memang punya bermacam-macam cara namun semua cara itu tunduk pada satu prinsip, yaitu bahwa Allah hanya akan menguduskan umat-Nya dengan jalan membawa anak-Nya itu untuk hidup seturut dengan Firman-Nya.

Di luar Firman Allah, tidak ada pengudusan hidup. Itulah prinsip berikutnya dari kebahagiaan yang Alkitabiah. Firman Allah tidak akan pernah terlepas dari kebahagiaan sama seperti firman Allah tidak akan pernah terlepas dari kekudusan. Hal ini akan kita bahas dalam bagian berikutnya.

Ayat - Yohanes 17 17

#Bersambung ke: 2. Mengejar Kebahagiaan di dalam Firman Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s