2. Mengejar Kebahagiaan di Dalam Firman Allah

2. Kebahagiaan Berakar dari Kesukaan dan Ketaatan pada Firman Allah

Berbahagialah orang yang … kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam…
(Mazmur 1 : 2)

1919674_958133837534506_3781354289254485676_n
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Prinsip kedua dari kebahagiaan yang Alkitabiah adalah kebahagiaan bersumber dari kesukaan dan ketaatan pada Firman Allah. Aku rasa prinsip ini saja sudah cukup untuk memberikan kesimpulan kepada kita bahwa 50% lebih (saya hanya menduga di sini) manusia yang hidup di muka bumi ini tidak sedang berbahagia. Berbeda dengan Pemazmur yang menemukan sukacita di dalam perenungan Firman Allah, dunia termasuk sejumlah besar orang yang menyebut dirinya Kristen tidak merasakan hal yang sama. Berawal dari ketidaksukaan akan Firman Allah ini, dunia melarikan diri kepada kenikmatan-kenikmatan yang mereka ciptakan dan semakin hari semakin membuat dirinya terpuruk dalam kegelapan.

Martyn-Lloyd-Jones-Quote

Di dalam ketidaktaatan mereka, sebagian orang meninggalkan penghormatannya kepada Allah sementara sebagian lagi berusaha mengartikan, bahkan mengubah isi Firman Allah agar sesuai dengan keinginannya. Sebagai hasilnya, penderitaan demi penderitaan menimpa dunia ini sebab penderitaan bermula dari ketidaktaatan manusia. Semakin banyak penderitaan menerpa, orang-orang menjadi semakin memberontak kepada Allah dan semakin menjauh dari apa yang telah Allah tetapkan di dalam Firman-Nya. Ironisnya, justru di tengah-tengah kekacauan dan kegelapan inilah, orang-orang yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti arti sukacita kemudian menciptakan definisi mereka sendiri untuk kebahagiaan.

Kebahagiaan itu kemudian mereka kejar. Mereka melakukan dan mengorbankan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan itu. Ketika akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka mungkin akan merasakan kesenangan sekejap tetapi tidak lama setelah itu, mereka sadar bahwa keinginan hati mereka belum benar-benar terpuaskan. Mereka lalu menargetkan kebahagiaan baru yang kemudian mereka kejar kembali. Mereka kembali mendapatkan apa yang mereka harapkan tetapi hati mereka tidak kunjung damai dan puas. Di dalam kekecewaan yang tidak ingin mereka akui, mereka mengulang kembali lingkaran setan itu dengan harapan yang tetap sama, yaitu mereka ingin hidup bahagia. Proses itu berlangsung terus menerus dan semakin lama proses itu berlanjut semakin mereka jauh dan tersesat dari Firman Allah. Alhasil, mereka menjadi semakin jauh dari kebahagiaan yang sejati dan semakin dekat kepada kebinasaan.

IMG_325728570881348

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Raja Salomo, orang yang paling berhikmat (setelah Yesus Kristus) yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi ini, pernah berkata:

Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan,
dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.
(Amsal 16:20)

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus yang ketika berkhotbah di atas bukit pernah mengatakan:

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan.
(Matius 5:6)

dan dalam doa-Nya di taman Getsemani, Tuhan kita mengatakan, “firman-Mu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17). Dengan kata lain, Tuhan kita menegaskan bahwa mereka yang lapar dan haus akan kebenaran Firman Allah adalah orang-orang yang berbahagia sebab mereka akan dipuaskan, atau menurut terjemahan lain, mereka akan dipenuhi.

Dipuaskan atau dipenuhi dengan apa? Tentu saja dengan semua hal BAIK yang Allah Bapa siapkan dan sediakan bagi mereka yang mengasihi-Nya dan yang terpanggil menurut rencana-Nya (Roma 8:28). Mereka disebut berbahagia sebab mereka akan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (Efesus 3:19) yang mencakup:

  • segala pengetahuan (Roma 15:14)
  • buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus (Filipi 1:11)
  • sukacita (Kisah Para Rasul 13:52), dan
  • kepenuhan Roh Kudus (Lukas 11:13)

10513385_10152300797676961_8258025378463131414_n

Itu semua adalah berkat yang Allah sediakan bagi setiap orang yang lapar dan haus akan Firman-Nya. Namun, perlu kita ketahui bahwa orang yang benar-benar lapar dan haus akan Firman Allah, tidak hanya akan berhenti sampai pada titik di mana ia belajar Firman tersebut, tetapi lebih dari itu, ia juga akan memiliki kerinduan dan kesediaan untuk taat kepada Firman yang ia terima itu. Berkat Allah, yang disebut di atas, tidak tersedia untuk mereka yang hanya ingin mengenal Allah secara intelektual untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri tetapi hanya untuk mereka yang benar-benar mencintai-Nya dan memiliki relasi yang intim sebagai hamba sekaligus anak-Nya, yang mana semua itu akan ditandai dengan KETAATAN pada perintah-perintah-Nya.

Ayat

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Matius

Namun, kita perlu menyadari realitas yang terjadi di dalam hati dan hidup setiap manusia. Realitas apakah itu? Yakni pada dasarnya kita tidak sepakat dengan Tuhan Yesus ketika Ia mengatakan bahwa manusia hidup dari firman yang keluar dari mulut Allah. Bagi kita, yang membuat kita hidup adalah roti dan bukan Firman Allah. Kita tidak terlahir dan bertumbuh sebagai orang yang menyukai Firman Allah. Kita hidup sebagai orang yang menemukan kegembiraan di dalam hiburan dan kenikmatan dunia namun tidak di dalam Firman-Nya. Bagi kita, Firman Allah tidak lebih dari daftar peraturan yang harus ditaati, sejarah panjang yang tidak jelas ke mana arahnya, rincian kutuk yang menakutkan, deretan janji berkat yang tidak lebih menarik dan menggoda dibanding janji-janji dan kenikmatan dunia, serta kisah Yesus Kristus yang telah kita hapal di luar kepala sejak zaman sekolah Minggu. (Apakah itu yang ada di pikiranmu saat ini?)

Mengapa bisa begitu? Mengapa kisah dan kata-kata dari Allah tidak lebih menarik dibanding kisah dan kata-kata manusia yang hina dan fana? Jawaban Alkitab untuk pertanyaan itu adalah karena dosa telah menggelapkan pikiran setiap manusia duniawi sehingga mereka tidak memiliki cukup hikmat untuk memahami, apalagi menikmati Firman Allah. Melalui Rasul Paulus, Allah berfirman:

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,
karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;
dan ia tidak dapat memahaminya,
sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
(1 Korintus 2:14)

Semua manusia, dilahirkan sebagai manusia duniawi atau manusia yang berada di bawah kutuk perhambaan dosa. Mereka tidak dapat mengerti Firman Tuhan sebab Firman itu hanya dapat dipahami oleh manusia rohani.  Itulah alasan mengapa dunia tidak pernah menemukan kebahagiaan. Itulah alasan mengapa orang-orang tidak menemukan sukacita, kedamaian, dan penguatan dari janji-janji Allah dalam Firman-Nya. Itulah alasan mengapa Alkitab tidak lebih menarik dibanding novel dan komik buah pikiran manusia. Itulah asalan mengapa Injil tidak cukup untuk membuat orang-orang ingin menari.

Bukankah itu kabar yang menyedihkan? Bagiku, itu sangat menyedihkan dan membuat hati gentar. Sayangnya, ada kabar yang lebih buruk dari itu, yaitu bahwa tidak ada seorangpun yang dengan tekad dan usahanya dapat membuat dirinya menikmati dan mengerti Firman Allah. Manusia mungkin dapat melatih, bahkan memaksa diri mereka untuk rajin merenungkan Firman Tuhan tetapi jauh di dalam hati mereka, mereka tidak akan pernah sanggup membuat hati mereka cinta akan Firman-Nya. Mengapa? Sebab tidak peduli sekeras apa mereka berusaha, mereka tidak akan pernah bisa membuat diri mereka sendiri menjadi manusia yang rohani.

Hal itu menempatkan semua manusia pada kondisi yang tanpa pengharapan sebab dari diri mereka sendiri mereka tidak akan pernah menemukan pertolongan. Itu adalah kabar buruk bagi setiap manusia tanpa terkecuali seorangpun. Namun, ketiadaan pengharapan yang datangnya dari manusia tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki pengharapan sama sekali. Tuhan kita pernah berkata,

Bagi manusia hal ini tidak mungkin,
tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.
(Matius 19:26)

Ya, manusia  masih memiliki pengharapan. Masih ada kabar baik. Masih ada jalan keluar. Dan inilah jalan keluar yang Allah kerjakan agar manusia dapat menikmati Firman-Nya dan agar seorang manusia duniawi berubah menjadi manusia rohani:

IMG_512179803371

Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan
Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku
dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.
(Yehezkiel 36:26-27)

Apakah yang Allah maksud di dalam firman tersebut? Kelahiran baru, itulah satu-satunya jalan keluar bagi umat manusia. Hanya orang yang telah dilahirkan kembali yang akan memiliki hati yang menikmati Firman Allah. Hanya orang yang telah dilahirkan kembali yang memiliki hikmat untuk mengerti dan taat akan Firman-Nya sebab hanya merekalah yang memiliki Roh Kudus untuk mengajarkan kepada mereka arti dari Firman yang mereka terima dan renungkan. Dengan kata lain, hanya mereka yang telah mengalami mujizat lahir baru yang akan menemukan kebahagiaan sejati yang selalu dinantikan tetapi yang tidak pernah dikenal oleh dunia ini. Inilah yang menjadi prinsip ketiga dari kebahagiaan yang Alkitabiah dan ini mengantarkan kita kepada bagian selanjutnya.

10676352_10150462153014949_3686280372401967037_n

#Bersambung ke: 3. Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s