3. Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

3. Kebahagiaan Hanya akan Dialami oleh Orang yang Terlahir Kembali

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air…
(Mazmur 1:3)
Ayat - Air Hidup
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Yohanes 3Prinsip ketiga dari kebahagiaan yang Alkitabiah adalah kebahagiaan sejati hanya dapat dialami oleh mereka yang telah terlahir kembali melalui kuasa Roh Kudus. Prinsip ini pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kedua prinsip sebelumnya sebab hanya orang yang telah lahir baru yang dapat hidup kudus (prinsip pertama) serta menikmati dan menaati Firman Allah (prinsip kedua). Namun, untuk tujuan pemahaman yang lebih mendalam, kita perlu memisahkan prinsip ini dari dua prinsip yang lain.

Perhatikan bahwa pemazmur tidak menggambarkan orang yang berbahagia itu sebagai “pohon yang tumbuh” atau “pohon yang tertanam” melainkan “pohon yang di-tanam” di tepi aliran air. Apa yang pemazmur ingin sampaikan adalah bahwasanya pohon itu tidak tumbuh di tepi aliran air secara kebetulan atau sebagai akibat dari proses yang alamiah. Pohon itu tidak akan pernah tertanam di tepi aliran air seandainya tidak ada seseorang yang secara sengaja menanam bibit pohon itu di sana.

Ini merupakan kiasan yang sangat indah untuk menggambarkan orang yang pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sejati di dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah timbul, baik secara spontan, natural, maupun dengan usaha yang timbul dari kehendak seorang manusia. Sama seperti biji pohon tidak dapat memutuskan untuk tertanam di tepi aliran air, manusia tidak dapat membuat keputusan apapun untuk membuatnya hidup dalam kebahagiaan. Satu-satunya cara agar seseorang dapat menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya adalah apabila ada seorang Pribadi, yang berkuasa atas orang itu, yang berintervensi dan menempatkan orang itu ke dalam hidup yang baru. Pribadi yang dimaksud tentu saja adalah Allah, melalui Roh-Nya yang kudus.

Hal yang serupa pernah diungkapkan oleh Tuhan kita kepada Nikodemus yang pada suatu malam mendatangi Dia untuk bercakap-cakap dengan-Nya. Nikodemus bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan seorang Pengajar Israel yang tentu menguasai bagian Firman Tuhan yang saat ini kita kenal sebagai Perjanjian Lama. Ia juga termasuk golongan Farisi dan itu artinya ia berpikir bahwa manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan kerja keras dan ketaatannya kepada Firman Allah. Untuk mengoreksi pemahaman Nikodemus yang salah ini, Tuhan kita berkata kepadanya.

Yohanes 3 3Satu pernyataan dari Tuhan Yesus sudah cukup untuk menegaskan kepada Nikodemus bahwa apa yang telah ia pahami selama ini adalah salah sekalipun ia terkenal sebagai seorang ahli Firman Allah. Tuhan kita menggambarkan perihal masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagai suatu peristiwa kelahiran. Manusia tidak dapat melakukan atau membuat keputusan apapun untuk membuat dirinya dilahirkan. Sama dengan itu, manusia tidak berdaya melakukan apapun untuk membuatnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mendengar perkataan Tuhan, Nikodemus belum mengerti. Ia kemudian bertanya, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Di dalam kebingungannya, Nikodemus masih mengharapkan Tuhan Yesus untuk memberitahu kepadanya apa yang dapat ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Tetapi Tuhan Yesus berkata kepadanya:

Angin

Apa yang Tuhan kita maksud (kusarankan membaca satu perikop penuh dari Injil Yohanes pasal 3) adalah bahwa seseorang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kecuali ia telah dilahirkan kembali (atau dalam bahasa aslinya: dilahirkan dari atas), bukan dengan kehendak dan kuasanya sendiri, melainkan dengan kehendak dan kuasa Allah melalui Roh Kudus. Sama seperti angin yang tidak dapat dikendalikan serta tidak diketahui dari mana datangnya dan ke mana perginya, Roh Kudus mengerjakan kelahiran baru di dalam hidup seseorang tanpa campur tangan sedikitpun dari orang itu. Layaknya seorang bayi tidak memberi kontribusi apapun dalam kelahiran jasmani, seorang Kristen tidak memberi kontribusi sedikitpun dalam peristiwa kelahiran rohani. Ibarat mayat tidak dapat membuat dirinya bangkit dari kematian fisik, seorang manusia yang telah mati di dalam dosa tidak akan pernah mampu mengerjakan kebangkitan spiritual di dalam hidupnya.

10257654_10152474653308115_6854282495194062779_o

Ini merupakan kebenaran yang seharusnya menghancurkan kesombongan yang ada di dalam hati setiap orang, khususnya mereka yang menganggap dirinya cukup baik, seperti Nikodemus di malam itu. Manusia sama sekali tidak memiliki kuasa dan kedaulatan untuk memperoleh hidup dan kebahagiaan yang sejati. Apa yang manusia dapat lakukan hanyalah percaya dan meminta di dalam kerendahan hati namun hanya Allah yang dapat memberikan hidup yang baru seturut dengan kehendak-Nya. Seperti seseorang yang sengaja mengambil bibit pohon dan menanamkannya di tepi aliran air, begitu pula Allah yang di dalam kedaulatan-Nya mengambil seorang manusia yang awalnya mati secara rohani, memindahkannya dari kegelapan, dan akhirnya menanam orang itu ke dalam persekutuan yang intim dan indah dengan Anak-Nya, yang adalah Sumber Air Kehidupan.

10494674_10152357886368423_8905995408551234084_n

Ketika mengerjakan mujizat kelahiran baru atau regenerasi, Allah Bapa melalui Roh Kudus, datang kepada seseorang yang telah Ia pilih sebelum dunia dijadikan dan menganugerahkan kepadanya iman di dalam Yesus Kristus yang membawa orang itu kepada keselamatan sehingga ia tidak lagi mati secara spiritual, melainkan beroleh hati dan hidup yang baru di dalam Kristus. Ia yang telah mengalami kelahiran baru merupakan orang yang telah diselamatkan-Nya dan tanpa kelahiran baru tidak ada keselamatan.

Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita,
dan kasih-Nya kepada manusia,
pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita,
bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,

tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali
dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,
(Titus 3:4-6)

Setelah seseorang dilahirkan kembali, ia yang awalnya tidak pernah terlepas dari perbudakan dosa akhirnya dibebaskan oleh Allah dan ia dianugerahi-Nya kekuatan untuk berperang melawan dosa dan mengalahkannya. Ia yang pada awalnya buta dan tuli akan Firman Allah, dibuat-Nya menjadi berhikmat dan peka terhadap Firman-Nya. Tidak hanya itu, hatinya yang telah diperbaharui oleh Allah menjadikannya rindu untuk taat pada setiap perkataan dan hukum-Nya. Ia tidak lagi memandang ketaatan sebagai kewajiban yang memberatkan tetapi sebagai wujud ucapan syukur, penyembahan, sukacita, bahkan kehormatan karena telah diizinkan untuk melayani Allah yang telah menebus hidupnya dari maut. Ia, yang telah dilahirkan oleh Roh, akan mengikut teladan Kristus yang pernah berkata:

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(Yohanes 4:34)

Setiap hari, Roh Kristus terus membimbingnya untuk hidup di dalam kekudusan dan mengajarkan arti Firman Tuhan kepadanya. Ia menjalani hidup yang digambarkan oleh Raja Salomo sebagai “cahaya fajar” yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari (Amsal 4:18). Ia bersekutu dengan Allah. Ia menikmati persekutuan dengan Allah. Ia diperbaharui hari demi hari menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29).

10450139_10152238279248520_322665142783905292_n

Seperti bibit yang bertumbuh menjadi pohon yang kokoh, berdaun rimbun, dan berbuah lebat, ia yang semula adalah bayi rohani, dididik dan dibesarkan oleh Allah menjadi seorang Kristen yang dewasa, yang berakar kuat di dalam iman yang sejati, dan yang menghasilkan buah-buah yang baik yang Allah kehendaki untuk kemuliaan bagi Nama-Nya. Buah-buah apakah yang dimaksud? Ini mengantarkan kita kepada bagian yang selanjutnya.

Matthew_5-16

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil
(Mazmur 1:3)

J.-C.-Ryle

Pohon yang ditanam di tepi aliran air akan tumbuh subur dan menghasilkan buah pada musimnya. Keberadaan buah menunjukkan bahwa pohon tersebut memiliki makanan yang berlimpah sehingga ada bagian yang dapat disimpan sebagai cadangan makanan untuk bertahan hidup ketika musim kering tiba. Tidak hanya itu, buah tidak hanya berguna bagi pohon itu sendiri tetapi juga bagi sang penanam pohon. Orang itu menanam pohon itu di tepi aliran sungai dengan harapan suatu saat kelak ia akan menikmati buah-buah yang matang, manis, dan segar yang pohon itu hasilkan.

Demikianlah halnya mereka yang telah menemukan Yesus Kristus dan menerima hidup yang baru. Mereka tidak akan berkekurangan dalam segala hal yang baik yang mereka butuhkan. Mereka sama seperti Daud yang di dalam Mazmurnya mengatakan, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Tidak hanya itu, hidup mereka akan berkelimpahan dengan kasih karunia Allah sehingga akan selalu ada berkat yang bisa mereka bagikan sebagai buah untuk membangun orang lain dan terutama untuk memuliakan Allah yang adalah Sang Penanam. Mereka akan bersama-sama dengan Rasul Paulus menegaskan komitmen mereka kepada Allah dan berkata:

Bekerja Memberi Buah

Buah seperti apa yang akan mereka hasilkan? Firman Tuhan menjelaskannya, yaitu:

  • buah pertobatan (Matius 3:8)
  • buah kebenaran (2 Korintus 9:10 ; Filipi 1:11 ; Ibrani 12:11)
  • buah pengudusan (Roma 6:22)
  • buah pekerjaan yang baik (Kolose 1:10)
  • buah Roh (Galatia 5:22-23)
  • buah jiwa-jiwa (Yohanes 12:24 ; 1 Korintus 9:1 ; Filemon 1:12)

Ayat - Buah yang Baik

Semua yang digambarkan oleh Firman Allah sebagai buah berbicara tentang perbuatan atau cara hidup yang berkenan kepada Allah. Namun, ada satu buah yang unik dan berbeda dari buah-buah yang lain, yaitu buah jiwa-jiwa. Apakah arti dari buah jiwa ini? Buah jiwa adalah orang tak percaya yang akhirnya bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya melalui Injil yang diberitakan oleh seorang Kristen dan/atau orang percaya yang diteguhkan iman dan pemahamannya akan Firman Tuhan melalui pengajaran dan pemuridan yang dilakukan oleh seorang Kristen. Kecuali untuk kasus tertentu seperti orang-orang yang baru menerima anugerah iman dan pertobatan ketika menjelang akhir hidupnya, semua orang Kristen yang sejati dipanggil, diperlengkapi, dan dianugerahi kesempatan oleh Allah untuk menghasilkan buah jiwa-jiwa bagi-Nya.

IMG_63560266546871

Keselamatan dan penguatan iman bagi domba-domba Kristus, itulah yang selalu menjadi kerinduan bagi mereka yang telah menerima anugerah hidup yang baru. Itulah yang akan selalu mengisi doa-doa mereka. Itulah yang menjadi bahan bakar di dalam hidup mereka. Mereka paham benar artinya diampuni dan diselamatkan oleh Allah sehingga mereka rindu melihat orang lain juga diampuni dan diselamatkan oleh-Nya. Mereka sama seperti Raja Daud, yang ketika memohon pengampunan dari Allah berjanji:

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu,
dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu
kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran,
supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
(Mazmur 51:14-15)

Mereka tidak lagi hidup untuk kebahagiaan mereka sendiri. Keselamatan jiwa-jiwa menjadi kebahagiaan mereka. Amanat Agung Kristus menjadi hidup mereka. Bagi mereka, segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan perluasan Kerajaan Allah di muka bumi ini adalah suatu kesia-siaan yang tidak layak diperjuangkan. Di dalam Kristus, hidup mereka menjadi suatu ladang misi sekaligus ladang penggembalaan yang melaluinya orang-orang dapat melihat kemuliaan Allah dan datang kepada Kristus, Sang Juruselamat dunia.

10410704_780231608708168_8733410967724945748_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hidup yang berbuah bagi Allah, itulah arti kebahagiaan menurut Alkitab. Mereka yang berbahagia adalah orang yang kekuatan hidupnya bersumber dari persekutuan yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus dan yang dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang, khususnya bagi anak-anak-Nya. Sama seperti pohon yang akarnya menjalar semakin dalam dari hari ke hari, Kristus akan membawa setiap domba-Nya kepada pengenalan akan Allah yang semakin mendalam.

Dengan demikian, seperti kata Pemazmur yang mengatakan bahwa “daun pohon itu tidak akan layu”, anak-anak Tuhan yang telah terlahir kembali tidak akan berputus asa. Justru sebaliknya, mereka akan selalu memiliki pengharapan dan pengharapan itu tidak akan mengecewakan mereka (Roma 5:5 ; 15:3). Mereka akan giat bekerja bagi Kerajaan Allah dan sekalipun lelah, mereka akan menemukan sukacita di dalam setiap jerih payah mereka sebab Kristus akan selalu bersama-sama dengan mereka (Matius 28:20). Mereka akan mendapati apa yang mereka kerjakan berhasil sebab Allah menyertai mereka dan mendengarkan serta mengabulkan doa-doa mereka (Yohanes 15:7 ; 16:24).

Akulah Pokok Anggur

#Bersambung ke: 4. Berbahagia atau Tidak Sama Sekali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s