Hai Ibu, Besar Imanmu (1)

Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu. Wanita itu berseru:

Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud,
karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.

Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu:

Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya:  “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

(Matius 15:21-28 ; Markus 7:24-30)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa yang luar biasa indah ini? Tentu saja ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Namun, kali ini aku ingin mengajak kita semua untuk fokus hanya kepada satu hal, yaitu iman.

Di dalam beberapa peristiwa lain yang tercatat di keempat Kitab Injil, kita menemukan Tuhan kita berkata kepada murid-murid-Nya, “di manakah imanmu?” atau “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?” Namun, dalam peristiwa ini, Tuhan mengatakan bahwa iman yang dimiliki oleh ibu ini adalah iman yang besar. Mengapa Tuhan Yesus berkata seperti itu? Apakah yang sebenarnya terjadi? Nah, melalui pembelajaran kali ini, aku ingin mengajak kita semua untuk mencoba menggali lebih jauh ke dalam Firman Tuhan untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi kualitas dari iman sang ibu sehingga Tuhan kita menyebutnya sebagai iman yang besar.

Untuk bisa sampai kepada tujuan dari pendalaman ini, aku rasa akan sangat membantu jika kita memulainya dengan mengeksposisi perkataan yang sang ibu ucapkan sendiri, yaitu:

Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.

Menurutku, itulah kunci dari peristiwa ini, atau setidaknya, itulah salah satu kunci utamanya. Itulah curahan hati yang karenanya Tuhan kita menghargai iman sang ibu sebagai iman yang besar. Dan dari perkataan sang ibu tesebut, kita dapat menemukan paling tidak ada dua hal esensial yang pasti ada di dalam iman yang besar.

Namun, sangatlah penting untuk kita mengerti bahwa pembelajaran Alkitab secermat apapun tidak akan mampu mengubah atau memperbaharui hidup dan hati seseorang seandainya Allah Roh Kudus tidak turut bekerja dan menerangi hati orang tersebut. Oleh sebab itu, sebelum kita menyelam lebih dalam, marilah kita berdoa dan memohon agar Allah Bapa, melalui Roh-Nya yang kudus, mengajar kita kebenaran dari peristiwa ini dan pada akhirnya, mengarahkan kita semakin dekat kepada Sang Kebenaran, yaitu Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus.

                ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Di dalam Iman yang Besar, ada Kerendahan Hati

“Benar Tuhan…”

Hal pertama yang perlu kita mengerti adalah bahwa kerendahan hati akan selalu menyertai iman yang sejati. Tanpa kerendahan hati, keyakinan seseorang terhadap Allah tidaklah lebih dari sekadar pengetahuan intelektual dan bukan iman yang membawa pada transformasi dan keselamatan. Kerendahan hati merupakan buah dari iman. Semakin besar iman seseorang, semakin ia rendah hati. Semakin kuat imannya, semakin lemah kebergantungannya pada kekuatannya sendiri. Semakin mekar imannya, semakin ia menyangkal diri dan membenci meninggikan diri.

Allah berfirman melalui Yakobus, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Alkitab penuh dengan panggilan untuk merendahkan hati. Kerendahan hati merupakan salah satu fondasi sekaligus pilar di dalam seluruh kebenaran Firman Allah. Namun, perlu kita ketahui bahwa seringkali maksud Alkitab mengenai kerendahan hati tidaklah sama dengan kerendahan hati yang dimengerti oleh dunia dan zaman ini. Dunia, termasuk di antaranya orang-orang Kristen yang terlalu terpengaruh dengan zaman ini, lebih sering memaknai kerendahan hati sebagai sikap yang menunjukkan kesopanan kepada sesama manusia, misalnya saja dengan memberi salam, murah senyum, tidak pamer atau menyombongkan diri, tidak berusaha menjadi pusat perhatian, atau berjalan sambil menunduk ketika berjalan melewati orang yang lebih tua.

Di sisi lain, banyak orang yang menyebut dirinya Kristen tidak mengerti sama sekali dengan kerendahan hati di hadapan Allah. Mereka menyebut nama Tuhan dengan sepele. Mereka menjadikan jargon “GBU” sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan tanpa benar-benar mempersiapkan hati untuk menyebut nama yang Maha Mulia itu. Mereka mempergunakan Firman Allah secara sembarangan dengan mengutip dan membagikannya kepada orang lain melalui banyak media, misalnya Facebook dan SMS, tanpa benar-benar memahami maksud dan konteks dari Firman Allah tersebut. Tidak hanya itu, banyak ibadah yang dilakukan dengan hanya mengutamakan kasih kepada Allah tetapi secara efektif mengecilkan penghormatan terhadap kekudusan Allah. Di zaman ini, menjadi ekspresif dan berjingkrak-jingkrak dalam ibadah akan sangat mungkin dinilai lebih rohani dibandingkan ketenangan dan keteraturan yang bersumber dari kerendahan hati di hadapan Allah yang Maha Kudus.

Apakah sikap yang demikian menunjukkan kerendahan hati yang Alkitabiah? Tentu tidak. Alkitab memang mendorong orang percaya untuk bersikap rendah hati dan tidak sombong terhadap sesamanya (Efesus 4:2 ; Filipi 2:3 ; 1 Petrus 5:5). Namun, sangatlah perlu untuk kita mengerti bahwa Alkitab jauh lebih sering menekankan bahwa kerendahan hati merupakan sikap yang harus ditunjukkan di hadapan Allah. Kerendahan hati di hadapan manusia bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil dari kerendahan hati yang sebenarnya, yaitu kerendahan hati di hadapan Allah. Tanpa kerendahan hati, seseorang tidak dapat datang kepada Allah. Mereka yang datang kepada Tuhan tanpa kerendahan hati hanya akan mendatangkan penolakan, bahkan murka, atas dirinya sendiri sekalipun di bibirnya mereka berkata, “Aku cinta Yesus. Aku sahabatnya Yesus. Aku mengenal Yesus secara intim. Aku ingin datang kepada-Nya dengan sukacita.”

Ketika sang ibu datang kepada Tuhan kita, ia datang dengan sikap hati yang benar. Lihatlah apa yang sang ibu lakukan! Ia sampai berteriak-teriak untuk memanggil Tuhan Yesus. Ia tersungkur di hadapan-Nya. Ia bahkan menyembah-Nya. Ketika Tuhan Yesus mengibaratkan sang ibu (dan bangsanya yang non-Yahudi) sebagai anjing, ia tidak menolak. Sang ibu tidak serta merta menjadi marah dan berkata, “Berani beraninya Dia menyebutku sebagai anjing. Dia pikir siapa Dia! Dasar orang Yahudi.”

Tidak hanya itu, Tuhan kita juga berkata, “Tidak patut untuk melemparkan roti kepada anjing sementara anak-anak belum kenyang.” Terhadap perkataan itupun sang ibu tetap tidak melawan. Ia tidak berusaha membela diri. Ia tidak berusaha menjelaskan kepada Yesus bahwa ia adalah tipe orang yang patut dan layak untuk ditolong. Tetapi apa yang sang ibu lakukan? Ia dengan rendah hati menerima semua yang Tuhan katakan dan menjawab, “Benar Tuhan…”.

Mengapa sang ibu bisa mengatakan hal itu? Mengapa ia bertahan dengan semua sikap yang Tuhan perlihatkan? Mengapa ia tidak beranjak pergi? Hanya satu jawabannya, yaitu karena sang ibu tahu bahwa dirinya memang tidak layak. Ia sadar siapa dirinya. Ia sadar dari bangsa mana ia berasal. Dan di atas semua itu, sekalipun mungkin sang ibu belum sepenuhnya mengerti siapakah Tuhan Yesus sebenarnya, namun di dalam hatinya ia tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang berbeda dan yang layak menerima penyembahan dan penghormatan. Sikap yang demikianlah yang menunjukkan kerendahan hati yang bersumber dari iman yang besar.

Ayat - Rendah Hati

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pertemuan sang ibu dengan Tuhan Yesus merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi. Peristiwa ini bukanlah sebuah perumpamaan, melainkan sejarah. Namun, dengan terang dan tuntunan Roh Kudus, setiap orang percaya dianugerahi hikmat untuk tidak hanya memandang peristiwa ini sebagai sebuah sejarah tetapi juga memahaminya sebagai gambaran dari kehidupan iman setiap orang percaya. Tuhan Yesus pernah berfirman:

Ayat - Miskin di Hadapan Allah

Semua firman Allah sangatlah penting dan merupakan kebenaran yang mutlak. Namun, menurutku Matius 5:3 merupakan salah satu firman paling penting yang harus dimengerti oleh setiap orang. Mungkin tidak semua orang Kristen memiliki pemahaman intelektual dan teologis yang baik untuk mengeksposisi maksud dari ayat itu. Namun, tidak ada satupun orang Kristen sejati yang tidak menghidupi dan mengalami makna dari ayat itu. Semua orang Kristen adalah orang yang miskin di hadapan Allah. Semua orang yang saat ini telah berada di dalam Kerajaan Sorga dan yang akan menyusul kelak merupakan orang-orang yang miskin di hadapan Allah.

Apakah arti dari miskin di hadapan Allah? Sebelum menjawab hal itu, kita perlu mengerti setidaknya dua hal yang bukan merupakan kemiskinan di hadapan Allah. Miskin di hadapan Allah bukanlah:

  • miskin secara material, dan
  • ketidaktahuan akan Firman Allah, tidak beriman, jarang berdoa, hidup tidak kudus, atau semacamnya.

Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang miskin secara spiritual. Ia tidak memandang dirinya sebagai orang yang baik atau layak. Ia sadar akan dosa-dosanya. Ia berduka karena setiap dosanya. Ia menangis karena semua pelanggaran yang ia lakukan. Ia sadar bahwa ia telah terang-terangan melawan Allah yang Maha Besar. Ia paham bahwa ia terus-menerus mendukakan hati-Nya. Ia mengerti bahwa semua itu menjadikan dirinya tidak layak untuk datang kepada Allah apalagi mengharapkan dan memohon pengampunan dari-Nya. Ia tahu bahwa apa yang layak untuk ia terima adalah api neraka.

Orang yang miskin di hadapan Allah adalah ia yang bersama-sama dengan raja Daud bermazmur:

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku,
aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa
dan melakukan apa yang Kauanggap jahat,
supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu,
bersih dalam penghukuman-Mu.

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan,
dalam dosa aku dikandung ibuku.
(Mazmur 51:5-7)

Orang yang miskin di hadapan Allah adalah ia yang menyadari kejahatan di dalam dirinya, seperti Petrus yang berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” (Lukas 5:8). Ia sama seperti Nabi Yesaya yang berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir…” (Yesaya 6:5).

Orang yang miskin di hadapan Allah adalah ia yang bersama-sama dengan Rasul Paulus menangis:

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku,
yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik…

Demikianlah aku dapati hukum ini:
jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku…
Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
(Roma 7:18-24, silakan dibaca satu perikop)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman Allah menegaskan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Semua manusia adalah jahat. Semua manusia tidak layak untuk datang ke hadirat Allah. Namun, itu tidak berarti bahwa semua orang adalah orang yang miskin di hadapan Allah.

Orang-orang dunia ini memang penuh dengan dosa tetapi mereka bukanlah orang yang miskin, melainkan orang yang kaya di hadapan Allah. Orang-orang  ateis tidak percaya bahwa Allah itu ada. Orang-orang agnostik tidak memandang Allah penting. Orang-orang religius menyangka diri mereka cukup baik dan layak untuk beroleh hidup yang kekal bersama dengan Allah. Mereka menyangka mereka sedang melayani Allah padahal yang mereka layani adalah kesombongan hati mereka sendiri. Mereka semua adalah orang berdosa yang patut binasa, dan pasti akan binasa apabila mereka tetap berada dalam hidup yang demikian, namun mereka tidak pernah mau bertobat dan mencari Allah yang benar. Mereka hanya peduli pada hati mereka sendiri dan tidak peduli pada hati Allah yang hari demi hari tersakiti oleh dosa-dosa mereka. Dalam hal itulah mereka berlagak kaya di hadapan-Nya.

Namun, bukan hanya dunia yang melakukan hal itu. Banyak orang yang menyebut dirinya Kristen juga adalah orang yang bertingkah kaya di hadapan Allah. Mereka mengira mereka telah diselamatkan padahal mereka tidak pernah sekalipun memandang diri mereka sebagai orang berdosa yang sama sekali tidak memiliki pengharapan di luar Yesus Kristus. Mereka tidak sadar betapa mereka telah mendukakan hati-Nya. Ketika mereka melakukan dosa, mereka tidak berdoa memohon ampun tetapi mereka hanya berkata, “Ah, Tuhan pasti mengampuni kesalahanku ini.”

Mereka tahu bahwa menjadi religius bukanlah jalan keselamatan dan mereka juga tidak suka menjadi religius tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menjadi orang-orang religius yang palsu itu. Mereka giat dalam pelayanan sekalipun mereka tidak pernah benar-benar memiliki persekutuan yang intim dengan Kristus. Mereka tertarik ikut kegiatan penginjilan padahal mereka tidak pernah betul-betul merasakan sukacita dalam Kabar Baik itu. Mereka mengatakan, “Tuhan Yesus mengasihiku dan aku mencintai Yesus” padahal jauh di dalam lubuk hati mereka yang terdalam, mereka hanya mencintai diri mereka sendiri dan mereka tidak pernah benar-benar percaya bahwa Yesus mengasihi mereka. Mereka miskin tetapi mereka tidak sadar dan tidak mau menyadari betapa miskinnya mereka. Dalam hal itulah, banyak orang Kristen palsu yang berlagak kaya dan tidak memiliki kerendahan hati di hadapan Allah.

Pascal

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alistair Begg

Tidaklah demikian dengan orang yang miskin di hadapan Allah. Mereka yang miskin di hadapan Allah benar-benar menyadari dosa-dosa mereka. Mereka sadar bahwa mereka jahat dan kebenaran tidak ada di dalam diri mereka sendiri. Mereka tahu bahwa mereka tidak lebih baik dari orang berdosa manapun dan sebagian dari mereka bahkan merasa diri mereka jauh lebih buruk dari orang-orang lain.

Namun, sekalipun begitu, mereka tidak sama seperti Yudas Iskariot. Setelah melihat bahwa Yesus akan dijatuhi hukuman mati, Yudas menyadari bahwa pengkhianatannya merupakan kesalahan yang besar. Ia dilanda perasaan bersalah. Iapun menyesal dan berniat untuk mengembalikan tiga puluh perak yang telah ia terima kepada imam-imam kepala dan tua-tua. Ia berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.”

Apa yang kemudian terjadi pada Yudas? Ya, ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Perasaan bersalah menenggelamkan Yudas ke dalam intimidasi iblis yang akhirnya berujung pada bunuh diri.

Orang yang miskin di hadapan Allah tidak melakukan apa yang Yudas Iskariot lakukan. Mengapa? Karena miskin secara spiritual tidak sama dengan perasaan bersalah. Perasaan bersalah akan membawa seseorang untuk berfokus pada dirinya sendiri. Ia tidak merasa nyaman dengan perasaan bersalah itu sehingga ia berusaha untuk menghilangkannya, baik dengan berusaha menebus salah atau dengan menyakiti dirinya sendiri. Miskin di hadapan Allah tidak akan membuat seseorang berfokus pada dirinya sendiri, melainkan kepada Allah. Sekalipun dia tahu bahwa dia adalah orang berdosa yang tidak layak dan bahwa dia telah mendukakan hati-Nya, jika dia adalah orang yang miskin dan rendah hati di hadapan Allah, maka dia akan datang kepada-Nya untuk memohon belas kasihan dan pengampunan-Nya. Itu semua tidak dia lakukan bukan karena ia lebih berinisiatif dibandingkan orang lain melainkan karena Allah yang dengan anugerah-Nya memanggil orang yang rendah hati itu dan menariknya untuk datang mendekat kepada-Nya. Firman Allah berkata:

Ayat - Rendah Hati

Ya, Tuhan akan menghidupkan semangat dan menghidupkan hati orang-orang yang miskin di hadapan-Nya. Tuhan akan menghibur orang-orang yang rendah hati. Tuhan akan memberikan kepada mereka pengharapan. Tuhan akan memuaskan hati mereka dengan sukacita dan hadirat-Nya sendiri. Tuhan akan memperkenalkan diri-Nya lebih dalam kepada mereka. Tuhan akan membenarkan mereka di hadapan-Nya. Tuhan akan menganugerahkan kepada mereka pengampunan dan keselamatan. Tuhan akan memberikan mereka awal yang baru, hati yang baru, dan hidup yang baru, yaitu hidup yang kekal di bumi hingga ke zaman yang baru kelak.

Pertanyaannya, bagaimana Allah akan melakukan semua hal itu? Ia akan mengerjakan semua itu hanya dengan satu cara. Ia akan melakukannya dengan cara yang sama dengan apa yang Ia lakukan kepada sang ibu yang anak perempuannya kerasukan setan itu, yaitu dengan membawa mereka semua kepada Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita yang pernah berkata:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan
jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Matius 11:28-29)

Tuhan Yesus Kristus, Dialah Raja bagi semua orang yang miskin dan rendah hati di mata Allah. Dialah Juruselamat yang menebus dosa-dosa mereka. Dialah Penasehat Ajaib. Dialah Allah yang perkasa. Dialah Bapa yang kekal. Dialah Raja Damai. Dialah Jalan. Dialah Kebenaran. Dialah Hidup. Dialah satu-satunya pengharapan bagi umat di dunia. Dialah Anak Domba Allah yang tentang-Nya firman Tuhan berkata:

Ayat - Buluh

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hai, orang-orang yang berdosa, yang jahat, dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri!

Kita adalah buluh yang patah terkulai itu.
Adakah Dia mematahkan kita sampai kita tidak dapat bangkit lagi?

Kita adalah sumbu yang pudar nyalanya itu.
Adakah Dia memadamkan kita sehingga kita tidak memiliki hidup dan pengharapan lagi?

Jika tidak, mengapa kita berusaha menjauh dari-Nya?
Jika tidak, mengapa tidak saat ini juga kita menyadari kemiskinan kita di hadapan-Nya?
Jika tidak, mengapa kita tidak berkata kepada-Nya seperti ibu itu:

Benar Tuhan
Aku hanyalah anjing…
Aku tidak termasuk anak-anak Kerajaan-Mu
Aku tidak patut Engkau tolong…

Aku jahat
Aku hina
Aku tidak layak

Aku lemah
Aku tidak berdaya
Aku tidak mampu menolong diriku sendiri

Namun, ya Tuhan.
Justru karena itulah aku MEMBUTUHKAN Engkau, ya Allah.”

Jika kau mau datang kepada-Nya dengan rendah hati dan sebagai pengemis yang miskin, maka percayalah janji Tuhan:

Ayat - Mazmur

Amin

#Bersambung ke bagian II

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s