Hai Ibu, Besar Imanmu (2)

2. Di dalam Iman yang Besar, ada Pergulatan dengan Allah

“namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Adalah suatu hal yang umum dilakukan oleh banyak orang Kristen untuk berkata di dalam hatinya, “Aku tidak perlu berdoa sebegitu seriusnya kepada Tuhan sebab Tuhan tahu yang terbaik untukku. Jika Ia menghendaki sesuatu terjadi, pasti akan Ia lakukan pula sekalipun aku tidak memintanya sebab Ia adalah Allah yang berdaulat.” Berdasarkan Firman Tuhan, kita tentu tidak dapat mempersalahkan pemikiran semacam itu. Namun, sangat disayangkan bahwa sebagian besar pemikiran itu tidak timbul dari penghormatan yang tulus akan kedaulatan Allah, melainkan dari iman yang kecil dan hubungan yang renggang dengan Tuhan. Banyak orang berpikir seperti itu karena mereka tidak yakin bahwa Allah mau menolong mereka dan menjawab doa-doa mereka. Bahkan mungkin lebih buruk dari itu, orang-orang Kristen yang berpikir demikian mungkin saja tidak tidak memiliki iman sama sekali.

Peristiwa yang kita pelajari kali ini menunjukkan bahwa sang ibu bukanlah salah satu dari orang-orang yang demikian. Ketika sang ibu berteriak-teriak dari jauh memanggil Tuhan Yesus dan Tuhan nampaknya tidak menghiraukannya, sang ibu berusaha mendekat kepada Tuhan. Ketika sang ibu melihat respon Tuhan yang terlihat dingin, ia tetap tidak menyerah. Ia bahkan menyembah-Nya. Dan ketika pada akhirnya Tuhan Yesus angkat bicara dan mengatakan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”, apakah sang ibu berhenti memohon pertolongan? Apakah ucapan Tuhan menghancurkan kegigihan sang ibu? Ternyata tidak. Sekalipun terlihat bahwa Tuhan Yesus sudah menolak mentah-mentah permohonan sang ibu, tekadnya tetap tidak luntur.

Sang ibu memang berkata, “Benar Tuhan…” yang menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan. Tetapi sang ibu belum selesai sampai di situ. Ibu itu melanjutkan dengan suatu perkataan, yang aku percaya berakar dari iman dan hikmat yang pada saat itu dianugerahkan oleh Allah kepadanya, sehingga ia berkata, “namun anjing itu makan remah remah yang jatuh dari meja tuannya” Mendengar jawabannya, Tuhan Yesus yang pasti sudah tahu bahwa sang ibu adalah salah satu dari domba-Nya yang terhilang, akhirnya mengakui iman sang ibu dan bersedia menolongnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apakah kau melihat apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Lihatlah! Sang ibu bergulat dengan Tuhan Yesus untuk mendapatkan pertolongan dari-Nya. Sang ibu bergumul dengan Tuhan dan akhirnya ia menang. Ia tidak sama dengan kebanyakan orang Kristen yang tidak mau dan tidak berani berdoa dengan gigih karena mereka beralasan bahwa Allah tidak akan berubah hanya karena doa-doa manusia. Ia tidak memiliki iman sekecil itu. Sang ibu memiliki iman yang besar, yang sejati, yang mampu memindahkan gunung dan memerintahkannya untuk tertancap ke laut. Sang ibu memiliki iman yang membawanya kepada kemenangan di hadapan Allah.

Tolong jangan salah mengerti! Peristiwa ini tidak mengatakan bahwa manusia, secara harfiah, dapat mengalahkan Allah dengan cara apapun. Peristiwa ini tidak mengatakan bahwa manusia dapat menciptakan iman di dalam hatinya sendiri. Peristiwa ini juga sama sekali tidak mengatakan bahwa apa yang manusia sampaikan kepada Allah, entahkah itu berupa doa, seruan, atau tangisan, dapat mengubah keputusan Allah sebab Allah tidak pernah berubah dan Ia tidak butuh siapapun untuk menasehati-Nya dalam menjalankan rencana-rencana-Nya (Maleaki 3:6 ; Yesaya 40:13). Tidak. Peristiwa ini tidak berbicara mengenai semua itu. Apa yang Tuhan ingin kita mengerti melalui peristiwa ini adalah ini: Allah menghendaki orang percaya untuk berani datang kepada-Nya dan memohon apapun yang mereka butuhkan seturut dengan kehendak-Nya.

Jika kau butuh sesuatu, berdoalah
Jika kau sakit dan ingin sembuh, berdoalah

Jika kau dilanda ketakutan, berdoalah
Jika kau merasa dosa mulai menggodamu lagi, berdoalah

Jika kau bingung mengambil keputusan, berdoalah
Jika kau belum punya visi hidup yang jelas, berdoalah

Jika kau ingin mengampuni seseorang tetapi sulit mengampuni,
berdoalah agar Dia menguatkan hatimu untuk mengampuni

Jika kau tidak mengerti apa maksud Tuhan dan kau seperti ingin marah pada-Nya
mintalah agar Dia yang merendahkan hatimu dan menjelaskan apa maksud-Nya padamu

Jika Tuhan diam terhadap doamu, berdoalah
Jangan lelah, panggillah Ia terus

Datanglah kepada-Nya sebagai anak-Nya
Datanglah dengan berani
Datanglah dengan iman
dan janganlah bimbang

Ayat - Yakobus

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bukankah sang ibu mengingatkan kita pada Yakub, yang di suatu malam bertemu dengan Allah yang datang dalam rupa manusia. Entah apa yang memicu, Yakub bergulat dengan orang itu dari malam hingga fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkan Yakub, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok. Orang itu kemudian hendak pergi meninggalkan Yakub yang cedera. Lalu, apa yang Yakub katakan kepada-Nya? Yakub berkata:

00011383

Apakah reaksi Allah mendengar permohonan Yakub yang terdengar lancang dan egosentris itu? Sulit dipercaya, Allah ternyata memberkati Yakub dan berfirman, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

Tidakkah itu luar biasa? Allah sendiri yang memberikan kesaksian bahwa Yakub keluar sebagai pemenang di dalam pertarungan itu.

Allah ingin umat-Nya datang kepada-Nya tanpa rasa takut. Allah ingin anak-anak-Nya menjadi seperti Musa yang dengan berani berkata, “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu.” Tidak hanya itu, Musa bahkan mengatakan sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang terlalu berani ketika ia berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (Keluaran 33:13-14).

Allah menghendaki agar kita menjadi seperti bapa kita Abraham yang memberanikan dirinya untuk bertanya berulang-ulang kepada Allah ketika Ia hendak menghukum Sodom dan Gomora,  “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” (Kejadian 18:27-28).

Allah mau anak-anak-Nya menjadi seperti Daud yang menghadap kepada Tuhan dan mengutarakan permohonannya dengan berani, sebagaimana ia berkata, “TUHAN, berapa lama lagi?” (Mazmur 6:2) atau “Sampai berapa lama, Tuhan, Engkau memandangi saja?” (Mazmur 35:17). Tidak hanya itu, Daud tidak sekadar berani untuk bertanya kepada Allah, ia juga yakin bahwa Allah mendengar perkataannya dan akan menjawab doanya seperti yang ia tuangkan di dalam mazmurnya:

Ayat - Mazmur Daud

Apakah teladan-teladan mereka belum cukup meyakinkan kita bahwa Allah menghendaki anak-anak-Nya untuk datang kepada-Nya dengan iman dan keberanian? Jika itu belum cukup, bagaimana dengan Firman Tuhan ini:

Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion,
janganlah kamu tinggal tenang

dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang,

sampai Ia menegakkan Yerusalem
dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi.
(Yesaya 62:6b-7)

Bukankah itu firman yang sangat jelas? Tuhan memerintahkan agar kita tidak membuat Dia tinggal tenang sampai tujuan-tujuan-Nya tercapai di dunia ini. Dan bukankah salah satu tujuan-Nya adalah untuk menolong kita ketika kita berteriak minta tolong kepada-Nya? Jika iya, lalu mengapa kita takut untuk meminta dan mengapa kita ragu Ia akan menjawab kita?

Tuhan tidak keberatan kita mengganggu-Nya dengan permohonan-permohonan kita, asalkan kita tinggal di dalam Kristus dan firman-Nya tetap di dalam hati kita (Yohanes 15:7). Tuhan tidak keberatan kita datang kepada-Nya dengan berani. Itu semua tidak menyusahkan hati Tuhan. Iman yang besar tidak akan menyusahkan hati-Nya. Apa yang membebani hati-Nya justru adalah iman yang kecil dan doa-doa yang mati, yakni yang dipicu oleh persekutuan yang tidak intim dan pengenalan yang dangkal akan Tuhan.

Di atas semua itu, janganlah kita lupa bahwa kita adalah Anak-Nya. Allah adalah Bapa yang baik, yang mengasihi anak-anak-Nya dengan kasih yang tak tergoncangkan. Ia membungkuk untuk memberi domba-Nya makan (Hosea 11:4). Ia menyendengkan telinga-Nya dan mendengar seruan umat-Nya (Mazmur 116:2). Ia menggendong anak-anak-Nya dan mau melakukannya terus (Yesaya 46:4).

Dan jika Allah telah memberikan diri-Nya dengan begitu murah hati kepada kita, mengapa kita enggan melakukan apa yang sang ibu lakukan? Mengapa kita tidak berani berdoa dengan berani? Mengapa kita menyerah ketika Ia diam?

Apakah itu berarti bahwa kita tidak benar-benar percaya bahwa Ia mengasihi kita?

Pembaca yang terkasih, jika kau ragu bahwa Allah mengasihimu, maka berdoalah. Berserulah di dalam hatimu yang berdoa memanggil Dia. Jangan lelah sebab terkadang Ia memang berdiam diri. Jangan menyerah sebab Ia menyiapkan kekuatan baru bagi mereka yang menanti-nantikan Dia sehingga mereka menjadi seperti rajawali yang terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31). Jangan pernah berhenti sampai Ia menjawabmu dan membuatmu percaya akan apa yang Tuhan Yesus katakan ini:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku
supaya mereka sempurna menjadi satu,
agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku
dan bahwa Engkau mengasihi mereka,
sama seperti Engkau mengasihi Aku.
(Yohanes 17:23)

Ya, jika kau adalah anak-Nya, maka Allah mengasihimu sama seperti Ia mengasihi Anak-Nya, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus. Percayakah engkau akan kabar yang begitu luar biasa itu? Percayakah kau bahwa Bapa mengasihimu SAMA seperti Ia mengasihi Tuhan Yesus? Jika kau ragu, sekali lagi kukatakan padamu, berdoalah! Bergulatlah dengan Allah! Janganlah berhenti sampai Ia membuatmu percaya kepada-Nya!

Packer

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apakah kesimpulan yang bisa kita petik dari pembelajaran kita kali ini?
Inilah kesimpulannya:

Iman yang besar ditandai oleh kerendahan hati dan keberanian di hadapan Allah.

Iman yang besar harus memiliki keduanya. Orang yang datang kepada Allah dengan keberanian namun tanpa kerendahan hati hanya akan mendatangkan murka Allah atas dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang “terlalu” rendah hati di hadapan Allah namun tidak memiliki doa yang penuh dengan keberanian dan kepercayaan hanya akan menjauhkan dirinya dari berkat, pertolongan, dan penyertaan yang sebenarnya telah Allah siapkan bagi siapa saja yang mau datang dan meminta kepada-Nya.

Di satu sisi, orang yang beriman besar akan merendahkan diri di hadapan-Nya dan memohon belas kasihan-Nya. Di sisi yang lain, ia memberanikan diri untuk datang ke tahta-Nya. Pada sisi yang satu, ia menangis, “TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!” (Mazmur 41:5). Pada sisi yang lain, di iman yang sama, ia dengan berani meyakini bahwa Allah akan menuntun dan membimbingnya seperti Daud yang bermazmur:

Ayat - Mazmur

Itulah iman yang besar. Itulah iman yang ada dalam pikiran penulis Kitab Ibrani ketika ia berkata:

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,
marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah
menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan HORMAT dan TAKUT.
(Ibrani 12:28)

yang mana pada kitab yang sama, ia juga berkata:

Sebab itu marilah kita dengan penuh KEBERANIAN
menghampiri takhta kasih karunia,
supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia
untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
(Ibrani 4:16)

Bukankah keduanya seperti bertolak belakang? Bagaimana mungkin kita dapat datang kepada Tuhan dengan rasa takut dan dengan keberanian pada saat yang bersamaan? Well, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat kebingungan kita bertambah akan kedua hal yang sepertinya kontradiktif itu, tetapi sebenarnya ada hal yang jauh lebih terlihat kontradiktif dan membingungkan dibandingkan hal itu. Kau tahu apa itu? Inilah yang kumaksud:

Bagaimana mungkin Tuhan yang kekal masuk dan dibatasi oleh waktu?
Bagaimana mungkin Sang Pencipta dilahirkan?

Bagaimana mungkin Sang Roti Hidup bisa merasa lapar?
Bagaimana mungkin Mata Air Kehidupan bisa merasa haus di bukit Kalvari?

Bagaimana mungkin Penasehat Ajaib dituduh sebagai pendusta?
Bagaimana mungkin Sang Firman Allah dianggap penyesat?

Bagaimana mungkin Allah yang perkasa menjadi lemah?
Bagaimana mungkin Raja di atas segala raja diberi mahkota duri?
Bagaimana mungkin Raja Damai dianaya?

Bagaimana mungkin Sang Tabib Agung bisa terluka?
Bagaimana mungkin Sang Kehidupan bisa mati?

Bisakah semua hal itu terjadi pada saat yang bersamaan? Bisa dan itu terwujud di dalam Seorang Pribadi. Dan kita mengenal siapa Dia. Apakah Dia kontradiktif? Tentu tidak. Dia memang misterius tetapi Dia tidak kontradiktif. Di atas semua itu, Dia adalah Sang Kebenaran (Yohanes 14:6). Dialah Anak Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.

Oleh sebab itu…
Jika kau ingin memiliki hati
yang di dalamnya ada kerendahan hati serta keberanian di hadapan Allah…
Jika kau ingin memiliki iman yang besar itu…

Pandanglah wajah-Nya!
Datanglah kepada-Nya!
Percayalah pada-Nya!

Maka Ia akan membuatmu mengerti arti iman
bahkan menganugerahkan iman itu menjadi milikmu…

Ayat - Keberanian

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s