Di Balik Mujizat Pertama Yesus (1)

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”

Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya.

Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu  —  dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya  —  ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

(Yohanes 2:1-11)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ada apa di balik mujizat Kristus yang pertama ini?

Peristiwa Tuhan Yesus mengadakan mujizat di perkawinan di Kana merupakan salah satu peristiwa dalam catatan Injil yang paling terkenal. Kita telah cukup familiar dengan eksposisi dari bagian ini dan aku rasa kita semua akan sepakat bahwa salah satu poin yang paling sering ditekankan dalam setiap pendalaman Alkitab mengenai kisah ini adalah bahwa Allah peduli dengan pernikahan dan keluarga. Karena Allah begitu peduli terhadap pernikahan dan keluarga, maka Ia, yang telah merencanakan segala sesuatu sebelum semuanya terjadi, menetapkan bahwa Tuhan Yesus akan membuat tanda pertama-Nya di dunia ini di dalam sebuah pesta pernikahan.

Di dalam pembelajaran kita kali ini, kita akan mencoba untuk memandang peristiwa ini dari sudut pandang yang lain. Interpretasi yang mengatakan bahwa kisah ini berbicara tentang kasih Allah untuk keluarga tentu saja merupakan interpretasi yang benar, setidaknya menurutku begitu. Namun, jika kita memandang bahwa kisah ini hanya berbicara tentang itu, aku rasa kita akan melewatkan banyak hal lain yang luar biasa penting yang juga terkandung di balik peristiwa ini. Aku pribadi tidak melihat bahwa pernikahan atau keluarga merupakan inti dari kisah ini. Apa yang menurutku merupakan pesan utama dari kisah ini adalah apa yang tersirat dalam perkataan Maria:

Ayat
Perkataan Bunda Maria bukanlah perkataatan yang kosong. Perkataannya juga bukanlah perkataan yang menunjukkan keputusasaan atau kepasrahan yang pasif. Apa yang ada di balik perkataan Maria adalah iman. Sekalipun Maria belum benar-benar mengenal Tuhan Yesus di dalam segala kepenuhan-Nya, Maria percaya kepada-Nya. Iman yang ada padanya adalah iman yang benar. Ia percaya, bahwa apapun yang Yesus katakan adalah benar dan merupakan jalan yang terbaik dan dengan keyakinan itulah ia menasehati para pelayan untuk melakukan apapun yang Tuhan kita katakan.

Lalu, bagaimana dengan para pelayan itu? Kita tidak memiliki informasi yang menjelaskan bahwa para pelayan itu memiliki iman kepada Tuhan Yesus, seperti halnya Maria. Apa yang kita tahu adalah bahwa sebelum peristiwa ini, Tuhan Yesus belum pernah sekalipun mengadakan mujizat di depan umum. Ia belum dikenal sebagi orang yang mampu melakukan perkara-perkara yang besar dan supranatural. Dengan demikian, kita dapat menduga bahwa para pelayan tersebut belum memiliki dasar yang kuat untuk percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus dan mereka tentu tidak berharap banyak pada Yesus apalagi mengharapkan-Nya untuk melakukan suatu mujizat. Namun, sekalipun begitu, Injil mencatat bahwa mereka tetap datang kepada-Nya untuk meminta pengarahan.

Tuhan Yesuspun berkata kepada mereka, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mendengar instruksi dari Tuhan, pelayan-pelayan itu taat. Merekapun mengisi tempayan-tempayan yang besar itu dengan air sekalipun mereka sama sekali belum mengerti maksud dari perintah tersebut.

Pada titik ini, kepatuhan para pelayan itu terhadap Tuhan Yesus merupakan ketaatan yang biasa dan tanpa risiko. Mereka tidak membutuhkan iman untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus perintahkan. Perintah Tuhan terdengar begitu biasa dan wajar sehingga kemungkinan besar para pelayan itu mendengarkan Tuhan Yesus karena mereka tahu bahwa Yesus adalah seorang rabi, tidak lebih. Sangatlah mungkin mereka melakukan apa yang Ia perintahkan karena mereka pikir Yesus, seperti halnya rabi-rabi yang lain, tentu memiliki akal dan hikmat yang lebih dari rata-rata untuk bisa mengatasi masalah-masalah seperti ini.

Melihat ketaatan mereka, Tuhan kita kemudian berkata, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Pada titik ini, masalah timbul. Menurutmu, apakah yang kira-kira dipikirkan oleh pelayan-pelayan itu? Aku rasa, mereka mungkin akan menyenggol seorang akan yang lain atau saling berkedip dan berbisik untuk mengutarakan keraguan mereka akan solusi yang Tuhan Yesus berikan. Bagaimanakah mereka tidak ragu, Yesus sama sekali tidak melakukan apapun yang istimewa terhadap air maupun tempayan itu. Ia tidak berdoa atau menambahkan bahan apapun ke dalam air, malahan Ia langsung menyuruh mereka untuk membawa air cedokan mereka itu kepada pemimpin pesta untuk dicicipnya. Bukankah itu perintah yang aneh?

“Tidak mungkin kita menghidangkan air tawar ini kepada para tamu. Yesus pasti sedang bercanda.” Bukankah itu yang kemungkinan besar mereka pikirkan? Bukankah sangat manusiawi apabila mereka ragu dan akhirnya menolak untuk taat kepada Tuhan Yesus? Lagipula, bukankah Kristus belum memiliki reputasi sama sekali sebagai seorang pembuat mujizat dan mungkin perawakan Kristus sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa Ia mampu melakukan mujizat? Bukankah sangat wajar apabila para pelayan itu merasa dipermainkan oleh Tuhan karena perintah-Nya yang aneh itu?

Pada titik ini, jika para pelayan itu akhirnya memilih untuk taat pada perintah Tuhan, tentulah itu bukan ketaatan yang biasa, melainkan ketaatan yang disertai iman. Jikalau mereka taat, ketaatan mereka adalah ketaatan yang memiliki harga yang mahal. Mereka perlu membayar harga dan bersedia berkorban untuk ketaatan mereka. Seandainya tidak terjadi apa-apa pada air itu atau jika Yesus benar-benar hanya ingin mempermainkan mereka, maka para pelayan itu berada dalam masalah yang besar. Mereka bisa saja akan dimarahi atau bahkan mungkin dipecat oleh tuan mereka. Sungguh, ketaatan di tahap ini merupakan ketaatan yang berisiko dan hanyalah iman, yang sekalipun kecil namun sejati, yang dapat membuatnya terwujud.

Dan apakah yang akhirnya para pelayan itu lakukan? Oh, berbahagialah mereka, sebab Alkitab mencatat bahwa pada akhirnya mereka taat pada apa yang Tuhan Yesus perintahkan kepada mereka. Alangkah indahnya catatan Rasul Yohanes yang berkata, “Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu  —  dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya…”.

Ya, para pelayan itu mengetahuinya. Mereka mengetahui apa yang Tuhan Yesus lakukan. Tidak hanya itu, aku rasa mereka tidak hanya mengetahui hal itu, tetapi mereka juga memahami apa arti IMAN dan KETAATAN pada Kristus di dalam hidup mereka. Oh, alangkah bahagianya mereka. Berbahagialah mereka sebab mereka ada di dalam rencana Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Tozer (2)
Selebihnya, akhir dari kisah ini adalah sejarah. Namun tidak hanya sekadar sejarah, peristiwa ini untuk selama-lamanya akan selalu dikenang oleh warga Kerajaan Sorga sebagai mujizat pertama yang Tuhan Yesus lakukan di dunia ini. Dan tidak hanya itu, untuk selama-lamanya, para pelayan yang tidak kita ketahui namanya itu, akan selalu disebut dan dikenang sebagai pelayan yang melaluinya, Tuhan Yesus mengerjakan mujizat-Nya yang pertama.

Tidakkah itu istimewa? Oh, itu sangatlah istimewa.
Iman dan ketaatan, siapapun yang memilikinya, berbahagialah ia sebab Allah besertanya.

Ayat - Helps
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setidaknya ada tiga hal yang sangat penting untuk kita mengerti dari peristiwa ini.

Pertama:
Peristiwa ini mengajarkan kepada kita akan betapa pentingnya
iman dan ketaatan di dalam hidup setiap orang percaya
.

Luther 3
Bukanlah sebuah kebetulan mengapa Allah memutuskan untuk mengadakan tanda pertama-Nya dengan cara seperti ini. Dalam banyak peristiwa lain di mana Tuhan Yesus mengadakan mujizat, kita tidak melihat ketaatan dalam taraf yang sama seperti pada peristiwa ini. Misalnya saja, ketika Tuhan Yesus menyembuhkan Bartimeus yang buta. Tuhan Yesus tidak memerintahkan Bartimeus untuk melakukan sesuatu, setidaknya Ia tidak memberikan perintah sebagaimana Ia menginstruksi para pelayan itu. Ketika Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang lebih, Ia tidak menyuruh orang-orang itu untuk mengerjakan sesuatu. Ia hanya menyuruh mereka semua untuk duduk kemudian Ia berdoa dan mujizatpun terjadi. Demikian pula halnya ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus, Ia tidak menyuruh Maria dan Marta, kedua saudari dari Lazarus, untuk melakukan hal-hal tertentu sebelum Ia melakukan mujizat-Nya.

Sebagai orang Kristen, kita tidak percaya akan hal yang disebut kebetulan. Kita meyakini bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu, termasuk dalam hal yang terkecil sekalipun, untuk mewujudkan tujuan yang sudah Ia rencanakan di dalam kekekalan. Keunikan kisah ini dibanding kisah yang lain dan kenyataan bahwa peristiwa ini merupakan tanda pertama yang Tuhan Yesus adakan tentu menyiratkan pesan yang sangat penting untuk dimengerti oleh setiap orang Kristen. Dan menurutku, pesan tersirat yang signifikan itu adalah tentang iman dan ketaatan. Diawali oleh iman Maria dan diakhiri dengan ketaatan para pelayan, Tuhan Yesuspun mengadakan mujizat-Nya yang pertama.

Sproul
Orang Kristen yang sejati adalah orang yang percaya dan taat kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka tidak memiliki iman yang kosong dan mati, melainkan iman yang hidup yang dibuktikan dan diwujudkan dengan ketaatan. Mereka percaya kepada Allah dan menantikan datangnya pertolongan dari-Nya tetapi keyakinan itu tidak membuat mereka pasif, berpangku tangan, atau tidak produktif. Iman yang mereka miliki justru membuat mereka taat dan semakin giat bekerja bagi Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Yakobus:

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati,
demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
(Yakobus 2:26)

Orang Kristen yang sejati memiliki iman yang digambarkan oleh Maria ketika ia berkata, “Apa yang dikatakan padamu, lakukanlah itu.” Orang Kristen yang sejati percaya penuh bahwa apa yang Allah katakan kepada mereka, melalui firman-Nya yang ada di Alkitab, merupakan satu-satunya kebenaran dan jalan yang terbaik untuk dijalani. Orang Kristen yang sejati memiliki ketaatan yang digambarkan oleh para pelayan itu yang sekalipun mendapat perintah yang aneh dan berisiko tinggi dari Tuhan Yesus, mereka tetap taat dan mengerjakannya. Orang Kristen yang sejati adalah mereka yang digambarkan oleh Tuhan kita ketika Ia berkata:

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka,
yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”
(Lukas 8:21)

Ya, itulah orang Kristen yang sejati. Mereka adalah ibu sekaligus pelayan dari Tuhan Yesus Kristus, sebab mereka dengar-dengaran akan firman Allah, dan dari mendengar mereka mengerti, dan dari mengerti mereka percaya, dan dari percaya mereka menjadi semakin mengerti, dan dari mengerti mereka hidup, dan di dalam hidup yang baru itu, mereka melakukan apa yang Allah perintahkan di dalam firman-Nya.

Bonhoeffer

#Bersambung ke bagian ke-II

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s