Cinta untuk Rumah-Mu

…sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku…
(Mazmur 69:10)

Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu
dari pada seribu hari di tempat lain;
lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku
dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.
(Mazmur 84:11)

Sore itu, ketika aku sedang berjalan kaki, melewati jalan yang sepi dan tenang menuju kosanku, aku memandang bangunan yang indah itu. Ah, betapa kucintai bangunan itu, rumah itu. Itulah rumahku. Itulah rumah Tuhanku.

Dari luar, aku melihat pintu gereja itu terbuka. Penasaran mulai timbul di dalam hatiku, “Ada ibadah apa di Jumat sore seperti ini?” Akupun melihat seorang laki-laki sedang duduk-duduk di teras rumah gembala gereja, tepat di samping bangunan gereja. Dari seragam yang ia kenakan, aku menduga ia adalah seorang supir, kemungkinan besar ia adalah supir gembala gereja ini.

Rasa ingin tahu mendorongku untuk masuk ke pekarangan gereja, melewati pagar gereja yang terbuka lebar. Aku mendekati pria itu. Aku punya satu pertanyaan besar yang selama ini kupendam tiap kali melewati gereja yang indah itu. Aku harap jawaban kudapatkan darinya, walaupun di dalam hati kecilku, aku rasa aku tahu apa jawaban untuk pertanyaanku. Dan inilah yang membuat hatiku gelisah, yaitu aku rasa aku tahu bahwa jawaban itu akan mengecewakan…

Akupun menyapa dan memperkenalkan diriku kepada orang itu. Aku memberitahunya bahwa aku adalah orang baru di kota ini dan aku sedang mencari gereja yang paling cocok untuk bertumbuh. Setelah sedikit obrolan untuk perkenalan, aku mulai menanyakan besar yang selalu hinggap di dalam benakku.

Aku                        : Di sini kebaktian berapa kali ya Bang?
Beliau                    : Dua kali Bang. Minggu jam 8 pagi sama jam 5 sore.
Aku                        : Oh oke-oke. Ada kebaktian lain Bang?
Beliau                    : Nggak ada Bang, cuma dua kali kebaktian itu saja.

Aku tahu itulah jawaban yang akan aku terima. Selama ini, itulah yang menjadi rasa penasaranku, atau yang mungkin lebih tepat, itulah kecurigaanku. Ah, alangkah baiknya jika kecurigaanku itu tidak benar. Tapi apa daya, itulah keadaan yang sebenarnya. Akupun menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya, sambil berharap ia mengganti jawabannya.

Aku                        : Oh, jadi kebaktian doa gitu ga ada Bang? Misal Rabu malam gitu?
Beliau                    : Ga ada Bang.

Hatiku hancur…

Aku                        : Oh, kalau begitu, sekarang ada acara apa di dalam?
Beliau                    : Sekarang kebaktian wanita, Bang.

Aku lega sekali mendengarnya. Sangat lega. Setidaknya, masih ada kaum wanita yang sadar bahwa persekutuan antaranak Tuhan merupakan sesuatu yang sangat penting dan ibadah Minggu yang hanya diadakan satu kali dalam seminggu tidaklah cukup untuk mengakomodasi urgensi untuk berkumpul, saling mendoakan, saling berbagi kasih, dan mendengarkan ajaran firman Tuhan. Oh, semoga Tuhan memberkati dan mempertahankan kebaktian itu. Semoga para ibu yang ada di dalamnya senantiasa diberkati dan disertai oleh-Nya. Semoga semangat dan kuasa Tuhan masih ada di dalam pertemuan itu.

Tapi sungguh aku belum puas. Bagiku, ibadah doa merupakan tanda dari gereja yang sehat. Ibadah doa merupakan bukti dari hamba Tuhan yang benar-benar bergantung pada kedaulatan dan kuasa Allah. Ibadah doa merupakan cerminan dari iman yang percaya bahwa Allah mampu menggerakkan hati jemaat-Nya untuk datang berkumpul dan berdoa di rumah-Nya sekalipun kebaktian itu diadakan bukan di akhir pekan.

Carson

Pertanyaan pertamaku terjawab dan jawaban itu mendukakan hatiku. Aku punya pertanyaan kedua yang sama besarnya, semoga aku tak kecewa kali ini.

Aku                        : Tapi ibadah pemuda ada kan Bang?
Beliau                    : Pemuda ada.
Aku                        : Oh, ada? Kapan, Bang?
Beliau                    : Tiap hari Minggu. Tapi ga di sini ibadahnya. Ibadahnya di rumah-rumah.

Aku tidak tahu harus senang atau harus sekali lagi, curiga. Sejujurnya, jawaban itu menimbulkan di hatiku rasa curiga yang lebih besar dibanding rasa senang. Aku curiga kebaktian pemuda di tempat ini tidak ada bedanya dengan di tempat-tempat lain. Aku curiga kebaktian pemuda di sini tidak lebih dari sekedar ajang berkenalan, berteman, aktualisasi diri, rekreasi, dan atau tempat mencari calon pendamping hidup. Aku curiga di sana tidak ada doa dan tangisan yang mengetuk pintu sorga. Aku curiga di sana tidak ada Firman Allah yang membalut luka. Aku curiga di sana tidak ada Roh Tuhan yang memberikan hidup. Ah, alangkah indahnya jika kecurigaanku itu tidak terbukti benar. Akupun hendak memastikannya.

Aku                        : Kenapa ga di gereja aja pemudanya, Bang?
Beliau                    : Ya begitulah. Mereka maunya begitu.
Aku                        : Oohh…
Beliau                    : Dulu rame Bang pemudanya. Tapi sekarang ya itu…
Aku                        : Kenapa Bang?
Beliau                    : Udah pada sibuk kan.

Hatiku hancur untuk kedua kalinya…

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya. Mungkin baginya apa yang sebentar lagi ia katakan merupakan sesuatu yang memberikan citra baik untuk kebaktian pemuda di sana. Tapi, entahlah, bagiku itu sama sekali tidak menggambarkan apa-apa, malahan menambah rasa curigaku. Inilah yang ia katakan:

Beliau                    : Pemuda di sini sering jalan-jalan, Bang.
Aku                        : Oh ya?
Beliau                    : Pernah ke sana, pernah ke Jambi, pernah ke situ. Jauh-jauhlah pokoknya.

Itu sama sekali bukan berita yang menggembirakan bagiku.

Ah, betapa indahnya jika mereka pergi ke tempat-tempat yang jauh itu untuk berdoa, bermisi, atau berbagi kasih kepada orang-orang yang sengsara. Tapi, apakah itu yang mereka lakukan? Aku tidak tahu. Aku hanya masih terlalu curiga. Ah, semoga saja yang terjadi adalah yang sebaliknya.

MLJ

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pembaca yang terkasih…

Melalui pesan singkat ini, aku sama sekali tidak memandang diriku layak untuk menggurui. Aku juga sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa aku sudah sempurna atau patut diteladani untuk hal yang satu ini. Sejujurnya, aku justru masih memiliki banyak kelemahan, apalagi dalam kaitannya dengan masalah ini. Tapi inilah beban dan keluhan yang ada di dalam hatiku dan yang menjadi ajakanku untuk kita sekalian:

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan…
Mari kita doakan gereja-gereja kita.
Mari kita doakan gembala dan pendeta kita.
Mari kita bangun gereja lokal kita.

Banyak gereja yang mati, Kawan.
Banyak gereja yang tak lagi berdoa.
Banyak gereja yang tak lagi mendalami firman Tuhan.
Banyak gereja yang tak lagi bermisi.

Banyak gereja yang terhanyut dunia, Kawan.
Banyak yang hanya mementingkan jumlah pemasukan dan pengunjung gereja.
Banyak yang hanya mementingkan relasi dan fellowship.
Oh, relasi yang erat tetapi dengan kebenaran yang dangkal apalah artinya?

Dan lebih buruk dari semua itu
Oh… betapa banyak gereja
yang tidak lagi memandang Tuhan Yesus Kristus
sebagai Roti Hidup, untuk dimakan setiap hari
sebagai Air Hidup, untuk memuaskan dahaga tiap pagi
sebagai Jalan yang lurus,
sebagai Kebenaran yang tertinggi,
sebagai Hidup yang baru dan yang kekal,
sebagai satu-satunya Harapan bagi semua orang berdosa,
dan Jalan Keluar bagi dunia yang perlahan sirna

Banyak gereja mengecilkan dan melupakan Tuhan Yesus
Banyak gereja tidak lagi memandang-Nya sebagai yang terutama dan satu-satunya

Oh, Kawan…
Jangan katakan kalian tidak melihat semua itu.
Aku yakin kita semua adalah saksi hidup akan “runtuhnya” gereja-gereja kita.

Mari kita bangun, Rekan terkasih.
Janganlah lagi kita acuh tak acuh.”

Lawson

Sungguh, adalah sesuatu yang baik jika kita melayani di PMK, di LP, di sekolah, atau di lembaga Kristen lainnya. Tapi menurutku, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan kita untuk tidak melayani atau menjadi pasif di gereja lokal kita masing-masing.

Sesungguhnya, gereja lokal tidak bisa disejajarkan dengan semua itu. Gereja lokal adalah satu-satunya lembaga yang Tuhan Yesus dirikan di Alkitab, yang pembangunannya dimulai sejak peristiwa Pentakosta di mana Roh Kudus diutus dan dicurahkan dengan limpahnya kepada murid-murid-Nya. Gereja lokal adalah satu-satunya organisasi yang struktur kepemimpinannya di atur oleh Allah sendiri, melalui arahan dan instruksi dari para rasul yang terkasih. Gereja lokal adalah satu-satunya gerakan yang di dalamnya bisa kau temukan diaken (deacon), penatua (elder), penilik (bishop), pengajar (teacher), penginjil (evangelist), dan gembala (pastor). Itu sama sekali bukanlah hal yang sepele atau formalitas belaka. Itu merupakan struktur yang Tuhan atur sendiri di Alkitab sehingga tidaklah bijaksana jika kita menyepelekannya. Dan juga, hanyalah gereja lokal yang menunaikan tugas-tugas khusus yang juga diatur oleh Alkitab, seperti baptisan dan perjamuan kudus. Sungguh, Tuhan sendirilah yang mendirikan gereja-gereja lokal milik-Nya. Alangkah baiknya jika kita, anak-anak-Nya, tidak mengabaikan gereja-Nya.

“Oleh sebab itu, Kawan…
Berdoalah bagi gereja kita.
Menangislah di depan pintu Tuhan
untuk meminta berkat dan penyertaan-Nya bagi gereja-gereja.

Mintalah hikmat-Nya tentang apa yang harus kita lakukan bagi gereja-Nya.
Kemudian marilah kita belajar sangkal diri.

Aku tahu tidak semua orang merasa nyaman melayani di gereja.
Hal itu juga menjadi pergumulan bagiku.

Tapi biarlah cinta untuk rumah-Nya menghanguskan hati kita,
menyalibkan daging kita, dan
membakar roh kita.

Biarlah gereja-gereja mendidik.
Biarlah gereja-gereja memperhatikan orang-orang yang miskin dan sengsara.

Biarlah gereja-gereja menentang budaya yang bobrok di bangsa ini.
Biarlah gereja-gereja menentang semua bentuk kefasikan di tanah air ini.

Biarlah gereja-gereja bersatu dan saling menguatkan.
Biarlah gereja-gereja berdoa.

Biarlah gereja-gereja mengajarkan firman Tuhan.
Biarlah gereja-gereja memberitakan Injil Damai Sejahtera.

Biarlah gereja-gereja bangkit.
Biarlah gereja-gereja hidup.

Watson (2)

Biarlah gereja senantiasa memandang kepada Sang Kepala Gereja

yang tidak datang untuk orang benar,
melainkan untuk orang-orang berdosa

yang menebus mereka dari neraka dengan darah-Nya
yang menyelamatkan mereka dari murka Bapa-Nya

yang menghibur hati yang berduka
yang menguatkan jiwa yang sengsara
yang membalut mereka yang terluka
yang mencelikkan mereka yang buta

yang membangkitkan mereka dengan hembusan Roh Kudus-Nya
dan menganugerahkan mereka kelahiran yang kedua 

10922789_798709676842854_3088351075276070973_n

yang menjadikan mereka bayi-Nya, buah hati-Nya,
biji mata-Nya, kesayangan-Nya,
anak-anak-Nya, para ahli waris-Nya

yang mengukir firman-Nya di benak mereka
yang menulis hukum-Nya di hati mereka
yang berdiam di dalam diri mereka

yang menghiasi kepala mereka dengan mahkota sorga-Nya
yang memakaikan pakaian kekudusan kepada mereka untuk pesta-Nya
yang memasangkan cincin kepada mereka, untuk menjadi mempelai-Nya

Siapakah Dia?
Oh, Dia adalah Tuhan Yesus Kristus
yang pernah berkata:

Ayat - Rock

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s