Hati yang Bijaksana

Ayat - Bijaksana

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling terkenal di seluruh Alkitab. Banyak dari kita mengingatnya ketika kita sedang memimpikan masa depan atau mengenang masa yang silam. Banyak juga dari kita yang mengutip dan membagikannya kepada teman atau keluarga kita yang sedang berulang tahun. Tema tentang waktu dan hati yang bijaksana memang selalu menarik perhatian banyak orang, termasuk orang Kristen.

Namun, banyak orang mengutip teks ayat ini tanpa sebelumnya berusaha untuk memahami keseluruhan konteks di mana ayat ini berada. Ketika kesalahan semacam ini dilakukan, apa yang kemungkinan besar akan terjadi adalah penyimpangan firman Tuhan dari makna yang sebenarnya. Dan itulah yang terjadi pada ayat ini. Sekalipun merupakan salah satu ayat yang paling terkenal, paling banyak dikutip dan didengar, pada saat yang sama, ayat ini menjadi salah satu ayat yang paling sering disalahartikan dan disalahgunakan.

Siapakah penulis dari mazmur ini? Penulisnya adalah Musa (Mazmur 90:1). Kapan Musa menulisnya? Sebelum menjawab ini, kita perlu mengingat kembali bahwa Musa hidup selama seratus dua puluh tahun (Ulangan 34:7). Kehidupan Musa dapat dibagi menjadi tiga babak yang masing-masing terdiri dari empat puluh tahun. Empat puluh tahun yang pertama Musa habiskan sebagai putera kerajaan Mesir yang penuh dengan kemakmuran dan masa depan yang cerah. Dalam babak ini, Musa belum mengenal Allah Israel sehingga tidak mungkin mazmur itu ditulisnya dalam periode ini. Empat puluh tahun yang kedua Musa lewatkan di tanah Midian yang menjadi tempat pelariannya dari Firaun. Di masa ini, Musa juga belum bertemu dengan Allah sehingga mustahil Mazmur 90 ini ditulis Musa pada babak ini.

Kini, hanya tersisa satu periode, yakni empat puluh tahun yang terakhir. Di manakah Musa menjalani babak terakhirnya ini? Apakah ia menjalaninya di tempat yang nyaman dan tenang di mana ia bisa menghitung hari demi hari dan memimpikan masa depan yang indah? Apakah ia melewatinya di Kanaan, tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya sehingga ia bisa menghitung hari dengan damai dan bercita-cita untuk membangun kehidupan yang makmur dan sukses? Tidak. Musa melewati empat puluh tahun terakhir dalam hidupnya di padang gurun. Ia dan seluruh bangsa Israel sebenarnya tidak perlu menghabiskan waktu selama itu untuk mencapai Kanaan dari tanah Mesir. Akan tetapi, karena Allah murka melihat ketegaran hati dan ketidakpercayaan bangsa Israel, maka di dalam panas amarah-Nya, Ia memutuskan untuk membuat bangsa Israel berputar-putar selama empat puluh tahun (Bilangan 32:13) sebelum akhirnya Ia mengizinkan mereka masuk ke tanah yang Ia janjikan itu.

Di masa penuh penderitaan itulah Mazmur 90 ayat 12 ini lahir. Mazmur ini jelas bukanlah mazmur dari seorang yang sedang bersukacita merayakan hari ulang tahunnya. Mazmur ini bukanlah mazmur dari seseorang yang sedang menghitung hari demi hari sambil terbuai memimpikan indahnya masa depan. Mazmur ini juga bukanlah mazmur dari seseorang yang sedang tergila-gila akan cita-cita dan ambisinya untuk membangun hidup yang penuh dengan kesuksesan. Mazmur ini merupakan mazmur padang pasir. Mazmur ini adalah mazmur dari seseorang yang gentar dan berduka melihat Allah yang murka. Mazmur ini adalah ratapan dari seseorang yang hatinya ditundukkan serendah-rendahnya di hadapan Allah semesta alam yang marah melihat dosa umat-Nya. Mazmur ini adalah nyanyian seorang hamba Allah yang menangis dan berkata:

Ayat - Hati yang Bijaksana

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kita dapat meyakini satu hal, yaitu bahwa hati yang bijaksana tidak akan pernah kita miliki apabila kita hanya sekadar menghitung hari dan mengenang masa yang sudah-sudah atau membayangkan masa yang akan datang. Hati yang bijaksana tidak timbul dari semua itu. Kebijaksanaan hanya akan menjadi bagian kita jika terlebih dahulu kita memiliki hati yang rendah hati. Rendah hati karena apa? Musa memberikan petunjuk kepada kita melalui ayat ke-11, “Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?” Ya, murka dan gemas Allah, itulah yang seharusnya merendahkan hati manusia yang penuh dengan kesombongan dan cenderung mudah melupakan kebaikan dan kasih Tuhan. Hanya setelah Musa mengakui keagungan dan kemuliaan Allah di dalam murka-Nya yang dahsyat nan adil dan benar, barulah Musa berdoa untuk hati yang bijaksana di ayat yang ke-12.

Hati yang bijaksana tidak akan kita miliki jika kita memandang Allah setengah-setengah. Hati yang bijaksana tidak akan dianugerahkan kepada kita jika kita mau menerima sifat Allah yang satu namun mengabaikan sifat-Nya yang lain. Hati yang bijaksana tidak akan menjadi bagian kita jika kita hanya meninggikan Dia karena kasih dan kemurahan-Nya namun kita menolak karakter-Nya yang kudus dan sangat membenci dosa. Tidak peduli seberapa teliti kita dalam menghitung hari demi hari kita, bahkan menghitung berkat demi berkat yang pernah kita terima, jika kita lupa bahwa “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu (Mazmur 90:8),” maka kita tidak akan pernah menjadi manusia yang bijaksana.

Hati yang bijaksana hanya akan dianugerahkan kepada dia yang menerima, memuliakan, dan mengenal Allah di dalam keseluruhan karakter yang sudah Ia perlihatkan di dalam firman-Nya. Hati yang bijaksana hanya akan dimiliki oleh dia yang memandang indah kasih setia Tuhan dan gentar akan kekudusan dan penghakiman-Nya. Itulah yang Musa pahami dan itulah yang ia tanamkan di dalam mazmurnya yang sangat terkenal ini.  Hari demi hari ia melihat kasih dan kesetiaan Allah yang mutlak dan kekal kepada bangsa Israel. Hari demi hari pula ia melihat kutuk-Nya menghantam bangsa yang bebal dan tidak tahu berterima kasih itu. Musa tidak hanya melihat belas kasihan Tuhan di dalam setiap berkat, penyertaan, dan pengampunan yang Ia anugerahkan tetapi juga kekudusan-Nya yang nyata di dalam kebencian-Nya terhadap dosa dan murka-Nya atas orang-orang yang berdosa. Dan di dalam hikmat pengenalan itulah Musa berdoa agar Allah mengajar dirinya dan seluruh umat Israel untuk menghitung hari demi hari yang terlewati, yakni hari-hari yang penuh dengan belas kasih sekaligus murka-Nya, sedemikian hingga mereka beroleh hati yang bijaksana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah yang menjadi pengalaman Musa dan segenap bangsa Israel, umat pilihan Allah. Itulah yang juga menjadi pengalaman dari semua orang Kristen yang sejati. Ketika Allah, untuk pertama kalinya menyatakan kemuliaan, kebenaran, dan kekudusan-Nya kepada kita, mustahil kita tidak merasa takut dan gentar, mustahil kita tidak memandang diri kita hina dan menjijikkan, mustahil hati kita tidak direndahkan, mustahil kita tidak berkata, “Celakalah aku,” mustahil dari dalam hati kita tidak keluar tangisan:

Ayat - Pengampunan

Ya, hanyalah orang-orang yang mengerti bahwa dirinya telah dinyatakan bersalah dan tidak akan bisa lolos dari penghukuman, yang benar-benar akan mengharapkan dan menghargai sebuah pengampunan. Hanyalah orang yang dari dalam hatinya keluar Mazmur 130:3 yang juga akan mengimani Mazmur 130:4. Hanyalah orang yang pernah berhadapan dengan Allah yang mulia, yang akan menyadari bahwa di hadapan-Nya ia tidak memiliki hal lain untuk dilakukan selain dengan hati yang hancur menyembah dan mengemis memohon pengampunan dari-Nya.

Lalu, bagaimanakah dengan kita? Pernahkah hati kita merasakan dan menyerukan mazmur yang demikian? Sudahkah kita mengerti kekuatan murka Allah dan kekudusan-Nya? Sudahkah kita gentar kepada gemas-Nya? Sudahkah kita menyadari bahwa hati kita penuh, sangat penuh, dengan dosa dan kejahatan? Sudahkah kita memahami bahwa kebaikan apapun yang telah kita perbuat adalah ibarat sebuah kain kotor di hadapan-Nya (Yesaya 64:6) dan bahwa kita sama sekali tidak memiliki pengharapan dari diri kita sendiri? Sudahkah kita, seperti seorang pemungut cukai dalam perumpamaan Tuhan Yesus, yang berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, memukul-mukul diri dan berkata:

Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
(Lukas 18:13)

Jika belum, oh kawanku, janganlah membuang waktumu untuk hal yang sia-sia. Segeralah datang kepada-Nya dan menangislah di hadapan Raja segala raja. Berdoalah agar Ia membuka selaput di matamu sehingga engkau mampu melihat kemuliaan-Nya yang menggetarkan dan menggentarkan hati. Mintalah agar Ia merendahkan hatimu supaya kau mengerti bagaimana berjalan bersama-sama dengan Allah (Mikha 6:8). Berserulah agar Dia mengajarimu untuk menghitung hari-hari yang telah kau sia-siakan dengan hidup di bawah murka-Nya sehingga dengan demikian, dari dalam hatimu akan mengalir tangisan penyesalan yang berujung pada pertobatan. Mohonkanlah belas kasihan dan pengampunan dari-Nya. Dan katakanlah kepada-Nya, dengan penuh keberanian yang disertai kerendahan hati, bahwa engkau tidak akan pernah puas sebelum Ia sendiri yang memuaskan dahaga jiwamu.

Jangan pernah berhenti memanjatkan permohonan yang demikian. Doakanlah itu lagi dan lagi hingga akhirnya -oh, alangkah indahnya hari itu- ketika Allah menjawab doamu. Ia akan menghampiri engkau di dalam pribadi Anak-Nya, Tuhan kita, Yesus Kristus. Ia akan menganugerahkan kepadamu awal yang baru, hati yang baru, dan hidup yang baru. Ia akan mengubahmu menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Ya, kau akan terlahir kembali menjadi manusia baru (Efesus 4:24). Di hatimu akan Ia tulis hukum-hukum-Nya (Yeremia 31:33). Pikiranmu akan penuh dengan firman dan janji-Nya. Matamu yang baru akan membuatmu melihat keindahan-Nya. Telingamu yang baru akan membuatmu mendengar suara-Nya. Kakimu yang baru akan membuatmu berjalan di atas jalan-Nya. Dan di atas semua itu:

Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini:
“Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka,
dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka,
dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,
dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.

Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki
dan anak-anak-Ku perempuan
demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”
(2 Korintus 6:16-18)

Ayat - Yeremia

Oh, adakah yang lebih indah dari itu? Adakah yang lebih indah dari bisa mengatakan dan meyakini bahwa Ia adalah Allah dan Bapa kita? Ya, Ia tidak akan malu menjadi Allah dari orang-orang lemah seperti kau dan aku, jika kita ada di dalam Anak-Nya (Ibrani 11:16). Ia tidak akan malu menyebut kita umat-Nya bahkan menjadikan kita anak-anak-Nya. Ia tidak akan malu mendirikan istana-Nya di dalam hati kita. Ia akan tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia. Hidup kita bukanlah hidup kita lagi, tetapi Tuhan Yesus Kristus yang tinggal dan hidup di dalam kita (Galatia 2:20) dan kita tidak akan lagi berpikir sebagaimana dunia ini berpikir tetapi kepada kita akan dianugerahkan pikiran-pikiran Kristus (1 Korintus 2:16). Hanya di dalam keadaan demikianlah kita akan beroleh hati yang bijaksana.

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s