2. Bersama-Ku di Firdaus

Perkataan Yesus yang kedua di atas salib:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga
engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
(Lukas 23:43)

Itu merupakan perkataan Tuhan Yesus yang kedua yang dicatat oleh Alkitab. Perkataan yang kedua ini merupakan bukti bahwa Allah Bapa berkenan atas perkataan Tuhan Yesus yang pertama yang merupakan sebuah permohonan agar Bapa berkenan mengampuni dosa orang-orang yang karenanya Ia disalibkan. Tidak hanya itu, perkataan ini juga kembali menegaskan apa yang pernah Tuhan Yesus katakan ketika Ia menyembuhkan seseorang yang lumpuh kakinya. Saat itu, Ia berkata:

Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini
Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa
—  lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu  — :
“Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!
(Matius 9:6)

Tuhan Yesus seringkali menyebut diri-Nya dengan sebutan “Anak Manusia”. Apakah maksud dari gelar tersebut? Gelar itu pertama kali muncul dalam Perjanjian Lama, tepatnya di Daniel 7 ayat 13. Ketika itu, nabi Daniel menerima suatu penglihatan yang membuatnya melihat sesosok anak manusia yang datang dalam awan-awan dari langit. Anak manusia itu datang kepada Allah Bapa, yang Daniel lihat dan sebut sebagai “Yang Lanjut Usianya.” Kemudian dari pada itu, Allah Bapa memberikan kepada anak manusia itu kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja sebagaimana yang Daniel tuliskan:

maka orang-orang dari segala bangsa,
suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya.
Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal,
yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
(Daniel 7:14)

Itulah wahyu mengenai Sang Mesias yang diberitakan oleh Daniel. Tuhan Yesus mengonfirmasi kesaksian Daniel itu ketika Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)”. Itulah kekuasaan dan kemuliaan yang Kristus miliki sebagai Anak Manusia. Ia berkuasa atas bumi ini. Ia berdaulat atas alam semesta. Arah sejarah dunia Ia kendalikan dan tak satupun yang terjadi di dunia ini terlepas dari kendali dan keputusan-Nya.

Tidak hanya itu, seperti yang Matius catat, Kristus sebagai Anak Manusia juga memiliki otoritas untuk mengampuni orang-orang yang berdosa. Lebih dahsyat lagi, sebagaimana yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria, Tuhan Yesus juga berkuasa untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Matius 1:21). Ya, Tuhan kita tidak hanya akan mengampuni dosa umat-Nya tetapi Ia juga akan menyelamatkan mereka dari kuasa dan belenggu dosa itu. Ia akan mengutus Roh-Nya yang kudus untuk datang dan tinggal di dalam umat-Nya sehingga mereka dimampukan untuk berperang melawan godaan dunia, dosa, dan kuasa kegelapan. Ia akan senantiasa menyertai mereka dan menuntun mereka hari demi hari hingga suatu hari kelak, Ia akan membawa kawanan domba-Nya itu menuju Tanah Perjanjian dan Bukit Sion yang sejati, yakni Kerajaan Sorga yang mulia dan permai.

Ryle (5)Itulah kuasa, kemuliaan, dan kekuatan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Tidak ada keraguan mengenai itu. Dunia bisa berkata apapun yang buruk mengenai Dia tetapi kita tidak perlu mendengarkan apa yang mereka katakan. Mengapa? Karena dunia ini tidak mengenal-Nya. Dunia ini tidak mengenal siapa Gembala yang sejati. Tetapi kita mengenal-Nya dan Ia mengenal kita. Biarlah hanya janji dan kesaksian-Nya yang kita percaya dan kita tanam di dalam hati kita.

Kini, setelah kita mengerti dan percaya bahwa Tuhan Yesus berkuasa dan berdaulat untuk mengampuni dosa, dua pertanyaan besar perlu kita jawab:

Apakah latar belakang dari perkataan kedua Yesus itu?

Apakah alasan Tuhan Yesus menjanjikan sorga kepada seorang kriminal yang saking jahatnya dijatuhi hukuman salib?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kita akan menjawab pertanyaan tersebut dengan bermula dari ayat ini:

Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia
mencela-Nya demikian juga.
(Matius 27:44)

Itulah yang terjadi pada saat itu. Matius mencatat bahwa pada mulanya, kedua penjahat tersebut juga ikut mengolok-olok Yesus seperti yang dilakukan oleh para imam kepala, para ahli Taurat, tua-tua, dan para prajurit. Kita tidak tahu dengan pasti alasan kedua penjahat tersebut menghina Yesus. Penafsir Alkitab berpendapat bahwa kedua penjahat itu memiliki alasan untuk kesal kepada Yesus sebab Yesus secara tidak langsung menyebabkan mereka disalibkan pada hari itu. Hari itu berdekatan dengan hari raya Paskah orang Yahudi sehingga kecil kemungkinan akan diadakan eksekusi penyaliban oleh tentara Romawi. Namun, karena orang banyak menuntut Yesus untuk disalib pada hari itu juga, maka untuk mengoptimalkan kerja para prajurit, kedua penjahat yang menurut tradisi gereja dikenal dengan nama Dismas dan Gestas itu, ikut disalibkan pada saat yang bersamaan dengan penyaliban Yesus.

Hal itulah yang mungkin menyebabkan kedua pria itu turut membenci dan menghina Yesus. Jika bukan karena Yesus, mereka tentu tidak disalibkan secepat itu. Namun, kalaupun itu bukan alasannya, kita tetap tidak perlu kaget melihat sikap buruk Dismas dan Gestas tersebut karena Alkitab jelas mencatat bahwa keduanya adalah orang jahat. Mereka bukanlah orang yang baik. Mereka adalah kriminal yang telah melakukan kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati.

Namun, satu hal kemudian terjadi. Allah Bapa mendengar permohonan Anak-Nya dan Ia berkenan untuk mengabulkan doa syafaat Tuhan Yesus dan Ia berintervensi. Lukas mencatat detail kejadian itu sebagai berikut:

Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya:
“Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

Tetapi yang seorang menegor dia, katanya:
“Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah,
sedang engkau menerima hukuman yang sama?

Kita memang selayaknya dihukum,
sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita,
tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Lalu ia berkata:

DismasApa yang terjadi pada pria yang disebut-sebut bernama Dismas ini? Mengapa secara tiba-tiba ia tidak lagi mengolok Yesus dan justru menegor temannya yang menghina-Nya? Mengapa ia bisa meyakini bahwa Yesus akan datang lagi sebagai Raja, padahal pada saat itu sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Yesus adalah Sang Mesias, malahan yang terlihat adalah Ia babak belur dan tergantung di atas kayu salib? Mengapa justru ketika tidak ada dasar untuk percaya pada Yesus yang nampak tidak berdaya, penyamun itu justru menjadi percaya kepada-Nya?

Hanya ada satu jawabannya:
Allah telah mengubah hati orang itu dan ia menjadi TERLAHIR KEMBALI

Allah Bapa mengutus Roh-Nya yang Kudus untuk datang kepada Dismas. Dan melalui Roh Kudus, Allah mengerjakan di dalam pria itu apa yang pernah Ia janjikan ketika Ia berkata:

Ayat - YehezkielYa, Roh Kudus telah mengubah hati Dismas dan menganugerahkannya hati yang baru, yaitu hati  yang taat kepada setiap ketetapan Allah. Roh Kudus memberikan hidup yang baru kepadanya dan hidup yang baru itu memampukannya untuk “melihat”. Melihat siapa? Tentu saja, melihat Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatnya, yang tersalib di sampingnya dan yang sebelumnya telah ia hina dan ia benci. Dan ketika untuk pertama kalinya mata hati Dismas melihat Kristus, ia menyadari satu hal yang pasti disadari juga oleh setiap orang yang benar-benar telah terlahir kembali, yakni bahwasanya ia adalah orang yang berdosa dan layak untuk dihukum.

Hal itu terbukti ketika ia berkata kepada rekannya, “Kita memang selayaknya dihukum…” Pengakuan itu merupakan pernyataan yang tidak lazim dikatakan oleh siapapun. Para penjahat, apalagi mereka yang dijatuhi hukuman mati akan sangat sulit menerima kenyataan bahwa mereka layak untuk dihukum atau dihukum mati. Dan apa yang Dismas alami bukanlah eksekusi mati yang biasa, ia dieksekusi dengan penyaliban, salah satu hukuman mati yang paling sadis dan paling kejam yang bisa ditimpakan kepada seorang terpidana. Jika hukuman salib masih ada hingga saat ini, banyak orang akan berkata, “hukuman sejahat ini tidak layak dijatuhkan kepada penjahat manapun…” Namun, tidak demikian sikap yang akhirnya ditunjukkan oleh Dismas. Di dalam kesadarannya, ia tahu bahwa ia layak untuk dihukum, ia mengerti bahwa ia pantas untuk mati, sebab ia telah melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Dan sikap hati yang demikian merupakan salah satu tanda bahwa ia telah mengalami mujizat kelahiran baru yang Roh Kudus kerjakan.


Dismas belum berhenti sampai di sana. Jika ia berhenti hanya pada titik di mana ia menyadari dan mengakui kesalahannya, maka tidak ada bedanya ia dengan begitu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri hanya karena perasan bersalah, seperti Yudas Iskariot. Orang-orang memutuskan untuk bunuh diri karena mereka diintimidasi oleh iblis sementara orang-orang yang lahir baru diinsafkan oleh Roh Kudus (Yohanes 16:8). Sekalipun sama-sama merasa berdosa, apa yang terjadi pada Dismas sangatlah berbeda. Dismas telah menjadi ciptaan baru. Dan inilah bukti bahwa ia telah menjadi manusia baru: ia berkata kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Dismas tahu ia tidak layak, ia mengerti bahwa ia penuh dengan dosa, ia menyadari bahwa ia tidak memiliki apapun yang dapat membuatnya pantas untuk diampuni dan diselamatkan. Tidak hanya itu, ia tahu bahwa kesempatannya untuk berbuat baik dan bertobat telah tertutup, ia hanya perlu menanti kematiannya, dan ia juga mengerti bahwa ia sedang diperhadapankan dengan neraka yang sebentar lagi akan menjemputnya. Namun, sekalipun demikian, ia tidak kehilangan pengharapan. Mengapa?

Karena ia percaya kepada Yesus Kristus dan
ia percaya bahwa Yesus berkuasa untuk menyelamatkannya.

Begg (2)

Tidak banyak yang Dismas katakan kepada Yesus. Tidak ada sedikitpun pembelaan keluar dari mulutnya. Hanya ada satu hal yang ia minta kepada-Nya, yaitu agar Yesus mengingatnya. Mengingat apa? Mengingat perbuatan baiknya? Tidak, lagipula perbuatan baik apa yang bisa dikenang dari seorang penjahat yang tersalib. Apa yang ia maksud adalah mengingat dirinya, sesederhana itu.

Dismas tidak butuh Tuhan Yesus mengingat kebaikan yang pernah ia lakukan,
ia hanya butuh Tuhan Yesus mengingat dirinya
yakni dirinya yang penuh dosa
dirinya yang tidak berdaya
dirinya yang tertindas
dirinya yang kalah
dirinya yang berduka
dirinya yang hancur hati
dirinya yang memohon belas kasihan

Itulah doa dari orang yang telah terlahir kembali. Itulah permohonan dari orang yang telah memiliki hati yang baru membuatnya mengerti betapa limpahnya pengampunan yang ada pada Kristus. Itulah seruan dari orang yang telah memiliki mata yang baru yang membuatnya melihat keindahan Kristus. Itu kerinduan dari orang yang telah memiliki telinga yang baru yang membuatnya mendengar panggilan Kristus yang lemah lembut dan rendah hati.

Itulah doa yang penuh dengan kerendahan hati, yakni kerendahan hati yang pantas untuk dipersembahkan oleh seorang manusia kepada Tuhannya. Dan tidak hanya itu, doa itu juga penuh dengan keberanian, yakni keberanian yang memang wajar ditunjukkan oleh seorang anak kepada Bapanya. Seorang yang telah lahir baru tidak akan membiarkan Allah meninggalkan dirinya. Ia akan terus memanggil  dan berseru kepada-Nya sebab baginya Ia adalah Bapa dan Tuhannya. Itulah doa dari setiap orang Kristen. Itulah doa yang Tuhan inginkan kita panjatkan, yakni doa yang pada saat yang bersamaan mengandung kerendahan hati dan keberanian untuk percaya dan untuk menghadap ke hadirat-Nya.

MacArthurKini, bagaimanakah dengan kita?
Bagaimanakah dengan kau dan aku?

Masihkah kita meragukan kasih Kristus?

Jika kita ragu, biarlah kita berseru kepada Gembala kita:

“Yesus, Tuhan, dengar doaku…
Dismas Kau hampiri…
Jangan jalan t’rus…”

Broken

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s