3. Ibu, inilah anakmu… Inilah ibumu!

Perkataan Yesus yang ketiga di atas kayu salib:

“Ibu, inilah anakmu!” ,
“Inilah ibumu!”

Kata “Ibu” yang Tuhan Yesus katakan di atas kayu salib, di dalam bahasa aslinya, adalah γυνή yang sebenarnya lebih tepat untuk diterjemahkan sebagai “wanita”. Faktanya, di dalam seluruh bagian Injill, Yesus selalu memanggil ibu-Nya dengan panggilan itu. Mengapa Yesus memanggil ibu-Nya dengan panggilan yang terdengar tidak sopan seperti itu? Dan mengapa Ia membiarkan semua orang mendengar bahwa Ia memanggil ibu-Nya sendiri dengan cara demikian?

Hanya satu jawaban untuk pertanyaan tersebut:

Yesus memanggil Maria tidak dengan panggilan ibu
sebab Ia lebih dari seorang anak bagi Maria

Ia adalah Tuhan yang menciptakan Maria
Ia adalah Juruselamat yang menyelamatkan Maria
dan Maria tahu akan hal itu (walau saat itu ia belum sepenuhnya mengerti)

Dengan pemahaman ini, kita dapat menyadari satu hal, yaitu bahwa ketika Tuhan Yesus berkata kepada Maria, “Wanita, inilah anakmu…”, Ia tidak hanya sedang berkata-kata sebagai seorang putera kepada ibunya yang sebentar lagi akan ditinggalkan, tetapi yang jauh lebih besar dari itu, Ia sedang berkata-kata sebagai Allah kepada hamba-Nya. Hal yang sama juga berlaku kepada Yohanes, murid Tuhan yang bersama-sama dengan Maria menyaksikan penyaliban-Nya. Ketika Tuhan kita berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu,” Ia tidak hanya sedang berkata-kata sebagai seorang guru atau rabi yang menitipkan ibunya kepada muridnya, tetapi yang jauh lebih luar biasa dari itu, Ia sedang berkata-kata sebagai Allah kepada pelayan-Nya. Dan dengan mengatakan hal itu, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Dia yang pernah mengatakan:

Ayat - Ulangan

Ya, Yesus Kristus, Penebus kita, Dialah Allah yang pernah mengucapkan firman itu. Dialah Allah yang besar, yang kuat, yang dahsyat, dan yang membela hak para janda yang tidak berdaya itu.

Kita yang hidup di zaman modern ini seringkali memandang status janda sebagai status yang biasa. Tetapi tidaklah demikian dengan zaman ketika Allah menyerukan firman-Nya ini. Di zaman itu, para janda adalah orang-orang yang paling rentan dan lemah. Mereka sendirian. Mereka tidak berdaya. Mereka miskin dan harus menghidupi diri mereka sendiri. Mereka sangat terancam akan penindasan namun sedikit orang yang akan peduli untuk membela perkara-perkara mereka.

Namun, Allah tidaklah demikian. Sekalipun dunia meremehkan mereka, Allah tidak pernah mengabaikan mereka. Ia memperingatkan umat-Nya dengan berkata, “Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.” (Keluaran 22:22). Ia juga berfirman, “Apabila engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, janganlah engkau mengadakan pemetikan sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda.” (Ulangan 24:21). Ia terus menerus mengingatkan umat-Nya, yakni Bangsa Israel, agar mereka tidak melupakan janda-janda dan agar mereka melindungi serta membela hak-hak mereka.

Tetapi tidak hanya itu, Ia melakukan hal yang jauh lebih besar lagi. Ia datang ke dunia ini dan melawat mereka. Ia membuktikan sendiri kasih-Nya kepada para janda dengan hidup di tengah-tengah mereka. Ia menyembuhkan mereka. Ia memberkati mereka. Ia selalu mengasihi mereka. Bahkan sampai ketika Ia tergantung dan menderita di atas kayu salib, Ia tidak melupakan mereka. Lihatlah! Di bukit Kalvari, Ia sedang mengerjakan misi yang sangat besar, misi yang sudah direncanakan sejak kekekalan, yaitu misi penebusan dosa dan penyelamatan, tetapi Ia masih menyempatkan waktu untuk sesuatu yang tampaknya tidak berarti bagi orang banyak, yaitu memperhatikan nasib Maria yang telah menjadi seorang janda.

Tidakkah itu luar biasa?
Tidakkah Tuhan kita luar biasa?
Tidakkah luar biasa memiliki Tuhan yang pernah berkata:

Ayat - Mazmur Janda
Mungkin banyak dari kita, terutama yang bukanlah seorang janda, tidak menemukan kaitan firman ini dengan dirinya. Adakah hubungan perkataan Tuhan Yesus yang ketiga dari atas salib ini dengan kita? Tentu saja ada, bahkan sangat ada, terutama apabila kita melihat sosok kita sendiri di dalam diri seorang janda. Firman Tuhan pernah berkata:

Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah,
dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, yakni sisa Israel itu.
(Zefanya 3:12)

Bagaimana? Apakah kau bisa melihat dirimu di dalam firman ini? Siapakah umat yang rendah hati dan yang lemah itu? Siapakah sisa Israel itu? Ya, itulah kita. Itulah orang-orang Kristen.

Telusurilah sejarah, maka kau akan melihat ada begitu banyak saudara kita yang menderita bahkan terbunuh karena nama Kristus. Kunjungilah Colosseum dan tanyalah kepada batu tua itu kalau-kalau ia dapat memberitahumu berapa jumlah orang Kristen yang mati diterkam oleh singa di dalamnya dan berapa jumlah pengunjung yang datang untuk menonton dan menikmati tontonan itu. Lihatlah dunia, maka kau akan mengerti bahwa dunia ini membenci kita karena Kristus, Tuhan kita. Lihatlah firman Allah dan kau akan menyadari bahwa Allah telah menempatkan kita pada posisi di mana kita tidak dapat dan tidak boleh menggantungkan harapan kita untuk bertahan hidup pada apapun atau siapapun kecuali pada penyertaan Allah kita semata.

Di mata dunia, kita adalah bangsa yang lemah. Di mata dunia, kita adalah kawanan domba bodoh yang tidak memiliki gembala. Di mata dunia, kita seperti anak yatim yang tidak lagi memiliki bapa. Di mata dunia, kita adalah janda miskin yang ditinggalkan oleh suaminya. Ya, dunia melihat kita sebagai umat yang tersesat dan yang tidak memiliki Allah untuk membela dan melindungi.

Apakah benar apa yang mereka pikirkan? Tentu saja tidak, sebab kita memiliki Raja, Gembala, Bapa, Suami, dan Allah yang hidup. Dialah Allah yang menciptakan dunia ini. Dialah Allah yang mengatur setiap detail di dalam sejarah dunia ini. Dialah Allah yang membela perkara anak-anak yatim dan para janda yang tidak berdaya. Dan apabila Ia begitu peduli terhadap para janda, bagaimana mungkin Ia tidak peduli terhadap kita? Tidak, Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Ia selalu ada bersama-sama dengan kita. Ia adalah Imanuel, yang artinya Allah menyertai kita (Matius 1:23). Ia juga pernah berkata:

Ayat - Yesus
Dan kita tahu bahwa Ia sungguh-sungguh telah datang kepada setiap kita, yaitu melalui Roh-Nya yang kudus. Di dalam persekutuan dengan Allah Roh Kudus, Kristus tinggal dan hidup di dalam kita dan kita di dalam Dia. Bersama Roh Kudus, dunia tidak akan dapat menghancurkan iman kita sekalipun nyawa kita menjadi taruhannya. Namun, kita perlu tahu satu hal yang sangat penting, yaitu bahwa Kristus tidak hanya datang kepada kita melalui Roh Kudus. Ia juga datang melalui pribadi yang lain. Siapakah pribadi yang lain itu? Dialah saudara kita yang seiman di dalam Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus berkata kepada Maria, “Wanita, inilah anakmu…”, Ia menunjuk kepada Yohanes. Kemudian, Ia juga berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu!” Apakah maksudnya itu? Sederhana, Ia menjadikan Maria dan Yohanes sebagai satu keluarga. Ya, Tuhan Yesus membentuk suatu KELUARGA BARU di mana Dia menjadi pusat serta pengikat dari hubungan yang kudus dan kekal tersebut. Melalui Yohanes, Tuhan Yesus melindungi dan membela Maria yang lemah. Melalui Maria, Tuhan Yesus menjadi ibu yang memperhatikan, mendoakan, dan menasehati Yohanes.

MacArthur

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Merupakan kesalahan yang cukup fatal ketika kita mengabaikan perkataan Tuhan Yesus yang ketiga ini. Telusurilah Kitab Suci dari awal hingga akhir maka kita akan mengerti bahwa Allah tidak sedang membentuk kumpulan individu-individu Kristen, melainkan Ia mendirikan SATU KELUARGA di mana Ia sendiri yang menjadi kepala keluarganya.

Perhatikanlah doa yang sangat agung yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Apakah sebutan untuk doa itu? Ya, Doa Bapa Kami, bukan Doa Bapa-ku atau Doa Bapa saya. Ketika kita memanjatkan doa yang sangat indah dan penuh kuasa itu, kita tidak hanya sedang memanjatkan doa sebagai seorang pribadi, tetapi lebih dari itu, kita sedang bersatu bersama seluruh anak Tuhan di seluruh tempat dan di segala masa, sebagai satu keluarga Kristus, berdoa kepada Allah, Bapa kita, untuk memanjatkan permohonan dan kerinduan kita yang tertinggi, yakni agar segala lidah menguduskan nama Tuhan dan segala lutut bertelut untuk menyembah-Nya.

Ayat - Doa Bapa Kami

Dan juga, perhatikanlah apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya di malam sebelum Ia ditangkap, diadili, dan disalibkan. Saat itu merupakan saat yang sangat genting, Yesus sebentar lagi akan pergi meninggalkan mereka dan sejak dari malam itu, mereka tidak akan pernah lagi hidup dan tinggal dengan Yesus sebagaimana yang mereka rasakan selama kurang lebih tiga tahun bersama-Nya. Dan di masa-masa seperti itu, apakah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada mereka? Pesan apakah yang paling penting yang akan Tuhan Yesus tekankan di saat-saat yang sangat darurat seperti itu? Inilah yang berulang-ulang kali Ia sampaikan:

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu,
Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu,
maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
(Yohanes 13:14)

Aku memberikan perintah baru kepada kamu,
yaitu supaya kamu saling mengasihi;
sama seperti Aku telah mengasihi kamu
demikian pula kamu harus saling mengasihi.
(Yohanes 13:34)

10734156_777298879001441_9147494752448975735_n

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,
seperti Aku telah mengasihi kamu.
(Yohanes 15:12)

Inilah perintah-Ku kepadamu:
Kasihilah seorang akan yang lain.
(Yohanes 15:17)

Kasih dan kesatuan di antara anak-anak Tuhan, itulah pengajaran yang Tuhan Yesus tegaskan. Mengapa Ia harus berkali-kali mengingatkan perintah yang sama itu? Ia sendiri menjelaskan alasannya di malam itu. Ia berkata:

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya.
Tetapi karena kamu bukan dari dunia,
melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia,
sebab itulah dunia membenci kamu.
(Yohanes 15:18)

Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.
Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya
bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka
bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.
Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.
(Yohanes 16:1-3)

Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, itulah salah satu alasan mengapa kasih dan kesatuan di dalam keluarga Allah merupakan hal yang sangat penting di hati Juruselamat kita. Dunia ini telah dibutakan oleh iblis dan di dalam kebutaannya itu, dunia ini membenci Allah dan setiap anak-anak Allah. Seperti apa yang kita telah bahas, di mata dunia, kita adalah seperti seorang janda. Kita terlihat lemah, sendirian, dan tidak mampu membela diri. Kita ditolak, dihina, dipandang sebelah mata, dan dikucilkan. Dan kita perlu tahu satu hal, yakni bahwa kita tidak dapat menghindar dari hal itu sebab Allah sudah menetapkan semua itu untuk terjadi dan terus berlangsung bahkan hingga tiba masanya dunia ini harus berakhir. Cepat atau lambat, dunia akan datang kepada kita, sama seperti ia sudah datang kepada saudara-saudara kita yang telah menderita, bahkan mati, karenanya.

Bukankah itu menakutkan? Ya, secara daging itu menggentarkan hati. Tapi Tuhan Yesus pernah berfirman mengenai hal itu, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1). Ketika Ia berpesan agar kita tidak gelisah, Ia tidak memerintahkannya tanpa alasan. Ia tahu apa yang Ia akan kerjakan di dalam kita. Ia tahu bagaimana Ia akan membela dan melindungi tubuh kita, dan terutama iman kita, dari si jahat. Dan Ia tidak hanya memerintahkan agar kita tidak takut, Ia sendiri berjanji bahwa Ia akan mendirikan jemaat-Nya di atas batu karang iman dan alam maut atau kuasa jahat tidak akan dapat menguasainya. Tapi perlu kita sadari satu hal, yakni bahwa itu semua tidak akan pernah terwujud apabila terlepas dari kasih dan kesatuan di dalam tubuh gereja Tuhan.

Ayat - Gereja

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jadi, apakah yang Tuhan Yesus kerjakan dari atas salib?

Di atas salib, sebagai Domba, Ia menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Di atas salib, sebagai Imam besar, Ia memanjatkan doa syafaat agar Bapa berkenan mengampuni segala dosa kita. Di atas salib, sebagai Anak Manusia, Ia menetapkan pengampunan dosa bagi Dismas dan bukan hanya Dismas, tetapi kita semua juga, yakni orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dan tidak hanya itu, di atas salib, sebagai Kepala Gereja, Ia menyatukan kita semua dalam kesatuan yang erat, yang kudus, yang penuh kasih, dan yang kekal. Ya, dari atas salib, Ia membangun sebuah keluarga, yakni Keluarga Kerajaan Allah.

Ayat - Efesus

Di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, kita semua adalah satu keluarga. Kita mungkin tidak dilahirkan dari rahim yang sama dalam kelahiran kita yang pertama, yakni kelahiran jasmani kita. Namun, jika kita benar-benar telah percaya di dalam Tuhan Yesus Kristus, maka kita telah dilahirkan oleh Roh yang sama. Itulah kelahiran kita yang kedua, yakni kelahiran rohani, yang mengikat kita seorang akan yang lain dalam hubungan yang berlangsung lebih lama dibanding hubungan keluarga secara daging sebab hubungan secara rohani ini berlangsung hingga kekekalan. Firman Allah melalui Rasul Yohanes berkata:

Ayat - Yohanes

Ya, satu hal yang pasti akan menandai setiap orang Kristen yang sejati, yaitu mereka akan mengasihi saudara mereka seiman. Satu hal yang pasti akan menandai setiap orang yang sungguh-sungguh telah terlahir kembali, yakni mereka akan mengasihi gereja Tuhan. Kasih itu tidak berasal dari mereka sendiri, bahkan mereka sama sekali tidak mengenal kasih itu sebelumnya. Roh Kuduslah yang membangkitkan kasih semacam itu di dalam diri mereka. Roh Kuduslah yang membuat mereka begitu mengasihi dan peduli pada gereja Tuhan dan saudara-saudara seiman. Biarlah kita menyadari satu hal ini: Jika kita tidak mengasihi keluarga Allah, tidak ada alasan bagi kita untuk berpikir bahwa kita mengasihi Allah. Tetapi apabila kita sungguh-sungguh mengasihi Allah kita di dalam Kristus, maka hendaklah kita:

saling mengasihi,
saling menghormati,
saling membasuh kaki,
saling menolong,
saling mendahulukan,
saling menegur,
saling mengingatkan,
saling memberi nasehat,
saling menguatkan,
dan saling mendoakan.

Dietrich Bonhoeffer, seorang pastor yang dihukum mati oleh Nazi pada masa Perang Dunia II pernah menulis ini dalam bukunya yang berjudul Life Together:

“Kehadiran fisik dari sesama orang Kristen adalah sumber sukacita yang tak tertandingi serta kekuatan bagi orang-orang percaya. Itu adalah tanda fisik dari hadirat Allah Tritunggal yang penuh kasih.

Tidak habis-habisnya berkat yang tersedia bagi mereka, yang menurut kehendak Allah, diberi hak istimewa untuk hidup di dalam persekutuan bersama orang-orang Kristen lain hari demi hari…

Biarlah ia yang memiliki hak istimewa itu bersyukur kepada Allah di atas lututnya dan menyatakan: Oleh karena anugerah, hanya karena anugerah, kita dilayakknya untuk hidup di dalam persekutuan bersama saudara-saudari Kristen.”

Kawanku…
Itulah gereja Tuhan
Itulah keluarga Allah
Itulah kawanan domba yang Kristus gembalakan

Sudahkah kau berada di dalamnya?
Sudahkah kau merasakan berkatnya?

Jika belum… datanglah segerajanganlah buang waktumu

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s