4. Eli, Eli, lama sabakhtani?

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring:
“Eli, Eli, lama sabakhtani?”
Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
(Matius 27:46)

Itulah perkataan keempat Tuhan Yesus di atas kayu salib yang Alkitab catat. Bagi orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus, ayat ini merupakan salah satu ayat kunci untuk mengatakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan dan bahwa Ia tidak patut untuk disembah. Menurut mereka, jika Yesus benar-benar adalah Anak Allah, maka Ia tidak akan pernah ditinggalkan oleh Allah. Kenyataan bahwa Yesus sendiri yang menyatakan bahwa Ia sudah ditinggalkan oleh Allah mereka mengerti sebagai sebuah tanda bahwa Yesus hanyalah seorang manusia biasa yang akhirnya ditolak oleh Allah.

Pemahaman yang demikian sangatlah berbeda dengan apa yang dipahami dan diimani oleh orang Kristen. Bagi kita, orang-orang percaya, perkataan Yesus ini sama sekali tidak dapat diartikan sebagai pernyataan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Perkataan ini juga sama sekali tidak berarti bahwa Yesus Kristus ditolak oleh Allah. Justru sebaliknya, di dalam perkataan ini terkandung seberapa berharganya Yesus di mata Bapa-Nya. Dan tidak hanya itu, dari firman ini kita juga dapat memahami begitu berharganya orang-orang percaya di mata Allah dan Kristus.

Seruan Kristus di atas kayu salib ini merupakan seruan yang agung. Mungkin dapat dikatakan bahwa perkataan ini merupakan puncak atau bukti paling tinggi dari kasih Allah dan Kristus kepada umat manusia yang berdosa. Tidak ada pernyataan lain yang pernah Yesus ucapkan yang lebih kuat dan tajam untuk menegaskan betapa besar kasih dan pengorbanan-Nya untuk orang-orang berdosa selain pernyataan ini.

Mengapa kita bisa berpikir demikian mengenai perkataan Yesus yang keempat ini? Dari sudut mana kita dapat melihat pernyataan yang sangat kontroversial ini sebagai bukti tertinggi dari kasih Allah dan Kristus bagi umat-Nya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sangatlah perlu bagi kita untuk mengawalinya dengan kebenaran yang pernah Sang Juruselamat dunia katakan:

Ayat - Yesus

Banyak orang yang tidak percaya pada Kekristenan bersedia mengutip Matius 27:46 dengan senang hati. Namun, sangat disayangkan, pada saat yang sama, mereka enggan mengutip Yohanes 10:30. Mereka percaya pada firman yang mengatakan bahwa Yesus ditinggalkan oleh Allah namun mereka tidak percaya akan Alkitab yang sama yang juga mengatakan bahwa Yesus dan Allah adalah satu. Itu merupakan tindakan yang sangat tidak konsisten. Jika seseorang hendak menggunakan atau menerima satu ayat dari Firman Tuhan atau Alkitab, maka ia juga harus menerima seluruh ayat lain di dalam Alkitab. Mengapa? Karena Firman Allah tidak pernah berkontradiksi satu sama lain dan seluruh ayat di Alkitab merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Jika kita menerima satu atau beberapa ayat tetapi menolak ayat yang lain, maka kita pasti sudah salah memahami ayat yang kita pikir kita terima itu. Dan itulah yang terjadi pada setiap orang yang berusaha menolak Yesus dengan menggunakan Matius 27:46. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka perbuat. Alangkah indah dan baiknya jika mereka semua mengerti.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kembali ke ayat di atas. Yesus dan Bapa adalah satu. Inilah yang menjadi pondasi dari iman Kristen. Lalu, apakah arti “satu” yang Tuhan Yesus ucapkan? Ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia dan Allah Bapa adalah satu, Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa Ia dan Bapa adalah pribadi yang sama. Tidak, Yesus bukanlah Bapa. Cara Tuhan Yesus berbicara mengenai diri-Nya sendiri dan mengenai Allah Bapa sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang berbeda. Apa yang Tuhan Yesus maksud dengan Ia dan Bapa adalah satu ialah bahwa di antara Yesus dan Bapa terdapat kesatuan ilahi dan jalinan kasih yang kudus, kekal, dan tidak terpisahkan.

Manusia seringkali menyerukan semangat kesatuan. Di dalam hati setiap manusia, terdapat kerinduan untuk bersatu dan tidak terpecah belah. Namun, kerinduan itu tidak akan dapat tercapai secara sempurna. Mengapa? Karena setiap manusia berbeda. Setiap orang memiliki pemikiran, perasaan, kepemilikan, kesukaan, tujuan, dan kepentingan yang berbeda-beda. Sekalipun manusia dapat membentuk kesatuan yang cukup kokoh, misalnya kesatuan bangsa, bahasa, dan agama, sejarah dunia ini telah berkali-kali membuktikan bahwa kesatuan itu lekang oleh waktu dan oleh ambisi. Tetapi tidaklah demikian dengan kesatuan yang terjalin antara Yesus dengan Allah. Kesatuan Kristus dengan Allah adalah kesatuan yang sempurna, kekal, dan tidak pernah berubah.

Selama kita masih hidup di dunia ini, dengan kapasitas pemahaman kita yang terbatas sebagai manusia jasmaniah, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti arti kesatuan antara Allah dan Kristus. Memahami Tuhan yang adalah roh tidak akan sama dengan memahami segala sesuatu yang telah kita lihat dan kenal selama ini sebab semua itu adalah materi, bukan roh. Dan jangankan roh, saking besarnya, sistem luar angkasa atau bahkan isi perut bumi ini saja kita tidak dapat memahaminya secara sempurna. Dan jika kita tidak mampu memahami semua yang sebenarnya terbatas itu, bagaimana mungkin rasio kita yang terbatas ini dapat memahami secara sempurna Sang Pencipta yang tidak terbatas? Tentu saja, itu mustahil.

Itulah sebabnya Allah pernah berfirman dalam Ulangan 29:29, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita…” Hikmat untuk mengerti secara sempurna mengenai Trinitas, yakni kesatuan antara Allah, Kristus, dan Roh Kudus, merupakan hikmat yang masih Allah sembunyikan. Kita tidak sepatutnya mengerahkan seluruh fokus kita untuk memahami hal tersebut sampai-sampai kita mengabaikan hal-hal lain yang sebenarnya sudah dinyatakan oleh Allah, baik di dunia ini maupun di dalam Alkitab. Dan kenyataannya, Ia sudah menyatakan beberapa hal yang kita perlukan untuk lebih mengerti dan mengenal kesatuan di dalam Pribadi Tuhan itu. Rasul Yohanes menulis:

“Pada mulanya adalah Firman;
Firman itu bersama-sama dengan Allah dan
Firman itu adalah Allah”
(Yohanes 1:1)

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:14)

Siapakah Sang Firman Allah, yang telah menjadi manusia, yang dimaksud oleh Yohanes? Tentu saja, pribadi yang Yohanes maksud adalah Tuhan Yesus Kristus. Di Kitab Wahyu juga  kembali disebutkan bahwa Tuhan Yesus akan datang dengan nama “Firman Allah” (Wahyu 19:13).

Lalu, apakah artinya Tuhan Yesus sebagai Firman Allah? Tuhan Yesus adalah Sang Firman pertama-tama berarti bahwa Yesus adalah Allah sebab Alkitab mengatakan bahwa Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1). Yesus bukanlah Allah Bapa, Ia adalah Allah Putera. Dan sebagaimana seorang anak memiliki natur dan hakekat yang sama dengan ayahnya, Yesus memiliki natur dan hakekat yang sama dengan Bapa-Nya. Sang Bapa adalah Allah dan Yesus adalah Allah.

Hal ini tidak berlaku bagi manusia sebab manusia tidak memiliki natur dan hakekat yang sama dengan Allah. Manusia adalah ciptaan, Allah adalah Pencipta. Manusia tinggal di dalam daging tetapi Ia adalah roh. Memang benar bahwa kita sering memanggil-Nya Bapa kita dan Ia sendiripun menyebut kita anak-anak-Nya tetapi kita bukanlah anak-Nya yang sesungguhnya. Allah hanya memiliki satu Anak dan Ia adalah Yesus Kristus. Kita menjadi anak Allah karena Allah telah mengadopsi kita oleh darah Kristus sementara Kristus adalah Anak Allah yang tidak diciptakan atau dibuat oleh Allah tetapi sudah ada bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan.

Yesus sebagai Sang Firman Allah juga berarti bahwa di dalam pribadi Kristus terdapat segala kepenuhan pikiran, perasaan, kehendak, tujuan, dan rancangan-rancangan Allah Bapa. Segala hal yang ada di dalam hati dan pikiran Allah ada di dalam Yesus Kristus. Tujuan Allah adalah tujuan Kristus. Segala hal yang Ia rencanakan bagi dunia ini, Ia rencanakan bersama Kristus dan Ia genapi di dalam Kristus. Dalam keadaan yang demikian, mengenal Kristus sama dengan mengenal Allah sendiri. Ya, melihat Yesus Kristus adalah sama dengan melihat Allah sendiri dan percaya kepada-Nya adalah percaya kepada Allah sendiri. Itu adalah sisi positifnya. Bagaimana dengan sisi negatifnya? Sisi negatifnya juga sama, yaitu menolak Kristus sama dengan menolak Allah sendiri. Ia menegaskan hal ini dengan berkata, “barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Lukas 10:16)

Ayat - Yohanes 5

Tidak hanya itu, Yesus tidak hanya memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan Allah Bapa. Ia juga bersaksi, “sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19). Apakah maksud perkataan Tuhan ini? Maksudnya adalah segala sesuatu yang Bapa kerjakan, ya segala sesuatu, Ia kerjakan bersama-sama dengan Kristus. Allah menciptakan dunia ini; Yesus menciptakan dunia ini. Allah mengatur dunia ini; Yesus mengatur dunia ini. Allah melakukan sesuatu; Yesuspun melakukan sesuatu itu juga. Itulah sebabnya Yesus pernah berkata, “Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya…” (Yohanes 16:15). Tentu saja, sebab segala sesuatu ada karena tercipta oleh Allah dan Kristus yang bekerja bersama.

Lebih lanjut, Tuhan Yesus juga pernah berkata:

“Bapa! Agungkanlah Aku sekarang pada Bapa,
dengan keagungan yang Kumiliki BERSAMA Bapa
sebelum dunia ini dijadikan.”
(Yohanes 17:5)

Ya, sebelum dunia ini dijadikan, atau dengan perkataan lain sebelum ada satu orangpun manusia yang diciptakan, Yesus telah berbagi kemuliaan yang sama dengan Allah. Di dalam Yesaya 42 ayat 8, Allah pernah berfirman, “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain.” Allah tidak berbagi kemuliaan dengan Adam. Allah tidak berbagi kemuliaan dengan Abraham, Ayub, Musa, atau Daud. Allah tidak berbagi kemuliaan dengan para malaikat. Allah tidak berbagi kemuliaan dengan para nabi dan rasul. Allah tidak berbagi kemuliaan dengan siapapun. Tetapi Yesus Kristus berkata bahwa sebelum dunia ini dijadikan, Ia telah memiliki kemuliaan bersama-sama dengan Allah Bapa. Mengapa Yesus bisa mengatakan hal itu? Sebab Yesus dan Allah adalah Satu.

Itulah kebenarannya. Itulah yang Allah tegaskan dan ajarkan di dalam firman-Nya. Tanpa pemahaman akan kebenaran tersebut, tidak mungkin ada orang yang dapat memaknai perkataan “Eli, Eli, Lama Sabakhtani” dengan pemahaman yang objektif dan benar. Dan tidak hanya itu, sebelum kita mengerti bahwa Kristus dan Allah adalah satu, kita tidak akan mengerti betapa dalamnya kasih dan pengorbanan Kristus yang terkandung dalam tangisan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Tetapi kita telah memahami hal tersebut walaupun mungkin tidak banyak dan dengan pemahaman ini kita siap untuk mencoba menyelami firman Allah lebih mendalam untuk mengetahui apa latar belakang dan maksud perkataan Tuhan Yesus yang sangat kontroversial itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”
Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Sebagaimana kita belum dapat sepenuhnya memahami kesatuan antara Kristus dengan Allah Bapa, aku rasa kita juga belum dapat mengerti sepenuhnya tentang keterpisahan antara Kristus dan Bapa ketika Tuhan kita menyerukan hal itu. Bagaimana mungkin Bapa bisa meninggalkan Yesus padahal Bapa dan Yesus adalah satu? Kita yang terbatas ini belum dapat memahaminya secara sempurna. Namun, kita tahu satu hal, yaitu bahwa apa yang terjadi dalam peristiwa penyaliban Sang Juruselamat merupakan penggenapan dari Mazmur 22 yang ditulis oleh Daud kira-kira seribu tahun sebelum Tuhan kita datang ke dunia ini. Daud mengawali mazmurnya dengan berkata:

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?
Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
(Mazmur 22:1)

Lebih lanjut Daud menulis:

Semua yang melihat aku mengolok-olok aku,
mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya (Mazmur 22:8)

hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku (Mazmur 22:15)

lidahku melekat pada langit-langit mulutku (Mazmur 22:16)

mereka menusuk tangan dan kakiku (Mazmur 22:17)

Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka,
dan mereka membuang undi atas jubahku. (Mazmur 22:19)

Semua yang Daud tulis di dalam mazmurnya ini terjadi di jalan penderitaan Yesus yang berujung di atas kayu salib di bukit Kalvari. Sangatlah jelas bahwa penderitaan dan kesaksian Daud merupakan nubuatan tentang Sang Mesias yang akhirnya tergenapi oleh Yesus Kristus. Kini, satu pertanyaan yang perlu kita jawab: Apakah Allah benar-benar meninggalkan Daud sebagaimana yang Daud serukan di ayat yang pertama? Ternyata tidak, Allah tidak meninggalkan Daud dalam artian menolak, membenci, atau mengabaikannya. Daud sendiripun mengerti, tahu, dan percaya akan hal itu. Dan ia menyatakan keyakinannya ini di mazmur yang sama ketika ia berkata:

Ayat - Mazmur

Ya, Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan Daud. Lalu, apakah artinya Allah meninggalkan Daud? Allah meninggalkan Daud berarti Allah diam. Allah “menjauhkan diri” darinya. Allah tidak memperhadapkan wajah-Nya yang penuh kasih untuk menenangkan jiwanya. Allah tidak menghibur hatinya. Allah ada di sana tetapi Allah terasa begitu jauh bahkan dingin.

Dan itulah yang juga terjadi pada Tuhan Yesus Kristus. Allah Bapa tidak pernah benar-benar meninggalkan Yesus dalam artian membenci-Nya atau menolak-Nya. Allah selalu menyertai Yesus dan Yesus tahu pasti akan hal itu. Ia sendiri pernah bersaksi, “Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. (Yohanes 8:29)”. Di atas kayu salib, Sang Anak Allah sedang mengerjakan tugas utama dari Sang Bapa, mustahil Allah berhenti berkenan dan mengasihi-Nya apalagi di momen ini.

Apa yang terjadi pada Yesus sama dengan yang Daud alami. Sekalipun Allah Bapa tidak akan pernah meninggalkan, mengabaikan, menolak, dan membenci Yesus, Allah “menjauhkan diri” dari-Nya. Allah tidak menghibur hati-Nya. Allah tidak meneduhkan jiwa-Nya. Allah diam dan dingin terhadap-Nya.

Mengapa itu bisa terjadi?

Karena untuk pertama kalinya
“sesuatu” menjadi pemisah antara Allah dengan Anak-Nya
dan sesuatu itu adalah dosaku dan dosamu

Ayat - Yesaya
dan tidak hanya itu, Rasul Paulus juga berkata:

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita,
supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
(2 Korintus 5:21).

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat
dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:
“Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!
(Galatia 3:13)

Yesus tidak pernah melakukan dan mengenal dosa. Tetapi ketika Ia berada di atas kayu salib, Ia menanggung dosa seisi dunia. Semua dosa itu ditumpahkan dan disatukan pada diri-Nya. Dalam keadaan demikian, Ia menjadi dosa dan kutuk itu sendiri. Itu berarti, Ia adalah musuh bagi Allah.

Allah Bapa ada di sana dan Ia tidak akan pernah berhenti mengasihi Kristus. Namun, kali ini, Ia tidak berdiri sebagai “Bapa yang penuh kasih” di hadapan Kristus, melainkan sebagai Hakim yang kudus, benar, dan adil yang menuntut dijatuhkannya hukuman atas dosa umat manusia. Dan itulah yang terjadi, Kristus tidak hanya menanggung dosa umat manusia, Ia juga harus menerima murka dan hukuman Allah yang dahsyat terhadap dosa-dosa itu.

Dan ketika penghakiman Allah mulai ditimpakan kepada-Nya, Ia merasakan murka dari Bapa-Nya. Pertama-tama, Ia harus menanggung penderitaan fisik. Ia lapar, Ia haus, Ia lelah, Ia telanjang, Ia tercabik-cabik, Ia terpaku di atas kayu salib, dan Ia tidak dapat bergerak. Hukuman salib adalah salah satu hukuman mati yang paling kejam, sadis, dan menyakitkan yang pernah ditemukan dan dipakai oleh umat manusia dan Sang Anak Allah harus mengalaminya.

Tetapi itu belum semuanya, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan dibandingkan penderitaan fisik. Dan itu adalah kesengsaraan jiwa karena terpisah dengan Allah. Semua orang yang ada di neraka merasakan hal itu. Mereka akhirnya kenal siapa Allah yang sesungguhnya tetapi mereka tidak akan pernah bersekutu dengan-Nya. Untuk selama-lamanya, ya untuk selama-lamanya, mereka terpisah dengan Allah yang menciptakan mereka. Pada akhirnya, semua orang yang tidak diselamatkan akan merasakan penderitaan yang paling buruk dan abadi, yaitu ditinggalkan.

Dapatkah kau membayangkan betapa mencekamnya hal itu? Dapatkah kau membayangkan betapa mengerikannya apabila Allah meninggalkanmu dan memaling wajah-Nya daripadamu? Ketahuilah satu hal:

Yesus, Sang Anak Allah mengerti perasaan itu…
Dan itu semua hanya karena dosaku dan dosamu…
Renungkanlah hal ini ketika kau ingin melakukan dosa!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Banyak orang berpikir bahwa selama Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan dirinya, maka bukanlah masalah besar jika ia tidak dapat merasakan hadirat Allah atau Allah diam terhadapnya. Pemikiran yang demikian merupakan bukti bahwa ia bukanlah orang Kristen yang sejati. Orang yang benar-benar sudah diselamatkan dan dilahirkan kembali akan sangat menderita ketika ia tidak dapat merasakan hadirat Allah. Ia tidak pernah tinggal tenang dan damai ketika ia tidak dapat menikmati persekutuan yang intim dengan-Nya. Memang benar ia percaya bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan dan membenci dirinya, memang benar ia tahu pasti bahwa kesetiaan Allah tidak putus-putusnya, tetapi ia akan tetap merasakan duka dan kesengsaraan yang mendalam di masa-masa di mana ia kesulitan untuk merasakan persekutuan dengan Allah atau ketika Allah untuk sekian waktu lamanya “menjauh” darinya dan diam.

Perasaan ditinggalkan oleh Allah adalah kengerian bagi umat Allah. Ayub pernah mengalaminya dan ia sangat menderita. Daud pernah mengalaminya dan ia menangis. Yeremia pernah mengalaminya dan ia meratap. Semua umat Tuhan, pernah mengalaminya. Memang iman mereka kepada Allah tidak luntur tetapi sukacita dan semangat mereka pudar.

Dan kini, cobalah renungkan satu hal:
Jika umat Allah, yang sesungguhnya belum pernah benar-benar melihat Allah di dalam segala kepenuhan-Nya, bisa begitu menderita dan berduka ketika mereka merasa ditinggalkan oleh Allah, lalu bagaimanakah perasaan Tuhan Yesus saat itu? Ia selalu bersama-sama dengan Bapa-Nya. Ia mengenal Bapa-Nya. Ia melihat wajah Bapa-Nya. Ia selalu merasakan persekutuan yang intim dan indah dengan Bapa-Nya. Tidak pernah sekalipun Ia terpisah dengan Bapa. Tidak pernah sekalipun Ia bertentangan dengan Bapa. Tetapi konsekuensi yang harus Ia terima di atas kayu salib, membuat-Nya untuk seketika waktu lamanya, terpisah bahkan dihakimi oleh Bapa-Nya. Oh, apakah yang Ia rasakan di siang itu?

Kita mungkin tidak akan pernah mengerti dukacita dan kesengsaraan seperti apa yang Ia rasakan. Namun, firman Tuhan memberikan gambaran akan hal itu. Di Mazmur 22 dikatakan, “hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku.” Tuhan kita sendiripun berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. (Matius 26:38).” Tuhan Yesus tahu apa yang akan Ia alami ketika Ia menerima cawan murka Allah. Juruselamat kita tahu apa yang akan ditimpakan pada-Nya ketika Ia menanggung dosa di Kalvari. Tetapi Ia tetap rela melakukannya. Ia bersedia melewati ketakutan dan kesedihan terbesar-Nya. Ia bersedia melewati neraka tergelap dalam hidup-Nya.

Mengapa Ia mau melakukan dan menerima semua itu?
Sebegitu berhargakah kita untuk diselamatkan oleh Sang Penebus?
Sebegitu indahkah kita sampai-sampai Sang Anak Allah rela mengarungi semua itu?
Sebegitu muliakah kita sehingga Bapa rela menumpahkan murka-Nya yang sangat mengerikan kepada Anak-Nya sendiri?

Aku rasa kau dan aku tahu jawabannya. Kita adalah makhluk berdosa, tidak ada harganya sama sekali. Kita hanyalah debu tanah. Kita hanyalah sekam yang ditiupkan angin. Kita hanyalah uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Kita hanyalah pohon yang tidak berbuah. Kita hanyalah pelacur yang berzinah meninggalkan Allah dan bersundal kepada para berhala uang, kepopuleran, seks, dan kekuasaan. Kita hanyalah seonggok daging yang busuk oleh dosa. Tetapi Allah Bapa rela menjatuhkan hukuman kepada Anak-Nya dan Sang Anak rela menanggung hukuman itu demi kita. Kristus rela terpisah dengan Bapa supaya untuk selamanya kita tidak akan pernah lagi terpisah dengan-Nya. Semua itu bukan karena kita layak, indah, atau mulia. Ia melakukan semua itu karena Ia mengasihi kita.

Tapi, tahukah engkau, mengapa Ia mengasihi kita?
Sejujurnya aku juga tidak sepenuhnya mengerti.

Tapi, mengapa orangtua kita mengasihi kita?
Apakah orangtua kita mengasihi kita karena perbuatan baik kita?
Aku rasa tidak, orangtua kita mengasihi kita karena mereka adalah orangtua kita.

Jadi inilah jawaban terbaik dariku:
Tuhan mengasihi kita bukan karena perbuatan baik kita.
Tuhan mengasihi kita karena Ia adalah Tuhan kita.

Luther

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Percayakah kau akan hal itu?

Percayakah kau bahwa Allah mengasihimu?

Percayakah kau bahwa Kristus tidak hanya rela mati bagi dosa seisi dunia
tetapi Ia juga rela untuk mati bagimu secara pribadi?

Percayakah kau bahwa Kristus rela “terpisah” dari Bapa
karenamu secara pribadi?

Dapatkah kau berkata dari lubuk hatimu yang terdalam bahwa Ia adalah Tuhanmu?

Dapatkah kau berkata dari hati sanubarimu bahwa Allah adalah Bapamu?

Dapatkah kau seperti Paulus berkata:

Ayat - Galatia

Jawablah pertanyaan itu dengan jujur, kawan. Tidak ada satupun di dunia ini yang lebih penting dan urgent selain menjawab pertanyaan itu. Jangan keraskan hatimu. Jangan menipu dirimu sendiri. Jawaban atas pertanyaan itu menentukan apakah kelak untuk selama-lamanya kau akan bersama-Nya atau untuk selama-lamanya kau akan ditinggalkan-Nya.

Jika kau percaya bahwa Ia adalah Tuhanmu dan Ia mau mati bagimu secara pribadi, oh, sungguh berbahagialah engkau. Semoga Allah selalu menyertai, menguatkan imanmu, serta hari demi hari membawamu kepada kekudusan yang kian disempurnakan.

Tetapi jika engkau mendapati keraguan di dalam dirimu…
Jika kau belum benar-benar percaya bahwa Ia mau mati bagimu secara pribadi…
Jika lidah dan hatimu belum mampu berkata bahwa Kristus adalah Tuhanmu…
Jika sanubarimu kelu, diam, dan tak berani berkata bahwa Allah adalah Bapamu…

Aku katakan ini padamu:
Rendahkanlah dirimu di hadapan Allah
dan berdoalah kepada-Nya dengan hati yang remuk

Katakanlah pada-Nya agar Ia mencelikkan matamu sehingga kau melihat-Nya
Mintalah agar Ia membuka telingamu sehingga kau mendengar suara-Nya
Mohonkanlah kaki agar kau mampu berlari pada-Nya

dan berserulah kepada-Nya seperti Augustus Toplady:

Toplady

Dan Ia tidak mungkin tidak mendengar dan menjawab doamu sebab Ia sendiri sudah berjanji:

dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
(Yohanes 6:37)

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s