5. Aku Haus!

Sesudah itu, karena Yesus tahu,
bahwa segala sesuatu telah selesai,
berkatalah Ia  —  supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci  — 
“Aku haus!”
(Yohaned 19:28)

Tuhan Yesus Kristus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Apapun yang keluar dari mulut-Nya adalah firman Allah yang merupakan kebenaran. Tidak hanya itu, Sang Juruselamat pernah berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” (Yohanes 6:63). Tidak satupun perkataan yang pernah Yesus ucapkan sia-sia. Semua yang Ia katakan mengandung makna yang perlu diselidiki oleh manusia supaya manusia mengenal Allah, mencintai-Nya, dan melakukan apa yang Ia perintahkan. Tidak ada definisi yang lebih akurat mengenai apa arti kehidupan selain itu.

Dalam terang ini, dua pertanyaan timbul di dalam benak kita:
Apakah maksud Tuhan Yesus ketika mengatakan bahwa Ia haus?
Apa respon yang seharusnya kita berikan terhadap pernyataan ini?

Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Aku haus,” itu berarti bahwa Ia benar-benar haus. Di sini, kita melihat sisi kemanusiaan dari Kristus. Sekalipun Ia adalah Anak Allah, Ia merendahkan diri-Nya dan hidup sebagai manusia. Hal ini membuat Yesus memiliki dan merasakan kelemahan-kelehaman fisik yang ada pada manusia, termasuk rasa haus.

Dan rasa haus yang Yesus alami di atas kayu salib merupakan hal yang sangat wajar. Di malam buta Ia telah ditangkap. Ia dipenjara di ruang bawah tanah yang sempit. Ia kemudian diadili dari satu tempat ke tempat lain. Ia dipukuli, dicambuk, dan diberi mahkota duri. Ia memikul salib hingga ke atas bukit Gologota dan di atas sana Ia dipakukan pada kayu salib. Itu semua menguras tenaga, keringat, dan darah Yesus. Namun, tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sempat meminum air sedikitpun di dalam rentang waktu berjam-jam lamanya itu. Pemazmur menubuatkan dan mendeskripsikan penderitaan Kristus ini dengan berkata, “kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku.” (Mazmur 22:16). Tidak diragukan lagi, sebagai manusia, Yesus mengalami rasa haus yang luar biasa. Ia menderita.

Dan itu semua Tuhan Yesus lakukan
demi menebus orang-orang yang selalu haus dengan dirinya sendiri
seperti kau dan aku

Yesus benar-benar menderita dan lemah secara fisik. Namun, itu belum semuanya. Dibandingkan kesakitan yang Ia rasakan pada tubuh-Nya, hati Kristus jauh lebih menderita. Dan pernyataan Yesus yang mengatakan bahwa Ia merasa haus menyiratkan duka yang luar biasa di hati-Nya itu. Mengapa kita bisa mengatakan demikian? Kita tahu bahwa Allah sangat sering menggunakan kiasan untuk menjelaskan maksud-Nya. Dan salah satu kiasan yang paling Allah sukai adalah “air”. Di dalam sepanjang bagian Alkitab, Allah sering sekali menggambarkan berkat-berkat-Nya dan bahkan Pribadi-Nya sendiri, sebagai sebuah aliran air. Kita dapat melihat hal ini terutama di dalam ayat-ayat seperti:

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,…
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
(Mazmur 1:1 dan 3)

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
(Mazmur 23:2)

Ayat - Yesaya
Aku akan membuat sungai-sungai
memancar di atas bukit-bukit yang gundul,
dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran;
Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga
dan memancarkan air dari tanah kering.
(Yesaya 41:17-18)

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih,
yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu
dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.
(Yehezkiel 36:25)

Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat:
mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup,
untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor,
yang tidak dapat menahan air.
(Yeremia 2:13)

Dalam terang firman Tuhan dan dalam tuntunan Roh Kudus, kita mengerti bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang diri Allah sendiri. Allah adalah aliran air dan umat-Nya adalah pohon yang akhirnya bertumbuh subur itu. Allah adalah air yang tenang dan kita adalah domba yang dituntun oleh Sang Gembala mendekati aliran itu. Dialah Sang Mata Air Keselamatan. Dialah mata air yang mengairi hati kita yang kering seperti padang gurun. Dialah air yang jernih yang menyucikan kita dari segala kenajisan kita. Dialah sumber air yang hidup yang membangkitkan kita dari kematian, membebaskan kita dari perbudakan, melahirkan kita kembali, dan menganugerahkan kita hidup yang baru.

Tetapi itu belum semua dari penyataan diri-Nya. Dua ribu tahun yang lalu, Ia datang ke dunia ini dan melawat umat-Nya melalui pribadi Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Tuhan kita yang terkasih berkata:

Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah
dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum!
niscaya engkau telah meminta kepada-Nya
dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.
(Yohanes 4:10)

Oh, tidakkah itu sungguh indah?

Tuhan Yesus yang mengucapkan Yohanes 4:10 adalah Dia yang menyatakan diri-Nya sebagai Air di sepanjang kisah Perjanjian Lama. Dialah yang dimaksud oleh Daud ketika Daud bermazmur, “TUHAN-lah Gembalaku,” dan ternyata Dia jugalah yang Daud sebut sebagai air yang tenang di mana Sang Gembala membaringkan dia. Ya, Kristus, Imam Besar kita adalah Allah bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus. Ia adalah Imanuel, yang artinya “Allah beserta kita”. Ia adalah Gembala yang baik yang dekat dan tinggal bersama-sama dengan kawanan domba-Nya. Tidak hanya itu, Ia jugalah sumber air yang hidup itu, yang mengalirkan Roh Kudus ke dalam hati umat-Nya supaya Ia tidak hanya tinggal di dekat mereka, tetapi yang jauh lebih luar biasa lagi, Ia sendiri hidup di dalam mereka.

Namun
Apakah yang terjadi pada Tuhan Yesus di bukit Kalvari siang itu?
Apakah yang Sang Raja Mulia rasakan di atas tiang salib itu?

Bagaimana mungkin Raja Alam Semesta
yang menciptakan sungai, danau, samudra, dan awan
bisa merasa haus?

Bagaimana mungkin Dia yang menurunkan hujan
bisa merasa dahaga?

Mata Air Kehidupan

Itulah yang patut kita renungkan di dalam hidup kita. Itulah yang harus selalu kita kenang selama kita hidup. Ia harus merasa haus karena kita terlalu haus akan dunia dan diri kita sendiri. Ia harus menderita dahaga karena hawa nafsu kita yang tiada henti-hentinya berkata kepada dunia: “Berikan padaku, puaskan dahaga jiwaku.” Hati Sang Pencipta remuk karena ciptaan-Nya sendiri. Hati Tuhan kita hancur karena kita.

Tetapi apakah respon yang kita berikan pada-Nya? Tidakkah umat manusia sama seperti orang-orang yang menyaksikan penyaliban-Nya di bukit yang kelam itu?

Lihatlah Ia tergantung di atas kayu salib. Ia baru saja berseru kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan-Ku.” Ia jelas memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Dan apa yang Ia lakukan setelah itu? Untuk pertama dan terakhir kalinya Ia berbicara kepada orang-orang yang menyalibkan-Nya, “Aku haus!” Apakah kau mendengar apa yang Ia katakan? Ia tidak mengucapkan kutuk kepada mereka. Ia tidak mengucapkan sumpah serapah kepada mereka. Ia tidak mengancam mereka. Ia memberikan kesempatan kepada mereka untuk melayani-Nya. Dan seperti apakah tanggapan mereka? Firman Tuhan berkata:

Dan segeralah datang seorang dari mereka;
ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam,
lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.
Tetapi orang-orang lain berkata:
“Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.”
(Matius 27:48-49)

Mereka semua, tidak terkecuali satupun, tahu bahwa Yesus adalah orang baik-baik. Mereka semua sadar bahwa mereka telah memilih orang jahat, yakni Barabas, hanya karena mereka dengki pada Kristus. Mereka semua, tanpa terkecuali, tahu bahwa hukuman yang dijatuhkan pada Yesus merupakan hal yang sangat tidak adil. Mereka semua bahkan telah mendengar dengan telinga mereka sendiri bahwa Yesus berdoa kepada Bapa agar Bapa mengampuni mereka. Tapi, lihatlah apa yang mereka lakukan! Ketika Ia kehausan, mereka memberikan Ia anggur asam. Tidak satupun orang berbelaskasihan menolong-Nya. Tidak satupun orang bersedia memberikan air minum untuk menyejukkan kerongkongan-Nya yang kering. Dan bahkan, ketika ada yang mau memberikan-Nya anggur asam, masih ada saja yang mencoba melarang hanya karena ingin melihat Elia datang.

Bukankah itu menggambarkan begitu banyak orang Kristen di dunia ini?

Kita tahu Ia adalah Tuhan. Kita tahu Ia baik. Kita tahu pasti apa yang Ia inginkan. Tapi ketika Ia berkata bahwa Ia haus, kita memberikan-Nya anggur asam. Ketika Ia ingin air yang segar kita memberikan-Nya air yang suam-suam kuku, yang tidak panas dan tidak dingin (Wahyu 3:16). Ketika Ia ingin buah dari pohon ara, kita memberikan-Nya tidak lebih dari daun (Markus 11:13-14). Ketika Ia menghendaki buah anggur yang baik, kita menghasilkan untuk-Nya buah anggur yang asam (Yesaya 5:4). Ketika Ia meminta hati kita, kita memberikan-Nya pujian-pujian manis yang tidak lebih dari tipu dan racun. Kita terlalu mencintai diri kita sendiri.

Bahkan, mereka memberi aku makan racun,
dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.
(Mazmur 69:22)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah kejahatan seluruh umat manusia. Itulah kejahatan kita semua. Tetapi Tuhan Yesus Kristus mau mati bagi kita. Ia mau mengampuni kita. Sang Penebus rela mengalami rasa haus, agar untuk selama-lamanya, kita tidak lagi merasa haus akan dunia ini. Tidak hanya itu, melalui penderitaan-Nya, Ia tidak hanya membebaskan kita dari kehausan akan hal-hal fana yang ada di dunia ini tetapi Ia juga menyelamatkan kita dari kehausan kekal seperti yang dialami oleh seorang kaya dalam perumpamaan yang berkata:

Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus,
supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku,
sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.”
(Lukas 16:24)

Tetapi itu belum semuanya. Ia tidak hanya membuat kita tidak haus akan dunia ini atau mencegah kita dari kehausan yang kekal. Ia berbuat lebih luar biasa lagi. Ia sendiri menjadi Mata Air di dalam hati kita. Ia pancarkan aliran-aliran air hidup, yakni Roh Kudus, di dalam hati kita. Ia mengairi hati kita yang kering dan tandus. Ia memuaskan jiwa kita yang dahaga. Ia membaptis dan membersihkan kita dari segala dosa dengan air yang kudus. Ia membangkitkan kita kembali. Ia melahirkan kita kembali. Ia memberikan kita hidup.

Kini, pertanyaannya:
Sudahkah kau percaya kepada-Nya?
Sudahkah bebaskah kau dari rasa dahaga akan dunia ini?
Sudahkah Ia menjadi Mata Air Kehidupan bagimu?

Jika belum, berhentilah mengemis meminta air dari dunia ini. Berhentilah menimba air dunia yang adalah racun yang pasti akan membunuhmu. Berhentilah meminum air dunia yang lebih membuat haus dibanding air asin samudera. Dunia ini tidak akan pernah dapat memuaskan jiwamu yang sengsara. Dunia ini tidak akan sanggup membalut dan membersihkan lukamu. Dunia ini tidak akan mampu menyegarkanmu. Dunia ini tidak akan mampu mengisi kekosongan di hatimu. Hanya Satu Pribadi yang bisa melakukannya dan Ia adalah Tuhan Allahmu, yakni Tuhan Yesus Kristus, Sang Aliran Air yang Tenang yang pernah berkata:

Ayat - Air

Mengertikah engkau apa yang Ia ucapkan? Kita tidak perlu menjadi orang baik dulu; kita tidak perlu menjadi orang saleh dulu; kita tidak perlu menjadi orang yang sempurna dulu untuk menerima air hidup itu. Apa yang harus kita adalah pertama-tama menyadari bahwa kita haus. Apakah engkau haus? Jika kau tidak menyadari rasa hausmu, maka kau tidak akan pernah datang kepada-Nya. Jika kau tidak merasa dahaga, maka kau tidak akan pernah memandang-Nya sebagai Mata Air Kehidupan padahal itulah adanya Dia. Tapi apakah kau sungguh-sungguh tidak merasa haus?

Lihatlah hidupmu.
Selidikilah jiwamu.
Tanyalah dirimu sendiri: apakah arti hidupmu.

Berhentilah menipu dirimu sendiri. Di dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau tahu bahwa dunia ini tidak akan pernah memuaskan hatimu. Berhentilah menganggap dirimu hebat. Allah tidak mengukurmu berdasarkan apa yang sanggup kau berikan pada-Nya, Allah menilaimu berdasarkan seberapa butuhnya kau akan Dia. Ia senang dengan orang-orang yang rendah hati, yaitu orang-orang yang cukup rendah hati untuk mengaku bahwa mereka membutuhkan-Nya.

Syarat?
Tidak ada, kasih dan kemurahan-Nya tanpa syarat.

Harga?
Tidak, Ia tidak memasang harga sama sekali.
Malahan Ia berkata:

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air,
dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah!
Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah,
juga anggur dan susu tanpa bayaran!

Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti,
dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?
Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik
dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku;
dengarkanlah, maka kamu akan hidup!
Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu,
menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.
(Yesaya 55:1-3)

Katakanlah padaku, adakah janji dan kemurahan yang lebih indah daripada itu?

Tidak…
Tidak ada janji dan kemurahan yang lebih indah dari itu…
Dan tidak ada jalan lain untuk menerimanya
selain dari Dia, Mata Air Keselamatan

Flavel

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oleh sebab itu, kawanku terkasih:

Hauslah akan Dia
Berserulah dan berdoalah seperti Daud:

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
(Mazmur 42:1)

Ayat - Air

Percayalah pada-Nya
Datanglah pada-Nya
Minumlah Dia
Biarlah hanya Dia yang menjadi pemuas dahagamu hari demi hari

Rutherford

Tetapi jangan berhenti sampai di sana. Tuhan kita pernah berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Ia menghendaki meja perjamuan kudus terus berlangsung di dalam gereja-Nya. Ia mau kita senantiasa mengenang pengorbanan-Nya. Ia mau kita selalu mengenang penderitaan dan rasa haus-Nya. Ia mau di telinga kita selalu terdengar suara-Nya yang dengan lembut mengatakan, “Aku haus!”

Dan ketahuilah hal ini: Memang benar bahwa di atas kayu salib Ia sangat kehausan. Tetapi perlu kita ingat bahwa Ia pernah berpuasa tanpa makan dan tanpa minum selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Dan jangan juga kita lupa, jika Ia mau, Ia bisa saja memerintahkan awan untuk menurunkan hujan dan memuaskan dahaga-Nya. Jadi, apakah yang benar-benar Ia inginkan ketika Ia berkata bahwa Ia Ia haus?

Ya… 
Ia mencari hati yang mau melayani-Nya dan memberikan-Nya minum…

Saat ini, Tuhan kita telah berada bersama-sama dengan Bapa-Nya dalam kerajaan yang penuh dengan kebenaran, kedamaian, kasih, dan sungai sukacita. Tidak lagi Ia merasa kehausan seperti apa yang pernah Ia derita dua ribu tahun yang lalu. Namun, apakah panggilan-Nya kepada kita untuk datang dan melayani-Nya berubah? Tidak. Kerinduan-Nya tetap sama. Ia menghendaki kita melayani-Nya. Ia menghendaki kita memberikan-Nya minum, bukan dengan anggur asam, bukan dengan air suam-suam kuku yang tidak dingin dan tidak juga panas, melainkan dengan buah anggur yang terbaik, air anggur yang manis, dan air yang menyegarkan. Tapi itu hanyalah gambar, kawan. Apa yang Ia mau adalah hati kita sendiri dan domba-domba yang terhilang yang kita bawa untuk datang kepada kepada Sang Gembala yang baik.

Kini, apakah respon kita?
Maukah kita melayani-Nya?
Bersediakah kita seperti Paulus yang berkata:

Bekerja Memberi Buah
Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s