6. Sudah Selesai

“Sudah selesai”
(Yohanes 19:30)

Setelah Yesus meminum anggur asam yang diberikan oleh salah seorang prajurit, Ia berkata, “Sudah selesai.” Ini merupakan kalimat keenam yang Yesus ucapkan di atas kayu salib. Mungkin dapat dikatakan bahwa deklarasi ini merupakan deklarasi paling penting di dalam seluruh bagian Alkitab. Deklarasi inilah yang membedakan Kekristenan dengan agama dan kepercayaan manapun. Seluruh iman dan pengharapan yang ada pada setiap orang Kristen dibangun di atas perkataan Kristus ini. Di dalam firman ini, rancangan penyelamatan yang Allah tetapkan sejak permulaan zaman menjadi jelas. Oleh firman ini, setiap orang yang percaya memiliki fondasi yang kokoh untuk bersandar, percaya, dan berharap kepada keselamatan yang Allah sediakan di dalam pengorbanan Yesus Kristus, Sang Penebus Dosa.

Bukankah kalimat ini terdengar tidak bermakna dan juga ambigu?
Mengapa perkataan Tuhan ini merupakan hal yang begitu penting bagi iman Kristen?

Sebelum menyelam lebih dalam untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu meluruskan satu hal. Pernyataan “sudah selesai” yang Tuhan Yesus katakan bukanlah suatu ungkapan kelegaan karena sebentar lagi Ia akan terbebas dari penderitaan hebat yang telah Ia alami berjam-jam lamanya. Ia tidak bermaksud mengatakan, “Ah, akhirnya penderitaan dan kesengsaraan-Ku ini berakhir juga.” Ia juga sama sekali tidak bermaksud mengatakan, “Ah, akhirnya Aku bisa beristirahat dengan tenang.”

Kalimat “sudah selesai”, di dalam bahasa aslinya adalah “teleō” yang sebenarnya berarti “sudah terpenuhi”, “sudah genap”, atau “sudah dirampungkan”. Untuk lebih memperjelas, jikalau kita harus meminjam bahasa Inggris untuk memahaminya, maka kita tidak mengartikannya dengan “it is over” melainkan “it is finished” atau “it is completed.”

Di dalam terang pengertian ini, kita menjadi menyadari satu hal, yaitu bahwasanya penyaliban Kristus bukanlah sesuatu yang berada di luar kuasa atau kendali-Nya. Berbeda dengan yang dipikir oleh orang-orang yang menolak Kekristenan, Yesus Kristus tidak disalib karena Ia tidak sanggup menyelamatkan diri-Nya dan juga bukan karena Ia memang bersalah secara hukum. Apa yang sebenarnya terjadi adalah kebalikan dari semua itu. Salib merupakan bagian dari MISI Tuhan Yesus Kristus untuk datang ke dunia ini. Kita juga bisa mengatakan bahwa misi Tuhan dalam kedatangan-Nya yang pertama baru akan sempurna, selesai, atau rampung ketika darah-Nya tercurah dari atas kayu salib dan Ia tergantung di sana. Memang ada sangat banyak hal yang telah Tuhan Yesus lakukan di dunia dalam tiga setengah tahun pelayanan-Nya tetapi semua itu belum menyelesaikan tujuan utama-Nya. Saliblah yang menjadi pemenuhan dari tujuan-tujuan-Nya. Saliblah yang menjadi syarat agar misi Tuhan Yesus menjadi sempurna. Saliblah yang menjadi dasar dan alasan Tuhan Yesus untuk menyatakan bahwa misi-Nya “sudah selesai.”

Beranjak dari pemahaman ini, pertanyaan baru kemudian timbul:
Apakah sebenarnya yang harus Tuhan Yesus penuhi melalui hukuman salib?

Dan jawabannya adalah:
Hukum Taurat

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Selama beratus-ratus tahun, bangsa Israel yang adalah umat pilihan Allah mengira bahwa dengan berusaha memenuhi Hukum Taurat, mereka dapat memperoleh hidup yang kekal. Mereka berpikir bahwa dengan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi tuntutan Hukum Taurat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka, membenarkan mereka, dan menganugerahkan kepada mereka keselamatan serta hak untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya.

Itu bukanlah pemahaman yang benar. Hukum Taurat tidak ditujukan untuk menjadi jalan keselamatan bagi mereka yang melakukannya. Allah memberikan Hukum Taurat kepada Bangsa Israel bukan supaya mereka berpikir bahwa mereka dapat menyelamatkan diri mereka sendiri melalui ketaatan mereka akan Hukum Allah. Tidak, keselamatan di dalam rancangan Allah tidak pernah didasarkan atas perbuatan manusia, melainkan hanya atas dasar iman atau kepercayaan kepada Allah. Paulus menjelaskan hal itu dengan menjabarkan bagaimana Abraham dipandang sebagai orang benar oleh Allah bukan karena perbuatannya, melainkan karena imannya (Kejadian 15:6; Roma 4:3). Hal itu tidak hanya berlaku di dalam zaman Abraham atau zaman Perjanjian Lama tetapi juga di dalam zaman Perjanjian Baru bahkan hingga dunia ini berakhir suatu saat kelak. Sebagaimana Allah tidak pernah dan tidak akan pernah berubah, firman-Nya juga tidak akan pernah berubah dan firman-Nya berkata:

Ayat - Habakuk

Mengapa Allah menaruh keselamatan manusia di atas dasar iman dan bukan di atas perbuatan manusia? Alkitab memberikan jawabannya dengan sangat jelas: sebab tidak ada satu orangpun yang kebaikannya mampu memenuhi perintah-perintah Hukum Taurat tersebut.

Banyak orang berpikir bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik dan layak untuk diselamatkan atau diampuni oleh Allah. Tidak persis sama dengan pandangan yang pertama ini, pandangan yang lain yang dianut oleh banyak agama, kepercayaan, dan filosofi berkata bahwa manusia dapat diterima ke dalam Kerajaan Sorga apabila perbuatan baik mereka melebihi perbuatan buruk mereka. Mereka berpikir bahwa apabila manusia rajin beribadah dan beramal, maka mereka akan dilayakkan untuk menerima hidup yang kekal bersama-Nya. Bagaimana pandangan Kekristenan terhadap pandangan-pandangan tersebut? Tentu saja, Kekristenan meyakini hal yang sepenuhnya berbeda. Inilah yang Alkitab katakan mengenai manusia:

Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.
(Roma 3:10-12)

Alkitab mengatakan “tidak ada seorangpun…” dan itu berarti seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Setelah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, seluruh umat manusia menjadi orang yang berdosa. Alkitab bahkan mengatakan bahwa manusia telah “mati” di dalam dosa-dosanya (Efesus 2:1) yang berarti bahwa manusia telah terpisah dari Allah dan secara natur, manusia tidak dapat percaya dan mengasihi Allah dengan kehendak mereka sendiri. Manusia dikendalikan oleh kedagingan atau hawa nafsunya yang mana semua itu adalah perseteruan dengan Allah (Roma 8:7). Manusia tidak kudus. Manusia terikat dan diperbudak oleh kegelapan yang tinggal di dalam diri mereka. Manusia adalah makhluk yang jahat, itulah yang firman Allah katakan dan tegaskan.

Mengapa ada begitu banyak orang yang menganggap diri mereka baik atau setidaknya cukup baik dan cukup pantas untuk diselamatkan? Jawabannya sederhana, mereka telah salah mengerti. Mereka menetapkan standar kebaikan berdasarkan standar mereka sendiri. Mereka tidak sadar betapa rendahnya standar mereka dalam memandang kebenaran dan kekudusan Allah dan Hukum-Nya. Itu merupakan kesalahan yang sangat fatal dan semua itu tidak terlepas dari fakta bahwa mereka tidak mengenal Allah dan kebenaran-Nya. Allah adalah Hakim yang akan menentukan siapa yang akan beroleh hidup yang kekal dan siapa yang akan dihukum dan dibinasakan. Dengan demikian, Allah adalah satu-satunya Pribadi yang berhak menentukan standar kebaikan, bukan manusia. Dan bagaimanakah standar kebaikan di mata Allah? Menurut Firman Tuhan, standar-Nya adalah SEMPURNA. Yakobus menjelaskan:

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu,
tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya,
ia bersalah terhadap seluruhnya.
(Yakobus 2:10)

Lebih lantang dari itu, Tuhan Yesus sendiri berkata di hadapan orang-orang Yahudi ketika Ia berkhotbah di atas bukit:

Karena itu haruslah kamu SEMPURNA,
sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
(Matius 5:48)

Sempurna. Sempurna. Sempurna. Ya, sempurna, tidak kurang dari itu. Itulah kehendak Allah untuk umat-Nya. Itulah keinginan Allah di masa yang lampau, masa kini, dan untuk selama-lamanya. Itulah yang Ia ingin pertegas melalui perkataan Anak-Nya. Allah mau umat-Nya sempurna, bahkan supaya benar-benar jelas, Tuhan Yesus sampai berkata, “sempurna SEPERTI Bapa di sorga.”

Ketaatan di mata Allah haruslah sempurna, tanpa cacat cela sedikitpun, dan bukan sekadar “berusaha sebaik mungkin. Orang yang taat melakukan hampir seluruh bagian Taurat tetapi gagal di dalam salah satu bagian, sama saja dengan orang yang melanggar seluruh Hukum Taurat. Orang yang taat dengan tidak sempurna sama saja dengan orang yang tidak taat sama sekali. Keduanya adalah pendosa dan tidak layak di hadapan Allah. Keduanya menuju neraka dan bukan sorga.

Jika demikian kebenarannya, apakah yang harus manusia lakukan? Jika di satu sisi, Allah menuntut umat manusia untuk hidup benar dan suci secara sempurna namun di sisi yang lain Allah sendiri menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang benar, apakah yang sepatutnya menjadi respon manusia? Apakah baik jika mereka menutup mata dan telinga? Apakah baik jika mereka berpura-pura tidak tahu? Apakah baik jika mereka berusaha mendebat Allah dan meminta-Nya menurunkan standar kesempurnaan-Nya? Tentu tidak. Satu-satunya respon yang seharusnya diberikan oleh manusia kepada Allah ketika mendengar perintah yang sedemikian tegas dan jelas itu adalah merendahkan hati dan memohon belas kasihan dari-Nya.

Tidak ada ruang untuk mendebat Allah. Tidak ada kesempatan untuk mengubah tuntutan-Nya. Mustahil meminta-Nya menurunkan standar-Nya. Tidak ada celah sedikitpun bagi manusia untuk meninggikan hati ketika mereka mengerti bahwa Allah menuntut kesempurnaan dari mereka sementara mereka mengerti, bahkan sangat mengerti, bahwa mereka bukanlah manusia yang sempurna.

Augustine

Namun, bukanlah itu yang menjadi respon umat manusia, terutama orang-orang yang “religius”. Lebih buruk, orang-orang Yahudi yang adalah umat Allah juga tidak memberikan respon yang demikian. Memang mereka tahu bahwa mereka tidak sempurna. Memang mereka sadar bahwa mereka adalah orang-orang berdosa. Namun, kesadaran akan dosa itu tidak membuat mereka rendah hati dan berharap akan belas kasihan Allah, malahan membuat mereka bersandar pada persembahan hewan-hewan korban untuk menghapus dosa mereka.

Mereka tidak hanya salah dalam mengerti standar dari tuntutan Hukum Allah, mereka juga memiliki pemahaman yang salah dalam hal penebusan dosa. Mereka menyangka bahwa domba-domba sembelihan yang selalu mereka persembahkan kepada Allah merupakan tebusan yang sesungguhnya untuk dosa-dosa mereka. Mereka tidak sadar bahwa hal itu mustahil, seperti penuturan penulis Ibrani:

Sebab tidak mungkin darah lembu jantan
atau darah domba jantan menghapuskan dosa…
(Ibrani 10:4)

Oh, betapa mereka telah jatuh begitu dalam. Mereka tidak mengerti akan Pengharapan yang sebenarnya dijanjikan untuk mereka. Mereka tidak melihat Jalan yang Allah sediakan di hadapan mereka. Mereka tidak sadar bahwa Hukum Taurat bukanlah jalan keselamatan melainkan penuntun bagi mereka sampai Sang Juruselamat yang dijanjikan itu datang ke dunia (Galatia 3:24). Mereka tidak tahu bahwa semua korban persembahan itu bukanlah jalan pengampunan dosa melainkan hanyalah lambang dari Korban yang sejati yang akan melawat mereka, yaitu Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).

Ah, seharusnya mereka menanti kedatangan-Nya dengan penuh iman dan pengharapan. Seharusnya mereka menyerahkan dosa-dosa mereka kepada-Nya di dalam kerendahan hati dan penundukan diri. Tetapi bukan itu yang mereka lakukan, bukan itu yang mereka pilih. Mereka memilih jalan mereka sendiri. Mereka mencoba membeli keselamatan dengan ibadah dan perbuatan baik mereka yang tidak sempurna, bahkan penuh cacat cela dan pamrih itu. Mereka mencoba menebus dosa mereka sendiri dengan darah binatang yang sama sekali tidak berkuasa.

Mereka tanpa arah.
Mereka tanpa pengharapan.
Mereka tersesat.
Mereka terhilang.

Hanya karena Ia tidak datang di dalam semarak kemuliaan-Nya,
mereka tidak percaya kepada-Nya

Mereka menolak Raja mereka.
Mereka menolak Juruselamat mereka.
Mereka menolak Tuhan mereka.
Mereka lupa bahwa mengenai Sang Mesias, nabi Yesaya pernah bernubuat:

Ayat - Yesaya (2)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan di tengah-tengah kegelapan dan kebutaan itulah Tuhan Yesus datang ke dalam dunia dan lahir sebagai manusia. Mengenai kedatangan-Nya, nabi berkata:

Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar;
mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
(Yesaya 9:1)

Dan Yesus adalah terang itu. Ia datang melawat umat-Nya dan Ia berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Tidak seorangpun pernah mengatakan hal yang demikian; para imam tidak, para raja tidak, para nabipun tidak. Tidak ada satu orangpun yang layak mengatakannya. Hanya Dia, Sang Anak Allah, Sang Roti Hidup, Batu Karang yang Teguh, yang mampu dan layak mengatakannya. Tidak hanya itu, Ia juga berkata:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.
Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk MENGGENAPINYA.
(Matius 5:17)

Dan Ia mengatakan apa yang sebenarnya. Ia adalah Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup; Ia tidak mungkin berdusta. Tidak seorangpun dapat menggenapi Hukum Taurat dengan perbuatan yang mereka lakukan atau dengan hewan korban yang mereka persembahkan. Hanyalah Yesus Kristus, Anak Domba Allah, yang mampu menggenapinya.

Ia hidup sebagai manusia. Ia mengenakan tubuh manusia lengkap dengan segala kelemahan dan kerentanannya. Mengenai Dia, firman Tuhan berkata, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15).” Ya, Ia tidak pernah berbuat dosa. Sekalipun Ia dicobai berkali-kali oleh iblis dan manusia dan sekalipun Ia merasakan kelemahan-kelemahan yang sama dengan semua manusia, Ia tetap teguh dan taat kepada perintah Bapa-Nya. Ia hidup benar di hadapan Bapa-Nya dan di hadapan manusia. Ia tidak pernah gagal menjaga kekudusan-Nya.

Mengapa Ia mau melakukan semua itu? Mengapa Ia mau bersusah-susah sedemikian? Sebab jika Ia gagal dalam salah satu hukum saja, maka Ia tidak akan dapat menjadi Juruselamat bagi orang-orang berdosa dan seluruh umat manusia akan binasa di dalam dosa-dosanya tanpa ada yang menyelamatkan mereka. Tetapi puji syukur kepada Allah dan Raja kita, Tuhan Yesus tidak gagal. Sekalipun Ia telah membatasi diri-Nya sendiri di dalam tubuh manusia yang penuh dengan kelemahan, Ia mampu mengalahkan segala godaan dan cobaan. Ia setia. Ia menang. Kehidupan-Nya yang sementara di dunia ini telah menggenapi seluruh perintah dan larangan di dalam Hukum Taurat.

Tetapi tidak hanya itu, Ia tidak hanya menggenapi Hukum Allah melalui kehidupan-Nya, melainkan juga melalui kematian-Nya. Jika kehidupan Yesus menggenapi tuntutan Hukum Allah dalam hal “perbuatan baik”, maka kematian Yesus di atas kayu salib menggenapi tuntutan Hukum Allah dalam hal “korban yang kudus dan tak bercacat cela” untuk menjadi tebusan bagi orang-orang berdosa.

Orang-orang dapat melakukan apapun yang bisa mereka lakukan kemudian berpikir bahwa ibadah dan kebaikan mereka dapat menebus semua kesalahan mereka. Namun, apapun yang mereka lakukan, kebenarannya hanya satu, yaitu pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah tidak akan pernah berdasar pada perbuatan manusia, melainkan hanya oleh penumpahan darah dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus, Sang Penebus.

Ayat - Ibrani (2)

Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian,
yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
(Matius 26:28)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lihat dan dengarlah!
Di atas kayu salib, Tuhan Yesus berkata:

Sudah selesai.

Tidakkah suara-Nya indah?
Bukankah firman-Nya luar biasa?

Ia tidak harus mengatakannya. Jika Ia mau, Ia bisa saja merahasiakannya. Tetapi tidaklah itu yang Ia lakukan. Ia mengumpulkan tenaga yang masih tersisa di dalam diri-Nya yang terpaku dan Ia berkata, “Sudah selesai.” Ia tahu perkataan-Nya itu akan diabaikan oleh begitu banyak orang. Ia tahu bahwa orang-orang akan menganggap perkataan-Nya omong kosong. Tetapi Ia memilih untuk tetap mengatakannya. Mengapa? Karena perkataan-Nya itulah yang akan menjadi dasar kehidupan bagi domba-domba yang percaya kepada-Nya. Deklarasi-Nya yang agung itulah yang hingga saat ini menjadi sukacita dan kepastian bagi setiap anak-Nya.

Apakah yang sudah selesai?
Apakah yang sudah terpenuhi?
Apakah yang sudah tergenapi?

Ia telah memenuhi kehendak Bapa-Nya.
Di taman Getsemani, Ia berkata kepada Bapa, “Jadilah kehendak-Mu,”
dan di atas kayu salib, Ia berkata “Sudah selesai.”

Ia telah menggenapi seluruh Hukum Taurat.
Di bukit dekat Galilea Ia berjanji,”Aku datang untuk MENGGENAPI Hukum Taurat.”
Di bukit Golgota Ia bersaksi, “Sudah selesai.”

Ia pernah berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Dan apakah yang terjadi, kita bahkan belum melakukan apa-apa tetapi Ia telah mengatakan, “Sudah selesai.” Apakah artinya itu? Oh, artinya sangatlah mendamaikan hati:

Kesempurnaan kita tidak bergantung pada siapa diri kita,
bukan pula pada perbuatan baik apa yang pernah dan akan kita lakukan.
Kesempurnaan kita bergantung hanya kepada siapa diri-Nya
dan pada apa yang telah Ia selesaikan di atas kayu salib bagi kita.

Kristus telah menyelesaikan segalanya, yakni apa yang perlu untuk memenuhi kehendak Allah Bapa. Dengan demikian, bagaimanakah manusia dapat memenuhi kehendak Allah? Manusia memenuhi kehendak Allah bukan dengan berusaha berbuat baik atau dengan beribadah di luar Kristus, melainkan semuanya harus bermula dengan iman kepada Yesus Kristus dan bersandar pada apa yang telah dilakukan-Nya di atas kayu salib.

Kristus telah menyelesaikan segalanya, yakni segala yang Allah tuntut di dalam Hukum Taurat-Nya. Dengan demikian, bagaimanakah manusia dapat dipandang benar dan kudus di hadapan Allah? Manusia menjadi benar dan kudus di hadapan Allah bukan dengan berusaha memenuhi peraturan ini dan peraturan itu, yang mana semua itu bersifat fana dan duniawi, melainkan dengan beriman di dalam Kristus serta menambatkan seluruh pengharapannya kepada Dia yang adalah Sang Gembala yang baik yang menyerahkan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya.

Akulah Gembala yang Baik

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kawan-kawanku, ketahuilah hal ini:
Jika seseorang tidak percaya kepada Yesus Kristus, maka ia tidak punya pilihan lain selain bersandar dan berlindung pada perbuatan-perbuatan baiknya sendiri ketika kelak ia diadili oleh Allah di dalam penghakiman terakhir. Tetapi apabila orang itu percaya kepada Yesus Kristus, maka Ia sendirilah yang akan menjadi Pembela bagi orang itu ketika ia diadili oleh Allah di dalam penghakiman-Nya yang agung dan benar.

Dan kau tahu?
Pembelaan-Nya bagi umat-Nya tidak akan gagal.

Kini…
Apakah kau percaya kepada-Nya?
Apakah kau melandaskan imanmu di atas dasar firman dan karya-Nya?
Apakah kau menjangkarkan seluruh harapanmu hanya kepada-Nya?

Jika “tidak”, maka apakah yang akan kau katakan kepada Allah?
Ketika engkau diperhadapkan dengan tuntutan Hukum-Nya yang sempurna,
apakah yang akan engkau katakan di hadapan-Nya?

Kau mungkin percaya bahwa Ia adalah Maha Pengasih dan Pengampun. Memang benar, Ia adalah Maha Pengasih dan Pengampun, firman-Nya sendiri berkata bahwa “Allah adalah Kasih” (1 Yohanes 4:8 & 16). Namun ketahuilah, sifat-Nya yang Pengasih tidak membuat-Nya mengabaikan Hukum-Nya. Ia bukan hanya Maha Pengasih. Ia juga adalah Hakim yang Tertinggi.

Hakim yang sejati tidak pernah meloloskan penjahat, kawan.
Hakim yang sejati selalu meninggikan hukum.
Hakim yang sejati pasti menghukum siapa yang bersalah.

Mungkin kau tidak mengakui hal itu sekarang
tetapi suatu saat kau akan menyadarinya.
Oh, alangkah baiknya jika kau menyadarinya sebelum semuanya terlambat bagimu.

1379423_619371234771563_1249826400_n

Namun…
Jika engkau percaya kepada Yesus Kristus
Jika engkau melandaskan imanmu di atas dasar firman dan karya-Nya
Jika engkau menjangkarkan seluruh harapanmu hanya kepada-Nya

Maka, seperti kata firman Tuhan:

Ayat - PetrusYa, kau akan mengerti bahwa Dialah yang menanggung hukuman atas dosa-dosamu di dalam diri-Nya sendiri. Kau akan mengerti bahwa di atas salib Kristus, kasih Allah yang tiada berbatas dan keadilan Allah yang sempurna dinyatakan pada saat yang bersamaan. Kau akan mengerti bahwa Allah sebagai Hakim yang Tertinggi pasti akan menjatuhkan hukuman atas dosa-dosa umat-Nya tetapi Ia tidak menimpakan hukuman itu kepada mereka supaya mereka tidak binasa, melainkan kepada Anak-Nya sendiri, yakni Tuhan Yesus Kristus. Mengapa? Sebab Allah bukan hanya Hakim yang Tertinggi tapi Ia juga adalah Tuhan yang penuh dengan pengampunan.

Oh, kau akan mengerti, bahwa Ia adalah Allah yang berlimpah dengan belas kasihan, Ia akan menolong dan menyelamatkan mereka yang lemah, yang miskin, yang tertunduk, yang tiada berdaya, yang patah semangatnya, yang tertindas, yang terbelenggu, yang buta, yang tuli, yang lumpuh, yang mati, yakni mereka yang kalah, kalah, dan kalah lagi oleh dosa. Ya, apabila mereka berseru kepada-Nya dan berdoa dengan hati yang hancur dan pengakuan bahwa mereka tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri, maka Ia akan bersegera menolong mereka. Mengapa? Sebab Ia adalah Sang Juruselamat dan Juruselamat hanya menyelamatkan mereka yang tidak sanggup menyelamatkan diri mereka sendiri.

Apakah kau mengenal-Nya demikian?
Jika “tidak”, maka kau tidak mengenal-Nya sama sekali.
Dan kau akan binasa jika kau terus mempertahankan ketidaktahuanmu.

Namun, oh, berbahagialah engkau jika kau menyadari bahwa:
Allah kita bukan hanya Hakim, Ia juga adalah Pembela
Allah kita bukan hanya Raja, Ia juga adalah Gembala
Allah kita bukan hanya Pencipta, Ia juga adalah Penebus Dosa
Allah kita bukan hanya Tuhan, Ia juga adalah Juruselamat Dunia

Oh, kukatakan padamu dengan segala kasih, hormat, dan kerendahan hati:
Percayalah kepada-Nya!
Datanglah kepada-Nya!

Maka dosamu akan ditanggung-Nya
dan kesempurnaan-Nya akan Ia anugerahkan kepadamu.

Ia akan menganugerahkanmu hidup dan hati yang baru.
Ya, kau akan terlahir kembali (Yohanes 3:3).

Ia akan melepaskanmu dari belenggu dan perbudakan dosa.
Ia akan membuatmu jatuh cinta kepada-Nya sehingga kau akan mampu melawan dosa.
Kau akan mati terhadap dosa.
Dan kau akan hidup, seperti kata firman Tuhan, untuk KEBENARAN.

Dan bersama-sama dengan seluruh umat Tuhan di segala masa dan segala tempat,
kau akan mengakui bahwa:
mengenal, mengasihi, melayani, dan memuliakan Allah yang demikian,
itulah terang kehidupan,
itulah hidup yang sejati.

“Sudah selesai… ya… sudah tergenapi…”

IMG_68720405925818


Amin

Advertisements

2 thoughts on “6. Sudah Selesai

  1. masih bertahan baca blog ini, terimakasih udah balas komen yg kmaren

    Abraham dipandang benar oleh Allah bukan karena perbuatannya tapi karena imannya.
    salah tulis ayat nya Bang, harusnyakan Kej 15:6 bukan Kej 5 :16

    salut dengan kegigihnnya berPA, Tulisan yg dalam
    dengan baca blog ini menyadarkanku banyaknya waktu waktu yg terbuang tanpa BerPA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s