7. Bapa, Ke Dalam Tangan-Mu, Kuserahkan Nyawa-Ku

Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.
(Lukas 23:46)

Ini merupakan perkataan terakhir yang Tuhan Yesus ucapkan di atas kayu salib. Perkataan terakhir Tuhan kita ini merupakan perkataan yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena satu alasan: tidak ada satu orangpun yang dapat mengatakan hal yang sama di detik terakhir dalam hidupnya.

Mengapa?
Karena manusia tidak dapat menyerahkan nyawanya kepada Allah
.

Manusia memang memiliki nyawa namun manusia sama sekali tidak berkuasa atasnya. Manusia menerima nafas kehidupan dari Allah dan pada suatu saat yang pasti di dalam hidupnya, Allah akan mengambil nyawa tersebut dari mereka. Ya, menjelang kematiannya, manusia tidak memiliki kemampuan sedikitpun untuk melepaskan nyawanya dari tubuhnya dan kemudian menyerahkannya kepada Allah. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ketika manusia mati? Apa yang terjadi adalah manusia menanti dengan pasif sampai Allah mengambil nyawanya dan dengan demikian mengakhiri hidupnya di dunia ini.

Tidak demikian dengan Sang Juruselamat Dunia. Di momen terakhir sebelum Ia mati di Bukit Golgota, Ia mengumpulkan seluruh kekuatan yang masih tersisa pada tubuh manusiawi-Nya yang hancur, kemudian dengan suara nyaring Ia berseru kepada Bapa, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” dan setelah itu Ia mati. Apa yang perlu kita sadari dari peristiwa ini? Tidak seperti pikiran banyak orang yang menolak iman Kristen dan merendahkan Yesus karena kematian-Nya di atas salib, Yesus tidak mati karena maut mengakhiri hidup-Nya. Tidak. Sama sekali bukan itu alasannya. Tidak seperti manusia manapun, Kristus tidak pasif di dalam kematian-Nya. Ia tidak menanti maut menjemput-Nya. Ia tidak menunggu dengan tak berdaya hingga kematian mengakhiri nafas-Nya. Ia bahkan tidak menanti Allah Bapa mengambil nyawa-Nya. Lalu, apa yang menyebabkan kematian Yesus?

Yesus mati hanya karena satu alasan:
Ia memiliki kuasa penuh atas nyawa-Nya
dan dengan sukarela Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah Bapa

Lihatlah! Markus mencatat bahwa Pilatus, wali negeri yang menjatuhkan hukuman mati pada Yesus, heran ketika mendengar bahwa Ia telah mati. Mengapa Pilatus merasa heran? Pilatus heran karena tidaklah wajar apabila orang yang tersalib mati hanya dalam waktu beberapa jam. Penyaliban merupakan hukuman mati yang begitu kejam namun lambat. Dibutuhkan waktu sekitar tiga hari sebelum akhirnya orang yang tersalib mati karena keletihan, kelaparan, kehausan, penderitaan, dan kehabisan darah. Dari sudut pandang ini ini, kematian Yesus sangatlah tidak wajar. Mengapa Ia bisa mati secepat itu? Tentu saja hanya ada satu alasannya: Ia mati bukan karena salib, melainkan karena Ia memutuskan untuk menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa dan mengakhiri seluruh karya-Nya di atas Golgota.

Tetapi tidak hanya itu. Setelah Tuhan Yesus mati, gempa besar pun terjadi. Karena hari itu dekat dengan hari Sabat, dan umat Yahudi tidak ingin ada mayat yang tergantung di hari suci mereka itu, beberapa orang Yahudi datang kepada Pilatus dan meminta kepadanya agar kaki Yesus dan kedua terpidana yang disalib bersama-Nya dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit itu lalu mereka mematahkan kaki kedua orang yang disalib di sebelah Tuhan. Namun, ketika mereka hendak menghancurkan lutut Yesus, mereka mendapati Ia telah mati. Merekapun tidak jadi mematahkan kaki-Nya (dengan demikian, genaplah nubuatan dalam Keluaran 12:46, Bilangan 9:12, Mazmur 34:21) dan sebagai gantinya, untuk memastikan bahwa Yesus sudah mati, salah seorang prajurit menikam dada-Nya dengan tombak (dengan demikian, genaplah nubuatan dalam Yesaya 53:5 dan Zakharia 12:10).

Dan lihatlah…
Darah dan air keluar mengalir dari dada-Nya yang tertikam

Apakah yang terjadi? Yesus mengalami apa yang disebut hypovolemic shock. Itulah alasan paling kuat dari sudut pandang medis untuk menjelaskan mengapa darah dan air keluar dari luka tikaman di dada Yesus. Itulah yang menyebabkan mengapa Yesus jatuh bangun ketika Ia memikul salib-Nya ke atas Golgota dan Simon dari Kirene harus membantu memikul salib-Nya. Itulah yang membuatnya mengalami kehausan di atas kayu salib.

Oh, dapatkah kau membayangkan betapa berat penderitaan yang harus Ia tanggung? Tuhan kita mengalami gagal jantung. Jantung-Nya lumpuh; jantung-Nya hancur. Puluhan pukulan dan cambukan yang diarahkan oleh lengan yang kuat dari para prajurit Roma tidak hanya merobek kulit-Nya tetapi juga membuat jantung-Nya mengalami shock. Lebih dari itu, di malam sebelumnya Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” Duka yang sangat besar karena sebentar lagi Bapa akan menimpakan seluruh murka Allah kepada-Nya, bahkan meninggalkan-Nya, pasti juga berpengaruh besar terhadap jantung-Nya. Dapatkah kau membayangkan hal itu?

Oohh, Tuhan Yesus
Tubuh-Nya tersiksa
Jantung-Nya hancur
Hati-Nya remuk redam
Mengapa Ia sampai mengalami semua itu?

Ingatkah kau akan Adam dan Hawa? Satu dosa saja, ya satu dosa saja mereka lakukan tetapi satu dosa itu cukup untuk membuat Allah murka dan di dalam murka-Nya, Ia mengutuk seluruh dunia ini, termasuk seluruh umat manusia. Alam semesta yang awalnya sungguh amat baik (Kejadian 1:31) menjadi alam semesta yang terkutuk. Sakit penyakit datang. Tanah menjadi tandus. Bencana alam melanda. Binatang menjadi buas. Maut masuk ke dalam dunia. Kegelapan dan kematian rohani menguasai hati setiap anak manusia. Sebegitubesarnyalah kebencian Allah terhadap dosa. Seperti itulah kengerian murka-Nya.

Dan apakah yang terjadi di atas Kalvari?
Bukan satu dosa saja
Melainkan dosa umat manusia
di segala zaman, di segala tempat

semua itu ditimpakan kepada-Nya seorang diri
dan di dalam murka yang menyala-nyala
Allah menghukum semua dosa itu di dalam diri-Nya

Allah menghantam-Nya dengan begitu dahsyat karena dosa manusia yang Ia tanggung. Itulah yang menyiksa-Nya. Itulah yang mendukakan-Nya. Itulah yang membuat-Nya terpaku di atas kayu salib. Itulah yang membuat jantung-Nya hancur. Namun, ketahuilah satu hal ini:
bahkan semua itu tidak membuat-Nya mati.

Lalu, apakah yang membuat-Nya mati?
Oh, izinkanlah aku mengingatkanmu akan perkataan luar biasa yang pernah Tuhan Yesus katakan:

Bapa mengasihi Aku,
oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

Ayat - Yohanes 10

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Perkataan macam apa itu? Apakah itu perkataan yang mungkin diucapkan oleh seorang anak manusia? Tentu saja tidak. Tidak ada manusia yang dapat memberikan nyawanya dan mengambilnya kembali seturut dengan kehendaknya sendiri. Tidak peduli apakah ia adalah seorang raja, imam, orang kudus, atau bahkan nabi sekalipun, tidak ada manusia yang dapat mengatakan hal yang sama seperti apa yang Ia katakan.

Jika demikian, apakah mungkin Yesus hanyalah seorang penipu dan pembual besar yang mengaku berkuasa atas nyawa-Nya? Tentu saja tidak. Lihatlah apa yang Ia katakan dan kerjakan selama Ia hidup. Tidak ada satu halpun yang pernah Ia lakukan atau katakan yang cukup beralasan untuk dijadikan penanda bahwa Ia adalah seorang pembohong. Bahkan, sekalipun Ia disalibkan dengan tiada bersalah, Ia tidak mengutuk siapapun, Ia malah berdoa untuk orang-orang yang telah menganiaya dan menyalibkan-Nya. Hal seperti itu tidak akan pernah dilakukan oleh seorang penipu. Dan tidak hanya itu, Ia menepati apa yang Ia katakan. Ia bangkit dari kematian. Ya, Ia bangkit dari kubur pada hari yang ketiga. Prajurit Roma menjaga kubur-Nya dengan ketat dan seksama namun mereka sama sekali tidak mampu mencegah kebangkitan-Nya. Ia bangkit begitu saja dan mereka mendapati kubur-Nya telah kosong (Matius 28:1-6).

Apakah Kristus seorang pendusta? Apakah Kristus sedang bermain sandiwara? Tentu saja tidak. Tiada dusta pernah Ia ucapkan dan kerjakan, Ia adalah Jalan dan KEBENARAN dan Hidup (Yohanes 14:6). Ia bangkit pada hari yang ketiga dan itulah faktanya. Sekalipun banyak orang memaksa dirinya untuk tidak percaya, sekalipun orang-orang mengatakan bahwa kebangkitan-Nya hanyalah omong kosong, sekalipun banyak ajaran sesat yang menyerongkan kisah tentang-Nya, sejarah dunia ini membuktikan bahwa Ia telah bangkit.

Jadi, perkataan macam apakah Yohanes 10:17-18?
Itu bukanlah perkataan seorang manusia biasa.
Itu bukanlah perkataan seorang penipu maupun pembual.
Itu adalah perkataan yang hanya dapat dikatakan oleh Tuhan.
Itu adalah perkataan yang hanya dapat diucapkan oleh Sang Pencipta Kehidupan.
Dan Ia adalah Yesus Kristus.

Apakah kau percaya akan hal itu?
Apakah kau percaya bahwa Yesus Kristus telah mati dan bangkit?
Apakah kau percaya bahwa Ia melakukan semua itu untuk menebus dosa umat manusia?

Maukah engkau membuka hatimu untuk-Nya?
Maukah engkau membuka telinga dan mata hati yang telah kau tutup rapat itu?
Maukah engkau melihat dan mendengar Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup?

Oh, Anak Allah rela meninggalkan sorga dan hidup sebagai anak manusia.
Ia setia bahkan setia sampai mati di atas kayu salib.
Semua itu Ia lakukan untuk menebus manusia yang penuh dengan dosa.

Namun, katakanlah padaku, mengapa Ia ditolak?
Mengapa banyak orang enggan menerima-Nya?
Mengapa dunia mengabaikan tawaran-Nya?
Mengapa anak-anak manusia membenci-Nya?

Tahukah kau apa alasannya?
Tahukah engkau mengapa dunia ini tidak percaya kepada-Nya?

Oh, aku sama sekali tidak pantas untuk memberikan pendapatku mengenai hal itu. Oleh sebab itu, biarlah Allah sendiri yang memberimu alasannya. Dan inilah alasan mengapa orang-orang tidak percaya kepada Yesus Kristus dan menolak kabar yang paling indah yang Ia sudah sediakan untuk mereka:

Ayat - Blindness

Mengapa dunia ini menolak Kristus?

Ya
Karena “ilah zaman ini” membutakan mata hati mereka
Karena “si jahat” menggelapkan jiwa mereka

Sehingga
Mereka tidak melihat cahaya Sang Terang Dunia
Mereka tidak melihat keindahan Bintang Timur yang gilang-gemilang*
Mereka tidak mendengar panggilan Sang Gembala
Mereka menolak anugerah Sang Juruselamat
(*Dalam Wahyu 22:16, Tuhan Yesus menamai diri-Nya, Bintang Timur yang gilang gemilang)

Semoga Allah berbelas kasihan atas generasi ini
Semoga Ia memanggil anak-anak manusia dengan suara-Nya yang indah

dan membawa mereka kepada Kristus
supaya di dalam Kristus, dosa-dosa mereka diampuni…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Namun, oh, sungguh berbahagialah engkau
Jika engkau percaya kepada-Nya
Jika engkau menerima tawaran-Nya
Jika engkau menjawab panggilan-Nya
Jika engkau, bersama seluruh orang percaya, bersaksi dan bernyanyi:

Ayat - Hymn

Dunia memang menolak-Nya. Dunia membenci-Nya. Dunia merendahkan-Nya. Janganlah semua itu membuat kita gentar. Janganlah semua itu membuat kita diam dan tidak memberitakan kasih mulia dari Sang Penebus. Janganlah semua itu membuat kita malu akan Raja kita, Sang Raja Damai. Cobalah engkau pikirkan sekali lagi, bagian manakah dari pengorbanan dan kematian Tuhan kita Yesus Kristus yang perlu membuat kita malu mengakui dan memberitakan-Nya kepada dunia? Tidak ada. Oh, sekali lagi kutegaskan, tidak ada.

Mengapa kita perlu malu akan Juruselamat yang mau mati buat kita?
Mengapa kita perlu malu akan Tuhan yang mau menyebut kita sebagai sahabat-Nya
dan berkata:

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang
yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
(Yohanes 15:13)

Kutanyakan sekali lagi padamu:
Mengapa kita perlu malu akan Tuhan Yesus Kristus?

MacArthur

Bukankah pengorbanan-Nya justru membuat kita bermegah dalam Dia?
Bukankah kematian-Nya justru membuat kita bangga dan rindu memberitakan-Nya?
Bukankah itu justru mengguncang hati kita dan bersama Paulus kita bersaksi:

For I am NOT ASHAMED of the Gospel of Christ:
for it is the power of God unto salvation to everyone that believeth
(Roma 1:16)

Ayat - Galatia

Ingatlah hal ini sekali lagi:
Tuhan kita Yesus Kristus tidak mati karena penderitaan
Ia tidak mati karena kehausan
Ia tidak mati karena kehabisan darah
Ia tidak mati karena jantung yang hancur

Ia tidak mati karena salib
Ia tidak mati karena hukuman manusia

Ia mati karena Ia yang adalah Tuhan dan Sang Kehidupan
rela menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa
untuk menyempurnakan seluruh rancangan penebusan-Nya

Ia berkuasa untuk melepaskan nyawa-Nya dari tubuh-Nya
Ia berkuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa
dan Ia berkuasa untuk mengambilnya kembali

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan berita baiknya bagimu dan bagiku adalah ini:
Tuhan kita tidak hanya berkuasa dan berdaulat penuh atas nyawa-Nya
Ia juga berkuasa dan berdaulat atas nyawaku dan nyawamu

Oh…
Mengetahui bahwa nyawa kita ada di tangan Gembala Agung kita
Mengerti bahwa roh kita dijaga oleh Sang Pemimpin Kehidupan*
Menyadari bahwa hidup kita aman diliputi Sang Mata Air Kehidupan
(Petrus menyebut Kristus sebagai Pemimpin kepada Hidup, Kisah Para Rasul 3:15)

Katakanlah padaku…
Bukankah itu yang namanya damai sejahtera?
Bukankah itu pengharapan yang aman dan pasti untuk jiwa kita?
Bukankah itu sukacita yang sama sekali tidak dikenal oleh dunia?
Bukankah apapun, ya apapun, tidak dapat membelinya?
Bukankah itu membuat kita kembali ingin bernyanyi:

Hymn 2

Dan jika kita, yakni gereja, percaya akan hal itu,
jika kita hidup di dalam apa yang kita yakini itu,
maka kita akan terus bekerja bagi kerajaan-Nya,
kita akan dengan sukacita memberitakan Injil-Nya,
kita akan meninggikan nama-Nya,

sampai kasih-Nya dikenal oleh segala bangsa…
sampai seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya…

Whitefield

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s