Rendah Hati di Hadapan Allah, oleh John Owen

Apakah berjalan dengan rendah hati bersama Allah merupakan kepedulian utama kita? Biarlah kita berusaha untuk membawa hati kita rendah hati di hadapan-Nya di setiap hari kita. Mengapa kita, pergi kesana kemari setiap hari, untuk sesuatu yang bukan “roti”?

Pusat hidupku bukanlah tentang –
apakah aku kaya atau miskin,
bijaksana atau tidak bijaksana,
terpelajar atau bodoh;

apakah aku akan hidup atau mati;
apakah akan terjalin perdamaian atau peperangan di antara bangsa-bangsa;
apakah rumahku akan berkembang atau layu;

apakah karuniaku banyak atau sedikit,
besar atau kecil;
apakah aku memiliki reputasi yang baik atau buruk di dunia ini;

melainkan hanyalah apakah aku berjalan dengan rendah hati bersama Allah atau tidak

Bagaimana hidupku dalam urusan ini, demikianlah keadaanku sekarang, demikianlah penerimaanku kelak. Aku telah melelahkan diriku akan banyak hal, namun hanya inilah yang perlu. Apakah yang TUHAN Allahku minta daripadaku, selain ini? Apakah panggilan Kristus untukku, selain ini? Untuk apakah seluruh karya pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam kehidupanku, selain supaya aku dapat berjalan dengan rendah hati di hadapan Allah?

oleh: John Owen

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Owen
“Be killing sin or it will be killing you”

John Owen (1616-1683) dikenal sebagai teolog terbesar yang dimiliki oleh Inggis. Ia dijuluki sebagai “Pangeran para Puritandan “John Calvin dari Inggris”. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai “Teolognya bagi para teolog”. Owen lahir pada tahun 1616 di kota Stadhampton, dekat Oxford, Inggris. Ia adalah putra kedua dari Henry Owen, seorang vikaris Puritan yang mengabdikan hidupnya untuk gereja Tuhan. Sejak kecil, Owen telah dididik oleh ayahnya tentang betapa pentingnya menyembah Tuhan.

Owen kecil merupakan seorang anak yang brilian. Pada usia dua belas tahun, ia menempuh pendidikan formalnya di Queen’s College, Oxford di mana ia mempelajari bahasa Inggris klasik, Matematika, filosofi, teologi, bahasa Ibrani, dan tulisan-tulisan para rabi Yahudi. Di sana, Owen begitu sibuk dan belajar dengan sangat keras. Tidak tanggung-tanggung, ia menghabiskan delapan belas hingga dua puluh jam dalam sehari. Inilah yang menjadi salah satu penyebab buruknya kesehatan Owen yang akan ia sesali di usia tuanya kelak. Pada tahun 1632, Owen meraih gelar Bachelor of Arts dan pada tahun 1635, Master of Arts.

Owen mulai menulis sejak usianya yang ke-26 tahun. Sejak saat itu, ia mulai dikenal sebagai penulis dan dalam empat puluh tahun ia telah menyelesaikan lebih dari 80 karya yang sebagian besar membahas topik Kekristenan. Melalui tulisan dan khotbah-khotbahnya, Owen menjadi sangat terkenal di seluruh Inggris. Setelah Raja Charles I yang jahat diturunkan dari tahta kerajaan dan dieksekusi mati, Oliver Cromwell diangkat sebagai pemimpin kerajaan. Cromwell yang dijuluki Lord Protector of England ini juga merupakan seorang Puritan dan ia berhubungan baik dengan John Owen. Karena kredibilitas baik yang Owen miliki, iapun diangkat untuk menjadi penasehat pribadi Cromwell.

Pada tahun 1644, Owen menikahi Mary Rooke. Mereka dikarunia sebelas orang anak namun sepuluh dari mereka wafat sebelum menyentuh usia dewasa. Di tahun 1640-an akhir, Owen menjadi semakin dikenal  baik melalui khotbah dan tulisan-tulisannya. Ribuan orang selalu berkunjung untuk mendengar ia berkhotbah. Namun, tidak jarang Owen menjadi sangat berduka melihat sedikitnya buah yang dihasilkan dari pelayanannya itu. Suatu kali, ia pernah membandingkan dirinya dengan John Bunyan dan berkata bahwa seandainya ia bisa memiliki karunia Bunyan dalam “menggenggam” hati orang-orang, maka ia akan dengan senang hati menukarkan semua pengetahuan yang ia miliki untuk karunia menyentuh hati seperti yang ada pada Bunyan itu. Pernyataan itu memang menunjukkan kerendahan hati Owen dan kerinduannya untuk melihat jiwa-jiwa diselamatkan namun tentu tidaklah sehat apabila seseorang harus terus hidup di dalam perbandingan seperti itu. Adalah hal yang bijaksana untuk bersyukur atas karunia yang telah Tuhan anugerahkan dan untuk memakai karunia itu sehabis-habisnya untuk kemuliaan Tuhan di jalan yang telah Ia tetapkan secara spesifik untuk masing-masing hamba-Nya.

Pada tahun 1650, Owen ditunjuk untuk menjadi pengkhotbah resmi negara. Tahun-tahun ini merupakan masa yang sangat produktif dalam pelayanan Owen. Tidak hanya itu, Cromwell juga memberi banyak kesempatan pada Owen untuk lebih terlibat dalam bidang politik dan pemerintahan di Inggris. Di tahun 1651, ia menjadi dekan di Christ Church College, Oxford dan satu setengah tahun berikutnya ia menjadi wakil rektor di Universitas Oxford. Melalui kuliah-kuliah teologi yang ia berikan, Owen membangun teologi reformed dan kesalehan hidup menurut tradisi para Puritan di universitas yang luar biasa tersebut. Di bawah kepemimpinan Owen, Oxford bertumbuh tidak hanya dari sisi teknikal tetapi juga dari sisi spiritual. Owen merupakan manager dan pemimpin yang efektif dan membangun.

Hubungan antara John Owen dengan Oliver Cromwell mulai merenggang ketika Owen menolak keinginan Cromwell untuk menjadi raja. Setelah Oliver turun dan digantikan oleh anaknya, Richard Cromwell, kehidupan Owen berubah drastis. Semenjak saat itu, kebebasannya untuk melayani dibatasi di sana-sini. Jabatannya sebagai wakil rektor di Oxford dicabut. Khotbah rutinnya di St. Mary’s Church dihentikan. Di tahun 1660, ia juga diberhentikan dari jabatan kepala di Christ Church. Owen juga menjadi satu dari ribuan hamba Tuhan non-conformist (tidak patuh kepada peraturan Church of England) yang diusir dari gerejanya dan dilarang untuk berkhotbah. Sekalipun demikian, sama seperti para Puritan yang lain, Owen masih melanjutkan pelayanan pemberitaan firman secara sembunyi-sembunyi.

Pada tahun 1676, isteri Owen, Mary Rooke meninggal. Delapan belas bulan kemudian, Owen menikahi seorang janda, Dorothy. Di masa tuanya, Owen menderita asma dan batu empedu. Kesehatannya sangatlah buruk sehingga ia cukup sering menyesali cara hidupnya di masa muda yang begitu giat dalam belajar hingga rela mengorbankan jam-jam tidurnya. Tubuh yang sedemikian lemah seringkali menghalangi Owen untuk berkhotbah namun ia tetap melanjutkan untuk menulis. Di dalam masa-masa ini, ia menulis karya-karyanya yang sangat baik yang mencakup doktrin pembenaran, pola pikir rohani, dan kemuliaan Kristus.

Pada tahun 1683, sehari sebelum hari wafatnya, Owen menuliskan ini ke seorang teman:

Aku akan pergi kepada Dia yang jiwaku kasihi,
atau yang lebih tepat, yang mengasihiku dengan kasih yang kekal
yang merupakan dasar dari seluruh penghiburanku…

Aku meninggalkan kapal gereja di dalam badai
namun selama Sang Pengemudi Kapal yang agung ada di dalamnya,
kepergian si pendayung lemah (Owen menunjuk dirinya sendiri) tidak akan berarti apa-apa.

Hiduplah dan berdoalah,
dan nantikanlah
dan harapkanlah,
janganlah putus asa,
janji-Nya tetap tak tergoyahkan,
yaitu bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita maupun mengabaikan kita.

Pada 24 Agustus 1683, Owen wafat pada usianya yang ke-67. Ia dimakamkan di Burnhill Fields, London, di mana juga dibaringkan rekan-rekannya, para Puritan, yang saat ini sudah menikmati indahnya perjamuan bersama Sang Anak Domba Allah, suatu perjamuan yang kelak akan turut kau dan aku nikmati, jika kita sungguh adalah murid-murid Tuhan Yesus Kristus.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Owen (3)

Tidak diragukan lagi, Kekristenan berhutang sangat banyak pada John Owen. Selama hidupnya, Owen telah menghasilkan karya-karya yang sangat berharga, yang masih menjadi berkat bahkan hingga saat ini, seperti The Glory of Christ, Communion with God, Faith and Its Evidence, Temptation and Sin, Sin and Grace, The Death of Christ, Continuing in Faith, dan The Church and The Bible.

Owen selalu berusaha untuk membahas pribadi, karya, dan keindahan Kristus secara mendalam. Karya yang demikian sangatlah jarang ditemukan hari-hari ini. Mengapa? Sebab pribadi dan Kristus tidak lagi menarik bagi banyak orang yang menyebut dirinya Kristen hari-hari ini. Mereka berbicara tentang berkat-berkat Tuhan, mereka berbicara  mengenai kesembuhan ilahi, mereka berbicara tentang karunia Roh Kudus, mereka berbicara tentang pelayanan, namun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka sama sekali tidak terkagum-kagum oleh keindahan dan keutamaan Kristus. Itulah “Christless Christianity”, suatu Kekristenan palsu yang tentu akan ditentang mati-matian oleh Owen seandainya saja ia masih hidup hari ini.

Owen

Owen juga menulis beberapa karya penting tentang Roh Kudus, doktrin pembenaran hanya melalui iman (justification through faith alone), kesatuan orang percaya dengan Kristus (union with Christ), jaminan keselamatan bagi orang-orang percaya (assurance of salvation for believers), serta mengenai hidup dan tata tertib gereja. Magnum opus atau karya terbesar John Owen adalah eksposisi Kitab Ibrani yang ditulisnya dalam dua juta kata. Mengenai tulisan ini, J. I. Packer berargumen, “Tidak ada seorangpun, baik sebelum maupun sesudah Owen hingga saat ini, yang dapat menyamai pencapaian Owen ini.” Pendapat Packer ini menurutku cukup valid mengingat Alkitabpun secara keseluruhan hanya terdiri dari 807,361 kata (jika satu sumber yang saya lihat benar).

Owen juga menulis karya yang sangat baik, yang menurutku wajib untuk dibaca oleh setiap orang Kristen, yakni Mematikan Dosa (Mortification of Sin) yang membahas tentang betapa pentingnya arti kekudusan bagi orang percaya serta betapa buruknya dampak dari dosa yang dibiarkan, baik di dalam hidup orang-orang yang tidak percaya maupun di dalam hidup orang Kristen. Buku ini dapat dibeli di Toko Buku Momentum.

Owen (3)

Dipandang dari banyak sisi, misalnya saja dari karya tulis yang Owen hasilkan, keberagaman topik yang ia bahas, kedalaman teologi yang ia ajarkan, kehangatan devosi yang ia hidupi, dan dampaknya bagi Kekristenan baik di zamannya maupun hingga saat ini, John Owen merupakan seorang raksasa dan champion di dalam Kekristenan. Keteladanannya sungguh luar biasa. Aku mengatakan ini bukan untuk mengultuskan atau mengagungkan Owen tetapi untuk mengingatkan dan membuka mata kita semua akan satu hal yang pasti, yaitu bahwa:

Jika John Owen melakukan semua itu dengan kuasa Roh Kudus,
maka kita, yang memiliki Roh Kudus yang sama, juga dapat memberikan dampak yang berarti untuk kerajaan-Nya.

Kita tidak perlu membandingkan karunia yang kita miliki dengan Owen sebab karunia itu diberikan oleh Roh seturut kehendak-Nya secara unik untuk masing-masing orang percaya. Apa yang sangat perlu untuk kita teladani dari Owen adalah perjuangannya untuk mengenal Allah, perjuangannya untuk mencintai dan mengagumi Kristus, serta perjuangannya  untuk patuh dalam tuntunan Roh Kudus. Itu semua butuh kedisipilinan dan fokus. Orang  yang tidak memusatkan seluruh hidupnya untuk mengenal Allah, untuk hidup di dalam kekudusan-Nya, dan untuk menghidupi kebenaran firman-Nya, bukanlah orang Kristen yang sejati atau kalaupun ia benar-benar adalah orang Kristen, tentulah ia masih bayi rohani. Biarlah ini yang selalu menjadi pengejaran di dalam hidup kita, yaitu supaya hidup kita menyenangkan hati-Nya sebagaimana apa yang Tuhan kita sendiri katakan melalui Rasul Paulus:

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat;
karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,
bukan saja seperti waktu aku masih hadir,
tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu
baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
(Filipi 2:12-13)

Semoga Roh Kudus yang senantiasa memimpin Owen dan memampukannya untuk melakukan semua itu, juga menuntun hidup kita di jalan pelayanan yang Ia anugerahkan kepada kita seorang demi seorang.

Dan semoga Allah menganugerahkan kepada generasi yang jahat ini,
hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya,
yang mencintai firman-Nya,
yang mencintai gereja-Nya,
dan semoga Ia mempersiapkan kita semua untuk menjadi hamba-hamba Tuhan yang demikian.

Owen

Amin

*Teman-teman, bacalah karya para Puritan

Pustaka:
http://www.monergism.com/

Advertisements

2 thoughts on “Rendah Hati di Hadapan Allah, oleh John Owen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s