Allah sebagai Bapa Kita

Dan tiba-tiba sedang ia (Petrus) berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata:

Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya
dan mereka sangat ketakutan.

Lalu Yesus datang kepada mereka
dan menyentuh mereka sambil berkata:

Berdirilah, jangan takut!

Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. (Bacalah Matius 17:1-8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Matt17_1_TransfigurationOfChrist_Bloch

Ini merupakan salah satu peristiwa paling megah di seluruh Alkitab, yaitu di mana hadirat Allah Bapa dapat dirasakan oleh indera manusia yang fana dan berdosa. Dalam hal ini, suara-Nya mampu didengar oleh Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Tidak biasanya Bapa berbicara secara langsung kepada manusia, apalagi di masa Perjanjian Baru. Alkitab mencatat hanya ada tiga peristiwa dalam era Perjanjian Baru di mana Allah Bapa berkata-kata dan suara-Nya terdengar. Peristiwa pertama adalah ketika Tuhan kita Yesus Kristus dibaptis di Sungai Yordan. Pada saat itu, langit terkoyak, Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati ke atas Tuhan Yesus kemudian Allah Bapa bersuara dan mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34).

Peristiwa yang lain hanya tercatat di dalam Kitab Injil Yohanes. Pada saat itu, Tuhan kita dan murid-murid-Nya sedang berada dalam kerumunan orang yang berangkat untuk merayakan hari raya Paskah. Tiba-tiba beberapa orang datang kepada Filipus dan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Filipus kemudian menyampaikan hal itu kepada Andreas dan mereka berdua datang untuk menyampaikannya kepada Yesus. Mendengar hal itu, Tuhan Yesus memberikan respon yang aneh. Ia tidak secara langsung menanggapi apa yang disampaikan Filipus dan Andreas. Ia justru menjelaskan bahwa sebentar lagi Anak Manusia akan dimuliakan dan sebelum itu, Ia harus menderita. Ia berkata, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara Bapa dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” (Yohanes 12:27-28). Orang banyak mendengar suara Allah itu namun banyak dari mereka mengira suara itu hanyalah suara guntur atau suara malaikat.

Peristiwa yang ketiga adalah peristiwa yang telah disinggung di atas. Peristiwa ini, di dalam pembahasan Alkitab atau teologi, banyak disebut dengan peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung. Pada saat itu, Tuhan kita mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk naik ke sebuah gunung yang tinggi untuk berdoa. Sesampainya di atas gunung itu, seperti biasanya, Tuhan Yesus berdoa seorang diri sementara ketiga murid-Nya telah tertidur. Kemudian, Juruselamat kita berubah rupa. Wajah-Nya bersinar seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Itu merupakan fenomena yang sungguh luar biasa. Kemuliaan sorgawi terpancar dari Tuhan kita. Tak seorangpun dari kita dapat membayangkannya. Kemudian daripada itu, datanglah Musa dan Elia kepada Tuhan Yesus dan berbincang-bincang dengan Dia. Melihat hal itu, Petrus yang telah terbangun kemudian berbicara kepada Tuhan dan menawarkan kepada mereka sebuah kemah, masing-masing untuk Tuhan Yesus, Musa, dan Elia.

Dan selagi Petrus berkata-kata, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka. Jika kita mencoba membayangkan kejadian itu dengan lebih hati-hati, kita akan mengerti betapa menakutkannya momen itu. Namun, ada satu hal yang lebih menakutkan dibanding awan besar yang terang benderang. Dan itu adalah Allah yang bersuara dari dalam awan itu. Ia berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Kita mungkin tidak dapat membayangkan peristiwa itu dengan baik. Banyak di antara kita mungkin sama sekali tidak tergerak hatinya ketika membaca kisah ini. Tetapi apapun yang kita rasakan tiap kali membaca dan merenungkannya, firman Allah dengan sangat jelas mengatakan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya  dan mereka sangat ketakutan.” Alkitab mencoba mendeskripsikan kepada setiap kita betapa mengerikannya peristiwa itu bagi manusia biasa, seperti Petrus, Yohanes, dan Yakobus sekalipun mereka sudah sangat sering melihat hal-hal luar biasa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Itulah yang akan terjadi ketika manusia yang berdosa berhadapan dengan Allah Bapa. Peristiwa yang mirip juga terjadi ribuan tahun sebelumnya, yaitu ketika TUHAN memberikan Hukum Taurat kepada Bangsa Israel. Firman Allah mencatat bahwa pada saat itu bangsa Israel menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap menyertai hadirat TUHAN. Oh, betapa mengerikannya hari itu. Menyaksikan kedahsyatan TUHAN, umat Israel pun merasa sangat takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. Merekapun berkata kepada Musa, “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” (Keluaran 20:18-19).

Demikianlah firman Allah memberikan kesaksian tentang Allah Bapa kepada kita. Mengenai-Nya, Yohanes mencatat, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:18). Tuhan Yesus pun pernah berkata, “Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.” (Yohanes 6:46). Bahkan, Bapa sendiripun berkata kepada Musa yang ingin melihat kemuliaan-Nya, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” (Keluaran 33:20).

Itulah Allah Bapa. Ia adalah Satu dengan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus namun di dalam ekonomi Allah Tritunggal, Bapa memiliki atribut yang berbeda dalam hal keterpisahannya dengan umat manusia. Banyak orang telah melihat Tuhan Yesus, termasuk di dalam masa Perjanjian Lama. Abraham melihat-Nya di dekat pohon Tarbantin di Mamre (Kejadian 18) sebelum Ia membinasakan Sodom dan Gomora, Musa melihat-Nya di dalam semak duri di Gunung Horeb (Keluaran 3), Yosua melihat-Nya di dekat Yeriko sebagai seorang lelaki dengan pedangnya yang terhunus (Yosua 5), Yesaya melihat-Nya dan para serafimnya (Yesaya 6), bahkan Yakub bergulat dengan-Nya di seberang Sungai Yabok (Kejadian 32:22-32). Dan yang pasti, dalam kedatangan-Nya yang pertama dua ribu tahun yang lalu sebagai manusia Mesias, ada begitu banyak orang yang telah melihat, mendengar, memeluk, bahkan menyalibkan-Nya. Demikian pula dengan Roh Kudus. Di Sungai Yordan, Ia terlihat sebagai burung merpati. Di hari Pentakosta, Ia hadir dalam rupa lidah-lidah api. Keberadaan-Nya dapat dilihat secara fisik. Dan yang lebih luar biasa lagi, Ia kini tinggal di dalam setiap orang percaya (1 Korintus 6:19 dan 1 Yohanes 4:4) sekalipun mereka adalah orang-orang yang berdosa dan tidak layak.

Tetapi berbeda dengan Allah Bapa. Kala itu, Petrus, Yohanes, dan Yakobus telah hidup cukup lama bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mereka percaya kepada-Nya (sekalipun iman mereka masih jauh dari sempurna). Mereka juga tentu telah disertai oleh Roh Kudus (Yohanes 14:17), sebab tak seorangpun dapat percaya kepada Tuhan Yesus tanpa Allah Roh Kudus. Namun, sekalipun demikian, ketika Allah Bapa datang dalam awan-Nya yang dahsyat dan ajaib dan berbicara kepada mereka dengan suara-Nya yang megah, mereka tersungkur dan sangat ketakutan, tidak berdaya sama sekali.

Sproul

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Untuk apakah semua pembahasan ini? Apakah ini benar-benar penting? Tentu saja. Tidak ada hal yang lebih penting, berharga, dan mendesak di dunia ini selain pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah merupakan prioritas utama bagi seluruh umat manusia, apalagi bagi orang Kristen. Namun, kita tidak dapat mengenal Allah sesuka hati kita. Kita tidak dapat mengenal Allah dengan cara-cara yang kita ciptakan sendiri. Kita tidak dapat mengenal Allah dengan berimajinasi atau membayangkan yang indah-indah atau yang lembut-lembut tentang-Nya kemudian memutuskan bahwa seperti itulah Allah. Tidak. Itu bukanlah pengenalan akan Allah. Itu hanyalah penyembahan berhala sebab kita menciptakan allah versi kita sendiri.

Jadi, bagaimanakah pengenalan akan Allah itu? Pengenalan yang sejati akan Allah harus selalu bermula dari firman-Nya (kemudian dengan doa dan hidup kudus, tetapi keduanya tidak akan dibahas di sini). Dan firman-Nya hanya ada di dalam Alkitab, bukan dalam kata-kata motivasi, bukan pula dari suara hati yang seringkali kita sangka adalah suara Tuhan. Ketahuilah, suara hati sangatlah mungkin menipu diri kita (Yeremia 17:9). Lagipula, siapa yang dapat menjamin bahwa suara hati itu tidak mungkin salah? Tak satupun orang Kristen dapat berkata bahwa “suara Tuhan” yang timbul di hatinya adalah kebenaran yang mutlak. Akan selalu ada keraguan di dalam hati kita mengenai mutlak tidaknya kebenaran yang suara itu sampaikan kepada kita. Tetapi satu hal yang pasti, semua orang Kristen yang sejati dapat berkata bahwa Alkitab adalah kebenaran yang mutlak. Tak satupun keraguan timbul di hati kita mengenai kebenaran yang Allah suarakan melalui Alkitab-Nya. Oleh sebab itu, biarlah kita pasti akan hal ini: Pengenalan yang sejati akan Allah harus selalu bermula dari apa yang Alkitab katakan dan bukan dari suara hati atau perasaan kita sendiri. Dan jika Alkitab menjelaskan Allah Bapa sebagaimana apa yang telah disinggungkan (walau hanya sedikit) di sini, maka hendaklah kita mengoreksi segala sikap dan pengertian kita yang salah mengenai-Nya dan mulai menghormati, menyembah, berdoa, dan memuliakan, mengenal, menikmati, dan mencintai-Nya sebagaimana apa yang dituturkan oleh firman Allah.

Itulah alasan pertama mengapa hal ini menjadi sangat penting bagi kita. Kita ingin mengenal Bapa sebagaimana adanya Dia, bukan sebagaimana yang kita bayangkan akan Dia. Namun, ada satu hal lagi, yang menurutku lebih penting. Mengapa kita perlu membenahi pemahaman kita akan Bapa melalui peristiwa Tuhan Yesus ber-transfigurasi dan ditinggikan di atas gunung ini? Dan inilah jawabannya:

Lalu Yesus datang kepada mereka
dan menyentuh mereka
sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!
(Matius 17:7)

Oh, itu merupakan salah satu peristiwa yang paling indah di dalam seluruh Alkitab. Janganlah terburu-buru membacanya. Cobalah membacanya kembali dan bayangkanlah apa yang terjadi saat itu. Dapatkah kau membayangkannya?

Dapakah kau membayangkan apa yang para murid pikirkan ketika Tuhan Yesus menyentuh pundak mereka?

Dapatkah kau merasakan apa yang Petrus, Yohanes, dan Yakobus rasakan ketika mereka mendengar suara dari Dia yang paling mereka cintai dan andalkan berkata kepada mereka:
Berdirilah, jangan takut!

Dapatkah kau membayangkan bahwa kau adalah salah satu dari mereka, kemudian kau mengangkat kepalamu, dan kau tidak melihat seorangpun kecuali Tuhan Yesus seorang diri Apakah yang akan kau lakukan jika kau adalah satu dari mereka? Kalau aku, aku akan langsung memeluk Tuhan Yesus dan berkata: “Waah, Tuhan. Tadi itu menakutkan sekali. Jangan jauh-jauh dariku, ya Tuhan.

Namun, kalaupun aku adalah satu dari mereka, aku yakin jawaban Tuhan Yesus padaku tetap akan sama. Ia tetap akan berkata kepadaku, “Jangan takut.”

Lihat dan dengarlah Dia. Bapa sendiri berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Bapa mau kita mendengarkan apa yang dikatakan Anak-Nya kepada kita. Lalu, apa yang dikatakan Sang Anak Allah kepada kita? Tentu saja, Ia berkata kepada kita, “Berdirilah. Jangan takut.” Apa artinya itu? Itu berarti bahwa Allah Bapa mau kita tidak takut kepada-Nya, dalam artian Ia tidak mau kita takut karena kita memandang-Nya sebagai Allah yang murka yang membenci dan menista kita serta ingin membinasakan kita.

Tidak. Ketakutan yang demikian tidak lagi perlu ada di dalam hati kita. Dahulu, sebelum kita benar-benar menjadi orang Kristen, kita sepatutnya merasakan kengerian yang demikian terhadap-Nya (tetapi itupun tidak kita lakukan karena kebutaan kita). Namun, setelah Allah membuka hati kita, dan melahirkan kita kembali oleh Roh Kudus-Nya, dan membuat kita percaya kepada-Nya melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita tidak perlu lagi takut kepada-Nya. Yohanes mencatat, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

Mengapa kita tidak perlu takut kepada Bapa? Jawabannya sungguh amat jelas. Kita tidak lagi perlu ketakutan terhadap Allah sebab Allah telah menjadi Bapa kita.

Paulus mengatakannya:
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi,
tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.
Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15)

Petrus bersukacita atasnya:
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Petrus 1:3)

Yohanes mencatatnya:

Ayat - Yohanes 1

Yudas, saudara Yakobus, meyakininya:
Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil,
yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus. (Yudas 1:1)

dan yang lebih indah lagi,
Tuhan Yesus sendiri mengatakannya:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku
supaya mereka sempurna menjadi satu,
agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku
dan bahwa Engkau mengasihi mereka,
sama seperti Engkau mengasihi Aku
.
(Yohanes 17:23)

Mengapa perkataan Tuhan ini sungguh teramat sangat luar biasa? Sebab di sini kita mendengar firman yang keluar dari mulut Tuhan kita sendiri bahwa:
Allah Bapa mengasihi kita sama seperti seperti Ia mengasihi Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus

Bukankah itu luar biasa? Bahkan paman kandungmu tidak akan mengasihimu dengan kasih yang sama seperti yang ia miliki dan berikan kepada anak kandungnya sendiri. Namun di sini kita mengerti, bahwa jika kita sungguh-sungguh telah terlahir kembali dari Allah, dan kita berada di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, maka sebagaimana Allah Bapa begitu mencintai Anak-Nya, demikianlah Ia akan mencintai kita dengan kasih yang sama.

Bukankah itu too good to be true?
Tidak. Bagi orang-orang percaya, itu tidak too good to be true.
Bagi setiap anak Tuhan, itu adalah truth.

Dan truth itu hanya akan menjadi milikku dan milikmu
jika kita ada di dalam The Way, The TRUTH, and The Life
dan Dia adalah Tuhan Yesus Kristus yang pernah berkata:

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yohanes 14:6)

dan yang juga berkata kepada setiap orang percaya,

Berdirilah, jangan takut!

Apakah kau percaya kepada-Nya?
Apakah Dia adalah Tuhanmu?
Apakah Dia adalah Juruselamat yang menebus segala dosamu?

Percayalah kepada-Nya
dan kau akan diberikan mahkota sorgawi sebagai anak Allah bersama-Nya.

Packer

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s