Memandang Perdebatan di dalam Kekristenan

Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.

Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya.

Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.
(Kisah Para Rasul 18: 24, 27-28)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kekristenan tidak pernah terlepas dari kebenaran. Kekristenan selalu berbicara tentang kebenaran. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang berkomitmen untuk mengejar kebenaran, mengenal kebenaran, mengimani kebenaran, menghidupi kebenaran, menikmati kebenaran, dan membagikan kebenaran tersebut kepada orang lain. Tetapi tidak hanya itu, Tuhan Yesus pernah berkata:

Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini,
supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran;
setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.
(Yohanes 18:37)

Apakah yang Tuhan kita katakan? Salah satu pesan yang terkandung di dalam firman-Nya adalah bahwasanya orang Kristen merupakan orang yang berasal dari kebenaran. Memang pada dasarnya semua manusia adalah manusia yang berdosa dan jauh dari kebenaran namun ketika seseorang diselamatkan di dalam iman pada Kristus Yesus, pada saat itulah ia terlahir kembali dari kebenaran. Tidak dapat dielakkan lagi, kebenaran merupakan prioritas utama di dalam Kekristenan, dan karenanya, kebenaran juga menjadi prioritas utama dari setiap pengikut Kristus. John Hus (1369-1415), seorang martir yang mati dengan dibakar oleh Gereja Katolik Roma karena perjuangannya untuk memurnikan gereja dari penyimpangan-penyimpangan yang diajarkan oleh gereja tersebut, yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh pra-reformasi gereja, pernah mengatakan sesuatu yang sangat penting untuk kita renungkan:

Hus

Rekam jejak John Hus dan karya yang ia tinggalkan untuk gereja Tuhan telah menjadi bukti bahwa ia serius dengan apa yang ia katakan. Tetapi tidak hanya John Hus, seluruh orang Kristen yang sejati juga akan menyerukan hal yang sama. Sebagaimana firman Tuhan Yesus di dalam Kitab Wahyu, “dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.” (Wahyu 22:15). Tidak ada tempat tersedia bagi orang-orang yang mencintai dusta di dalam Kerajaan Sorga. Kerajaan Allah hanya akan dianugerahkan kepada orang-orang yang berasal dari kebenaran, hidup di dalam kebenaran, dan mati di dalam kebenaran.

Kini pertanyaannya, bagaimanakah sikap hati orang Kristen di zaman ini mengenai kebenaran? Hampir semua orang Kristen mungkin akan sepakat dengan lima poin pertama yang Hus katakan. Namun, bagaimanakah dengan poin yang terakhir? Apakah setiap orang Kristen benar-benar bersedia untuk mempertahankan kebenaran itu hingga mati? Di tengah begitu banyaknya dusta dan ajaran sesat yang beredar, yang bahkan mengaku dan menyamar sebagai ajaran Kekristenan, apakah orang Kristen masih berkomitmen untuk menjaga kemurnian ajaran yang benar? Apakah gereja Tuhan masih serius untuk mengawal firman Tuhan yang sempurna dan menentang segala bentuk penyesatan? Dengan sangat berat hati perlu aku akui, sepertinya tidaklah demikian.

Mungkin memang tidak akan ada orang Kristen yang normal yang akan secara langsung berkata bahwa mereka sama sekali tidak tertarik untuk mempertahankan kebenaran atau ajaran yang benar dari penyimpangan dan penyesatan. Namun, cobalah tanya pendapat orang-orang Kristen yang ada di sekitar kita mengenai pandangan mereka terhadap perdebatan-perdebatan di dalam iman Kristen. Cobalah tanya juga pendapat mereka mengenai hamba Tuhan dan gereja yang tidak ragu-ragu mengungkapkan ajaran-ajaran sesat yang beredar di dalam gereja-gereja Tuhan. Kita memang tidak memiliki data yang valid untuk menggambarkan secara representatif respon dari seluruh orang Kristen. Namun, inilah hal yang aku kuatirkan, yaitu apabila mayoritas orang Kristen mulai berpandangan buruk terhadap semua bentuk perdebatan di dalam Kekristenan dan juga menyebut semua hamba Tuhan dan gereja yang giat mengungkap kesesatan suatu ajaran, sebagai hamba Tuhan dan gereja yang sombong, tukang debat, dan tukang menghakimi.

Aku sangat berharap kesimpulanku tersebut salah. Namun, sejauh ini, bukankah itu yang sering kita temukan? Banyak orang Kristen memandang perdebatan di dalam Kekristenan sebagai hal yang tidak perlu, bahkan cenderung negatif. Bagiku, pandangan tersebut merupakan generalisasi yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang Kristen. Tidak hanya itu, banyak dari kita juga menentang setiap pihak yang cukup berani menyatakan suatu ajaran sebagai ajaran yang sesat. Terhadap pihak-pihak yang demikian, bukannya mencoba menguji argumen yang mereka kemukakan berdasarkan Alkitab, banyak dari kita cenderung buru-buru memandang mereka sombong, menghakimi, dan kurang mengasihi. Ini juga, menurutku, merupakan generalisasi yang keliru dan merupakan salah satu penyimpangan dari teladan yang ditunjukkan oleh gereja mula-mula.

Seperti apakah sikap gereja mula-mula terkait dengan hal ini? Firman Tuhan dengan cukup jelas memaparkannya. Lihatlah apa yang Apolos lakukan. Firman Tuhan berkata bahwa Apolos adalah seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal kitab suci (Kisah Para Rasul 18:24). Dipandang dari kedua hal tersebut, Apolos sangatlah cocok untuk menjadi seorang pendebat mewakili ajaran yang Alkitabiah, bukankah begitu? Dan memang itulah yang Apolos lakukan. Firman Tuhan mencatat bahwa ia tidak jemu-jemu membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Tuhan Yesus adalah mesias (Kisah Para Rasul 18:27-28). Ya, Apolos berdebat, bahkan tidak jemu-jemu berdebat di muka umum, dengan orang-orang Yahudi. Melihat hal tersebut, apakah kita patut menyebut perdebatan Apolos itu sebagai hal yang tidak perlu dan negatif? Apakah pantas jika kita menyebut Apolos sombong dan tukang menghakimi? Tentu tidak, bukan? Justru sebaliknya, firman Tuhan mencatat bahwa karena perjuangan Apolos dalam mempertahankan ajaran yang benar, ia sangatlah berguna bagi orang-orang yang percaya (Kisah Para Rasul 18:24).

Lihatlah juga apa yang Rasul Paulus lakukan. Kisah Para Rasul pasal 17 memberi kesaksian kepada kita bahwa Paulus bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah di dalam rumah ibadat (ayat 17). Tidak hanya itu, ia juga bersoal jawab dengan beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa (ayat 18). Apakah yang Paulus lakukan? Sangatlah jelas, sama seperti Apolos, Paulus juga rela berdebat demi mempertahankan sekaligus memberitakan ajaran yang benar yang berasal dari Allah. Apakah kita perlu menegur Paulus karena perdebatan semacam itu? Apakah ia membuang-buang waktunya dengan perdebatan, sebagaimana yang sering kita pikir tiap kali melihat ada orang Kristen yang berdiskusi atau berdebat tentang suatu doktrin dan ajaran sesat? Apakah Paulus sombong dan menghakimi dengan buta? Tentu tidak, bukan? Justru sebaliknya, dengan tindakan yang demikian, Paulus telah menjalankan tugas penggembalaan yang baik sebab ia tidak hanya memimpin kawanan dombanya tetapi juga mengusir serigala-serigala yang dapat mengancam kawanannya.

11028968_427650330731223_5882074309344001029_o

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mohon untuk tidak salah mengerti. Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa semua perdebatan intra-Kekristenan merupakan perdebatan yang Alkitabiah. Tidak dapat dipungkiri, ada banyak sekali perdebatan terkait doktrin yang berujung pada debat kusir, ajang menyombongkan diri, atau bahkan menjadi arena saling ejek di antara pihak yang berdebat. Perdebatan yang demikian bukan saja tidak efektif tetapi juga tidak memuliakan Tuhan dan memecah belah. Terhadap perdebatan-perdebatan semacam itu, Paulus telah menegaskan poin yang sangat penting dalam 1 Timotius 6:20, 2 Timotius 2:16 & 23, dan Titus 3:9, yang intinya adalah kita perlu menghindarinya.

Aku juga sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang Kristen perlu menyebut setiap ajaran yang bertentangan dengan apa yang ia pahami sebagai suatu ajaran yang sesat. Terlalu dogmatis dan gegabah dalam menyebut suatu ajaran sebagai bidat atau seorang pengajar sebagai nabi palsu dapat berujung pada perpecahan yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Tuhan kita. Bukankah Tuhan Yesus juga pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh gegabah, melainkan perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di dalam melebarkan Kerajaan-Nya?

Namun, sekalipun demikian, tetap saja tidaklah bijaksana apabila kita membuat generalisasi yang negatif dan memandang buruk semua perdebatan dan pengungkapan kesesatan. Dan juga, tidaklah bijaksana apabila kita berpikir bahwa kesatuan dan persekutuan harus kita prioritaskan lebih tinggi dari kebenaran. Tidak. Kesatuan dan persekutuan tidak pernah boleh lebih penting daripada kebenaran. Mengapa? Sebab tanpa kebenaran, segala sesuatu yang kita anggap sebagai persekutuan atau kesatuan, pada hakekatnya adalah palsu dan semu. Kesatuan atau persekutuan yang sejati hanya dapat terwujud jika kebenaran menjadi dasar sekaligus menjadi perekatnya.

Dever

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah memaparkan semua pembahasan di atas, satu pernyataan perlu untuk kita jawab:
Sikap apakah yang perlu setiap orang Kristen miliki terkait dengan perdebatan doktrin dan pengungkapan penyesatan?

Setidaknya ada lima hal yang patut kita pertimbangkan.

1) Renungkan kembali pandangan Alkitab terkait perdebatan dan pengungkapan kesesatan
Alkitab adalah firman Allah dan firman Allah merupakan kebenaran dan standar tertinggi bagi orang Kristen. Di dalam menilai segala sesuatu, kita perlu memandang dengan kacamata firman Allah dan bukan dengan preferensi pribadi atau opini publik. Oleh sebab itu, abaikanlah apapun yang ada di dalam artikel ini apabila argumen yang dipaparkan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah. Namun, jika argumen-argumen yang telah disampaikan selaras dengan kesaksian Alkitab, maka hendaklah kita memperbaiki sikap kita berdasarkan apa yang firman Tuhan ajarkan.

MacArthur (3)

2) Sadarilah bahwa masih ada banyak hal yang tidak kita ketahui
Salah satu hal yang paling banyak menjadi alasan mengapa banyak orang Kristen cenderung anti dengan perdebatan adalah ketidaktahuan. Janganlah sampai kita tersandung dalam kesalahan semacam ini. Hanya karena kita tidak tahu atau tidak mengerti kebenaran di dalam beberapa doktrin, misalnya perihal karunia bahasa lidah, pradestinasi, tata cara pembaptisan, dan eskatologi, tidak berarti bahwa semua perdebatan adalah buruk dan semua orang yang memperdebatkan hal tersebut adalah orang Kristen yang sombong dan tidak memiliki hati yang bermisi. Hal itu juga tidak berarti bahwa kita patut membujuk orang lain untuk menghindari segala bentuk perdebatan atau membuat mereka ikut berpikir bahwa semua perdebatan itu tidaklah rohani dan semua bentuk pengungkapan kesesatan dilatarbelakangi oleh kesombongan kalangan tertentu.

Kerendahan hati sangatlah diperlukan dalam hal ini. Akuilah bahwa kita tidak tahu segala hal dan masih ada banyak kebenaran Alkitab yang belum kita pahami. Akuilah juga bahwa kita masih perlu terus belajar. Sadarilah bahwa ada saudara kita yang terlibat dalam perdebatan bukan karena mereka sombong, melainkan karena mereka benar-benar ingin menemukan kebenaran dan ada juga yang berdebat karena sungguh-sungguh ingin membagikan ajaran yang benar.

Sadarilah pula bahwa Kekristenan tidak semata-mata hanya berbicara tentang penginjilan dan pelayanan, tetapi juga termasuk di dalamnya upaya untuk mengungkapkan ajaran sesat serta perdebatan yang penuh kasih dan pengendalian diri guna mempertahankan sekaligus menyebarkan apa yang benar. Dan juga, pertimbangkanlah kemungkinan bahwa beberapa orang yang berdebat dan/atau orang yang cukup berani menyingkapkan kesesatan suatu ajaran, adalah orang Kristen yang sungguh-sungguh telah lahir baru, dan memang memiliki pemahaman Alkitab yang lebih baik dibandingkan kita, dan mereka telah berkomitmen kepada Allah untuk, seperti John Hus, mempertahankan kebenaran hingga mati.

Tanyalah hati nurani kita masing-masing, patutkah kita mencurigai mereka dengan berlebihan? Patutkah kita memandang mereka buruk mereka? Layakkah kita berpikir bahwa kita lebih rohani dan lebih serius melayani Tuhan dibanding mereka?

3) Belajarlah untuk mengasihi
Firman Tuhan berkata bahwa kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13:7). Apakah maksud dari firman tersebut? Secara sederhana, maksud dari firman itu adalah di dalam kasih tidak prasangka buruk. Ini merupakan salah satu praktek kasih yang paling sulit diaplikasikan. Namun, bagaimanapun susahnya untuk tidak berprasangka buruk, kita tetap harus taat pada perintah-Nya.

Cobalah telusuri hati kita masing-masing. Seringkali kita memandang rendah suatu perdebatan dan menganggap sombong orang-orang yang berdebat dan yang begitu frontal dalam menyatakan sesat suatu ajaran, hanya karena masih ada prasangka buruk di dalam diri kita. Janganlah kita jatuh ke dalam dosa yang demikian. Semoga Allah, melalui Roh Kudus-Nya, mengerjakan di dalam hati kita buah kasih yang semakin nyata dan menuntun kita hari demi hari untuk mematikan prasangka buruk yang seringkali menjauhkan kita dari apa yang seharusnya kita lakukan.

4) Berdoalah untuk Paulus dan Apolos masa kini
Gereja yang paling ideal adalah gereja yang ditunjukkan oleh gereja mula-mula. Dan di dalam gereja mula-mula, ada orang-orang yang tidak jemu-jemu membantah segala ajaran yang sesat dan menyatakan apa yang benar di hadapan orang banyak, seperti Paulus dan Apolos. Dengan demikian, adalah suatu kesombongan apabila gereja masa kini merasa tidak lagi membutuhkan adanya sosok  Paulus dan Apolos untuk generasi ini. Bukankah Tuhan Yesus sudah memperingatkan bahwa di hari-hari terakhir akan semakin banyak bermunculan ajaran-ajaran yang sesat? Jika demikian, mengapa kita membuat generalisasi negatif yang justru akan membuat ajaran-ajaran sesat itu dapat menyebar dengan semakin mudah?

Oh, semoga Allah menjauhkan kita dari kekhilafan yang demikian. Semoga Ia mendorong kita untuk lebih giat lagi dalam berdoa kepada-Nya supaya Ia membangkitkan apologis-apologis (orang yang mempertahankan kebenaran suatu ajaran) yang sejati, yang sungguh-sungguh mencintai Allah, mencintai firman dan kebenaran-Nya, mencintai gereja-Nya sehingga ingin melindunginya dari segala penyesatan, serta mencintai jiwa-jiwa sehingga berusaha menyatakan apa yang benar sekalipun mayoritas orang akan mendebatnya. Dan tidak hanya itu, semoga Tuhan kita juga membangkitkan gereja-Nya dan menjadikan anak-anak-Nya “Alkitab berjalan” yang siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari mereka tentang pengharapan yang ada pada mereka, dengan lemah lembut dan hormat (1 Petrus 3:15).

Spurgeon

5) Kesatuan untuk hal yang utama, kebebasan untuk hal yang tidak utama, kasih dalam segala hal
Terakhir, adalah hal yang baik dan tidak salah apabila kita mengelompokkan doktrin-doktrin di dalam Kekristenan ke dalam dua kelompok, yaitu doktrin yang utama (sebut saja doktrin esensial) dan doktrin yang tidak utama (sebut saja doktrin non-esensial). Untuk doktrin-doktrin yang esensial, seperti (1) Allah Tritunggal, (2) dwinatur Kristus, (3) virgin birth, (4) kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke sorga secara fisik, (5) keselamatan hanya karena anugerah, hanya melalui iman, hanya di dalam Kristus, dan (6) kesempurnaan Alkitab sebagai firman Allah, seluruh orang Kristen harus bersatu dan memegang kebenaran yang satu. Orang-orang yang mengaku Kristen namun mengabaikan kebenaran tersebut bukanlah orang Kristen.

Dan untuk doktrin-doktrin yang non-esensial, seperti (menurutku) karunia roh, asal mula dosa, tata cara pembaptisan, dikotomi atau trikotomi, bentuk organisasi gereja, eskatologi, dan beberapa doktrin yang lain, kita perlu bertoleransi dan memberikan kelonggaran kepada masing-masing saudara yang berbeda pandangan dengan kita. Untuk cakupan doktrin semacam ini, kita perlu mengendalikan diri agar tidak buru-buru menyerang dan menyatakan sesat setiap orang yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita. Kita juga perlu berhati-hati jangan sampai kita menjadi terlalu dogmatis sampai-sampai kita tidak lagi mengasihi dan tidak lagi injili.

Hal ini, sekali lagi, tentu tidak berarti bahwa kita perlu mengabaikan kebenaran atau berhenti berusaha mengungkapkan apa yang benar, melainkan menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka dengan kasih Kristus dan kita memandang mereka sebagai saudara yang memiliki Bapa yang sama dengan kita yaitu Allah Bapa, dan yang di dalam jiwanya mengalir darah yang sama dengan kita, yakni darah Kristus, dan yang memiliki Roh yang sama dengan kita, yaitu Roh Kudus. Dan juga, di saat yang sama, kita tetap berharap dengan pengharapan yang besar agar Allah menuntun umat-Nya untuk cepat atau lambat memahami apa yang sebenarnya merupakan pemahaman atau ajaran yang benar sehingga kasih di antara keluarga Kristus, yang masih hidup di dunia ini, disempurnakan dengan adanya SATU kebenaran yang dipahami, diimani, dihidupi, dinikmati, dan diberitakan secara bersama-sama oleh seluruh orang percaya.

Baxter

Kasih, berkat, dan penyertaan Allah Bapa yang terpancar oleh wajah Kristus dan dinyatakan di dalam setiap kita oleh Roh Kudus kiranya selalu menyertai kita. Amin.

*Beberapa apologis Kristen yang saya rekomendasikan:
James White, Ravi Zacharias, John Lennox, Jay Smith, dan Nabeel Qureshi

Advertisements

3 thoughts on “Memandang Perdebatan di dalam Kekristenan

  1. Terima kasih untuk berkatnya, bang! 🙂

    Kalau boleh menambahkan sih, kalau kita berdebat (dan membagikan Kebenaran secara umum), jangan lupa perkataan Paulus di 1 Korintus 13 : 1-2 – kalau tanpa kasih, semua hal itu tidak akan berguna. Kalau motivasi kita untuk berbagi Kebenaran itu bukan supaya orang lain semakin mengenal dan mengasihi Firman Tuhan (atau untuk kita juga, kalau kita sedang berdiskusi), ya jatuhnya sia-sia.

    Tuhan memberkati bang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s