Untuk Melihat Wajah dan Kemuliaan Allah

Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.”

Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?”

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” Tetapi jawabnya:

Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”

Tetapi firman-Nya: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Lagi firman-Nya:

Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku,
sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”

Berfirmanlah TUHAN:

“Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat…

Ayat - Lekuk Gunung

dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.”

(Keluaran 33:15-23)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Betapa indahnya kisah itu, ya TUHAN…

Di sepanjang Perjanjian Lama, Allah menampakkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai cara dan rupa. Di antara banyak kejadian yang dapat diselidiki, beberapa contoh yang cukup familiar bagi kita adalah ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre (Kejadian 18) sebelum Ia membinasakan Sodom dan Gomora, ketika Ia bergulat dengan Yakub di seberang sungai Yabok (Kejadian 32:22-32), ketika Ia bertemu dengan Gideon di dekat pohon tarbantin di Ofra (Hakim-hakim 6), ketika Ia dan para seraphim-Nya menampakkan diri pada Yesaya (Yesaya 6), dan ketika Ia menyertai Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (Daniel 2). Semua itu merupakan kejadian yang unik dan sangat luar biasa. Namun, ada satu keunikan yang hanya dapat ditemukan dalam peristiwa Musa melihat kemuliaan Allah. Keunikan apakah itu?

Di dalam kelima peristiwa yang telah disebutkan, Allah dapat dilihat dengan mata telanjang. Dan dalam kasus Yakub, Ia bahkan mungkin dapat dipukul dan dikunci oleh Yakub sebab Yakub bergulat dengan-Nya. Namun, ketika Musa mengutarakan keinginannya untuk melihat kemuliaan-Nya, Allah berkata,

Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku,
sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.

Apa? Siapakah Ia yang berkata-kata dengan Musa itu? Mengapa respon-Nya kepada Musa berbeda dengan respon-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang lain? Mengapa Abraham, Yakub, Gideon, Yesaya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dapat melihat Dia namun Musa tidak?

Satu jawaban yang kupercaya:
Abraham, Yakub, Gideon, Yesaya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berhadapan dengan Tuhan Yesus Kristus dalam rupa-Nya yang belum berinkarnasi,
sementara Musa berhadapan dengan Allah Bapa.
(Yohanes 6:46)

Menyadari hal itu saja cukup untuk membuat tubuh ini gemetar. Musa berhadapan dengan Allah Bapa. Musa berbicara dengan Allah yang Mahatinggi, tidakkah itu sungguh istimewa? Oh, itu sungguh tak terkatakan. Musapun mengajukan satu permintaan, yaitu permintaan yang juga merupakan hasrat terdalam bagi setiap orang yang percaya, yaitu melihat kemuliaan Allah.

Namun Allah berkata kepada Musa bahwa ia tidak dapat melihat wajah-Nya dan tetap hidup. Jikalau Musa melihat-Nya, maka Musa pasti akan mati. Lalu, apakah yang Allah lakukan untuk Musa? Pada akhirnya, sebagai ganti permintaannya, Allah memanggil Musa untuk berdiri di dekat-Nya, yaitu di atas GUNUNG BATU, kemudian Allah dengan seluruh kemuliaan-Nya akan melewati Musa. Selama Allah berjalan di depan Musa, Ia menempatkan Musa di LEKUK GUNUNG itu sehingga Musa dapat berlindung sembari Ia menundunginya dengan tangan-Nya. Setelah Ia melewati Musa, Allah menarik tangan-Nya sehingga Musa dapat melihat bagian belakang-Nya sampai seluruh keagungan-Nya lewat.

Demikianlah Musa menerima anugerah dan kehormatan dari Allah untuk dapat melihat sebagian kecil dari kemuliaan-Nya. Ah, betapa megah dan indahnya pengalaman Musa itu. Namun, ada satu firman Allah yang perlu kita perhatikan:

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah,
yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
(Yohanes 1:18)

Firman ini menegaskan bahwa sebaik apapun kehidupan yang Musa jalani dan setinggi apapun jabatan yang ia miliki di dalam jemaat Allah, itu tidak akan pernah cukup untuk membuat Musa melihat Allah. Tidak hanya Musa, dengan kesucian, kekuatan, hikmat, dan kehendaknya sendiri, tak satupun manusia dapat melihat Allah. Lalu, bagaimanakah jalan agar manusia dapat melihat Allah? Hanya ada satu jalan, yaitu apabila Allah sendiri yang memperlihatkan diri-Nya kepada orang itu. Dan lebih dalam dari itu, sebagaimana firman-Nya melalui Yohanes, Allah hanya akan menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui Anak Tunggal Allah. Dan ini berarti bahwa pada saat Musa berhadapan dengan Allah di atas gunung itu, Tuhan Yesus Kristuspun ada di sana untuk menyatakan Bapa kepada Musa. Ya, aku percaya, Tuhan Yesus berdiri menyertai Musa dan menguatkannya untuk teguh berdiri di hadapan kemuliaan dan kekudusan Allah yang membinasakan.

Dan di sini kita dapat melihat sebuah latar yang istimewa. Kita mengerti bahwa peristiwa ini benar-benar pernah terjadi di atas muka bumi sekitar 3500 tahun yang lalu. Kita tahu bahwa semua ini adalah fakta dan sejarah. Namun, di dalam hikmat dan pengertian yang Roh Kudus karuniakan kepada kita di dalam Injil Kristus dan terang Perjanjian Baru, kita dapat melihat sesuatu yang lain di dalam peristiwa ini. Kita tidak hanya melihat fakta atau sejarah di dalam kejadian ini tetapi kita juga dapat melihat sebuah gambar yang tersembunyi di baliknya. Gambar apakah yang dimaksud? Tentu saja, gambar dari Yesus Kristus, Gembala dan Juruselamat kita. Tidak diragukan lagi, Tuhan kita menyatakan diri-Nya di dalam peristiwa itu.

Dapatkah kau melihat-Nya?
Dengan apakah Ia menyatakan diri-Nya?
Dengan apakah Ia dapat kita kenali?

Di manakah Dia berada?
Di manakah Dia bersembunyi?
Di manakah Ia di dalam peristiwa yang agung ini?

Oh, tidakkah kau dapat melihat-Nya?
Dialah Gunung Batu itu.

Ya, Dialah Gunung Batu yang di atasnya Musa berdiri.
Dan lekuk gunung tempat Musa berlindung itu, itulah bilur-bilur-Nya.

Ayat - Samuel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya, Yesus Kristus, Tuhan kita, Dialah Gunung Batu yang kokoh dan mulia, yang di atas-Nya Musa berdiri untuk bertemu dengan Allah. Roh Kudus berkata melalui Yohanes bahwa tidak seorangpun pernah melihat Bapa tetapi Kristus yang ada di pangkuan-Nya, Dialah yang akan menyatakan Bapa kepada kita (Yohanes 1:18). Tidak hanya itu, Tuhan kita sendiripun pernah mengatakan hal yang sungguh luar biasa:

Ayat - Matius 11

Ya, tidak ada satu orangpun, tidak peduli siapa dia, yang dapat mengenal Allah kecuali apabila Kristus dengan penuh anugerah dan belas kasihan memperkenalkan Bapa-Nya kepada orang itu. Musa tidak dapat bertemu dengan Allah di sembarang tempat, Allah sendiri yang memanggil Musa untuk datang ke gunung batu yang ada di dekat-Nya itu dan berdiri di atasnya. Sama dengan itu, kau dan aku tidak dapat bertemu dengan Allah di manapun yang kita mau. Kita tidak dapat melihat Allah dengan cara-cara kita sendiri. Kita tidak dapat mengenal-Nya dengan pemikiran kita sendiri. Mungkin ada banyak jalan menuju Roma, dan kukatakan ini: ada jauh lebih banyak jalan menuju maut, namun hanya ada satu jalan munuju Allah.

Hanya ada satu Gunung Batu yang di atas-Nya kita dapat berdiri teguh dan berhadapan dengan Allah. Hanya ada satu Jalan yang dengan melangkah di atas-Nya kita dapat mendekat dan sampai kepada Bapa. Hanya ada satu Kebenaran yang dengan mengenal-Nya kita akan mengenal dan mengerti Bapa. Hanya ada satu Kehidupan yang dengan tinggal di dalam-Nya kita akan hidup dengan Bapa. Pertanyaannya, siapakah Dia? Siapakah Jalan dan Kebenaran dan Hidup itu? Oh, Dialah Yesus Kristus yang pernah berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Tetapi tidak hanya itu, Musa tidak hanya perlu berdiri di atas gunung itu. Jika ia tetap berdiri di sana tanpa perlindungan, maka kemuliaan Allah tetap akan membinasakannya. Jadi, apakah yang Musa butuhkan? Musa membutuhkan adanya retakan pada gunung batu itu sehingga ia dapat bersembunyi dan berlindung di dalamnya. Dengan kata lain, gunung itu harus mengalami peretakan terlebih dahulu sehingga Musa dapat berteduh dengan aman dari kemuliaan-Nya. Tidakkah ini menjadi gambar yang luar biasa mengenai keindahan Injil Kristus? Tentu saja. Sebagaimana gunung batu tempat Musa berdiri merupakan gambar dari Kristus, lekuk gunung itu menggambarkan bilur-bilur-Nya.

Ingatkah engkau dengan peristiwa di malam sebelum Kristus menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan? Apakah yang Ia lakukan malam itu? Ia memecah-mecahkan roti kemudian berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu.” (Lukas 22:19). Ya, tubuh Tuhan kita dipecah-pecahkan untuk kita. Ia dibelenggu, dihantam, dicabik, dipaku, bahkan ditikam untuk kita. Untuk apakah semuanya itu? Hanya ada satu jawabannya, untuk menjadi “lekuk gunung batu” bagi kita. Jika gunung batu itu tidak retak, maka tidak ada tempat berlindung bagi Musa. Sama dengan itu, jika Juruselamat kita tidak menderita bagi kita, tidak ada pengharapan dan keselamatan bagi kita. Lekuk gunung batu, itulah tempat perteduhan Musa. Bilur-bilur Tuhan kita, itulah yang menyelamatkan kita, sebagaimana firman-Nya:

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,
padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,
tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
(Yesaya 53:4-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mengapa Kristus rela menyerahkan diri-Nya untuk kita? Mengapa Ia bersedia dipecah-pecahkan bagi kita? Hal hebat apakah yang telah kita lakukan untuk-Nya sehingga Ia rela menderita bagi kita? Hal istimewa apakah yang kita miliki sehingga Ia bersedia mati bagi kita? Tidak ada. Tidak satu pun.

Apakah yang Ia tuntut dari kita? Bukankah untuk berjalan bersama-Nya dengan rendah hati (Mikha 6:8)? Tetapi kita terlalu sombong dengan hikmat dan kehendak kita sendiri. Apakah yang Ia inginkan dari kita? Bukankah untuk mengenal-Nya secara pribadi (Hosea 6:6)? Tetapi bukan itu yang kita lakukan. Kita tidak ingin mengenal-Nya secara pribadi, kita hanya mau dikenal orang. Kita tidak mau mengerti Dia, kita hanya mau dimengerti oleh orang lain. Apakah yang Ia minta dari kita (Ulangan 6:5)? Bukankah untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati kita? Tetapi tidak, kita terlalu mencintai diri kita sendiri. Tidakkah engkau menyadari semua itu? Ia hanya mau hati kita. Apakah itu terlalu berat? Apakah itu terlalu egois? Salah apakah Dia terhadap kita sampai-sampai kita berontak terhadap-Nya? Lihat, tidak ada seorang rajapun di dunia ini yang hatinya begitu disakiti oleh umatnya, selain Raja di atas segala raja. Tidakkah kita sadar akan hal itu? Tidakkah itu membuat hati kita remuk?

Oh, tetapi lihatlah kasih setia-Nya. Sekalipun kita selalu membebani hati-Nya dengan duka, sekalipun kita menyakiti hati-Nya hari demi hari, Ia tidak dapat menyangkal hati-Nya sendiri. Ia ingat bahwa kita adalah domba-domba-Nya dan kita tersesat. Ia sadar bahwa tidak ada gembala lain selain diri-Nya. Dan di dalam kekekalan, Ia melihat kita. Ia melihat kita saling menghancurkan. Ia melihat kita menghancurkan diri kita sendiri dengan dosa-dosa kita. Dan Ia tidak dapat tinggal diam melihat semua itu. Sama seperti seorang Samaria yang iba melihat seorang yang hampir mati karena dirampok dan dihajar oleh para penyamun (Lukas 10:25-37), hati-Nya tergerak oleh belas kasihan melihat kita. Iapun datang ke dunia yang gelap dan fana ini untuk mencari dan menyelamatkan kita, domba-domba-Nya yang hilang (Lukas 19:10). Itulah Tuhan yang sejati. Itulah Tuhan kita. Firman-Nya berkata, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 136:1). Sungguh, tidak ada dusta di dalam firman-Nya.

156012_740753429322653_7772155005438022803_n

Dialah Tuhan yang menjadi Gunung Batu bagi kita. Dialah Gembala yang baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, domba-domba-Nya (Yohanes 10:11). Dialah Juruselamat, yang memberikan tubuh-Nya untuk dihancurkan demi menanggung murka Allah dan menebus kita dari dosa. Dan Ia menjadikan bilur-bilur-Nya menjadi sumber kesembuhan, perlindungan, dan hidup bagi kita.

Dan ketahuilah satu hal, yaitu keindahan Perjanjian Baru dibanding Perjanjian Lama. Musa adalah pemimpin tertinggi umat Allah dalam masa Perjanjian Lama tetapi sekalipun demikian, ia tidak mengenal Allah sebagai Bapanya, Ia tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, Ia memang bersama-sama dengan Roh Kudus tetapi Roh tidak tinggal di dalamnya. Tidaklah demikian dengan kita. Kita mengetahui jauh lebih banyak hal dibanding Musa. Kita melihat rancangan penyelamatan Allah jauh lebih jelas dibanding Musa. Kita mengenal Allah sebagai Bapa kita, kita mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan Roh Kudus tidak hanya bersama-sama dengan kita, Ia tinggal di dalam diri kita (Yohanes 14:17; Roma 8:9; 1 Korintus 3:16).

Dan tidak hanya itu.
Musa berlindung dalam lekuk gunung batu tetapi ia tetap tidak dapat melihat wajah Allah.

Tidaklah demikian dengan kita, umat Perjanjian Baru.
Kita berlindung pada bilur-bilur Tuhan kita dan tentu saja, kita dapat melihat wajah Allah.

Ya.
Kita dapat melihat wajah-Nya.
Kita melihat kemuliaan-Nya.
Tahukah kau mengapa?
Sebab Tuhan Yesus sendiri pernah berkata:

Ayat - Yohanes 14 9

Tidakkah itu luar biasa?
Melihat wajah dan kemuliaan Allah melalui Kristus,
apakah yang lebih indah daripada itu? Tidak ada.

Kini pertanyaannya:
Sudahkah kau memandang kemuliaan-Nya?
Sudahkah kau melihat wajah Bapa?

Sudahkah kau berdiri di atas Gunung Batu Keselamatan, yaitu Kristus Yesus?
Sudahkah bilur-bilur-Nya menjadi tempat kedamaian dan perlindungan bagimu?

Jika “belum”, izinkanlah kukatakan ini padamu:
Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.

Maka Ia akan menjadi Gunung Batumu dan di atas-Nya kau akan berdiri teguh.
Ia akan melindungimu di dalam bilur-bilur-Nya.
Dan dari dalam-Nya, kau akan melihat wajah dan kemuliaan Allah.

dan kaupun akan bersorak dan bernyanyi:

Rock of Ages

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s