Pencobaan yang Mengusik Orang Percaya, oleh Richard Sibbes

Beberapa orang Kristen, yang sungguh-sungguh telah lahir baru, seringkali dihantui oleh pikiran-pikiran yang najis di dalam imajinasi mereka, dan oleh pikiran-pikiran yang hina dan tak pantas tentang Allah, Kristus, dan firman-Nya, yang, seperti lalat, menggelisahkan dan mengganggu kedamaian hati mereka. Pikiran-pikiran yang jahat ini dilemparkan ke dalam imajinasi mereka oleh Iblis. Memang di dalam setiap orang Kristen masih tertinggal natur yang jahat namun sifat, kuasa, keganasan, dan kengerian dari pikiran-pikiran jahat yang berasal dari Iblis itu berbeda dan dapat dibedakan dari pikiran jahat yang memang berasal dari natur dosa yang masih ada di dalam hati setiap orang percaya. Sama seperti Benyamin yang tidak tahu menahu ketika Yusuf, kakaknya, menaruh piala Yusuf ke dalam karungnya (Kejadian 44), orang-orang saleh tidak menyadari ketika Iblis diam-diam menabur bibit pikiran-pikiran busuk itu ke dalam benak mereka.

Para penulis yang saleh telah menganjurkan beberapa hal untuk dilakukan ketika pencobaan seperti itu menyerang, yaitu untuk membenci pikiran-pikiran itu dan segera mengalihkan perhatian kita dari godaan tersebut kepada hal-hal yang lain. Selain hal tersebut, tambahkanlah ini: mengadulah pada Kristus mengenai itu semua, berlarilah ke bawah naungan sayap perlindungan-Nya, dan mohonkanlah agar Ia membela kita dalam menghadapi musuh-Nya dan musuh kita itu. Jika setiap dosa dan hujatan manusia dapat diampuni, masakan pikiran-pikiran najis itu tidak dapat diampuni oleh-Nya? Kristus sendiripun pernah dicobai sedemikian supaya Ia dapat menolong jiwa-jiwa yang miskin yang sedang mengalami kondisi yang demikian (Matius 4:1, Ibrani 4:15).

Namun, ada perbedaan antara Kristus dan kita dalam hal ini. Iblis tidak memiliki apapun di dalam diri Kristus. Godaan-godaan Iblis tidak berpengaruh sama sekali terhadap natur-Nya yang kudus. Justru sebaliknya, sama seperti percikan api tercemplung ke samudera, cobaan Iblis kepada Kristus segera pudar. Namun, Ia menyerahkan diri-Nya untuk dicobai dengan cara ini sehingga Ia juga merasakan apa yang kita alami ketika kita dicobai oleh iblis dan melalui itu semua, Ia mengajar kita untuk menggunakan perlengkapan senjata rohani yang kita miliki, sebagaimana Ia memakainya. Kristus bisa saja mengalahkan Iblis dengan kuasa-Nya namun Ia memilih untuk mengalahkannya dengan firman Allah.

Berbeda dengan itu, ketika Iblis mendatangi kita, ia menemukan sesuatu yang adalah miliknya di dalam diri kita, yang terhubung dengannya dan mengenali suaranya. Pada kadar tertentu, di dalam diri kita, masih tertinggal kecenderungan untuk menentang Allah dan menentang apa yang baik, sebagaimana yang ada di dalam diri Iblis. Oleh sebab itu, setiap pencobaan yang Iblis arahkan kepada kita akan menodai kita. Dan kalaupun Iblis tidak datang menggoda kita, pikiran-pikiran yang penuh dosa masih dapat timbul dari dalam diri kita. Kita masih memiliki sisa-sisa kejahatan itu di dalam diri kita.

Jika pikiran-pikiran jahat itu tinggal cukup lama di dalam jiwa kita, semua itu akan mengisap dan menimba keinginan-keinginan jahat dari dan oleh jiwa kita dan akan menimbulkan perasan bersalah yang lebih besar di dalam jiwa kita. Itu semua akan mengusik persekutuan yang indah antara kita dengan Allah, mengganggu kedamaian hati kita, dan menaruh hasrat yang bertentangan di dalam jiwa kita. Itu semua dapat menjadi dosa yang lebih besar. Semua tindakan dosa adalah sebuah pemikiran pada awalnya. Pikiran-pikiran najis adalah seperti pencuri berbadan mungil yang menyelinap melewati jendela dan membuka pintu untuk pencuri yang berbadan besar. Pikiran adalah bibit dari tindakan. Semua ini membuat setiap orang Kristen hidup layaknya seorang martir yang menderita, khususnya ketika Iblis membuatnya semakin menjadi-jadi.

Dalam kondisi yang demikian, tidaklah tepat jika kita berpikir bahwa pikiran-pikiran jahat itu berasal dari natur kita sendiri, dan juga, adalah salah kalau kita berpendapat bahwa karena itu alamiah, maka wajar jika kita memikirkannya. Kita harus mengerti bahwa natur, yang berasal dari tangan Allah, tidak membuahkan pemikiran-pemikiran semacam itu. Jiwa, yang diinspirasi oleh Allah, tidak menghembuskan nafas yang menjijikkan. Namun, karena jiwa kita dikhianati oleh dirinya sendiri karena dosa, maka adalah hal yang wajar jika kita memiliki pikiran-pikiran yang hina dan menjadi tungku perapian yang memercikkan api yang jahat itu. Dan itu semua akan memperparah keberdosaan yang telah berakar begitu dalam dan menyebar begitu luas di dalam sifat kita.

Menyadari betapa luas dan dalamnya dosa kita akan membuat kita merasa begitu menjijikkan. Namun, kenyataan bahwa kita tidaklah gembira setiap kali pikiran-pikiran jahat itu timbul dari benak kita, mengajarkan kita satu hal: yaitu kita tidak sendirian dalam hal ini. Kita seringkali tergoda untuk berpikir bahwa hanya kita yang mengalaminya, dan banyak yang putus asa karena pemikiran itu, namun sesungguhnya tidaklah demikian. Banyak yang berkata, “Tidak ada orang yang memiliki sifat yang begitu menjijikkan ini selain aku.” Orang-orang berpikir demikian karena mereka tidak menyadari betapa luasnya dosa awal (original sin) telah menyebar, karena apakah yang dapat timbul dari hal yang najis selain hal yang najis? Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu (Amsal 27:19), setidaknya apabila tidak ada anugerah untuk mengubahnya.

Sebagaimana gangguan-gangguan lain yang berasal dari Iblis, jalan terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyampaikan pengaduan kita kepada Kristus, dan berseru bersama-sama Paulus:

Aku, manusia celaka!
Siapakah yang akan melepaskan aku dari TUBUH MAUT ini?
(Roma 7:24)

Setelah ia meluapkan segala kesengsaraannya itu kepada Kristus, ia segera menemukan kedamaian dan ucapan syukur, “Syukur kepada Allah!” (Roma 7:25). Dan hal baik yang dapat dipetik dari semua ini adalah kita akan semakin membenci tubuh maut ini, dan akan datang semakin dekat kepada Allah, sebagaimana pemazmur yang awalnya berkata “aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu” (Mazmur 73:22), akhirnya berubah dan berkata, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.” (Mazmur 73:28). Dengan cara ini, kita menjaga hati kita untuk tetap dekat dengan Allah dan membumbuinya dengan perenungan sorgawi di pagi hari. Kita menyimpan hal-hal yang baik sehingga hati kita menjadi perbendaharaan yang baik sembari kita terus memohon agar Roh Kristus yang Kudus melenyapkan arus terkutuk dari pikiran-pikiran najis itu, dan agar Ia menjadi mata air hidup yang mengalirkan pikiran-pikiran yang baik ke dalam hati kita.

Tidak ada hal lain yang lebih mempermalukan jiwa orang-orang kudus, yang keinginannya adalah untuk bersuka di dalam Allah, setelah mereka melepaskan diri dari kecemaran dunia, selain hal-hal najis yang tinggal di dalam diri mereka, sebab itu semua sangatlah bertentangan dengan Allah, yang adalah Roh yang murni.  Namun, hal yang sangat mengusik itupun akan menjadi penghiburan bagi orang-orang percaya pada akhirnya. Sebab segala kenajisan itu akan memaksa jiwa kita untuk berlatih secara rohani, untuk lebih waspada, dan untuk berjalan dekat dengan Allah. Itu semua akan mendesak jiwa kita untuk memikirkan hal-hal yang lebih tinggi, seperti kebenaran Allah, karya Allah, persekutuan orang-orang kudus, rahasia kesalehan, takut akan Allah, keistimewaan status orang Kristen, dan kehidupan yang berpadanan dengan semua itu. Itu semua akan membuat kita menyadari betapa kita membutuhkan anugerah yang membersihkan dan mengampuni kita hari demi hari, dan membuat kita sadar akan pentingnya hidup di dalam Kristus sehingga pada akhirnya semua pencobaan itu akan membuat kita lebih sering berlutut di hadapan Alllah.

Penghiburan kita yang terutama adalah ini, yaitu bahwasanya Juruselamat kita, sebagaimana Ia memerintahkan Iblis untuk enyah dari pada-Nya setelah Ia membiarkan keangkuhannya untuk sementara waktu (Matius 4:10), demikianlah Ia juga akan memerintahkan ia untuk pergi dari kita ketika waktunya telah tepat untuk kita. Dengan sepatah kata dari-Nya, Iblis akan segera pergi dari kita. Dan Kristus mampu dan ingin, di dalam waktu-Nya, untuk menegur hati kita yang memberontak kepada-Nya, dan Ia akan menaklukkan segala pikiran yang berasal dari dalam diri kita untuk tunduk kepada-Nya (2 Korintus 10:4).

Diterjemahkan dengan beberapa adaptasi dari buku The Bruised Reed, oleh Richard Sibbes

 *Jika Anda cukup kesulitan dalam memahami beberapa kalimat di dalam tulisan di atas, kemungkinan besar kesalahan bukan terletak pada Anda. Kesalahan ada pada penulis yang mengalami kesulitan dalam menerjemahkan teks yang ditulis dalam Bahasa Inggris klasik abad ke-16 yang cukup berbeda dengan Bahasa Inggris modern yang kita kenal saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sibbes

Sama seperti beberapa Puritan yang lain, Richard Sibbes berasal dari keluarga yang sederhana. Ia lahir di Desa Tostock, Suffolk, pada tahun 1577. Ayah Sibbes, Paul Sibbes, bekerja sebagai seorang pembuat roda. Paul mengharapkan anaknya untuk melanjutkan usahanya tersebut. Namun, Richard yang sejak kecil telah menunjukkan kecintaannya yang besar terhadap buku ini tidak memenuhi harapan ayahnya tersebut. Pada usia delapan belas tahun, Richard berkuliah di St. John’s College di Cambridge. Pada tahun 1599, ia berhasil lulus dengan gelar Bachelor of Arts dan tiga tahun berikunya, ia menyelesaikan pendidikan magisternya dan mendapat gelar Master of Arts.

Pada tahun 1603, yakni di usianya yang ke 25-26 tahun, Richard Sibbes bertobat dan menyerahkan dirinya pada Tuhan Yesus Kristus. Ia mengalami mujizat lahir baru oleh kuasa Roh Kudus setelah mendengar khotbah Paul Baynes, yang Sibbes sebut sebagai ayahnya dalam Injil. Paul Baynes sendiri adalah seorang Puritan yang cukup dikenal melalui tafsirannya untuk Surat Efesus dan ia merupakan penerus dari William Perkins, Bapak Para Puritan, di gereja St. Andrews di Cambridge.

Pada tahun 1608, Sibbes ditunjuk untuk melayani di Church of England di Norwich. Pada tahun 1611 hingga 1616, ia ditunjuk untuk menjadi pendeta di Gereja Holy Trinity di Cambridges. Khotbah-khotbah Sibbes membangunkan kerohanian di Cambridge yang telah lama pudar semenjak wafatnya William Perkins. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke gereja untuk mendengarkan Sibbes berkhotbah. Saking banyaknya simpatisan yang hadir, galeri tambahan harus dibangun di gereja tersebut sehingga jemaat yang datang dapat dilayani dengan baik. Puritan John Cotton dan Hugh Peters bersaksi bahwa mereka bertobat berkat khotbah-khotbah yang Sibbes sampaikan.

Berkat pengaruh teman-temannya, pada tahun 1617, Sibbes dipercaya untuk menjadi pengkhotbah di Gray’s Inn, London. Gray’s Inn ini merupakan satu dari empat Inns of Court yang masih ada hingga saat ini dan merupakan pusat studi hukum yang paling penting di Inggris. Pada tahun 1626, selain melayani di Gray’s Inn, Sibbes juga menjadi kepala di St. Catherine’s College, Cambridge. Di bawah pimpinannya, kampus itu menjadi lebih baik dibanding keadaan sebelumnya. Tidak lama setelah itu, Sibbes menerima gelar Doctor of Divinity di Cambridge. Ia kemudian sering dijuluki sebagai “The Heavenly Doctor” karena khotbah-khotbahnya yang Alkitabiah, penuh dengan hadirat Allah, dan hidupnya yang saleh. Mengenai Sibbes, Izaac Walton, rekannya, pernah memberikan testimoni:

Kepada pria yang diberkati ini, biarlah pujian ini diberikan:
Surga sudah ada di dalam dia, sebelum dia berada di surga.

Pada tahun 1633, Raja Charles I menunjuk Sibbes untuk tidak hanya berkhotbah di gereja Holy Trinity, tetapi juga untuk memimpin gereja tersebut. Hingga dua tahun kemudian, yaitu tahun di mana Richard Sibbes wafat, ia tetap melayani sebagai pendeta di Gray’s Inn, sebagai kepala di St. Catherine’s Hall, dan sebagai vikaris di Holy Trinity. Seminggu sebelum Sibbes wafat, ia berkhotbah dari Yohanes 14:2, yaitu:

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Ketika pada hari terakhirnya ditanyai tentang apa yang ia rasakan, Sibbes menjawab, “Aku akan sangat bersalah kepada Allah kalau aku tidak menjawab, Sangat Baik!” Richard Sibbes wafat pada 06 Juli 1635, di usianya yang ke-58 tahun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kehidupan Richard Sibbes merupakan kehidupan yang begitu diberkati oleh Tuhan dan begitu menjadi berkat bagi orang-orang percaya di sekitarnya. Ia menjalani hidup yang efektif dan produktif menghasilkan buah-buah bagi Kerajaan Allah. Selama hidupnya, Richard Sibbes tidak pernah menikah. Sekalipun begitu, tidak berarti bahwa ia sendirian dan tidak memiliki penolong. Tuhan memberkati Richard Sibbes dengan persahabatan yang erat dan koneksi yang luas dengan rekan-rekan sesama hamba Tuhan, dengan para pakar hukum yang ternama, serta dengan beberapa pejabat di parlemen. Kehadiran mereka, sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan iman Sibbes dan kemajuan pelayanannya. Sibbes menulis pengantar untuk paling tidak tiga belas buku yang ditulis oleh rekan-rekannya, yang juga adalah para Puritan. Ini menunjukkan Richard Sibbes sebagai seseorang yang dapat dipercaya dan merupakan teman yang baik. Mengenai teman-teman sepelayanannya, Sibbes mengatakan sesuatu yang sangat penting untuk kita renungkan:

Sibbes

Semua itu merupakan salah satu tanda bahwa iman yang ada pada Sibbes adalah iman yang sejati dan bahwa ia sungguh-sungguh telah menerima anugerah keselamatan dari Allah. Sebab seperti kata Rasul Yohanes, orang yang sungguh-sungguh lahir dari Allah, pasti akan mengasihi saudari-saudari seiman dengan kasih yang sejati, yaitu kasih Kristus (1 Yohanes 4:7).

Dibanding para Puritan yang lain, yang seringkali terlibat dalam konflik doktrinal yang cukup panas dengan para pengajar yang menyampaikan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab, Richard Sibbes relatif lebih cinta damai. Di masa yang penuh dengan pergolakan, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontroversi. Namun, itu tidak berarti bahwa ia adalah orang yang rela berkompromi dengan ajaran yang salah. Ia dengan tegas menentang William Laud yang pada saat itu menjabat sebagai Archbishop (bishop tertinggi di Inggris). Ia juga secara umum menentang ajaran-ajaran gereja Katolik Roma dan Arminianisme. Di saat yang sama, Richard Sibbes juga menjadi inspirasi dan teladan bagi rekan-rekannya. Tiga denominasi gereja terbesar di Inggris saat itu, yakni Anglikan, Presbiterian, dan Independen, menikmati pengaruh baik darinya. Ia adalah “pendetanya para pendeta”, seorang pengkhotbah kenamaan yang lemah lembut dan rendah hati.

Richard Sibbes dikenal terutama karena khotbah-khotbahnya yang berfokus pada Kristus dan persuasif. Beberapa teolog dan sejarawan gereja menyebut khotbah-khotbah Sibbes sebagai persuasi yang paling brilian dan popular di antara seluruh Puritan. Menurut Sibbes, berkhotbah adalah sebuah pembujukan. Baginya, cakupan utama dari sebuah khotbah adalah untuk memikat pendengarnya kepada penghiburan yang hanya akan ditemukan di dalam pemerintahan Kristus yang lembut, aman, bijaksana, dan jaya.

Sibbes

Seperti para Puritan lainnya, Richard Sibbes juga menulis buku. Karya Sibbes yang paling terkenal, mungkin, adalah The Bruised Reed yang mengeksposisi secara mendalam Yesaya 42:3, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.” Richard Baxter mengatakan bahwa tulisan Sibbes ini berpengaruh besar dalam pertobatannya. Martyn-Lloyd Jones, pengkhotbah yang dipakai Tuhan luar biasa pada abad-20, yang juga adalah pengkhotbah favorit saya, pernah berkata:

“Saya tidak akan pernah berhenti berterima kasih kepada Richard Sibbes yang telah menjadi balsam bagi jiwa saya di saat-saat ketika saya terlalu banyak bekerja dan terlalu letih sehingga saya menjadi rentan pada serangan iblis. Di saat-saat yang demikian, Richard Sibbes, yang dikenal di London pada permulaan abad ke-17 sebagai Heavenly Doctor Sibbes, menjadi remedi yang tidak habis-habisnya. The Bruised Reed menenangkan, menghibur, menguatkan, dan menyembuhkan saya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sibbes (2)

Mengapa pria yang sederhana, yang menjalani hidup selibat, dan yang masa hidupnya begitu singkat (wafat di usia 58 tahun) seperti Richard Sibbes bisa begitu berdampak di dalam Kerajaan Allah? Ada beberapa hal utama di dalam kehidupan dan pelayanan Sibbes, yang menjadikannya demikian:

  • Khotbah-khotbah Sibbes sangatlah berfokus pada Kristus. Khotbah yang demikian cukup langka untuk ditemui di zaman ini.
  • Pikiran Sibbes penuh dengan Alkitab. Buku Sibbes yang berjudul The Bruised Reed sangat berlimpah dengan kutipan-kutipan firman Allah. Ini menunjukkan kecintaan dan keyakinan Sibbes kepada firman Allah serta kerendahan hatinya untuk menyadari bahwa apa yang dunia ini butuhkan bukanlah opini atau motivasi yang bersumber dari pemikiran-pemikiran manusia yang terbatas dan seringkali bernoda dengan dosa, melainkan pemikiran Allah sendiri yang tertuang di dalam firman-Nya.
  • Kasihnya untuk orang-orang kudus serta persekutuan dan kerjasama yang sangat baik yang ia jalin dengan saudara-saudara seiman. Hal ini merupakan hal yang sangat memperkenankan hati Tuhan. Ya, kesatuan di dalam tubuh Kristus merupakan salah satu prioritas paling tinggi yang Tuhan kita kehendaki untuk gereja-Nya sebagaimana doa-Nya kepada Bapa, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11).
  • Richard Sibbes menjalani hidup yang kudus dan saleh. Kebergunaan kita di tangan Allah demi Kerajaan-Nya dan demi kebaikan umat-Nya berbanding lurus dengan kekudusan hidup yang kita jalani sebagaimana firman Allah dalam 2 Timotius 2:21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

Sibbes

Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Richard Sibbes. Kita memang tidak perlu berusaha menjadikan diri kita seperti Sibbes namun itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu belajar dari teladannya. Justru sebaliknya, kita sangat perlu meneladani iman dan ketaatan di dalam hidup Sibbes. Dan tidak hanya Richard Sibbes, ada begitu banyak orang kudus di sepanjang sejarah gereja, misalnya para Puritan, yang dapat dan perlu kita teladani sebagaimana firman Allah berkata:

Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu,
yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu.
Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.
(Ibrani 13:7)

Akan tetapi, tentu tidaklah bijaksana jika kita hanya belajar sejarah mengenai saudara-saudara yang telah mendahului kita itu. Kita perlu berdoa kepada Allah agar Ia menguatkan hamba-hamba-Nya untuk berdiri dan memberitakan kasih dan kebenaran-Nya di zaman yang jahat ini dan agar Ia memenuhkan setiap kita dengan harta terindah yang dapat diberikan oleh Bapa kepada kita, yaitu Roh Kristus, sehingga seperti kata Sibbes:

Sibbes

Amin

*Teman-teman, bacalah karya para Puritan

Pustaka:
http://www.monergism.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s