Memandang pada Yesus, oleh Isaac Ambrose

Oh, alangkah istimewanya hak yang tersedia ketika kita memandang pada Yesus. Inilah hal-hal yang tersedia bagi kita ketika kita hidup di dalam disiplin ini:

1) Kristus memberikan kepuasan kepada mereka yang memandang-Nya. Seperti mutiara memuaskan pedagang di dalam perumpamaan (Matius 13:44-46), demikianlah Kristus memuaskan jiwa umat-Nya. Mereka yang memandang Yesus dengan benar, dapat berkata seperti Yakub, “Aku mempunyai segala-galanya (Kejadian 33:11).”

2) Kristus memberikan kemuliaan kepada mereka yang memandang-Nya. Dia adalah permulaan dan obyek dari kemuliaan mereka. Dia adalah kemuliaan dari pembenaran mereka, sebagaimana pakaian adalah kemuliaan dari dia yang memakainya. Dia adalah kemuliaan dari penebusan mereka, sebagaimana penebus adalah kemuliaan dari dia yang tertawan. Dia adalah segala-galanya bagi mereka, “yang kepada-Nya mereka akan menyerahkan segala hormat, kemuliaan, dan kuasa, dan puji-pujian (Wahyu 5:13).”

3) Kristus memberikan damai sejahtera kepada mereka yang memandangnya. “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus (2 Korintus 5:19).” Mereka yang mendengar Kristus di dalam firman-Nya, atau yang memandang kepada Kristus dengan mata iman, memiliki damai sejahtera, sebab Kristuslah yang mewahyukan dan mengerjakan damai sejahtera di dalam seluruh anak-anak damai sejahtera.

4) Kristus memberikan hidup kepada mereka yang memandang-Nya. “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup (1 Yohanes 5:12).” Dia yang memiliki Kristus di dalam hatinya memiliki hidup yang penuh anugerah, dan ia sungguh-sungguh memiliki kemuliaan hidup itu.

5) Kristus membuat mereka merasakan kebaikan-Nya. Mereka tidak dapat melihat-Nya namun Ia membuat mereka bersukacita dengan merasakan hadirat-Nya dan Roh-Nya, dan inilah yang kemudian akan menjadi, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Efesus 5:19).” Anugerah iluminasi (penerangan), regenerasi (kelahiran kembali), pengudusan, penghiburan, dan kebebasan rohani mengalir dari Kristus kepada jiwa orang-orang kudus-Nya, yang mana semua ini tersembunyi dari orang-orang yang hidup di dalam daging, yang belum pernah mengecap air hidup.

6) Kristus menaruh di dalam hati mereka benih kasih untuk mengasihi-Nya dengan tulus. Ketika dengan mata iman mereka memandang-Nya, hati mereka akan terbakar oleh api cinta. Demikianlah kemesraan antara Kristus dengan jiwa mereka, yakni seperti kasih di antara pasangan yang saling mencintai: kasih mereka kepada Kristus adalah seperti kasih Yonatan kepada Daud, kasih yang luar biasa, melampaui kasih para wanita. Mereka mengasihi-Nya sebagai mempelai pria yang kepada-Nya mereka akan menyerahkan hidup mereka, sebagai mutiara pilihan yang dengan-Nya mereka diperkaya, sebagai mentari yang menghiburkan, yang dengan pancaran sinar-Nya mereka dihiburkan, dan sebagai sumber mata air yang oleh-Nya hati mereka disegarkan dan hasrat mereka dipuaskan.

7) Kristus membuat mereka mampu merasakan kasih-Nya kepada mereka. Mereka tidak dapat memandang-Nya tanpa melihat bahwa Ia mengasihi jiwa mereka, mereka memandang-Nya membalut hati mereka yang remuk, mereka memandang-Nya, seperti Yakub, bekerja di panas terik dan dinginnya malam untuk Rahel; bekerja di tengah-tengah penderitaan, mulai dari palungan hingga salib-Nya, untuk mendapatkan “istri” bagi diri-Nya.

8) Kristus memberikan pengalaman akan kuasa-Nya kepada mereka. Mereka yang memandang kepada Kristus, merasakan kuasa-Nya di dalam jiwa mereka untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan Iblis, menyembuhkan penyakit rohani mereka, menopang dan menguatkan mereka di dalam berbagai-bagai penderitaan, dan memenuhkan jiwa mereka dengan kuasa dari sorga.

9) Kristus membuat mereka merasakan kebutuhan akan kebaikan-Nya. Di dalam memandang Yesus, mereka memandang diri mereka sendiri menyedihkan, mereka memandang hal-hal lain sebagai penghibur yang menyedihkan pula: mereka juga memandang keindahan Kristus melampaui keindahan bunga mawar dari Saron dan bunga bakung di lembah-lembah (Kidung Agung 2:1). Ia hadir kepada mereka dengan keindahan yang melampaui keindahan bunga-bunga di padang, melampaui semua batu permata di dunia, melampaui semua cahaya di cakrawala, dan melampaui semua orang kudus dan malaikat di sorga. “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya (Mazmur 146:5)

10) Kita dapat menambahkan untuk yang terakhir, Kristus memberikan segala sesuatu kepada mereka. Kata rasul, “sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah (1 Korintus 3:21-23).”

Semua pelayan Kristus, mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, “baik Paulus, atau Apolos, atau Kefas;” mereka adalah orang-orang yang berjaga-jaga atasmu untuk keselamatanmu (Ibrani 13:17). “Dunia” adalah milikmu; tentu saja dunia ini masih ada hingga saat ini untukmu; jika seluruh umat pilihan Kristus telah genap jumlahnya, maka dunia ini akan segera dibakar oleh api. “Hidup” adalah milikmu. Kehidupan yang sekarang adalah untuk mempersiapkanmu untuk hidup yang lebih baik, yaitu untuk kekekalan. “Kematian” adalah milikmu, sebab kau akan mati hanya di waktu yang terbaik untukmu. Maut hanya akan menjadi pelayan untuk kebaikanmu. “Baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang” adalah milikmu. Ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (1 Timotius 4:8).

Aku akan menambahkan, Tuhan sendiri adalah milikmu. Lihatlah Allah, dan pandanglah Dia di dalam kemuliaan dan kuasa-Nya, ya Allah yang mulia itu, Tuhan atas dunia dan sorga adalah milikmu; Dia adalah milikmu, dan semua yang Ia punya adalah milikmu, dan segala sesuatu yang Ia lakukan adalah milikmu. Dia adalah Perbendaharaan dari semua kekayaan orang Kristen. Jika Kristus adalah milikmu, Bapa adalah milikmu, jika Kristus milikmu, Roh Kudus adalah milikmu, dan seluruh janji-Nya adalah milikmu, sebab di dalam Kristus semua itu diciptakan, dan untuk-Nyalah semua itu akan jadi. Oleh sebab itu, biarlah orang-orang sombong bermegah akan kehormatannya, orang-orang kuat bermegah akan keberaniannya, dan orang-orang kaya bermegah akan hartanya, namun biarlah orang Kristen menyatakan dirinya berbahagia, hanya berbahagia, sepenuhnya berbahagia, di dalam menikmati Kristus, di dalam “memandang kepada Yesus.”

Diterjemahkan dengan sedikit adaptasi dari buku Looking unto Jesus, karya Isaac Ambrose

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

after Unknown artist, line engraving, published 1674

Isaac Ambrose (1604-1664) adalah seorang pastor Puritan. Ayahnya, Richard Ambrose, adalah seorang pendeta dari Ormskirk, Lancashire. Pada tahun 1621, di usianya yang ke-17, Ambrose melanjutkan studinya ke Brasenose College, Oxford. Tiga tahun setelah itu, ia lulus dengan gelar Bachelor of Arts dan diteguhkan menjadi hamba Tuhan. Ambrose menjadi pendeta di Castleton, Derbyshire pada tahun 1627, kemudian di Clapham, Yorkshire di antara 1629 hingga 1631. Pada tahun berikutnya, ia lulus dari studi lanjutannya dan mendapat gelar Master of Arts dari Cambridge.

Berkat pengaruh dari William Russel, Pangeran Bedford, Ambrose ditunjuk untuk menjadi salah seorang pengkhotbah keliling di daerah Lancashire. Tugas yang diembannya adalah untuk mengajarkan doktrin-doktrin Protestan di daerah-daerah yang sangat terpengaruh oleh ajaran Katolik Roma. Tidak lama setelah itu, Ambrose menikah.

Pada sekitar tahun 1640, Lady Margaret Hoghton memilih Ambrose untuk menjadi pendeta di gereja St. John di Preston. Selama tinggal di Preston, ia berhubungan baik dengan keluarga Hoghton. Setiap bulan Mei, Ambrose biasa mengambil waktu cuti dan tinggal di hutan atau menara milik keluarga Hoghton untuk membaca Alkitab, berdoa, dan merenungkan Allah. Khotbah Ambrose yang diberinya judul “Menebus Waktu” yang ia khotbahkan pada upacara pemakaman Lady Hoghton menjadi ingat-ingatan bagi warga Lancashire.

Pada masa reformasi, banyak orang di Preston, terutama orang-orang dari golongan atas, yang memeluk ajaran Katolik Roma. Ketika terjadi perang sipil di Inggris, Preston memilih untuk berpihak kepada raja. Sekalipun begitu, Ambrose yang adalah seorang Puritan Presbitarian cenderung berpihak kepada Parlemen.

Pada masa itu, Preston menjadi salah satu medan tempur antara pihak raja dan parlemen. Ambrose sempat dua kali dipenjarakan, yakni pada November 1642 dan Maret 1643, karena paham Presibitarianisme yang ia peluk. Namun, tidak lama setelah penahanannya, Ambrose dibebaskan kembali karena hubungan baiknya dengan keluarga Hoghton dan bangsawan lainnya serta karena reputasinya yang baik sebagai seorang yang saleh. Pada Mei 1644, Bolton jatuh ke tangan royalis (orang-orang yang berpihak pada raja). Hal ini memaksa Ambrose untuk mengungsi ke Leeds. Pada tahun 1648, pasukan Oliver Cromwell berhasil menaklukkan tentara royalis di Preston dan kemenangan itu mengakhiri perang sipil kedua.

Paham presbiterianisme berkembang dengan cukup baik di Lancashire oleh pelayanan Ambrose pada rentang tahun 1640 hingga awal 1650. Beberapa kali ia dipercaya menjadi moderator untuk Lancashire classis dan pada tahun 1648, ia ikut menandatangani Harmonious Consent beserta para pemimpin Presbiterian di Lancashire untuk menyatakan solidaritas dengan Westminster Assembly. Pada tahun 1649, untuk seketika waktu lamanya, ia dimasukkan ke dalam penjara dan setelah ia kembali untuk melayani di Preston, ia harus berhadapan dengan penganiayaan yang berat. Pada tahun 1654, selain karena tantangan dari banyak pihak, penyakit yang dideritanya membuat Ambrose memutuskan untuk melepaskan pelayanannya di Preston.

Dari sana, pada tahun 1657, Ambrose pindah ke daerah Garstang. Di sana, ia kembali melayani sebagai pendeta di suatu gereja. Namun, pada tahun 1662, karena Act of Conformity, Ambrose dan para pendeta Puritan lainnya harus merasakan pahitnya diusir dari gereja tempat mereka melayani, karena keengganan mereka untuk patuh pada Church of England yang menurut mereka telah banyak menyimpang dari ajaran Alkitab yang benar. Ambrose menjalani kehidupan pensiunnya di Preston sebagai seorang nonconformist. Pada 23 Januari 1664, ia pulang ke rumah Allah karena penyakit stroke yang dideritanya.

Mengenai Ambrose, orang-orang berkata, “Di dalam hidup ia kudus, di dalam mati ia bahagia, terhormat di hadapan Allah, dan dihormati oleh semua orang baik.” Edmund Calamy, seorang Puritan yang juga dikenal cukup baik hingga saat ini, pernah berkata:

Ambrose adalah seorang pria yang memiliki nilai hidup yang berharga, kesalehan yang tersohor, dan hidup yang patut diteladani, baik sebagai seorang hamba Tuhan maupun sebagai seorang Kristen, sehingga adalah hal yang patut disesalkan apabila dunia tidak dapat menikmati manfaat dari kenangan-kenangan akan dia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ambrose

Selain melayani sebagai seorang pendeta, Isaac Ambrose juga adalah seorang penulis, seperti rekan-rekannya Puritan yang lain. Dari segi karunia dan keterampilan dalam menulis, Ambrose mirip dengan Thomas Watson yang memenuhi karya tulisnya dengan imajinasi yang segar namun jelas. Banyak orang, yang sekalipun tidak bersimpati pada ajaran-ajaran Puritan, tetap mengapresiasi keindahan dan kedalaman tulisan-tulisan Ambrose. Buku pertama yang ia tulis berjudul “Prima and Ultima” (1640). Prima menjelaskan tentang regenerasi atau lahir baru sementara Ultima membahas tentang kematian, penghakiman, surga, neraka, serta pandangan yang Alkitabiah mengenai api penyucian. Karya ini kemudian dilanjutkan dengan “Media” yang ditulis sepuluh tahun berikutnya. Di dalam Media, Ambrose banyak membahas tentang satu tahap dalam keselamatan, yaitu pengudusan (sanctification). Di sini, ia menjelaskan tentang tugas-tugas yang harus dijalankan oleh setiap orang percaya untuk bertumbuh di dalam anugerah serta untuk bersatu dan bersekutu lebih erat dengan Kristus.

Magnum opus (karya terbesar) Ambrose adalah Looking Unto Jesus yang ia tulis pada tahun 1658. Di dalam buku ini, ia memaparkan Kristus dalam sembilan perspektif, yaitu: mengenal Yesus, mempertimbangkan Yesus, menginginkan Yesus, berharap pada Yesus, percaya pada Yesus, mencintai Yesus, bersukacita di dalam Yesus, memanggil Yesus, serta menjadi serupa dengan Yesus di dalam aspek-aspek pelayanan-Nya. Buku ini menerima apresiasi yang sangat baik bahkan hingga saat ini dan popularitasnya menyamai tulisan-tulisan John Bunyan atau surat-surat Samuel Rutherford. Selama ia hidup, Ambrose menulis berbagai pengalaman rohaninya bersama Allah di dalam buku harian. Sayang sekali, buku-buku harian tersebut tidak dapat dipertahankan hingga saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ambrose

Memang benar bahwa tidak banyak hal yang dapat kita kenal dari sosok Isaac Ambrose. Hal ini, sayangnya, tidak terlepas dari kesalahan kita, sebagai tubuh Kristus di segala zaman, yang lalai dalam memelihara dan meneruskan karya-karya terbaik dari para pendahulu kita. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, puji syukur kepada Allah, kita masih bisa mengenalnya dan masih bisa menikmati berkat Allah yang Ia sampaikan melalui tulisan tangannya. Dan dari semua itu, kita dapat melihat beberapa hal utama yang menandai hidup dan pribadi Ambrose yang dapat kita teladani demi menjadi pelayan Tuhan yang Ia pakai untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan menjadi berkat bagi umat-Nya. Teladan-teladan tersebut, antara lain:

1) Kehidupan dan pelayanan yang berfokus pada Kristus

Ini merupakan hal yang paling penting di dalam kehidupan Kristen yang kita jalani dan juga di dalam pelayanan kita yang lakukan. Ambrose mengawali bukunya yang sangat terkenal, Looking Unto Jesus, dengan perkataan yang fenomenal. Ia menulis:

Ambrose2

Pengakuan yang seperti ini, mungkin, sudah cukup asing kita dengar saat ini. Jangankan tulisan tentang Kristus, khotbah yang benar-benar berfokus tentang Diapun semakin hari semakin jarang kita dengar. Fokus banyak orang Kristen tidak lagi terletak pada Kristus. Sebagai gantinya, banyak orang yang berfokus pada masalah-masalah sosial, berkat-berkat Allah, aktivitas pelayanan dan penginjilan, atau karunia-karunia Roh Kudus. Tentu saja semua itu bukanlah hal yang buruk untuk dibahas oleh orang-orang Kristen. Namun, ketika semua hal tersebut ditempatkan lebih tinggi dibanding Kristus, kita tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Tetapi tidaklah demikian dengan Isaac Ambrose dan para Puritan lainnya. Kristus merupakan pusat dari teologi dan devosi mereka. Ambrose menulis:

“Kristus adalah kepenuhan dari kebahagiaan manusia –  Mentari untuk meneranginya, Tabib untuk menyembuhkannya, Tembok Api untuk melindunginya, Sahabat untuk menenenangkannya, Mutiara untuk menjadikannya kaya, Bahtera untuk melindunginya, dan Batu Karang untuk menopangnya menghadapi tekanan yang paling berat. Ia adalah tangga antara bumi dan sorga, Perantara antara Allah dan manusia, sebuah misteri yang ingin diketahui oleh para malaikat.”

2) Hidup di dalam kekudusan

Di dalam 2 Timotius 2:21, Firman Tuhan berkata, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” Kekudusan merupakan syarat mutlak untuk pelayanan yang berkenan kepada Allah. Seorang Kristen yang berkomitmen untuk melayani Allah namun tidak siap untuk menjaga kekudusan hidup, tidak akan menjadi alat yang efektif di tangan-Nya. Sebaliknya, seorang pelayan yang bergantung pada penyertaan Roh Kudus dan tekun menjalankan hidup yang kudus di hadapan Allah akan menjadi alat yang perkasa di tangan Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Hal inilah yang menjadi prinsip hidup bagi Ambrose. Perihal pentingnya kekudusan, Ambrose pernah mengatakan perkataan yang sangat tegas:

Ambrose

Ya, kedagingan merupakan hal yang sangat berbahaya bagi hidup yang kudus. Dan tentu saja, disiplin untuk hidup di dalam kekudusan tidak boleh dipisahkan dari prinsipnya yang utama yang adalah pemusatan hidup pada Kristus. Ambrose menulis:

“Jiwa manusia memiliki standar yang terlalu tinggi untuk dapat dipuaskan oleh hal-hal duniawi. Ia tidak dapat dipuaskan oleh para malaikat, melainkan oleh Allah sendiri. Ia melelahkan dirinya sendiri dengan melihat banyak hal namun tetap saja menginginkan hal-hal lain; namun ketika ia melihat kemuliaan Kristus, jiwanya akan tenang sepenuhnya dan dipuaskan.”

Kekudusan yang sejati di dalam hidup kita berasal dari Kristus, ditopang dan dipelihara oleh Kristus, dan pada akhirnya ditujukan untuk kemuliaan Kristus.

Ambrose

3) Disiplin mempelajari firman Allah, merenungkan Allah, dan berlibur bersama Allah

Pemazmur pernah berkata, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik (Mazmur 84:11).” Pengakuan yang demikian terbukti dari kehidupan Tuhan Yesus selama Ia melayani di bumi. Setelah selesai melakukan pelayanan yang cukup melelahkan, Ia sering menarik diri dari kerumunan orang untuk berdoa kepada Allah Bapa. Itulah rekreasi bagi Tuhan kita. Bagi-Nya, peristirahatan dan kenyamanan yang sejati tidak ditemukan pada hal-hal yang fana, melainkan hanya pada persekutuan yang intim dengan Allah di dalam doa dan perenungan.

Inilah yang juga dipraktekkan dengan disiplin oleh Isaac Ambrose. Seperti telah dibahas sebelumnya, ketika ia melayani di Preston, setiap bulan Mei ia mengambil waktu cuti dan tinggal di hutan atau menara milik keluarga Hoghton di mana ia akan menghabiskan waktunya untuk membaca Alkitab, berdoa, dan berkontemplasi merenungkan Allah. Dengan kacamata orang-orang masa kini, hal ini tentu saja terlihat tidak produkti dan membuang-buang waktu. Tetapi sungguh tidaklah demikian. Beristirahat dan berdua-duaan bersama Allah di waktu yang telah dikhususkan merupakan disiplin rohani yang sangat penting bagi semua orang Kristen.

Allah tidak menghendaki umat-Nya untuk menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja, bahkan untuk terus menerus tanpa istirahat bekerja di ladang pelayanan-Nya. Ia menyediakan hari Sabat di mana mereka dapat beristirahat dan menggunakan kelimpahan waktu istirahat itu untuk merenungkan Allah dan bersekutu dengan-Nya. Waktu peristirahatan bersama Allah tentu saja tidak terbatas pada satu hari di dalam satu minggu. Kapanpun waktu yang ada, asalkan waktu tersebut telah dikhususkan hanya untuk berdoa, merenungkan Allah, dan mempelajari firman-Nya, maka waktu itu adalah waktu peristirahatan yang di dalamnya Allah telah menyediakan berkat, karunia, dan sukacita yang berlimpah-limpah. Jika kita hidup dan setia di dalamnya, maka Allah akan memberkati kita dan menjadikan kita alat yang mulia untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Ambrose

4) Sikap yang benar terhadap kebenaran dan kesatuan di dalam tubuh Kristus

Kesatuan merupakan hal yang sangat penting di dalam tubuh Kristus. Rasul Paulus menulis, “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera (Efesus 4:3).” Tuhan Yesus juga, ketika Ia berdoa syafaat bagi domba-domba-Nya kepada Bapa di taman Getsemani, berkali-kali memohonkan “supaya mereka menjadi satu” (Yohanes 17: 11, 21, 22, 23). Oleh sebab itu, seluruh orang percaya harus berdoa dan dengan sekuat tenaga memperjuangkan kesatuan dan kasih di dalam gereja Kristus. Dan itulah yang juga dikerjakan oleh Ambrose di dalam hidupnya. Ia adalah seorang yang cinta damai. Di tengah-tengah situasi yang penuh dengan konflik teologis, ia berusaha sebisa mungkin menjauhi isu-isu yang kontroversial.

Namun, sekalipun menjunjung tinggi kesatuan di dalam gereja Tuhan, Ambrose bukanlah orang yang siap menerima semua ajaran dan penyimpangan yang masuk ke dalam gereja. Baginya, kesatuan yang sejati hanya akan terjalin jika didirikan di atas dasar kebenaran. Ya, kebenaran harus diutamakan lebih dari kesatuan. Mengapa? Sebab Iblis juga dapat memalsukan kesatuan di antara orang Kristen namun Iblis tidak akan pernah dapat memalsukan kebenaran. Itulah sebabnya, Ambrose memilih untuk tetap menjadi Puritan yang nonconformist terhadap peraturan Church of England sehingga dalam peristiwa The Great Ejection, ia termasuk di antara ribuan pendeta yang harus diusir dari gereja tempat mereka melayani. Ia tidak mau bertoleransi pada ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab.

Itulah sedikit dari hidup dan pelayanan Isaac Ambrose yang patut kita teladani. Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Ambrose, yakni hamba Tuhan yang senantiasa memandang kepada Yesus. Oleh sebab itu, marilah kita dengan setia dan tekun berdoa agar Allah membangkitkan hamba-hamba Tuhan yang demikian dan agar Dia juga menjadikan kita hamba yang demikian sebab seperti kata Tuhan dan Juruselamat kita, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).”

Ayat - Ibrani 12 2

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s