Bait Allah dan Persembahan Manusia, yang Sejati

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
“Katakanlah kepada orang Israel,
supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus;
dari setiap orang yang terdorong hatinya,
haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu.”

Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka:
emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga; minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.

Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.
(Keluaran 25:1-9)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagian ini merupakan salah satu bagian yang terindah di dalam kisah perjalanan bangsa Israel yang telah terbebas dari bangsa Mesir menuju ke Tanah Kanaan. Di dalam kasih yang teramat sangat besar, TUHAN tidak hanya berniat untuk membebaskan bangsa Israel dan memimpin mereka ke tanah perjanjian, tetapi Ia juga bermaksud untuk “diam di tengah-tengah mereka” (ayat 8). Ini merupakan anugerah yang luar biasa. Allah mau tinggal di bumi? Allah mau diam di tengah-tengah umat-Nya? Allah mau bersama-sama bangsa Israel diam di tengah padang gurun itu? Ya. Bukankah ini menunjukkan kasih, kemurahan, kebaikan, dan kerendahan hati Allah yang tiada batas? Ya, itulah TUHAN yang sejati, Allahku dan Allahmu, Allah kita. Ia bukan hanya Allah yang “jauh di sana” tetapi Ia juga adalah Allah yang “beserta kita.”

Namun, Ia memiliki syarat untuk tinggal bersama bangsa Israel. Ia mau diam di tengah-tengah mereka di suatu tempat yang kudus bagi-Nya, yaitu Kemah Suci atau Tabernakel, yang dibangun menurut rancangan-Nya dan dipenuhi dengan segala perabot menurut pilihan-Nya. Dan untuk membuat Kemah Pertemuan tersebut, Allah menghendaki bangsa Israel untuk memberikan persembahan khusus di hadapan-Nya, yang berupa emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba, kayu penaga, minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.

Nampaknya, semua barang itu adalah barang yang memiliki nilai yang tinggi. Sekalipun demikian, adalah hal yang sangat wajar jika Allah meminta semua itu dari umat-Nya. Apalagi pada dasarnya bangsa Israel, yang menjadi budak di tanah Mesir, tidak mungkin memiliki semua harta kekayaan itu jika Allah tidak menggerakkan hati orang-orang Mesir untuk memberikan semua itu kepada mereka (Keluaran 3:21-22, 12:35-36). Namun, ada satu hal yang “cukup tidak wajar” di dalam firman ini, yaitu ketika Tuhan kita berkata:

Katakanlah kepada orang Israel,
supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus;
dari setiap orang yang terdorong hatinya,
haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu.
(Keluaran 25:2)

Terdorong hatinya…?

Ya TUHAN, mengapa Engkau mengatakan, “yang terdorong hatinya”?
Engkaulah Pemilik semua harta itu.
Engkaulah Pemilik segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Engkau dapat mengambil semuanya itu dari bangsa Israel,
tidak peduli apakah mereka terdorong hatinya atau tidak.

Tetapi mengapa Engkau berkata, “dari setiap orang yang terdorong hatinya…” ?

Ini merupakan salah satu penyataan Allah yang luar biasa kepada umat-Nya. Ia mau umat pilihan-Nya mengenal isi hati-Nya lebih dalam lagi. Ia adalah Allah yang berdaulat. Ia mau umat-Nya tahu itu dan Iapun sudah menunjukkan hal itu. Ketika Ia meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak, Ia sama sekali tidak menyinggung tentang hati yang terdorong. Ia cukup mengatakan perintah-Nya kepada Abraham dan Ia menuntut ketaatan yang mutlak darinya. Tetapi penyataan diri Allah tidak sampai di titik itu. Ia sungguh adalah Allah yang berdaulat tetapi Ia tidak menghendaki pemerintahan yang otoriter dalam artian negatif. Di padang gurun itu Ia mengajarkan suatu hal yang sangat berharga, yaitu Ia menghendaki persembahan dari orang-orang yang terdorong hatinya. Ya, hati yang tulus kepada Allah, itulah yang membuat semua pemberian itu menjadi persembahan khusus bagi Allah.

Jika Allah mau, Ia bisa saja memerintahkan seluruh orang Israel, terlepas dari apakah mereka rela atau tidak, untuk memberikan semua itu kepada-Nya. Jika Ia mau, Ia bisa memanggil bangsa-bangsa lain untuk datang ke padang gurun itu hanya untuk menyerahkan harta mereka kepada-Nya. Jika Ia mau, Ia dapat memunculkan semua kekayaan itu secara sekejap tanpa meminta dari siapapun. Tentu saja Ia sanggup mengerjakan semua itu, Ia adalah TUHAN, janganlah kita lupa akan hal itu! Namun, bukanlah itu jalan yang Ia pilih untuk membangun kemah tempat Ia tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Inilah jalan yang Ia pilih:

TUHAN hanya mau membangun Rumah yang kudus bagi-Nya
dengan persembahan dari umat-Nya yang terdorong hatinya.

Tidakkah itu luar biasa? Tidakkah Ia penuh dengan kasih dan kerendahan hati? Oh, itulah Allah yang sejati, Allahku dan Allahmu, yakni Allah yang mengasihi kita dan mau bersekutu dengan kita. Hanya bersama-Nyalah sukacita kita penuh. Hanya di dalam Dialah ada hidup.

Bridges

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan kita tahu apa yang kemudian terjadi pada bangsa Israel…

Kemah itupun berhasil dibangun dan Allah hadir di sana. Waktupun terus berjalan dan bangsa Israel yang kita kenal kemudian menjadi suatu kerajaan yang besar. Di bawah pemerintahan Raja Salomo, bangsa ini mendirikan Bait Suci yang begitu megah, yang kemudian menjadi tempat tinggal Allah di tengah-tengah umat-Nya (1 Raja-raja 8:1-66), sama seperti Tabernakel ketika bangsa itu masih di padang gurun. Namun, bangsa itu jatuh ke dalam dosa. Mereka berubah setia dari Allah dan menyembah berhala. Dan inilah yang terjadi:

Rumah yang dikuduskan TUHAN di Yerusalem itu dinajiskan mereka.
Namun TUHAN, Allah nenek moyang mereka,
berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya,
karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya.

Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.
(2 Tawarikh 36:14b-16)

Allah pun memurkai mereka. Nabi Yehezkiel menerima penglihatan bahwa Allah meninggalkan Bait-Nya (Yehezkiel 10:1-22). Dan Allah yang telah meninggalkan Bait Suci akhirnya menyerahkan bangsa yang bebal dan tegar tengkuk itu ke tangan Kerajaan Babel. Firman-Nya mencatat, “Seluruh perkakas rumah Allah, yang besar dan yang kecil, serta harta benda dari rumah TUHAN, harta benda raja dan harta benda para panglimanya, semuanya dibawanya ke Babel. Mereka MEMBAKAR rumah Allah, merobohkan tembok Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu dengan api, sehingga musnahlah segala perabotannya yang indah-indah (2 Tawarikh 36:17-18).

Sungguh menyedihkan. Allah meninggalkan Rumah-Nya. Ia menyerahkan umat pilihan-Nya ke tangan bangsa lain yang tidak mengenal-Nya. Tetapi cerita kasih TUHAN kepada bangsa-Nya tidak berhenti hanya karena itu semua. Setelah genap pembuangan di Babel, melalui providensia Allah, bangsa Yehuda diizinkan untuk pulang dan membangun lagi Yerusalem oleh Raja Koresh, yakni Raja Persia yang telah mengalahkan Kerajaan Babel (2 Tawarikh 36:22-23). Di masa Nabi Hagai, Nabi Zakaria, Ezra, dan Nehemia, bangsa Yehuda membangun kembali bait suci dan tembok-tembok Yerusalem.

Namun, beratus-ratus tahun lamanya setelah Nabi Maleakhi, tidak ada lagi firman Allah datang kepada bangsa Yehuda. Mereka tidak lagi merasakan hadirat Allah nyata di tengah-tengah mereka. Dan mereka menantikan firman-Nya untuk kembali melawat mereka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hingga akhirnya, seperti kata Rasul Yohanes:

Pada mulanya adalah Firman;
Firman itu bersama-sama dengan Allah
dan Firman itu adalah Allah.

Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia
dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Ayat - Yohanes 14

dan kita telah melihat kemuliaan-Nya,
yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa,
penuh kasih karunia dan kebenaran.
(Yohanes 1:1-4, 14)

“Diam di antara kita…”
Bukankah itu mengingatkan kita akan hadirat Allah? Ya, pada saat itu, TUHAN tidak lagi diam di tengah-tengah umat-Nya di dalam Tabernakel atau Bait Suci, melainkan di dalam Anak-Nya, yaitu Tuhan kita, Yesus Kristus. Sang Anak, yang adalah Sang Firman, telah menjadi manusia dan Ia diam di antara umat-Nya. Ia adalah Tabernakel yang sejati. Ia adalah Bait Suci yang sejati. Dan Ia memiliki satu perbedaan yang mendasar dibanding kedua Rumah Allah itu. Perbedaan apakah itu? Perbedaannya adalah ini:

Kemah Suci dibangun oleh bangsa Israel dengan persembahan mereka (Keluaran 25:1-9)
Bait Suci dibangun oleh Raja Salomo dengan kekayaannya (1 Raja-raja 5-7)

Tetapi bagaimana dengan Kristus?
Kristus tidak hadir karena pemberian manusia kepada Allah.
Justru sebaliknya, Kristus hadir sebagai Pemberian Allah kepada umat-Nya.

Beginilah firman TUHAN:

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita,
seorang putera TELAH DIBERIKAN untuk kita;
lambang pemerintahan ada di atas bahunya,
dan namanya disebutkan orang:
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
(Yesaya 9:5)

Ayat - Yohanes 3 16

Ya, Kristus adalah pemberian Allah kepada umat manusia. Sekalipun manusia sama sekali tidak layak untuk menerima-Nya, Bapa menganugerahkan-Nya bagi kita karena kasih. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal kepada umat-Nya dan Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi mereka. Itulah kasih Allah yang tiada tara dan tak terselami.

Namun, karya-Nya tidak berhenti sampai di sana. Dalam kedatangan-Nya yang pertama, Tuhan kita Yesus Kristus tidak berlama-lama tinggal bersama domba-domba Israel. Ia melayani di bumi selama 33.5 tahun dan setelah Ia menyerahkan diri-Nya untuk menjadi korban penebusan dan pendamaian bagi umat-Nya kepada Allah dan bangkit dari maut, Ia harus meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali ke Kerajaan Sorga. Ini tentu merupakan kenyataan yang sangat pahit bagi para murid. Tetapi Ia meneguhkan hati mereka, dan kita semua, dengan suatu janji yang agung:

Aku akan minta kepada Bapa,
dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,
supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.

 Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia.
Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu
dan AKAN DIAM DI DALAM KAMU.
(Yohanes 14:16-17)

“Akan diam di dalam kamu…”
Pesan yang sama terdengar sekali lagi. Allah masih berkenan tinggal diam bersama-sama umat-Nya tetapi tidak melalui pribadi manusia Kristus, melainkan melalui Penolong yang lain. Siapakah Penolong yang lain itu? Tentu saja, Ia adalah Roh Kebenaran, yakni Roh Kudus, Roh Allah yang adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Apa yang Tuhan kita janjikan ini merupakan konfirmasi dari apa yang beratus-ratus tahun sebelumnya telah dinubuatkan oleh Nabi Yehezkiel ketika Allah berfirman melaluinya:

Ayat - Yehezkiel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Allah ada di dalam kemah-Nya dan kemah itu menjadi Kemah Suci. Allah ada di dalam bait-Nya dan bait itu menjadi Bait Suci. Sang Firman lahir menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus dan Allah ada di dalam diri-Nya. Sang Firman pun akhirnya kembali ke Sorga dan Ia mengutus Roh untuk tinggal di dalam umat-Nya dan mendirikan gereja-Nya.

Kini pertanyaannya: Dengan apakah Allah menyatakan hadirat-Nya di tengah-tengah umat manusia? Pertanyaan itu sesungguhnya telah terjawab. Allah hadir bagi dunia ini melalui gereja-Nya. Gereja bukanlah bangunan; gereja adalah persekutuan anak-anak Allah. Siapakah anak-anak Allah itu? Mereka adalah orang-orang Kristen. Siapakah orang Kristen itu? Definisi umum akan mengatakan bahwa orang Kristen adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan mengikuti apa yang telah diajarkan-Nya. Itu adalah definisi yang benar. Namun, definisi sejati dari orang Kristen jauh lebih dalam dari itu. Siapakah orang Kristen itu? Orang Kristen adalah orang yang di dalamnya Allah Tritunggal berdiam melalui Roh Kudus. Ya, orang Kristen adalah Bait Allah sebagaimana firman-Nya:

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah
dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia.
Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.
(1 Korintus 3:16-17)

Jawab Yesus:
“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku
dan Bapa-Ku akan mengasihi dia
dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.
(Yohanes 14:23)

Itulah kebenaran Allah. Itulah kebenaran yang menjadi identitas kita. Kasih Allah begitu besar kepada kita dan semua itu Ia nyatakan melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Di dalam Kristus, Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Efesus 2:4-5). Di dalam Kristus dan oleh darah-Nya, kita beroleh penebusan dosa (Efesus 2:7). Di dalam Kristus, kita diperdamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:19). Di dalam Kristus, kita dibenarkan dan dikuduskan (1 Korintus 1:30). Di dalam Kristus, kita mati bersama-Nya, dikuburkan bersama-Nya, dan kita juga bangkit bersama-Nya (Roma 6:4-8). Dan di dalam Kristus, kita menerima Roh Kudus (Titus 3:3-6). Oh, sungguh besar kasih-Nya dan seperti kata John Owen:

“Duka dan beban paling besar yang dapat kau berikan kepada Bapa
dan kejahatan terbesar yang dapat kau lakukan kepada-Nya
adalah dengan tidak percaya bahwa Ia mengasihimu.”

John Owen berkata benar. Allah mengasihi umat-Nya dan Ia mau hadir di tengah-tengah umat-Nya. Dahulu Ia hadir di tengah-tengah bangsa Israel melalui Kemah Suci. Setelah itu, Ia hadir di dalam Bait Suci. Setelah itu, Ia menyatakan kehadiran-Nya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Setelah Kristus naik ke sorga dan Roh Kudus diutus, Ia hadir bagi dunia melalui orang-orang Kristen. Dan bagaimanakah kelak ketika dunia ini berakhir? Bagaimana Allah akan akan hadir di hadapan umat-Nya? Oh, dengarlah kesaksian Rasul Yohanes:

Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya;
sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.
(Wahyu 21:22)

Itulah pengharapan yang menjadi bahan bakar bagi kita, orang Kristen. Suatu saat nanti kita akan tinggal di dalam Bait itu. Suatu saat nanti kita akan hidup dan tinggal bersama-sama dengan Allah di dalam atmosfer yang sepenuhnya berbeda dengan apa yang kita rasakan saat in. Tetapi kita belum tiba di saat yang paling indah itu. Kita masih hidup di dunia ini dan kita memiliki suatu tugas mulia, yakni pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan sebelumnya (Efesus 2:10).

Dan seperti bangsa Israel dalam Keluaran 25:1-9, Allah mau kita yang terdorong hatinya untuk memberikan “persembahan khusus” bagi-Nya. Tetapi persembahan kita ini tidaklah sama dengan bangsa Israel saat itu yang memberikan emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, dan lain sebagainya. Lalu, apakah yang Tuhan tuntut dari kita? Apakah persembahan khusus kita bagi-Nya? Apakah ibadah kita yang sejati di hadapan-Nya? Oh, dengarlah firman-Nya:

Ayat - Roma 12 1

Kini pertanyaan terakhir untuk engkau dan aku:
Apakah hati kita terdorong untuk mempersembahkan diri kita bagi Allah
yang sudah menganugerahkan diri-Nya bagi kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s