Untuk Para Pemberita Firman, oleh Jeremiah Burroughs

Terkadang banyak hamba Allah yang berkecil hati dan berpikir di dalam dirinya, “Tuhan, betapa kerasnya hati manusia dan betapa sulitnya untuk bekerja bagi hati orang-orang! Aku sudah berjuang dengan seluruh tenagaku. Aku telah belajar keras dan berusaha mencari argumen-argumen yang bisa kutemukan, argumen-argumen paling menyentuh hati yang bisa kubayangkan. Ketika aku sedang dalam pendalaman Alkitab, aku berpikir di dalam diriku, “Tentu saja jika Tuhan berkenan untuk memberkati kebenaran yang akan kusampaikan ini, maka kebenaran-kebenaran ini akan bekerja di dalam hati orang-orang.”

Namun ketika sampai dalam pemberitaan firman, mungkin hamba Tuhan itu akan menemukan bahwa tak satu orangpun tersentuh hatinya. “Mengapa, Tuhan, apalagi yang harus aku lakukan? Aku rasa aku tidak mampu lagi memikirkan pernyataan yang lebih tajam dari apa yang sudah aku sampaikan, tetapi bahkan itupun tidak membuahkan hasil apa-apa. Oleh sebab itu, aku kuatir aku tidak akan pernah menghasilkan buah apa-apa.”

Oh, tidak, janganlah berkata seperti itu dan janganlah berpikir seperti itu. Tuhan senang untuk terkadang menunjukkan kepada kita kesombongan kita sendiri melalui cara ini, untuk menegur kita. Banyak kali Tuhan tidak berjalan bersama seorang pelayan firman di saat-saat ia berusaha menunjukkan kuasa yang besar atau argumen yang paling tajam yang ia miliki, namun, di lain waktu, Tuhan berkenan untuk memberkati kalimat yang ia sampaikan dengan sambil lalu. Kalimat yang sambil lalu itu bisa dipakai Allah lebih daripada kalimatnya yang lain. Ada sangat sedikit hamba Allah, yang benar-benar teliti mencermati pekerjaan Allah di dalam pelayanan mereka, yang tidak menyadari hal ini.

Namun, hal ini bukan berarti setiap hamba Tuhan tidak perlu lagi belajar sekuat tenaga dan berusaha menyusun argumen yang paling tajam. Ia wajib melakukan semua itu di dalam pengabdiannya.

Ya, janganlah berkecil hati. Ia akan keluar sebagai pemenang setelah semua itu dan Allah, aku yakin, akan memberkati banyak hal yang ia kerjakan dan sampaikan. Dan oleh sebab itu, aku akan memberikan nasehat kepada mereka yang akan menyampaikan firman, dengan Pengkhotbah 11:6:

“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari,
dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari,
karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil,
atau kedua-duanya sama baik.”

Oleh sebab itu, hendaklah para hamba Tuhan terus maju dan menaburkan benihnya dan tetap berkhotbah… Janganlah berkecil hati; majulah terus dan taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari. Teruskanlah dan ajarkanlah firman Tuhan lagi dan lagi, dan hendaklah firman Allah disampaikan ke hadapan hati orang-orang. Walaupun itu tidak membuahkan hasil di suatu waktu, itu akan membuahkan hasil di waktu yang lain. Walaupun kau akan menjadi lemah dan semakin lemah, namun Allah akan justru semakin memberkatimu ketika kau berada di titik terlemah di dalam hidupmu. Di dalam 2 Timotius 2:25, rasul Paulus berkata kepada Timotius:

“dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan,
sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat
dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,”

Mungkin, hari ini, satu kebenaran akan disampaikan oleh Allah kepada satu jiwa – mungkin melalui teks firman yang ini, mungkin melalui teks firman yang itu, dan demikianlah jiwa akan dituntun ke dalamnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

JB

Jeremiah Burroughs (1600-1646) dibaptis pada tahun 1601. Ia dididik oleh Thomas Hooker, yang adalah seorang Puritan kenamaan. Pada tahun 1621, ia lulus dari Emmanuel College, Cambridge dengan gelar Bachelor of Arts dan tiga tahun berikutnya ia meraih gelar Master of Arts. Namun, ia harus keluar dari kampus tersebut karena masalah non-conformity, yakni ia menolak untuk patuh pada Act of Conformity yang dikeluarkan oleh Church of England yang mengharuskan para hamba Tuhan untuk melakukan beberapa praktek pelayanan tertentu yang bagi para Puritan telah melenceng dari kebenaran Alkitab.

Setelah lulus dari pendidikan lanjutnya, Burroughs ditahbiskan menjadi hamba Tuhan. Pelayanannya dapat dibagi menjadi empat periode. Periode pertama adalah tahun 1627 hingga 1631. Pada periode ini ia melayani sebagai asisten dari Edmund Calamy, yang juga adalah seorang pendeta Puritan, di Bury St. Edmunds, Suffolk. Keduanya adalah anggota di Westminster Assembly. Mereka sangat menentang Book of Sports yang dikeluarkan oleh Raja Charles (Raja Charles ini adalah raja Inggris yang meng-otorisasi Alkitab KJV). Salah satu topik yang dibahas dalam buku tersebut adalah bahwa setiap hari Minggu, atau yang lebih umum mereka sebut sebagai Hari Tuhan (Lord’s Day), kegiatan-kegiatan seperti berdansa, memanah, berkuda, dan berbagai bentuk olahraga lain merupakan hal yang diperbolehkan untuk dilakukan.

Perlawanan Jeremiah Burroughs ini merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seorang Puritan sebab pada umumnya para Puritan sangat ketat dalam menjaga kekudusan Hari Tuhan. Perlu dicatat bahwa disiplin ini mereka lakukan bukan karena mereka memandang pengudusan Hari Tuhan sebagai Hukum Taurat yang menjadi syarat keselamatan, melainkan karena pengudusan Hari Tuhan merupakan hal yang memperkenankan hati Tuhan. Para Puritan meyakini bahwa jika seseorang benar-benar menguduskan Hari Sabat Tuhan, maka berkat, karunia, penyertaan, dan sukacita yang melimpah akan Ia berikan kepada orang itu dan ia akan diperlengkapi lebih lagi untuk menjadi hamba yang berkuasa di tangan-Nya.

Periode kedua pelayanan Jeremia Burroughs adalah dari tahun 1631 hingga tahun 1636 di mana ia menjadi kepala di Tivetshall, Norfolk, sebuah gereja yang masih berdiri hingga saat ini. Pada tahun 1637, ia dipecat dari gereja tersebut karena menolak untuk patuh pada Penilik Jemaat (Bishop) Matthew Wren, khususnya terkait sikap Burroughs terhadap Book of Sports dan terhadap praktek doa yang mengharuskan seseorang untuk tunduk dan membaca buku doa dan bukan menyatakan isi hati yang ingin didoakan. Burroughs sangat menentang praktek-praktek religius eksternal yang sama sekali tidak mencerminkan kondisi rohani manusia yang sesungguhnya seperti praktek-praktek yang demikian.

tivetshall_st_margaret1
Gereja di Tivetshall, Norfolk, tempat Jeremiah Burroughs pernah melayani

Periode ketiga adalah dari tahun 1638 hingga tahun 1640. Dalam rentang waktu ini, Burroughs tinggal di Belanda. Di sana, ia menjadi guru Injil untuk orang-orang Inggris berdenominasi Independent yang tinggal di Rotterdam, yang sebelumnya dilayani oleh William Ames yang juga adalah seorang Puritan. Bersama-sama dengan William Bridge dan Sidrach Simpson, Burroughss mengembangkan aliran Kongregasionalisme di kota tersebut.

Pada periode terakhir, yaitu dari akhir 1640 hingga wafatnya di tahun 1646, Burroughs menerima pengakuan yang baik sebagai seorang pengkhotbah dan Puritan terkemuka di kota London. Iapun kembali ke Inggris dan menjadi pastor di dua gereja terbesar di London, yaitu gereja Stepney dan gereja St. Giles di Cripplegate. Di Stepney, ia berkhotbah di pagi-pagi buta sehingga ia dijuluki sebagai “the morning star of Stepney.” Ia beberapa kali diundang untuk berkhotbah di House of Commons dan House of Lords. Thomas Brooks, yang juga adalah seorang Puritan yang sangat terkenal hingga saat ini, menyebutnya sebagai “a prince of preachers.”

Pada tahun 1646, dua minggu setelah terjatuh dari kuda yang ditungganginya, Jeremiah Burroughs wafat.

Selain melayani sebagai seorang pendeta, Burroughs juga adalah seorang penulis yang sangat produktif. Ia dipandang sangat baik oleh para Puritan di masanya dan setelah Burroughs wafat, beberapa rekannya masih tetap menerbitkan buku tulisannya. Sebagian besar buku Burroughs adalah kompilasi dari khotbah-khotbahnya. Beberapa buku karangan Burroughs yang direkomendasikan oleh para pecinta Puritan antara lain The Rare Jewel of Christian Contentment (bisa diunduh di internet), Gospel Worship, dan The Evil of Evils: The Exceeding Sinfulness of Sin. Sayang sekali, nampaknya karya berharga yang berasal dari tulisan tangan Jeremiah Burroughs ini belum saatnya tiba ke tanah air kita. Sayang sekali.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Burroughs

Ada beberapa teladan penting yang patut kita contoh dari Jeremiah Burroughs. Hal yang pertama dan yang terutama, sebagaimana yang dapat kita lihat dari pelayanan dan kesaksian hidup para Puritan yang lain, adalah Burroughs menjadikan Kristus sebagai pusat dari seluruh teologinya. Inilah yang ia katakan:

“Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan kepada Anda kemuliaan Allah yang memancar dari kebenaran ini: yakni bahwa Allah mengomunikasikan diri-Nya melalui Mediator, yaitu melalui Anak-Nya. Ini merupakan hal yang mutlak harus Anda ketahui jika Anda menghendaki hidup yang kekal. Adalah mungkin untuk tidak mengetahui beberapa kebenaran dan tetap diselamatkan namun kebenaran yang satu ini harus diketahui dan jika tidak, maka tidak akan ada keselamatan.

Banyak orang mengetahui bahwa mereka membutuhkan rahmat Allah dan tidak akan pernah bisa selamat tanpa rahmat-Nya. Terang alam meyakinkan kita akan hal ini. Namun, mereka tidak menyadari dan tidak melihat kebenaran ini: yakni bahwa Allah menyatakan rahmat-Nya melalui Seorang Mediator. Mereka gugur dan binasa selamanya sekalipun mereka berseru-seru akan rahmat Allah karena mereka datang kepada Allah namun tidak selalui Seorang Mediator.”

Burroughs menyampaikan kebenaran tentang Kristus dengan sangat tegas, jelas, dan mencengangkan. Tidak diragukan lagi, Kekristenan zaman ini butuh mendengar kebenaran mengenai Kristus dengan penyampaian yang sedemikian tegas supaya orang-orang yang mengaku diri Kristen tetapi tidak pernah benar-benar mengenal Tuhan Yesus Kristus dapat disadarkan, bertobat, dan menaruh percayanya hanya kepada Kristus Yesus, Tuhan kita, dan beroleh keselamatan dari Allah.

Burroughs

Selain meneguhkan sentralitas Kristus di dalam keselamatan manusia, Burroughs juga menyatakan keutamaan Kristus di dalam kepuasan dan rasa syukur yang sejati. Burroughs berpendapat:

“Kepuasan tidak diperoleh dengan penambahan, melainkan dengan pengurangan:
berusaha menambahkan sesuatu tidak akan membawa kepuasan.
Justru sebaliknya, mengurangi hal-hal dari dalam hasratmu
sampai kau menemukan kepuasan hanya di dalam Kristus,
itulah yang akan membawa kepuasan.”

“Pencobaan tidak akan menang terhadap seseorang yang menemukan kepuasan,
layaknya sebuah dart yang diluncurkan terhadap dinding yang sangat keras.”

“Saudara-saudaraku, alasan mengapa kau tidak pernah menemukan kepuasan dari hal-hal yang ada di dunia ini bukanlah karena kau tidak pernah mendapatkan cukup akan semua itu. Itu bukanlah alasannya. Alasannya adalah karena semua itu bukanlah hal yang mampu memuaskan jiwamu yang kekal yang mana hanya dapat dipuaskan oleh Allah sendiri.”
(dari buku The Rare Jewel of Christian Contentment)

Istimewa. Burroughs menekankan bahwa keselamatan di dalam Kristus tidak hanya berbicara tentang penyelamatan dari murka Allah atas dosa tetapi juga tentang pembebasan dan penyelamatan dari kepuasan palsu yang ditawarkan oleh dunia ini dengan menyodorkan kepada orang Kristen sumber kepuasan sejati, yang adalah Kristus. Ini merupakan hal yang sangat urgen untuk diajarkan kepada seluruh orang Kristen di zaman ini, khususnya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dari semakin maraknya ajaran teologi kemakmuran yang menyesatkan. Ajaran-ajaran yang menyimpang seperti itu hanya menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pelayan yang bertugas untuk memuaskan tuannya, yang adalah manusia, dengan berkat-berkat jasmani dan kesembuhan fisik yang sebenarnya sama sekali tidak ada artinya dibanding berkat keselamatan dan kesembuhan rohani yang hanya dapat ditemukan ketika manusia memandang Kristus, bukan sebagai pelayan, atau sekadar pemberi berkat, melainkan sebagai Tuhan, Raja, dan Juruselamat.

Burroughs

Teladan berikutnya dari Jeremiah Burroughs adalah tekadnya untuk menjaga keutuhan di dalam tubuh Kristus. Burroughs adalah seorang Anglikan yang memeluk aliran atau denominasi Independent. Orang-orang dalam denominasi ini meyakini bahwa negara dan gereja harus terpisah dan bahwa gereja harus bersifat otonom dan berhak mengatur dirinya sendiri. Namun, sekalipun memeluk salah satu aliran, Burroughs adalah seorang yang cinta damai. Dalam masa yang penuh dengan pergolakan, khususnya dengan rekan-rekannya yang memeluk denominasi Presbiterianisme, ia memilih untuk tidak terlalu vokal dalam menyatakan pendapatnya.

Ia memiliki prinsip: Opinionum varietas et opinantium unitas non sunt hasustata, yang berarti “keberagaman dalam pendapat dan kesatuan dalam pendapat tidak selalu bertentangan.” Richard Baxter, seorang Puritan terkemuka pada saat itu berkata mengenai Burroughs, “Jika seluruh penganut Episkopalianisme adalah seperti Penilik Tertinggi (Archbishop) Ussher, dan seluruh penganut Presbiterianisme adalah seperti Stephen Marshall, dan seluruh Independents adalah seperti Jeremiah Burroughs, masalah keretakan di dalam gereja pasti akan segera terselesaikan. ”

Hingga akhir hidupnya, Burroughs terus memperjuangkan perdamaian dalam tubuh Kristus yang terpecah karena perbedaan denominasi. Khotbah terakhir yang ia bawa akhirnya diangkat menjadi bukunya yang berjudul Irenicum to the Loves of Truth and Peace yang ia tujukan untuk merekatkan kembali kubu-kubu orang percaya telah telah terpisah.

Burroughs

Ada begitu banyak hak baik yang dapat diteladani dari Jeremiah Burroughs namun hal terakhir yang dapat kami sampaikan mengenainya adalah bagaimana ia memahami jiwa-jiwa yang sedang berduka karena dosa. Kita tahu bahwa di dalam khotbah-Nya di atas bukit, Tuhan kita berkata:

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
(Matius 5:4)

Dukacita yang Tuhan Yesus maksud adalah dukacita karena dosa. Ini merupakan salah satu tanda utama dari orang Kristen yang sejati. Ada begitu banyak guru palsu yang mengajarkan bahwa orang Kristen tidak perlu, bahkan tidak boleh lagi, merasa sedih atas dosa-dosanya karena mereka sudah diselamatkan. Mereka mengajarkan bahwa jika orang Kristen masih berduka karena dosa, maka mereka sedang merendahkan pengampunan Allah.

Ini merupakan ajaran yang sangat salah. Justru sebaliknya, sekalipun Kristen adalah orang yang paling bersukacita di dunia ini karena mereka telah diselamatkan, namun di saat yang bersamaan, orang Kristen adalah orang yang paling berdukacita karena dosa-dosa yang masih tinggal di dalam dirinya sebab merekalah satu-satunya kaum di dunia ini yang mengerti arti kengerian dosa. Ya, semua orang yang berada di luar Kristus tidak akan pernah memahami arti dosa; mereka mengabaikannya, mereka menikmatinya. Hanyalah orang Kristen yang mengerti arti dosa dan berduka karenanya. Dan dukacita yang kudus itu sesungguhnya adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus (Yohanes 16:8). Jika seseorang tidak memiliki tanda ini, yakni dukacita akan dosa, maka ia bukanlah orang Kristen yang telah menerima anugerah hati yang baru dari Roh Kudus. Orang-orang yang demikian, menurut Matius 5:4, tidak mendapat penghiburan dari Kristus Yesus sebab Tuhan kita hanya akan menghibur mereka yang berduka.

Ketika Allah mengerjakan dukacita akan dosa di dalam orang Kristen, hati orang itu remuk. Memang ini merupakan cara kesukaan Allah untuk membuat anak-anak-Nya rendah hati dan “takut” akan Dia. Namun, seringkali orang Kristen tidak berdaya di dalam proses pembentukan Tuhan tersebut. Mereka menjadi ragu akan kepastian keselamatan mereka, kehilangan sukacita, dan merasa begitu lemah. Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya untuk jatuh sedemikian dalam, Ia menyediakan obat dan pemulihan di dalam firman-Nya. Oleh sebab itu, mereka yang sedang berduka perlu dihibur oleh saudara seiman yang mengerti pengalaman dukacita seperti itu dan memahami firman Allah yang dapat menguatkan mereka dan membangkitkan sukacita dan kepastian mereka kembali. Dan Jeremiah Burroughs adalah salah seorang saudara di dalam Tuhan yang tepat untuk dijadikan tempat bertanya dan meminta nasehat di masa-masa ketika kita sedang mengalami dukacita yang mendalam karena dosa. Burroughs menulis:

“Kau mungkin berpikir bahwa kau hanya dapat melakukan hal yang sangat kecil bagi Allah, hai, kau yang memiliki jiwa yang penuh dosa dan malang, dan kau merasa lemah dan tidak dapat berbuat banyak, tetapi ketahuilah, kau masih mampu berduka; dan mengetahui bahwa, sebagaimana yang telah dijelaskan, dukacita yang demikian merupakan korban persembahan di hadapan Allah yang akan Ia terima sama halnya seperti persembahan lain yang dapat kau berikan kepada-Nya, seperti di dalam firman:

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
(Mazmur 51:17)

Itulah yang menjadi persembahanmu. Oleh sebab itu, ketika kau tidak memiliki persembahan untuk di bawa ke hadapan Allah, bukankah kau masih dapat menyerahkan jiwamu yang remuk akan dosa?

Aku katakan, tidak ada hal apapun setelah darah Kristus, yang begitu dihargai oleh Allah, selain jiwa yang remuk akan dosa yang diserahkan kepada Allah. Dan oleh sebab itu, biarlah jiwamu beroleh ketenangan.

Burroughs

Oh, kebenaran ini sungguh mendatangkan sukacita, ketenangan, dan kedamaian bagi hati yang remuk. Tidakkah kau setuju denganku?

Itulah limpahan berkat yang dapat kita nikmati dari pelayanan Jeremiah Burroughs. Terpujilah Allah kita karena berkat-Nya. Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Burroughs, yang menjadikan Kristus sebagai pusat dari hidup dan pemberitaan mereka, yang mengerti arti kepuasan sejati di dalam Kristus, yang memperjuangkan kesatuan di dalam tubuh Kristus, dan memahami jiwa-jiwa yang sedang melewati lemah rohani di dalam hidup mereka. Kiranya Allah membangkitkan hamba-hamba-Nya yang demikian. Dan kiranya Tuhan membentuk kita lebih dan lebih lagi, menjadi hamba-hamba Tuhan yang disiplin dan radikal seperti diharapkan oleh Burroughs ketika ia berkata:

Kita harus memelajari Kristus, dan memuliakan Allah, dan melapangkan hati kita untuk Yesus Kristus. Inilah tugas setiap orang percaya yang kepadanya Allah telah menyatakan Kristus sebagai Pribadi yang Ajaib, supaya di dalam setiap perbincangan mereka, mereka menyatakan kemuliaan yang ajaib dari Yesus Kristus.

Kau harus berjalan di hadapan orang-orang sedemikian rupa untuk menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Juruselamatmu adalah Juruselamat yang Ajaib.”

Amin

#dikutip dari http://www.monergism.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s