1. Jiwa Mereka Lemah Lesu di dalam Diri Mereka

Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara,
jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;
mereka lapar dan haus,
jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,
dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.
Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus,
sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya,
karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,
sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,
dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

(Mazmur 107:4-9)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kitab Mazmur merupakan kitab yang sangat indah. Di dalamnya, kita menyaksikan realita dari hidup yang setiap manusia jalani di bawah mentari dunia ini. Ya, di dalamnya kita menemukan kenyataan dan kebenaran, tidak seperti apa yang dunia ini tawarkan melalui kisah-kisahnya. Di dalam Mazmur, kita dapat menemukan berbagai jenis perasaan dan luapan hati yang juga kita rasakan setiap hari. Bahkan, kita juga dapat berkata bahwa di dalam Kitab Mazmur, kita dapat melihat diri kita sendiri dengan segala pergumulan dan sukacita yang kita alami di dalam hidup ini. Namun, di atas semua itu, ada satu hal yang paling penting yang membuat Kitab Mazmur menjadi suatu buku yang sangat indah, penting, up to date, dan juga relevan bagi setiap kita, dan itu adalah karena di dalam Kitab Mazmur kita dapat mengenal siapa dan seperti apakah TUHAN itu sebenarnya.

Ya, tidak ada yang lebih penting dari itu. Tidak ada yang lebih penting bagi manusia di dalam hidup ini, terlepas dari apakah ia menyadarinya atau tidak, selain pengenalan akan Allah. Kitab Mazmur, dengan caranya yang sederhana nan indah, memberikan kesaksian tentang ini dengan mengatakan, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mazmur 84:11)”, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup (Mazmur 63:4)”, dan di bagian yang lain, Mazmur berkata kepada kita:

Ayat Mazmur 19 10-11

Oh, sungguh benar perkataan itu. Firman Allah lebih berharga daripada emas. Firman Allah lebih manis daripada madu. Alangkah baiknya jika setiap orang menyadari hal itu. Alangkah indahnya jika setiap orang memandang firman Allah jauh lebih berharga dibanding apapun yang dunia ini tawarkan. Sungguh alangkah baiknya, jika setiap orang membenarkan apa yang Tuhan kita nyatakan ketika Ia berkata:

Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
(Yohanes 6:63).

Mengapa Firman Allah begitu penting? Tentu saja, karena Firman Allah menunjukkan kepada kita karya dan pribadi Allah. Sama seperti setiap orang menyatakan dirinya kepada orang lain melalui perkataan, Allah memperkenalkan dan menyatakan diri-Nya secara personal kepada manusia melalui Firman-Nya. Tanpa Firman Allah, manusia tidak akan dapat mengenal Allah. Melalui alam, sejarah, dan hati nurani kita memang dapat mengenal Allah namun pengenalan yang demikian hanyalah pengenalan secara umum dan tidak personal mengenai Allah. Pengenalan yang demikian tidaklah membawa seseorang pada keselamatan dan relasi yang intim dengan Allah. Hanyalah penyataan diri Allah melalui firman-Nya, dan yang mencapai puncaknya di dalam Pribadi Sang Firman, yakni Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, yang akan membawa orang-orang pada pengenalan yang personal akan Allah dan pengenalan yang demikian menuntun mereka ke dalam keselamatan. Itulah sebabnya mengapa firman Allah, termasuk Kitab Mazmur, begitu penting bagi manusia, bahkan lebih penting dari apapun yang manusia miliki.

Lawson (5)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman Allah lebih berharga daripada harta
Rumah TUHAN lebih indah dari tempat menyenangkan manapun yang ada di dunia
Kasih setia Allah lebih baik daripada hidup

Pengakuan itulah yang akan kita temui di seluruh bagian Kitab Mazmur, tidak terkecuali Mazmur 107. Mazmur 107 merupakan salah satu Mazmur yang paling indah dan yang paling memperkenalkan TUHAN sebagai Allah yang penuh dengan belas kasihan kepada umat manusia yang menderita. Pada bagian mazmur ini, dikisahkan ada banyak orang yang sedang mengembara di suatu padang belantara. Pemazmur tidak memberita tahu kepada kita alasan mengapa orang-orang itu berada di padang belantara tersebut. Pemazmur juga tidak memberikan keterangan sedikitpun tentang asal usul mereka. Apa yang kita tahu hanyalah bahwa orang-orang ini berharap bahwa mereka bisa menemukan suatu kota yang didiami oleh orang-orang namun jalan ke kota tersebut tidak mereka temukan.

Nampaknya, mereka telah berjalan cukup lama. Mereka kehabisan makanan dan minuman sehingga mereka merasa lapar dan haus. Karena mereka berada di tengah-tengah gurun, maka siang hari akan terasa begitu panas dan malam hari akan terasa sangat dingin bagi mereka. Hidup mereka juga terancam oleh para bandit gurun dan binatang buas. Sungguh, suatu keadaan yang berbahaya bagi mereka. Namun, hal yang paling buruk dari semua itu adalah bahwa mereka hanya berjalan berputar-putar. Mereka tidak memiliki arah. Mereka tidak tahu arah. Tidak ada seorang pemandu yang dapat menunjukkan jalan yang benar kepada mereka. Kondisi ini membuat mereka mulai merasa putus asa. Tidak hanya tubuh mereka yang letih, Pemazmur juga mengatakan, jiwa mereka juga lemah lesu di dalam diri mereka. Oh, betapa mengerikannya kondisi yang demikian. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan semua kondisi itu, kehancuran.

Bunyan

Apakah yang Pemazmur hendak ungkapkan di balik gambaran yang begitu menyesakkan hati ini? Tidak dapat diragukan, Pemazmur sedang menggambarkan kondisi dunia ini kepada kita. Pemazmur sedang mengilustrasikan kondisi umat manusia yang mati di dalam dosa dan belum menemukan keselamatan di dalam Allah. Padang belantara di dalam mazmur ini menggambarkan tentang perjalanan hidup manusia, atau yang lebih dalam maknanya dari itu, padang belantara tersebut menggambarkan tentang perjalanan spiritual manusia. Setiap orang, tidak terkecuali siapapun, sedang berada dalam suatu perjalanan spiritual untuk menemukan apa yang Pemazmur gambarkan sebagai “kota tempat kediaman orang”. Kota itulah yang mereka rindukan. Kota itulah yang membuat hidup mereka memiliki arti. Namun, sebagaimana kebenaran yang Tuhan menyatakan melalui sang Pemazmur, inilah kenyataan mengenai setiap orang di dalam perjalanan spiritual mereka:

Mereka hanya berputar-putar
Mereka tidak memiliki arah
Mereka tersesat
Mereka terhilang
Mereka tidak memiliki harapan
Jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan…

Apakah arti dari “kota tempat kediaman orang” ini? Kita tidak dapat menerka secara pasti apakah yang ada di benak Pemazmur ketika ia menggunakan kiasan tersebut. Namun, nampaknya cukup aman jika kita memahami kota tersebut sebagai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah alam, negeri, atau “kota” di mana rajanya adalah Allah dan rakyatnya adalah orang-orang yang Ia tebus. Kerajaan Allah adalah suatu “kota” yang sempurna, ramai, dan sejahtera. Orang-orang kudus ada di sana. Para malaikat ada di sana. Oh, alangkah permainya kota yang indah itu. Di dalamnya, kau akan menemukan kebenaran, kekudusan, keadilan, kedamaian, sukacita, sorak-sorai, kasih, dan hidup selama-lamanya. Di dalamnya, kau akan menemukan segala yang menjadi hasrat jiwamu. Di dalamnya, kau akan mendapatkan apa yang engkau cari selama ini. Di dalamnya, kau akan menemukan Allah.

Ya, kota itulah yang setiap manusia tuju. Terlepas dari apakah manusia menyadarinya atau tidak, jauh di dalam lubuk hati setiap orang, ada kerinduan yang begitu mendalam akan Kerajaan Allah. Terlepas dari apakah manusia mau mengakuinya atau tidak, jiwa mereka merindukan Allah yang bertahta di dalam Kerajaan-Nya. Raja Salomo pernah menyiratkan kebenaran ini ketika ia berkata:

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,
bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
(Pengkhotbah 3:11)

Apakah itu kekekalan? Kekekalan merupakan kata yang sulit didefinisikan. Namun, satu hal yang pasti mengenai kekekalan adalah bahwa kekekalan merupakan sesuatu yang tidak ada batasnya. Dengan kata lain, di dalam hati setiap orang, Allah telah menciptakan suatu “rongga tidak terbatas”. Jika manusia hendak menemukan kepuasan, keutuhan, arti, dan tujuan di dalam hidup mereka, rongga tersebut harus dapat terisi penuh. Apabila ruang itu tidak terpenuhi dengan sempurna, manusia akan selalu merasa kekurangan di dalam hati mereka sekalipun mereka tidak selalu dapat menyadari apa yang kurang di dalam hidup mereka. Namun, kini pertanyaannya adalah: apakah yang sanggup mengisi rongga yang tidak berbatas itu? Hanya satu jawabannya, yaitu Allah dan Kerajaan-Nya. Tentu saja, apa yang tidak terbatas hanya dapat diisi oleh Yang Tidak Terbatas. C.S. Lewis dengan sangat bijaksana membahasakannya sebagai berikut:

Lewis

Augustine, juga mengutarakan hal yang sama:

Augustine

Namun, seperti kata firman Allah, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).” Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kemuliaan Allah. Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kekudusan Allah yang merupakan syarat mutlak untuk dapat bersekutu dengan-Nya. Tanpa kemuliaan dan kekudusan Allah tersebut, manusia tidak dapat bersatu dengan Allah dan tidak dapat menjadi warga dari Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah menjadi sesuatu yang sangat asing bagi manusia. Sekalipun jauh di dalam lubuk hati mereka mereka sangat merindukan “kota” itu, mereka tidak dapat melihatnya, merasakannya, menemukannya, bahkan mengenalnya pun tidak.

Alhasil, manusia berusaha mengisi rongga kekekalan yang ada di dalam hati mereka tersebut dengan sesuatu yang tidak akan pernah mampu memenuhinya. Hanya kebenaran yang dapat memenuhi kekekalan manusia tetapi mereka berusaha menggantinya dengan komik, game, drama, sandiwara, imajinasi, dan khayalan. Hanya kasih yang sejati yang dapat mengisi rongga yang tidak terbatas itu tetapi mereka berusaha mengisinya dengan hawa nafsu dan cinta akan diri sendiri. Demi mendapatkan kepuasan hidup, manusia berlari kepada harta, seks, dan hiburan-hiburan dunia. Demi menemukan keutuhan hidup, mereka bergantung pada pekerjaan, gelar, prestasi, pasangan hidup, dan keluarga. Karir yang baik, nama yang harum, pengakuan dunia, dan keluarga yang bahagia mereka samakan dengan arti dan tujuan hidup mereka. Mereka menciptakan, melakukan, dan membenarkan berbagai macam cara, bahkan segala cara, agar mereka dapat mengisi hati mereka hingga utuh sepenuhnya.

Apakah mereka berhasil? Apakah mereka akhirnya menemukan kepuasan dan keutuhan itu di dalam hidup mereka? Apakah semua itu memberikan arti dan tujuan bagi hidup mereka? Hanya ada satu jawabannya dan jawabannya adalah sesuatu yang pasti, TIDAK. Semua itu tidak berhasil. Semua itu tidak pernah berhasil. Semua itu tidak akan pernah berhasil. Tahukah engkau mengapa semua itu tidak akan pernah berhasil? Semua itu tidak akan pernah berhasil sebab semua itu tidak benar.

Lewis

Itulah kenyataan mengenai dunia ini. Itulah kenyataan mengenai orang-orang yang mengikuti jalan dunia ini. Di permukaan, mereka mungkin terlihat pasti dan penuh kepercayaan diri, tetapi mereka tidak memiliki arah dan tujuan. Mereka berusaha keras untuk meyakinkan diri mereka bahwa mereka sedang berada di jalan yang benar.  Mereka senang sekali membuai diri mereka dengan positive thinking, optimisme, dan berkata dalam hati mereka, “Aku tahu aku sedang berjalan menuju kota yang kuidam-idamkan selama ini.” Namun, mereka hanya menipu diri mereka sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi adalah mereka hanya berputar-putar di padang belantara rohani mereka. Lebih buruk dari itu, mereka bahkan tidak mengetahui identitas sebenarnya dari kota tersebut. Mereka hanya menciptakan kota khayalan mereka sendiri tetapi kota itu tidak memberikan kelegaan pada jiwa mereka. Alhasil, mereka meninggalkan kota khayalan yang satu dan pergi ke kota khayalan yang lain. Demikianlah mereka terus berputar-putar tanpa pernah menemukan ujung.

Panas terik dunia menyengat hati mereka. Dinginnya padang gurun membekukan jiwa mereka. Mereka lapar akan kebenaran tetapi kebenaran tidak ada pada mereka. Mereka haus akan kasih sayang tetapi kasih yang sejati tidak mereka rasakan. Jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Semangat mereka patah. Mereka bosan. Mereka tersesat. Mereka tidak bahagia. Mereka menderita. Mereka tidak memiliki pengharapan.

MLJ

Itulah yang digambarkan oleh Pemazmur kepada setiap kita. Itulah analisis yang Pemazmur buat mengenai dunia dan zaman ini. Pemazmur hendak mengingatkan kita bahwa itulah yang pasti akan terjadi di dalam hidup setiap orang yang berjalan tanpa Allah dan tidak mengenal-Nya. Itulah dampak dari hubungan yang rusak antara manusia dengan Allahnya. Ketiadaan sukacita dan ketidakjelasan arah hidup merupakan hukuman yang Allah jatuhkan kepada setiap orang yang mengabaikan-Nya. Dan, kabar buruk yang harus setiap orang sadari adalah ini: yaitu bahwa firman Tuhan berkata mengenai setiap insan di dunia ini:

“Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
(Roma 3:10-12)

“Tidak ada… Tidak seorangpun” Itulah kebenaran mengenai aku dan engkau, teman. Secara kodrat, tidak ada satupun di antara kita yang benar. Tidak seorangpun di antara kita yang berakal budi. Kita tidak mencari Allah. Kita telah menyeleweng. Kita tidak berguna. Tidak ada seorangpun yang berbuat baik. Oh, secara kodrat, kita adalah orang-orang yang tersesat di padang belantara itu. Secara kodrat, kita semua adalah manusia yang celaka sebab kita tidak mencari Allah dengan segenap hati dan murka-Nya telah siap sedia bagi kita semua, orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Namun, terpujilah Tuhan, sebab manusia yang celaka ini masih memiliki pengharapan. Pengharapan itu tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang pernah Nabi Habakuk utarakan di dalam doanya:

Ayat - Habakuk 3 2

dalam murka, ingatlah akan kasih sayang
Ya, itulah jalan yang tersisa bagi umat manusia yang celaka. Itulah satu-satunya pengharapan yang ada bagi umat manusia. Doa ini bukanlah doa yang Habakuk panjatkan dengan tidak berdasar. Habakuk berani memohon agar TUHAN ingat akan kasih sayang karena ia tahu bahwa TUHAN adalah Allah yang ingat akan kasih sayang sekalipun Ia sedang murka. Dan walaupun di dalam murka-Nya Ia menghukum orang-orang yang meninggalkan-Nya dan membuat mereka tidak bersukacita dan tidak memiliki arah hidup, di dalam itupun Ia sedang berbelaskasihan kepada mereka.

Mengapa kita bisa mengatakan demikian? Mengapa hukuman TUHAN itu dapat kita pandang sebagai tindakan belas kasih Allah kepada orang-orang yang Ia hukum? Sebab justru melalui dukacita dan kebingungan yang demikian, Allah hendak mengingatkan umat manusia untuk memohon pertolongan dari-Nya. Coba bayangkanlah apa yang akan terjadi apabila di dalam murka-Nya Allah selalu membiarkan seluruh pendosa untuk hidup tenang dan bahagia! Tentu saja, mereka tidak akan pernah sadar konsekuensi dari dosa. Mereka tidak akan menyadari bahwa mereka teramat sangat membutuhkan Juruselamat yang akan menyelamatkan mereka dari murka Allah. Dan jika mereka tidak pernah disadarkan akan hal itu, maka seluruh umat manusia akan binasa.

Tetapi terpujilah Allah sebab Ia tidak bekerja demikian. Ia menghukum orang-orang berdosa di dunia ini tetapi di dalam semua itu Ia menghendaki agar mereka sadar bahwa mereka membutuhkan Dia. Ia bekerja melalui dukacita, kegagalan, kebingungan, bahkan melalui kekuatiran untuk membuat orang-orang berdosa ingat akan Dia dan memohon kemurahan-Nya. Dan jika manusia, sekalipun ia telah melakukan dosa yang begitu besar dan begitu jahat, mau merendahkan hati, bertobat, dan berseru-seru memohon belas kasihan TUHAN, maka Ia pasti akan menolong orang itu. PASTI. Aku tahu, PASTI Ia akan menolong dan mengampuni.

Mengapa aku tahu?
Karena di dalam murka sekalipun, Ia ingat akan kasih sayang…
(Habakuk 3:2)

Mengapa?
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…
(Yohanes 3:16)

Mengapa?
Karena Ia lebih dahulu mengasihi kita…
(1 Yohanes 4:19)

Mengapa?
Karena Allah adalah kasih.
(1 Yohanes 4:8)

Spurgeon (2)

Dan inilah yang juga terjadi pada orang-orang tersesat yang Pemazmur ceritakan itu:

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,
dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Buluh

Oh, betapa baiknya TUHAN itu. Ia adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan. Buluh yang patah terkulai tidak diputuskan-Nya, sumbu yang pudar nyalanya tidak dipadamkan-Nya. Ia menolong mereka yang tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Ia mengampuni setiap orang yang memohon pengampunan-Nya. Barangsiapa datang kepada-Nya dengan rendah hati untuk memohon pengampunan akan Ia terima dan Ia perlakukan seolah-olah ia tidak pernah melakukan dosa sedikitpun. Seluruh bagian Alkitab, mulai dari awal hingga akhir, memberikan kesaksian tentang itu.

Daud mengutarakannya:
Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
(Mazmur 86:5)

Penulis Kitab Tawarikh menulis perkataan-Nya:
dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini.
(2 Tawarikh 7:14-15)

Pemazmur dalam nyanyian ziarah bersaksi:

Ayat - Pengampunan

Yesaya menyatakannya:
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
(Yesaya 55:7)

Yeremia menjadi penyambung lidah-Nya:
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,

Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu…
(Yeremia 29:12-14)

Mikha mengungkapkannya:
Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?
(Mikha 7:18)

Yohanes juga memberitakannya:
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1 Yohanes 1:9)

Oh, alangkah baik dan indahnya Dia. Biarlah ini menjadi kepastian yang memberikan pengharapan dan kekuatan bagi seluruh umat manusia, yang hidupnya telah dihancurleburkan oleh dosa, yaitu bahwa TUHAN adalah Allah yang baik, penuh belas kasihan, setia, kaya akan rahmat, dan adalah kasih. Jauh sebelum seseorang mengasihi-Nya, Ia terlebih dahulu mengasihi manusia (1 Yohanes 4:19). Jauh sebelum seseorang berseru-seru kepada-Nya, Ia sudah bersiap sedia untuk menolongnya. Dan ketika Ia menyelamatkan, Pemazmur mengatakan bahwa inilah yang akan Ia lakukan:

1) Ia akan melepaskan mereka dari kecemasan mereka
2) Ia akan membawa mereka menempuh jalan yang lurus
3) Ia akan memuaskan jiwa yang dahaga, jiwa yang lapar akan Ia kenyangkan dengan kebaikan

Ya, Allah selalu melakukan ketiga hal tersebut setiap kali Ia menyelamatkan seseorang dari kegelapan. Apakah maksud dari ketiga tindakan Allah tersebut? Kita akan menyelaminya di kesempatan berikutnya. Tetapi untuk kesempatan kali ini, biarlah kita menutupnya dengan suatu pengakuan iman yang teguh yang juga pernah diserukan oleh Nabi Mikha:

Ayat - Mikha 7 8

dan biarlah kita, bersama-sama dengan James Rowe, bernyanyi:

I was sinking deep in sin, far from the peaceful shore,
Very deeply stained within, sinking to rise no more,
But the Master of the sea heard my despairing cry,
From the waters lifted me, now safe am I.

Love lifted me!
Love lifted me!
When nothing else could help,
Love lifted me!

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s