2. Dilepaskan-Nya Mereka dari Kecemasan Mereka

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,
dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.
(Mazmur 107:6)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Piper

Setiap orang telah jatuh ke dalam dosa. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang sangat mengerikan di dalam hidup setiap manusia. Celakanya, tak seorangpun manusia menyadari seberapa dalam mereka telah terjatuh ke dalam dosa. Orang-orang berpikir bahwa mereka dapat mengendalikan dosa mereka. Mereka berpikir bahwa mereka dapat memutuskan sampai sejauh mana mereka dapat melakukan dan menikmati dosa. Mereka mengerti bahwa terlibat dalam suatu tindakan dosa hingga tingkatan tertentu dapat berbahaya bagi mereka dan oleh sebab itu, mereka menetapkan suatu batas aman di mana mereka tetap bisa mengecap nikmatnya dosa itu sebanyak dan sesering yang mereka mau tanpa terancam oleh bahaya yang dosa itu dapat timbulkan jika berlebihan.

Misalnya saja ada begitu banyak orang yang merasa aman untuk menonton drama-drama komedi romantis seperti “Friends” atau “How I Met Your Mother” tetapi mereka sendiri menjaga diri untuk tidak sampai terjerumus dalam dosa menonton film porno. Dengan begitu, mereka tetap bisa mengecap nikmatnya dosa “ringan” yang ada di sepanjang episode drama komedi romantis tersebut tanpa terancam oleh dosa “besar” menonton film porno yang memang terbukti dapat berakibat fatal bagi mereka yang kecanduan menontonnya. Namun, itu adalah pemikiran yang sepenuhnya salah. Tuhan Yesus tidak setuju dengan hal tersebut. Ia berkata:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa,
adalah hamba dosa
(Yohanes 8:34)

Apakah maksud perkataan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus menegaskan kebenaran ini dengan sangat jelas. Inilah yang Ia maksud: Dosa jauh lebih berkuasa di dalam diri seseorang dibanding apapun yang baik yang ada pada orang itu. Dosa adalah dosa, titik. Terlepas dari apakah dosa itu tampak besar atau kecil, dosa selalu lebih kuat dibandingkan manusia dan dosa akan senantiasa memperbudak manusia. Seseorang mungkin memiliki intelektualitas dan moralitas yang sangat tinggi namun semua itu tidak lebih besar pengaruh dan kendalinya dalam hidup orang itu dibanding dosa yang tinggal di dalam hatinya. Ini merupakan salah satu kebenaran yang ditegaskan dengan sangat kuat oleh Alkitab dari awal hingga akhir.

Kita dapat membuktikan kebenaran ini dengan melihat sedikit contoh dari begitu banyaknya fakta yang ada. Pertimbangkanlah ini: (1) Rasa takut dapat membuat banyaknya pengetahuan yang ada pada seseorang menjadi tidak berarti. Seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang luas mengenai suatu hal yang penting. Secara teknis, pengetahuan orang itu seharusnya cukup untuk menolongnya mengerjakan hal penting itu dengan baik dan aman. Namun, karena pada dasarnya orang itu memiliki rasa takut dan rasa pesimis yang besar, ia memilih untuk tidak bertindak. Alhasil, banyaknya pengetahuan yang ada padanya menjadi tidak ia gunakan sama sekali hanya karena rasa takut yang merupakan manifestasi dari dosa yang menjajah dirinya. (2) Contoh yang kedua: Kemalasan dapat membuat orang yang sangat cerdas sekalipun menjadi bodoh dan gagal. Kita dapat melihat kenyataan ini di lingkungan sekitar kita. Kemalasan adalah dosa dan dosa yang satu ini telah menghancurkan begitu banyak generasi muda yang sebenarnya telah diberkati Tuhan dengan kecerdasan.

(3) Dan contoh yang terakhir: Hawa nafsu seks, ambisi, dan dendam dapat membuat seseorang yang religius dan bermoral sangat tinggi sekalipun bertindak dengan sangat tidak bermoral, baik di dalam pikiran maupun di dalam perilakunya. Untuk contoh terakhir ini, kita tidak perlu susah-susah melihat ke sekitar kita untuk melihat buktinya. Jika kita ingin bukti, kita dapat dengan mudah menemukannya dengan menyelidiki diri kita masing-masing. Beberapa dari kita adalah orang yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Beberapa dari kita adalah orang yang hidupnya cukup religius. Tapi cobalah jawab pertanyaan ini: Apakah pendidikan yang tinggi dan hidup yang religius itu menjamin pikiran kita sepenuhnya bersih dari hal-hal yang najis? Apakah pikiran kita benar-benar bersih dari bayang-bayang seksual, ambisi, dan kesombongan? Jika seseorang, selain keluarga kandungmu, mengenal dirimu secara sempurna, membaca pikiran dan isi hatimu, dan mengetahui perbuatanmu setiap hari secara detail, apakah ia akan tetap mengasihimu dan tetap kagum akan engkau ataukah ia akan segera lari dari padamu sekuat tenaga? Cobalah sejenak merenungkan semua itu dengan serius.Tentu saja, kita semua tahu jawaban universal seluruh umat manusia, termasuk kau dan aku, akan pertanyaan itu. Ya, kita adalah manusia yang penuh dengan dosa.

Itulah sedikit contoh yang menegaskan bahwa dosa jauh lebih besar kuasanya dan jauh lebih nyata kehadirannya dibanding pengetahuan, pengalaman, moralitas, kecerdasan, memori, kehendak, dan apapun yang ada pada seseorang. Tiga hal ini merupakan contoh nyata yang sering kita simak, atau bahkan kita alami setiap hari. Dan jika kita hendak meneruskan daftar dari bukti-bukti ini, maka tentu daftar kita tidak akan memiliki ujung. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh John Calvin:

Calvin (2)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah kengerian dosa. Tidak peduli setinggi apa pendidikan seseorang atau se-religius apa seseorang hidup, di luar Kristus, ia hanyalah hamba dosa. Kuasa dosa jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih nyata dibanding kuasa kehendak orang itu. Dosa menaklukkan kehendak manusia. Ya, dosa mengalahkan manusia. Orang-orang mungkin dapat berkata, “Baiklah, aku akan memuaskan hawa nafsuku sampai sebatas ini saja. Aku tidak mau terbawa jauh lebih dalam dari ini sebab hidupku bisa hancur karenanya.” tetapi dosa tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Orang-orang berpikir bahwa mereka dapat mengendalikan dosa-dosa mereka padahal apa yang sebenarnya terjadi adalah dosa merekalah yang mengendalikan mereka. Dosa memperbudak manusia. Dosa mengikat dan menguasai manusia. Tanpa pertolongan dari Allah, dosa akan menarik manusia semakin jauh ke tempat yang dosa itu inginkan sekalipun orang itu, dengan segenap kekuatan hatinya, memutuskan untuk berhenti.

Allberry

Itulah kebenaran mengenai setiap manusia. Sebelum manusia menyadari bahwa ia berdosa dan betapa mengerikannya dosa itu, ia tidak akan pernah mengenal dirinya sendiri. Dunia ini mengatakan bahwa untuk mengenal diri sendiri, apa yang perlu seseorang lakukan adalah memandang cermin. Itulah sebabnya ada begitu banyak orang yang berpikir bahwa masalah terbesar di dalam hidupnya adalah hidungnya yang pesek, wajahnya yang berjerawat, kulitnya yang hitam, tubuhnya yang gemuk, dan penampilannya yang buruk. Namun, semua itu sama sekali bukanlah masalah yang sebenarnya sebab cepat atau lambat semua itu akan sirna. Masalah sebenarnya dari setiap manusia adalah dosa, yang tidak hanya tinggal di dalam dirinya tetapi juga mengendalikannya. Namun, tidak sampai di situ saja, lebih jauh, Rasul Paulus berkata:

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini,
karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa,
yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
(Efesus 2:1-2)

Rasul Paulus menambahkan bahwa manusia tidak hanya menjadi hamba dari dosa-dosanya sendiri tetapi pada saat yang sama, manusia juga sedang diperbudak oleh dunia dan penguasa kerajaan angkasa yang adalah iblis. Ya, manusia merupakan budak dari dunia dan iblis. Dunia dan iblis membawa manusia ke tempat yang mereka inginkan. Sekalipun manusia menyangkalnya atau tidak menyadarinya, inilah apa kata Tuhan kepada manusia. Inilah kebenaran mengenai semua manusia yang belum diselamatkan. Manusia di dalam dosa menyangka bahwa ia adalah makhluk yang bebas. Manusia menyangka bahwa ia memiliki kuasa penuh untuk mengatur dirinya sendiri. Namun, alangkah menakutkannya, di luar Allah,  tidak pernah sedetikpun manusia terbebas dari perbudakan.

Manusia di dalam dosa berpikir bahwa mereka mengenal diri mereka sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga mengizinkan dunia untuk memberita tahu kepada mereka siapa mereka. Dunia mengatakan, “Kamu adalah orang yang luar biasa. Kamu layak diperlakukan dengan baik oleh semua orang.” atau sebaliknya “Kau adalah produk gagal. Kau tidak layak hidup di dunia ini.” dan mereka percaya apa kata dunia tentang mereka. Namun, itu sama sekali tidak benar. Dengan hikmat dan pengalamannya sendiri, manusia sama sekali tidak dapat mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Sebelum mata rohani seseorang dicelikkan oleh Roh Kudus dengan terang firman Tuhan, orang itu tidak akan pernah mengenal siapa dirinya. Mengapa? Sebab identitas yang sejati dari setiap orang bukanlah apa yang tampak pada cermin, yakni apa yang dapat dilihat dengan mata jasmani, melainkan apa yang ada di dalam batin manusia, yakni yang hanya dapat dilihat dengan mata rohani. Dan mata rohani seseorang hanya dapat melihat ketika Roh Kudus mencelikkannya dan menuntunnya untuk memandang segala sesuatu dengan kacamata firman Tuhan. Sebelum hal itu terjadi, manusia tidak akan pernah berpikir sebagaimana mereka seharusnya berpikir mengenai diri mereka, manusia tidak akan pernah melihat diri mereka sebagaimana mereka sepatutnya melihatnya.

MLJ

Ya, tanpa Roh Tuhan dan Firman Tuhan, manusia tidak akan mengenal siapa dirinya. Tanpa Roh dan Firman Tuhan, manusia tidak akan pernah sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kendali tiga kuasa yang begitu mengerikan, yaitu kedagingan mereka sendiri, dunia, dan iblis. Ketiga kuasa inilah yang senantiasa membelenggu dan menyesatkan manusia. Ketiga kuasa inilah yang merupakan sumber dari segala kecemasan dan ketidakbahagiaan yang ada di dalam hidup manusia. Tidak hanya itu, ketiga kuasa ini tidak akan puas dan berhenti cukup dengan membuat manusia cemas. Ketiganya akan terus menerus bekerja di dalam hidup manusia untuk membuat mereka semakin hari semakin bertambah jahat, semakin mengeraskan hati, semakin tidak peka, dan yang paling mengerikan dari semua itu, semakin lupa dan menjauh dari Allah yang merupakan satu-satunya Pengharapan dan Penolong yang dapat melepaskan mereka dari kecemasan mereka.

Watson

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi terpujilah Allah kita sebab Ia bukanlah Allah yang acuh tak acuh. Justru sebaliknya, Ia adalah Allah yang mendengar, Allah yang melihat, Allah yang mengerti, dan Allah yang penuh perhatian. Ia tahu bahwa jika Ia tidak menolong, maka orang-orang yang tersesat di padang belantara itu tidak akan pernah menemukan “kota tempat kediaman orang-orang” yang mereka cari dan rindukan. Ia tahu bahwa jika Ia lepas tangan, maka semua manusia akan binasa. Dan puji Tuhan, Ia tidak menghendaki hal itu.

Untuk seketika waktu lamanya mungkin Ia akan terlihat diam. Namun, sedetikpun Ia tidak pernah diam, teman. Ia adalah Allah yang tidak pernah berhenti bekerja. Ia adalah Allah yang tidak pernah berhenti berbicara. Daud mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 19:1).” Ya, Ia senantiasa berbicara melalui alam semesta ini untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang besar, untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang layak dijadikan tempat berlindung. Tidak hanya itu, Tuhan Yesus berjanji, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Matius 16:18).” Ia akan selalu menopang gereja-Nya dan melalui gereja-Nya, Ia akan selalu berbicara kepada dunia ini untuk menunjukkan kepada mereka hidup dan keselamatan yang hanya ditemukan di dalam Dia. Sungguh, Allah kita bukanlah Allah yang diam.

Dan untuk seketika waktu lamanya mungkin Ia akan terlihat tidak mau menolong. Namun, Ia tidak pernah enggan menolong. Ia adalah Juruselamat. Menyelamatkan bukanlah sekadar apa yang Ia lakukan, menyelamatkan adalah bagian dari siapa diri-Nya. Oleh sebab itu, Ia tidak pernah berhenti menolong. Di mata kita yang memandang segala sesuatu berdasarkan waktu dan ekspektasi, Ia mungkin akan terlihat enggan menolong. Namun, Ia tidak bekerja menurut waktu dan ekspektasi kita, Ia bekerja menurut waktu dan keputusan kehendak-Nya. Di saat yang tepat menurut pengertian dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna dan tiada tara, Ia pasti akan turun tangan dan menolong.

Dan ketika Ia datang menolong, kita dapat yakin akan satu hal, yaitu bahwa hal pertama yang akan Ia lakukan adalah membuat orang yang akan ditolong-Nya menjadi rendah hati dan memohon belas kasihan dan pertolongan-Nya. Inilah yang menjadi pesan dari Mazmur kita ini. Inilah yang juga menjadi kesaksian Alkitab dari awal hingga akhir, yakni bahwa Allah berkenan pada orang-orang yang rendah hati. Salomo mengatakan, “Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. (Amsal 3:34).” Ya, Allah berbelas kasih kepada orang-orang yang rendah hati. Dan rendah hati yang dimaksud di sini bukanlah sekadar rendah hati di hadapan manusia, seperti berbicara dengan sopan, berjalan tunduk ketika melewati orang tua, menolak pujian yang berlebihan, dan lain sebagainya, tetapi rendah hati di hadapan Allah.

Seperti apakah rendah hati di hadapan Allah itu? Seseorang yang rendah hati di hadapan Allah pertama-tama adalah orang yang sadar bahwa ia adalah orang berdosa. Tetapi tidak sampai di sana saja, ia juga menyesal dan remuk hati karena dosa-dosa yang telah dilakukannya. Ia sadar bahwa semua dosa itu tidak hanya menyakiti orang lain tetapi yang jauh lebih membuatnya berduka, semua dosa itu menyakiti hati Allah. Bukankah ini yang menjadi kesaksian dari Raja Daud setelah ia melakukan dosa yang sangat besar? Ya, ketika Nabi Natan menegurnya dan mengingatkannya akan kejahatannya yang telah meniduri Batsyeba dan merencanakan kematian Uria di medan pertempuran, apakah yang Daud katakan? Inilah yang menjadi seruan dari hatinya yang hancur: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu (Mazmur 51:6).”

Apakah yang dikatakan oleh Daud? Ia telah bersalah terhadap Batsyeba. Ia telah bersalah terhadap Uria. Ia telah bersalah terhadap bayi yang lahir karena hawa nafsunya yang jahat kepada Batsyeba. Ia telah bersalah terhadap isteri-isterinya. Ia telah bersalah pada seluruh bangsa Israel. Tentu saja Daud bersalah kepada mereka semua. Tetapi mengapa Daud berkata, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa…”? Hanya satu jawabannya: Sebab segala dosa tertuju langsung kepada Allah. Di dalam kasih, Allah telah menundukkan dan meremukkan hati Daud dan ia pun menunjukkan ekspresi kerendahan hati yang sejati itu di hadapan-Nya. Ia mengaku bersalah di hadapan Allah. Ia sadar bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah jahat di mata Allah dan itu semua mendukakan hati-Nya.

Sproul

Itulah tanda mula-mula dari kerendahan hati yang sejati di hadapan Allah. Tetapi itupun belum menggambarkan keseluruhan dari kerendahan hati yang berkenan bagi Allah. Orang yang rendah hati di hadapan Allah akan datang dengan hatinya yang hancur itu ke hadapan Allah, bersujud, menyembah di kaki-Nya dan memohon belas kasihan-Nya. Ia tidak akan memohon kasih sayang-Nya berdasakan kebaikan yang telah ia lakukan, melainkan semata-mata berdasarkan kemurahan-Nya yang begitu besar bagi para pendosa dan orang-orang yang memberontak melawan-Nya. Orang yang rendah hati akan berdoa sebagaimana Daud berdoa:

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.
(Mazmur 51:3-5)

Dan seperti Daniel ketika ia berseru kepada-Nya:

Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu,
biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus;
sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami
maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.

Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya,
dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.

Ayat - Daniel 9 18

Ya Tuhan, dengarlah!
Ya, Tuhan, ampunilah!
Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh,
oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!”(Daniel 9:16-19)

Itulah doa dari seorang yang rendah hati. Itulah doa yang tidak akan diabaikan oleh Allah. Itulah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang digambarkan oleh Pemazmur sebagai orang-orang yang mengembara di padang belantara ini. Pemazmur berkata, “Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka…” dan Tuhan pun menolong mereka. Ya, Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang rendah hati. Lebih dari itu, Firman Tuhan melalui Nabi Yesaya berkata:

Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia,
yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya:

Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus
tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati,
untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati
dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.
(Yesaya 57:15)

Bukankah Ia sungguh luar biasa? Bukankah Ia begitu murah hati? Bukankah kasih-Nya tiada tara? Dengarlah dan perhatikanlah, Ia tidak hanya bersemayam di tempat tinggi dan tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati. Oh, betapa jauhnya Dia dengan dunia. Dunia ini mengaku bahwa ia mengenal dan memahami setiap manusia. Dunia ini mengaku bahwa ia mampu memuaskan jiwa setiap manusia di kala suka maupun duka. Tetapi, apakah dunia menepati janjinya? Tentu saja, tidak. Dunia ini tidak mengenal manusia. Dunia ini tidak memahami manusia. Dunia ini tidak dapat memuaskan kerinduan setiap manusia. Apa yang bisa dilakukan oleh dunia ini hanyalah menipu orang-orang dengan kenikmatan semu kemudian meninggalkan mereka di dalam kehancuran. Tetapi tidaklah demikian dengan Allah kita. Ia penuh dengan belas kasihan. Ia berlimpah dengan kasih dan sayang. Ia bersemayam dengan orang-orang berdosa yang telah remuk jiwanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hati yang remuk karena dosa, tangisan pertobatan, pengakuan tidak berdaya, dan kerendahan hati, itulah kunci dari segala perkenanan Allah. Sebelum seorang pendosa sampai ke titik itu, ia akan terus buta oleh kepekatan dosa dan keangkuhannya. Sebelum seorang manusia berdosa tiba di titik itu, ia tidak akan mengenal kasih dan belas kasihan Allah. Sebelum ia tiba di sana, ia tidak akan menemukan keselamatan yang dari Allah. Inilah yang menjadi pelajaran pertama dari semua orang yang ditebus oleh Allah, yaitu “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6).”

Namun, satu hal perlu diperjelas di sini. Manusia tidak dapat mencapai titik kerendahan hati yang sejati itu dengan kekuatan dan kehendaknya sendiri. Di dalam dosa-dosanya, manusia “mati”, dan ia tidak memiliki apapun di dalam hati dan perbuatannya yang dapat memperkenankan hati Allah. Apa yang ada di hatinya adalah dosa dan kejahatan semata-mata, kata firman TUHAN (Kejadian 6:5, 8:21). Oleh sebab itu, satu-satunya cara agar manusia dapat merendahkan hati-Nya dan memohon dengan permohonan yang tulus dan agar permohonan itu didengar oleh Allah adalah apabila Allah sendiri, yang kaya akan rahmat, oleh kasih-Nya yang besar (Efesus 2:4), mengerjakan kerendahan hati itu dari dalam hati orang itu. Hal inilah yang juga ditekankan oleh Rasul Paulus ketika ia berkata:

Ayat - Filipi 2 13

Ya, inilah kebenaran mengenai karya penyelamatan Allah. Allah tidak hanya memerintahkan orang-orang untuk merendahkan hati dan berdoa memohon pertolongan, Ia sendiri yang mengerjakan kerendahan hati dan doa itu sebelum mereka mampu melakukannya. Bukankah itu merupakan suatu kabar yang indah? Bukankah itu menceritakan kepada kita betapa Ia adalah Allah yang murah hati? Bagaimana jika Ia tidak pernah mengerjakan kerendahan hati dan doa itu di dalam hati kita? Oh, betapa agung dan mulia Dia. Ia mengubah hati orang-orang berdosa. Ia membalikkan hati orang-orang yang tersesat. Ia membujuk dengan lembut dan menggerakan lembut hati orang-orang yang tertindas oleh dosa, dunia, dan iblis sehingga mereka ingat akan Dia dan berseru-seru kepada-Nya dengan rendah dan remuk hati di dalam kesesakan mereka. Dan ketika doa yang demikian sampai ke telinga-Nya, Ia tidak akan berlambat-lambat untuk menolong orang tersebut. Ia akan segera menolongnya pada waktu-Nya sesuai dengan janji yang Tuhan Yesus katakan:

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu;
carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
(Matius 7:7)

Di sepanjang sejarah, Allah selalu mendengar jeritan umat-Nya yang menderita di dalam kegelapan hidup mereka. Dan dengan kasih setia yang teramat besar, Ia selalu menolong mereka. Lihatlah sedikit dari apa yang telah dikerjakan-Nya. Ia mendengar keluh kesah Bangsa Israel yang ditindas oleh Bangsa Mesir dan Iapun mengutus Musa untuk membebaskan mereka (Keluaran 2:23-25). Ketika mereka telah menempati Kanaan, mereka masih terancam oleh bangsa-bangsa yang berusaha membinasakan mereka. Ia mendengar rintihan mereka yang gentar oleh orang-orang yang mendesak dan menindas mereka itu dan Iapun membangkitkan hakim-hakim-Nya untuk menyelamatkan mereka (Hakim-hakim 2:18).

Lihatlah juga Kitab Raja-Raja dan Tawarikh dan kita akan melihat betapa besar kesabaran, belas kasihan, dan kesediaan-Nya untuk menolong. Sekalipun umat-Nya berulang-ulang kali melakukan dosa yang sangat jahat dan begitu menyakiti hati-Nya, ketika mereka terhimpit dan merendahkan diri mereka di hadapan-Nya dan berdoa, Ia selalu menyelamatkan mereka. Di kala umat-Nya yang lemah berdoa kepada-Nya dan memohon agar Ia membela mereka dari bangsa-bangsa yang hendak menaklukkan mereka, Ia turun tangan dan memberikan kemenangan besar bagi mereka. Ia mempermalukan bangsa-bangsa yang memandang rendah nama-Nya dan umat-Nya. Ia menyelamatkan mereka ketika mereka sadar bahwa mereka tidak dapat selamat tanpa penyertaan-Nya. Sungguh, sangatlah tepat penuturan Pemazmur yang berkata, “Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Namun dari segala karya yang telah Ia lakukan, dari semua penyelamatan yang telah Ia kerjakan, dan dari semua penyataan kasih yang telah Ia tunjukkan…

Ada satu karya teragung
Ada satu penyelamatan paling mulia
Ada satu penyataan kasih yang terbesar
Dan semua itu nyata di dalam karya dan Pribadi Anak-Nya,
yakni Tuhan Yesus Kristus

Di dalam Kristus, Allah mengerjakan karya teragung-Nya. Di dalam Kristus, Allah mengerjakan keselamatan termulia. Di dalam Kristus, Allah menyatakan kepenuhan kasih-Nya kepada umat manusia yang berdosa. Lihatlah apa yang Kristus lakukan bagi manusia! Kristus menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21). Firman-Nya memerdekakan mereka dari segala keterikatan dan dosa yang membelenggu mereka (Yohanes 8:31-32). Barangsiapa ada di dalam-Nya, tidak akan pernah menerima penghukuman Allah atas dosa (Roma 8:1) sebab murka Allah atas mereka telah ditanggung-Nya seorang diri di atas kayu salib (1 Petrus 2:24) dan dengan demikian Ia telah mendamaikan dan menyatukan manusia berdosa dengan Allah yang kudus (2 Korintus 5:19).

Tidak hanya itu, Roh Kristus menganugerahkan hidup yang baru, yakni hidup Allah sendiri, kepada umat-Nya yang sebelumnya mati di dalam dosa. Roh-Nya membebaskan mereka dari hukum dosa dan hukum maut sehingga mereka tidak lagi menjadi budak dosa dan dimampukan untuk berperang melawannya.

Lebih jauh lagi, Tuhan kita tidak hanya menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Ia mengatakan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).” Ya, Tuhan Yesus telah mengalahkan dunia. Dan karena Ia telah mengalahkan dunia, di dalam Dia, kitapun dapat mengalahkan dunia dan terlepas dari perbudakannya seturut dengan firman-Nya yang berkata:

Ayat - 1 Yohanes 5 4

Dan yang terakhir, Kristus tidak hanya menyelamatkan umat-Nya dari kengerian dosa mereka dan dari pengaruh dunia ini tetapi juga dari kuasa iblis. Rasul Yohanes berkata, “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (1 Yohanes 3:8). Ya, sebagaimana janji yang Allah nyatakan kepada Adam dan Hawa, Sang Keturunan Hawa, yang adalah Tuhan Yesus Kristus, akan meremukkan kepala iblis sekalipun ia telah meremukkan tumit-Nya (Kejadian 3:15). Tuhan Yesuspun mengutarakan hal ini ketika untuk pertama kali-Nya Ia menampakkan diri kepada Saulus. Ia berkata:

Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain.
Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka,
supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah,
supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa
dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.
(Kisah Para Rasul 26:17-18)

Oh, inilah kabar sukacita bagi kita. Inilah berita kemenangan bagi kita. Ngeri benar kuasa iblis, tak seorangpun dapat bertahan di hadapannya dengan kekuatannya sendiri. Namun, Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, jauh lebih perkasa dibanding mereka. Kuasa-Nya tiada tara bagi mereka. Dialah yang akan membebaskan kita dari cengkramannya. Itulah mengapa di hari Natal yang sebentar lagi akan tiba kita bernyanyi:

God Rest ye Merry, gentlemen

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah yang Tuhan kita, Sang Juruselamat dunia, kerjakan dalam karya penyelamatan-Nya. Ia menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Ia membebaskan mereka dari ikatan dunia yang buta. Ia melepaskan mereka dari perbudakan ilah zaman ini, yakni iblis, si ular tua. Di dalam Dia, Allah menggenapkan secara sepenuhnya apa yang Pemazmur nubuatkan ketika ia berkata “dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.Oh, sungguh benar firman Kristus ketika Ia berkata:

Ayat - Yohanes 8 36

Kini pertanyaannya:

Sudahkah engkau, hai orang yang berjalan di padang belantara, terlepas dari kecemasanmu?
Sudahkah engkau bebas dari ikatan dosa-dosa kesukaanmu?
Sudahkah engkau lepas dari kecanduan akan dunia ini?

Dunia ini mengikatmu dengan pujian-pujiannya.
Dunia ini mengintimidasimu dengan ejekan-ejekannya.
Dunia ini membuat hatimu tawar dengan teror dan ancamannya.
Sudahkah engkau lepas dari perbudakan dunia ini, teman?

Dan sudahkah engkau selamat dari kuasa setan yang menipumu dengan bujuk rayunya?

Jika “tidak”, oh kukatakan padamu:
Tundukkanlah hatimu, berlarilah ke kaki Kristus, dan katakan pada-Nya,
“Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Dan Ia akan menyelamatkanmu. Ia akan membebaskanmu dari kuasa dosa. Ia akan melepaskanmu dari kuasa dunia. Ia akan memerdekakanmu dari perhambaan iblis. Ia akan memberikan hati yang baru, harapan yang baru, dan hidup yang baru. Dan hari yang indah itu tiba padamu, marilah bersama-sama semua orang yang ditebus oleh Sang Anak Domba Allah kita bernyanyi:

Wesley

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s