3. Dibawa-Nya Mereka Menempuh Jalan yang Lurus

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,

Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus,
sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.
(Mazmur 107:6-7)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tozer

Ketika TUHAN datang untuk menolong, Ia tidak menyelamatkan dengan setengah-setengah. Di bagian sebelumnya, Pemazmur mengatakan bahwa Allah melepaskan mereka dari kecemasan mereka. Namun, Ia belum berhenti sampai di situ. Melepaskan para pengembara tersebut dari kecemasan mereka memang merupakan suatu hal yang luar biasa yang Allah lakukan. Namun, itu saja tidak cukup. Apakah artinya orang-orang itu terbebas dari kesesakan jika mereka masih tersesat dan belum menemukan jalan yang benar? Apakah artinya terbebas dari rasa cemas jika mereka masih tidak mengetahui ke mana mereka harus berjalan? Apakah gunanya merdeka dari ketakutan sementara mereka tetap tidak akan sampai ke tempat kediaman orang yang selama ini mereka cari dan rindukan? Apakah artinya dilepaskan dari dosa, dunia, dan iblis tetapi kita tetap tidak dapat datang kepada Allah dan Kerajaan-Nya? Tentu itu semua tidak akan berarti, bukan?

Jika Allah hanya menolong setengah-setengah dan hanya melepaskan para pengembara itu dari kesesakan mereka kemudian pergi meninggalkan mereka begitu saja, maka itu sama saja dengan apa yang dunia ini tawarkan. Lihatlah dunia ini! Dunia ini melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk terlepas dari kesesakan. Dunia ini sangat ingin hidup nyaman dan begitu takut akan datangnya masalah. Mereka sangat ingin terlepas dari segala masalah. Dan ketika untuk seketika waktu lamanya mereka berhasil terbebas dari kesesakan hidup dan beroleh kenyamanan itu, mereka puas. Sekalipun mereka tidak tahu arti dan tujuan dari hidup mereka, asalkan mereka bisa hidup nyaman tanpa adanya masalah yang menyesakkan, mereka puas. Mereka puas menjalani seumur hidup mereka hanya dengan menyelesaikan masalah satu per satu dan menikmati keberhasilan tiap kali mereka terbebas dari permasalahan tersebut. Itu saja. Mereka puas menghabiskan seluruh masa hidupnya dengan hidup nyaman dan jauh dari masalah sementara mereka tidak memiliki kepastian sama sekali tentang ke manakah mereka akan pergi setelah mereka mati. Mereka puas sekalipun mereka tidak tahu posisi mereka di hadapan Allah.

Oh, betapa mudahnya dunia ini merasa puas,
betapa kecilnya standar kepuasan dunia ini.

Dalam beberapa hal, sikap mudah puas memang baik.
Namun jika kau mudah sekali puas hidup tanpa Allah,
kau ada dalam masalah yang sangat besar.

Itulah definisi hidup bagi mereka, yaitu membebaskan diri dari satu masalah, menikmati keberhasilan sejenak, kemudian berusaha membebaskan diri dari masalah yang datang berikutnya. Mereka puas dengan itu, mereka bahagia dengan semua itu. Tetapi, oh, betapa malangnya mereka, itu semua tidak akan bertahan selamanya. Cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa ada kekosongan di dalam hati mereka. Cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa mereka tidak pernah menemukan kepuasan yang sejati itu. Mereka tahu bahwa ada yang salah di dalam hidup mereka, mereka sadar ada yang hilang dari mereka, tetapi mereka tidak tahu apa yang hilang itu. Mereka tidak sadar bahwa mereka masih memiliki satu masalah yang tidak pernah mereka selesaikan.

Masalah apakah itu? Tentu saja, masalah yang belum terselesaikan itu adalah mereka masih tersesat. Itulah masalah utama manusia di dalam hidup ini. Itulah yang membuat mereka tidak pernah terlepas dari kesesakan. Itulah yang membuat tak satupun dari mereka pernah menemukan kepuasan yang sebenarnya. Dan apakah yang dunia lakukan kepada orang-orang itu ketika mereka mengalami kehampaan hidup yang demikian? Ya, dunia meninggalkan mereka. Dunia mengabaikan mereka. Dunia berkhianat kepada mereka.

Cobalah bertanya kepada artis paling populer sejagad, atlet terkaya sedunia, mahasiswa yang memeroleh gelar summa cumlaude, ilmuwan yang menerima anugerah nobel prize, orang yang paling banyak mengunjungi negara-negara di dunia, atau kepada siapapun yang telah mencapai kebahagiaan menurut standar dunia ini. Tanyakanlah kepada mereka:

Apakah kau sungguh-sungguh berbahagia?
Seberapalamakah kebahagiaan itu bertahan?

Dan jawaban mereka akan mengecewakanmu. Atau, kau tidak perlu bertanya kepada mereka semua. Cobalah bertanya pada dirimu sendiri. Ketika kau berhasil mencapai sesuatu yang betul-betul kau inginkan, berapa lamakah kebahagiaan yang kau rasakan saat itu bertahan? Aku yakin, jika kau benar-benar jujur dengan dirimu sendiri, maka kau akan sadar bahwa kebahagiaan itu segera sirna bak embun yang terkena teriknya mentari.

Mengapa bisa demikian? Mengapa semua kebahagiaan itu tidak bertahan lama? Sungguh, kita tidak perlu kaget akan hal itu. Memang demikianlah adanya dunia ini. Memang seperti itulah kebahagiaan yang dunia ini tawarkan. Dunia ini hanya menolong manusia setengah-setengah. Dunia tidak mampu, sama sekali tidak mampu, memuaskan dan memenuhkan jiwa manusia yang dahaga. Inilah pesan Alkitab dari awal hingga akhir kepada setiap kita.

Lewis

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Mazmur 25

Tetapi terpujilah Allah sebab Ia merawat dan memelihara orang-orang yang disayangi-Nya tidak seperti dunia ini memperlakukan mereka. Sangat berbeda dengan dunia, Ia tidak berhenti hanya sampai dengan membebaskan umat-Nya dari kesesakan mereka. Ia tidak berhenti hanya dengan memberikan sedikit kebahagiaan yang akan segera sirna. Ia akan melakukan hal yang jauh lebih besar lagi. Ia tahu bahwa tanpa Dia, umat-Nya akan tersesat selamanya. Ia paham benar bahwa tanpa-Nya, para pengembara yang malang itu tidak akan pernah menemukan kota yang mereka tuju. Ia tahu bahwa jika Ia tidak membawa mereka menempuh jalan yang lurus itu, mereka hanya akan berputar-putar di padang gurun yang kering dan hampa itu dan pada akhirnya akan terjerumus kembali ke dalam kesesakan mereka. Ia tahu bahwa jika Ia tidak berjalan bersama-sama dengan mereka, apa yang menanti mereka hanyalah keputusasaan. Ia tahu bahwa tanpa Dia, mereka mati sekalipun mereka masih hidup.

Itulah sebabnya, seperti kata Pemazmur, TUHAN tidak hanya melepaskan umat-Nya dari kecemasan mereka, Ia juga membawa mereka menempuh jalan yang lurus sehingga mereka sampai ke kota tempat kediaman orang. Inilah janji Tuhan kepada orang-orang yang berseru-seru kepada-Nya. Inilah yang juga menjadi kesaksian orang-orang kudus di seluruh bagian Alkitab dan juga di sepanjang masa. Dengarlah apa yang Daud katakan:

Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
(Mazmur 23:3)

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum,
dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia
dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya
dan peringatan-peringatan-Nya.
(Mazmur 25:9-10)

Di Mazmurnya yang lain, Daud mengutarakan:

Ayat - Mazmur 16 11

Salomo turut memberikan kesaksian tentang Dia. Salomo berkata:
Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
(Amsal 4:18)

Nabi Yesaya juga menceritakan perbuatan-Nya:
Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya.
(Yesaya 26:7)

Ayat - Mazmur 32 8

Itulah yang selalu Allah lakukan ketika Ia menyelamatkan orang-orang yang berseru-seru memanggil nama-Nya yang agung. Ia mengambil mereka dari kegelapan yang di dalamnya mereka tersesat dan terhilang kemudian menaruh mereka di jalan yang benar, yakni jalan yang lurus dan diterangi oleh cahaya wajah-Nya. Setelah mereka berdiri pada jalan yang tepat itu, Ia menunjukkan pula arah yang tepat yang harus mereka tuju supaya mereka dapat sampai ke kota tempat kediaman orang. Ya, seperti kata Daud, Ia mengajarkan jalan-Nya kepada mereka. Ia menasehati mereka. Mata-Nya tertuju pada mereka.

Dan pengajaran serta nasehat-Nya sangatlah jauh berbeda dengan apa yang dunia ini tawarkan di dalam hikmatnya yang fana. Dunia ini, dengan pikirannya yang gelap dan hatinya yang degil (Efesus 4:18), hanya dapat menipu dan menyesatkan manusia. Dunia ini mengajarkan teori-teori yang terdengar begitu tinggi tetapi tidak berdasar. Bagaimana mungkin manusia berasal dari kera? Bagaimana mungkin segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa ada dengan sendirinya tanpa adanya Pencipta? Bagaimana mungkin seluruh alam semesta yang teramat sangat teratur ini bisa timbul dari proses yang sangat acak, yaitu ledakan besar yang bernama Big Bang, tanpa perlu adanya Pengendali dari semua proses itu? Bagaimana mungkin dunia percaya akan semua itu kemudian dengan percaya diri menyatakan bahwa Allah hanyalah tokoh fiksi?

Oh, betapa dalamnya dunia ini telah terjatuh. Itulah yang dunia ini tawarkan. Itulah pengajaran dan jalan dunia ini. Teori-teori yang mungkin terdengar begitu hebat tetapi mengada-ada. Teori-teori yang tinggal menunggu waktu saja sampai para ilmuwan di masa yang akan datang menyatakan kekeliruan teori itu dan datang dengan teorinya yang baru. Selalu seperti itu. Dan ironisnya, mereka bangga dengan semua itu. Tetapi tidaklah demikian dengan jalan dan pengajaran Allah kita. Yesaya berkata, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yesaya 40:8).” Pemazmur bersaksi, “Dasar firman-Mu adalah kebenaran (Mazmur 119:160). Ya, jalan Allah kita adalah kekal dan benar. Dan tidak hanya itu, firman Tuhan juga berkata, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia (Mazmur 25:10).” Oh, bukankah itu luar biasa? Kekal, benar, dan penuh dengan kasih setia, itulah jalan Tuhan kita, itulah yang jiwa setiap manusia butuhkan.

Brainerd

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi kita perlu berhati-hati di sini. Tuhan tidak mau kita terbuai. Tuhan tidak ingin kita lengah. Tuhan tidak menghendaki kita menganggap sepele dan berpikir bahwa perjalanan yang akan kita tempuh adalah perjalanan yang menyenangkan menurut kacamata dunia. Tidak, tidak sama sekali. Jalan Tuhan bukanlah permainan, jalan Tuhan adalah peperangan. Peperangan melawan siapa? Peperangan melawan diri sendiri, melawan dunia ini, dan melawan ilah zaman ini. Dan itu sama sekali bukanlah hal yang mudah sekalipun Allah telah menempatkan kita di jalan yang lurus dan berjanji akan menyertai kita menempuhnya hingga kita sampai di tempat tujuan. Dengarlah peringatan Tuhan kita:

Masuklah melalui pintu yang sesak itu,
karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,
dan banyak orang yang masuk melaluinya;
karena sesaklah pintu
dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan,
dan sedikit orang yang mendapatinya.
(Matius 7:13-14)

Inilah kebenaran mengenai jalan keselamatan-Nya. Jalan-Nya adalah jalan yang benar. Jalan-Nya adalah jalan yang lurus. Jalan-Nya adalah jalan menuju terang yang kian lama kian terang benderang. Jalan-Nya adalah jalan yang kekal. Jalan-Nya penuh dengan kasih dan setia. Jalan-Nya adalah jalan kehidupan. Semua itu terdengar begitu indah, dan memang sangat indah. Namun, sama seperti semua itu benar, inipun merupakan kebenaran, yakni bahwasanya pintu-Nya adalah pintu yang sesak dan jalan-Nya adalah jalan yang sempit.

Tahukah engkau mengapa demikian adanya?
Tahukah engkau mengapa pintu-Nya sesak?

Ya…
Pintu-Nya sesak karena tidak ada banyak pintu untuk menjadi pilihan.
Pintu-Nya sesak karena memang hanya ada Satu Pintu.
Dan Sang Pintu itu berkata mengenai diri-Nya:

Akulah Pintu

Dan tahukah engkau mengapa jalan menuju kehidupan itu sesak?

Ya…
Jalan-Nya sempit karena memang hanya ada Satu Jalan yang Allah berikan.
Dan tentang diri-Nya, Sang Jalan itu berkata dengan sangat tegas:

Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup

Ya, Tuhan Yesus Kristus, Dialah Pintu, Dialah Jalan. Dialah jalan menuju kota tempat kediaman orang-orang yang dicari oleh para pengembara yang putus asa itu. Dialah jalan menuju kehidupan. Dialah jalan menuju Kerajaan Allah. Dan Dia juga adalah Pintu Kerajaan Allah. Tak seorangpun dapat masuk ke dalam Kerajaan yang indah itu tanpa melalui Dia. Tetapi barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan melewati Sang Pintu Kehidupan dan beranjak dari padang belantara menuju padang rumput. Tiada satupun orang dapat datang kepada Allah jika tidak melalui Dia. Tetapi siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia beroleh jalan, dan kebenaran, dan hidup.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Yesaya 2 5

Teman-teman yang terkasih, kini izinkanlah aku bertanya padamu.
Apakah kau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus?
Apakah kau percaya dan menerima Dia sebagai Pintu yang sesak dan Jalan yang sempit itu?

Jika “ya” adalah jawabanmu, kukatakan padamu, berbahagialah engkau sebab Ia berjanji bahwa di dalam Dia, kau beroleh:

Jalan yang benar dan lurus sehingga kau tak lagi terombang-ambing oleh ajaran-ajaran sesat dan teori-teori para ateis yang terdengar begitu hebat tetapi menyangkal Allah dan dirinya sendiri.

Jalan yang diterangi cahaya fajar sehingga kau tidak lagi berdiang di dalam kegelapan dosa-dosa lama kesukaanmu (Yohanes 8:12).

Jalan yang penuh kasih setia sehingga kau menyadari bahwa kau tidak pernah sendiri di dalam hidup ini tetapi kasih dan setia-Nya, bahkan diri-Nya sendiri, selalu menyertaimu hingga akhir (Matius 28:20).

Jalan yang menuju padang rumput sehingga kau beroleh sukacita dan kepuasan yang sejati dan kau tidak perlu lagi menyukakan hatimu dengan hiburan-hiburan duniawi yang membutakan pikiranmu, mengeraskan hatimu, dan menyesatkan engkau dengan segala rupanya yang menipu.

Jalan kehidupan sehingga kau beroleh harapan yang baru, tujuan yang baru, kesukaan yang baru, hati yang baru, dan hidup yang baru yang tidak serupa dengan dunia ini tetapi yang hari demi hari kian disempurnakan menuju keserupaan dengan Kristus yang adalah gambar Allah.

Dan karena begitu besar berkat, penyertaan, dan kasih yang telah Allah sediakan bagi kita di dalam Kristus, maka satu-satunya cara hidup yang masuk akal untuk kita lakukan adalah apa yang pernah Allah katakan kepada Yosua sebelum bangsa Israel merebut tanah Kanaan:

Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh,
bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum
yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa;
janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,
engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.
(Yosua 1:7)

Ya, hanya itulah cara hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah bagi setiap kita yang hidup di dalam Kristus Yesus. Jalan-Nya adalah jalan yang lurus. Jalan-Nya adalah jalan yang diterangi oleh terang tuntunan firman Tuhan (Mazmur 119:105). Seperti kata Daud, mungkin untuk sekian waktu lamanya kita akan berjalan dalam lembah kekelaman (Mazmur 23:4), tetapi itu tidak sama dengan kita berjalan di dalam kegelapan seperti orang yang buta atau orang yang tersesat. Tidak. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman yang penuh dengan penderitaan, penolakan, kegagalan, dan kebingungan dalam memutuskan pilihan-pilihan penting yang sulit dalam hidup, kita tidak dibutakan dan disesatkan oleh dunia dan iblis, melainkan kita beroleh terang hidup. Kita tahu jalan yang benar sebab di tangan kita, kita memiliki pelita yang adalah Firman Tuhan dan di dalam hati kita kita memiliki api yang adalah Roh Tuhan. Seperti perintah TUHAN kepada Yosua, kita tidak perlu lagi menghabiskan waktu kita yang berharga untuk melirik dan merasakan bagaimana jalan ke kiri dan ke kanan. Kita tidak perlu bertanya-tanya, “Sepertinya jalan di sisi kanan itu baik atau di sisi kiri itu baik, aku harus mencoba menapakinya.”

Perintah Allah sangatlah jelas: kita tidak boleh melewati jalan itu. Pernyataan-Nya sangatlah tegas: hanya ada satu jalan yang menuntun pada kebenaran dan hidup dan jalan itu adalah Kristus, Tuhan kita. Oleh sebab itu, biarlah setiap orang yang percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Jalan dan Keselamatan dan Hidup, bersama-sama dengan rasul Paulus berkata:

Ayat - Filipi 3 13-14

Tetapi…
Bagimu, kawan, yang belum percaya kepada Kristus…
yang belum percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup,
dengarlah peringatan dari Pemazmur mengenai orang-orang di padang belantara itu!

Oh, Dia adalah Allahmu, Dia adalah Penciptamu. Dia adalah Tuhan yang mau datang ke dunia, menjadi manusia, dan mati di kayu salib untuk menebus seluruh dosamu dan menyelamatkanmu. Dia adalah Terang Dunia. Dia adalah Roti Hidup. Dia adalah Gembala yang baik. Tidak ada satupun yang dapat memuaskan hatimu selain Dia.

Hidup tanpa Kristus adalah mimpi buruk. Di luar Dia, tidak ada jalan sama sekali. Di luar Dia, yang ada hanyalah padang belantara, lengkap dengan segala panas yang terik, dingin yang menyiksa, binatang dan perampok yang mengancam, rasa lapar, rasa haus, rasa lelah, dan semangat yang patah. Di luar Dia, kau harus menanggung semua beban dan konsekuensi dari segala dosamu dan suatu saat yang pasti kelak, kau harus mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Allah yang akan menghukum semua manusia berdosa di dalam api neraka yang kekal. Sungguh, tidak ada sukacita, kedamaian, arti dan tujuan hidup, kepuasan, dan kepenuhan di luar Kristus.

Tanpa Dia, tidak ada keselamatan.
Tanpa Dia, tidak ada hidup.

Tetapi jika engkau percaya kepada-Nya dan menerima-Nya, maka di dalam Dia, kau telah beroleh pengampunan dosa di hadapan Allah. Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Bersama-Nya, kau yang awalnya tersesat dan tidak memiliki arah hidup, akan menemukan jalan yang lurus yang membawamu ke “kota tempat kediaman orang” yang tidak lain adalah Kerajaan di mana Dialah yang menjadi Sang Raja. Bersama-Nya, kau yang awalnya terombang-ambing oleh ajaran dan rayuan dunia serta bisikan iblis, akan menemukan kepastian di dalam kebenaran-Nya yang teguh. Bersama-Nya, kau yang awalnya mati akan beroleh hidup yang baru dan yang kekal.

Oh, percayalah kepada-Nya.
Ia tidak hanya menunjukkanmu jalan yang benar.
Ia tidak hanya menuntunmu di jalan yang benar.

Ialah Jalan yang benar itu.
Dan Ia jugalah tujuannya.

Sunggulah benar, setiap orang yang percaya kepada-Nya akan bernyanyi dengan segenap hati:

All the Way My Savior Leads Me, by Fanny Crosby

Amin

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s