4. Dipuaskan-Nya Jiwa yang Lapar dan Dahaga

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya,
karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,
sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,
dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.
(Mazmur 107:8-9)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lewis (2)

Setiap orang yang hidup di dalam dosa, adalah orang-orang yang jiwanya dahaga dan lapar. Mereka mungkin tidak mengakuinya, mereka mungkin tidak menyadarinya, tetapi itulah kebenaran mengenai setiap orang yang hidupnya jauh dari Allah. Tidak ada kepuasan yang sejati di dalam hidup mereka, yang ada hanyalah sensasi nikmat sejenak, yang dipicu oleh hiburan dan kenikmatan dunia, yang akan segera berubah menjadi kebosanan, kehampaan, bahkan kehancuran dan penyesalan. Tidak ada sukacita di dalam jiwa mereka, yang ada hanyalah kegembiraan yang bergantung pada keadaan dan yang, seperti uap, akan segera sirna oleh hembusan angin dan panas terik kehidupan. Tidak ada kasih yang sejati dan ilahi di dalam hati mereka, yang ada adalah hawa nafsu, cinta akan diri sendiri, dan kebenaran diri sendiri (self-righteousness). Itulah yang membuat jiwa mereka dahaga. Itulah yang membuat jiwa mereka lapar.

Martyn Lloyd Jones dengan keyakinan yang sangat teguh mengatakan demikian:

MLJ 2

Ya. Manusia lebih besar dari harta. Manusia lebih besar dari tahta. Manusia lebih besar dari cinta yang buta. Manusia lebih besar dari cita-citanya. Manusia lebih besar dari negaranya. Manusia lebih besar dari rokok, alkohol, narkoba, komik, dan drama. Manusia lebih besar dari popularitas, persahabatan, percintaan, dan seks. Manusia bahkan lebih besar dari dunia ini. Semua itu akan binasa tetapi, oh, jiwa manusia itu kekal adanya. Apa yang tidak kekal tidak dapat memenuhkan yang kekal. Semua itu tidak dapat memuaskan manusia. Allah telah menciptakan di dalam hati manusia rongga yang seperti Dia. Dan satu-satunya yang dapat memenuhi rongga itu adalah Ia sendiri. Ya, Allah menciptakan manusia untuk Allah dan Allah untuk manusia.

Manusia butuh kepuasan
Manusia butuh sukacita
Manusia butuh kasih
Manusia butuh hidup
Mereka butuh Allah

Itulah sebabnya ketika Allah hadir, sebagaimana firman di dalam Mazmur 107, Ia tidak hanya melepaskan umat-Nya dari kecemasan mereka dan membawa mereka ke jalan yang lurus. Ketika Allah datang untuk menolong umat-Nya, Ia pasti akan memuaskan jiwa mereka yang dahaga. Ketika Allah datang untuk menyelamatkan umat-Nya, Ia pasti mengenyangkan jiwa mereka yang lapar dengan kebaikan. Itulah yang telah Ia lakukan. Itulah yang sedang Ia lakukan. Itulah yang akan Ia lakukan. Inilah yang menjadi kesaksian dari hamba-hamba Allah di seluruh bagian Alkitab. Dengarlah kesaksian mereka:

Daud mengatakan:
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan,
sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.
(Mazmur 103:5)

Yesaya membawa pesan-Nya:
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. (Yesaya 58:11)

Yeremia pun bersaksi:
Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan,
dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
(Yeremia 31:14)

Maria, bunda Tuhan kita, bernyanyi:
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.
(Lukas 1:53)

Dan yang paling kusukai, adalah apa yang Daud katakan:

Ayat - Mazmur 4 8

Ya, Allah menaruh sukacita di hati anak-anak-Nya lebih banyak bahkan dibanding kesenangan yang dirasakan oleh orang-orang dunia di hari mereka kelimpahan “gandum” dan “anggur”. Orang-orang yang tidak mengenal Allah mungkin berlimpah dengan gandum. Makanan mereka cukup, uang mereka cukup, pekerjaan mereka baik, dan lain sebagainya. Mereka juga mungkin kelimpahan dengan anggur. Mereka menyukakan hati mereka dengan kenikamatan-kenikmatan dunia. Mereka merokok, mengonsumsi obat-obatan terlarang, berfoya-foya, pergi ke sana kemari, menonton film-film penuh dosa, seks di luar nikah, dan apapun yang mendatangkan kesenangan bagi kedagingan manusia. Mereka bisa saja berlimpah dengan semua itu. Mereka mungkin saja merasakan kesenangan dari semua itu. Namun, semua itu tidak hanya sementara dan akan segera berubah menjadi kehampaan, kebosanan, dan kehancuran. Semua itu, bahkan dalam keadaannya yang berlimpah-limpah, tidak dapat mendatangkan kepuasan, kedamaian, dan sukacita sebesar yang Allah taruh di dalam hati umat-Nya. Itulah yang Daud serukan. Itulah yang seluruh umat Tuhan rasakan di zaman Alkitab.

Tetapi kesaksian tentang kebaikan-Nya tidak selesai sampai di zaman Alkitab saja. Kasih setia-Nya Ia lanjutkan hingga saat ini bagi umat-Nya. Kita bisa melihatnya dari kesaksian orang-orang kudus di sepanjang sejarah gereja:

Handel, salah seorang komposer terbesar sepanjang masa yang menggubah karya agung “Messiah” berkata:

Handel

Blaise Pascal, ilmuwan saleh yang ternama, berkata:
There is a God-shaped vacuum in the heart of every man, and only God can fill it.

David Brainerd, penginjil New England ke orang-orang Indian berkata:
God was so precious to my soul that the world with all its enjoyments appeared vile.
I had no more value for the favor of men than for pebbles.

Charles Spurgeon, Prince of Preachers, dengan yakin mengatakan:

Spurgeon (4)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Mazmur 42 1

Ya, demikianlah kasih setia Allah. Ia memuaskan hasrat umat-Nya dengan kebaikan. Ia mengenyangkan jiwa mereka dengan kebajikan. Ia menaruh sukacita-Nya ke dalam hati mereka. Namun, itu semua belumlah keseluruhan dari pemberian Allah kepada umat-Nya. Di atas segala kebaikan, kebajikan, dan sukacita yang Ia anugerahkan, Allah masih memiliki Satu pemberian yang terakhir, yang terbaik, dan yang terutama untuk orang-orang yang Ia selamatkan.  Kau mungkin bertanya di dalam hatimu, “Apakah pemberian itu?” tetapi itu bukanlah pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang benar adalah ini: Siapakah pemberian itu?

Dan Yesaya memberikan jawaban-Nya kepada kita:

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita;
lambang pemerintahan ada di atas bahunya,
dan namanya disebutkan orang:
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
(Yesaya 9:5)

Seorang Putera, ya, seorang Putera. Bukan sekadar kebaikan, kebajikan, atau sukacita di hati, melainkan seorang Putera, Dialah pemberian yang terbaik yang dianugerahkan Allah kepada kita. Ia adalah seorang Putera tetapi Ia bukanlah Pribadi sembarangan. Ia adalah Penasehat Ajaib. Ia adalah Raja Damai. Ia adalah Bapa yang Kekal atau Bapa dari kekekalan. Ia adalah Allah yang perkasa. Siapakah gerangan? Jika kita masih samar-samar mengenal-Nya, Yohanes memberikan kita lebih jauh tentang Dia.

Ayat - Yohanes 3 16

Siapakah Dia? Ya, Dia adalah Sang Anak Allah. Tidakkah itu luar biasa? Tidak ada satu ayahpun yang dengan rela hati memberikan anaknya kepada orang-orang jahat. Namun, Allah sangatlah berbeda dengan manusia. Ia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal, yang tentang-Nya Ia berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan,” bagi dunia yang penuh dengan orang-orang berdosa ini, yang di dalamnya termasuk aku dan engkau. Mengapa Ia mau memberikan Putera-Nya kepada dunia ini? Hanya satu jawabannya, yakni karena kasih, atau yang lebih tepat lagi, karena kasih-Nya yang begitu besar akan dunia ini.

Apa?
Allah begitu mengasihi dunia ini?
Ya, Ia sangat mengasihi dunia ini.

Bukankah Ia murka terhadap dunia yang penuh dosa ini?
Ya, Ia selalu murka dengan dunia ini.
Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, tak pernah sedetikpun Allah tidak murka dengan dunia ini.

Namun, kenyataan bahwa Allah murka, bahkan sangat murka,
tidak berarti bahwa Ia tidak sabar
tidak berarti bahwa Ia tidak berbelaskasihan
tidak berarti bahwa Ia lupa akan kasih sayang
tidak berarti bahwa Ia tidak mengasihi dengan kasih yang kekal

Tidak
Sekalipun Allah murka, di dalam itupun Ia mengasihi dunia ini dengan kasih yang amat besar.
Sekalipun Allah murka, Ia memberikan Putera yang Ia kasihi untuk dunia ini.

Demikianlah besarnya kasih Allah kepada dunia ini. Ia mengaruniakan Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia yang penuh dengan dosa ini. Ia memberikan Putera-Nya untuk melepaskan umat-Nya dari kecemasan mereka, menuntun mereka di jalan yang benar menuju “kota tempat kediaman orang”, dan untuk memuaskan jiwa mereka. Tetapi bukan Allah saja yang pribadi yang berinisiatif di sini, Sang Anak juga dengan kasih yang kekal dan yang sempurna mau memberikan diri-Nya bagi orang-orang berdosa. Dan di dalam kasih-Nya yang begitu besar, Sang Anak, yang adalah Tuhan kita Yesus Kristus, berkata kepada dunia ini:

Ayat - Yohanes 6 35

Ia juga berkata:

Ayat - Matius 11 28

Ini dia
Inilah jawabannya
Inilah yang manusia butuhkan
Inilah yang jiwaku cari dan rindukan
semoga inilah yang juga jiwamu cari dan rindukan

Pemazmur berkata, “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Orang-orang bertanya, “Ya TUHAN, dengan apakah Engkau akan memuaskan dahaga jiwa kami, dengan apakah Engkau hendak mengenyangkan jiwa kami yang lapar?” Dan di dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus, menjawab: “Akulah yang akan memuaskan jiwamu yang haus. Aku, ya Aku, yang akan mengenyangkan jiwamu yang lapar.”

Dan juga, ingatlah kisah pertemuan Tuhan kita dengan perempuan Samaria. Wanita itu, seperti yang dicatat di dalam firman Tuhan, adalah seorang wanita yang pernah menikah dengan lima orang pria dan kini ia sedang tinggal satu atap dengan pria yang bukan suaminya. Ia adalah wanita yang haus akan kasih sayang, sangat haus akan relasi yang penuh kasih. Ia ingin diterima. Ia ingin diperhatikan. Ia butuh  dilindungi. Ia lapar akan sukacita dan kedamaian. Dan ia telah menghabiskan banyak waktu, terlalu banyak waktu, di dalam hidupnya untuk mencari tahu arti hidupnya berdasakan pada pasangan hidupnya.

Tetapi, apakah ia menemukan apa yang jiwanya cari-cari itu? Apakah ia beroleh kepuasan? Apakah ia mengerti arti dan tujuan hidupnya? Apakah ia benar-benar merasakan kelegaan dan sukacita? Tidak jika ia mencarinya dari apa yang dunia ini tawarkan. Lihatlah, ia telah menjalin hubungan kasih dengan banyak pria, ia bahkan hidup di dalam dosa karena ia tinggal dengan pria yang bukan suaminya, tapi belum juga ia menemukan apa yang jiwanya itu rindukan. Ia menghancurkan dirinya sendiri. Ia persis dengan apa yang sang Pemazmur katakan, “Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.”

Hingga akhirnya, Ia bertemu dengan Tuhan Yesus. Dan apakah yang Tuhan kita katakan? Inilah yang Ia katakan:

Ayat - Yohanes 4 13-14

Tidakkah janji-Nya teramat sangat indah? Oh, tidak ada satupun pribadi seperti Dia. Adakah dunia ini dapat memberikan apa yang Ia janjikan? Adakah manusia dapat mengatakan apa yang Ia katakan? Lihatlah dunia ini! Lihatlah para filsuf, para motivator, para pemikir, para penguasa dunia ini! Mereka mungkin memiliki kekuatan, kekayaan, kecerdasan, dan pengetahuan yang luar biasa. Namun, adakah di antara mereka yang bisa berkata seperti Tuhan kita?

Adakah orang yang bisa mengatakan:
Aku adalah Roti Hidup yang bila kau makan kau tidak akan pernah lapar lagi dengan makanan-makanan kotor yang dunia ini tawarkan…?

Adakah orang yang berani untuk berkata:
Marilah datang kepada-Ku siapa saja yang sedang sedih, kecewa, hancur hati, putus asa, letih,
lesu, berbeban berat, bahkan ingin bunuh diri. Apapun masalahmu, Aku dapat memberikan kelegaan kepadamu…?

Adakah orang yang cukup waras untuk mengatakan:
Barangsiapa memberi minum jiwanya dengan sukacita yang datang dari harta, tahta, popularitas, cinta, seks, prestasi, makanan, hiburan, atau bahkan dari seisi alam semesta ini…

Ia akan haus lagi…

Tapi Aku, ya Aku, dapat memberikanmu air yang jika kau meminumnya kau tidak akan pernah haus lagi untuk selama-lamanya.

Tidak, tidak seorangpun. Tak satupun orang yang pernah ada, yang ada, dan yang akan ada di dunia ini yang dapat berbicara dengan otoritas dan kuasa seperti Dia. Bahkan pria sesaleh Ayub, nabi sebesar Musa, hakim sepekerkasa Simson, raja sekuat Daud dan sepandai Salomo, tidak akan berani mengatakannya sebab mereka memang tidak mampu. Hanyalah Dia, yakni Kristus Yesus, Sang Anak Allah, Tuhan kita, yang bisa mengatakannya dan melaksanakan apa yang Ia katakan itu. Bukankah Ia luar biasa? Oh, Ia sungguh luar biasa.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku yang terkasih…

Apakah kau adalah orang yang digambarkan oleh Pemazmur?
Apakah kau sedang mengembara di padang belantara hatimu?
Apakah kau masih mencari-cari “kota tempat kediaman orang” itu?

Apakah batinmu lapar dan haus?
Apakah jiwamu lemah dan lesu di dalam dirimu?

Jika “ya” adalah jawabanmu, maka izinkanlah aku memetik perkataan Martyn Lloyd Jones, seorang hamba Tuhan yang dipakai Allah secara luar biasa di abad ke-20. Ia berkata:

MLJ 2

Apa yang Lloyd Jones katakan adalah benar. Akar dari segala kekeringan dan kehampaan di dalam hati setiap manusia adalah karena ia terpisah dari Allah. Dan apakah penyebab yang menjadikan manusia terpisah dari Allah? Hanya satu jawabannya, yaitu dosa. Dosa adalah akar dari segala masalah manusia. Dosa adalah kanker yang menggerogoti jiwa manusia. Dosalah yang menyesatkan orang-orang dan menelantarkan mereka di padang belantara. Dosalah yang merayu orang-orang dengan kenikmatan yang semu kemudian menjerat mereka di dalam hidup yang tidak akan pernah menemukan kepuasan dan kebahagiaan yang sejati. Dosalah yang memisahkan manusia dengan Allahnya. Dosalah yang membuat manusia mati.

Itulah akibat dosa di dalam hidup manusia. Bukankah itu sungguh mengerikan? Oh, itu sangatlah mengerikan. Tetapi, ada yang jauh lebih mengerikan dari pada semua itu. Apakah itu? Inilah Dia:

Allah sangat membenci dosa
Allah tidak akan pernah dapat bersatu dengan dosa
Dan Allah tidak pernah berubah

Ya, Allah tidak pernah berubah. Sama seperti Ia begitu membenci dosa di zaman dahulu sehingga Ia mengutuk seisi dunia yang awalnya Ia ciptakan dengan sungguh amat baik, mengusir Adam dan Hawa dari taman Eden, menenggelamkan seisi bumi dengan air bah di zaman Nuh, dan membinasakan Sodom dan Gomora dengan sekejap oleh hujan api, demikianlah Ia begitu membenci dosa saat ini dan untuk seterusnya hingga akhirnya Ia melemparkan dosa dan para pendosa ke dalam lautan api untuk selama-lamanya. Dan apabila Ia sangat membenci dosa, dan dosa itu tinggal di dalam hati manusia, dan yang lebih buruk lagi, dosa itu dihasilkan oleh hati manusia yang bobrok, lalu bagaimana manusia dapat datang kepada-Nya? Bagaimana manusia yang adalah pabrik dosa dapat menjalin relasi dengan-Nya?

Dan hanya satu jawaban untuk pertanyaan itu:
Manusia yang berdosa tidak akan pernah dapat datang kepada-Nya.
Manusia yang berdosa tidak akan pernah dapat menjalin relasi dengan-Nya.

Sebab Ia begitu membenci dosa.
Dan yang lebih mengerikan dari itu, Ia begitu murka terhadap para pendosa.

Daud berkata, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. (Mazmur 24:3). Adakah manusia yang tangannya bersih sepenuhnya? Adakah manusia yang murni hatinya dan tidak pernah bernoda sedikitpun? Bukankah manusia menyerahkan dirinya untuk dibujuk, dibodohi, dan ditipu oleh iblis dan oleh dunia? Bukankah manusia sering sekali melanggar apa yang ia sumpahkan kepada Allah? Jika demikian jawabannya, maka bagaimana mungkin manusia berpikir bahwa ia dapat datang kepada Allah?

Oh, mustahil manusia yang berdosa dapat menghampiri-Nya di altar-Nya yang kudus. Itulah kabar terburuk yang seharusnya dimengerti oleh setiap manusia. Itulah masalah paling besar bagi seluruh manusia. Bukan tentang bagaimana mendapatkan IP yang baik, bukan tentang bagaimana menjadi kaya raya, bukan tentang bagaimana menjadi berkuasa, bukan tentang bagaimana disukai oleh banyak orang, melainkan tentang bagaimana manusia dapat bertemu dengan Allah dan kedapatan benar di hadapan-Nya. Itulah masalah utama umat manusia.

Lalu, jika demikian, apakah itu berarti bahwa semua manusia akan binasa? Oh, terpujilah Allah kita, sebab sekalipun Ia murka, Ia ingat akan kasih sayang (Habakuk 3:2). Walaupun Ia begitu benci dengan dosa dan Ia tidak pernah berubah, Ia mengasihi dengan kasih yang kekal (Yeremia 31:3) dan Ia tidak pernah berubah. Sekalipun Ia hendak membinasakan orang-orang yang berdosa, Ia adalah kasih (1 Yohanes 4:8) dan Ia tidak pernah berubah.

Dan sekalipun mustahil manusia dapat datang kepada Allah, dari sejak kekekalan Allah telah berencana untuk datang kepada manusia. Allah tahu bahwa dengan kekuatannya sendiri manusia tidak akan pernah dapat datang kepada-Nya. Oleh sebab itu, di dalam segala kasih dan kerendahan hati, Ia sendiri yang terlebih dahulu memberi diri-Nya untuk datang kepada manusia. Ia mengutus para malaikat-Nya, nabi-Nya, imam-Nya, raja-Nya, dan orang-orang saleh-Nya untuk memperkenalkan siapa Dia, untuk memberitakan hukum-Nya yang teguh dan kasih-Nya yang besar, untuk menyerukan mereka untuk berbalik kepada kasih sayang Allah tetapi mereka tetap saja menolak-Nya. Mereka menolak para hamba-Nya, menghina mereka, bahkan beberapa di antaranya mereka bunuh.

Tidakkah Allah marah melihat sikap umat manusia terhadap niat baik-Nya itu? Tentu saja, Ia sangat marah. Tetapi, apakah Ia berhenti? Oh, terpujilah Dia. Sekalipun manusia selalu menyakiti hati-Nya, Ia panjang sabar. Ia belum selesai dengan manusia. Dan seperti kata penulis Kitab Ibrani:

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali
dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya,
yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.
(Ibrani 1:1-2)

Ya, di zaman akhir ini, Allah datang kepada manusia melalui Putera-Nya yang Ia kasihi, yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Dia adalah “pesan terakhir” Allah kepada manusia. Jika umat manusia di zaman akhir ini hendak mengenal Allah, maka mereka harus mengenal-Nya melalui Putera-Nya. Hanya itu jalan yang tersisa. Tetapi tidak sampai di situ, firman Allah juga berkata:

Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar
—  tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati  — .

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita,
oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
(Roma 5:7-8)

Ya, masalah utama bagi manusia adalah dosa di dalam dirinya membuatnya terpisah dari Allah dan terkutuk oleh-Nya. Masalah utama bagi Allah adalah keadilan-Nya yang sempurna membuat-Nya tidak dapat begitu saja mengampuni manusia yang berdosa dan melupakan dosa-dosa mereka. Hukum-Nya harus ditegakkan. Pengampunan-Nya membutuhkan syarat. Keadilan-Nya butuh dipuaskan. Tetapi di saat yang sama, kasih-Nya yang tiada tara harus dinyatakan demi kemuliaan nama-Nya. Dan bagaimanakah Allah menyelesaikan dilema ini? Bagaimanakah Allah di saat yang sama menunaikan keadilan dan kasih setia-Nya? Hanya satu jawabannya dan itu adalah di dalam Kristus Yesus.

Ayat - 2 Korintus 5 19-21

Ia yang tidak mengenal dosa, telah dijadikan-Nya dosa karena kita,
supaya di dalam Dia, kita dibenarkan oleh Allah.

Ia yang kaya rela menjadi miskin karena kita
supaya oleh kemiskinan-Nya, kita beroleh harta yang kekal di sorga.

Ia yang adalah Mata Air Kehidupan, mau kehausan di atas salib demi kita,
supaya oleh dahaga-Nya, kita tidak lagi haus akan air sumur dunia ini.

Ia yang adalah Kebenaran dan Penasehat Ajaib, bersedia didakwa oleh orang-orang berdosa karena kita, supaya oleh semua itu, iblis tidak punya lagi hak untuk mendakwa kita.

Ia yang adalah Allah yang perkasa, rela keletihan memikul salib demi kita,
supaya dengan letih dan lesunya Dia di Golgota, Ia menganugerahkan sumber kekuatan-Nya kepada kita, yang adalah Roh Kudus.

Ia yang adalah Raja Damai, di taman Getsemani bersusah hati dan berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.”
Semua itu karena kita, supaya oleh hati-Nya yang remuk, hati kita dibangkitkan.

Ia yang adalah Anak Tunggal Bapa, di atas kayu salib berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan-Ku.”
Semua itu demi kita, supaya dengan ditinggalkannya Dia oleh Bapa untuk seketika waktu lamanya, selama-lamanya Allah tidak akan pernah meninggalkan kita.

Ia yang adalah Hidup, rela mati di atas kayu salib bagi kita,
supaya oleh kematian-Nya, kita beroleh hidup yang kekal.

Di atas salib Kristus, keadilan Allah dipuaskan dan kasih setia Allah dipermuliakan. Di dalam Kristus, Allah mendamaikan orang-orang berdosa dengan diri-Nya. Rasul Paulus berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. (Roma 8:1). Ya, di dalam Kristus, Allah tidak lagi melihat adanya dosa dan pelanggaran pada umat-Nya. Allah melupakan semua dosa mereka. Sejauh timur dari barat demikianlah Ia melemparkan dosa-dosa mereka dari hadapan-Nya. Ia memperlakukan mereka seolah-olah mereka tidak pernah melakukan dosa sedikitpun. Ya, tidak ada lagi penghukuman bagi mereka. Di dalam Kristus, Allah hanya melihat kebenaran dan kekudusan pada mereka. Di dalam Kristus, Allah bertemu kembali dengan manusia. Di dalam Kristus, Allah bersatu dengan manusia, sekali untuk selama-lamanya.

Carson

Kristus…
Dialah jalan keluar bagi seluruh umat manusia.
Dialah satu-satunya pengharapan bagi dunia.

Dialah Benteng yang teguh bagi mereka yang terancam.
Dialah Kota Perlindungan bagi mereka yang dikejar-kejar.

Dialah Roti Hidup bagi mereka yang lapar.
Dialah Sumber Mata Air Kehidupan bagi mereka yang haus.
Dialah Hari Sabat, hari peristirahatan, bagi mereka yang letih, lesu, dan berbeban berat.

Dialah Terang Dunia bagi mereka yang berada dalam kegelapan.
Dialah Gembala yang baik yang rela memberikan diri-Nya bagi domba-domba-Nya.

Dialah Penasehat Ajaib bagi mereka yang bingung dan tak berpengharapan.
Dialah Allah yang perkasa bagi mereka yang lemah.
Dialah Bapa yang kekal bagi “anak yatim” dan “para janda”, yang adalah kita.
Dialah Raja Damai bagi mereka yang berduka dan patah semangatnya.

Dialah Jalan bagi mereka yang tersesat di padang belantara.
Dialah Kebenaran bagi mereka yang salah.
Dialah Hidup bagi mereka yang mati.

Dialah Juruselamat bagi semua orang yang berdosa.
Dialah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat atas seluruh umat manusia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oh, sungguh, di luar Kristus, tidak ada jalan, tidak ada kebenaran, tidak ada hidup. Di luar Kristus, yang ada hanyalah padang belantara dan jalan menuju kebinasaan.

Kini, izinkanlah aku mengajukan pertanyaan ini padamu, kawan yang terkasih:

Sudahkah Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat bagimu?

Sudahkah kau yakin sepenuhnya kepada kepada kasih-Nya yang Ia nyatakan di atas kayu salib yang menghapus segala dosamu dan mendamaikanmu dengan Allah?

Jika kau masih ragu namun kau sadar bahwa kau sangat membutuhkan keselamatan-Nya, maka seperti kata Nabi Yoel, koyakkanlah hatimu (Yoel 2:13). Sadarilah seluruh dosamu. Sadarilah pelanggaranmu. Sadarilah bahwa semua itu menyakiti hati Allah. Kemudian berbaliklah kepada-Nya dengan remuk dan rendah hati. Mohonkanlah belas kasihan dari-Nya, bukan berdasarkan kelayakan dan kebaikanmu, melainkan sepenuhnya hanya karena kasih sayang-Nya yang berlimpah-limpah (Daniel 9:18). Mintalah kepada-Nya agar melalui Roh-Nya yang kudus Ia mencelikkan matamu yang buta dan mengubah hatimu yang bobrok supaya engkau melihat dan memahami betapa besarnya kasih-Nya yang Ia nyatakan di dalam salib Kristus.

Taruhlah seluruh iman dan pengharapanmu kepada Krisus yang telah disalib, mati, lalu bangkit bagi orang-orang berdosa. Dan ketahuilah bahwa kebenaranmu di hadapan Allah tidak Ia perhitungkan berdasarkan jasa-jasamu. Kebenaranmu di hadapan-Nya hanya Ia perhitungkan berdasarkan iman percayamu kepada Kristus dan kebutuhanmu akan Dia.

Jika kau melakukan itu, jika di dalam kerendahan hati kau datang memohon belas kasihan dan pengampunan Allah, dan jika dengan iman kau percaya bahwa Kristus Yesus mengasihimu dan menyerahkan hidup-Nya untukmu, maka percayalah, sebagaimana Tuhan kita telah berjanji, “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang (Yohanes 6:37).” Ia akan menyelamatkanmu. Ia akan memberikan mata yang baru padamu. Ia akan memberikan telinga yang baru padamu. Ia akan memberikan hati yang baru padamu. Ia akan memberikan pengharapan yang baru padamu. Ia akan memberikan hidup yang baru, yang sejati, dan yang kekal padamu karena nama-Nya. Dan kau, bersama-sama dengan sang Pemazmur akan berseru:

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya,
karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,
sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,
dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.
(Mazmur 107:8-9)

dan dengan seluruh umat tebusan Kristus, akan mengutarakan sukacita di hatimu dan bernyanyi:

I Heard the Voice of Jesus Say

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s