Memandang Arti dan Masa Hidup Ini, Bagian 1

Elliot

Kini kita telah berada di penghujung tahun 2015. Sesaat lagi kita akan tiba di tahun yang baru, tahun 2016. Ada banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang dalam menjelang tahun yang baru ini. Ada yang membuat daftar resolusi yang akan dikerjakan di tahun depan. Ada yang membuat target dan cita-cita yang harus dicapai di kemudian hari. Ada yang mengenang setiap kejadian penting yang sudah dialami di sepanjang tahun 2015. Ada yang tidak memikirkan semua itu dan lebih memilih untuk menikmati saat-saat terakhir di tahun 2015 ini dengan berbagai macam hal, seperti melakukan perjalanan jauh, mengunjungi tempat-tempat wisata, bercengkerama dengan keluarga atau teman dekat, dan lain sebagainya. Dan yang pasti, ada pula yang tidak memiliki waktu untuk semua itu karena mereka harus bekerja membanting tulang demi mendapat sesuap nasi.

Ada bermacam-macam respon setiap orang dalam menantikan tahun 2016. Ada respon yang positif. Ada pula respon yang negatif. Namun, apapun yang telah kita rencanakan untuk dilakukan di pergantian tahun ini, tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan selain merenungkan kembali apa arti hidup ini dan bagaimana sepatutnya kita memandang masa hidup ini, berdasarkan firman Allah. Dan kali ini, firman Allah yang sangat baik untuk dijadikan landasan dalam mengevaluasi kehidupan kita adalah firman yang sudah sangat familiar di telinga kita, khususnya ketika hari Natal, yaitu:

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.
(Yohanes 1:14)

Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Bagian firman ini mengandung makna yang begitu mendalam. Pertama-tama, firman ini memiliki makna kedatangan Sang Firman Allah ke dalam dunia. Firman ini bermakna Hari Natal yang belum lama ini kita rayakan. Ia, yang adalah Sang Anak Allah yang kekal, oleh kasih-Nya yang begitu besar kepada dunia ini rela menjadi manusia, benar-benar menjadi manusia, dan hidup bersama umat manusia. Kita telah cukup familiar dengan interpretasi tersebut.

Namun, firman ini tidak hanya berbicara mengenai Hari Natal. Firman ini berbicara lebih banyak dari itu. Firman ini tidak hanya berbicara tentang kedatangan Sang Anak Allah ke dalam dunia tetapi juga tentang bagaimana Ia hidup di dalam dunia ini. Dan inilah yang menjadi dasar yang sangat baik untuk kita pelajari dan teladani supaya kita memiliki pengertian yang benar terhadap arti dan masa hidup kita di dunia ini.

Di dalam Alkitab berbahasa Indonesia kita, ayat ini berkata, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Kata “diam” pada ayat ini, dalam bahasa Yunani yang adalah bahasa aslinya, adalah “σκηνόω” (dibaca skay-no’-o) yang berarti berkemah. Itulah yang Sang Anak lakukan dalam kedatangan-Nya yang pertama ke dunia ini. Ia mengenakan natur manusia pada diri-Nya yang ilahi kemudian berkemah di antara umat manusia. Tidak diragukan lagi, keberadaan-Nya sebagai manusia Yesus Kristus di tengah-tengah umat-Nya merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari apa yang beribu-ribu tahun sebelumnya telah Ia lakukan di tengah-tengah Bangsa Israel di padang gurun. Apakah itu? Ya, berkemah di tengah-tengah mereka, tetapi bukan di dalam wujud manusia melainkan di dalam sebuah kemah, yakni Kemah Suci (Keluaran 25:8).

Tabernacle-Glory1

Namun, fokus kita kali ini bukanlah tentang Kemah Suci atau tentang bagaimana Kristus merupakan perwujudan atau penggenapan dari Kemah Suci yang melambangkan-Nya. Fokus kita adalah ini:
“Tuhan Yesus Kristus berkemah di antara kita, khususnya pada kata, berkemah.

Tuhan kita Yesus Kristus berkemah di antara kita. Ia turun dari sorga, menjadi manusia, datang ke dunia dan berkemah di dalamnya. Dan ketika dikatakan “berkemah”, kita mengerti bahwa Ia tidak berdiam di dunia ini untuk selama-lamanya. Ia tinggal dan berkemah di dunia ini hanya untuk sementara. Ia datang karena suatu misi dan jika misi itu sudah selesai Ia tunaikan, maka selesai jugalah masa perkemahan-Nya di dunia ini.

Untuk apakah Ia datang ke dunia ini? Misi apakah yang Ia emban itu? Tuhan Yesus sendiri telah menjelaskannya. Ia berulang-ulang kali mengatakan hal yang sama:

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(Yohanes 4:34)

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.
(Yohanes 9:4)

Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku,
tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
(Yohanes 6:38)

Itulah alasan mengapa Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia ini. Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Bahkan, menunaikan kehendak Bapa-Nya telah menjadi “makanan” bagi-Nya. Dengan demikian, apabila kita harus meringkas kehidupan Tuhan Yesus di dunia ini hanya ke dalam dua poin, maka dengan segala penghormatan kepada-Nya kita dapat meringkas dua hal ini, yaitu:

  • Ia memandang hidup-Nya di dunia ini sebagai suatu perkemahan yang sementara.
  • Ia memberikan hidup-Nya yang sementara di dunia ini seutuhnya untuk menjalankan kehendak Bapa.

Itulah arti hidup menurut Tuhan kita Yesus Kristus. Itu jugalah yang menjadi arti hidup bagi hamba-hamba-Nya. Kita dapat melihat kesaksian mereka, yakni tentang bagaimana mereka memandang arti dan masa hidup mereka di dunia yang fana ini. Dengarlah penuturan mereka:

Nabi Musa bermazmur:
Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
(Mazmur 90:6 & 10)

Raja Daud berdoa:
Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku,
supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(Mazmur 39:4)

Asaf, pemimpin puji-pujian itu, di dalam mazmurnya, mengatakan:
Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali.
(Mazmur 78:39)

Pemazmur, ketika ia sengsara dan lemah lesu, di dalam pengaduhannya kepada TUHAN, berkata:
Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput.
(Mazmur 102:12)

Nabi Yesaya, menyampaikan apa yang Allah sendiri firmankan mengenai manusia:
“Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.”
(Yesaya 40:6)

Rasul Paulus menegaskan:
Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga,
dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
(Filipi 3:20)

Yakobus memperingatkan kita:

Ayat - Yakobus 4 14

Rasul Yohanes berkata:
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
(1 Yohanes 2:17)

Rasul Petrus berkata:
Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
(2 Petrus 1:13-14)

Itulah yang firman Allah katakan mengenai hidup manusia. Melalui Musa, Allah berkata bahwa hidup kita ibarat sebuah mimpi yang akan segera terlupakan. Melalui Daud, Allah menyiratkan bahwa hidup manusia di dunia ini fana adanya. Melalui Asaf, Allah mengatakan bahwa hidup kita seperti angin yang berhembus dan tak kembali.  Melalui Yesaya, Allah mengingatkan bahwa hidup manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Melalui Yakobus, Allah menyatakan hal yang lebih tegas lagi, yakni bahwa hidup manusia sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Melalui Yohanes, Allah menegaskan bahwa tidak hanya hidup manusia yang bersifat sementara tetapi bahkan dunia ini pun sementara adanya dan sedang lenyap menuju kebinasaan.

Demikianlah Allah mendeskripsikan kesementaraan hidup ini kepada umat manusia. Itulah sebabnya Allah mengajar kita untuk berpikir sama seperti Petrus, yaitu bahwa baik tubuh maupun kehidupan kita di dunia ini sejatinya adalah kemah yang cepat atau lambat akan kita tanggalkan dan tinggalkan. Dan Allah berjanji bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Allah di dalam hidupnya yang sementara ini, Ia akan menganugerahkan kepada orang itu hidup yang kekal. Inilah pandangan yang Alkitabiah tentang kehidupan. Alkitab berulang-ulang kali mengingatkan kepada kita bahwa hidup kita di dalam tubuh dan dunia ini hanyalah sementara. Hanya dengan memahami hal inilah kita dapat benar-benar memahami hidup ini.

Dan jika kita berpikir seperti apa yang Allah ingin kita pikirkan, maka seperti apakah seharusnya respon kita? Jika kita sadar bahwa hidup kita ini adalah ibarat uap yang akan segera berlalu, maka seperti apakah seharusnya kita hidup di dunia ini? Apakah kita akan berespon seperti dunia ini yang mengatakan, “Hidup ini hanya sekali dan singkat. Oleh sebab itu, lupakanlah Allah dan nikmatilah hidup ini.” Tentu tidak, bukan?

Dunia ini menipu dirinya sendiri. Dunia ini membodohi dirinya sendiri dengan dongeng-dongeng isapan jempol mereka. Anak-anak dunia ini lupa bahwa “sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27).” Ya, penghakiman Allah yang tidak pernah salah menanti semua insan di dunia ini. Cepat atau lambat, setiap manusia akan mati dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Sang Hakim yang tidak pernah menoleransi setiap pelanggaran terhadap hukum-Nya. Yohanes Pembaptis berkata, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (Matius 3:10). Tuhan Yesus menegaskan:

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
(Matius 7:24-27)

Oh, begitu tegas peringatan yang Ia sampaikan. Oleh sebab itu, seperti apakah seharusnya respon orang-orang percaya dalam menanggapi kehidupan yang hanya sekali dan begitu singkat ini? Respon yang masuk akal tentulah respon yang diberikan oleh Allah kepada kita di dalam firman-Nya, yaitu:

Kita harus hidup…

  • untuk mengumpulkan harta di sorga (Matius 6:20)
  • dengan mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Matius 6:33)
  • tanpa rasa kuatir (Filipi 4:6)
  • tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2a)
  • menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi perlombaan iman kita (Ibrani 12:1)
  • mengejar kekudusan (Ibrani 12:14)
  • dengan tekun berdoa, berjaga-jaga, dan mengucap syukur (Kolose 4:2)
  • memandang kematian sebagai sebuah keuntungan (Filipi 1:21)
  • dengan tujuan utama yaitu kemajuan pemberitaan Injil (1 Korintus 9:23)
  • dalam keseriusan, kedisiplinan, dan ketaatan untuk pekerjaan Allah (1 Korintus 9:24-27)
  • mengharapkan dan menantikan dengan sukacita kedatangan Tuhan kita (Titus 2:13)
  • seutuhnya bagi kemuliaan nama Tuhan (1 Korintus 10:31)

Dengan singkat, Rasul Paulus merangkum semua itu dengan menulis:

Ayat - Kolose (2)

Demikianlah hendaknya kita hidup di dunia ini. Hendaklah kita hidup menurut terang firman Tuhan kita. Hendaklah kita hidup sebagaimana apa yang pernah Richard Baxter katakan:

Baxter

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s