Memandang Arti dan Masa Hidup Ini, Bagian 2

Tolstoy

Kita harus menyadari bahwa hidup ini hanyalah untuk sementara.
Kita harus menghidupi bahwa hidup ini hanyalah untuk Allah.

Kita perlu menyadari bahwa kewarganegaraan kita ada di dalam sorga.
Kita perlu memikirkan perkara-perkara yang di atas.

Itulah unsur hara untuk pekerjaan yang mulia bagi kebaikan umat manusia.
Itulah bahan bakar untuk visi dan misi yang agung bagi kemuliaan Allah.

Itulah syarat agar kita dapat benar-benar berdampak bagi dunia ini.
Itulah syarat agar kita hidup, benar-benar hidup, di dunia ini.

Beberapa orang mungkin akan tidak setuju dengan pendapat di atas. Beberapa orang mungkin akan sangat terganggu dengan pernyataan di atas. Bagi mereka, Kolose 3:2 merupakan ayat yang seharusnya tidak ada di dalam Alkitab. Mereka akan berkata bahwa orang-orang Kristen adalah orang yang holy-holy atau tidak membumi sehingga tidak berdampak bagi masyarakat di mana mereka berada. Apakah engkau pernah mendengar komentar yang demikian? Bagaimanakah sikap kita terhadap pandangan yang demikian? Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus memberikan respon dan pertanggungjawaban dengan lemah lembut dan sopan (1 Petrus 3:15-16). Setidaknya ada dua hal yang perlu kita lakukan dalam menanggapi tuduhan-tuduhan seperti itu:

Pertama, mintalah mereka untuk membaca dan menyelidiki sejarah dengan sungguh-sungguh. Mintalah mereka untuk menginvestigasi apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen seperti Augustine, John Wycliffe, Martin Luther, William Tyndale, John Calvin, Para Puritan, Blaise Pascal, Sir Isaac Newton, John Wesley, George Whitefield, Jonathan Edwards, David Brainerd, William Carey, Adoniram Judson, George Muller, David Livingstone, Hudson Taylor, Amy Carmichael, George Washington, Charles Studd, Jonathan Goforth, Nommensen, C.S. Lewis, Abraham Kuyper, John Stott, dan masih banyak lagi bagi dunia ini.

Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang sangat sadar bahwa kewarganegaraan mereka adalah di dalam sorga. Mereka adalah orang-orang yang sangat sadar bahwa hidup mereka di dunia ini hanyalah sementara. Seperti Rasul Paulus, mereka memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Mereka memiliki pola pikir sorgawi, dan beberapa bahkan sangat sorgawi.

Apakah mereka tidak bermanfaat bagi masyarakat di sekeliling mereka? Apakah mereka tidak berdampak bagi dunia ini? Apakah mereka tidak membumi? Oh, telusurilah sejarah dan selidikilah karya yang telah mereka sumbangkan bagi dunia ini. Tak satu orangpun yang benar-benar dengan tekun dan tulus mencari tahu kontribusi orang-orang itu bagi dunia ini dapat mengatakan bahwa mereka tidak berdampak. Setiap orang yang dengan hati yang murni mencari tahu apa dampak mereka bagi dunia ini akan mendapat kesimpulan yang sebaliknya, yakni bahwa orang-orang yang heavenly-minded yang telah disebutkan di atas adalah orang-orang yang sangat berpengaruh bagi bumi di mana mereka berpijak.

Dan tahukah engkau bagaimana mereka berpikir? Tahukah engkau apa yang mereka katakan? Berikut adalah beberapa di antaranya:

Martin Luther (1483-1546), bapak reformasi gereja yang berperan sangat besar dalam pembentukan bahasa Jerman modern ketika ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerma, berkata:
“Hiduplah seolah-olah Kristus mati di hari kemarin, bangkit di pagi hari ini, dan akan datang di esok hari.”

John Calvin (1509-1564), bapak reformasi gereja yang juga merupakan salah satu bapak demokrasi modern, berkata:

Calvin

David Brainerd (1718-1747), misionaris muda dan brilian asal Amerika, yang kehadirannya begitu berarti bagi orang-orang Indian yang ia layani dengan sepenuh hati, berkata:
“Saya siap melewatkan seluruh hidup saya hingga momen terakhir dengan tinggal di dalam liang-liang dan gua-gua di bumi ini, asalkan Kerajaan Kristus semakin dimajukan.”

William Carey (1761-1834), misionaris di India, yang menghentikan kebudayaan Sati di India yang mengharuskan seorang istri untuk ikut dibakar bersama jenazah suaminya yang telah meninggal, berkata:

Carey

David Livingstone (1813-1873), misionaris di Afrika, yang catatan hariannya mengenai alam dan peradaban di tanah Afrika berpengaruh sangat besar bagi kemajuan Afrika, pernah berkata:
“Aku tidak memandang berharga apapun yang aku miliki, kecuali yang ada hubungannya dengan Kerajaan Allah. Jika ada sesuatu yang kumiliki yang dapat memajukan Kerajaan Allah di dunia ini, itu akan kuberikan atau kusimpan, hanya apabila dengan memberikan atau menyimpannya aku dapat lebih lagi memuliakan Dia yang dari-Nya aku berhutang segala pengharapanku baik di dalam waktu maupun di dalam kekekalan.”

Jonathan Edwards (1703-1758), teolog dan filsuf Kristen terbesar dari Amerika, yang hingga saat ini pikiran-pikirannya masih relevan dan berpengaruh bagi peradaban Amerika, berkata:

Edwards

Dr. Inger Ludwig Nommensen (1834-1918), yang kepadanya orang-orang Batak di Indonesia berhutang budi, berkata:
“Ya Tuhan, hidup atau mati, biarlah aku berada di tengah-tengah bangsa batak ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu.”

Charles Studd (1834-1918), misionaris di Tiongkok, Amerika, India, dan Afrika, berkata:

Studd

Itulah yang mereka katakan dan pikirkan. Bukankah mereka terdengar holy-holy dan tidak membumi? Biarlah kita mengesampingkan terlebih dahulu apa definisi holy-holy dan tidak membumi yang kerap dituduhkan oleh dunia kepada orang Kristen. Apa yang kita tahu adalah bahwa mereka merupakan orang yang benar-benar serius di dalam menjaga kekudusan mereka. Apa yang kita tahu adalah bahwa mereka memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan perkara-perkara duniawi. Namun, sekalipun demikian, kita juga tahu bahwa mereka telah memberikan dampak positif yang begitu besar bagi dunia ini, bahkan lebih besar dari dampak yang telah diberikan oleh banyak orang yang selalu berpikir tentang dunia ini tetapi tidak memikirkan perkara yang di atas.

Kedua, kita tidak berhenti hanya sampai dengan memperlihatkan kepada mereka sejarah orang-orang yang telah dipakai oleh Tuhan secara luar biasa untuk menjadi berkat di dunia ini tetapi hendaklah kita berdoa agar Allah sekali lagi membangkitkan hamba-hamba-Nya yang juga akan berdampak besar bagi dunia ini untuk kemuliaan-Nya. Tidak hanya itu, hendaklah kita juga melatih dan menguduskan diri kita dengan lebih tekun lagi sehingga kita dapat menjadi alat yang akan Ia pakai untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan di atas semua itu, membawa kemuliaan bagi nama-Nya yang agung dan kudus (2 Timotius 2:21). Itulah definisi hidup, benar-benar hidup, menurut Alkitab.

Lewis

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan terakhir, biarlah kita menutup tahun 2015 ini dengan kembali merenungkan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia ini. Mengapa Ia datang ke dunia ini dan berkemah di dalamnya? Ya, untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Tetapi apakah kehendak Bapa? Inilah kehendak Bapa:

Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.
(Yohanes 6:40)

Ya, kehendak Bapa adalah agar kita diselamatkan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah alasan mengapa Tuhan kita datang ke dunia. Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10). Ia dibaptis di sungai Yordan, sekalipun Ia tidak berdosa, untuk mengidentifikasikan diri-Nya dalam hitungan orang-orang berdosa seperti kita (Yohanes 3:15). Ia merasakan kelemahan-kelemahan kita, baik kelemahan fisik maupun kepedihan jiwa kita, Ia bahkan turut dicobai oleh iblis seperti kita, supaya di dalam semua itu Ia bersimpati pada kita dan memahami penderitaan kita sepenuhnya, ya sepenuhnya (Ibrani 4:15). Ia menaati hukum Allah dengan ketaatan yang sempurna supaya oleh kesempurnaan ketaatan-Nya, Allah memandang kita sempurna. Ia menanggung hukuman Allah atas dosa dengan penundukan diri yang sempurna supaya oleh semua itu Allah mengampuni dan melupakan semua dosa kita selamanya.

Kristus telah melakukan segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan kita.

Ia lahir ke dunia untuk kita (Yesaya 9:5).
Ia hidup dan berkemah di dunia untuk kita (Lukas 19:10).
Ia mati dan turun ke dalam Kerajaan Maut untuk kita (Markus 10:45, Yohanes 15:13).
Ia bangkit di hari yang ketiga untuk kita (1 Tesalonika 4:14).
Ia naik ke sorga untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi kita (Yohanes 14:2).
Ia akan datang kelak dan mendirikan Kerajaan-Nya juga untuk kita (1 Yohanes 3:2, Wahyu 22:20).

Dalam kedatangan-Nya yang pertama, Ia hidup dan berkemah di dunia hanya untuk sementara. Puncak di dalam hidup-Nya adalah ketika Ia bisa berkata, “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30), yakni ketika Ia menyelesaikan segala yang perlu untuk penebusan dosa kita di hadapan Allah. Oleh sebab itu, biarlah semua ini menjadi dasar bagi kita dalam memandang arti dan masa hidup kita di dunia ini. Hendaklah kita menyadari kesementaraan hidup ini. Hendaklah kita memandang hidup ini sebagai suatu perkemahan yang akan segera berlalu. Hendaklah kita hidup sedemikian rupa hingga suatu saat kelak kita dapat berkata kepada Allah Tritunggal yang kita kasihi, “Sudah selesai.”

Biarlah ini menjadi perenungan kita dalam menjelang tahun baru 2016.
Biarlah segala kemuliaan hanya bagi-Nya.

Ravenhill

Selamat tahun baru, 2016.
Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s