Kristus, Hidup Kita

Bapa menciptakan kita dari ketiadaan.
Bapa memberi kita hidup.

Kristus menebus dan menyelamatkan kita dari kebinasaan.
Kristus memberi kita hidup.

Roh Kudus menganugerahkan kelahiran baru dan membangkitkan kita dari kematian.
Roh Kudus memberi kita hidup.

Apakah kesimpulan dari semua ini?
Ya, Allah bukanlah sekadar Penolong di dalam hidup kita.
Ia adalah Hidup kita.

Pemazmur pernah berkata:

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah!
Betapa besar jumlahnya!
Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir.
(Mazmur 139:17-18a)

Pemazmur berkata benar. Allah sangat memikirkan manusia sekalipun mungkin mereka tidak pernah memikirkan-Nya. Pikiran Allah bagi umat manusia dalamnya tidaklah terselami dan jumlahnya tidaklah terhitung. Apakah engkau ingin tahu apa buktinya? Buktinya adalah ini.

Bagaimana mungkin…

Raja Damai menjadi begitu sedih di Getsemani…
Allah yang Perkasa menjadi begitu letih di via dolorosa…
Mata Air Keselamatan menjadi begitu haus di Kalvari…
Bahkan Sang Sumber Kehidupan mati di atas kayu salib

Jika bukan karena betapa besar jumlah pikiran Allah bagi kita?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman-Nya berkata:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:16)

Oleh karena kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia yang penuh dengan dosa, Ia memberikan Putera-Nya untuk mati bagi mereka. Kesalahan mereka tidak diperhitungkan-Nya kepada mereka tetapi semua itu ditanggungkan-Nya kepada Anak-Nya di Golgota. Kepenuhan murka-Nya yang telah siap sedia untuk menghukum dosa mereka tidak dijatuhkan-Nya kepada mereka tetapi ditimpakan-Nya kepada Dia di Kalvari. Oh, demikianlah Allah menjunjung tinggi keadilan, kebenaran, dan kekudusan-Nya yang tidak dapat men-toleransi dosa dunia, sembari di saat yang sama Ia memperjuangkan kasih-Nya yang terdalam, yang terhangat, yang termegah, yang tak bersyarat, tak berubah, dan yang tak berakhir itu bagi orang-orang berdosa.

Ia tidak perlu bertindak seperti itu tetapi mengapa Ia melakukan semua itu? Ya, sebab Ia begitu mengasihi dunia ini, sebab pikiran-Nya begitu banyak bagi manusia, dan supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dan lebih lagi, supaya Kristus menjadi Hidup yang kekal bagi mereka.

Flavel

Demikianlah Kristus Yesus menjadi Hidup bagi kita.
Dengarlah Ia berkata:

Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
(Yohanes 6:63)

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;
Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
(Yohanes 10:10)

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:36)

Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa,
demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
(Yohanes 6:57)

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yohanes 14:6)

Gray

Ya.
Kristus adalah Hidup kita.
Kristus adalah alasan hidup kita.
Kristus adalah tujuan hidup kita.
Kristus adalah permulaan hidup kita.
Kristus adalah penyempurnaan hidup kita.

Itulah kebenaran yang harus kita mengerti dan imani. Dan ketika kita memahami dan memiliki kebenaran ini di dalam hidup kita, Ia tidak menghendaki kita berdiam diri. Ia menghendaki tanggapan dari kita. Ia menginginkan perubahan di dalam hidup kita. Lalu, bagaimanakah seharusnya tanggapan kita kepada-Nya? Bagaimanakah seharusnya kita hidup? Biarlah kedua rasul ini, yakni Petrus dan Paulus, yang mengajarkan kepada kita bagaimana respon yang benar, yakni respon yang bersumber dari kesadaran dan iman bahwa Kristus adalah Hidup kita.

Pertama, kita akan melihat bagaimana respon Petrus. Pada saat itu, setelah Yesus memberi makan 5000 lebih orang hanya dengan lima roti dan dua ikan, Ia mengatakan hal yang sangat mencengangkan, yaitu bahwa Ia adalah Roti Hidup (Yohanes 6:48, 51). Tuhan Yesus menyampaikan pesan tersirat yang mengatakan bahwa roti manna yang dimakan oleh orang Israel ketika mereka masih berada di padang gurun menuju Kanaan dan roti yang dibagikan-Nya untuk memberi makan 5000 orang lebih itu hanyalah lambang dari roti yang sejati, Sang Roti Hidup, Sang Roti dari Sorga, yang adalah Ia sendiri. Tuhan kita berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yohanes 6:53-58)

Itu adalah perkataan yang keras bagi orang Yahudi sebab mereka tidak mengerti perkataan-Nya dan mereka jijik dengan ilustrasi daging dan darah yang Ia gunakan sebab sebagai orang Yahudi mereka tidak pernah makan darah. Perkataan-Nya memicu sungut-sungut bahkan bagi murid-murid-Nya sendiri. Alhasil, banyak dari murid-Nya yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (Yohanes 6:66). Kemudian, Tuhan Yesus berkata kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Inilah respon pertama, respon Petrus, yang juga harus menjadi respon kita akan Kristus:

Ayat - Yohanes 6 68

Respon Petrus adalah respon terbaik sepanjang masa. Ada kalanya kita harus menjawab pertanyaan bukan dengan jawaban melainkan dengan pertanyaan. Dan ada kalanya prinsip itu juga berlaku ketika Kristus bertindak sebagai pihak yang bertanya. Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus dan apakah yang Petrus lakukan? Petrus tidak menjawab-Nya, ia berani bertanya balik kepada Tuhan Yesus. Sungguh, Petrus adalah murid yang cerdas. Kristus pasti bangga padanya.
Aku rasa kau akan setuju denganku.

Itulah respon yang pertama, respon Petrus, yang adalah sebuah iman dan kesadaran yang teguh bahwa Kristus menyampaikan firman kebenaran yang menuntun kepada hidup yang kekal. Dan lebih dari itu, bukan saja Kristus menyampaikan firman Allah, Ia adalah Firman Allah (Yohanes 1:1, Wahyu 19:13).

Firman itu yang menerangi langkah kita. (Mazmur 119:105)
Firman itu menjadi sumber hikmat kita. (Mazmur 119:97-100)

Firman itu yang menjadi sumber sukacita bagi kita. (Yeremia 15:16)
Firman itu yang menjadi senjata kita. (Efesus 6:7, 1 Yohanes 2:14)

Firman itu yang memerdekakan kita. (Yohanes 8:32)
Firman itu yang menguduskan kita. (Yohanes 17:17)

Firman itu yang menimbulkan iman di dalam hati kita. (Roma 10:17)
Firman itu memberikan hidup yang baru, yang sejati, dan yang kekal kepada kita.
(1 Petrus 2:23)

Itu adalah respon yang pertama, yakni tanggapan rasul Petrus. Bagaimanakah dengan rasul Paulus? Bagaimanakah Paulus mengajarkan kita respon yang benar yang berasal dari kesadaran dan iman yang murni bahwa Kristus adalah Hidup kita? Inilah pesan dan teladan Paulus bagi seluruh umat Tuhan. Ia berkata:

Ayat - Filipi 1 21-22

Itulah respon yang benar.
Itulah respon dari seorang Kristen yang sejati.
Apakah ini yang juga menjadi respon kita?

Apakah pengakuan Petrus juga menjadi pengakuan iman kita?
Apakah teladan Paulus juga menjadi kesaksian hidup kita?

Apakah firman Kristus adalah perkataan hidup yang kekal bagi kita?
Apakah kita hidup untuk bekerja memberi buah bagi-Nya?

Tentu saja pengakuan iman Petrus dan kesaksian hidup Paulus tidak akan pernah menjadi nyata di dalam hidup kita jika kita berjuang sendirian. Kita, sebagai orang percaya, memang tidak dipersiapkan untuk mengandalkan diri kita sendiri. Kita tidak berjuang dengan kekuatan kita sendiri. Tuhan Yesus pun pernah berkata:

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
(Yohanes 15:4-5)

Ya, kita sepenuhnya bergantung kepada Kristus. Kristus adalah fondasi dan kita adalah batu-batu yang dibangun di atas-Nya. Kristus adalah Pokok dan kita adalah ranting-Nya. Kristus adalah Kepala dan kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya. Kristus adalah Gembala dan kita adalah kawanan domba-Nya. Kristus adalah Raja dan kita adalah rakyat-Nya. Kristus adalah mempelai Pria dan kita adalah mempelai wanita-Nya. Kita tidak dapat hidup tanpa-Nya.

Dan bagaimana cara agar kuasa-Nya melimpah di dalam hidup kita?
Firman Allah mengajarkan:

Kita harus makin kecil supaya Ia makin besar.
Kita harus menjadi lemah dalam diri sendiri supaya kuasa-Nya menjadi sempurna.
Kita harus mati bagi diri sendiri supaya kita dapat hidup bagi Dia.

Kristus adalah Hidup kita.
Itulah kebenaran yang harus kita imani.

Mati bagi diri sendiri, dan hidup bagi Kristus, Kerajaan-Nya, dan umat-Nya.
Itulah respon yang harus kita hidupi.

Begg2

Kiranya Allah menuntun jalan kita dengan Firman-Nya.
Kirianya Allah menguatkan langkah kita dengan Roh-Nya.

Hingga kelak ketika Kristus menyatakan diri-Nya kepada kita,
kita akan menjadi sama seperti Dia,
sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
(1 Yohanes 3:2)

Hingga saat itu tiba, oh saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan, kiranya Kristus selalu menyertai kita. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s