Keindahan Doa Syafaat

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu,
mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
(Yohanes 15:4-6)

Ayat - Yohanes 15 7

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Salah satu karakteristik dari seorang Kristen adalah senang berdoa. Dan salah satu karakteristik dari seorang Kristen yang dewasa di dalam iman adalah selain senang berdoa, ia juga senang berdoa syafaat atau berdoa untuk orang lain. Ia tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri atau untuk orang-orang terdekatnya tetapi juga bagi orang lain yang cukup jauh dengannya.

Mengapa kerinduan untuk berdoa syafaat menjadi penanda dari seorang Kristen yang telah cukup dewasa dalam iman dan pengalamannya bersama-sama dengan Allah? Kita dapat melihatnya dari beberapa sisi:

  • Orang yang dewasa di dalam iman adalah orang yang penuh dengan Roh Kudus. Orang yang penuh dengan Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh yang lebih banyak. Kita tahu bahwa buah Roh adalah kasih (Galatia 5:22). Orang yang memiliki kapasitas mengasihi yang lebih besar dari Roh Kudus tentu akan tergerak hatinya untuk lebih sering berdoa bagi orang lain.
  • Orang yang dewasa di dalam iman tentu mengenal Kristus dengan lebih dalam dan lebih intim. Semakin ia mengenal Kristus, semakin ia jatuh hati kepada-Nya. Semakin besar kasih-Nya kepada Kristus, semakin kecil “kasih”-nya untuk dirinya sendiri, dan semakin besar kasihnya untuk orang lain. Dan semakin besar kasihnya untuk orang lain, semakin besar pula kerinduannya untuk berdoa bagi mereka.
  • Orang yang dewasa di dalam iman adalah orang yang di dalam dan melalui hidupnya kuasa dan pekerjaan Allah dinyatakan dengan lebih besar. Firman Allah berkata, “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. (Filipi 2:13). Hal ini berarti bahwa setiap pekerjaan baik dan pelayanan yang dilakukan oleh seorang anak Tuhan pada dasarnya berasal dari Allah. Kita tahu bahwa Allah menghendaki umat-Nya untuk berdoa kepada-Nya demi kebaikan orang lain (Yesaya 62:6b-7, Yakobus 5:16). Dengan demikian, orang yang dewasa di dalam iman akan lebih sering digerakkan oleh Allah untuk berdoa kepada-Nya untuk orang lain.

Pink

Itu hanyalah sedikit dari banyak alasan yang menjelaskan mengapa orang Kristen yang telah dewasa di dalam iman dan pengalaman akan memiliki kehidupan doa syafaat yang lebih berbuah dibanding saudara-saudarinya yang lebih muda di dalam perjalanannya bersama Kristus. Jika kita sungguh-sungguh adalah orang Kristen, yakni orang berdosa yang telah dilahirkan kembali oleh anugerah Allah melalui kuasa Roh Kudus, kita tentu memiliki satu kerinduan yang utama, yaitu untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya, bukankah begitu? Jika demikian adanya, bagaimana kerinduan ini dapat terwujud di dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat memuliakan Allah dan menikmati-Nya?
Tentu saja, kehidupan yang ditandai dengan doa syafaat adalah jawabannya.

Ya. Allah akan dimuliakan di dunia ini jika pekerjaan-Nya dinyatakan. Allah akan dimuliakan di muka bumi ini ketika hamba-hamba-Nya bergerak untuk menunaikan misi yang Ia tugaskan kepada mereka bagi dunia ini. Dan kita tahu bahwa gerakan Kristen yang sejati selalu dimulai dan ditopang dengan doa. Jika suatu pelayanan dilakukan tanpa doa, kita dapat memastikan bahwa pelayanan itu bukanlah pelayanan yang dikehendaki oleh Allah. Allah tidak berjalan bersama mereka yang melupakan doa dan mengandalkan dirinya sendiri. Tetapi jika pelayanan itu dimulai, ditopang, dan terus menerus digerakkan oleh doa, kita tahu dengan pasti bahwa Allah bekerja di dalamnya dan Ia berjalan bersamanya. Dengan demikian, doa syafaat adalah bahan bakar dari hidup yang memuliakan Allah.

Itu mengenai memuliakan Allah. Lalu, bagaimana dengan menikmati-Nya? Sama seperti hidup yang memuliakan Allah akan terikat dengan doa syafaat, hidup yang menikmati Allah tidak mungkin terlepas dari doa yang dinaikkan untuk orang lain dan tidak berfokus semata-mata hanya untuk diri sendiri. Allah akan dinikmati ketika kita tidak lagi berpusat pada diri sendiri dan kenikmatan dunia ini. Allah akan menjadi begitu indah ketika hidup kita berfokus pada kemuliaan-Nya dan kebaikan umat-Nya. Dan semua itu, tidak mungkin tidak, akan ditandai dan dinyatakan oleh hidup yang diwarnai, dihiasi, dan dipenuhi dengan doa syafaat.

Hal ini dapat kita lihat dari kehidupan orang-orang kudus di dalam Alkitab. Ayub selalu berdoa syafaat bagi keluarganya (Ayub 1:5). Musa menaikkan tangannya dan berdoa syafaat bagi orang Israel agar Allah menganugerahkan kepada mereka kemenangan (Keluaran 17:11-13). Daud adalah seorang pendoa dan Allah menyebutnya, “orang yang berkenan di hati-Ku.” (Kisah Para Rasul 13:22). Yeremia adalah nabi yang terkenal dengan doa syafaatnya bagi umatnya yang sedang dimurkai oleh Allah (Yeremia 14:7-15:9). Daniel senantiasa bersyafaat bagi Yerusalem (Daniel 9). Hosea, Habakuk, Paulus, Yakobus, Yohanes, dan semua hamba Tuhan di dalam Alkitab adalah pendoa syafaat. Tetapi tidak terbatas hanya sampai zaman Alkitab, sejarah gereja dari awal hingga saat ini menceritakan satu hal kepada kita, yaitu hamba-hamba Tuhan yang sejati tentulah seorang pendoa syafaat. Mengapa bisa demikian? Sebab mereka tahu bahwa Allah dapat diandalkan, sebab mereka tidak berpusat pada diri mereka sendiri, dan sebab Allah-lah yang menggerakkan mereka untuk memanjatkan doa yang mulia itu.

one-before-god-moses-aaron_1299392_inl

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Biarlah perenungan di atas mendorong kita untuk merindukan dan memperjuangkan kehidupan yang ditandai dengan doa syafaat sambil tidak putus-putusnya memohon dorongan dan kekuatan Roh Kudus untuk mewujudkan kehidupan yang demikian. Selain itu, ada satu lagi hal yang sangat istimewa dan yang sangat penting yang dapat memotivasi kita untuk hidup di dalam doa syafaat. Motivasi itu adalah ini: Tuhan kita, Yesus Kristus, ketika Ia hidup di bumi ini sebagai manusia kira-kira 2000 tahun yang lalu, tidak pernah menolak permohonan seseorang yang datang kepada-Nya, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebaikan orang lain. Perhatikanlah firman Tuhan:

  1. Ibu Yesus meminta-Nya menyelamatkan pernikahan di Kana dari kehabisan anggur yang pasti akan sangat memalukan bagi pasangan yang menikah itu. Kristus mengabulkan permohonan ibu-Nya itu dan Ia menyelamatkan pernikahan itu. (Yohanes 2:1-11)
  1. Orang-orang datang kepada Tuhan kita dan memohon kesembuhan untuk seorang lumpuh yang digotong oleh empat orang di atas sebuah tilam. Kristus mengabulkan permohonan orang-orang itu dan menyembuhkan orang lumpuh itu. (Markus 2:1-12)
  1. Orang-orang yang ada di rumah Simon Petrus meminta kepada Yesus supaya menolong ibu mertua Simon yang sedang demam keras. Ia menjawab permintaan mereka dan menghardik demam dari wanita itu. (Lukas 4:38-39)
  1. Seorang perwira Roma, musuh dan penjajah orang-orang Israel, memohon kepada Tuhan agar Ia mau menyembuhkan hambanya yang sedang sakit keras. Apakah tanggapan Tuhan Yesus? Ya, Ia mengatakan, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” dan menyembuhkan hamba perwira itu. (Lukas 7:1-10)
  1. Yairus, seorang kepala rumah ibadat, datang menyembah-Nya dan memohon dengan sangat agar Ia membangkitkan putrinya yang baru saja meninggal. Tuhan kita mendengar permohonan Yairus, Ia datang ke rumahnya dan membangkitkan anak itu. (Lukas 8:40-56)
  1. Seorang perempuan Kanaan berseru kepada-Nya, memohon belas kasihan-Nya untuk menolong anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Kristus, setelah menguji iman wanita itu, berkata, “Hai ibu, besar imanmu…” Ia pun mengabulkan permohonan ibu itu dan menyelamatkan putrinya. (Matius 15:21-28)
  1. Seorang pria mendapatkan Yesus, menyembah-Nya, dan memohon agar Ia menyembuhkan anaknya yang sakit ayan dan menderita. Kristus mendengar permohonan pria itu dan Ia mengusir setan yang mengusai anak itu dan menyembuhkannya. (Matius 17:14-21)
  1. Orang-orang membawa anak-anak kecil kepada-Nya supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Para murid sempat memarahmi orang-orang itu dan mencegah mereka membawa anak-anak mereka yang mungkin akan menyibukkan Tuhan. Apakah yang Tuhan kita lakukan? Tentu saja, Ia memarahi murid-murid-Nya. Ia lalu mengabulkan permohonan orang-orang itu dan Ia memberkati anak-anak mereka. (Matius 19:13-15, Markus 10:13-16)

Lihatlah! Mujizat pertama yang Tuhan kita lakukan merupakan suatu jawaban untuk permohonan yang ditujukan untuk kepentingan orang lain, yaitu permohonan Maria untuk kebaikan pasangan yang menikah di Kana itu. Iman terbesar yang pernah Ia puji adalah iman dari dua orang yang datang kepada-Nya dengan membawa permohonan mereka untuk orang lain, bukan untuk diri mereka sendiri. Siapakah mereka? Mereka adalah perwira Roma yang  memohon kepada-Nya kesembuhan untuk hamba-Nya dan seorang wanita Kanaan yang datang kepada-Nya dan meminta dengan sangat agar Ia menyembuhkan anak perempuannya. Kedua orang itu tidak berasal dari bangsa Israel. Mereka berasal dari bangsa yang tidak terikat perjanjian dengan Allah. Namun, mereka memiliki hati dan iman yang besar dan itu ditandai dengan beban hati mereka bagi orang lain dan hal itu berkenan di hati Tuhan kita. Tidak hanya itu, salah satu reaksi paling keras yang pernah Tuhan Yesus tunjukkan adalah kemarahan-Nya kepada murid-murid-Nya yang mencegah agar orang-orang tidak membawa anak-anak mereka kepada-Nya. Semua itu menegaskan satu hal kepada kita, yaitu bahwa Tuhan kita sangat senang dengan permohonan yang dipanjatkan ke hadapan-Nya demi kebaikan orang lain.

Dan di atas semua itu, Tuhan kita, Yesus Kristus adalah Pendoa syafaat terbesar sepanjang masa. Baca dan renungkanlah doa-Nya yang agung di taman Getsemani yang Ia panjatkan kepada Bapa demi para rasul dan bagi setiap orang Kristen di sepanjang masa, maka kau akan mengetahui lebih dalam isi hati-Nya. Dengarlah seruan syafaat-Nya yang sangat indah yang Ia naikkan dari atas kayu salib di bukit Kalvari ketika Ia berkata kepada Allah, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).” Dan ketahuilah satu hal, yaitu bahwa hingga detik ini, Kristus masih berdoa bagi kita di hadapan tahta Allah Bapa (Roma 8:34, Ibrani 7:25, 1 Yohanes 1:21). Sungguh, Tuhan kita adalah seorang Pendoa syafaat dan salah satu tujuan utama kita hidup adalah agar kita menjadi serupa dengan-Nya. Terpujilah nama Tuhan.

Ayat - Ibrani 7 25

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Phelps

Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,
apakah kesimpulan dari semua ini?

Kenallah Allah dan kau akan mengenal-Nya sebagai Allah yang berkenan kepada doa syafaat umat-Nya. Kenallah dirimu, yang sekalipun adalah orang yang lemah dan berdosa, tetapi di dalam Kristus telah diampuni sepenuhnya (Roma 8:1), dipindahkan dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan Sang Anak Allah (Kolose 1:13), bahkan diangkat dan diadopsi menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Status yang baru, kewarganegaraan yang baru, dan hubungan yang baru dengan Allah itu telah menjadi jalan yang bebas bagi kita untuk dapat datang kepada-Nya dengan keberanian percaya yang disertai kerendahan hati untuk memanjatkan permohonan kita kepada-Nya, khususnya kerinduan kita bagi kebaikan orang lain. Dan kenallah juga orang-orang di luar sana. Kenallah mereka sebagai sesama manusia yang juga mengalami kelemahan kita, yang juga terus menerus dilukai oleh dosa, dunia, serta iblis, dan yang pasti, yang juga teramat sangat membutuhkan Kristus dan tidak memiliki pengharapan tanpa-Nya.

Berdoalah bagi mereka.
Berdoalah bagi teman-temanmu.
Berdoalah bagi kekasihmu.
Berdoalah bagi kakak dan adikmu.
Berdoalah bagi orangtuamu.
Berdoalah bagi pasanganmu.
Berdoalah bagi pendetamu dan keluarganya.
Berdoalah bagi gerejamu.
Berdoalah bagi rekan-rekan sepersekutuanmu.
Berdoalah bagi para pemimpinmu.
Berdoalah bagi bangsa dan negaramu.
Berdoalah bagi musuh-musuhmu.
Berdoalah bagi mereka yang membencimu.
Berdoalah bahkan bagi mereka yang merencanakan kebinasaanmu.

Dan ketahuilah satu hal:
Doa yang demikian pasti didengar dan berkenan di hati Tuhan kita.

Dan ingatlah satu hal:
Ketika kita berdoa kepada-Nya, kita datang kepada Seorang Raja.
Oleh sebab itu, biarlah permohonan kita besar sebesarnya,
bukan untuk diri kita sendiri
tetapi untuk kemuliaan nama-Nya dan kebaikan umat manusia.

Dan syukurilah satu hal:
Kristus sedang berdoa bagi kita, bahkan pada detik ini.
Ia akan senantiasa berdoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Bapa
hingga kelak kita bertemu dengan-Nya
dan menatap wajah-Nya muka dengan muka.

Spurgeon (2)

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s