“I am the Master of My Fate, The Captain of My Soul,” He Said.

Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate,
I am the captain of my soul.

(Invictus, oleh William Ernest Henley)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa tahun yang lalu, dua baris terakhir dalam puisi Henley yang cukup menarik ini mendapat perhatian, bahkan sanjungan dariku.

i-am-the-master-of-my-fate-william-ernest-henley-daily-quotes-sayings-pictures-810x810

Bukankah itu sebuah slogan yang membangkitkan semangat? Bukankah itu sebuah perkataan yang menumbuhkan motivasi di dalam diri? Bukankah itu ucapan yang membakar rasa percaya diri? Ya, itu adalah slogan yang sangat baik, tapi hanya jika kau bukanlah seorang murid Kristus.

Murid Kristus tidak akan pernah mengatakan hal yang demikian. Seekor domba tidak akan pernah mengatakan “I am the master of my fate” sebab domba, seandainya saja dapat berpikir dan berbicara, sadar bahwa ia senantiasa membutuhkan sang gembala. Seorang anak kecil tidak akan pernah mengatakan “I am the captain of my soul” sebab ia tahu bahwa ia mudah takut dan bahwa kapten dari jiwanya, yang juga adalah kebanggaannya, adalah ayahnya. Dan bukankah Kristus menyebut kita sebagai domba-domba-Nya dan bahwasanya hanya orang-orang yang seperti anak yang kecil yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga? Ya. Itulah mengapa seorang murid Kristus tidak dapat menyerukan seruan yang sama dengan apa yang Henley utarakan. Namun, nampaknya keadaanku saat itu tidak mencerminkan kedua gambar dari murid Kristus. Aku tidak hidup layaknya domba Kristus. Aku tidak bergantung layaknya seorang anak kecil di hadapan Allah. Di dalam kebutaanku dan kematian hatiku, aku setuju dengan Henley, bahkan menyanjung puisinya.

Ketika itu, akan mem-post perkataan Henley ini dengan segala kebanggaan dan aku cukup yakin quote ini juga bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang. Betapa bodohnya diriku. Tetapi puji Tuhan, seorang saudara di dalam Tuhan menegurku karena post-ku itu. Ia tidak setuju dengan slogan yang menurutku sangat baik itu. Apa yang bisa kuingat saat ini adalah saat itu aku menolak teguran kawanku tersebut dan aku mencoba membela apa yang Henley katakan dengan beberapa argumen yang terpikirkan olehku. Ah, betapa kelirunya diriku kala itu.

Tetapi terpujilah Tuhan, Allah telah menyelamatkanku di dalam Kristus Yesus, Anak-Nya, Tuhan kita. Ia menganugerahkan Roh-Nya yang kudus yang kini tinggal di dalamku. Roh Kebenaran itulah yang mencelikkan mataku, menerangi pikiranku, mengubah hatiku dengan hati yang baru, dan memberiku hidup yang sejati, yang kekal, yang terikat kepada Pokok Anggur-ku, Tuhan Yesus Kristus. Kini aku sadar dan menarik sebuah kesimpulan: “I am the master of my fate” tidaklah lebih dari sebuah kesombongan dan kebodohan, “I am the captain of my soul” adalah pemberontakan yang keji kepada Allah.

Dan beberapa minggu yang lalu, salah seorang pahlawanku di dalam iman, Dr. Martyn Lloyd Jones, semakin menguatkan kesimpulanku itu. Di dalam khotbahnya yang berjudul He Makes the Storm a Calm yang diangkat dari Mazmur 107:23-32, ia menyinggung puisi Henley tersebut. Lloyd Jones, dengan intonasi yang tinggi, berkata:

“I am the master of my fate.”
“I am the captain of my soul.”

Poor fool!
Master of his fate?

Well then I ask again why is his head bleeding? ­
Why can’t he stop the raging of the sea?
Why can’t he produce a calm?
Why can’t he arrive at his haven?

Is he the master, the captain of his soul?
Is he the pilot?
Is his engine still working?
Is his compass still in line?

What about his log book?
Where is he?
He doesn’t know.

No, no…

All that was so written by Henley is nothing but a picture
of a man whistling in the dark trying to keep up his courage.

He has no idea where he is going.
He has no control whatsoever over his life and over his fate.

And to talk about being the captain of his soul?
He is not at control at all.”

Aku setuju dengan Lloyd Jones.
Kau tahu mengapa?
Sebab Lloyd Jones benar dan Henley salah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1

Ya, manusia bukanlah tuan dari takdirnya. Manusia tidak memiliki kuasa atau kendali sedikitpun untuk mengubah masa hidupnya. Hanya ada satu tuan di dunia ini dan Ia adalah TUHAN. Daud benar ketika ia bermazmur, “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (Mazmur 31:15).

Manusia bukanlah kapten dari nyawanya. Hanya ada satu kapten di alam raya ini dan Ia adalah Allah. Oh, seandainya kita mau merendahkan hati, terbangun dari mimpi yang semu, dan menyadari kenyataan hidup ini, akan begitu mudah bagi kita untuk memahami bahwa manusia bukanlah tuan atas takdirnya atau kapten dari jiwanya.

Satu kuman yang sangat kecil saja bisa membunuh kita. Itu hanya satu kuman, sementara kuman yang mematikan seperti itu mungkin ada di mana-mana. Tetapi mengapa kita tidak mati olehnya? Mengapa kita relatif tidak mudah sakit sekalipun kita terpapar dengannya? Apakah karena kita adalah tuan dari takdir kita? Apakah karena kita yang secara sadar mengatur mekanisme kekebalan tubuh di dalam tubuh kita? Atau karena ada Pribadi yang lebih kuat dari kita yang mencegah kuman itu membunuh kita dan dengan kedaulatan-Nya mengendalikan sistem pertahanan tubuh kita yang bekerja sekalipun kita tidak mengaturnya dan menyadarinya? Kau dan aku tahu jawabannya.

Manusia berkata bahwa ia adalah kapten dari nyawanya. Apakah ia memegang kendali sepenuhnya untuk mengatur kedipan matanya? Apakah ia berkuasa sepenuhnya untuk mengatur denyut jantungnya? Apakah ia yang membuat tubuhnya tetap bernafas ketika ia sedang tidur? Apakah ia memerintah bakteri-bakteri positif yang ada di dalam tubuhnya? Apakah ia mengendalikan reaksi kimia yang terus menerus berlangsung selama ia hidup? Apakah ia adalah tuan dari semua itu? Ataukah mata berkedip, jantung berdenyut, tubuh bernafas, bakteri-bakteri itu bekerja, dan reaksi kimia itu terus berlangsung karena mereka melayani perintah dari seorang Pribadi yang Maha Kuasa? Kau dan aku tidak dapat menyangkal hati nurani kita. Kita tahu jawabannya dengan pasti.

Seandainya manusia mengambil waktu sejenak untuk memikirkan semua itu, tidak akan ada orang yang seperti Henley berkata, “I am the master of my fate. I am the captain of my soul.” Hanya ada satu Penguasa di dalam hidup manusia dan Ia adalah Allah. Spurgeon memang benar ketika ia berkata bahwa Allah memberi kita tidur supaya kita ingat bahwa kita bukanlah Allah. Dialah satu-satunya Tuhan atas takdir kita dan Pemimpin bagi jiwa kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi cobalah selidiki hidup kita. Kita hidup seolah-olah kita adalah pemilik hidup ini. Kita hidup seakan-akan kita adalah penguasa hidup kita sendiri. Kita mengatakan, “Aku akan melakukan ini dan itu. Aku ingin menjadi ini dan itu. Aku akan pergi ke sana dan kemari. Aku mengejar ini, ini, ini, dan itu.” Tetapi kita tidak menanyakan Allah. Kita menutup mata dan telinga kita dari firman-Nya. Kita tetap berjalan maju sekalipun kita tahu bahwa Allah mungkin tidak akan setuju dengan keinginan kita. Di kepala, kita tahu bahwa jalan Allah adalah yang terbaik bagi hidup kita, tetapi di dalam totalitas hidup, kita lebih memilih jalan kita sendiri.

Mengapa bisa begitu?
Mengapa hati kita condong untuk menguasai diri kita dibanding bergantung pada Allah?
Mengapa kita begitu malas menanyakan dan menanti Allah?
Hanya satu jawabannya: Dosa

Bridges

Ketika dosa memiliki dan menguasai kita, kita akan hidup seolah-olah kita memiliki dan menguasai hidup kita sendiri. Jikalah dosa hidup dan berkuasa di dalam diri kita, maka kita akan mati dan menjadi budak dosa. Kita tidak mendengar suara Allah yang nyata dari firman-Nya. Kita tidak melihat wajah Allah yang nyata dari buku-Nya. Kerajaan-Nya tidak menjadi kerajaan kita. Rumah-Nya tidak menjadi perteduhan kita. Umat-Nya tidak menjadi kekasih dan kesukaan jiwa kita. Kehendak-Nya tidak menjadi kerinduan kita. Pekerjaan dan misi-Nya tidak menjadi perhatian kita. Ia tidak menjadi sukacita dan kepuasan bagi hasrat jiwa kita. Kita tidak mengenal-Nya sebagai Bapa di dalam hidup kita. Kita terpisah dari-Nya. Kita menjauh dari-Nya. Ia, yang menciptakan kita, asing bagi kita.

Oh, betapa mengerikannya hal itu. Dan betapa banyak manusia berada di dalam kegelapan yang demikian. Manusia yang begitu cerdas dan pintar dalam sangat banyak hal tetapi untuk satu hal, yaitu hidup yang sejati, menjadi begitu bodoh. Manusia yang begitu luar biasa dalam memahami begitu banyak hal tetapi untuk mengenal dan memahami Penciptanya sendiri, menjadi begitu buta.

Manusia mengira bahwa mereka memiliki hidup padahal dosa yang memiliki mereka. Mereka berpikir bahwa mereka menguasai hidup padahal dosa yang memerintah di dalam hati mereka. Mereka menyangka bahwa mereka hidup padahal mereka mati. Manusia mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri sembari meninggalkan Kemuliaan Yang Sejati.

Mengapa bisa demikian?
Ya, karena dosa.

MLJ 2 (2)

Itulah kenyataan mengenai umat manusia yang berkata, “I am the master of my fate.”
Itulah kebenaran mengenai manusia yang berpikir, “I am the captain of my soul.”
Itulah realita manusia di dalam dosa.

Kebodohan dan kesombongan telah membunuh umat manusia. Jika ditinggalkan dengan diri mereka sendiri, maka seluruh umat manusia akan berakhir di dalam kebinasaan. Tetapi terpujilah Tuhan karena masih ada pengharapan bagi manusia. Terpujilah Allah karena kita masih memiliki pesan yang menuntun kepada hidup. Dan pesan itu adalah Injil yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang-orang yang percaya. Injil itu berkata:

Hanya ada satu masalah utama umat manusia: Dosa.
Dan oleh sebab itu,
hanya ada satu solusi bagi umat manusia: Juruselamat dan Penebus dosa.

Siapakah Dia?
Siapakah Sang Juruselamat dan Penebus dosa itu?
Ya, Ia adalah Tuhan kita, Yesus Kristus.

Calvin2

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s