The Master of My Fate, The Captain of My Soul

Masalah seluruh manusia adalah tirani dosa di dalam dirinya. Sama seperti satu dosa Adam telah menjadikan seisi jagad raya yang tadinya baik di mata Allah menjadi terkutuk oleh-Nya, demikianlah satu dosa saja di dalam hidup seseorang telah menodai seluruh aspek hidup orang itu, baik perasaan, pikiran, kehendak, maupun tingkah lakunya. Dosa itulah yang mengendalikan dan menguasai manusia sehingga mereka semakin menjauh dari Allah dan semakin dekat kepada jurang kehancuran. Jauh dari apa yang dikatakan William Ernest Henley, I am the master of my fate, I am the captain of my soul, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tidak lagi berkuasa atas dirinya sendiri. Dosalah yang kini menjadi master dari jalan hidupnya. Dosa pulalah yang kini menjadi captain dari jiwanya.

Ia dibodohi dan ditipu oleh dosa. Ia dilumpuhkan, dijadikan tuli, dan dibutakan oleh dosa. Ia dikeraskan oleh dosa. Ia dibelenggu dan dipenjara oleh dosa. Ia mati karena pelanggaran dan dosa-dosanya (Efesus 2:1). Ia mungkin merasa bahwa dirinya baik-baik saja sementara masalahnya adalah apa yang terjadi di luar dirinya. Namun, Alkitab berkata lain. Jauh dari apa yang opini manusia katakan, masalahnya sesungguhnya bagi setiap insan manusia bukanlah apa yang terjadi di luar dirinya, melainkan realita yang ada di dalam dirinya. Ya, problema sebenarnya dari setiap manusia bukanlah peperangan, kemiskinan, bencana alam, sakit penyakit, kecelakaan, atau apapun itu yang terjadi di luar. Masalah semua orang yang sebenarnya adalah hatinya sendiri, yakni hati yang dicemari dan dikuasai oleh dosa.

Chandler

Itulah mengapa umat manusia membutuhkan Yesus Kristus sebab hanya Dia yang bisa mengakhiri masalah dosa tersebut. Ya, masalah dosa tidak dapat diselesaikan hanya dengan edukasi, sosialisasi, atau pemberian motivasi. Masalah dosa tidak dapat dituntaskan hanya melalui pemberian peraturan untuk dilakukan atau program pelatihan untuk dijalani. Masalah dosa hanya dapat dijawab oleh seorang Pribadi yang berkuasa menjadi Penebus dan Juruselamat manusia dari dosa.

Inilah kebenaran yang firman Allah nyatakan. Manusia tidak butuh ditolong dari dosa. Manusia butuh ditebus dan diselamatkan dari dosa. Dan siapakah Pribadi yang layak, mau, berkuasa, dan berdaulat untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya itu? Oh, kiranya kita tidak akan bosan-bosan untuk mengatakan ini: Ia adalah Kristus Yesus, Tuhan kita, yang mengenai-Nya firman Allah berkata:

“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan,
yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.”
(Efesus 1:7)

“karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
(Matius 1:21)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi pertanyaannya: Bagaimanakah Kristus akan menyelamatkan manusia dari dosa? Bagaimana Ia menjalankan peran-Nya untuk menjadi Penebus dan Juruselamat manusia dari dosa? Ia melaksanakannya melalui dua hal.

1) Kristus datang untuk menanggung hukuman atas dosa itu.

Mengapa Ia harus menanggung dosa? Sebab Allah tidak dapat mengabaikan dosa sedikitpun. Allah adalah Hakim yang absolut. Ia tidak dapat dan tidak pernah mengampuni dosa manusia, sekecil apapun itu, hanya dengan melupakan, mengabaikan, atau mentoleransi dosa tersebut. Jika Ia melakukan hal itu, Ia harus menodai hukum-Nya sendiri dan menipu diri-Nya sendiri sebagai Hakim yang sempurna. Tetapi Ia tidak akan melakukan hal itu. Ia tidak akan pernah menipu diri-Nya sendiri. Ia adalah Hakim yang kudus, benar, dan adil, dan ketiga karakter-Nya itu harus dinyatakan di hadapan manusia. Dan itu hanya dapat dipenuhi ketika semua dosa yang manusia lakukan itu dihukum oleh-Nya dengan penghukuman yang benar, adil, dan setimpal, bukan diampuni begitu saja.

Hal ini menuntun kepada satu kesimpulan, yaitu bahwa para pendosa harus binasa di dalam pengadilan Allah sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Dan siapakah para pendosa ini? Para pendosa itu adalah kau, aku, dan seluruh umat manusia sebab firman Tuhan berkata:
“karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).”

Namun, Allah tidak hanya benar dan adil. Pada saat yang sama, Ia juga penuh dengan belas kasihan. Karena Ia baik, Ia memberitakan pesan pengharapan. Karena Ia murah hati, Ia menyediakan jalan keselamatan. Karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia  telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yakni Yesus Kristus dari Nazaret, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kristus, Dialah puncak kasih Allah bagi dunia ini. Dialah berkat paling besar yang bisa Allah karuniakan kepada manusia. Dialah wujud dan bukti pengampunan Allah bagi umat manusia. Dan mengenai Dia, firman-Nya berkata, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).” Apakah artinya itu? Artinya adalah sama seperti domba di zaman Musa harus disembelih, tertumpah darahnya, dan mati untuk menjadi pendamaian bagi orang-orang berdosa di hadapan Allah, demikianlah Kristus harus menderita, tertumpah darah-Nya, dan mati karena dosa umat manusia yang ditanggungkan Allah di atas bahu-Nya. Dengarlah nubuat yang disampaikan Nabi Yesaya mengenai Yesus, ratusan tahun sebelum Sang Juruselamat dunia menggenapinya:

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
(Yesaya 53:4-6)

Di dalam Kristus, tuntutan penghukuman Allah dipenuhi. Di dalam Kristus, identitas Allah sebagai Hakim yang benar, adil, dan kudus dinyatakan dan dibuktikan. Allah tidak memperhitungkan dan menuntut pelanggaran manusia kepada mereka sendiri, melainkan Ia memperhitungkan dan menuntut semua itu kepada Kristus. Ia yang tidak pernah melakukan dosa sedikitipun telah ditetapkan oleh Allah untuk menanggung dosa manusia pada diri-Nya sendiri supaya di dalam Dia, manusia yang berdosa dibenarkan di hadapan Allah (2 Korintus 5:18-19). Dengan demikian, melalui Kristus, Allah dapat menganugerahkan kasih, berkat, dan pengampunan kepada para pendosa dengan cuma-cuma. Oleh Kristus, Allah yang murka berdamai dengan umat manusia yang berdosa.

Lawson

Oleh penderitaan-Nya, orang yang percaya diampuni.
Oleh pengorbanan-Nya, orang yang percaya diselamatkan.
Oleh kematian-Nya, orang yang percaya beroleh hidup.
Oleh neraka yang ditanggung-Nya, orang yang percaya beroleh Kerajaan Sorga.

Dengan demikianlah, Allah menyatakan dua identitas dan karakter-Nya yang sejati dan utuh, yakni bahwa Ia Maha Pengasih dan Maha Adil. Tidak hanya itu, melalui salib Kristus, Ia juga mengatakan bahwa “Ia benar” dan “Ia juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26).” Ya, Allah tidak hanya merupakan Yang Benar. Pada saat yang bersamaan, Ia juga adalah Yang Membenarkan mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dan melalui semua ini, tergenapilah apa yang pernah dinubuatkan oleh Pemazmur dalam Mazmur 85:10. Oleh salib Kristus, kemurahan dan kebenaran Allah dinyatakan. Oleh salib Kristus, keadilan dan damai sejahtera dari Allah dibuktikan.

Ayat - Mazmur 85 10

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah jalan pertama yang harus Kristus penuhi untuk menjadi solusi bagi dosa umat manusia. Ia menyelamatkan manusia dengan cara menerima hukuman Allah yang kekal atas para pendosa. Dengan perkataan lain, Ia menanggung neraka yang seharusnya mereka alami. Tetapi Ia tidak berhenti sampai di situ. Tidak akan ada artinya jika Ia sudah berhenti hanya sampai pada menanggung dosa umat manusia. Mengapa? Sebab manusia yang berdosa masih memiliki kecenderungan yang terlalu kuat untuk melakukan dosa lagi dan lagi. Ya, manusia yang berdosa, sekalipun ia sudah diberi pengampunan dosa, tetap akan jatuh, jatuh, dan jatuh lagi ke dalam dosa.

Namun, Allah tidak menghendaki hal itu. Allah tidak memberikan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib supaya manusia bisa kembali hidup di dalam dosa setelah dosanya ditebus. Allah tidak meninggalkan Yesus di atas kayu salib supaya manusia bisa jatuh ke dalam dosa lagi, lagi, dan lagi setelah ia diselamatkan. Tidak. Allah menghendaki buah dari manusia yang telah diselamatkan (Yohanes 15:16). Allah menuntut pekerjaan baik yang telah Ia persiapkan untuk mereka hidupi dan lakukan (Efesus 2:10). Allah menuntut kekudusan di dalam hidup umat yang dipisahkan-Nya untuk menjadi milik kepunyaan-Nya (1 Tesalonika 4:3).

Lalu, bagaimanakah manusia yang berdosa dapat menghidupi semua itu? Bukankah kecenderungan dan kesukaan hati setiap manusia adalah untuk melakukan dosa? Bukankah di dalam hati manusia ada kebodohan dan kesombongan yang akut untuk berkata seperti Henley, bahwa “I am the master of my fate. I am the captain of my soul”? Bagaimanakah manusia dapat berbuah, melakukan pekerjaan baik, dan hidup dalam kekudusan sebagaimana yang Allah kehendaki? Dan jawabannya adalah dengan Kristus melakukan jalan yang kedua, yakni:

 2) Kristus memberikan esensi dari hidup-Nya yang kudus dan ilahi ke dalam hidup manusia yang berdosa.

Ya, Kristus memberikan hidup kepada setiap orang yang Ia kehendaki (Yohanes 5:21). Di dalam Kristus, Allah menciptakan kembali orang-orang berdosa yang percaya kepada-Nya dengan hidup yang baru, yakni hidup oleh iman (Efesus 2:8-10). Dengan demikian, setiap orang yang percaya kepada Kristus Yesus telah dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Ini bukanlah kiasan atau peribahasa. Orang Kristen, secara definisi, bukanlah manusia biasa. Ia tidak sama dengan orang-orang lain yang percaya. Ia memiliki hidup Allah di dalam diri-Nya. Ya, di dalam Kristus, Allah benar-benar membentuk setiap orang yang percaya menjadi manusia yang baru, yakni manusia yang memiliki hidup dan kondrat Kristus di dalam dirinya.

Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia (Yohanes 6:51).” Apakah yang Tuhan Yesus maksud? Inilah yang Ia katakan: Ia tidak hanya menjadi Penebus dosa kita. Ia adalah Roti Hidup bagi kita. Ia datang tidak hanya untuk menyelamatkan kita. Ia datang untuk menjadi makanan bagi jiwa kita. Ia datang tidak hanya untuk kita percayai. Ia ada untuk kita makan dan dengan memakan-Nya, kita hidup dengan hidup-Nya sendiri. Dengan demikianlah tergenapi janji-Nya bahwa kita akan hidup selama-lamanya sebab Ia menjadi hidup kita.

Tuhan Yesus juga mengatakan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5)” Apakah maksud Tuhan kita? Ya, Ia tidak hanya Juruselamat bagi kita. Ia adalah Pokok Anggur yang kepada-Nya kita melekat. Kita hidup jika dan hanya jika kita melekat kepada-Nya. Ini menegaskan kepada kita satu hal, yakni “unsur hara” dari hidup Kristus akan terus menerus disalurkan kepada kita yang tertancap pada-Nya. Kita ada di dalam Dia dan Ia ada di dalam kita. Hidup kita tidak sama dengan hidup orang-orang tidak percaya. Kita hidup karena hidup Kristus diberikan kepada kita senantiasa. Kita hidup karena Kristus telah menjadi hidup kita dan esensi dari hidup-Nya, yakni secercah keilahian dan kekudusan-Nya telah dibagikan kepada kita.

Apakah lagi yang dapat kita katakan mengenai Dia? Ia adalah Gembala dan kita adalah kawanan domba-Nya (Yohanes 10:14-16). Ia adalah Kepala dan kita adalah anggota tubuh-Nya (Kolose 1:18). Ia adalah Batu Penjuru dan kita adalah bangunan-Nya (Efesus 2:19-21). Ia adalah Mempelai Pria dan kita, sebagai kesatuan gereja Kristus, adalah mempelai wanita-Nya (Wahyu 19:7-9). Ia adalah Kebangkitan dan Hidup kita (Yohanes 11:25). Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup kita (Yohanes 14:6). Ia adalah Bapa kita yang Kekal (Yesaya 9:5). Semua ini menegaskan kepada kita satu hal, yaitu bahwa Kristus menganugerahkan kepada kita, yang adalah ciptaan baru di dalam Dia, hidup dan kodrat-Nya sendiri yang kudus dan ilahi.

Untuk apa Ia melakukan hal yang sangat besar ini? Untuk apa Ia mengerjakan anugerah yang luar biasa ini? Perhatikanlah rasul Petrus berkata:

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
(2 Petrus 1:4)

Ya, Allah menganugerahkan hidup dan kodrat ilahi, yang adalah hidup dan kodrat atau natur Allah sendiri, kepada kita supaya kita luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Anugerah yang begitu luar biasa itu Ia limpahkan kepada kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang adalah Hidup kita. Demikianlah Kristus menyelamatkan kita dari dosa, tidak hanya dengan menanggung dosa-dosa kita, tetapi juga mengaruniakan kepada kita esensi hidup-Nya yang ilahi dan kudus sehingga kita dimampukan untuk berperang melawan dosa dan diperkenankan untuk datang kepada Allah.

MLJ 2

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pembaca yang terkasih, untuk apa kita membahas semua ini? John Calvin pernah berkata, “Hikmat yang sejati mencakup dua hal: Pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri sendiri.” Kita membahas semua ini untuk kedua pengenalan tersebut.

Kita membahas ini supaya kita mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. Kita sama sekali tidak patut berkata bersama-sama dengan Henley, “I am the master of my fate.” Kita tidak pantas sedikitpun untuk mengucapkan dengan bibir kita, “I am the captain of my soul.” Kedua pernyataan itu adalah perkataan paling bodoh, paling sombong, dan paling kosong yang bisa seorang manusia katakan.

Seorang Kristen tidak akan berkata seperti itu. Seorang Kristen sadar bahwa ia tidak lagi berhak atas hidupnya sendiri dan ia tidak lagi ingin berkuasa atas dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia tidak lagi memiliki hidupnya sendiri. Ia bersyukur karena hidupnya berada di genggaman Allah dalam Kristus. Ia bersyukur karena ia telah menjadi milik Kristus. Ia bersukacita karena ia termasuk dalam kawanan domba Kristus. Ia bersorak-sorai karena ia, sebagai ranting, tertancap pada Kristus yang adalah Sang Pokok Anggur. Ia telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri. Ia berpusat hanya pada Kristus. Ia bersama-sama dengan Paulus berkata:

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
(Galatia 2:20)

Oleh sebab itu, jauh dari apa yang Henley pikirkan, kita harus menyadari satu hal, yakni hanya ada satu Pribadi yang berhak berkata kepada setiap kita, “I am the Master of your fate,” dan hanya ada satu Pribadi yang pantas untuk berseru kepada kita, “I am the Captain of your soul.” Pribadi yang sama juga berkuasa dan berdaulat untuk berkata:

I am the Light of the World (Yohanes 8:12)

I am the Way, the Truth, and the Life
(Yohanes 14:6)

I am the Author of Life (Kisah Para Rasul 3:15)

I am the Beginning and the End (Wahyu 22:13)

I am the King of kings and Lord of lords (Wahyu 19:16)

I am the Mighty God (Yesaya 9:6)

I am YAHWEH (Filipi 2:9-10 dan Yesaya 45:23-24)

Siapakah Dia? Ya, jutaan kali “Ya dan Amin,” Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kita yang terkasih, Yesus Kristus. Ia yang lahir di kandang domba, hidup di antara orang miskin dan berdosa, mati di atas kayu salib, tersalib telanjang di antara dua orang penjahat, dan dikuburkan di sebuah makam pinjaman, ya, tetapi bertahta di Kerajaan Sorga atas seisi jagad raya dan atas hidup seluruh umat manusia.

Biarlah William Ernest Henley saja yang menipu dan membodohi dirinya sendiri dengan angan-angannya yang semu. Tetapi kita, biarlah kita merendahkan hati dan menyerukan apa yang pernah Yohanes Pembaptis katakan:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30)

Biarlah kita menyadari kelemahan kita dan bersama-sama dengan Paulus berkata:

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9)

Biarlah kita, bersama-sama dengan Yudas, bersatu hati dan mengumandangkan pengakuan iman kita kepada-Nya:

“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung
dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan
di hadapan kemuliaan-Nya,
Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa
sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya.”
Amin. (Yudas 1:24-25)

IMG_175994562590997

Amin
Ya, Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s