Apa yang Kurasa; Apa yang Kutahu

Apakah yang Ayub rasa?

Seluruh lembu sapi dan keledai-keledai betinanya dirampas dan para penjaganya dibunuh.
Seluruh kambing domba dan para penjaganya dimakan oleh sambaran api.
Seluruh untanya dirampas dan penjaganya dibunuh dengan mata pedang.
Semua anak laki-laki dan perempuannya mati ditimpa rumah yang roboh.

tidak cukup sampai di sana

Pada sekujur tubuhnya, dari telapak kaki sampai batu kepalanya, tumbuh barah yang busuk sampai-sampai ia harus mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya yang gatal.

dan yang membuat segalanya jauh lebih buruk

Isterinya, yang ia kasihi, yang seharusnya menjadi penyejuk bagi hatinya yang kering dan merana, justru berkata kasar padanya, merendahkannya, mempertanyakannya, bahkan menyuruhnya untuk mengutuki Allah dan mendoakan agar ia mati.

 Isterinya, teman dalam susah dan senangnya, yang seharusnya menjadi mata air bagi hatinya yang tandus seperti padang gurun, justru membuatnya merasa lebih baik tinggal di padang gurun (Amsal 21:19).

dan yang paling buruk dari semua itu

Allah diam terhadapnya
Allah menutup bibir-Nya kepadanya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apakah yang Ayub rasa?

Kecewa
Sedih
Pahit
Patah semangat
Remuk
Hancur
Terabaikan
Sendirian

Tetapi…
Melalui semua penderitaan itu, Ayub masih bisa berkata:

Ayat - Ayub 23 10

Melalui semua kepahitan yang Ayub alami itu, Roh Kudus menuntun Yakobus untuk menulis ini mengenai imannya:

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Yakobus 5:11)

Melalui semua itu, ya melalui semua kesengsaraan yang begitu pahit itu,
Ayub justru menjadi lambang dari kesabaran dan ketekunan di mata Allah.

Mengapa bisa demikian?
Mengapa ia bisa melewati semua itu dan tetap setia hingga akhir?

Apakah semua itu karena apa yang Ayub rasa?
Apakah Ayub menjadi orang yang bersabar dan tekun karena apa yang ia rasakan?

Tidak, bukan apa yang Ayub rasa, melainkan apa yang Ayub tahu.
Dan satu hal inilah yang ia tahu:

Ayat - Ayub 19 25

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jangan dasarkan hidupmu pada apa yang engkau rasakan.
Firman Tuhan mengatakan:

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu,
hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
(Yeremia 17:9)

Hatimu bukanlah penuntun yang patut dipatuhi.
Perasaan hatimu bukanlah kompas yang dapat dipercaya.

Oleh sebab itu, janganlah dasarkan hidupmu pada apa yang engkau rasa.
Tetapi dasarkanlah hidupmu pada apa yang engkau tahu,
yakni apa yang engkau percaya.

Ya.
Janganlah dasarkan hidupmu pada perasaan.
Dasarkanlah hidupmu di atas dasar iman.
Dan dasarkanlah imanmu pada firman Allah
dan pada Sang FIRMAN ALLAH, yakni Kristus, Penebusmu yang hidup.

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s