Orang yang Baik atau Orang yang Bergantung

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
(Lukas 5:31-32)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Augustine 2

Kebenaran yang nyata di dalam terang firman Allah dipenuhi dengan paradoks. Dan salah satu paradoks yang sangat penting untuk kita pahami adalah ini:

Orang yang merasa dirinya baik dan baik-baik saja
sesungguhnya adalah orang yang sedang berjalan ke arah kehancuran.

Demikian pula sebaliknya.

Orang yang merasa dirinya tidak baik dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dan jahat di dalam dirinya, dan hal ini mulai membuatnya resah, ragu akan dirinya sendiri, sedih, remuk, dan ini mendorongnya untuk berdoa, terus mencari wajah Tuhan dan merendahkan diri di hadapan-Nya, dan bergantung sepenuhnya kepada kebenaran yang berasal dari pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sesungguhnya adalah orang yang telah menemukan hidup dan berjalan di atas jalan kehidupan yang sejati dan kekal.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MLJ

Itulah kebenaran mengenai hidup yang sejati. Kita hidup tidak dengan kebenaran yang berasal dari kebaikan, kekuatan, kesalehan, dan hikmat diri kita sendiri. Tidak peduli sebaik apapun kita sebagai sebagai seorang individu, atau bahkan sebagai orang Kristen, itu tidaklah sepatutnya menjadi sandaran bagi jiwa kita sebab ketika itu semua dibawa ke hadirat Allah yang Maha Kudus, semua itu meredup sama sekali dan tidak ada artinya. Kita hidup hanya dengan kebenaran yang Allah sediakan dari atas bukit Kalvari, yakni kebenaran yang tercurah dari Kristus yang tergantung di atas salib demi menebus dosa orang-orang yang percaya dan menaruh harapnya hanya kepada-Nya. Hanya Dialah Juruselamat bagi orang-orang berdosa dan satu-satunya hal yang dapat dijadikan sandaran bagi jiwa kita adalah salib-Nya yang merupakan monumen kekal dari kasih dan kemurahan hati Allah.

Di dalam hidup Kristen, tentu saja ada transformasi  hidup ke arah yang lebih baik, sekalipun seringkali perubahan itu tidak terjadi dengan kecepatan yang sama antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Namun, kita harus menyadari bahwa hidup Kristen bukanlah tentang menjadi orang yang baik, melainkan tentang menjadi orang yang sepenuhnya bergantung kepada Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Dan siapakah yang lebih bergantung kepada Allah, orang yang merasa dirinya baik dan baik-baik saja, ataukah orang yang menyadari bahwa dirinya jahat, ada yang salah di dalam dirinya, dan senantiasa membutuhkan pengampunan, penyucian, pertolongan, dan penyertaan dari Allah dan Kristus semata-mata?

Aku rasa kita tahu jawabannya, bukankah begitu? Tetapi kita juga perlu tahu satu hal terakhir ini:

Jauh lebih mudah berusaha menjadi orang baik dibanding
menjadi orang yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Inilah kebenaran mengenai setiap kita, yakni bahwa untuk bergantung kepada Allahpun kita membutuhkan pertolongan-Nya. Kiranya Allah berbelaskasihan kepada kita dan menolong kita senantiasa. Segala kemuliaan hanya bagi Dia untuk selama-lamanya.

Begg

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s