Nama Abadi dan Agung Bagi-Nya

Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala, zaman Musa, hamba-Nya itu:

Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut
bersama-sama dengan penggembala kambing domba-Nya?

Di manakah Dia yang menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati mereka;
yang dengan tangan-Nya yang agung menyertai Musa di sebelah kanan;
yang membelah air di depan mereka untuk membuat nama abadi bagi-Nya;
yang menuntun mereka melintasi samudera raya seperti kuda melintasi padang gurun?

Mereka tidak pernah tersandung, seperti ternak yang turun ke dalam lembah. Roh TUHAN membawa mereka ke tempat perhentian. Demikianlah Engkau memimpin umat-Mu untuk membuat nama yang agung bagi-Mu.
(Yesaya 63:11-14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lihatlah. Yesaya bahkan menyebutnya hingga dua kali. Ia mengatakan bahwa Allah membelah air di depan bangsa Israel untuk “membuat nama abadi bagi-Nya.” Yesaya kemudian melanjutkan bahwa Allah memimpin umat-Nya untuk “membuat nama yang agung bagi-Mu.” Inilah kebenaran yang sangat penting untuk kita sadari. Alasan utama Allah menyelamatkan kita bukanlah untuk kebaikan apalagi kemuliaan kita. Alasan utama Allah menyelamatkan umat-Nya adalah untuk kemuliaan nama-Nya.

Tentu ini juga ada kaitannya dengan mengapa Tuhan kita, Yesus Kristus, mengajar setiap kita untuk berdoa dengan memulainya dengan mengutarakan, “Bapa kami yang di sorga dikuduskanlah nama-Mu.” Tidak hanya itu, jika kita menelusuri firman-Nya, kita akan menemukan bahwa nama dan kemuliaan Allah merupakan prioritas yang terbesar bagi-Nya. Ia mengatakan kepada umat-Nya, “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. (Keluaran 20:7).

Allah sangat menjaga nama-Nya. Allah tidak pernah main-main dengan nama-Nya. Dan jika itu merupakan hal yang teramat sangat penting bagi Allah kita, bukankah itu juga seharusnya menjadi kepedulian utama di dalam hidup setiap kita?

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kemuliaan Allah lebih penting bagi kita dibanding popularitas kita di hadapan orang-orang? Apakah nama Allah lebih penting bagi kita ataukah nama baik kita sendiri? Apakah kita berusaha memuliakan nama Allah di hadapan dunia dengan tekad yang sama sebagaimana kita menjaga nama baik kita di hadapan orang-orang? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita renungkan dan jawab di dalam hidup ini.

Sproul (4)

Namun, di kala kita merenungkan hal tersebut, janganlah kita lupa untuk merenungkan firman yang Yesaya sampaikan setelah ayat di atas. Yesaya melanjutkan:

“Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung! Di manakah kecemburuan-Mu dan keperkasaan-Mu, hati-Mu yang tergerak dan kasih sayang-Mu? Janganlah kiranya Engkau menahan diri!

Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.” (Yesaya 63:16)

Apakah yang Tuhan mau katakan di dalam ayat ini? Ya, Allah sangat peduli dan hati-hati dengan nama-Nya. Dan tahukah engkau, nama Allah adalah “Penebus kami” sejak dahulu kala. Lihatlah Allah kita. Bahkan ketika Ia sangat memikirkan nama-Nya yang agung dan kudus itu, Ia tetap memikirkan kita, umat-Nya. Allah kita tidak sama dengan para penguasa dunia ini yang hanya peduli dengan nama baiknya sendiri. Ia tidak membuat nama bagi diri-Nya seorang diri. Nama-Nya adalah “Penebus kami”. Lihatlah, di dalam nama-Nya, ada kita. Bukankah itu hal yang sangat istimewa?

Tetapi kita tidak hanya ada di dalam nama-Nya. Dengarlah firman-Nya berkata:

Yesaya 49 16

“Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku;
tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”
(Yesaya 49:16)

Dan kita tahu bagaimana Ia menggenapi firman dan janji-Nya itu. Ia melukiskan kita di telapak tangan-Nya dengan paku yang menembus kedua tangan-Nya ketika Ia disalib di Bukit Kalvari untuk menanggung dan menebus dosa-dosa kita.

Bagaimana mungkin tangan yang selalu menyembuhkan itu bisa dilukai?
Bagaimana mungkin tangan yang Maha Kuasa itu bisa diam tak berdaya?
Bagaimana mungkin tangan yang membelah Laut Teberau itu bisa dipaku di kayu salib?

Oh, itulah tangan dari Sang Juruselamat yang padanya terlukis kita semua. Sungguh, di dalam nama-Nya, ada kita. Di kedua telapak tangan-Nya, terlukis kita. Di ruang mata-Nya, ada tembok-tembok kita. Kita ada di dalam benak-Nya. Kita ada di dalam hati-Nya.

Siapakah Dia?
Ia adalah Yesus dan nama Yesus berarti Juruselamat (Matius 1:21).

Ia adalah “Penebus kita” sejak dahulu kala.
Itulah nama abadi bagi-Nya. Itulah nama agung bagi-Nya.

Lewis

Haleluya.
Terpujilah nama-Nya senantiasa.

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s