Seperti Anak Kecil

705a676071a43d2bf210e114777beb3a

Siapakah di dunia ini yang ingin hidupnya terus menerus bergantung pada sesuatu atau pada orang lain? Sepertinya tidak ada. Tapi tunggu dulu, manakah kata yang benar, bergantung atau tergantung, ataukah keduanya benar? Jawaban yang benar adalah kedua kata, yakni bergantung dan tergantung, adalah kata yang baku dalam Bahasa Indonesia. Namun, poin penting yang hendak diajukan bukanlah perbedaan dari keduanya, melainkan kesamaannya, yakni adanya kebutuhan yang besar terhadap orang lain atau terhadap sesuatu untuk dapat bertahan hidup. Dan untuk memudahkan pemahaman kita, izinkanlah untuk saat ini digunakan kata bergantung.

Dalam beberapa aspek, kebergantungan bukanlah hal yang baik. Contoh yang paling jelas dan paling destruktif adalah kebergantungan pada rokok, narkoba, worldly entertainment, dan pacar. Namun, dalam banyak aspek kehidupan yang lain, kebergantungan bukanlah sesuatu yang negatif. Anak bergantung pada orangtua. Istri bergantung pada suami dan suami bergantung pada istri. Orang-orang dengan penyakit tertentu bergantung pada obat khusus untuk kesehatannya. Negara-negara bergantung satu sama lain untuk pemenuhan kebutuhan dalam negerinya masing-masing. Beberapa hal tersebut merupakan contoh yang menunjukkan hubungan kebergantungan yang pada hakekatnya positif.

Namun, sebaik apapun motivasi di balik suatu kebergantungan, cepat atau lambat, setiap orang akan mulai merasa tidak nyaman dengan hal tersebut. Lebih serius dari itu, tidak sedikit orang yang akan merasakan adanya bahaya di dalam setiap kebergantungan yang mereka jalani. Anak-anak tidak ingin selamanya bergantung pada orangtuanya. Banyak isteri yang memilih untuk tetap bekerja dan tidak bergantung pada suaminya untuk menafkahinya. Orang-orang sakit ingin segera terlepas dari kebergantungannya terhadap obat. Setiap negara bekerja begitu keras untuk terus berkembang demi menurunkan tingkat kebergantungannya kepada negara lain. Tentu saja, setiap orang ingin hidup mandiri dan kemandirian adalah hal yang baik. Namun, kita perlu menyadari satu hal, yakni bahwa di dalam dunia yang telah tercemar oleh dosa ini, segala sesuatu yang pada dasarnya baik dapat berubah menjadi sesuatu yang jahat. Tidak terkecuali dengan kemandirian.

Dosa telah mencemari semangat kemandirian. Dosa membuat kemandirian seringkali dimotori oleh hal-hal negatif seperti rasa terkekang, rasa takut, rasa insecurity, dan ketidakpercayaan. Anak-anak merasa terkekang oleh orangtuanya sehingga mereka ingin hidup mandiri. Tidak sedikit isteri memilih untuk tetap bekerja dan menomorduakan rumah tangganya hanya karena alasan takut dan merasa insecure jika suatu saat suaminya menceraikannya. Bangsa-bangsa saling tidak percaya sebab mereka berpikir bahwa bangsa yang kepadanya mereka bergantung akan berusaha untuk mengendalikan mereka. Dosa membuat kemandirian seringkali bermuara pada individualitas, pemberontakan anak-anak terhadap otoritas orangtua, pertengkaran dalam rumah tangga, perselingkuhan, perceraian, kecurigaan dan ketegangan di antara negara-negara. Dosa membuat kemandirian berbuahkan kasih yang menjadi dingin.

Kini, marilah kita menyelidiki hati kita masing-masing dan bertanya:
“Jika saat ini aku sedang berusaha untuk hidup mandiri,
apakah alasan dan tujuan dari kemandirian yang sedang kutuju ini?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jadi, apakah jawabanmu? Semoga engkau memiliki jawaban yang baik. Namun, sebaik apapun alasan kita untuk hidup mandiri dan semulia apapun tujuan kita akan kemandirian, kita dapat yakin akan satu hal, yakni bahwa
kemandirian bukanlah pilihan di dalam relasi kita dengan Allah

Booth
Ya, sekalipun kita perlu hidup mandiri dalam banyak hal, kita tidak pernah boleh hidup mandiri dari Allah. Faktanya, kita tidak bisa dan tidak akan pernah bisa hidup mandiri dari-Nya. Dari perspektif hubungan manusia dengan Allah, kemandirian terhadap Allah adalah pemberontakan dan kesombongan yang berujung pada kehancuran. Orang Kristen yang sejati tidak ingin mengandalkan kekuatan, hikmat, kekayaan, popularitas, kesehatan, dan kekuasannya sendiri. Mereka tidak ingin hidup mandiri dari Allah dan firman-Nya. Mereka haus untuk mendengar, membaca, dan merenungkan tuntunan firman-Nya tiap hari. Mereka rindu hadirat-Nya. Mereka butuh hikmat, kekuatan, kasih, sukacita, iman, pengharapan, dan damai sejahtera dari-Nya senantiasa. Mereka memiliki satu hasrat yaitu untuk lebih dan lebih lagi bergantung pada Allah sekalipun hal itu seringkali berarti bahwa mereka harus siap ketika Allah mengizinkan berbagai masalah datang ke dalam hidup mereka untuk membuat mereka rendah hati dan tekun dalam doa dan pengharapan, untuk memurnikan hati mereka dari kebergantungan kepada hal lain, dan mengarahkannya kepada kebergantungan kepada-Nya.

Ketika dunia menjadikan “kemandirian” sebagai zeitgeist atau semangat zaman ini,
orang-orang percaya menjadikan kebergantungan pada Allah sebagai semangat mereka.

Ketika dunia mengatakan “kebergantungan akan menjadikanmu budak”
umat Allah berkata:

MacArthur

Ketika dunia terus menerus berusaha agar tidak bergantung pada siapapun dan apapun,
orang Kristen yang sejati justru akan menyanyikan lagu yang sangat indah ini

Help me now to live a life
That’s DEPENDENT on Your grace
Keep my heart and guard my soul
From the evils that i face

You are worthy to be praised
With my every thought and deed
O great God of highest heaven
Glorify Your Name through me

Lagu: O Great God
oleh: Sovereign Grace

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sungguh, tidak ada yang lebih baik selain hidup yang bergantung pada Tuhan. Apalah gunanya seseorang memiliki seisi dunia ini tetapi ia tidak bergantung pada Tuhan? Apalah gunanya seseorang memiliki seisi dunia ini tetapi ia tidak memiliki hidup? Sebab hidup yang sejati hanya ditemukan di dalam kebergantungan kepada Allah dan tidak ada satupun tempat di muka bumi ini yang lebih aman dibanding hidup yang bergantung pada-Nya. Dengarlah firman Tuhan berkata:

Ketika Yesus melihat hal itu,
Ia marah dan berkata kepada mereka:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil,
ia tidak akan masuk ke dalamnya.”

Lalu Ia memeluk anak-anak itu
dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.
(Markus 10:14-16)

Ya
Ketika dunia terus menerus menarikmu untuk “mandiri” dan tidak bergantung,
Tuhan kita, Yesus Kristus memanggil kita untuk menjadi seperti anak kecil,
yang selalu bergantung pada Bapanya,
yang selalu rindu akan wajah-Nya,
yang merasa aman hanya ketika ia berada di dekat-Nya,
yang tidak dapat hidup tanpa-Nya.

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita selalu mengejar kuasa penuh atas kehidupan kita?
Apakah kita terus menerus mengejar kemandirian penuh atas hidup kita?
Ataukah hidupkah hidup kita ditandai dengan doa dan pengharapan?

Sudahkah hidup kita bergantung kepada-Nya?
Sudahkah kita seperti anak kecil di hadapan-Nya?

Dengarlah sekali lagi firman Tuhan kita!
Lihatlah bagaimana sikap Tuhan kepada anak-anak kecil itu?

Lalu Ia memeluk anak-anak itu
dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka
Ia memberkati mereka.

Dan tidak ada tempat yang lebih aman di dunia ini
dibanding pelukan-Nya.

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s