Kasih dan Buah Pertobatan

Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!

Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik,  akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” Orang banyak bertanya kepadanya:

“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?”
(Lukas 3:7-10)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - 1 Yohanes 4 7

“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Itu merupakan pertanyaan yang sangat tepat untuk ditanyakan oleh mereka yang mendengar khotbah Yohanes Pembaptis saat itu. Mereka pasti sangat bingung mendengar apa yang Yohanes serukan. Di dalam kebingungan yang sama, beberapa pertanyaan secara berderetan datang menghampiri pikiranku.

Mengapa Yohanes Pembaptis begitu keras?
Mengapa ia sampai memanggil orang-orang itu “keturunan ular beludak”?

Mengapa ia menyinggung “murka yang akan datang”?
Mengapa ia menyebut “kapak sudah tersedia pada akar pohon”?

Apakah pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik sampai harus ditebang?
Apakah sampai harus dibuang ke dalam api?
Mengapa seserius itu?

Sudah pasti ia benar-benar membawa pesan dari Allah.
Tetapi jika demikian, apakah benar Allah sudah sebegitu marahnya pada umat-Nya?

Di dalam khotbahnya, Yohanes Pembaptis menyinggung tentang buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Ini merupakan kehendak Allah bagi umat-Nya, baik bagi orang-orang yang mendengar Yohanes pada saat itu maupun bagi kita sekalian. Dan jika Allah sedang sangat murka kepada umat manusia dan melalui Yohanes Ia menyampaikan seruan yang begitu mendesak, maka hal yang terpikirkan adalah mungkin saja buah-buah yang Allah tuntut itu merupakan hal-hal yang berat untuk dilakukan.

Mungkin Allah akan meminta kita untuk mempersembahkan korban yang sangat banyak jumlahnya. Mungkin Ia akan meminta kita untuk mengadakan perayaan yang begitu besar seperti yang sering dilakukan dalam masa perjanjian lama. Mungkin Ia menghendaki kita untuk menjual seluruh harta kita untuk disumbangkan kepada gereja-Nya. Mungkin Ia menuntut kita untuk meninggalkan karir kita dan menjadi full timer dalam ladang pelayanan-Nya. Mungkin Ia memerintahkan kita untuk menjadi ahli teologi. Mungkin Ia menghendaki kita untuk menjadi orang yang sempurna dan tidak berdosa sedikitpun. Mungkin ini, mungkin itu, apapun itu, kedengarannya Allah sedang menuntut buah-buah pertobatan yang sangat berat untuk dipenuhi dan jika kita tidak dapat menyanggupinya, Ia akan murka, menebang, dan membuang kita ke dalam api.

“Celaka! Jika demikian, apakah yang harus kita perbuat? Apakah yang harus aku lakukan?” Itulah pikiran yang terlintas. Itulah pertanyaan yang timbul, yang mungkin sama dengan pertanyaan yang muncul pada benak orang-orang yang ada di dekat sungai Yordan itu. Tetapi, apakah pikiran-pikiran itu sejalan dengan apa yang sesungguhnya Tuhan pikirkan? Apakah tuntutan Allah memang sedemikian berat dan tidak realistis? Apakah sesungguhnya buah-buah yang sesuai dengan pertobatan itu? Dengarlah apa yang Yohanes Pembaptis katakan ketika Ia melanjutkan seruannya:

“Barangsiapa mempunyai dua helai baju,
hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya,
dan barangsiapa mempunyai makanan,
hendaklah ia berbuat juga demikian.”

“Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”

“Jangan merampas dan jangan memeras
dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”
(Lukas 3:11-14)

Sproul

Demikianlah jawaban Yohanes Pembaptis kepada setiap orang yang bertanya, termasuk kepada kita. Oh, kini aku menyadarinya. Allah tidak menuntut hal-hal yang terlalu berat untuk dilakukan oleh umat-Nya. Ia tidak menginginkan hal yang muluk-muluk atau tidak realistis. Buah-buah pertobatan yang Allah kehendaki untuk dihasilkan oleh umat-Nya, tidak lain dan tidak bukan, adalah supaya mereka mengasihi sesamanya. Sesederhana itu.

Ia mau kita mengasihi orang lain sama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Ia mau kita berbelas kasih kepada orang lain. Ia mau kita berbagi dengan orang lain. Ia mau kita berkorban untuk orang lain. Ia mau kita berdoa untuk orang lain. Ia mau kita peduli pada orang lain. Ia mau kita tidak menindas yang lemah tetapi menolong mereka. Ia mau kita tidak mencari keuntungan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia melainkan rendah hati dan menganggap orang lain lebih utama dibanding diri kita sendiri (Filipi 2:3). Inilah yang Allah mau. Inilah yang memenuhi hati dan pikiran Tuhan Allah kita. Inilah buah pertobatan yang Allah tuntut dari umat-Nya.

Bukankah itu luar biasa? Sungguh, Tuhan itu baik dan murah hati. Di dalam hati-Nya, selalu ada kerinduan untuk kebaikan manusia. Ia tidak menuntut sesuatu semata-mata untuk diri-Nya sendiri. Ia bukanlah Allah yang rakus atau Raja yang otoriter. Ia adalah Allah yang baik dan Raja yang penuh dengan belas kasih. Selain untuk kemuliaan nama-Nya, kehendak-Nya selalu terhubung dengan kebaikan dan berkat untuk umat manusia. Ia telah merancang segala sesuatu sedemikian hingga kemuliaan-Nya tidak dapat dipisahkan dari kebaikan manusia. Ia akan dimuliakan dengan mengasihi dan memberkati manusia; manusia akan beroleh kasih dan berkat ketika Ia ditinggikan.

Chambers (3)

Demikianlah kita mengetahui bahwa hidup dan perbuatan kita mempermuliakan Tuhan, yaitu ketika kita mengasihi orang lain dan menjadi berkat bagi mereka. Tidak ada gunanya kita berdoa, membaca firman, serta terlibat dalam pelayanan dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya jika hal itu kita lakukan semata-mata untuk kepentingan kita sendiri. Hal ini telah sangat jelas disampaikan oleh Paulus dalam 1 Korintus 13: 1-3. Allah memberkati kita supaya kita juga dapat menjadi berkat dan saluran berkat-Nya bagi orang lain. Allah menyelamatkan kita di dalam Kristus supaya kabar keselamatan ini kita sampaikan kepada orang lain. Allah mengundang dan membawa kita ke dalam hidup supaya kita memancarkan hidup dan berbagi hidup dengan orang lain.

Demikian pula sebaliknya. Kita akan benar-benar mengasihi orang lain dan menjadi berkat bagi mereka, hanya ketika kita melakukan itu untuk memuliakan Dia. “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu (Matius 6:9)”, harus menjadi tema untuk umat-Nya. Tanpa motivasi yang tulus dan murni untuk memuliakan nama Tuhan, kita mungkin dapat berbuat apa yang “baik” untuk orang lain tetapi itu bukanlah hal yang “benar.” Tanpa motivasi yang kudus ini, kita mungkin dapat melakukan tindakan moral yang tinggi tetapi itu bukanlah kasih dan berkat yang sejati untuk orang lain. Mengapa? Sebab kasih yang sejati berasal dari Allah (1 Yohanes 4:7), merupakan buah yang ditumbuhkan oleh Roh Kudus (Galatia 5:22) dan berkat yang sejati diturunkan dari Bapa (Yakobus 1:17). Di luar Dia atau terpisah dari Dia, kita tidak dapat mengasihi maupun memberkati hidup orang lain.

Dengarlah firman Tuhan berkata:

Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.

Allah adalah kasih,

dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih,
ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
(1 Yohanes 4:16)

Allah adalah kasih.
Kasih, itulah nama-Nya.
Kasih, oh alangkah indahnya nama itu.

Dan karena di dalam dan melalui Tuhan kita Yesus Kristus,
Allah telah menjadi Bapa kita,
menjalin perjanjian abadi dengan kita,
tinggal di dalam kita,
bersatu dengan kita,
menjadi hidup kita,
maka kasih juga harus menjadi nama kita dan tema di dalam hidup kita.

Augustine

Semoga dengan mengasihi, kita semakin memuliakan Allah dan menikmati-Nya.
Semoga dengan memuliakan Allah dan menikmati-Nya, kita semakin mengasihi.

Soli Deo Gloria, segala kemuliaan hanyalah bagi Allah
Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s