Sangat Menanti-nantikan TUHAN

Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.

Aku sangat menanti-nantikan TUHAN;
lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.

Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa;
Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku,

Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.
Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.

Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN,
yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh,
atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!
(Mazmur 40:1-5)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Begg

Daud berkata, “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN.” Sangat, ya sangat. Ia sangat menanti-nantikan TUHAN. Hal itu tidak akan dikatakan oleh seseorang yang menanti sebentar saja. Itu adalah ungkapan dari seseorang yang tentu sudah menanti lama, bahkan mungkin sangat lama. Ya, penantian Daud akan TUHAN, Allah Penolongnya, adalah penantian yang panjang. Cukup panjang sampai-sampai Daud sudah berada di lobang kebinasaan dan lumpur rawa (ayat 3) sebelum akhirnya Allah datang menjenguk dan menyelamatkan dia yang sudah tidak berdaya lagi untuk melepaskan diri karena dalamnya ia telah tenggelam (ayat 2).

Namun, sekalipun telah menanti dengan sangat lama dan tampaknya sudah tidak ada lagi harapan untuk selamat, Daud tetap menanti-nantikan TUHAN. Ia tetap berharap kepada Allah saja. Ia tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh sekalipun apabila dilihat dari ucapan dan penampilan mereka, cukup meyakinkan bahwa mereka dapat menolong Daud. Ia juga tidak meminta pertolongan dari orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan walaupun jika dilihat dari harta mereka, mereka bisa menyelamatkan Daud dari lumpur rawa tersebut. Tidak. Daud tidak bersandar kepada mereka semua. Ia hanya menaruh kepercayaannya pada TUHAN. Ia tidak mau meminta pertolongan mereka. Ia hanya berharap kepada Allah sekalipun itu membuat ia harus hidup di dalam penantian.

Penantian Daud adalah sebuah penantian yang panjang. Itu adalah sebuah penantian yang menyesakkan hati. Itu adalah penantian yang menguras seluruh tenaga dan hampir menghabiskan segala asa. Namun, ada hal yang luar biasa di balik penantian yang demikian. Ya, penantian Daud berujung pada satu kesimpulan yang akhirnya terucap oleh bibir Daud: “Berbahagialah…” (ayat 5)

Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera,
sebab kepada-Mulah ia percaya.
(Yesaya 26:3)

Mengapa bisa demikian? Mengapa penantian yang panjang, yang menyesakkan, yang menguras seluruh tenaga, dan hampir menghabiskan semua harapan bisa berujung pada kebahagiaan? Hanya ada satu jawaban untuk itu: Sebab Allah mendengar teriaknya minta tolong dan menjenguknya pula (ayat 2).

TUHAN akhirnya menyelamatkan Daud. Ia menaruh bahagia dan damai di hati Daud sehingga timbul nyanyian baru dari hati dan bibirnya (ayat 4). Dan ketika ia selamat, ia tidak memegahkan diri, ia tidak bersukacita seorang diri. Lihatlah bagaimana ia berkata, “untuk memuji Allah kita.” Daud menegaskan bahwa TUHAN yang menyelamatkannya dari maut adalah “Allah kita” dan dengan demikian Daud mau mengingatkan semua orang yang bernyanyi bersama-sama dengannya bahwa jika TUHAN yang adalah Allah Daud mampu dan mau menyelamatkan Daud, tentu Ia juga mampu dan mau menyelamatkan mereka dari kesesakan yang sedang mereka alami sebab Ia adalah “Allah kita”. Dan tidak hanya itu, melalui penderitaan yang ia alami, penantian panjang yang ia jalani, dan penyelamatan Allah yang ia nikmati, Daud membuat hati orang-orang yang tidak percaya menjadi takut akan kebesaran TUHAN dan akhirnya memberi diri dan percaya kepada-Nya.

Sungguh, penderitaan yang dalam dan penantian panjang Daud diubah oleh TUHAN menjadi kebahagiaan bagi jiwanya dan keselamatan bagi jiwa orang lain. Bukankah hidup yang demikian pantas untuk disebut hidup yang berbahagia?

Daud akhirnya menikmati hidup yang diselamatkan oleh Allah, hidup yang penuh dengan sukacita dan nyanyian pujian yang tulus dari hati, hidup yang bisa menguatkan orang lain dan mengingatkan mereka akan “… Allah kita”, hidup yang membuat orang-orang hormat kepada Allah dan lebih lagi, percaya kepada-Nya. Katakan padaku, bukankah hidup yang demikian adalah hidup yang berbahagia? Ya, itulah definisi dari hidup yang berbahagia. Tetapi biarlah sekali lagi kita ingat bahwa hidup yang demikian pada awalnya adalah hidup yang “sangat menanti-nantikan TUHAN.”

Biarlah di dalam doa kita kita tetap selalu berkata, “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat (Matius 6:13).” Tetapi jika memang Allah berkehendak lain, jika demi kebaikan kita Ia memandang adalah lebih baik untuk menguji iman kita, menuntun kita ke  dalam api seperti pada kasus Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, ke penjara di Mesir seperti pada kasus Yusuf, atau ke dalam lumpur rawa seperti Daud di dalam mazmur ini, maka biarlah kita tetap berharap hanya kepada-Nya. Biarlah kita, seperti Daud, berkata “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN” sebab orang-orang yang demikian akan menutup kalimatnya dengan “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN.”

Wiersbejpg

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN,
yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air,
yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air,
dan yang tidak mengalami datangnya panas terik,
yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering,
dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
(Yeremia 17:7-8)

Terpujilah Allah kita untuk setiap berkat dan firman-Nya!
Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s