Dua Berkat Malam Ini

Spurgeon (2)

Malam kemarin, Tuhan memberkatiku dengan dua berkat yang sangat indah.

Pertama, aku menikmati pendalaman Alkitab (PA) di gereja yang sangat memberkatiku. Sungguh, PA yang dilakukan berdasarkan prinsip yang Alkitabiah dan yang tidak bergantung pada interpretasi masing-masing orang, merupakan berkat yang luar biasa untuk setiap orang yang berada di dalamnya. Pendalaman Alkitab yang demikian tidak akan pernah membuang-buang waktu kita.

Hal itu dapat diibaratkan dengan kisah Maria dan Marta. Ketika Tuhan Yesus datang ke rumahnya, Maria memilih untuk hanya duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Dari satu sudut pandang, Maria terlihat seperti seorang pemalas yang membuang-buang waktu produktif yang dapat dipakainya untuk melayani Tuhan. Namun, hal itu sama sekali bukanlah buang-buang waktu. Justru sebaliknya, Tuhan Yesus berkata bahwa dengan demikian Maria “telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Lukas 10:42).” Maria tidak membuang-buang waktu dan tidak juga membuang bagian yang terbaik. Keterangan “yang terbaik” yang diucapkan oleh Tuhan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang kita abaikan. Ketika Tuhan Yesus mengatakan “yang terbaik” tentulah itu sungguh-sungguh merupakan yang terbaik dan Maria tidak menyia-nyiakannya.

Tidak demikian halnya dengan Marta. Marta juga tidak membuang-buang waktunya. Ia bekerja giat untuk melayani Tuhan. Ia tidak malas. Ia produktif. Namun, sekalipun tidak membuang-buang waktunya yang berharga itu, Marta tidak mendapat bagian yang terbaik yang seharusnya juga dapat ia miliki dan nikmati. Mengapa? Karena ia tidak duduk diam untuk mendengarkan firman Kristus yang sesungguhnya merupakan bagian terbaik untuk jiwanya. Sama seperti itulah sebuah pendalaman firman Tuhan yang Alkitabiah. Sebuah kegiatan PA yang dilakukan dengan Alkitabiah dan didengarkan dengan hati, telinga, dan kerelaan seorang Maria, tidak akan pernah membuang-buang waktumu, justru sebaliknya, menghadirkan kepadamu bagian terbaik untuk jiwamu yang tidak akan pernah diambil dari padamu selamanya seperti janji Tuhan kita.

Tripp

Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.
Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
(Mazmur 119:103-105)

Berkat luar biasa yang kedua terjadi setelah PA selesai. Setelah keluar dari gedung gereja dan berjalan kaki beberapa ratus meter, aku mencari ojek untuk pulang ke kosan sebab aku tidak memiliki kendaraan pribadi dan pada waktu selarut itu, angkot sudah sangat jarang. Awalnya, aku menatap dari kejauhan ke arah pangkalan ojek yang biasa aku datangi tetapi tidak terlihat ada tukang ojek yang sedang menunggu di sana. Akupun berjalan beberapa langkah lagi sampai aku melihat ada satu orang tukang ojek yang sedang duduk sambil menanti calon penumpang.

Bapak tukang ojek itupun akhirnya melihat aku yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Tanpa bermaksud mendramatisir tulisan ini, mata kami saling menatap. Ketika aku melihat tatapan matanya, aku melihat tatapan yang penuh harap. Dalam waktu yang sangat singkat, satu pikiran melintas di benakku, “Bapak ini tentu sedang sangat mengharapkan ada calon penumpang yang datang kepadanya. Ah, entah sudah seberapa lama bapak ini menanti di dalam ketidakpastian akan ada tidaknya penumpang dan sudah seberapa sering bapak ini kecewa di dalam penantiannya?” Tanpa butuh terlalu banyak berpikir, walau aku belum sepenuhnya yakin bahwa bapak ini dapat dipercaya sebagai tukang ojek yang aman, aku memutuskan untuk pergi pulang dengan ojek beliau.

Kau tahu apa yang kudapati saat itu? Satu lagi ekspresi yang selalu menggetarkan hati ini tiap kali aku melihatnya, yaitu tatapan mata penuh kelegaan dan senyuman kegembiraan dari si bapak yang akhirnya mendapat seorang penumpang untuk ojeknya. Mungkin ia hanya akan mendapat dua puluh ribu rupiah dariku tetapi ia sudah menjadi sangat senang dan lega, atau setidaknya itulah yang terpancar dari wajahnya. “Akhirnya saya mendapat penumpang setelah sangat lama menanti dan berharap.” mungkin itu yang beliau pikirkan waktu itu. Itulah ekspresi yang membawa kehangatan dan getaran di malam penuh berkat ini. Oh, terima kasih, ya Tuhan.

Malam hari kemarin, kembali kuakui bahwa sungguh benar firman Tuhan yang berkata:

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.
(Kisah Para Rasul 20:35)

Ya, Tuhan kita pernah berkata bahwa orang yang memberi akan lebih berbahagia dibanding orang yang menerima. Mengapa Ia berkata demikian? Mengapa Ia bisa mengatakan sesuatu yang begitu berbeda dengan prinsip dunia dan daging kita yang egois ini, yang memiliki kecenderungan hanya mau menerima? Aku yakin jawabannya adalah karena Ia sendiri telah melakukannya dan merasakannya. Ia adalah Tuhan yang menciptakan dunia ini. Ia tidak membutuhkan apapun dari siapapun. Ia tidak meminta sedikitpun dari umat manusia untuk mencukupi kebutuhan-Nya. Faktanya, Ia tidak pernah menerima sesuatu yang selayaknya Ia terima dari persembahan manusia. Namun, Ia tetap selalu memberkati umat manusia. Ia selalu memberi bahkan hingga titik di mana Ia menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memberikan hidup kepada jiwa-jiwa manusia yang telah mati di dalam dosa. Dan di dalam semua itu, Ia berbahagia. Itulah sebabnya mengapa Ia bisa mengatakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Tuhan Yesus mengatakannya dan malam ini aku membuktikan dan menikmatinya. Sungguh, memberi dengan tulus, sekalipun itu membutuhkan pengorbanan yang seringkali tidak mengenakkan, akan membawa kebahagiaan yang lebih besar bagi jiwa kita dibanding jika kita hanya bisa dan hanya mau menerima. Tidak hanya itu, pemberian yang demikian juga akan membawa kita kepada ucapan syukur dan mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Sang Pemberi yang sejati. Dan di mana ada hati dan pikiran yang tertuju kepada Allah, ke sana akan ada berkat dan sukacita tercurah dari sorga.

Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.

Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan.

Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya.
(1 Tawarikh 29:14)

Ya, segala pemberian kita sejatinya adalah pemberian-Nya. Kita bahkan bisa mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita di dalam Kristus (1 Yohanes 4:19, Efesus 1:3-6). Inilah yang memotivasi kita untuk terus memberi dan mengasihi. Semoga Allah mengerjakan di dalam kita suatu kerinduan yang tulus untuk memberi dan kekuatan untuk mampu melakukannya di dalam hari-hari kita, menurut kerelaan-Nya dan demi kemuliaan-Nya.

Zacharias

Segala kemuliaan hanyalah bagi TUHAN kita. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s