Ketika Mengandalkan Manusia

Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat:

“Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan,
dan bawalah hasilnya kepadaku,
supaya aku tahu jumlah mereka.”

Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat. Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang.

Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.

Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel, maka tewaslah dari orang Israel tujuh puluh ribu orang.

(1 Tawarikh 1-2, 5, 7, 14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Daud adalah seseorang yang sangat dekat dengan Allah. Ia berkali-kali menyaksikan pertolongan Allah di dalam hidupnya. Ia pernah menaklukkan singa dan beruang seorang diri ketika masih menjadi gembala muda, menewaskan Goliat, bertahan dari pengejaran Saul bahkan dapat membunuhnya jika ia mau, dan menang di dalam berbagai-bagai pertempuran, semua karena Allah. Ia percaya akan kasih dan setia Allah kepadanya. Ia tahu pasti bahwa ia tidak dapat bersandar pada kekuatannya sendiri; Allah adalah kekuatannya dan kota bentengnya (Mazmur 59:10).

img_19716772555422

Namun, ketika Daud sudah berada di dalam kejayaan dan ketika “Iblis bangkit… (1 Tawarikh 21:1)” – oh alangkah ngerinya jika Iblis telah bangkit – ia menjadi sombong. Ia seakan melupakan semua campur tangan Tuhan yang membawanya ke dalam berbagai kemenangan dan kejayaan. Ia mulai mengandalkan kekuatannya sendiri dan itu mendorongnya untuk menghitung seberapa banyak orang Israel yang mampu berperang. Dahulu, ketika masih muda, ia tidak perlu mengukur kekuatan Goliat sebelum bertempur melawannya sebab ia tahu kekuatan Allah. Namun kini, ketika Daud sudah jaya, ia malah merasa perlu untuk mengukur kekuatannya supaya ia bisa siap bertempur dengan musuh-musuhnya. Ia seakan lupa bahwa TUHAN adalah kekuatannya dan kekuatan-Nya tidak perlu dihitung sebab besarnya tidak terukur dan dalamnya tidak terselami.

Yoab, panglima tentara Daud, melaporkan kepada Daud hasil sensus tersebut. “Ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang”, kira-kira sebesar itulah kekuatan perang Daud. Apakah Daud puas atau tidak dengan jumlah tersebut, firman Tuhan tidak memberitahu kita akan hal itu. Namun, keinginan Daud itu jahat di mata Allah. Di dalam murka-Nya, tujuh puluh ribu orang Israel tewas karena penyakit sampar hanya dalam tiga hari.

Daud ingin tahu seberapa banyak tentaranya. Tuhan berespon dengan menewaskan begitu banyak orang Israel di dalam waktu yang sedemikian singkat. Daud ingin mengukur kekuatannya. Tuhan menanggapi dengan melucuti kekuatan Daud. Itulah yang terjadi ketika kita bersandar kepada kekuatan kita sendiri dan berhenti mengandalkan Allah kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

spurgeon

Firman Tuhan berkali-kali berkata bahwa Ia menentang orang yang sombong dan mengasihi orang yang rendah hati (Amsal 3:34, Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Melalui Yehezkiel, Ia berkata bahwa Ia akan “merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali (Yehezkiel 17:22-24).” Melalui Zefanya, Ia berkata, “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, yakni sisa Israel itu (Zefanya 3:12-13)”. Melalui Yeremia, Ia berfirman:

“Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya,
janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya,
janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut:
bahwa ia memahami dan mengenal Aku,
bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia,
keadilan dan kebenaran di bumi;
sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

(Yeremia 9:23-24)

Itulah isi hati TUHAN, itulah yang Ia sukai, yakni agar kita memahami dan mengenal-Nya. Ia menentang segala bentuk kesombongan, baik kesombongan karena hikmat, kekuatan, harta, bahkan kesalehan, sebab semua itu akan mencegah kita dari memahami dan mengenal-Nya. Ia benci kepada segala bentuk keangkuhan sebab karenanya kita tidak akan mengenal Dia sebagai Allah yang penuh kasih setia, keadilan, dan kebenaran di bumi.

Dan Ia tahu benar bahwa manusia, yang telah jatuh ke dalam dosa dan tinggal di dalam dunia yang telah tercemar oleh dosa, akan rentan untuk menjadi sombong dan mengandalkan diri sendiri, tidak terkecuali umat-Nya. Oleh sebab itu, di dalam hikmat dan kasih sayang-Nya yang besar kepada domba-domba-Nya, Ia mengizinkan mereka untuk menjadi lemah, bahkan menderita di dalam dunia. Semua itu Ia lakukan bukan untuk menindas mereka, melainkan untuk menguji, memurnikan, dan menguatkan iman mereka, membuat mereka berhenti mengandalkan dirinya sendiri dan berlindung kepada TUHAN, berhenti mengejar kemuliaan diri sendiri dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Kemuliaan mereka, dan, seperti apa yang Ia nyatakan melalui Yeremia, agar mereka memahami dan mengenal Dia, bahwa  Dialah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi.

lawson

Paulus mengerti benar kelemahan dan penderitaan yang demikian. Ia berkata, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri (2 Korintus  12:7). Paulus bahkan sampai mengulangi “supaya aku jangan meninggikan diri” sebanyak dua kali; ia tahu seperti apa jahatnya hatinya dan betapa mudahnya ia meninggikan diri seandainya Tuhan membiarkannya. Dan di dalam kesesakan yang diizinkan Tuhan terjadi itu, Paulus berdoa agar Tuhan mencabut pencobaan itu darinya. Namun, seperti apakah respon Tuhan? Ia berkata kepada Paulus:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9a)

Ia menegaskan kepada Paulus, pertama, bahwa kasih karunia-Nya kepada Paulus, dan kepada kita semua, adalah cukup. Ia tidak pernah kurang di dalam memberkati kita. Jika karunia-Nya nampak tidak cukup, itu karena kita enggan percaya dan dosa membuat kita terlalu malas untuk membuka mata kita dan melihat campur tangan-Nya. Kedua, Ia mengutarakan kebenaran mencengangkan yang hanya berlaku bagi orang percaya, yaitu bahwa kelemahan di dalam hidup orang Kristen tidak pernah final; justru sebaliknya, kelemahan merupakan gerbang atau permulaan untuk kuasa-Nya yang sempurna. Tanpa adanya kelemahan, tidak akan ada manifestasi kuasa Allah yang berlimpah-limpah di dalam hidup orang percaya. Kelemahan adalah bahan baku yang Tuhan pakai menjadi jalan masuk bagi kekuatan-Nya. Itulah sebabnya Paulus tidak pahit hati di dalam kelemahannya, malahan ia memberi tanggapan:

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12:9b)

Paulus tidak sekadar menerima kelemahannya dengan tabah hati, ia bahkan bermegah atasnya. Dan perhatikan di sini bahwa Paulus berkata “supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Itu merupakan responnya terhadap Tuhan yang berkata kepadanya, “sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Ini merupakan hal yang luar biasa. Mengapa? Sebab ternyata Pribadi yang berbicara kepada Paulus mengenai kelemahan bukanlah Bapa, maupun Roh Kudus, melainkan Tuhan Yesus Kristus. Dialah Allah yang Perkasa (Yesaya 9:5) yang juga pernah menjadi seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (Yesaya 53:3) demi kita. Ia adalah Tuhan yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3) dan pada saat yang sama pernah turut mengalami kelemahan-kelemahan kita, bahkan dicobai dalam segala hal (Ibrani 4:15). Alangkah luarbiasanya Dia.

Ia pernah menjalani hidup yang penuh penderitaan. Mungkin itulah sebabnya Ia yang datang kepada Paulus. Tuhan Yesus mengerti benar seperti apa kelemahan itu sebab Ia pernah merasakannya. Bahkan, Ia mati di atas kayu salib di dalam kelemahan. Namun, di sinilah letak pentingnya. Di bukit Kalvari, Kristus menderita kelemahan yang luar biasa tetapi justru kelemahan itulah yang menjadi jalan bagi kemenangan-Nya dan juga bagi keselamatan kita. Tanpa salib Kristus, tidak ada mahkota bagi kita. Tanpa kematian Kristus, tidak ada kehidupan bagi kita. Dan jika Kristus, melalui kelemahan, menyempurnakan misi-Nya untuk keselamatan kita dan semua orang berdosa yang percaya, bukankah Ia juga dapat memakai kelemahan untuk menyempurnakan kuasa-Nya dan misi-Nya di dalam hidup kita? Tentu saja Ia dapat; bahkan Ia akan melakukannya, Ia akan mengizinkan kelemahan datang di dalam hidup kita sebab “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibrani 12:6).” Oleh sebab itu, janganlah kita mengikuti kesalahan Daud yang mengandalkan diri sendiri dan menujukan matanya kepada jumlah tentaranya tetapi…

“… marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:1-2)”

Pencobaan akan datang. Kelemahan, sudah pasti, akan datang di dalam hidup kita (Ibrani 12:7-8, 2 Timotius 3:12). Namun, biarlah kita tetap berada dalam damai sejahtera Kristus (Yohanes 14:27) sebab kita tahu, dari perkataan Tuhan Yesus sendiri, bahwa kelemahan di dalam hidup kita adalah pertanda bahwa Kristus sedang menyempurnakan manifestasi kuasa-Nya di dalam hidup kita dan menyiapkan hati kita untuk memahami dan mengenal Dia, yang adalah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi, dan yang adalah Juruselamat kita yang sejati. Haleluya.

piper

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s