Tetaplah Di Sana

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri dan berlakulah setia,
dan bergembiralah karena TUHAN;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN
dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang,
dan hakmu seperti siang.

(Mazmur 37:4-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

chambers-4

Kehidupan ini tidak selalu menyenangkan untuk dijalani. Ada banyak peristiwa, banyak pekerjaan, dan banyak pribadi yang keberadaannya seringkali mengusik hati kita. Tidak jarang hal ini terjadi di dalam dunia kerja. Tugas yang kurang disukai atau kurang mencerdaskan, suasana kerja yang kurang kondusif, bos yang kurang mengayomi, dan rekan kerja yang kurang kooperatif kerap menjadi alasan orang-orang, termasuk orang percaya, tidak betah dengan pekerjaannya dan hendak segera keluar dari sana demi mencari tempat pekerjaan baru yang lebih baik.

Apakah ini pernah terjadi padamu atau mungkin kau sedang mengalaminya saat ini? Jika “iya”, pernahkah engkau berpikir bahwa “tempat pekerjaan baru yang lebih baik” itu akan benar-benar lebih baik? Yakinkah engkau bahwa tempat itu akan menghadirkan kedamaian dan sukacita yang hatimu impikan?

Firman Tuhan di dalam mazmur ini berkata, apakah yang akan membuat manusia memiliki apa yang sebenarnya hatinya inginkan:

  • Percaya kepada Tuhan (ayat 3a)
  • Melakukan yang baik (ayat 3a)
  • Diam di negeri di mana engkau berada (ayat 3b)
  • Berlaku setia (ayat 3b)
  • Bergembira karena TUHAN (ayat 4)

Itulah jalan yang Tuhan sediakan, bukan jalan untuk lari dari kenyataan seperti yang seringkali terlintas di benak kita setiap kali kita merasa terusik dengan pekerjaan atau rekan kerja kita. Tuhan tahu dan mengerti setiap ketidaknyamanan dan penderitaan yang kita alami di tempat kita berada. Tetapi Tuhan tidak buru-buru mengizinkan kita untuk pergi dari tempat yang tidak menyenangkan itu, bahkan Ia mau agar kita bersabar di sana, sebab di sana Tuhan telah meletakkan mutiara-Nya, bukan untuk kenyamanan semu kita, melainkan untuk kedewasaan karakter kita yang tercapai oleh kekuatan-Nya, bukan kekuatan kita.

Ya, Tuhan jauh lebih peduli dengan karakter kita dibanding kenyamanan kita. Ia punya waktu yang kekal untuk kenyamanan kita di sorga kelak sehingga kini Ia lebih berfokus pada karakter kita.  Ia lebih tertarik untuk membenahi kondisi di dalam hati kita terlebih dahulu dibanding bergegas mengubah situasi di permukaan kita. Perhatikanlah apa yang Ia ucapkan. Ia mau kita berbuat baik, Ia mau kita tetap tinggal di sana dan berlaku setia di sana, bukan buru-buru pergi mencari tempat baru yang belum tentu lebih baik.

nn3

Mengapa belum tentu lebih baik? Sebab kebaikan dan sukacita yang hati kita butuhkan bukanlah berasal dari suatu tempat, melainkan dari Tuhan semata. Dialah awal dan akhir dari kegembiraan kita sebagaimana Ia membuka lima poin mazmur-Nya dengan percaya kepada Tuhan dan mengakhirinya dengan bergembira karena TUHAN (Mazmur 37:3, 4).

Di dalam segala sesuatu, mulailah dengan percaya kepada Tuhan. Salomo berkata di dalam Amsalnya, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5-6)”. Iman kepada Allah akan menjadi sumber kekuatan dan hikmat bagi kita untuk melakukan yang baik, tetap diam di tempat di mana Tuhan telah menempatkan kita, dan berlaku setia. Dan setelah kita mampu menjalani semua hal itu, hendaklah kita bergembira karena TUHAN, bukan karena hal lain, sebab hanya Dialah yang telah menuntun kita menjalani semua proses yang ada.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel:
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan,
dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(Yesaya 30:15)

Tetapi tidak hanya itu, Ia mengerti bahwa kita tidak hanya membutuhkan sukacita dan kedamaian. Apabila kita hidup taat kepada Allah, menurut tuntunan Roh dan firman-Nya serta berdasarkan kuat kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:20), Ia tahu bahwa pada waktu-Nya, Ia juga perlu memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang (Mazmur 37:6) di hadapan orang-orang yang menurut-Nya perlu melihatnya.

Tuhan tidak menghendaki kita merasa tidak nyaman hanya supaya kita merasa tidak nyaman. Ia mengizinkan kita hidup untuk sekian waktu lamanya di dalam ketidaknyamanan karena ada maksud yang indah di belakang semua itu dan itu adalah supaya kita mampu memancarkan terang-Nya yang benderang, bukan cahaya kita sendiri yang redup dan gelap. Ia menginginkan kita tidak mengejar kemuliaan kita sendiri sebab, sadar tidak sadar, justru itulah yang seringkali menjadi alasan utama mengapa kita merasa tidak nyaman dengan peristiwa, pekerjaan, dan pribadi mengusik yang ada di sekitar kita. Ya, sifat egois, ekspektasi yang tidak seturut dengan kehendak Tuhan, dan kehausan kita akan kemuliaan dan kenyamanan pribadi, itulah yang banyak kali menjadi akar dari segala penderitaan dan ketidaknyamanan yang kita alami. Jika kita merasa tidak betah karena pekerjaan kita menuntut kita untuk melakukan dosa, itu adalah hal yang wajar dan kita memang perlu keluar dari tempat itu tetapi jika tidak ada alasan yang cukup masuk akal dari ketidakbetahan kita akan pekerjaan itu, perhatikanlah, bisa jadi itu adalah tanda dari kondisi kerohanian yang buruk.

Allah tidak mau kita berada di dalam lumpur itu; Ia mau kita bekerja demi kemuliaan-Nya. Ia menghendaki “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Ia mau cahaya keindahan Injil Kristus terpancar dari hidup, performa, kedisiplinan, dan tutur kata kita di dalam tempat kita bekerja. Itulah makna terpendam di balik mazmur Daud ketika ia berkata “kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:6), yakni kebenaran dan hak yang merupakan buah dari karya Allah, bukan dari kekuatan kita semata. Dan sebelum Ia bertindak untuk mengerjakan semua itu, Ia memanggil kita untuk menyerahkan hidup kita kepada TUHAN dan percaya kepada-Nya terlebih dahulu.

Inilah janji TUHAN, Gembala kita, kepada setiap kita yang tidak sedang merasa nyaman di tempat di mana Tuhan telah menaruh kita demi rancangan-Nya. Ia tidak ingin kita tergesa-gesa dan pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat lain yang menurut pandangan kita lebih baik. Ia mau kita pertama-tama percaya kepada-Nya, melakukan yang baik, tetap tinggal di sana, setia, dan bergembira karena Dia. Ia ingin agar kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan sekali lagi, percaya kepada-Nya. Ia menghendaki kita tahu “…bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)”. Inilah yang akan menjadi sumber sukacita dan kedamaian yang sejatinya hati kita rindukan.

lawson

Dan yang terakhir, Tuhan Yesus pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan (Matius 11:28-29).”

Ini merupakan Mazmur 37:4-6 versi Tuhan kita. Ia berkata bahwa Ia tahu bahwa kita sedang letih, lesu, dan berbeban berat. Namun, apakah yang Ia katakan? Apakah Ia menyuruh kita untuk bergegas meninggalkan tempat yang membuat kita letih, lesu, dan berbeban berat itu? Tidak. Sebaliknya, Ia masih memberi tugas kepada kita. Ia memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Ia bahkan masih memanggil kita untuk memikul kuk yang Ia pasang dan untuk belajar pada-Nya. Apakah Tuhan sedang bercanda? Kita sedang letih, lesu, dan memiliki beban yang sangat berat tetapi Ia masih memerintahkan kita untuk memikul kuk yang Ia taruh dan untuk belajar pada-Nya, apakah Ia bercanda?

Tidak. Ia tahu bahwa akar dari segala masalah kita adalah cinta akan diri sendiri; kita ingin tujuan kita tercapai, kita ingin merasa nyaman, kita ingin terlihat mulia. Itulah sebabnya Ia mengajak kita untuk belajar dari-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Tidak hanya itu, kita tidak hanya bisa belajar dari Tuhan kita, ketika kita mulai sadar akan betapa jahatnya hati dan ekspektasi kita dibanding dengan kemurniaan hati-Nya, kita juga beroleh keberanian untuk tetap datang kepada-Nya dan memohon pengampunan dan penyucian dari-Nya sebab Ia adalah Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati. Ia berjanji tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (Yesaya 42:3). Ia berjanji tidak akan menolak siapapun yang datang kepada-Nya (Yohanes 6:37). Itulah mengapa Ia mengundang kita dan berkata, “Marilah kepada-Ku… dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Di manapun kita berada saat ini dan apapun kondisi kita, entahkah itu letih, lesu, berbeban berat, dan merasa tidak nyaman dan tertekan di tempat kita bekerja, marilah kita segera datang kepada Kristus, bukan ke tempat lain atau tempat pekerjaan yang baru, dan jiwa kita akan mendapat ketenangan. “Bergembiralah karena TUHAN maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

spurgeon-3

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s