These are True

Dalam momen terakhir di dalam hidupnya, Martin Luther ditanya oleh salah seorang temannya yang bernama Justus Jonas, “Apakah kau ingin mati dengan teguh berdiri di atas Kristus dan doktrin yang kau ajarkan?”

Di zaman di mana pengaruh dan ajaran Roma Katolik masih begitu kuat, pertanyaan itu tidaklah mudah untuk dijawab. Kebanyakan orang mungkin akan ragu untuk menyerahkan keselamatannya semata-mata di atas iman kepada Yesus Kristus. “Ini adalah kesempatan terakhirku sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan penghakiman Allah. Bagaimana jika selama ini ajaran Martin Luther yang kuikuti ternyata benar-benar sesat dan ajaran Gereja Katolik Romalah yang benar? Aku pasti akan masuk ke neraka! Masih ada kesempatan bagiku untuk meninggalkan ajaran Luther dan kembali memohon keselamatan bagiku dengan jalan yang diajarkan gereja Katolik sebelum aku mati.” Mungkin itu adalah pergumulan terberat yang dialami oleh orang-orang di zaman itu yang sedang menyongsong ajalnya dan bukan tidak mungkin pergumulan itupun dirasakan oleh Martin Luther yang sedang melangkah di dalam detik-detik terakhir di dalam hidupnya.

Jika Martin Luther ragu akan keyakinannya sendiri dalam “Keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus”, maka inilah saatnya untuk segera “bertobat” dan kembali ke jalannya yang dahulu, jalan Gereja Roma. Namun, bukan itu yang Luther lakukan. Dengan penuh keyakinan, ia menjawab pertanyaan temannya itu, “Ya!”

Kemudian, sebagai kalimat terakhir yang ia suarakan di dunia ini, inilah yang Luther katakan:

luthers

Luther wafat pada 18 Februari 1546 di Eisleben.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

We are beggars. This is true.” Perkataan Luther tepat. Kita semua adalah pengemis. Kita tidak berdaya sama sekali. Kita sepenuhnya bergantung pada kuasa yang ada di luar diri kita. Berada di manakah kita saat ini? Kita ada di dalam tiga alam: alam jasmani, alam relasi, dan alam rohani. Tidak satupun di dalam ketiganya kita dapat berdiri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri.

Kita ada di alam jasmani, suatu alam yang penuh dengan ketidakpastian, suatu alam di mana gigitan nyamuk yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita dapat membunuh kita secara perlahan dan hantaman mobil yang dikendarai oleh seorang pengemudi yang mabuk dapat membunuh kita dalam sekejap. Kita ada di alam natural, suatu alam di mana untuk mengedipkan mata atau untuk menghembuskan nafas saja kita tidak bisa tanpa pertolongan dari Pribadi yang bukanlah kita sendiri. Kita hidup di dalam suatu dunia fisik dengan segala ketidakpastian yang ada di dalamnya, yang mana semuanya itu dapat mengancam hidup kita, yang ditata dan dirajut sedemikian rupa oleh Tangan Tak Terlihat yang bukanlah tangan kita sendiri.

Kita ada di alam relasi, suatu alam yang penuh dengan orang-orang selain diri kita sendiri, suatu alam yang di dalamnya kita akan berinteraksi, berkomunikasi, dan hidup bersama orang-orang yang tidak sama dengan kita, suatu alam di mana tidak begitu sulit dan tidak membutuhkan waktu yang begitu lama bagi kita untuk kembali merasa sakit hati karena perbuatan orang lain atau sebaliknya, kembali menyakiti hati orang lain. Kita ada di alam relasi, suatu alam di mana untuk berbuat satu saja perbuatan yang baik dan mulia atau mengucapkan satu saja kata yang bijaksana dan membangun orang lain, kita sepenuhnya bergantung pada kuasa dan hikmat Pribadi yang ada di luar diri kita.

Kita ada di alam rohani, suatu alam yang hanya punya dua pilihan: Kerajaan Allah atau Kerajaan Maut. Dan kita semua berada di dalam Kerajaan Maut, terkunci tanpa ada pintu untuk keluar, dan mati. Kita ada di suatu alam yang jikalau tanpa belas kasih dan pertolongan dari Dia yang bukanlah diri kita sendiri, tiada satupun harapan dan jalan bagi kita untuk keluar darinya. Kita hidup di dalam suatu dunia roh yang mana kita tidak benar-benar “hidup” melainkan mati (Efesus 2:1) dan untuk hidup, kita membutuhkan hidup yang berasal dari Dia yang adalah Hidup itu sendiri (Yohanes 11:25, Galatia 2:19-20, Yohanes 1:4).

Oh manusia yang malang! We are beggars. We are all beggars. This is true. This is true. “This is true!” Betapa benar pernyataan itu tetapi betapa pilu hati ini untuk mengakuinya.

Namun, di tengah-tengah hati yang pilu, suara Tuhan yang merdu terdengar, sepenggal bagian firman Tuhan terbersit di dalam benak, “Tetapi Allah……..” Harapan muncul dan merekah.

“We are beggars. This is true!
But God,…”

“We are beggars. We are all beggars. This is true. This is true!

But God,
who is RICH IN MERCY, because of His GREAT LOVE with which He loved us, even when we were dead in trespasses, made us alive together with Christ (by grace you have been saved) – Ephesians 2:4-5.”

Betapa indahnya pengharapan yang dari pada Tuhan, sungguh menyegarkan jiwa. Manusia adalah pengemis; itu memang benar. Itu memang benar. Namun, Tuhan adalah Juruselamat. Ia adalah Juruselamat bagi tubuh jasmani kita. Ia adalah Juruselamat bagi relasi kita. Ia adalah Juruselamat bagi roh kita. Baik di alam jasmani, alam relasi, maupun alam rohani, kita tidak dapat berdiri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, kita sepenuhnya bergantung kepada kuasa dan bijaksana dari Dia yang adalah Sang Juruselamat.

We are beggars.
God is The Savior.
These are true. These are true indeed.

O LORD of hosts, blessed is the man who trusts in You (Psalms 84:13).
Amen!

nell

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s