O Love That Wilt Not Let Me Go

matheson_gGeorge Matheson (1842-1906)

O Love that wilt not let me go,
I rest my weary soul in Thee;
I give Thee back the life I owe,
That in Thine ocean depths its flow
May richer, fuller be.

O Light that followest all my way,
I yield my flickering torch to Thee;
My heart restores its borrowed ray,
That in thy sunshine’s blaze its day
May brighter, fairer be.

O Joy that seekest me through pain,
I cannot close my heart to Thee;
I trace the rainbow through the rain,
And feel the promise is not vain,
That morn shall tearless be.

O Cross that liftest up my head,
I dare not ask to fly from Thee;
I lay in dust life’s glory dead,
And from the ground there blossoms red
Life that shall endless be.

Himne ini merupakan salah satu himne paling popular pada abad ke-19. Lagu ini dikarang pada 6 Juni 1882. George Matheson (1842-1906), sang Penggubah lagu ini berkata mengenai lirik lagu yang dikarangnya:

“Sesuatu terjadi padaku, hanya aku yang mengetahuinya, dan yang menyebabkan derita batin paling berat yang pernah saya alami. Lagu ini merupakan buah dari penderitaan itu. Lagu ini merupakan lagu paling cepat saya karang di dalam hidup saya. Saya cenderung merasa bahwa lagu ini muncul karena didiktekan kepada saya oleh suara yang dari dalam dibanding saya yang mengerjakannya sendiri.”

Matheson mengatakan bahwa ia cukup yakin bahwa lirik lagu ini rampung dalam lima menit dan ia tidak pernah meng-edit atau mengoreksi satupun kata sesudahnya. Ia juga mengaku bahwa ia tidak memiliki karunia rohani atau talenta khusus dalam menulis sebuah lagu. Matheson berkata, “Semua syair yang pernah saya tulis adalah hasil dari pemikiran saya; lagu ini datang kepada saya seperti surya pagi dari tempat yang tinggi.” Datangnya lagu ini ke dalam hati Matheson merupakan peristiwa yang sangat langka yang tidak akan pernah ia alami kembali.

Pada usianya yang ke-20 tahun, George bertunangan dengan seorang gadis. Namun, George mengidap suatu penyakit yang menyebabkan matanya hampir buta. Ketika ia menceritakan hal ini kepada tunangannya, gadis itu memutuskan bahwa ia tidak akan sanggup menikah dengan seorang suami yang buta. Akhirnya, gadis itupun memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan George. Hal ini begitu mendukakan hati George.

bloom

Sebelum kehilangan penglihatannya, George telah menulis dua buah buku teologi. Sejak dari masa-masa kuliahnya, George memang merupakan pria yang brilian dan menunjukkan prestasi yang baik di kampusnya, Universitas Glasgow. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa seandainya George dapat melihat dengan normal, ia pasti dapat menjadi pemimpin gereja Skotlandia terbesar di zamannya.

Seumur hidupnya, George Matheson tidak pernah menikah. Untuk menyelesaikan studi teologinya, George ditolong dan dirawat oleh adik perempuannya yang memiliki kemampuan dalam bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani. Adiknya pulalah yang selalu menolong George di dalam pelayanannya sebagai seorang pendeta yang buta.

Namun, pada tahun 1882, adik George jatuh cinta dengan seorang pria dan memutuskan untuk menikah. Ketika seluruh keluarga George sedang berkumpul dan bersiap-siap untuk pesta pernikahan, George menyendiri di ruangannya dan merenungkan hidup seperti apa yang akan ia jalani setelah adiknya, pribadi yang selama ini selalu menemani dan mendukungnya, meninggalkannya untuk menempuh hidup yang baru. Itu tentu prospek yang mengerikan jika kita memandangnya dari kacamata manusia, apalagi jika George memandangnya dengan mata fisiknya yang buta. Tidak hanya itu, kenangan memilukan dua puluh tahun yang lalu, ketika George ditinggalkan oleh tunangannya juga menghantam jiwa George. George Matheson begitu menderita malam itu.

“Lagu ini merupakan buah dari penderitaan itu.” Itulah yang menjadi kesaksian George mengenai lagunya yang sangat indah ini, yang sekalipun rampung hanya dalam lima menit, namun gemanya terus terdengar hingga saat ini, dan akan terus bergema melalui gereja dan anak-anak Tuhan selama Roh Kudus terus bekerja dan menghembuskan syair yang begitu indah ini ke generasi-generasi yang akan datang.

Inilah hal istimewa yang menjadi keahlian Tuhan kita. Ia tidak pernah membiarkan kesedihan umat-Nya hanya berakhir di dalam kesedihan itu sendiri. Ia menghibur setiap umat-Nya yang berduka dan lebih lagi, Ia memakai pengalaman yang menyakitkan itu untuk menjadi pendewasaan bagi dia yang menderita serta berkat bagi orang lain. Lagu ini merupakan buah penderitaan George tetapi juga buah yang begitu nikmat dan menyehatkan bagi jiwa anak-anak Tuhan di sepanjang sejarah gereja setelah George.

O Love that wilt not let me go

O Light that followest all my way

O Joy that seekest me through pain

O Cross that liftest up my head

Ada empat bait atau stanza di dalam himne ini. Setiap bait diawali oleh Love, Light, Joy, dan Cross, yang menyatakan Tuhan Yesus Kristus dan apa yang Ia lakukan bagi umat-Nya yang sedang letih, lesu, dan berbeban berat. Perhatikan bahwa setiap bait diawali bukan oleh apa yang George lakukan bagi Tuhan tetapi apa yang terlebih dahulu Tuhan lakukan bagi George.

Kristus adalah Kasih yang tidak akan meninggalkan umat-Nya pergi. Ia adalah Terang yang mengikuti setiap jejak umat-Nya untuk menaungi mereka apabila mereka berjalan di lembah kekelaman (Mazmur 23). Ia adalah Sumber Sukacita yang mencari dan menghampiri umat-Nya di dalam penderitaan mereka. Ia adalah Sang Salib yang senantiasa mengangkat kepala kita agar tidak tertunduk kalah kepada dunia melainkan menatap Ia yang ditinggikan dan menderita di atas kayu salib namun yang akhirnya menaklukkan dunia (Yohanes 16:33) dan mengalahkan maut demi mengaruniakan hidup baru yang penuh kuasa dan kemenangan kepada umat-Nya (1 Korintus 15:55).

I rest my weary soul in Thee

I yield my flickering torch to Thee

I cannot close my heart to Thee

I dare not ask to fly from Thee

Setelah apa yang Tuhan lakukan terlebih dahulu bagi George, keempat hal di ataslah yang George lakukan. Ia bersandar kepada Kristus. Ia mendekatkan “api”-nya yang redup kepada Api Kristus yang menyala-nyala. Ia tidak menutup hatinya bagi Kristus. Ia tidak pernah pernah mau pergi dari Kristus.

Biarlah sebagaimana lagu ini “turun” dari sorga dan hinggap di hati George Matheson oleh kuasa Roh Kudus di malam yang sepi itu, lagu ini juga menghampiri kita, tinggal di dalam hati kita, dan menggerakkan kita untuk datang kepada Tuhan Yesus Kristus yang berjanji akan memberi kelegaan kepada kita (Matius 11:28) serta Air Hidup yang akan menjadi mata air di dalam hati kita, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4:10-14).”

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,

yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
(Ibrani 12:2-3)

spurgeon

Amin.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=kfigyNAmRx8 (Lagu O Love That Wilt Not Let Me Go yang dinyanyikan oleh David Phelps)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s