Berbahan Bakar dari Sukacita di dalam Kristus

Paul exhorts believers towards a life of godliness,
fueled by joy in Christ and concern for others,
not personal gain and gratification.
~Jonathan C. Edwards~

Saya sangat menyukai frase yang dipakai oleh penulis, fueled by joy in Christ, yang mengibaratkan sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar yang olehnya kita dapat mengasihi orang lain dan bergerak untuk menyatakan kasih itu dalam bentuk tindakan. Benar sekali, sukacita di dalam Tuhan adalah bahan bakar yang memasok energi ke dalam hati kita yang terkadang beku, lemah, dan malas ini. John Piper menggunakan perumpamaan yang lain. Ia mengibaratkan sukacita di dalam Tuhan sebagai air yang terus menerus tercurah ke dalam suatu wadah. Lama kelamaan, wadah itu akan terisi penuh oleh air tersebut sehingga tidak dapat tertampung lagi dan airpun mulai bertumpahan keluar dan menjadi overflow yang mengairi daerah sekelilingnya. Demikianlah sukacita di dalam Tuhan, ketika sukacita Tuhan itu berlimpah-limpah di dalam hati kita, maka sukacita itu akan menjadi overflow yang tercurah kepada orang lain.

Hal yang mirip terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Pada saat itu, saya sedang bergumul akan satu dan lain hal. Kemudian, saya membaca firman dari Lukas 1:46-56 tentang Magnificat yang dinyanyikan Maria, ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Saya terpana khususnya pada bagian awal:

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.” (Lukas 1:46-48)

Pada saat membaca firman tersebut, ada sesuatu yang aneh di dalam hati saya. Pertama-tama, saya merasa bingung dengan Maria. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia merasa begitu bersukacita sementara ia mengandung benih yang tidak berasal dari suatu hubungan pernikahan yang sah. Tidakkah seharusnya ia juga merasa takut, bimbang, atau lainnya? Tidakkah ia gusar kalau-kalau orang-orang akan menuduhnya telah melalukan tindakan yang berdosa dan yang mungkin dapat menyeretnya dalam hukuman rajam? Tidakkah ia cemas orang-orang akan mempertanyakan perutnya yang kian membesar dan kemudian merendahkannya? Tidakkah ia …?

Tetapi Maria merasa bersukacita. Dari Magnificat-nya, tampak bahwa sukacita ilahi melimpah-limpah di dalam hatinya. Sukacita Maria itu kemudian menjadi overflow yang mengalir, yang melampaui rentang waktu dua ribu tahun dan yang akhirnya sampai dan tinggal di hati saya. Sayapun berlimpah-limpah dengan sukacita yang berasal daripada Tuhan yang terlebih dahulu mengisi dan melintasi hati Maria ini.

Dan apakah yang muncul dalam benak saya ketika saya merasa begitu bersukacita? Ya, sukacita itu berubah menjadi kasih dan menjadi bahan bakar yang menggerakkan saya untuk mengasihi dan menyatakan kasih itu di dalam sebuah tindakan.

Itulah yang saya mengerti mengenai sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar. Tentu saja kita tidak boleh puas jika sukacita atau kasih yang ada di dalam hati kita itu hanyalah sebatas feeling atau chemistry atau apapun yang memang terasa nikmat di hati namun tidak berkuasa menggerakkan tubuh kita untuk bertindak. Kita adalah orang Kristen. Kita hidup bukan oleh feeling atau chemistry atau circumstances atau yang lainnya. Kita hidup oleh iman dan kita tahu bahwa iman yang sejati itu adalah iman yang bertindak (Yakobus 2:17) dan yang bekerja di dalam kasih (Galatia 5:6) dan Allah telah menetapkan bahwa bahan bakar dari tindakan kasih itu adalah sukacita di dalam Kristus.

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s