Ketika Allah Bekerja, Kita Bekerja

Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN;
kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri
, demikianlah firman TUHAN;

bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!
(Hagai 2: 5-6)

~~~

TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda,
dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar,
dan semangat selebihnya dari bangsa itu
,

maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.
(Hagai 1:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dua firman di atas nampaknya menunjukkan suatu kontradiksi. Di satu bagian dikatakan bahwa TUHAN memerintahkan Zerubabel dan rekan-rekannya untuk menguatkan hati mereka (Hagai 2: 5-6). Namun, di bagian lain, dikatakan bahwa TUHAN-lah yang menguatkan hati Zerubabel dan rekan-rekannya (Hagai 1:14). Jadi, bagian manakah yang benar? Apakah mereka yang menguatkan hati mereka ataukah TUHAN yang menguatkan hati mereka? Bukankah kedua hal ini menunjukkan kontradiksi di dalam Alkitab? Tidak, kita percaya bahwa firman Allah itu sempurna (Mazmur 19:8, Yakobus 1:25) dan di dalamnya tidak terdapat kontradiksi. Justru sebaliknya, kedua firman ini menunjukkan kepada kita realita pekerjaan Allah di dalam hidup umat-Nya.

Ketika Allah menciptakan alam semesta ini, menebus dosa manusia dan menganugerahkan kelahiran baru, serta menciptakan dunia yang baru kelak, Ia bekerja seorang diri, tidak seorangpun menjadi asisten-Nya dalam karya-karya tersebut. Namun, hampir di seluruh karya-Nya yang lain, Ia selalu bekerja bersama-sama dengan umat-Nya. Hal ini tidak berarti bahwa Allah bergantung kepada manusia, melainkan bahwa Ia begitu mengasihi umat-Nya dan Ia ingin mendatangkan kebaikan bagi mereka melalui partisipasi aktif mereka di dalam karya-karya yang Ia kerjakan di dunia ini (Roma 8:28).

Hal itulah yang ditunjukkan di dalam kedua firman yang sekilas nampak bertentangan ini. Memang benar bahwa Zerubabel dan teman-temannya menguatkan hati mereka. Namun, sama benarnya dengan itu, TUHAN-lah yang menguatkan hati mereka dan menggerakkan mereka. Inilah keindahan karya Allah; Ia tidak bekerja seorang diri dan membiarkan umat-Nya berpangku tangan, namun Ia juga tidak duduk diam saja di sorga dan membiarkan umat-Nya melakukan seluruhnya dengan hikmat dan kekuatan mereka sendiri. Ketika Allah bekerja, Ia menggerakkan umat-Nya untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ketika Allah bekerja, umat-Nya pun bekerja bersama-Nya, itulah cara Allah bekerja.

Itulah juga yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam ayat yang cukup terkenal, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13)”. Inipun merupakan perintah yang aneh sebab Paulus mendorong kita untuk mengerjakan keselamatan kita namun di kalimat yang sama ia menegaskan bahwa sebenarnya Allahlah yang mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Jadi, siapakah yang bekerja, kita atau Allah? Kini kita tahu jawabannya, Allah bekerja dengan menumbuhkan kemauan dan kemampuan di dalam kita sehingga kita pun terdorong untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Kita bekerja karena Ia terlebih dahulu bekerja di dalam kita.

Bagaimanakah kita mengetahui bahwa Allah sedang bekerja di dalam dan melalui hidup kita? Kita dapat mengetahuinya melalui pekerjaan yang kita lakukan. Jika Allah bekerja, maka itu akan terbukti dengan kita turut bekerja. Jika kita tidak bekerja, maka itu membuktikan bahwa Allah tidak sedang bekerja di dalam atau melalui hidup kita.

Oleh sebab itu, sebagai umat Allah, kita tidak memiliki alasan untuk bermalas-malasan, tidak bekerja, tidak berdoa, tidak belajar, tidak berbuah, tidak melayani, putus asa, atau berlari dari masalah. Semua tindakan itu merupakan zona di mana Allah enggan untuk bekerja di dalam atau melalui hidup seseorang. Jika kita memilih untuk bermalas-malasan dan mengabaikan Allah, itu sama saja dengan kita secara sadar menjauhkan diri dari pertolongan dan karya-Nya di dalam hidup kita. Kita juga tidak dapat berpangku tangan di dalam hidup ini kemudian menganggap bahwa kita sedang menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Tidak, penantian yang sejati akan Tuhan, sebagaimana kata Nabi Yesaya, tidak akan membuat kita pasif, melainkan akan memberi kita kekuatan baru dan membuat kita aktif (Yesaya 40:31).

Jadi bagaimana, apakah kita akan memilih zona nyaman dan zona aman kita yang pasif dan mengabaikan perintah Tuhan? Atau sebaliknya, kita akan datang kepada Zona Nyaman dan Zona Aman yang sejati, yaitu Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Matius 11:28, Yohanes 10:28-29). Di dalam Dia, tidak ada penantian yang pasif sebab Ia memanggil kita untuk mencari secara aktif Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33). Di dalam Dia, tidak ada pula kemalasan sebab Ia memanggil kita untuk bekerja dan menghasilkan buah bagi-Nya (Yohanes 15:16, Filipi 1:22).

Ibarat seorang pribadi memiliki roh dan tubuh, Allah kita adalah Roh dan kita semua adalah badan-Nya di dunia ini. Ibarat tubuh terdiri dari kepala dan anggota-anggota tubuh, Tuhan adalah Kepala (Kolose 1:18) dan kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya di bumi ini (1 Korintus 12:27, Efesus 4:16). Ia adalah Sang Kepala yang di dalam segala sesuatu bekerja dengan rancangan dan kehendak-Nya (Efesus 1:11) sementara kita adalah tubuh yang bekerja dengan taat dan bergerak sesuai perintah-Nya. Bukti bahwa tubuh menyatu dan terkoneksi langsung dengan kepala adalah jika tubuh itu bergerak sesuai dengan komando si kepala. Sama halnya dengan itu, bukti bahwa kita ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita adalah jika kita bekerja seturut dengan kehendak-Nya yang bekerja di dalam kita.

Di dalam hidup-Nya di dunia ini, Tuhan Yesus Kristus memiliki satu moto hidup, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga (Yohanes 5:17).” Panggilan hidup kita adalah agar kita menjadi serupa dengan Dia (Roma 8:29). Oleh sebab itu, hendaklah moto hidup Tuhan Yesus ini menjadi moto hidup kita juga: Allahku bekerja sampai sekarang, maka akupun bekerja juga.

Lakukanlah sesuatu bagi kemuliaan nama Allah! Segala kemuliaan hanyalah bagi Dia. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s