Sejarah Gereja: Tahun 156 – Kemartiran Polikarpus

Keadaan sangat memanas. Polisi Smyrna sedang memburu Polikarpus, uskup yang disegani di kota itu. Para polisi itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin.

Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain. Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih diam di kota, teman-temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin karena mereka takut kalau-kalau kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja. Jika itu alasannya, maka mereka salah tafsir.

Ketika polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk mencari tahu tentang Polikarpus. Kemudian mereka menyerbu dengan senjata lengkap untuk menangkap uskup itu. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal di tempat dengan tekad, “Kehendak Allah pasti terjadi.” Di luar dugaan, ia menerima mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik itu dan berusaha membujuknya agar meninggalkan Kekristenan sehingga ia bebas dari ancaman hukuman mati. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala polisi yang memimpin pasukan itu berkata, “Apa salahnya menyebut ‘Lord Caesar’ (Tuhan Kaisar) dan mempersembahkan bakaran kemenyan?” Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Para pejabat Romawi yakin bahwa roh kaisar bersifat ilahi sehingga patut disembah. Bagi orang Romawi pada umumnya, dengan sejumlah dewa, menyembah kaisar bukanlah masalah. Mereka melihat hal itu sebagai loyalitas kebangsaan. Namun, orang-orang Kristen tahu bahwa itu adalah penyembahan berhala.

Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, tetapi memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka dianggap sebagai orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, “Enyahkan orang-orang kafir.” Karena mereka tahu bahwa orang-orang Kristen tidak pernah berperan serta dalam berbagai perayaan mereka yang memuja bermacam-macam dewa dan karena mereka tidak pernah mempersembahkan korban, maka mereka menyerang kelompok yang mereka anggap tidak patriotik serta tidak beragama ini.

Maka, Polikarpus pun masuk dalam arena yang penuh dengan kumpulan orang beringas. Tampak, gubernur Romawi di sana menghormati usia uskup tersebut. Seperti Pilatus, ia tidak ingin dianggap keji. Hanya jika Polikarpus mau melakukan persembahan korban, maka semua dapat pulang kembali dengan selamat.

“Hormatilah usiamu, Pak Tua,” seru gubernur Romawi itu. “Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, “Enyahkan orang-orang kafir!”

Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap kafir itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemoohkannya. Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, “Enyahkan orang-orang kafir!”

Gubernur Romawi itu berusaha lagi: ”Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!” Uskup itu pun berdiri dengan tegar. Ia berkata, “Selama delapan puluh enam tahun aku telah mengabdi kepada-Nya dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?”

Menurut kisah, Polikarpus pernah menjadi murid Rasul Yohanes. Jika demikian, mungkin ialah orang terakhir yang berhubungan dengan gereja para rasul. Kira-kira empat puluh tahun sebelumnya, ketika Polikarpus memulai pelayanannya sebagai uskup, Bapa Gereja Ignatius telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri telah menulis suratnya untuk orang Filipi. Meskipun surat tersebut tidak begitu cemerlang ataupun merupakan pendapatnya sendiri, namun mengandung unsur-unsur kebenaran yang ia pelajari dari para gurunya. Polikarpus tidak mengulas Perjanjian Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul kemudian, tetapi ia menyitir para rasul dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi.

Kira-kira satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup Roma. Ada cerita yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan Marcion, yang ia juluki “Anak sulung setan.” Ajaran-ajaran para rasul yang ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.

Itulah peranan Polikarpus : saksi yang setia. Para pemimpin yang muncul kemudian hari mengadakan pendekatan-pendekatan kreatif untuk mengubah keadaan, namun pada zaman Polikarpus, yang dibutuhkan hanyalah kesetiaan. Ia setia sampai mati.

Di arena perdebatan, pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya itu: ”Jika kamu… berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya.”

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. “Panggil binatang-binatang itu! Hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk.” seru Polikarpus.

Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, “Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi.”

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: “Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah dan mempersembahkan korban sembelihan.”

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. Ia diikat pada sebuah tiang dan diabakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. “Ia berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal.” Ketika seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Kisah itu tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya. Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari “kelahiran Polikarpus” masuk ke surga.

Dalam kurun waktu satu setengah abad berikutnya, ratusan martir menuju kematian mereka dengan setia, dan banyak di antara mereka maju dengan semangat. Ini didasarkan pada laporan saksi mata uskup Smyrna itu.

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan,
sebab apabila ia sudah tahan uji,
ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah
kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
(Yakobus 1:12)

———————————-

Artikel selanjutnya: Tahun +/- 177 – Irenaeous Menjadi Uskup Lloyns

Diambil (dan sedikit dimodifikasi agar lebih mudah dimengerti) dari buku 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen oleh A. Kenneth Curtis dkk.

Advertisements

Tiga Quote Pemicu Adrenalin

Baru-baru ini, saya menemukan beberapa quote yang memicu adrenalin saya:

I find that the harder I work, the more luck I seem to have.
(Thomas Jefferson)

The most effective way to do it is to do it.
(Amelia Earhart)

Waktu adalah komoditas paling mahal di dunia.
Dan oleh karena itu, musuh utama kita adalah buang-buang waktu.
(Joko Widodo)

Semoga ketiga quote di atas menghasilkan di hati Anda efek yang paling tidak sama besarnya dengan yang saya rasakan. Semoga ketiga perkataan hikmat di atas dapat menjadi sesuatu yang Anda ingat dan memicu Anda untuk bekerja lebih giat lagi demi kemuliaan Allah di dunia ini.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
(Matius 5:16)

Corrie ten Boom, tentang Martir dan Kematian

Suatu kali Corrie Ten Boom menceritakan kisah tentang perbincangannya dengan ayahnya ketika ia masih kecil. Saat itu, Corrie kecil mengatakan kepada ayahnya bahwa ia merasa takut akan kematian dan bahwa ia cukup yakin bahwa ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadi seorang martir (seorang yang mati karena mempertahankan keyakinannya) demi Kristus. Mendengar hal ini, ayah Corrie, dengan penuh kebijaksanaan, mengingatkannya tentang pengalaman mereka bepergiaan dengan kereta ke kota Amsterdam. Ayah Corrie, Casper Ten Boom, mengatakan kepada Corrie:

“Ketika engkau pergi ke Amsterdam, kapan aku memberimu uang untuk membeli tiketnya? Apakah tiga minggi sebelumnya?”

Jawab Corrie:

“Tidak, Ayah. Engkau memberiku uang untuk membeli tiket sesaat sebelum kita naik ke kereta.”

Ayah Corrie menanggapi:

Itu benar. Dan begitu pula dengan kekuatan dari Allah. Bapa kita di Surga tahu kapan engkau membutuhkan kekuatan. Ia akan menyediakan apa yang kau perlukan tepat di saat engkau memerlukannya.”

Bertahun-tahun kemudian, Corrie, saudarinya, Betsie ten Boom, dan ayah mereka, dipenjarakan di kamp konsentrasi Nazi karena mereka menyembunyikan orang-orang Yahudi yang hendak dibunuh oleh Nazi di ruang rahasia di rumah mereka. Betsie dan ayah Corrie meninggal selama pemenjaraan tersebut sementara Corrie terbebas di Ravensbruck, karena adanya suatu kesalahan teknis, hanya seminggu sebelum wanita-wanita seusia Corrie dibunuh di kamp konsentrasi.

Corrie menjalani kehidupannya setelah itu dengan bepergian ke berbagai belahan dunia untuk memberitakan firman Tuhan dan untuk mengatakan kepada banyak orang bahwa sedalam-dalamnya lubang yang ke dalamnya seseorang terjatuh, kasih Allah jauh lebih dalam dari lubang itu. Corrie wafat pada usia 91.

Sejarah Gereja: Tahun 150 – Justin Martyr Menulis Apology-nya

Filsuf muda itu berjalan-jalan sepanjang pantai, dengan pikirannya yang aktif, selalu aktif mencari kebenaran baru. Ia telah mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles, dan Phytagoras tetapi sekarang ia menganut sistem Plato. Plato pernah menguraikan bahwa penglihatan akan Tuhan dikaruniakan kepada mereka Yang mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh. Itulah yang dikehendaki Yustinus (Latin: Iustinus), sang filsuf.

Ketika berjalan-jalan, ia betermu dengan seorang Kristen. Yustinus tersentak melihat wibawa dan kerendahan hati orang tersebut. Orang itu mengutip nubuat Yahudi yang menunjukkan bahwa cara-cara orang Kristen itulah yang benar, dan Yesus adalah pernyataan Allah yang sesungguhnya.

Peristiwa itulah yang menjadi titik balik Yustinus. Dengan merenungkan tulisan-tulisan Kitab Taurat, membaca Injil dan surat-surat Paulus, maka ia pun menjadi orang Kristen sejati. Selama sisa hidupnya, lebih kurang tiga puluh tahun lamanya, ia mengadakan perjalanan, melakukan pekabaran Injil dan menulis. Ia telah memainkan peranan penting dalam perkembangan teologi gereja, dalam memahami dirinya sendiri dan dalam citranya yang ditampilkan kepada dunia.

Sejak awal, Gereja berperan di dua dunia yang berbeda, dunia orang Yahudi dan dunia bukan Yahudi. Kisah Para Rasul menggambarkan lambannya dan terkadang sakitnya perkembangan Kekirstenan di kalangan orang-orang bukan Yahudi. Petrus dan Stefanus mengadakan pekabaran Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, sedangkan Paulus kepada filsuf-silsuf Athena dan para penguasa Romawi.

Dalam banyak hal, kehidupan Yustinus mirip dengan kehidupan Paulus. Rasul Paulus adalah orang Yahudi yang lahir di daerah bukan Yahudi (Tarsus), sedangkan Yustinus adalah orang bukan Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem kuno). Keduanya terpelajar dan tangguh berargumentasi untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi akan kebenaran Kristus. Keduanya mati syahid di Roma karena keyakinan mereka.

Pada pemerintahan para kaisar abad pertama, seperti Nero dan Domitianus, tujuan gereja hanya untuk bertahan hidup dengan meneruskan tradisi mereka, yaitu menampilkan cinta kasih yang menyerupai kasih Kristus sendiri. Sedangkan bagi orang luar, Kekristenan merupakan sekte primitif agama Yahudi dengan berbagai ajaran dan praktiknya yang aneh

Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar seperti Trajanus, Antonius Pius, dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologist­ (orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, seperti Origenes dan Tertullianus, ia menafsirkan Kekristenan dalam istilah-istilah yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.

Karya tulis Yustinus, The Apology, ditujukan pada Kaisar Antonius Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang). Ketika Yustinus menjelaskan dan mempertahankan keyakinannya, ia juga menyinggung bahwa penyiksaan yang dilakukan penguasa Romawi terhadap-orang-orang Kristen adalah salah. Sebaliknya, mereka seharusnya bergabung dengan orang Kristen untuk menunjukkan kepalsuan sistem penyembahan dewa-dewa.

Bagi Yustinus, seluruh kebenaran adalah kebenaran yang berasal dari Allah. Para filsuf Yunani yang tersohor sedikit banyak telah diilhami Allah, namun mata mereka belum dibukakan bagi keutuhan kebenaran Kristus. Oleh karenanya, Yustinus menyetir pemikiran Yunani dengan bebas dan kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa kesempurnaan itulah Kristus. Ia mengutip prinsip Yohanes tentang Kristus sebagai Logos, Firman (Yohanes 1). Allah Bapa adalah kudus adanya dan terpisah dari manusia yang jahat – tentang hal ini Yustinus setuju dengan Plato. Namun melalui Kristus, Logos Allah (Sang Firman Allah), Allah dapat berhubungan dengan manusia. Sebagai Logos Allah, Kristus adalah bagian dari hakikat Allah, meskipun terpisah, seperti api dinyalakan dari api juga (demikianlah pemikiran Yustinus telah menjadi alat bagi kesadaran akan Tritunggal dan Inkarnasi yang berkembang di Gereja).

Meskipun Yustinus bersandar pada pemikiran Yunani, namun aliran pemikiran Yahudi ada padanya. Ia kagum pada nubuat yang digenapi. Mungkin ia terpengaruh pada orang tua yang ia temui di pantai waktu itu. Tetapi ia pun melihat bahwa nubuat Ibrani telah meyakinkan identitas Yesus Kristus yang unik. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus lainnya, Dialog dengan Tryfo (Dialogues with Trypho), ia menulis kepada seorang Yahudi – kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan dari tradisi yang selama ini dipegang oleh orang-orang Ibrani.

Di samping menulis, Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanannya, ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin Gnostik. Pada suatu perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic. Ketika Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah. Yustinus pun ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya lainnya.

Ia pernah menulis, “Anda dapat membunuh kami, tetapi sesungguhnya tidak dapat mencelakakan kami.” Keyakinan ini ia pegang sampai mati. Dengan demikian, ia telah meraih nama yang disandangnya sepanjang masa: Yustinus Martir.

———————————-

Artikel selanjutnya: Tahun +/- 156 – Kemartiran Polikarpus

Diambil (dan sedikit dimodifikasi agar lebih mudah dimengerti) dari buku 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen oleh A. Kenneth Curtis dkk.

Sejarah Gereja: Tahun 70 – Titus Menghancurkan Yerusalem

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu (Yerusalem), Ia menangisinya, kata-Nya:

“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”
(Lukas 19:41-43)

Catatan:
“karena engkau tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat engkau” maksud Yesus adalah ketika Ia, yang adalah Sang Anak Allah, lahir sebagai Anak Manusia dan datang ke Yerusalem, namun orang-orang Yahudi di Yerusalem, yang adalah umat-Nya sendiri, menolak-Nya bahkan menyalibkan-Nya. Hal ini mendatangkan penghakiman yang sangat tegas terhadap Yerusalem.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Gessius Florus mencintai uang dan membenci orang-orang Yahudi. Sebagai wakil Roma, ia memerintah Yudea, dengan tidak memandang kepekaan mereka akan agama. Ketika pemasukan pajak menurun, ia pun mulai merampas benda-benda perak dari Bait Allah. Pada tahun 66, ketika kerusuhan menentang dia merebak, ia mengirim pasukan ke Yerusalem untuk menyalib dan membantai sejumlah orang Yahudi. Tindakan Florus ini memicu meledaknya pemberontakan yang selama ini merupakan api dalam sekam.

Pada abad sebelumnya, Roma tidak pernah menangani orang-orang Yahudi dengan baik. Pertama, Roma telah mendukung Herodes Agung, perampas kekuasaan yang dibenci. Dengan semua bangunan unik yang indah, ia tetap tidak dapat meraih hati rakyat Yahudi. Arkhelaus, putera dan penerus Herodes, adalah pemimpin yang keji sehingga rakyat meminta pertolongan Roma untuk menggantinya. Roma pun menolong mereka dengan mengirimkan sejumlah Gubernur secara bergilir – Pontius Pilatus, Feliks, Festus dan Florus. Tugas mereka menjaga ketenteraman di daerah yang tidak stabil itu.

Ketegangan dalam diri masing-masing orang Yahudi tidak mereda. Mereka masih terbuai dengan kenangan masa-masa Makabe, saat mereka terbebas dari penindasan orang-orang Siria. Sekarang, jumlah mereka yang kecil ditambah kebangkitan Roma membuat mereka kembali di bawah kekuasaan orang-orang asing.

Sejak pemerintahan Herodes, denyut jantung revolusi mereka senantiasa berdetak. Orang-orang Zelot dan Farisi, dengan caranya masing-masing, menantikan perubahan. Mereka menantikan dengan semangat datangnya seorang Mesias. Ketika Yesus memperingatkan bahwa orang-orang akan berkata, “Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana!” Ia tidak main-main. Sesungguhnya, seperti itulah semangat masa itu.

Di Maseda (sebuah bukit karang yang menghadap Laut Mati, tempat Herodes membangun istananya dan orang-orang Romawi mendirikan benteng), bermulalah pemberontakan orang Yahudi yang berakhir dengan pahit. Terinspirasi oleh kekejaman-kekejaman Florus, beberapa orang Zelot memutuskan menyerang benteng itu. Yang mengherankan, mereka menang dan membantai tentara Romawi yang berkemah di sana.

Di Yerusalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Roma dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama kemudian seluruh Yerusalem menjadi rusuh; pasukan Romawi diusir dan dibunuh. Yudea memberontak, kemudian Galilea. Untuk sementara waktu tampaknya orang-orang Yahudi unggul.

Cestius Gallus, Gubernur Romawi untuk daerah itu berangkat dari Siria dengan 20.000 tentara. Ia menguasai Yerusalem selama enam bulan namun gagal dan kembali. Ia meninggalkan 6.000 tentara Romawi yang tewas dan sejumlah besar persenjataan yang dipungut dan dipakai orang-orang Yahudi.

Kaisar Nero mengirim Vespasianus, seorang jenderal yang dianugerahi banyak bintang jasa, untuk meredam pemberontakan. Vespasianus pun melumpuhkan kelompok pemberontak tersebut secara bergilir. Ia memulainya di Galilea, kemudian di Transyordania, dan berikutnya di Idumea. Setelah itu, dia mengepung Yerusalem.

Akan tetapi, sebelum menjatuhkan Yerusalem, Vespasianus dipanggil pulang ke Roma. Nero wafat. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan Vespasianus sebagai Kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya, Titus, untuk memimpin Perang Yahudi.

Maka Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain. Beberapa kelompok dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan. Ketika pengepungan sedang berlangsung, penduduk kota pun satu demi satu mati karena kelaparan dan wabah penyakit. Istri imam kepala yang biasanya menikmati kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.

Sementara itu, pasukan Romawi menggelar mesin-mesin perang baru, yaitu mesin pelontar batu untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi kota. Balok pendobrak pintu gerbang merobohkan benteng pertahanan. Orang-orang Yahudi berperang sepanjang hari, dan pada malam hari mereka berjuang untuk membangun kembali tembok-tembok yang runtuh.

Akhirnya, orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, kemudian lapisan kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun, orang-orang Yahudi masih berperang sambil merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.

Itulah akhir bagi para pejuang Yahudi yang gagah berani dan Bait Allah mereka. Sejarawan Yahudi, Josephus menjelaskan bahwa Titus ingin melindungi Bait Allah tersebut, tetapi prajurit-prajuritnya begitu marah terhadap para pejuang Yahudi sehingga mendorong mereka untuk membakar Bait Allah.

Jatuhnya Yerusalem mengakhiri pemberontakan. Orang-orang Yahudi dibantai atau ditangkap serta dijual sebagai budak. Gerombolan orang Zelot yang menduduki Masada bertahan di situ selama tiga tahun. Ketika orang-orang Romawi membangun lereng pengepungan dan menyebu benteng pegunungannya, mereka menemukan orang-orang Zelot mati bunuh diri sebagai penolakan menjadi tawanan orang asing.

Pemberontakan orang-orang Yahudi ini menandai berakirnya negara Yahudi sampai zaman modern.

Penghancuran Bait Allah (yang dipugar oleh Herodes) mengubah tata cara peribadahan orang-orang Yahudi. Mereka tidak lagi mempersembahkan korban sembelihan, tetapi memilih dan mengutamakan sinagoge yang didirikan pendahulu mereka ketika Bait Allah (yang didirikan Salomo) dihancurkan orang-orang Babel pada tahun 586 sebelum Masehi.


Gambar: Ilustrasi penyerangan ke Bait Allah di Yerusalem,
oleh Francesco Hayez (1791-1881)

Kemanakah perginya orang-orang Kristen ketika pemberontakan orang Yahudi itu berlangsung? Sesuai peringatan Kristus (Lukas 21:20-23), mereka lari ketika melihat Yerusalem dikepung pasukan Romawi. Mereka menolak mengangkat senjata dan melawan orang-orang Romawi. Mereka melarikan diri ke Pella di Transyordania.

Setelah bangsa Yahudi serta Bait Allah mereka hancur, orang-orang Kristen pun tidak dapat lagi bergantung pada perlindungan terhadap Yudaisme yang pernah diberikan kekaisaran. Karenanya, tidak ada tempat lagi bagi orang-orang Kristen untuk berlindung dari penyiksaan orang-orang Romawi.

———————————-

Artikel selanjutnya: Tahun +/- 150 – Yustinus Martir Menulis Apology-nya

Diambil (dan sedikit dimodifikasi agar lebih mudah dimengerti) dari buku 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen oleh A. Kenneth Curtis dkk.

Sejarah Gereja: Tahun 64 – Roma Terbakar

Tanpa kekaisaran Romawi, Kekristenan mustahil berkembang dengan sukses. Keksairan itu dapat dikatakan sebagai bom waktu yang menanti pemicuan iman Kristen.

Unsur-unsur pemersatu kekaisaran itu membantu penyebaran berita Injil: jalan raya yang dibangun orang Romawi membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain lebih mudah; di seluruh kekaisaran, orang-orang dapat berkomunikasi dalam bahasa Yunani; dan pasukan Romawi yang tangguh itu menjaga kedamaian. Sebagai akibat mobilitas yang meningkat, kelompok-kelompok pengrajin pun bermigrasi mencari permukiman sementara di kota-kota besar seperti Roma, Korintus, Atena, atau Alexandria, kemudian berlanjut ke kota-kota lainnya.

Kekristenan memasuki iklim yang terbuka secara religius. Dalam gerakan new age (zaman baru) itu, banyak orang mulai menganut agama-agama Timur seperti menyembah Isis (dewi alam), Dionisus (dewi anggur), Mithras (dewa cahaya), Kibele (dewi alam), dan sebagainya. Para pemuja mencari keyakinan baru, namun beberapa agama tersebut dilarang, karena dicurigai melakukan upacara-upacara penghinaan. Keyakina lain secara resmi diakui, seperti Yudaisme, yang dilindungi sejak zaman Julius Caesar, meskipun monoteismenya dan penyataan alkitabiahnya telah memisahkannya dari cara pemujaan lain.

Melihat kesempatan baik ini, para pekabar Injil mulai menelusuri seantero kekaisaran. Di sinagoge (rumah ibadah) orang Yahudi, di tempat-tempat penampungan para pengrajin, di pondok-pondok kumuh, mereka menyebarkan berita Injil dan memenangkan jiwa-jiwa baru. Tidak lama kemudian berdirilah gereja di kota-kota besar, termasuk ibu kota kekaisaran.

Kota Roma, pusat kekaisaran, menarik orang-orang seperti magnet. Paulus sendiri pernah menginginkan kunjungan ke kota tersebut (Roma 1:10-12) dan pada akhir suratnya kepada jemaat di Roma, ia sudah mengenal banyak orang Kristen di sana (Roma 16:13-15). Mungkin ia pernah bertemu mereka dalam perjalanannya.

Ketika Paulus tiba di Roma, ia dalam keadaan dirantai. Kisah Para Rasul pada bagian penutupannya menyatakan bahwa akhirnya Paulus mendapat kelonggaran untuk menjadi tahanan rumah di sebuah rumah sewaan. Di sana ia dapat menerima tamu dan mengajar mereka.

Menurut tradisi, Petrus pun pernah bergabung dengan Gereja Roma. Meskipun kita tidak mempunyai kurun waktu yang pasti, namun kita dapat menduga bahwa dengan pimpinan kedua tokoh ini, jemaat tersebut bertumbuh kuat, termasuk para bangsawan dan prajurit serta para pengrajin dan pelayan.

Selama tiga dekade, para pejabat Romawi beranggapan bahwa Kekristenan adalah cabang agama Yahudi – agama yang sah – dan tidak bermaksud membuat “sekte” baru agama Yahudi. Namun banyak orang Yahudi yang tersinggung karena kepercayaan baru ini mulai menyerangnya. Ini juga merupakan ancaman bagi Roma. Kelalaian Roma atas keadaan tersebut ditunjukkan oleh laporan sejarawan Tacitus. Ia melaporkan bahwa di sebuah rumah petak di Roma, orang-orang Yahudi sedang membicarakan tentang “chrestus” yang membuat mereka terganggu. Tacitus mungkin salah mendengar; orang-orang tersebut mungkin sedang memperdebatkan tentang Christos, yang adalah Kristus, ketika Tacitus mendengar obrolan mereka.

Menjalang tahun 64 Masehi, beberapa pejabat Romawi mulai sadar bahwa Kekristenan sama sekali berbeda dengan Agama Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak orang-orang Kristen dan lebih banyak melihat Kekristenan sebagai agama yang tidak sah. Jauh sebelum kebakaran kota Roma, masyarakat telah mulai memusuhi keyakinan yang masih muda ini. Meskipun sifat orang Romawi ingin menerima dewa-dewa baru, namun Kekristenan tidak mau mengakui kepercayaan-kepercayaan lain. Karena Kekristenan menentang politeisme, yang adalah pandangan religius yang telah berakar di Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Romawi pun mulai membalas.

Pada tanggal 19 Juli, kebakaran berkobar di sebuah sektor kumuh di Roma. Selama tujuh hari, api yang tak kunjung padam itu memusnahkan perumahan yang padat. Sepuluh dari empat belas blok perumahan musnah dan banyak penduduk yang tewas.

Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola ketika Roma terbakar. Banyak orang sezamannya menduga bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut. Ketika kota itu dibangung kembali dengan dana dari masyarakat, Nero mengambil sebidang tanah yang cukup luas untuk membangun Istana Emasnya. Kebakaran itu merupakan jalan pintas bagi pembaruan perkotaan.

Gambar: Nero sedang bermain biola saat Roma terbakar

Untuk mengelakkan tuduhan atas dirinya, Kaisar itu mengkambinghitamkan orang-orang Kristen. Ia menuduh bahwa merekalah yang memicu kebakaran tersebut. Akibatnya, Nero bersumpah untuk memburu dan membunuh mereka.

Gelombang pertama penganiayaan orang Romawi terhadap orang-orang Kristen dimulai setelah kebakaran itu dan berakhir sampai tahun kematian Nero, yakni tahun 68. Dengan haus darah dan biadab, orang-orang Kristen disalibkan dan dibakar. Jasad-jasad mereka berjejer di jalan-jalan Roma, disediakan untuk pencahayaan obor. Orang-orang Kristen lainnya dikenakan pakaian hewan dan dimasukkan ke dalam kandang untuk dicabik-cabik anjing-anjing. Menurut cerita, Petrus dan Paulus menjadi martir akibat penyiksaan Nero. Paulus dipenggal kepalanya sedangkan Petrus disalibkan terbalik.

Gambar: Penganiayaan orang-orang Kristen oleh Nero,
lukisan Heinrich von Siemiradzki (1843-1902)

Penganiayaan berlangsung secara sporadis dan tetap terlokalisasi. Seorang kaisar mungkin telah memicunya dan penganiyaan itupun berlanjut selama lebih kurang sepuluh tahun. Namun, masa damai akan menyusul sampai ada seorang gubernur yang memulai penganiayaan terhadap orang Kristen di wilayahnya – tentu dengan restu dari Roma. Hal semacam ini berlangsung dua setengah abad lamanya.

Tertulianus, seorang penulis Kristen abad ke-dua pernah berkata, “Darah para martir adalah benih Gereja.” Anehnya, setiap kali penganiayaan merebak, orang Kristen yang menjadi korban makin bertambah. Dalam suratnya yang pertama, Petrus menguatkan orang-orang Kristen untuk bertahan dan percaya akan kemenangan dan kuasa Kristus yang akan diteguhkan (1 Petrus 5:8-11). Kata-katanya ini telah terbukti dengan pertumbuhan Gereja di tengah-tengah tekanan.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
(Yakobus 1:2-3)

———————————-

Artikel selanjutnya: Tahun 70 – Titus Menghancurkan Yerusalem

Diambil (dan sedikit dimodifikasi agar lebih mudah dimengerti) dari buku 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen oleh A. Kenneth Curtis dkk.