Tiga Komponen Terpenting dalam Iman dan Ibadah Kita

Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata:

“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.”

(1 Raja-raja 18:36)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Doa ini Elia panjatkan di hadapan seluruh umat Israel ketika ia sedang berhadapan dengan ratusan nabi Baal untuk membuktikan siapa Allah yang sejati, TUHAN atau Baal. Di dalam doa ini, Elia menyebutkan 3 komponen penting dari pengenalan kita akan Allah, yaitu: “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang…

  1. bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel, dan
  2. bahwa aku ini hamba-Mu, dan
  3. bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.”

Allah, Hamba-Nya, dan Firman-Nya, tiga hal inilah yang menjadi komponen penting dalam iman dan ibadah kita.

Pertama-tama, kita harus mengenal Allah dan percaya bahwa Ia adalah Pencipta segala yang ada dan bahwa Ialah sumber hidup kita. Ialah juga sumber segala berkat dan karunia yang kita nikmati selama ini. Ia memiliki Hukum dan menjalankan hukum tersebut dengan suatu Perjanjian dengan umat-Nya. Barangsiapa percaya dan taat kepada Hukum dan Perjanjian tersebut akan beroleh berkat tetapi barangsiapa yang menyimpang akan jatuh ke dalam dosa yang mendatangkan penghukuman Allah kepadanya, bahkan dapat berujung kepada maut yang kekal bagi mereka yang tidak percaya kepada-Nya.

Kedua, kita harus mengenal Hamba-Nya, yakni yang menjadi perantara antara Ia dengan kita, umat-Nya. Allah adalah Allah yang tidak terlihat (Yohanes 1:18). Oleh sebab itu, Ia selalu berelasi dengan umat-Nya melalui mimpi, penglihatan, Teofani, para imam, atau para nabi. Tetapi semua itu merupakan cara-Nya berelasi di era Perjanjian Lama. Ia memiliki jalan yang baru untuk berhubungan dengan umat-Nya di zaman Perjanjian Baru ini. Dan jalan yang baru itu adalah:

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.”
(Ibrani 1:1-2)

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang
menyatakan-Nya.”
(Yohanes 1:18)

Ya, kini Allah berelasi dengan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Allah memang tidak dapat dilihat dengan mata jasmani yang telah jatuh oleh dosa, tetapi kita dapat melihat dan mengenal-Nya ketika mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagaimana yang Ia katakan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).

Pengenalan akan “Sang Hamba Allah”, yang adalah Kristus, merupakan komponen yang sangat penting di dalam iman dan ibadah kita, bahkan sama pentingnya dengan pengenalan akan Allah sendiri. Inilah yang menjadi kehendak Allah, yakni agar kita mengenal-Nya melalui Hamba-Nya. Inilah yang menjadi kesukaan bagi Bapa, yakni agar kita mengenal dan memuliakan-Nya ketika kita memuliakan dan mengenal Anak-Nya. Inilah mengapa Tuhan Yesus berkata:

supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
(Yohanes 5:23)

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
(Yohanes 14:21)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
(Yohanes 17:3)

Dan bagian ketiga dari komponen iman dan ibadah yang sangat krusial adalah kita harus mengenal Firman Allah. Pemazmur mengatakan:

“Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu (atau firman-Mu) melebihi segala sesuatu.”
(Mazmur 138:2)

Di dalam terjemahan Bahasa Inggris, mazmur ini bahkan lebih mencengangkan:

“I will worship toward Your holy temple, and praise Your name for Your lovingkindness and for Your truth: for You has magnified Your word above all Your name.”
(Psalms 138:2)

Allah menempatkan nama-Nya dan firman-Nya di atas segala sesuatu. Namun, Ia tidak puas hanya sampai di situ. Sekalipun mungkin kita menyanjung-nyanjung nama-Nya di dalam doa, nyanyian, dan penyembahan kita, jika kita menyalahartikan firman-Nya, Ia tidak akan berkenan dengan ibadah kita itu. Kita mungkin berpikir bahwa kita telah memuliakan Allah, tetapi jika kita tidak mengerti firman-Nya, bisa jadi kita menyembah allah yang lain, yang hanya sesuai dengan konsep, ekspektasi, dan imajinasi kita tetapi yang bertentangan dengan kebenaran dan bukan Allah yang sebenarnya. Allah tidak berkenan kepada penyembah yang demikian; yang Ia kehendaki adalah para penyembah yang mengenal dan menyembahkan di dalam “roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24).

Itulah mengapa Pemazmur mengatakan “Allah lebih mementingkan firman-Nya dibanding pendapat orang lain tentang diri-Nya (terjemahan sehari-hari dari Mazmur 138:2).” Kenallah Allah melalui pemahaman firman-Nya, maka kita dapat memuliakan nama-Nya sesuai dengan apa yang Ia kehendaki.

Dan terakhir, kita tahu bahwa perwujudan dari firman Allah adalah Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Sang Firman Allah (Yohanes 1:1; Wahyu 19:13). Tuhan Yesus Kristus bukan saja seorang Nabi yang menjadi penyambung lidah Allah kepada kita, Ia adalah Firman Allah dalam tiga dimensi. Segala kepenuhan Allah, termasuk hikmat dan firman Allah, ada di dalam Dia (Kolose 1:19).

Ketika kita melihat wajah-Nya, kita melihat wajah Allah. Ketika kita menyentuh-Nya, kita menyentuh Allah. Ketika kita mendengar firman-Nya, kita mendengar firman Allah. Sebagaimana Allah adalah sumber hidup kita, Kristus adalah sumber hidup kita. Ia berkata:

“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.
Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
(Yohanes 6:63)

Kiranya Roh Kudus menuntun kita agar setiap kali kita menyembah Allah, kita berlimpah dengan pengenalan akan Allah, akan Tuhan Yesus Kristus, dan akan firman-Nya. Amin.

Tujuan Bersama di Dalam Pernikahan

Sebuah pernikahan yang tanpa arah akan segera menjadi pernikahan yang tanpa makna dan tujuan, oleh sebab itu, tetapkanlah suatu tujuan bersama.

Mungkin tujuan kalian mencakup melunasi utang, membuka suatu bisnis, meneruskan iman kepada generasi selanjutnya, bertemu muka dengan tetangga dekat, melayani bersama di gereja atau di sebuah dapur sup. Temukanlah beberapa tujuan bersama yang kalian berdua bergairah untuk mengejarnya bersama-sama.

~ Joshua Straub ~

Link:
https://www.focusonthefamily.com/marriage/communication-and-conflict/5-ways-to-stay-on-the-same-team

Penyebab Utama Perceraian

Seorang pakar di bidang relasi secara mencengangkan menyatakan bahwa penyebab utama perceraian bukanlah persoalan seks, uang, atau komunikasi, melainkan ekspektasi yang tidak terpenuhi.

Bukan hanya menjadi akar frustasi dalam pernikahan, ekspektasi yang tidak terpenuhi merupakan akar dari frustasi di seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sangatlah bijaksana jika kita tidak menaruh ekspektasi yang berlebihan dan tidak realistis di dalam pernikahan ke pundak pasangan kita. Pernikahan merupakan hal yang sangat besar dan berat. Jangankan pasangan kita seorang diri, kita berdua bersama pasangan kita pun tidak akan sanggup menopang suatu pernikahan dengan kekuatan kita.

Hanya ada satu Pribadi yang sanggup menopang pernikahan kita.
Hanya ada satu Pribadi yang sanggup memenuhi seluruh ekspektasi kita.
Dan Dia adalah Allah kita.

Turunkanlah ekspektasi kita kepada pasangan kita hingga batas yang sewajarnya dan yang dapat ditanggung serta dipenuhinya. Sebaliknya, tambah-tambahkanlah iman, pengharapan, dan ekspektasi kita kepada Allah sebab itulah yang Ia kehendaki dari kita dan hanya Dialah yang sanggup menanggung dan memenuhinya.

Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.
(Mazmur 62:9)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
(1 Petrus 5:7)

Sebab itu janganlah kamu kuatir… Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
(Matius 6:31-33)

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
(Filipi 4:6-7)

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya.
(Efesus 3:20-21)

Amin

Siapakah Orang Kristen yang Sejati?

Bagi saya ini merupakan hal yang paling penting dan mendesak di seluruh dunia:
“Apakah seorang Kristen itu?”

Dan saya yakin bahwa jawabannya adalah:
seorang Kristen adalah seseorang yang dideskripsikan pada Yohanes 1:16 di mana Yohanes berkata:

“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”

Dan inilah pertanyaan besarnya:
“Apakah kita orang yang demikian?”
“Apakah kita pria dan wanita yang telah menerima kasih karunia demi kasih karunia dari Tuhan kita Yesus Kristus?”

~ Martyn Lloyd Jones ~
Dalam khotbahnya yang berjudul “The Church and the World”

Yang Paling Kita Butuhkan

Musa memperingatkan kita:

“manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”
(Ulangan 8:3)

Kita membutuhkan makanan tetapi tidak lebih dari kita membutuhkan Allah. Allah menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita membutuhkan makanan, dan minuman, dan teman-teman untuk mengarahkan kita kepada diri-Nya yang adalah Roti Hidup (Yohanes 6:35), dan Sumber Air yang Hidup (Yeremia 2:13), dan Sahabat orang berdosa (Matius 11:19).

~ Kelly Needham ~

Diambil dari artikel “A New Kind of Couple – When Best Friends Become Romantic”
Link: http://www.desiringgod.org/articles/a-new-kind-of-couple

Orang yang Rendah Hati

Orang yang rendah hati mengeluh tentang hatinya, bukan keadaannya. Bahkan ketika ia menghadapi kesulitan, kesedihan terbesarnya adalah keadaan hatinya. Di saat seorang munafik suka membual tentang kebaikannya, orang yang rendah hati selalu menyadari akan keburukannya.

Bahkan Paul, yang memiliki hak istimewa yang sangat besar hingga dibawa ke tingkat yang ketiga dari sorga (2 Korintus 12:2), berteriak:

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”
(Roma 7:24)

Semakin seorang Kristen bertumbuh dalam pengetahuan, semakin dia menjadi sadar akan kebodohannya, akan kecilnya imannya, dan semakin ia berseru untuk kasih karunia Tuhan.

~ Tim Challies ~

Apakah Fungsi Hukum Taurat?

Hukum Taurat bukanlah tangga yang kita naiki untuk membuat Allah berkenan kepada kita.

Namun Hukum Allah menjadi cermin yang menunjukkan kepada kita betapa kotornya kita.

Betapa kita sangat membutuhkan seorang Juruselamat yang telah mematuhi keseluruhan Hukum itu dan telah menanggung hukuman atas pelanggaran manusia terhadap Hukum itu dengan menumpahkan darah-Nya sendiri.

~ Alistair Begg ~