1. Apa itu Kerajaan Allah?

Pertanyaan ke-1:
Apa itu Kerajaan Allah?

Jawaban:

Kerajaan Allah merupakan tema yang sangat penting di dalam Alkitab. Tidak hanya itu, Kerajaan Allah merupakan tema yang paling sering diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus ketika Ia melayani selama sekitar tiga setengah tahun di dunia ini (misalnya  Markus 1:1510:1515:43Lukas 17:20).

Kerajaan Allah tidak dapat dipahami dengan semata-mata membatasinya pada suatu periode waktu tertentu ataupun suatu wilayah geografis tertentu, melainkan lebih kepada suatu lingkungan di mana Allah memegang kekuasaan penuh. Alistair Begg mendefinisikan Kerajaan Allah sebagai “umat kepunyaan Allah, di wilayah kekuasaan Allah, di bawah pemerintahan Allah, yang menikmati berkat-berkat dari Allah”.

Untuk referensi lain:
https://www.gotquestions.org/kingdom-of-God.html

Ketika Allah Bekerja, Kita Bekerja

Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN;
kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri
, demikianlah firman TUHAN;

bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!
(Hagai 2: 5-6)

~~~

TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda,
dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar,
dan semangat selebihnya dari bangsa itu
,

maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.
(Hagai 1:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dua firman di atas nampaknya menunjukkan suatu kontradiksi. Di satu bagian dikatakan bahwa TUHAN memerintahkan Zerubabel dan rekan-rekannya untuk menguatkan hati mereka (Hagai 2: 5-6). Namun, di bagian lain, dikatakan bahwa TUHAN-lah yang menguatkan hati Zerubabel dan rekan-rekannya (Hagai 1:14). Jadi, bagian manakah yang benar? Apakah mereka yang menguatkan hati mereka ataukah TUHAN yang menguatkan hati mereka? Bukankah kedua hal ini menunjukkan kontradiksi di dalam Alkitab? Tidak, kita percaya bahwa firman Allah itu sempurna (Mazmur 19:8, Yakobus 1:25) dan di dalamnya tidak terdapat kontradiksi. Justru sebaliknya, kedua firman ini menunjukkan kepada kita realita pekerjaan Allah di dalam hidup umat-Nya.

Ketika Allah menciptakan alam semesta ini, menebus dosa manusia dan menganugerahkan kelahiran baru, serta menciptakan dunia yang baru kelak, Ia bekerja seorang diri, tidak seorangpun menjadi asisten-Nya dalam karya-karya tersebut. Namun, hampir di seluruh karya-Nya yang lain, Ia selalu bekerja bersama-sama dengan umat-Nya. Hal ini tidak berarti bahwa Allah bergantung kepada manusia, melainkan bahwa Ia begitu mengasihi umat-Nya dan Ia ingin mendatangkan kebaikan bagi mereka melalui partisipasi aktif mereka di dalam karya-karya yang Ia kerjakan di dunia ini (Roma 8:28).

Hal itulah yang ditunjukkan di dalam kedua firman yang sekilas nampak bertentangan ini. Memang benar bahwa Zerubabel dan teman-temannya menguatkan hati mereka. Namun, sama benarnya dengan itu, TUHAN-lah yang menguatkan hati mereka dan menggerakkan mereka. Inilah keindahan karya Allah; Ia tidak bekerja seorang diri dan membiarkan umat-Nya berpangku tangan, namun Ia juga tidak duduk diam saja di sorga dan membiarkan umat-Nya melakukan seluruhnya dengan hikmat dan kekuatan mereka sendiri. Ketika Allah bekerja, Ia menggerakkan umat-Nya untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ketika Allah bekerja, umat-Nya pun bekerja bersama-Nya, itulah cara Allah bekerja.

Itulah juga yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam ayat yang cukup terkenal, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13)”. Inipun merupakan perintah yang aneh sebab Paulus mendorong kita untuk mengerjakan keselamatan kita namun di kalimat yang sama ia menegaskan bahwa sebenarnya Allahlah yang mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Jadi, siapakah yang bekerja, kita atau Allah? Kini kita tahu jawabannya, Allah bekerja dengan menumbuhkan kemauan dan kemampuan di dalam kita sehingga kita pun terdorong untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Kita bekerja karena Ia terlebih dahulu bekerja di dalam kita.

Bagaimanakah kita mengetahui bahwa Allah sedang bekerja di dalam dan melalui hidup kita? Kita dapat mengetahuinya melalui pekerjaan yang kita lakukan. Jika Allah bekerja, maka itu akan terbukti dengan kita turut bekerja. Jika kita tidak bekerja, maka itu membuktikan bahwa Allah tidak sedang bekerja di dalam atau melalui hidup kita.

Oleh sebab itu, sebagai umat Allah, kita tidak memiliki alasan untuk bermalas-malasan, tidak bekerja, tidak berdoa, tidak belajar, tidak berbuah, tidak melayani, putus asa, atau berlari dari masalah. Semua tindakan itu merupakan zona di mana Allah enggan untuk bekerja di dalam atau melalui hidup seseorang. Jika kita memilih untuk bermalas-malasan dan mengabaikan Allah, itu sama saja dengan kita secara sadar menjauhkan diri dari pertolongan dan karya-Nya di dalam hidup kita. Kita juga tidak dapat berpangku tangan di dalam hidup ini kemudian menganggap bahwa kita sedang menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Tidak, penantian yang sejati akan Tuhan, sebagaimana kata Nabi Yesaya, tidak akan membuat kita pasif, melainkan akan memberi kita kekuatan baru dan membuat kita aktif (Yesaya 40:31).

Jadi bagaimana, apakah kita akan memilih zona nyaman dan zona aman kita yang pasif dan mengabaikan perintah Tuhan? Atau sebaliknya, kita akan datang kepada Zona Nyaman dan Zona Aman yang sejati, yaitu Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Matius 11:28, Yohanes 10:28-29). Di dalam Dia, tidak ada penantian yang pasif sebab Ia memanggil kita untuk mencari secara aktif Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33). Di dalam Dia, tidak ada pula kemalasan sebab Ia memanggil kita untuk bekerja dan menghasilkan buah bagi-Nya (Yohanes 15:16, Filipi 1:22).

Ibarat seorang pribadi memiliki roh dan tubuh, Allah kita adalah Roh dan kita semua adalah badan-Nya di dunia ini. Ibarat tubuh terdiri dari kepala dan anggota-anggota tubuh, Tuhan adalah Kepala (Kolose 1:18) dan kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya di bumi ini (1 Korintus 12:27, Efesus 4:16). Ia adalah Sang Kepala yang di dalam segala sesuatu bekerja dengan rancangan dan kehendak-Nya (Efesus 1:11) sementara kita adalah tubuh yang bekerja dengan taat dan bergerak sesuai perintah-Nya. Bukti bahwa tubuh menyatu dan terkoneksi langsung dengan kepala adalah jika tubuh itu bergerak sesuai dengan komando si kepala. Sama halnya dengan itu, bukti bahwa kita ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita adalah jika kita bekerja seturut dengan kehendak-Nya yang bekerja di dalam kita.

Di dalam hidup-Nya di dunia ini, Tuhan Yesus Kristus memiliki satu moto hidup, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga (Yohanes 5:17).” Panggilan hidup kita adalah agar kita menjadi serupa dengan Dia (Roma 8:29). Oleh sebab itu, hendaklah moto hidup Tuhan Yesus ini menjadi moto hidup kita juga: Allahku bekerja sampai sekarang, maka akupun bekerja juga.

Lakukanlah sesuatu bagi kemuliaan nama Allah! Segala kemuliaan hanyalah bagi Dia. Amin.

0. Mengapa halaman ini ada?

Pertanyaan ke-0:

Mengapa halaman ini ada?

Jawaban:

Halaman ini dibuat bukan untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul terkait iman atau ajaran Kekristenan. Halaman ini juga tidak diperuntukkan untuk menyediakan jawaban yang sifatnya paling akademik, paling akurat, ataupun paling komprehensif akan suatu pertanyaan yang sedang dibahas.

Halaman ini ada untuk memberi setiap pembaca semacam pendahuluan yang sederhana namun Alkitabiah untuk jawaban dari pertanyaan yang sedang dibahas. Untuk jawaban yang lebih akademik, akurat, dan komprehensif, para pembaca dapat mencarinya dari sumber lain yang lebih terpercaya. Adapun penulis, dengan segala kerendahan hati, berharap bahwa halaman ini dapat menolong para pembaca untuk menemukan arah yang tepat sebagai permulaan langkah mereka dalam mencari jawaban yang tepat untuk masing-masing pertanyaan yang sedang mereka gumulkan.

Home Sweet Home

Firman Tuhan itu indah, bukan hanya karena kebenarannya tetapi juga karena penyampaian atau pemilihan katanya. Dan salah satu perumpamaan terindah yang Firman Tuhan pakai untuk menggambarkan relasi antara Tuhan dengan gereja atau umat-Nya adalah rumah atau tempat tinggal atau tempat berdiam.

Di satu tempat, Tuhan dikenal sebagai tempat berteduh umat-Nya:

Doa Musa, abdi Allah.

“Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.”

(Mazmur 90:1)

 Di tempat lain, gereja disebut sebagai rumah bagi Tuhan:

“…tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.”

(Ibrani 3:6)

Perhatikanlah bagaimana pengenalan orang-orang yang tidak percaya terhadap ilah-ilah yang mereka sembah. Adakah mereka memandang tuhan yang mereka sembah sebagai tempat berteduh atau rumah? Adakah dikatakan dalam ajaran yang mereka ikuti bahwa mereka adalah rumah bagi tuhan mereka? Adakah mereka memiliki keakraban dan keintiman dengan tuhan yang mereka sembah sebagaimana yang terpancar dari firman Tuhan yang kita baca?

Lebih dari itu, perhatikanlah seperti apa Allah yang kita sembah di seluruh bagian firman Tuhan. Perhatikanlah betapa mulianya Dia, tidak terbandingi oleh siapapun. Perhatikanlah betapa kudusnya Dia, tidak akan pernah dapat disamai dan dihampiri oleh siapapun. Namun, firman Tuhan yang sama menyatakan kepada kita bahwa Dia, Allah yang Maha Mulia dan Maha Kudus itu, adalah rumah perteduhan bagi kita dan di saat yang sama, kita adalah rumah tempat Ia tinggal. Bukankah itu luar biasa?

Seperti apakah home-sweet-home di dalam benakmu? Allah adalah home-sweet-home bagi kita dan kita adalah home-sweet-home bagi Allah.  Oh, betapa indahnya kebenaran ini.

7. Penghasilan yang Pasif dan Pemberian yang Aktif

Zaman sekarang adalah zaman di mana orang berlomba-lomba mengusahakan agar mereka mendapat sebanyak dan secepat mungkin passive income atau pendapatan pasif. Pendapatan pasif adalah penghasilan yang diperoleh tanpa perlu adanya pekerjaan khusus seperti yang harus dilakukan jika seseorang ingin mendapat gaji di tempat di mana ia bekerja. Seringkali hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan pendapatan pasif adalah menanamkan sejumlah modal atau uang yang kemudian akan “bekerja” dan “berkembang” untuk menghasilkan pemasukan pasif bagi si penanam. Bunga tabungan dan deposito merupakan dua contoh dari passive income ini.

Memiliki pendapatan pasif bukanlah hal yang negatif. Namun, pertanyaannya adalah: Setelah kita memiliki penghasilan pasif, bagaimana dengan pemberian kita kepada orang lain? Apakah kita menjadi semakin murah hati dalam memberi? Apakah pemberian kita tidak berubah? Atau lebih parah, apakah kita justru menjadi semakin pelit dan materialistis?

Perhatikan apa yang murid-murid Tuhan lakukan ketika lima roti dan dua ikan yang ada pada mereka dilipatgandakan oleh Tuhan Yesus dengan begitu luar biasa. Firman Tuhan mencatat:

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. (Matius 14:19-20)

Para murid membagi-bagikan kepada orang banyak apa yang sudah dilipatgandakan oleh Tuhan. Hal yang sama juga hendaknya terjadi dalam hidup kita yang tidak putus-putusnya menerima lipat ganda berkat dari Tuhan. Penghasilan pasif yang kita peroleh seharusnya menggerakkan pemberian aktif kita. Semakin banyak penghasilan pasif yang kita terima, semakin banyak pemberian aktif yang kita bagikan, itulah implikasi yang seharusnya.

Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh;
tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.
(Amsal 11:28)

Ketika Kita Melakukannya Bersama

Berdua lebih baik dari pada seorang diri,
karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.

Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya,
tetapi celakalah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas,
tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas?

Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan.
Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.
(Pengkhotbah 4:9-12)

Pekerjaan Allah meningkat secara eksponensial ketika kita melakukannya secara bersama-sama. Ketika kita bekerja bersama-sama, Allah memungkinkan kita untuk mencapai lebih dibandingkan jika kita melakukannya seorang diri.

~ Jim Richards ~

Mengapa Allah Mengizinkan Penderitaan, Pesan dari Kitab Ayub

Mengapa Allah mengizinkan penderitaan datang ke dalam hidup anak-anak Tuhan? Kitab Ayub memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut. Kitab ini diawali dengan pernyataan Allah bahwa Ayub merupakan orang paling saleh dan jujur di muka bumi pada waktu itu. Mendengar hal itu, Iblis menjawab Allah dan mengatakan bahwa Ayub dapat hidup sedemikian saleh karena ia selalu diberkati oleh Allah. Seandainya Allah menghentikan berkat-berkat-Nya terhadap Ayub dan mengizinkannya menderita, Ayub pasti akan berbalik dari Allah dan menghujat-Nya, itulah yang dikemukakan oleh Iblis.

Bagian permulaan dari kitab ini ditutup dengan Allah mengizinkan Iblis untuk mendatangkan pencobaan demi pencobaan di dalam hidup Ayub. Iblispun menghujani Ayub dengan berbagai macam pencobaan dan penderitaan, mulai dari kehilangan harta kekayaan, kematiaan putera-puteri yang dikasihi, penyakit aneh yang menggerogoti, serta istri yang membujuknya untuk menghujat Allah. Sungguh dahsyat kesengsaraan yang ditanggung oleh Ayub ini. Namun, firman Tuhan memberi kesaksian bahwa bagian awal dari penderitaan Ayub ini diakhiri dengan, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayub 2:10).”

Namun, nampaknya hal itu tidak bertahan lama. Lama-kelamaan, Ayub mulai berkeluh kesah, bahkan mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:1). Lembar-lembar berikutnya dalam Kitab Ayub diisi dengan pembelaan diri Ayub di hadapan Allah dan di hadapan teman-temannya yang tidak henti-hentinya mengatakan bahwa Ayub menderita karena dosa-dosa yang diperbuatnya sendiri. Ayub yang tidak menerima perkataan teman-temannya itu geram karena ia yakin bahwa ia tidak melakukan dosa yang membuatnya layak menerima semua ini dari Allah. Lebih jauh, di dalam sakit hatinya akan sikap Allah yang seolah-olah diam sekalipun Ayub tidak henti-hentinya berseru kepada-Nya, Ayub bahkan sempat mengatakan bahwa Allah-lah yang bersalah dan tidak adil karena telah menyiksa orang yang tidak bersalah.

Ayub benar-benar membutuhkan jawaban dari Allah saat itu. Namun, Allah tetap diam. Semakin lama Allah diam, semakin banyak Ayub bicara. Dan di dalam banyak bicara, Ayub mengatakan apa yang seharusnya tidak diucapkannya. Sungguh benar kata Kitab Amsal, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi (Amsal 10:19).”

Hingga akhirnya, TUHAN-pun menjawab Ayub. Di dalam struktur penulisan Alkitab, Allah berbicara dalam empat pasal, yakni dari dari pasal ke-38 hingga pasal ke-41. Allah terus menerus berbicara dan Ayub hampir-hampir tidak memiliki kesempatan untuk menjawab.  Kemungkinan tidak ada satupun bagian lain di dalam Alkitab yang berisikan ucapan mulut Allah yang lebih panjang dari bagian ini. Ini merupakan hal yang perlu menarik perhatian kita. Di dalam penderitaan umat-Nya, Allah memiliki sangat banyak hal untuk disampaikan kepada kita, sekalipun untuk sekian waktu lamanya Ia tampak diam.

Namun, apakah yang disampaikan Allah kepada Ayub di dalam jawaban-Nya yang sangat panjang itu. Jika kita sudah membaca Kitab Ayub sampai selesai, kemungkinan kita akan bingung melihat jawaban Tuhan. “Mengapa Allah menjawab seperti ini? Tuhan sebenarnya sedang berbicara tentang apa di balik kalimat yang begitu panjang ini?”

Dan yang mungkin paling aneh, setidaknya bagi saya, adalah ketika Allah berbicara tentang “kuda Nil” dan “buaya”. Sebenarnya, teks asli Kitab Ayub tidak memberi kejelasan apakah di bagian tersebut Allah benar-benar berbicara tentang kuda Nil dan buaya. Ada kemungkinan Allah berbicara tentang dua makhluk besar lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan behemoth (diterjemahkan menjadi kuda Nil) dan leviathan (diterjemahkan menjadi buaya). Namun, apapun hewan yang Tuhan maksud itu, itu bukanlah inti utama dari jawaban Tuhan ini. Jadi, kita dapat dengan aman menerima interpretasi yang umum diterima oleh banyak teolog yakni Allah sedang berbicara tentang kuda Nil dan buaya.

Kembali ke topik, ini merupakan hal yang, setidaknya bagi saya, sangatlah aneh. Allah tidak seperti biasanya dalam berbicara. Kata saya dalam hati, “What in the world yang Tuhan ingin sampaikan dengan membawa-bawa kuda Nil dan buaya, yang sama sekali tidak ada urusannya dengan semua penderitaan Ayub ini?” Dan di dalam penantian yang cukup lama akan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya tersebut, akhirnya saya menemukan jawaban yang sangat membantu dan membuat saya paham mengapa Allah merasa perlu untuk membahas tentang kuda Nil dan buaya ketika Ia berperkara dengan Ayub yang sedang begitu menderita dan menanti jawaban-Nya. Jawaban itu diberikan oleh Derek Thomas, yang di dalam sesinya di konferensi Ligonier yang bertajuk “The Next 500 years”, mengatakan:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pernahkah kau melihat kuda Nil? Dan kau berkata dalam hatimu, “Apa yang Tuhan pikirkan ketika Ia menciptakan kuda Nil, karena hewan itu kelihatan mirip dengan seorang teman saya.”

Atau mari kita berbicara tentang buaya. Dan karena kita berada di Florida, mari kita cukup menyebutnya aligator. Jadi, mengapa Allah menciptakan aligator?

Saya menyumbang sejumlah dana untuk melestarikan beruang kutub. Saya menyumbang mungkin sepuluh dolar. Jika ada orang datang dan meminta kontribusi dana untuk melestarikan beruang kutub, saya mungkin akan menyumbang karena saya akan sangat sedih jika beruang kutub punah… Namun, aligator? Saya tidak akan menangis sedikitpun jika aligator punah.

Lalu, mengapa Allah menciptakan aligator?
Saya rasa untuk membuat sepatu atau ikat pinggang.

Atau marilah kita berpikir dengan lebih serius. Mengapa Allah menanyakan pertanyaan tersebut kepada Ayub? Pernahkah kau berpikir tentang leviathan? Pernahkah kau berpikir tentang buaya? Mengapa Allah menciptakan buaya?

Saya tahu jawabnya sebab saya menulis buku tentang Ayub, tepatnya 3 buku tentang Ayub. Jadi, saya tahu jawabannya. Jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa Allah menciptakan buaya?” adalah “Saya tidak tahu.” Sebenarnya itu bukanlah jawaban yang benar.

Ps: Derek Thomas memang kerap bercanda di dalam khotbah-khotbahnya.

Jawabannya adalah untuk kemuliaan Allah.
Dan itulah pula mengapa Allah mengizinkan penderitaan dan kesengsaraan.

Jika kau bertanya akan suatu penderitaan atau suatu kesengsaraan, “Mengapa?” Kemungkinan besar saya akan menjawabmu:

“Saya tidak tahu. Saya tidak punya jawaban untukmu, kecuali satu: untuk kemuliaan-Nya.”

Hanyalah orang Kristen yang dapat menjawab seperti itu. Orang yang tidak percaya tidak akan mungkin menjawab demikian untuk pertanyaan tersebut.

Untuk kemuliaan Allah yang Maha Kuasa. Tidaklah penting apakah saya mengerti atau tidak, yang penting adalah Ia mengerti dan saya percaya kepada-Nya.

Dan itulah pesan dari Kitab Ayub.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bravo. What a conclusion!
Itulah jawaban yang jiwaku butuhkan. Terpujilah nama TUHAN!

Kini aku mengerti mengapa Allah menciptakan kuda Nil dan buaya dan memaparkan keduanya kepada Ayub. Ada banyak jawaban untuk pertanyaan mengapa Allah menciptakan kuda Nil dan buaya namun di atas semua jawaban itu, jawaban dan penjelasan yang tertinggi adalah karena Allah ingin menunjukkan kemuliaan-Nya kepada manusia melalui kuda Nil dan buaya.

Dan sama halnya dengan itu, mengapa Allah mengizinkan penderitaan untuk datang kepada orang-orang percaya yang senantiasa berharap kepada-Nya? Kita memang tidak memiliki jawaban yang lengkap untuk menjawab pertanyaan tersebut sebab tentu ada banyak penjelasan mengapa Allah mengizinkan kita untuk menderita. Namun, sekalipun kita tidak punya jawaban yang komprehensif dan walaupun kita tidak memahami keseluruhan maksud Tuhan di balik penderitaan yang kita alami, kita tahu jawaban di atas segala jawaban tentang mengapa Allah mengizinkan kita menderita, yakni untuk kemuliaan nama-Nya di dalam hidup kita.

Apakah jawaban ini cukup bagimu?

Dan seperti kata Derek Thomas:
“Tidaklah penting apakah saya memahaminya atau tidak. Yang penting adalah bahwa Ia mengerti dan saya percaya kepada-Nya.”

Terpujilah nama TUHAN!
Amin

Link khotbah Derek Thomas: https://www.youtube.com/watch?v=gh70l-W79y4&t=2s