8. Penutup: Not About Samson, Not About You

8. Penutup: Not About Samson, Not About You

Sebagian besar orang yang membaca halaman demi halaman pada seri Simson ini mungkin akan menyangka bahwa selama ini kita sedang berbicara tentang Simson. Yah, memang benar bahwa dari satu sudut pandang kita memang sedang membicarakan Simson. Akan tetapi, heyyy… kita tidak pernah benar-benar berbicara mengenai Simson seolah-olah dia adalah tokoh utama di balik semua ini. Ini bukan tentang Simson. Ini tidak pernah tentang Simson. Ini semua adalah tentang Tuhan Allah, bagi Dia-lah segala hormat, pujian, dan kemuliaan untuk selama-lamanya.

Ini bukan tentang Simson. Ini adalah tentang Allah yang sejak semula menetapkan Simson untuk menjadi nazir-Nya yang akan memulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin (Hakim-Hakim 13:5). Itu bukanlah keputusan Simson, itu merupakan keputusan Allah. Itu bukan keputusan Simson, itu adalah hak dan kedaulatan Allah untuk menetapkannya bahkan sebelum Simson lahir.

Ini bukan tentang Simson. Simson merasa bahwa hidup yang dia miliki adalah miliknya sendiri. Simson tidak ingin setia kepada Allah dan dia memaksakan kehendaknya untuk menikahi gadis Timna itu. Tetapi, apakah rencana Allah atas Simson menjadi rusak hanya karena pemberontakan Simson. Tidak, ini bukanlah tentang Simson melainkan tentang Dia dan Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menggagalkan rencana-Nya. Sampai kapanpun, hanya rencana-Nyalah yang jadi sebab Dialah yang berdaulat atas segala sesuatu.

Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya:
sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin.
(Hakim-Hakim 14:4)

Ini bukan tentang Simson. Ini tidak pernah tentang Simson. Simson tidak mengalahkan singa itu dengan kekuatannya sendiri, apalagi dengan rambutnya. Allah-lah yang memberkati Simson dengan kekuatan yang sedemikian luar biasa sehingga ia mampu mencabik singa itu seperti orang yang mencabik anak kambing (14:6). Kekuatan Simson tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan dari Tuhan. Tuhanlah yang menyertai Simson dan memberikannya kekuatan untuk bertempur tetapi Simson menyalahgunakan kuasa itu untuk memuaskan dendamnya kepada tiga puluh orang Askelon (14:19). Bukan dengan kekuatannya sendiri Simson mampu menumpas seribu orang di Lehi, Tuhan Allah-lah yang berkuasa atasnya (15:14).

Ini bukan tentang Simson. Simson membunuh seribu orang di medan pertempuran bukan karena tulang rahang keledai itu. Allahlah yang memberikan kepada Simson kemenangan tersebut. Allahlah aktor utama di balik semua itu dan Dia menetapkan bahwa Simson akan menang dengan sebuah tulang rahang keledai. Mengapa Allah melakukannya? Mengapa Allah tidak memperlengkapi Simson dengan persenjataan perang? Sebab Allah ingin menunjukkan kepada Bangsa Filistin dan dunia bahwa Dia mampu membawa kemenangan bahkan dari sesuatu yang bagi dunia merupakan suatu kebodohan.

Sama seperti Simson yang menang dengan sebuah tulang rahang keledai yang bodoh, sama seperti Daud yang mengalahkan Goliat hanya dengan sebuah ali-ali yang mengundang tawa, Allah menetapkan bahwa Dia akan memberikan kemenangan kepada Kristus, Anak-Nya yang tunggal, melalui salib yang bagi dunia adalah suatu kebodohan.

“tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan:
untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan
dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan
(1 Korintus 1:23)

Allah memakai tulang rahang keledai untuk membawa kemenangan bagi Simson. Tetapi, bukankah bangkai itu merupakan sesuatu yang Dia tetapkan sendiri sebagai suatu kenajisan? Benar sekali, bangkai itu najis dan that’s the point. Sama seperti Simson yang mengalahkan musuh-musuhnya dengan sesuatu yang najis, Allah juga menetapkan bahwa Dia akan menaklukkan semua musuh-Nya dengan jalan menjadikan Anak-Nya terkutuk di atas kayu salib.

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
(Galatia 3:13)

Simson memperoleh kemenangan dengan sebuah “tengkorak”, Kristus menyelesaikan tugas-Nya di atas bukit “tengkorak”. Simson mendapatkan kemenangannya dengan rahang “keledai”; Kristus dimuliakan di sepanjang jalan Yerusalem dengan menunggangi seekor “keledai”. Apakah itu kebetulan? Hmmm… I don’t think so.

Ini bukan tentang Simson. Ini bukan tentang betapa hebatnya Simson. Simson tidaklah sempurna. Dia juga bisa merasa kehausan bahkan hingga mau mati setelah ia mengalahkan sekian banyaknya orang Filistin. Dan jika Simson yang gagah perkasa saja bisa menjadi sedemikian menderita akibat rasa dahaga itu, oh rasa haus seperti apakah yang Engkau alami di atas kayu salib, ya Tuhanku Yesus Kristus yang kucinta? Betapa besarnya kasih dan setia-Mu oh Penebusku! Patutlah seisi bumi menyembah-Mu!

Sungguh, ini bukanlah tentang Simson. Ini adalah tentang Allah. Ini selalu tentang Allah. Dialah yang membelah liang batu yang di Lehi itu sehingga keluarlah air untuk Simson minum. Lalu, apakah yang terjadi setelah Simson meminumnya? Alkitab berkata, “his spirit came again”. Dan ketika berbicara tentang air, tidakkah kita teringat akan perkataan Kristus, Tuhan kita:

Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.

Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14)

T-Shirt-Thirst-John-3-37

Ini bukan tentang Simson. Simson bukanlah tokoh utama di balik semua ini. Delila mencukur rambutnya, TUHAN meninggalkan dia, dan diapun ditaklukkan oleh Bangsa Filistin. Simson layak menerimanya. Oh, Simson sangat sangat layak menerimanya sama seperti engkau dan aku yang layak, sangat-sangat layak, untuk dicampakkan ke neraka. Tetapi puji Tuhan, ini bukan tentang Simson, melainkan tentang Allah. Dan karena hidup ini adalah tentang Allah, maka Dialah yang berkuasa dan berdaulat untuk memberikan kasih karunia kepada Simson. Dan di dalam kasih dan kesetiaan-Nya yang tiada tara, Allah menumbuhkan rambut Simson kembali (16:22).

Ini bukan tentang Simson. Simson akhirnya bertobat. Dia sadar bahwa apa yang dia miliki selama ini adalah milik Allah, bukan miliknya. Itulah mengapa dia berdoa dan berkata kepada Allah:

“Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku
dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah…”
(16:28)

Dan tidakkah itu mengingatkan kita pada doa orang yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, yakni ketika orang itu berkata kepada-Nya:

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
(Lukas 23:42)

Apakah kau mengerti sekarang?
Ini bukan tentang Simson
Ini adalah tentang Yesus Kristus, ini selalu tentang Yesus Kristus

Dan jika Allah membuka selubung yang menutupi hikmatmu, maka engkau akan tahu bahwa seluruh isi Alkitab, dari awal sampai akhir, sesungguhnya berisikan kesaksian dari Allah Bapa, yang Ia nyatakan melalui Roh Kudus, dan kesaksian itu adalah tentang Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Jika para malaikat menyerukan kebesaran-Nya
Jika para nabi menubuatkan kedatangan-Nya
Jika para rasul menceritakan karya-Nya
Bahkan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus-pun memberikan kesaksian tentang Dia

Siapakah kita sehingga kita enggan memberitakan Dia kepada dunia?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apakah yang bisa kita petik dari semua ini?

Sekalipun Simson jatuh dan jatuh lagi, Allah menumbuhkan rambutnya kembali. Allah menumbuhkan rambut Simson bukan karena rambut itu merupakan sumber kekuatan baginya, tetapi karena rambut merupakan tanda eksternal yang menunjukkan kepada dunia bahwa Simson adalah nazir Allah. Lihatlah! Allah tidak malu mengakui Simson sebagai nazir-Nya. Allah memulihkan tanda kenazirannya dan seakan berkata kepada dunia, “Inilah nazirku, sekalipun dia selalu gagal, aku mengangkat dia kembali.Aku tidak malu mengakuinya sebagai nazir-Ku sebab aku Allah yang setia.”

Oleh sebab itu, marilah hai semua orang yang berdosa!
Mari datang dan memohon pengampunan-Nya
Sebab belas kasih-Nya jauh lebih besar dari semua dosa kita

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku,
dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
(Yohanes 6:37)

Simson sadar bahwa dia telah berdosa. Orang yang disalib di sebelah Yesus juga sadar bahwa dia adalah orang berdosa. Mereka mengerti bahwa keselamatan mereka tidak tergantung pada apapun yang mereka lakukan melainkan pada suatu pertanyaan sederhana, yakni “apakah Allah bersedia mengingat mereka?”Dan begitu pula bagi setiap kita. Pertanyaan yang sama harus kita tanyakan pula kepada diri kita masing-masing, “Apakah Yesus akan mengingatku kelak?

Sekali lagi
Ini bukanlah tentang Simson
Ini juga bukan tentang kau dan aku

Oleh sebab itu, marilah kita mempersembahkan seluruh hidup kita hanya untuk melayani Tuhan kita Yesus Kristus. Marilah kita berhenti berusaha menjadi tokoh utama di dalam hidup ini. Berhentilah menyangka bahwa kita adalah pusat alam semesta sehingga apapun yang terjadi haruslah menyenangkan hati kita. Berhentilah memuaskan diri dengan apa yang dunia tawarkan.

Kita masih terus hidup di dalam dosa dan memandang itu sebagai sesuatu yang biasa. Kita mengaku percaya kepada Kristus tetapi tidak ada perubahan dalam hidup kita. Kita mengabaikan firman yang menyatakan bahwa bukti dari kelahiran baru yang sejati adalah iman dan pertobatan/kekudusan. Kita membela diri dan menilai bahwa mengejar kekudusan hidup merupakan hal yang mustahil di lakukan. Kita berkata, “Aku tidak mampu. Lagipula aku masih hidup di dunia, bukan di sorga.”

Oh,hari ini mungkin kita bisa berkata, “Aku tidak mampu hidup sekudus itu.” Tetapi pada hari penghakiman kelak, mulut kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, hati kitalah yang akan mengungkapkan segalanya. Dan pada saat itu semua yang ditutupi akan kelihatan dan kita akan tahu ketika hati kita sendiri yang memberikan kesaksian kepada Allah, yakni kita tidak melakukan apa yang benar di hadapan Allah bukan karena kita tidak MAMPU tetapi karena kita tidak MAU.

Marilah kita menyelidiki hidup kita masing-masing!

Apakah kita selalu mengundang Dia untuk turut campur tangan dalam setiap detail hidup kita? Atau kita hanya mengundang Dia apabila kita menemukan jalan buntu dan membutuhkan pertolongan? Ketika kita ingin menempuh S2, memilih pekerjaan, teman hidup, atau apapun, apakah pendapat Allah menjadi penting bagi kita?

Sudahkah firman-Nya menjadi sesuatu yang berharga di dalam hati kita? Apakah kita rindu untuk membaca, mendengar, dan merenungkan firman-Nya setiap hari? Atau kita lebih rindu menyaksikan artis-artis kesukaan kita berperan dan atlet-atlet favorit kita bertanding?

Apakah kita rindu menunjukkan kepada dunia, atau setidaknya kepada rekan-rekan di sekitar kita tentang betapa indahnya Allah kita? Ataukah yang menjadi kepedulian kita hanyalah tentang penerimaan dan pengakuan orang lain terhadap kita?

Sudahkah kita membanggakan Dia di hadapan dunia layaknya seorang anak kecil yang dengan bangga mengakui bapaknya? Ataukah kita jauh lebih bangga mengumandangkan bahkan membela calon presiden pilihan kita?

Apakah kita menjadikan pemberitaan Injil sebagai tujuan utama dalam hidup kita? Ataukah yang terpenting bagi kita adalah bagaimana agar kita bisa mencapai cita-cita, karir, dan kesuksesan yang setinggi-tingginya?

Sudahkah kita menganggap penting apa yang Dia anggap penting?
Sudahkah kita membuang apa yang Dia perintahkan untuk kita jauhkan?

Ayolah, Teman-teman!
Pikirkanlah ini baik-baik!
Tanyalah benar-benar pada dirimu!

Sudahkah Allah menjadi Allah dalam hidupmu?

Jangan tanyakan hal itu pada hatimu sebab hatimu bisa menipumu (Yeremia 17:9). Tetapi lihatlah jawabannya berdasarkan tingkah lakumu setiap hari. Bukan tingkah laku yang bisa dilihat oleh orang, tetapi tingkah laku yang kau lakukan apabila tak seorangpun melihatnya. Sudahkah tingkah lakumu itu membuktikan bahwa Dia adalah Allahmu dan kau adalah pelayan-Nya?

Ayolah, Teman-teman!
Renungkanlah itu sungguh-sungguh!

Hidup ini bukanlah tentang aku
Hidup ini bukanlah milikku

Uang ini bukanlah uangku
Waktu ini bukanlah waktuku
Tubuh ini bukanlah milikku

Pelayanan ini bukanlah pelayananku
Cita-citakupun bukanlah hakku

Hidup ini bukan tentang bagaimana Dia bisa menolongku mencapai tujuan-tujuanku
Melainkan tentang bagaimana agar Dia memakaiku untuk tujuan-tujuan-Nya

Hidup ini bukan tentang kesenanganku
Melainkan tentang kemuliaan nama Kristus

Hidup ini bukanlah tentang bagaimana dunia bisa mengenalku
Melainkan tentang bagaimana dunia bisa mengenal Kristus melalui hidupku

Kristus sudah hidup bagiku
Akupun harus hidup bagi Dia

Kristus sudah mati bagiku
Akupun ingin mati bagi Dia

Aku yang dahulu harus mati
Dan Kristuslah yang harus lahir, hidup, dan menjadi Raja di dalam hatiku

10532876_10202545971794679_4540507588217666738_n
Saudara-saudaraku, marilah kita merendahkan diri kita di hadapan-Nya. Kita ingat siapa kita, kita sadar siapa Dia. Kita hanyalah debu, Dia adalah Allah, Raja alam semesta. Dia tidak membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan Dia. Dia tidak akan rugi sama sekali jika kita menolak-Nya, tetapi jika kita menolak Dia, kita akan menjalani kekekalan di dalam siksa neraka. Di sana, setiap orang berdosa akan disiksa, dan sekalipun mereka berharap untuk mati, mereka tidak akan bisa mati, tetapi terus dan terus, lagi dan lagi, disiksa untuk selama-lamanya.

Jadi, Teman-teman
Mana yang kau pilih?

Hidup menderita di dunia karena Kristus kemudian menjalani kekekalan bersama Dia di sorga
Atau menikmati hidup di dunia ini dan menderita selama-lamanya di neraka?

Perhitungkanlah sekarang untung ruginya!
Dan putuskan pilihanmu!

Tetapi kalau aku boleh memberikan nasehat padamu, “Pilihlah Dia!”. Tundukkanlah dirimu di hadapan-Nya. Hargailah Dia. Hormatilah Dia. Akuilah Dia. Sembahlah Dia. Persembahkanlah segala-galanya hanya bagi Dia. Dan ketahuilah:

499290984

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pesan Penutup:

Sekian pelajaran kita mengenai Simson. Semoga eksposisi ini menjadi berkat dan hikmat bagi kita. Semoga semua ini bisa menjadi pemicu bagi kita semua agar setiap kita semakin hari semakin memiliki kerinduan untuk menyelidiki firman Allah. Dan semoga, suatu saat nanti, Tuhan memberikan kesempatan baru bagi kita untuk mempelajari kisah hidup tokoh-tokoh lain di dalam Alkitab.

Sampai bertemu di lain kesempatan
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

7. Ketika Seorang LEMAH Ditolong TUHAN

Kisah sebelumnya:
Simson menghadapi titik terendah di dalam hidupnya

Masalah Simson adalah hawa nafsu yang ia anggap sebagai cinta
Dan kini, cinta pertamanya telah dibakar hidup-hidup oleh musuh-musuhnya
Dan kini, cinta terakhirnya telah mengkhianatinya dan menyerahkannya ke tangan musuh

Masalah Simson adalah matanya yang tak sanggup didisiplinkannya
Dan kini, matanya telah dicungkil

Masalah Simson adalah kesombongannya
Dan kini, dia telah dipermalukan dan dijadikan budak oleh bangsa Filistin

Masalah Simson adalah dia menjadikan Tuhan hanya sebagai pelayannya
Dan kini, Tuhan telah meninggalkan dia

Simson telah tertangkap
Simson telah lemah
Simson telah kalah

Tetapi kasih karunia Allah, yang sungguh TAK BERKESUDAHAN, masih menaunginya
Dan di dalam kasih sayang yang besar:

Allah menumbuhkan rambut Simson sesudah dicukur

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sesudah itu, berkumpullah raja-raja kota orang Filistin untuk mengadakan upacara penyembahan besar-besaran kepada dewa mereka, Dagon (lihat gambar), dan untuk merayakan kemenangan besar mereka atas Simson. Sebagai pelengkap acara, mereka menyuruh penjaga untuk membawa Simson ke hadapan mereka supaya mereka bisa menjadikannya pelawak. Simson yang tak berdaya karena matanya yang buta sungguh menjadi tontonan yang menyukakan hati mereka.

dagon-1

Mereka tidak sadar, oh mereka sungguh-sungguh tidak sadar. Simson justru menunggu datangnya hari ini, lebih dari itu, Tuhan sudah menanti tibanya hari ini. Inilah hari di mana orang-orang Filistin berkumpul dalam jumlah yang sangat besar. Inilah hari di mana mereka mengadakan acara penyembahan kepada dewa mereka. Apakah kau mengerti maksudku? Tepat sekali. Jika ada suatu waktu yang tepat untuk membunuh begitu banyak orang Filistin sekaligus untuk mempermalukan dewa mereka pada saat yang bersamaan, SEKARANGLAH saatnya. Oh, betapa sempurnanya rancangan Tuhan kita.

Simson kemudian meminta anak yang menuntun dia untuk melepaskan dia sehingga dia bisa meraba-raba tiang-tiang penyangga rumah itu dan bersandar di sana. Sesudah ditemukannya posisi yang terbaik, berserulah Simson kepada TUHAN, katanya:

Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku
dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah,
supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.
(Hakim-hakim 16:28)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku

Bagi aku pribadi, frase “ingatlah kiranya kepadaku” merupakan ungkapan yang sangat indah dan tulus. Ini bukanlah permohonan yang self centered. Ini bukan basa-basi seperti yang sering kita dengar ketika seseorang berkata, “Eh Bro, kalau lu udah sukses ingat-ingat teman dong!” Permohonan ini juga tidak dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan untuk berterima kasih pada Simson atas semua jasa yang pernah dilakukannya untuk Tuhan.

Simson tahu di mana posisinya terhadap Allah. Simson menyadari betapa berdosanya dirinya selama ini. Simson sadar bahwa dia tidak memiliki apapun yang membuat Allah perlu mengingat-ingat kebaikannya. Kalaupun dia pernah berjasa, itulah pengabdiannya selama dua puluh tahun menjadi hakim Israel, akan tetapi pada akhirnya kesetiaan itupun rusak akibat hawa nafsu dan kebodohannya sendiri. Simson mengerti bahwa dia tidak memiliki apapun yang cukup berharga untuk dipersembahkan kepada Allah supaya Allah mengampuni dan menolongnya. Dia sudah lemah, kalah, miskin, berdosa, bahkan matapun dia sudah tidak memilikinya lagi.

Akan tetapi, sekalipun Simson tidak memiliki semua itu, pada akhirnya Simson sadar bahwa dia memiliki ‘harta’ yang jauh lebih berharga dibandingkan apapun. Kejayaan telah membuat Simson melupakan harta itu. Hawa nafsu dan kenikmatan dunia telah membuat Simson mengabaikannya. Namun kini Simson telah terlepas dari semua harapan palsu dan fana itu. Dan di tengah kebutaannya, Simson kini bisa melihat harta itu lebih jelas. Di dalam kelemahannya, Simson kini bisa merasakan harta itu lebih nyata. Dan harta itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah ALLAH sendiri.

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9)

Simson mengerti bahwa dia adalah milik Allah dan Allah adalah miliknya
Dan melalui pengertian tersebut, Simson akhirnya mengerti siapa dirinya yang sebenarnya
Dia akhirnya sadar bahwa: Dia adalah anak Allah dan Allah mengasihinya

Mengapa “ingatlah kiranya kepadaku” merupakan doa yang sangat indah?
Karena di dalam ungkapan ini terkandung dua hal yang utama:

Pertama:
Sang pendoa tidak memamerkan apa yang sudah diperbuatnya di hadapan Allah. Sang pendoa mengerti benar bahwa semua hal baik yang pernah dilakukannya sesungguhnya adalah hasil pertolongan Tuhan semata.

Kedua:
Sang pendoa mengerti bahwa dia dikasihi oleh Allah.

Ini merupakan hal yang sangat penting. Inilah inti dari pesan Injil yang sesungguhnya. Iblis sangat takut kebenaran ini diketahui oleh umat manusia. Dia berusaha mati-matian untuk mengintimidasi setiap manusia sehingga pikiran mereka dipenuhi oleh ide-ide tentang betapa Allah membenci diri mereka yang berdosa. Semakin mereka berdosa, semakin mereka merasa Allah membenci mereka. Semakin besar dosa mereka, semakin terpuruk mereka sebab mereka merasa Allah tidak akan lagi mengampuni mereka.

Kalau kau adalah salah satu orang yang mengalami intimidasi demikian, aku rindu membagikan kabar baik ini padamu:
Itu semua tipuan iblis. Allah tidak membencimu.
Dia mengasihimu. Oleh sebab itu, percayalah kepada-Nya!

Allah memang sangat membenci dosa
Tetapi Dia tidak membenci orang yang berdosa
Justru sebaliknya, Dia mengutus Anak-Nya untuk mati bagi orang-orang berdosa

Allah mengasihi umat-Nya. Seluruh isi Alkitab berbicara tentang itu. Dia tidak menghendaki kebinasaan umat-Nya, melainkan pertobatan mereka. Allah ingin anak-anak-Nya memahami betapa besar kasih-Nya dan betapa Ia ingin agar mereka menikmati kasih dan pengampunan itu. Allah tidak ingin umat-Nya TAKUT atau MALU kepada-Nya seolah-olah Dia adalah orang lain. Tidak, Dia bukan orang lain, Dia adalah Bapa kita sendiri.

Percayalah, Dia mengasihimu! Sebelum kau percaya bahwa Dia mengasihimu, kau tak akan bisa mengasihi-Nya dengan benar. Allah akan sangat dimuliakan ketika umat-Nya mengerti betapa Dia mengasihi mereka. Itulah sebabnya mengapa Bapa mengutus Yesus Kristus. Supaya melalui kesaksian Kristus, dunia mengerti kasih-Nya.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami,
betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.
(Efesus 3:18-19)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2. Buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah

Simson akhirnya sadar bahwa kekuatannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah. Simson tahu bahwa rambutnya mulai memanjang, tetapi dia tidak lagi mengandalkan hal itu atau menaruh harapan padanya.

Simson menyadari bahwa kekuatannya berasal dari Allah. Kuasa itu bukan miliknya melainkan milik Allah dan Dia berhak memberi atau mengambilnya kembali, itulah sebabnya mengapa Simson mengatakan “sekali ini saja”.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku,
dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.
TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!
(Ayub 1:21)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3. supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin

Sepintas lalu, terlihat seolah-olah motivasi terbesar Simson adalah untuk membalaskan dendam pribadinya sendiri dan bukan murni untuk menggenapi visi yang Allah berikan. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tetapi satu hal yang perlu kita ingat, yakni bahwa Simson hidup pada masa di mana Allah jelas-jelas menghendaki umat-Nya untuk menyingkirkan, membenci, bahkan jika perlu membunuh bangsa-bangsa penyembah berhala yang ada di tanah Kanaan.

Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.
(Bilangan 33:55)

Kita selalu berpandangan bahwa kemarahan atau kebencian merupakan hal yang murni jahat. Jika kau juga berpikiran demikian, aku rasa kau perlu membenahi sedikit cara berpikir itu. Pada mulanya, amarah dan kebencian merupakan hal yang baik. Mengapa bisa begitu? Sebab hanya dengan keduanyalah manusia bisa menentang dan menjauhkan diri dari iblis.

Kita harus membenci iblis. Kita harus menaruh amarah pada iblis. Kita tidak boleh mengasihinya atau bersahabat dengannya sebab persahabatan dengan iblis (dan dunia) sama dengan permusuhan terhadap Allah. Yesus Kritus, Tuhan kita, bahkan pernah mengucapkan hal yang begitu pedis untuk menegaskan betapa Allah MEMBENCI para penyesat (termasuk iblis yang adalah raja penyesat):

“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”
(Matius 18:6)

Lihatkan? Allahpun memiliki murka dan kebencian terhadap iblis. Kemarahan dan kebencian tidaklah murni jahat dari dirinya sendiri.  Yang menjadikan keduanya jahat adalah kita sendiri. Kita membenci sesama kita yang tidak harusnya kita benci. Dan kita malah bersahabat dengan iblis dan dengan dunia yang seharusnya kita jauhi.

Dan demikianlah yang terjadi, hingga akhir hidupnya, Simson masih dipenuhi oleh amarah dan kebencian. Aku tidak akan membantah hal tersebut tetapi aku tidak bisa mengatakan itu sebagai hal yang mutlak salah. Justru, melalui amarah dan kebencianlah, Tuhan meneguhkan hati Simson dan memakai dia untuk menuntaskan tujuan-Nya. Apabila Simson tidak marah dan dendam kepada mereka, mungkin Simson tidak akan melakukan apa-apa dan bisa jadi justru dia yang dibunuh oleh mereka. Lihatkan? Allah sanggup mendatangkan apa yang baik bahkan dari apa yang terlihat buruk sekalipun. Itulah kedahsyatan Allah kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah doa Simson, doa terakhir Simson

Setelah menyerukan doa itu, Simson merangkul kedua tiang yang paling tengah, penyangga rumah itu, lalu bertopang kepada tiang yang satu dengan tangan kanannya dan kepada tiang yang lain dengan tangan kirinya. Maka berkatalah Simson: “Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini.”

Lalu membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya, termasuk Simson, sehingga mereka semua mati pada saat itu juga.

1361995219_75058479

Dan demikianlah akhir hayat Simson bin Manoah, sang nazir Allah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang kita bisa petik dari pelajaran ini?

Simson adalah orang yang sangat menyia-nyiakan berkat yang Tuhan berikan. Simson adalah orang yang sangat durhaka terhadap Allahnya. Simson jatuh, jatuh, dan jatuh, dan jatuh lagi. Simson tahu bahwa dia sangat tidak layak untuk berdiri memohon pertolongan dari Allah untuk yang terakhir kali. Simson tahu betapa berdosanya dirinya.

Akan tetapi,
Walaupun Simson tahu betapa besar dosa yang diperbuatnya
Dia tahu bahwa kasih Allah jauh lebih besar dibanding semua dosanya dikumpul menjadi satu

Simson tahu bahwa Allah pernah meninggalkan dia ketika rambutnya dicukur. Tetapi Simson PERCAYA bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan dia. Simson percaya, bahwa Allah MENGASIHINYA. Dan di dalam iman itulah, Simson mampu melakukan hal yang jauh lebih besar dibanding apapun yang pernah diperbuatnya.

Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu
lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya.
(Hakim-hakim 16:30)

Ada satu ayat yang sangat aneh yang bisa menggambarkan kisah Simson ini:

7. Ketika Seorang LEMAH Ditolong TUHAN
Kau tahu mengapa ayat ini sangat aneh? Lihatlah, dia orang benar, tetapi dia jatuh hingga tujuh kali! Setahuku orang benar itu tidak akan jatuh atau paling tidak jatuh hanya dua kali. Jika dia jatuh dan jatuh terus hingga tujuh kali, satu saja kesimpulanku, dia orang bodoh dan bebal, bukan orang benar.

Apakah pandanganku ini benar?
Aku rasa dunia akan setuju denganku
Sebab dunia menilai kebenaran seseorang berdasarkan apa yang orang itu LAKUKAN

Tetapi tidak demikian dengan cara Allah memandang
Allah tidak menilai kebenaran seseorang berdasarkan apa yang orang itu lakukan
Melainkan berdasarkan SIAPA orang itu di mata-Nya

Kita benar bukan karena kelakuan kita yang baik dan sempurna
Kita benar karena kita adalah anak-anak Allah

Kita adalah anak-anak Allah sejak semula
Kita tidak berasal dari dunia ini, sama seperti Kristus (Yohanes 17:14)

Tetapi kemudian kita berdosa, kita mati secara rohani
Kita terhilang, status kita sebagai anak Allahpun lenyaplah

Dan untuk itulah Kristus datang ke dunia
Dia tidak datang ke dunia untuk membuat orang berdosa menjadi tidak berdosa
Melainkan untuk membuat anakNya yang terhilang, yang ‘mati’, menjadi ‘hidup’ kembali

Dan setiap orang yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup
Dan gelar anak Allah kembali disematkan padanya
Dan dia akan diperhitungkan sebagai orang benar

Orang benar tidak berarti bahwa dia tidak berdosa
Melainkan dosanya sudah tidak diperhitungkan lagi
Dan dia dianggap sebagai orang benar sebab kebenaran Kristus dikenakan pada dia
(Galatia 2:20)

Orang percaya tidak dibenarkan karena perbuatan baiknya
Orang percaya dibenarkan karena dia adalah anak Allah
Dan setiap anak Allah PASTI percaya kepada-Nya di dalam Kristus Yesus

LifeChurch-HabakkukSermon
Dan itulah yang terjadi pada Simson
Dia adalah orang benar, bukan karena kelakukannya
Melainkan karena Allah yang memandangnya benar
Dan di dalam Kitab Ibrani, Allah menyebut Simson sebagai seorang Saksi Iman
(Ibrani 11:32)

Simson mati dengan terhormat. Simson mati dalam perjuangannya menggenapi visi yang Tuhan taruh di dalam hatinya. Dan melalui iman yang meyakini bahwa Allah mengasihi dirinya, Simson memberanikan diri untuk memohon, “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku.” Hingga pada akhirnya, Simson mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dibanding apapun yang pernah diperbuatnya dalam masa kebebalannya.

Aku percaya, kitapun bisa melakukan hal itu, bahkan lebih baik lagi
Asalkan satu hal, kita mengimani ayat ini dengan sepenuh hati:

Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup,
tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging,
adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah
yang telah MENGASIHI AKU
dan MENYERAHKAN DIRI-NYA UNTUK AKU.
(Galatia 2:20)

Tuhan Yesus memberkati

Bersambung: Penutup

6. Ketika Seorang Kuat Bertemu Delila-nya

Kisah sebelumnya:
Sangat menyedihkan, Simson diserahkan oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri ke tangan bangsa Filistin. Orang-orang Filistin yang melihat Simson yang menyerahkan dirinya kemudian bersorak kegirangan karena mereka pikir kemenangan sudah ada di depan mata. Kurang beruntung bagi mereka, Tuhan menyertai Simson dan memberikannya kekuatan untuk melakukan perlawanan. Dengan tulang rahang keledai, Simson menghabisi seribu orang dari bangsa Filistin. Ini merupakan prestasi yang luar biasa dan seharusnya Simson bersyukur kepada Allah. Akan tetapi, bukannya memuji kebesaran-Nya, Simson malah membesarkan diri, dia berkata, “dengan rahang keledai loch, bukan dengan pedang, bukan dengan tombak, cuman dengan rahang keledai loch aku bisa memukul seribu orang, bayangkan betapa hebatnya aku.”

Kemenangan sudah jelas mengarah kepada Simson, akan tetapi pada masa-masa injury time, Simson merasa sangat kehausan. Masih ada beberapa musuh yang harus dibereskan tetapi dengan rasa dahaga seperti itu, mustahil Simson bisa melanjutkan pertempuran. Untuk pertama kalinya, mungkin, Simson benar-benar merasa membutuhkan pertolongan. Untuk pertama kalinya, kekuatan fisik Simson tidak dapat bisa memberinya jalan keluar. Di titik terendah dalam hidupnya ini, Simson mengingat kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya.

Allah itu penuh dengan kasih dan setia. Sekalipun Simson terus menerus melakukan hal yang tidak sesuai dengan perintah-Nya, Allah masih mengasihi Simson dan bersedia memberinya pertolongan. Allah mengeluarkan air dari batu untuk memuaskan rasa haus Simson sekaligus untuk mendapatkan hati Simson. Kedua tujuan itu tercapai. Rasa haus jasmani Simson terpuaskan, demikian pula rasa dahaga rohaninya.

Simson seakan baru saja bangkit dari kematian. Allah menyelematkan jiwanya. Mulai dari saat itu, untuk pertama kalinya Simson hidup sesuai dengan panggilannya, yakni untuk menjadi seorang hakim bagi bangsa Israel. Ia memerintah bangsa Israel sebagai hakim selama dua puluh tahun lamanya.

Tetapi drama belum berakhir…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Pada suatu kali…
ketika Simson pergi ke Gaza,
dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia.”

Pada suatu kali…
Pada… suatu… kali…
Bagi banyak orang, “pada suatu kali” hanyalah just another day. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang istimewa. Semuanya berjalan seperti biasa, terkendali, rutinitas. TIDAK BERBAHAYA.

Jika kau adalah salah satu orang yang berpikir demikian, kau perlu membaca kisah Simson di pasal 16 ini berulang-ulang kali. Jika kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh hal sesederhana “pada suatu kali” terhadap kehidupanmu, bacalah kisah ini. Lihatlah bagaimana “pada suatu kali” bisa menghancurkan dan mempermalukan kesetiaan penuh yang telah dibangun selama DUA PULUH TAHUN.

Hanya karena nila setitik, susu sebelanga bisa rusak
Hanya karena “pada suatu kali”, pengabdian “dua puluh tahun” bisa sirna

Kita perlu ingat ini baik-baik:
Jika kita hidup di luar Kristus, bahkan satu detikpun bisa menghancurkan seumur hidup kita

Ulah apa lagi yang Simson lakukan? Gaza merupakan salah satu kawasan Filistin yang paling utama, apa tujuan Simson pergi ke sana? Apakah Simson hendak menawarkan perjanjian damai kepada Filistin? Aku rasa tidak sebab kalaupun iya, maka Simson akan mengutus seorang juru bicara. Apakah Simson hendak menyerang Filistin? Aku rasa juga tidak sebab dia telah menjadi hakim, kalau dia ingin menyerang, pastilah dia akan menyerang bersama-sama rakyatnya.

Apakah Simson hanya iseng? Mungkin saja, tetapi buat apa? Atau jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan dugaan bahwa Simson memang menyukai wanita-wanita Filistin? Aku rasa itu bisa jadi. Perjalanan Simson ke Gaza ini mengingatkanku pada bagian terdahulu yakni ketika Simson pergi ke Timna. Timna juga merupakan kawasan musuh. Saat itu, Simson juga pergi seorang diri dan juga tanpa alasan yang jelas.

Lalu apa alasan Simson pergi ke Gaza? Aku tidak tahu. Tetapi aku tahu satu hal, yakni jarak antara Israel dengan Gaza adalah kurang lebih 50 mil atau 80 kilometer. Pada zaman Simson, itu bukanlah jarak yang dekat. Perjalanan dari Israel ke Gaza merupakan perjalanan yang jauh.

*Perjalanan dari Israel ke Gaza
membutuhkan ribuan langkah kaki ; memakan ribuah detik ; dan
menawarkan RIBUAN KESEMPATAN bagi Simson untuk berpikir ulang dan berbalik

Bayangkan itu! Simson punya ribuan kesempatan untuk berhenti, berpikir ulang, dan berbalik dari jalannya. Dalam perjalanan yang tidak sebentar itu, Simson seharusnya punya waktu yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perjalanannya bukanlah ide yang baik. Perjalanan itu tidak memiliki tujuan yang jelas. Perjalanan itu berisiko. Dan jika memang niat Simson adalah pergi ke lokalisasi wanita Filistin, Simson tetap saja memiliki banyak kesempatan untuk bertobat dan kembali ke Israel. Tuhan telah memperhadapkan kepada Simson kesempatan yang begitu besar untuk bertobat. Simson punya sekian ribu detik untuk mengatakan kepada dirinya sendiri, “Simson, what are you doing? This is stupid! Go back!”.

Simson menantang bahaya, tidak hanya bagi tubuhnya tetapi juga bagi hatinya. Simson seharusnya belajar dari pengalamannya yang terdahulu. Hidup Simson hancur setelah bertemu dengan wanita Filistin yang ada di Timna itu. Tetapi apa yang terjadi kali ini? Dia bertemu dengan seorang wanita, yang bukan sekadar wanita Filistin, tetapi juga seorang WANITA SUNDAL. Bayangkan itu! Melihat wanita itu, “singa buas” yang selama dua puluh tahun tertidur di dalam hati Simson kini terbangun. Hawa nafsu Simson yang menggebu-gebu kini kembali bertahta dalam dirinya. Akal sehat Simson tunduk tak berdaya di hadapan hawa nafsunya yang menggila. Simson tak mampu mengendalikan diri dan akhirnya diapun menghampiri wanita sundal itu.

Terbuktilah sudah bahwa:
Karena hal sesepele “pada suatu kali”, kesetiaan selama “dua puluh tahun” hancur
Karena hal sesepele “satu langkah kecil”, perjalanan “seumur hidup” porak-poranda

Pertanyaannya:
Orang bodoh mana yang sebegitu bodoh mau menyerahkan hal yang BEGITU BERHARGA
Hanya demi hal yang BEGITU MURAHAN?

Dan aku rasa kau sudah tahu jawabannya:
Orang bodoh itu adalah SETIAP KITA
Dan kita melakukannya SETIAP HARI

Kita tak henti-hentinya mengabaikan perintah Tuhan hanya untuk kenikmatan sesaat
Dan tak henti-hentinya pula kita berusaha mencari alasan untuk membenarkan diri

Kesalahan itu hanyalah awal dari kejatuhan Simson. Karena satu dosa tersebut, penyakit lama Simson kambuh. Kini dia kembali dipimpin oleh hawa nafusnya. Pada keadaan demikian, Simson bertemu dengan wanita Filistin lain yang sangat cantik, Delila, dan Simson jatuh cinta padanya.

Tidak seperti hubungannya dengan wanita Timna itu, Alkitab tidak mencatat bahwa Simson hendak menikahi Delila. Jabatan Simson sebagai seorang hakim tidak mungkin mengizinkannya untuk mengambil isteri dari bangsa Filistin. Hampir bisa dipastikan, hubungan Simson dengan Delila adalah hubungan diam-diam. Itu merupakan hubungan gelap, kumpul kebo, atau apapun tergantung bagaimana kau menamainya.

Orang-orang Filistin tahu bahwa Delila memiliki hubungan spesial dengan Simson. Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin kepada Delila. Mereka berjanji akan memberikan uang dengan jumlah yang sangat besar kepada Delila apabila dia mampu mengorek rahasia dari kekuatan Simson yang luar biasa itu.

Delila kemudian membujuk Simson untuk menceritakan rahasia kekuatannya. Tiga kali wanita itu membujuk Simson tetapi tiga kali Simson berbohong. Simson mengatakan bahwa apabila dia diikat dengan tujuh tali busur yang baru, atau apabila dia diikat erat-erat dengan tali batu, atau apabila ketujuh rambut jalinnya ditenun bersama-sama dengan lungsin lalu dikokohkan dengan patok, maka Simson pasti akan menjadi selemah orang biasa. Tiga kali dia memberikan jawaban yang tidak benar, tiga kali Simson mengalami percobaan pembunuhan, tetapi tiga kali pula Simson mampu membebaskan diri dari penyergapan orang-orang Filistin itu.

Simson seharusnya menyadari adanya kejanggalan. Tiap kali Delila menanyakan letak kelemahan Simson, orang-orang Filistin pasti datang menyergap dia dengan cara seperti apa yang dia sampaikan kepada Delila. Ada yang aneh di sini. Mengapa Simson tidak curiga kepada Delila? Mengapa Simson terus-menerus memberikan jawaban? Ataukah jangan-jangan Simson sudah curiga tetapi dia terlalu menganggap remeh ancaman musuh?

Apapun alasan di balik semua itu, yang jelas Delila terus mengerahkan usaha terbaiknya untuk membuat Simson menceritakan yang sesungguhnya. Delila tidak kenal kata menyerah, berhari-hari dia menangis, merayu, merengek, merajuk, memohon, memaksa, me-whatever, supaya hati Simson bisa runtuh. Dan coba tebak! Hati Simsonpun runtuhlah.

Lalu setelah perempuan itu berhari-hari merengek-rengek kepadanya
dan terus mendesak-desak dia,
ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya.
(16:16)

Apakah Simson tidak tega melihat tangisan Delila ataukah dia hanya muak dan lelah dengan semua rengekan Delila, aku tidak tahu. Tetapi apapun isi hati Simson, yang jelas dia tidak memutuskan untuk meninggalkan Delila. Ini memberikan indikasi bahwa rasa cinta Simson kepada Delila mungkin adalah rasa cinta yang tulus. Dan kalau benar itu merupakan cinta yang tulus, maka Simson merupakan lelaki paling malang di seluruh dunia sebab cinta itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Delila tidak mencintai Simson. Delila membenci Simson dan menganggapnya sebagai musuh. Delila menjual Simson. Dan yang lebih menyakitkan, Delila memperdaya Simson dengan kesadaran penuh bahwa apa yang dia lakukan dapat menyebabkan Simson ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh. Betapa menyedihkannya kisah cinta Simson dan dia tidak mengetahuinya.

Akhirnya, Simsonpun dengan jujur menceritakan letak kelemahannya. Dia memberitahu pada Delila bahwa selama ini kekuatannya tersimpan pada rambutnya yang tidak pernah dicukur. Apabila rambutnya dicukur, Simson akan kehilangan kekuatan supranaturalnya dan dia akan menjadi selemah manusia biasa. Melihat Simson yang mengatakannya dengan setulus hati, Delila percaya kepada Simson dan membeberkan rahasia tersebut kepada orang-orang Filistin. Dan seperti yang sudah bisa diduga, mereka datang menyergap Simson. Simson terbangun dan berkata:

“Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.
Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.

Simson mengira dia berdiri teguh. Simson mengira dia akan lolos seperti biasanya. Simson mengira Tuhan masih bersama-sama dengan dia. Tetapi dia salah besar. Simson tidak hanya bertepuk sebelah tangan dalam hal cintanya yang tak terbalas oleh Delila. Simson juga bertepuk sebelah tangan karena dia menduga Tuhan masih menyertai dia, padahal tidaklah demikian.

Orang Filistin itu kemudian menangkap Simson yang tidak berdaya. Simson masih belum percaya dengan kondisinya yang begitu lemah. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Simson kemudian sadar bahwa kini kepalanya terasa lebih ringan, kini rambutnya menjadi lebih rapi alias lebih pendek. Simson kaget tetapi belum saja dia berhenti dari kekagetannya, seorang tentara Filistin datang memegang kepalanya dan MENCUNGKIL MATANYA. Mereka kemudian membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang bisa kita petik di sini?

Wooowww, unbelievable. Too bad to be true. Seorang hakim Israel, seorang nazir Allah, seorang yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, one of a kind, telah tertangkap dan dikalahkan. Tidak hanya itu, matanya juga dicungkil dan kini dia dijadikan budak dan tontonan oleh bangsa musuh. Itu sangat sangat sangat memalukan. Bagi seorang pria dan pejuang seperti Simson, pastilah lebih baik jika dia mati dibanding jika dia harus dipermalukan sedemikian rupa oleh musuh. Tetapi itulah yang terjadi dalam akhir hidup Simson.

Kesalahan Simson mendatangkan konsekuensi kepadanya. Masalah mula-mula Simson adalah MATA-nya. Simson tidak mampu mengendalikan dan mendisiplinkan matanya. Dia membebaskan dan memuaskan matanya untuk melihat apapun yang dia mau. Dengan matanya, dia tertarik. Dan apa yang dilihat mata, kemudian turun ke hati. Hati Simson adalah hati yang dipenuhi hawa nafsu, suatu wadah penggorengan yang sangat cocok untuk mematangkan godaan itu menjadi dosa.

Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri,
karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa;
dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
(Yakobus 1 : 14-15)

Lihat ini baik-baik:
Masalah Simson adalah matanya
Dan kini mata itu telah dicungkil

Masalah Simson adalah kesombongannya
Dan kini dia dipermalukan dan menjadi pelawak bagi musuh-musuhnya

Masalah Simson adalah hawa nafsu yang ia anggap sebagai cinta
Dan kini cinta pertamanya dibakar musuh
Dan kini cinta terakhirnya yang menyerahkannya kepada musuh

Masalah Simson adalah dia menjadikan Tuhan hanya sebagai pelayannya
Dan kini Tuhan telah meninggalkan dia

Apapun yang kita lakukan, jika kita tahu bahwa semua itu tidak berkenan di hadapan Allah, hentikanlah semua itu. Sebab sepasti matahari akan terbit dan terbenam, sepasti itu pula kenikmatan semu itu akan berujung pada penderitaan.

Siapapun kita, jika saat ini kita sedang memuaskan diri dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang kita tahu benar bahwa itu tidak menyenangkan hati Allah, berhentilah, dan bertobatlah. Tidak perlu lagi ada pembenaran atau pembelaan diri di hadapan Allah. Allah tidak bisa dibodohi, Dia lebih tahu dibandingkan kita. Dia tahu isi hati kita dan betapa bobroknya itu.

Salomo berkata kepada anak-anak muda untuk bersukaria dan mengikuti keinginan mata mereka kemanapun mereka mau. Tetapi Salomo juga dengan tegas memperingatkan bahwa semua itu akan membawa mereka kepada pengadilan (Pengkhotbah 11:9). Yesus menawarkan hal yang sedikit berbeda. Yesus berkata bahwa jika matamu menyesatkan engkau, maka cungkillah matamu. Biarlah matamu yang dibawa ke pengadilan dan dibinasakan daripada seutuhnya dirimu diadili dan dihukum (Matius 6 : 29).

Mari kita menguasai dan mendisiplinkan mata kita. Kata orang, mata adalah jendela hati. Apa yang kita lihat akan turun ke hati kita. Jika kita memuaskan mata kita dengan hal-hal yang najis, tidak berguna, dan tidak membangun, maka demikianlah hati kita jadinya. Tetapi jika kita menjaga mata kita dan menggunakannya untuk membaca dan hidup dalam firman Tuhan, maka firman itupun akan terukir di dalam hati kita. Dan seperti kata Amsal, seperti apa yang ada di dalam hati seseorang, seperti itulah dia. Jika firman itu ada di dalam hati kita, maka firman itu akan terpancar melalui hidup dan keberadaan kita. Dan ingatlah salah satu ucapan bahagia Kristus, berbahagialah yang suci HATI-nya, sebab orang-orang yang demikianlah yang akan MELIHAT (dengan mata) Allah.

matthew-58

Kemanapun kita melangkah, jika langkah kaki itu mengarahkan kita kepada dosa, berhentilah, dan berbaliklah. Sadarilah betapa Allah masih bersabar dan memperhadapkan kepada kita kesempatan yang sedemikian lebar untuk berhenti, berpikir ulang, dan berbalik. Mungkin akan luar biasa susah bagi kita untuk meninggalkan dosa-dosa kesukaan kita. Mungkin akan susah bagi kita untuk mengambil putaran 180 derajat dan berbalik. Tetapi sadarilah, jika kita berbalik, siapakah yang sudah ada di sana untuk menolong kita? TUHAN…

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut,
merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku,
lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat,
maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka,
serta memulihkan negeri mereka.
(2 Tawarikh 7 : 14)

Benar sekali, Tuhan sudah ada di sana dan Dia siap menolong kita untuk berbalik. Dia bersedia MENGAMPUNI SEGALA DOSA dan kecacatan kita tetapi Dia tidak berhenti sampai di sana, Dia juga akan memberikan kepada kita kasih karunia yang MEMAMPUKAN KITA MELAWAN DOSA.

Sekali lagi!
Jagalah matamu!

6. Ketika Seorang Kuat Bertemu Delila-nya

 

Tetapi drama masih belum berakhir. Sebab firman Tuhan mengatakan satu hal yang begitu indah di tengah-tengah prahara dan durhaka yang tak kunjung berhenti ini. Oh, betapa baiknya Engkau, Tuhan! Dan inilah firman itu:

Tetapi rambutnya mulai tumbuh pula sesudah dicukur.
(Hakim-hakim 16:22)

Bersambung

5. Ketika Seorang Kuat Membutuhkan Pertolongan

Kisah sebelumnya:
Setelah mengetahui bahwa bangsa Filistin telah membakar isteri dan mertuanya, Simson marah besar dan pergi menghabisi mereka. Lalu pergilah Simson untuk tinggal dalam sebuah gua di bukit batu Etam. Ironis, kemenangan ini seharusnya menjadi kemenangan bagi bangsa Israel sebab Simson memang diutus oleh Allah untuk mengalahkan bangsa Filistin. Tetapi lihatlah apa yang Simson lakukan setelah kemenangannya, ia menjalaninya di dalam kemarahan, kesendirian, dan kesedihan, semua karena hawa nafsu dan kesombongannya sendiri.

Seolah-olah ini belum cukup parah, bangsa Israel kemudian mendatangi Simson di guanya dan berkata bahwa mereka terpaksa harus menyerahkan Simson kepada bangsa Filistin. Mungkin ini merupakan salah satu peristiwa paling konyol di dalam Alkitab. Seharusnya orang sehebat Simson sanggup memimpin bangsanya untuk berperang melawan Filistin, tetapi yang terjadi adalah betul-betul sebaliknya, Simson justru diserahkan oleh saudara sebangsanya sendiri. Simson bodoh, bangsa Israel pengecut, kombinasi sempurna.

Akan tetapi, ada satu hal positif yang bisa kita petik mengenai Simson dalam bagian ini, yakni dia dengan rendah hati menyerahkan dirinya kepada bangsanya (Hakim-hakim 15:12). Aku tidak tahu mengapa Simson bisa setenang itu. Dia tidak memberontak, dia tidak mengeraskan hati. Hanya satu yang dia minta, yakni agar bangsanya sendiri tidak berdiri untuk membenci dan memerangi dia. Apa yang sebenarnya terjadi selama masa kesendirian Simson di dalam gua itu? Aku rasa, Tuhan menghampiri Simson dan meyakinkan dia bahwa sebentar lagi Allah akan memberikannya kemenangan.

Akhirnya, Simson pun sampai ke Lehi untuk menyerahkan diri kepada bangsa Filistin. Ketika melihat Simson menyerahkan diri dalam keadaan terikat, bersoraklah bangsa Filistin penuh kegirangan. Mereka berpikir bahwa kemenangan sudah menjadi milik mereka. Tetapi apa yang kemudian terjadi?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah ia sampai ke Lehi
dan orang-orang Filistin mendatangi dia dengan bersorak-sorak,
maka berkuasalah Roh TUHAN atas dia…
(Hakim-Hakim 15:4)

Bagiku, ayat ini merupakan salah satu ayat paling indah yang ada di Alkitab. Simson adalah orang yang paling menyia-nyiakan hidup yang telah Allah anugerahkan. Simson adalah orang yang paling sombong, bodoh, keras kepala, penuh dengan hawa nafsu dan amarah, serta tidak segan-segan membunuh orang yang tidak bersalah. Tetapi apa yang dilakukan oleh Allah? Allah bersabar terhadap Simson. Allah tidak meninggalkan dia. Allah bersiap sedia untuk berperang di depan Simson. Allah menjadi sumber pertolongan bagi Simson di masa kesesakan. Sungguh, Tuhan itu panjang sabar.

Mereka menolak untuk patuh….
Tetapi Engkaulah Allah yang sudi mengampuni,
yang pengasih dan penyayang,
yang PANJANG SABAR dan berlimpah kasih setia-Nya.
Engkau tidak meninggalkan mereka.
(Nahemia 9:17)

Merasakan kekuatan Allah mengalir di dalam tubuhnya, Simson melepaskan tali-tali yang mengikatnya semudah meremukkan rami yang terbakar, segala pengikatnya hancur dan tanggal dari tangannya. Kemudian Simson melihat sebuah tulang rahang keledai (apa makna tulang ini? akan kita bahas di bagian yang akan datang) yang masih baru. Ia mengambil tulang rahang keledai itu dan menjadikannya senjata untuk menghabisi seribu orang Filistin. Kemenangan besar bagi Simson.

Satu orang mengalahkan seribu orang. Aku yakin sebagian besar dari orang-orang yang membaca akan menganggapnya biasa saja. Tetapi tidaklah demikian, cobalah pikirkan sekali lagi, satu orang loch, mengalahkan seribu orang. Seribu orang, iya seribu orang, dikalahkan oleh satu orang, bayangkan! Ini kisah nyata. Ini benar-benar terjadi dan Tuhanlah yang melaksanakannya. Ini sangat luar biasa, ini luar biasa banget.

samson-field

Kita perlu lebih cermat di bagian ini. Jika kita menelitinya lebih dekat, nampaknya tidak ada tanda-tanda kehadiran bangsa Israel dalam pertempuran itu. Simson tidak saja bertarung sendirian, tetapi sepertinya bangsa Israel memang sudah tidak ada lagi di sekitar situ. Dugaanku, Simson pergi ke Lehi seorang diri atau bangsa Israel mengantarnya sampai di sana dan kemudian pergi meninggalkan dia sendirian. Seperti telah kusinggung sebelumnya, bangsa Israel terlalu takut untuk melawan bangsa Filistin sehingga mereka rela sekaligus tega menyerahkan Simson ke tangan musuh. Sungguh sebuah hal memalukan yang diperlihatkan oleh sebuah bangsa yang katanya Pilihan Allah.

Dan demikianlah Simson dalam kemenangan besarnya, ia merayakannya sendirian. Dan dalam kesendirian itu, ia mendeklarasikan kemenangan dengan berkata:

“Dengan rahang keledai bangsa keledai itu kuhajar,
dengan rahang keledai seribu orang kupukul.”
(Hakim-Hakim 15:16)

Kita perlu berhenti sejenak di sini. Jika kau tidak tercengang saat mengetahui bahwa Simson seorang diri mampu mengalahkan seribu orang, aku rasa itu masih bisa dimaklumi sebab Alkitab memang penuh dengan kejadian-kejadian yang luar biasa. Akan tetapi jika kau membaca Hakim-Hakim 15:16 dan tidak mendeteksi adanya ketidakberesan, aku rasa itu sudah cukup untuk menjadi pertanda bahwa kau terlalu cepat membaca ayat-ayat Alkitab dan kau perlu lebih PEKA lagi saat membacanya. Coba perhatikan baik-baik! Simson berkata, “Dengan rahang keledai…

Apa yang telah Simson perbuat? Dia mengabaikan penyertaan Allah yang baru saja memberinya kemenangan dan malah membanggakan sebuah rahang keledai. Bayangkan itu! Dia mengabaikan Penolongnya dan menganggung-agungkan sebuah benda bodoh. Dia tidak bersyukur. Dia jadikan Tuhan seperti pelayan yang selalu siap memberikan berkat dan kekuatan setiap kali dia membutuhkannya. Tetapi ketika Tuhan menolong dan memberkatinya, seketika itu juga dia melupakan-Nya. Dan juga jangan lupa, Alkitab mencatat bahwa tulang rahang itu “masih baru”, yang artinya kita bisa meng-kategorikan benda itu sebagai BANGKAIYup, Simson memegang bangkai, dia seharusnya tidak melakukan itu, dan yang lebih buruk lagi, dia mengagung-agungkannya.

Dalam kesombongannya, Simson lupa akan dirinya sendiri.
Dia mengira dia adalah tokoh utama dalam hidup ini.
Dia kira segala sesuatu adalah tentang dia.
*Dan kita melakukan hal yang sama setiap hari

Itu berbeda sekali dengan Yosua saat dia memimpin Israel menaklukkan Yerikho:
“Bersoraklah, sebab TUHAN telah menyerahkan kota ini kepadamu!”
(Yosua 6:16)

Itu berbeda sekali dengan Debora saat dia akan melawan Pasukan Sisera:
“Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu.”
(Hakim-hakim 4:14)

Itu berbeda sekali dengan Gideon ketika hanya dengan 300 orang, dia hendak menyerang Midian:
“Bangunlah, sebab TUHAN telah menyerahkan perkemahan orang Midian ke dalam tanganmu.”
(Hakim-hakim 7:15)

Itu berbeda sekali dengan Daud yang menantang Goliat:
“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing,
tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam…”
(1 Samuel 17:45)

Itu berbeda sekali dengan Elia ketika dia berhadapan dengan 450 nabi Baal dan berdoa:
“Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku,
supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN,
dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”
(1 Raja-raja 18:36)

Dan yang jelas, itu sangat berbeda dengan kerendahan hati Tuhan Yesus.
Sekalipun Dia adalah Allah, Dia tidak haus akan pujian seketika:
“Mengapa kaukatakan Aku baik?
Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.”
(Markus 10:18)

Jangan merasa dirimu adalah pusat dari dunia ini!
Jangan merasa dirimu adalah tokoh utama yang harus selalu menjadi pusat perhatian dan pertanyaan!

Jangan menganggap dirimu sebegitu pentingnya!
Lagipula, siapakah dirimu?

keep-calm-it-s-not-about-you-4

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah mendeklarasikan kemenangannya, Simson melempar tulang rahang keledai itu dari tangannya. Untunglah, dia tidak menyimpan rahang itu untuk dipamerkan atau dijadikan trademark-nya. Aku rasa kesombongannya masih ada batasnya dan kita perlu mencontoh hal itu darinya. Dia kemudian menamai tempat itu Ramat Lehi, yang kira-kira berarti “di Lehi-tulang rahang ditinggikan”, untuk menegaskan kemenangannya sekaligus kekalahan bangsa Filistin.

Masalah belum berakhir. Kini, setelah mendeklarasikan kemenangannya, Simson menghadapi masalah yang lebih mengancam hidupnya, ia menjadi sangat kehausan. Nampaknya dia belum menghabisi semua orang Filistin yang ada di medan tempur itu, mungkin masih ada sedikit dari mereka yang masih sanggup bertempur. Pada kondisi yang demikian, jika Simson tidak menemukan sesuatu untuk diminum, ia pasti akan tertangkap dan dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Ironis sekali, Simson baru saja mengalahkan seribu orang sendirian tetapi kini dia tidak menemukan air sedikitpun untuk bisa diminum.

Kini Simson diperhadapkan pada suatu kenyataan yang pasti akan membuka kedua matanya, yakni tak selamanya Simson bisa bergantung pada kekuatannya sendiri. Rambut kesayangan Simson, kekuatan yang selalu dibanggakannya, dan tulang rahang keledai yang baru saja “menolongnya”, semua itu tak mampu membawanya kepada keselamatan. Dalam kondisi yang demikian, akhirnya Simson sadar kepada Siapa seharusnya dia memohon pertolongan. Simsonpun berseru kepada Allah:

“Oleh tangan hamba-Mu ini telah Kauberikan kemenangan yang besar itu,
masakan sekarang aku akan mati kehausan….”
(Hakim-hakim 15:18)

Simson sadar bahwa hanya Tuhanlah yang sanggup menyelamatan nyawanya. Simson sadar bahwa sejak semula, Tuhanlah yang memberikannya kekuatan dan membawanya dari kemenangan menuju kemenangan. Itu semua adalah karya Allah, bukan karena kuat dan gagahnya, dan yang pasti itu bukan karena sebuah tulang rahang keledai. Allah yang memberikan Simson kekuatan. Allah yang memampukan Simson menaklukkan singa malang di dekat kebun anggur itu. Allah yang memenangkan Simson atas seribu orang Filistin. Dan kini Simson sadar, hanya Allah yang sanggup MEMUASKAN dahaganya. Hal ini mengingatkanku pada salah satu ayat terindah yang ada di Alkitab.

Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku,
maka Aku akan mendengarkan kamu;
apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
Aku akan memberi kamu menemukan Aku,
(Yeremia 29 : 12-14)

Dan lihatlah betapa besar kasih dan setia Allah kepada Simson! Dia tidak lagi mengingat kesalahan-kesalahan Simson yang terdahulu, Dia tidak lagi mempermasalahkan Simson yang lupa bersyukur dan malah membanggakan sebuah tulang rahang. Kasih-Nya kepada Simson jauh lebih besar tak terkira dibanding semua pelanggaran Simson. Ketika Simson bertobat, merendahkan hati, dan memohon pertolongan, Allah telah bersiap sedia menopangnya. Dan apa yang Dia lakukan?

Allah tidak sekadar menunjukkan sebuah sumber air kepada Simson, Allah MEMBELAH liang batu sehingga dari dalamnya keluarlah air untuk Simson minum. Allah mengerti betapa mudahnya Simson melupakan-Nya. Allah tidak akan membiarkan Simson menemukan sumber airnya sendiri. Allah tidak akan membiarkan Simson menemukan air secara tidak sengaja. Allah ingin Simson melihat perbuatan tangan-Nya dengan mata kepalanya sendiri dan menjadi sadar. Allah ingin Simson tahu betapa Allah itu perkasa dan penuh kasih dan setia.

Allah ingin memenangkan hati Simson
Allah ingin mendapat perhatian dari Simson
Allah ingin menjadi Allah-nya Simson
Sehingga Dia MEMBELAH liang batu itu

Simson kemudian minum dari sumber air itu. Dan apa yang terjadi? Alkitab terjemahan Indonesia menyebutkan bahwa Simson menjadi kuat dan segar kembali, tetapi yang aku imani, kuasa dari air itu jauh lebih besar dibanding sekadar memberi kekuatan dan kesegaran jasmani. Adapun KJV mencatatnya, his spirit came again. Hal ini benar-benar membangkitkan jiwa Simson. Dia belum pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Dengan ucapan syukur, Simson menamai tempat itu, Enhakkore (the well of him that cried). Dia tidak menamai tempat itu untuk menunjukkan kehebatannya, seperti ketika dia menamai Ramath-Lehi. Dengan sikap yang lebih rendah hati, dia menampai tempat itu untuk menegaskan bahwa diapun adalah seorang yang membutuhkan pertolongan dan menemukannya.

Dan sejak dari saat itu…
Simson memerintah sebagai hakim atas orang Israel selama 20 PULUH TAHUN lamanya…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang bisa kita petik dari hal ini?

Hanya Tuhanlah yang mampu membawa kita dari kemenangan menuju kemenangan
Hanya Tuhanlah yang mampu menyelamatkan kita dari maut

Hanya Tuhanlah yang mampu mencukupi kebutuhan jasmani kita
Hanya Tuhanlah yang mampu memuaskan dahaga rohani kita

Hanya Tuhanlah sumber kekuatan kita
Hanya Tuhanlah sumber Air Hidup kita

Hanya di dalam Tuhanlah kita mampu menjalani hidup ini dan tetap bertahan
Tidak hanya 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun
Tetapi  sampai selama-lamanya


Oh
, alangkah indahnya kabar itu
Tetapi kabar yang jauh lebih indah lagi adalah bahwa

Dia bukanlah Allah yang mengingat-ingat kesalahanmu
Tetapi yang melempar pelanggaranmu sejauh timur dari barat

Dia bukanlah Allah yang akan menolakmu ketika kau menolak-Nya
Tetapi yang ingin memenangkan hatimu

Dia bukanlah Allah yang menyerah karena pemberontakanmu
Tetapi yang ingin mendapatkan perhatian darimu

Sebab Dia jatuh cinta padamu
Sebab Dia ingin menjadi Allah-mu

2012-week-02


Bersambung: Ketika Seorang Kuat Bertemu Delila-nya

4. Ketika Seorang Kuat Sakit Hati dan Mendendam

4. Ketika Seorang Kuat Sakit Hati dan Mendendam
Kisah sebelumnya:
Belum reda dalam murkanya, Simson kembali ke kampung halamannya, meninggalkan semua orang termasuk mempelainya. Dan di tengah kebingungan melihat sikap dan kepergian Simson di tengah-tengah pesta, ayah wanita itu akhirnya menikahkan sang wanita dengan pria lain.

Kisah selanjutnya:
Empat kata, disasterrrr to the max. Maaf, itu tiga kata, sebab “disasterrrr” bukanlah kata. Mohon diabaikan saja.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah sekian waktu hidup bersama orangtuanya di kampung halamannya, Simson mungkin merasa kesepian dan rindu kepada isterinya. Dia mungkin juga berpikir bahwa dia terlalu berlebihan telah meninggalkan isterinya hanya karena teka-teki bodoh yang dia sendiri bocorkan. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi ke Timna dan mengunjungi isterinya. Alkitab mencatat bahwa pada saat itu di Timna sedang musim menuai gandum dan Simson pergi sambil membawa anak kambing. Hmm… kelihatannya Simson berniat meminta maaf dengan seekor anak kambing. O man, so sweet… but please, grow up, Dude!

Sesampainya di kediaman wanita itu, Simson hendak masuk ke kamar isterinya. Akan tetapi, ayah mertua Simson melarangnya dan mengatakan salah satu kalimat paling menyakitkan yang pernah Simson dengar.

“Ketika aku melihat kau pergi meninggalkan pesta, aku kira kau begitu benci kepadanya. Oleh sebab itu, aku telah memberikannya kepada salah satu dari tiga puluh orang Filistin yang bersamamu itu. Tetapi, heeyy, siapa bilang itu masalah besar, sebab anakku yang satu lagi, adik isterimu, justru lebih cantik, kau boleh mengambilnya untukmu.”

Kalimat itu seperti hujan meteor di benak Simson. Mungkin seperti ini yang Simson pikirkan. Dia isteriku loch. Dan lebih parahnya lagi, isteriku diberikan kepada pria yang tidak lain adalah salah satu dari tiga puluh orang Filistin yang aku ajak untuk mendampingiku di pesta pernikahan. Tiga puluh orang itu yang memaksa dan mengancam akan membakar isteriku dan keluarganya apabila ia tidak mampu mengorek jawaban dariku tetapi justru salah satu dari mereka yang mengambil isteriku. Parahnya lagi, ya ampun, seharusnya saat itu aku tidak perlu mengotori tanganku dengan membunuh 30 orang tak berdosa di Askelon, seharusnya mereka semua kuhabisi seketika itu juga sehingga tak satupun dari mereka yang mendapatkan isteriku.

Aku tahu Simson adalah orang yang mungkin tidak terlalu pintar dan memang dia gegabah, sombong, dan emosional. Akan tetapi, sebagai seorang manusia, dan terkhusus sebagai seorang pria, aku rasa aku sedikit banyak mengerti betapa hancurnya hati Simson saat itu. Namun, sekalipun aku mengerti kesakitan hatinya, aku tetap saja tidak bisa mengerti betapa tidak sehatnya akal orang kuat yang satu ini. Simson berkata:

Sekali ini aku tidak bersalah terhadap orang Filistin,
apabila aku mendatangkan celaka kepada mereka.

Ada beberapa hal kunci di sini yang memojokkan Simson. Pertama, Simson berkata “sekali ini aku tidak bersalah”. Perkataan ini menandakan bahwa sebenarnya Simson merasakan adanya rasa bersalah ketika dia membunuh orang-orang Filistin. Aku yakin, pada suatu masa dalam hidupnya, Simson pasti merasa guilty karena telah membunuh orang-orang Askelon yang tidak tahu apa-apa. Simson sadar bahwa dia sebenarnya tidak berhak membunuh dengan motivasi dan alasan yang tidak jelas seperti itu. Akan tetapi, dilanda murkanya yang tak terkendali, Simson dengan mudahnya MERASIONALKAN dan MEMBENARKAN motivasinya untuk membalas dendam sehingga dia berkata, “aku tahu bahwa sekarang aku BERHAK mencelakai mereka.”

Kedua, perlu dicatat bahwa Allah memang mengutus Simson untuk memimpin bangsa Israel untuk melawan bahkan membinasakan bangsa Filistin sang penjajah. Dengan demikian, tindakan Simson membunuh orang-orang Filistin tidak serta merta membuat dirinya bersalah di mata Allah. Yang membuatnya salah adalah Simson membunuh mereka bukan demi kepentingan Allah dan bangsa Israel, melainkan demi memuaskan agenda pribadinya sendiri, yakni balas dendam. Camkan baik-baik, rasa dendam, kepahitan, dan amarah manusia tidak akan pernah membuat Allah berkenan. Apapun aksi radikal yang kau lakukan, entah itu ketika kau hendak melawan kejahatan, ketidakadilan, bahkan iblis, pastikan amarahmu bukanlah amarahmu sendiri. Mengapa? Sebab iblis senang dimarahi oleh orang yang mengandalkan kekuatan dan amarahnya sendiri. Itu justru akan semakin memudahkan pekerjaannya.

Hai saudara-saudara yang kukasihi,
ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,
tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
(Yakobus 1:19-20)

Ketiga, pengalaman Simson di Askelon seharusnya membuatnya belajar bahwa melampiaskan kemarahan kepada orang-orang yang tidak bersalah tidak akan pernah membuatnya sampai kepada tujuannya yang sebenarnya. Simson tahu bahwa saat itu adalah musim menuai gandum dan ini memberikan ide padanya. Simson hendak membuat orang-orang Filistin kelaparan dengan membakar ladang gandum mereka.

stock-photo-25952235-samson-burns-foxes-tails

Dia kemudian, entah bagaimana caranya, menangkap tiga ratus anjing hutan, mengikat ekor anjing-anjing itu menjadi beberapa kelompok, dan menaruh obor yang membara di ikatan ekor mereka. Simson kemudian melepaskan gerombolan anjing yang panik itu (aku tetap belum bisa membayangkan bagaimana Simson mengikut ekor-ekor mereka) ke ladang gandum dan kebun pohon zaitun milik bangsa Filistin. Coba tebak! Simson adalah orang pertama yang menemukan sate anjing hutan plus nasi gandum goreng saus minyak zaitun. Anjing malang.

samson_15_05

Sungguh-sungguh kukatakan padamu, ini seperti sinetron, hanya saja lebih buruk. Tidak terlalu lama, orang-orang Filistin segera mengetahui bahwa Simsonlah dalang di balik semua ini. Tidak hanya itu, mereka juga tahu apa latar belakang Simson sebenarnya. Oleh sebab itu, apakah kau bisa menduganya? Benar sekali, orang-orang Filistin itu membalas dendam dengan cara MEMBAKAR ISTERI SIMSON dan ayahnya. Sudah kubilang, balas dendam, apalagi melampiaskannya kepada yang tak bersalah, tidak akan pernah bisa menjadi jawaban malah hanya akan membawamu dari penderitaan yang satu ke penderitaan yang lain. Sangat menyakitkan.

Simson murka dan berkata, “Jika kamu berbuat demikian, sesungguhnya aku takkan berhenti sebelum aku membalaskannya kepada kamu.” Dan dengan pukulan yang hebat, Simson menghajar dan meremukkan tulang-tulang mereka. Selesai membereskan musuh-musuhnya, Simson pergi tinggal dalam gua di bukit batu Etam.

Kau tahu apa yang akan kau dapatkan ketika dendammu terpuaskan?
Kau hanya akan menikmati kemenangan itu di “gua di bukit”
Kau berjuang dalam KESENDIRIAN dan menikmatinya dalam KESEPIAN
Hingga akhirnya kau sadar bahwa kau tidak menang sama sekali
Hancurkan kepahitanmu atau kepahitanmu yang menghancurkanmu!

Ini benar-benar seperti sinetron atau mungkin lebih seperti serial drama Korea Stairway to Heaven (abaikan juga yang ini!). Dari penderitaan yang satu ke penderitaan yang lain, tiada hentinya. Bangsa Filistin kemudian mendatangi bangsa Yehuda, kaum sebangsa Simson. Meskipun tidak ditulis secara eksplisit di Alkitab tetapi kita dapat mengerti situasi yang sebenarnya terjadi saat itu, yakni bahwa bangsa Filistin mengancam dan memaksa bangsa Yehuda untuk menemukan Simson. Jika tidak, mungkin bangsa Filistin akan menindas Yehuda lebih lagi sampai mereka bisa menemukan Simson dan memohon kepadanya untuk menyerahkan diri.

Dan memang itulah yang kemudian terjadi. Orang-orang Yehuda menemukan Simson di gua di Etam. Mereka memohon kepada Simson untuk menyerahkan dirinya agar orang-orang Filistin tidak semakin menganiaya bangsa mereka. Simson meminta mereka berjanji agar mereka sendiri tidak menyerang dan memusuhinya. Bangsa Yehudia menyanggupi janji itu dan berkata bahwa hal paling jauh yang mereka lakukan hanyalah menyerahkan Simson kepada bangsa Filistin.

Ini benar-benar menyedihkan. Mengapa? Karena pria ini adalah Simson. Jika kita membuka halaman-halaman Alkitab sebelumnya, kita akan menemukan Hakim yang lain, yakni Gideon. Sangat berbeda dengan Simson, Gideon adalah orang yang lemah bahkan cenderung rendah diri dan penakut. Tetapi apa yang terjadi pada Gideon? Tuhan berkarya dan mengubah Gideon menjadi PEMIMPIN besar. Hanya dengan 300 pasukan, Gideon mampu memukul mundur ribuan pasukan musuh. Lalu bagaimana dengan Simson? Bukannya menjadi pemimpin, Simson yang super kuat dan percaya diri malah DISERAHKAN oleh kaum sebangsanya sendiri. Bayangkan jika Simson mau tunduk kepada Allah dan menerima karunia memimpin seperti Gideon, entah bakal jadi apalah bangsa Filistin itu?

james-tissot-samson-in-the-caves-of-etam_i-G-14-1453-YNSR000Z

Akhirnya, bangsa Yehuda mengikat Simson dan menyerahkannya kepada bangsa Filistin di Lehi. Dan lihatlah, orang-orang Filistin bersorak-sorak melihat Simson yang menyerahkan dirinya di tangan bangsanya sendiri. Orang-orang Filistin merasa kemenangan sudah ada di tangan mereka, setidaknya mereka sudah mempermalukan Simson habis-habisan. Sayang sekali, mereka tidak tahu Siapa yang sebentar lagi akan mereka hadapi. Bukan siapa, tetapi SIAPA. Mereka tidak menyangka Siapa yang ada di balik Simson dan Siapa yang sebentar lagi akan memerangi mereka. Benar sekali, Allah sudah siap beraksi dan menolong Simson. Sekalipun, Simson jatuh jatuh dan jatuh lagi, Allah tidak meninggalkan dia. Allah tidak lekas membenci Simson.

The LORD is gracious, and full of compassion; SLOW to ANGER, and of great mercy.
(Mazmur 145:8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mari sejenak kita merangkum apa yang terjadi pada Simson. Jadi apa yang sudah kita punya sejauh ini. Kita punya seorang Hakim bangsa Israel yang dianugerahi hukum yang jelas, visi yang spesifik, dan kekuatan luar biasa untuk menggenapi visinya. Kita punya seorang pria yang dikarunia potensi dan kesempatan yang begitu besar untuk menjadi seorang pemimpin besar yang seharusnya bisa membawa bangsanya terlepas dari penjajahan bangsa Filistin.

Akan tetapi, sayang sekali, pria dengan kekuatan luar biasa ini jatuh oleh HAWA NAFSU, KESOMBONGAN, dan AMARAH-nya sendiri. Tidak hanya itu, ketiga hal itu kini bersatu padu membentuk musuh yang lebih besar lagi, mereka kini menjelma menjadi SAKIT HATI dan DENDAM. Dan apakah yang bisa dilakukan oleh semua dosa itu terhadap seorang Simson?

  • Membuat Simson membunuh 30 orang tak bersalah di Askelon dan membiarkan 30 orang yang seharusnya dia habisi saat itu juga
  • Merenggut isteri Simson dan memberikannya kepada salah satu dari 30 pria yang seharusnya Simson bisa dia habisi
  • Membuat Simson kembali melampiaskan amarah kepada orang-orang tak bersalah dengan merusak kebun dan ladang mereka
  • Membuat isteri Simson dan ayah mertuanya dibakar oleh orang Filistin
  • Membuat Simson bersembunyi dan menyendiri di sebuah gua, ALONE
  • Membuat Simson diserahkan oleh bangsanya sendiri, FOREVER ALONE

Kesimpulanku:

Hancurkan KESOMBONGAN-mu
Atau kesombonganmu akan membuatmu FOREVER ALONE!

dan

Hancurkan rasa SAKIT HATI dan DENDAM di hatimu
Atau keduanya akan MENGHANCURKAN engkau

Aku percaya bahwa hawa nafsu, kesombongan, sakit hati, dan amarah akan membawamu kepada kehancuran. Tetapi satu hal, aku lebih percaya lagi bahwa kasih Allah kepada umat-Nya tidak pernah berkesudahan. Aku tahu dosa bisa membawa penderitaan tetapi aku lebih percaya lagi bahwa kasih Allah itu lebih besar dari seluruh dosa dari segala zaman dikumpul menjadi satu. Aku percaya dan aku sadar bahwa aku adalah orang berdosa tetapi aku lebih percaya lagi bahwa aku dikasihi Tuhan dan berharga di mata-Nya. Dan aku tahu, bahwa pada saat-Nya yang indah, Allah akan menolongku. Sekalipun dosa sudah siap menyerahkanku kepada penderitaan, aku yakin bahwa di detik-detik terakhirpun, Allahku sanggup membebaskanku.

Aku tahu bahwa setan senang membuat orang kuat menjadi lemah. Tetapi aku percaya bahwa Allahku senang membuat orang lembah menjadi kuat.


Bersambung: Ketika Seorang Kuat Butuh Pertolongan

3. Ketika Seorang Kuat Sombong dan Emosional

3. Ketika Seorang Kuat Sombong dan Emosional

And the story goes

Suatu ketika, tibalah saatnya Simson untuk menikahi sang wanita Filistin. Sebagaimana budaya anak muda di daerah tersebut, Simson mengadakan perjamuan. Kita perlu lebih teliti sedikit di sini. Kata “perjamuan” di sini berasal dari bahasa Ibrani ”mishteh” yang berarti “minum”. Sekarang aku memohon kepada engkau, setiap pembaca, tolong tegur dan koreksi pemikiranku sebab aku tidak bisa membayangkan jenis minuman lain yang dihidangkan di pesta itu selain ANGGUR. Dugaanku ini semakin dikuatkan oleh fakta bahwa di sekitar situ ada perkebunan anggur. Aku tidak mau terus-menerus menyalahkan Simson tapi aku terlalu curiga bahwa Simson lagi-lagi, dengan terang-terangan, melawan Allah dengan mengadakan pesta minum anggur yang mana seharusnya dia tidak melakukan hal tersebut sebab dia adalah nazir Allah.

Jadi apa yang sudah kita punya di sini? Kita punya seorang pria yang begitu luar biasa diberkati tetapi yang telah menodai dua janji nazarnya, yakni untuk tidak menyentuh bangkai dan untuk tidak meminum anggur. Perlu dicatat bahwa Simson melanggar keduanya bukan karena ada satu atau beberapa orang yang memaksanya untuk melanggar janji tersebut, Simson memilih untuk melakukan itu berdasarkan keinginannya sendiri, keinginan yang bodoh. Kini hanya tersisa satu hukum yang belum dilanggar oleh Simson. Benar, Simson masih menjaga rambutnya.

Di antara ketiga peraturan kenaziran, peraturan mengenai rambut merupakan peraturan yang paling mencolok. Tidak semua orang bisa melihat apakah Simson tidak menyentuh bangkai atau tidak. Sama dengan itu, tidak semua orang bisa menghakimi ketaatan Simson dalam hal mengonsumsi anggur. Tetapi semua orang bisa mengenal bahwa Simson adalah seorang nazir melalui rambutnya. Jika rambutnya pendek, berarti dia tidak lagi menjadi seorang nazir entah apapun alasannya, as simple as that. And guess what? Simson benar-benar menjaga rambutnya tetapi pada saat yang sama dia sebegitugampangnya melalaikan dua peraturan yang lain. Oohh, aku mencium aroma kesombongan di sini.

Simson adalah tipe orang yang lebih mengutamakan APA YANG NAMPAK DI LUAR
*Dan kita melakukan hal yang sama setiap hari!

Di dalam hawa nafsunya, Simson mengambil madu dari bangkai singa itu
Di dalam KESOMBONGANNYA, Simson mengadakan pesta minum anggur itu

Mengapa aku berani mengatakan Simson sombong? OK, mungkin akan ada beberapa dari antara kita yang membela Simson dan menganggap bahwa Simson tidak sombong melainkan hanya yakin bahwa Allah menyertai dia. Baik, anggaplah Simson tidak sombong. Tetapi kalau benar Simson tahu bahwa Allah menyertai dia dan kalau dia sadar diri bahwa dia membutuhkan penyertaan Allah, pastilah Simson tidak akan mengambil wanita itu sebagai isteri dan dia tidak akan mengadakan pesta sebagai bentuk pergaulan dengan orang-orang Filistin.

Kesimpulanku bulat di sini:
Ooohh Kawanku, Simson benar-benar adalah seorang pria yang DIPENUHI KESOMBONGAN

Dan kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh kesombongan untuk menghancurkan hidup seseorang? Baik, kembali ke kisah Simson! Simson kemudian membuat suatu teka-teki. Jika orang-orang Filistin itu bisa memecahkan teka-teki itu dalam tujuh hari selama perjamuan itu berlangsung, maka Simson akan memberikan kepada mereka tiga puluh pakaian lenan dan tiga puluh pakaian kebesaran. Tetapi jika mereka gagal, maka merekalah yang harus memberikan tiga puluh pakaian dalam dan tiga puluh pakaian kebesaran kepada Simson. Merekapun setuju dan Simson menanyakan teka-tekinya:

Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.

samson_bible__image_5_sjpg1037
Simson berbicara tentang madu yang ada di bangkai singa itu. Fantasi Simson terlalu tinggi mengenai prestasinya. Di alam pikiran Simson, Simson membayangkan bagaimana dia bisa membodohi orang-orang dari bangsa musuh itu. Simson sudah membayangkan bagaimana dia akan menunjukkan bangkai beserta madu itu kepada mereka dan berkata, “See? Ini bangkai dari singa yang aku bunuh dengan tanganku sendiri loch. Lihatkan bagaimana istimewanya bangkai ini, kau bahkan bisa mengambil madu darinya.”

Kita perlu lebih teliti di sini. Sebelumnya, Simson belum pernah berurusan, dalam hal adu fisik, dengan orang-orang Filistin. Itulah sebabnya mengapa Simson merasa perlu membuat teka-teki itu supaya Simson bisa menunjukkan bahwa dia adalah orang yang cukup kuat untuk menghancurkan seekor singa dengan tangan kosong. Simson ingin menegaskan kepada semua orang betapa hebat, kuat, dan berbahayanya dirinya. Simson ingin mengancam mereka dan memberi alarm, “Dude, you don’t want to get hurt!” Di benak Simson, Simson membayangkan ketiga puluh pria itu memegang kedua pipi mereka, memiringkan sedikit kepala mereka, melingkarkan bibir mereka, dan berkata, “Kyaaa, Simson kereeeen.”

Simson TERLALU BANGGA atas pencapaian-pencapaiannya
Simson ingin membangun citra dirinya di atas kesuksesan-kesuksesannya

*Dan kita melakukan hal yang sama setiap hari!

Orang-orang Filistin kesulitan memecahkan teka-teki itu. Mereka kemudian mendatangi isteri Simson dan mengancam akan membakar dia dan seisi rumahnya apabila wanita itu tidak mampu mengorek jawaban atas teka-teki itu dari Simson. Nah, jika ada salah satu konsekuensi dari kisah cinta yang terlalu buru-buru, inilah salah satunya. Wanita itu tidak kenal siapa suaminya yang sebenarnya.

Wanita itu kurang mengenal seberapa kuatnya Simson. Wanita itu tidak tahu bahwa seharusnya dia dan seluruh keluarganya akan aman bersama Simson. Tiga puluh orang itu bahkan bukan ancaman sama sekali bagi Simson. Seandainya wanita itu menceritakan ancaman mereka kepada Simson, Simson pasti akan langsung menghabisi mereka, so simple. Akan tetapi, karena wanita itu belum mengenal Simson, wanita itu ketakutan.

Simson mengambil seorang wanita menjadi isteri tanpa mengenal dia sebelumnya
*Dan banyak pernikahan hancur karena hal yang sama!

Dihantui ketakutannya, wanita itu kemudian terus merayu Simson untuk memberikan jawaban atas teka-tekinya. Capai hati mendengar rengekan isterinya, Simson akhirnya membeberkan rahasianya. Setelah mendengar jawaban tersebut, isteri Simson yang bahkan namanya tidak dicatat di Alkitab ini, memberitahu semuanya kepada orang-orang Filistin.

“Apakah yang lebih manis dari pada madu? Apakah yang lebih kuat dari pada singa?”

Kaget mendengar jawaban dari orang-orang Filistin itu, Simson sadar bahwa fantasinya untuk menerima pujian “kyaaa” dari mereka telah sirna. Tidak cuma itu, Simson merasa malu karena teka-teki besarnya bisa dipecahkan di depan semua orang. Bukankah itu menghancurkan harga diri? Akhirnya, kesombongan kecil berevolusi menjadi kemarahan besar. Di dalam hatinya, Simson berpikir:

“Jika aku tidak mendapatkan respect dari mereka dengan cara itu,
maka aku akan merebut perhatian mereka dengan cara yang lain.”

Dengan amarah yang merajalela, Simson pergi ke Askelon. Apa yang hendak dia lakukan di sana? Bukankah orang-orang yang membuatnya marah ada di hadapan dia saat itu? Mengapa dia pergi ke Askelon? Apakah dia merajuk seperti seorang anak kecil? TIDAK. Simson tidak sepolos itu. Malahan pria ini adalah pria liar yang terlalu berbahaya sebab dia tidak mampu menguasai dirinya. Di Askelon, Simson membunuh 30 orang yang TIDAK BERSALAH. Tidak hanya itu, dia menelanjangi mayat-mayat itu dan memberikan pakaian mereka ke tiga puluh orang Filistin yang mampu menebak teka-tekinya. Belum reda dalam murkanya, Simson kembali ke kampung halamannya, meninggalkan semua orang termasuk mempelainya. Dan karena bingung melihat sikap dan kepergian Simson di tengah-tengah pesta, ayah wanita itu akhirnya menikahkan sang wanita dengan pria lain. Disaster!

Aku sambung pertanyaanku yang sempat terputus tadi. Kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh kesombongan untuk menghancurkan hidup seseorang? Kesombongan akan membawamu pada amarah yang meledak-ledak, kesombongan akan menyeretmu untuk menyalahkan orang lain, kesombongan akan membuatmu menyakiti orang lain, kesombongan akan memaksamu meninggalkan orang-orang yang kau sayangi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kuberitahu satu hal padamu, Kawan:

Kau hancurkan kesombonganmu
Atau kesombonganmu yang akan menghancurkan engkau

Kesombongan membuat Simson mendewakan penampilan luarnya. Bagi Simson, selama rambutnya masih panjang, berarti dia baik-baik saja. Kesombongan membuat Simson terlalu mengandalkan penampilan dan kemampuannya. Kesombongan membuat dia merasa aman di balik apa yang nampak di luar, dia bersembunyi di balik rambutnya. Kesombongan membuat Simson melupakan Allah.

Ini persis seperti setiap kita. Kita bersembunyi di balik wajah tampan/cantik kita. Selama wajah kita menarik, kita baik-baik saja. Kita bersembunyi di balik keagungan jurusan dan jaket himpunan kita. Kita merasa aman di balik prestasi kita yang setinggi langit. Kita merasa terjaga di dalam kekayaan kita. Kita menjadikan kemampuan kita sebagai tembok penyelamat kita. Kita menyerahkan nilai diri kita di balik profil picture kita yang kita pastikan sebaik mungkin. Kita membangun image kita melalui dunia maya. Pelayanan kita, karunia roh yang kita miliki, kesalehan kita, talenta kita, apapun, semuanya bisa menjadi akar dari kesombongan.

Itu semua akan berakhir sia-sia. Simson bukanlah rambutnya. Sama dengan itu, wajahmu bukan dirimu sepenuhnya apalagi profile picture-mu. Foto-foto hanyalah cetak digital dari seseorang, itu bukan dia yang sesungguhnya. Penampilanmu, prestasimu, kemampuanmu, kekayaanmu, apapun yang ada padamu bukanlah dirimu sepenuhnya. Oleh sebab itu berhentilah menggantungkan semua identitasmu kepada semua itu. Berhentilah menjadi sombong.

Kesombongan membuat Simson membuat teka-teki itu. Simson membuat teka-teki itu karena dia ingin menunjukkan kepada semua orang tentang singa yang telah dibunuhnya dan hal luar biasa apa yang ada di balik prestasinya itu. Simson haus akan pengakuan. Simson haus akan penghormatan. Simson ingin dikenal sebagaimana dia ingin dikenal. Semua kesombongan berasal dari kebutuhan untuk diakui. Dan kebutuhan untuk diakui adalah tanda dari seseorang yang insecure.

Pride always comes from insecurity

Oleh sebab itu, jika kau merasa kau sedang butuh untuk diakui atau dikenal, cobalah selidiki dirimu. Kau perlu menemukan bagian mana dari dirimu yang sedang merasa insecure. Kau harus mencari bagian dari hatimu yang masih kosong. Dan ketahuilah, kau tidak bisa mengisi kekosongan itu dengan mengharapkan orang lain yang memenuhinya. TIDAK. Ciptaan tak akan pernah bisa memuaskanmu. Penciptamulah yang bisa melakukannya.

Newton

Kita tidak pantas atas apapun. Satu-satunya yang pantas kita terima adalah kematian dan neraka. Jangan anggap diri kita terlalu tinggi. Kita tidak layak, Teman-teman. Siapakah kita ini? Bahkan kita bisa menjadi bukan seorang pembunuh itu hanya karena kasih karunia. Kalau bukan Allah yang menangkapku dalam kasih-Nya, mungkin aku akan menjadi seorang pencuri atau pembunuh saat ini. Oleh karena itu, jika aku bisa melihat diriku diberkati seindah ini, bahkan dosaku diampuni, bahkan lebih lagi aku dikasihi Tuhan, untuk apa lagi aku mencari pemenuhan dari orang-orang lain? Apalah artinya pujian mereka dibanding kasih Tuhanku?

Kesombongan membuat Simson rentan untuk marah. Tidak cuma itu, dia menyalahkan semua orang. Merasa gagal karena tidak berhasil mendapat simpati dari bangsa Filistin, Simson menyalahkan semua orang. Dia menyalahkan isterinya dan menyebutnya “lembu betina” (ayat 18b). Dia menyalahkan 30 orang tidak bersalah di Askelon. Dia menyalahkan 30 orang licik yang mengancam isterinya. Dia menyalahkan semua orang di pesta pernikahan itu. Simson menganggap dirinya benar dan orang lainlah yang pantas disalahkan atas kegagalan dirinya. Simson terlalu buta dalam kesombongan dan amarahnya sebab seandainya saja dia cukup rendah hati, dia akan sadar kalau semua ini tidak akan terjadi KALAU DIA TIDAK BODOH.

Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga,
tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.
(Amsal 12:16)

Ini persis dengan kita. Terlalu mudah menemukan kesalahan pada orang lain tetapi terlalu sulit menemukan kesalahan diri sendiri. Andaikan aku memberimu 10 pertanyaan dan memintamu memberi poin 1 apabila kau merasa sombong di pertanyaan itu dan memberi poin 0 jika sebaliknya. Apakah hasil yang akan kita punya? Jika total poinmu adalah 1-10, maka kau adalah orang yang sombong. Tetapi jika poinmu 0, kau adalah orang yang SUPER SOMBONG. Bukankah begitu? Kesombongan adalah hal yang sangat sulit dideteksi, oleh sebab itu banyak orang menilai bahwa kesombongan adalah salah satu dari 7 dosa yang paling berbahaya.

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu,
maka engkau akan melihat dengan jelas
untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.
(Lukas 6:42)

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita persis seperti Simson? Apakah kita mengutamakan apa yang nampak di luar sementara bobrok di dalam? Apakah kita terlalu haus akan pengakuan? Apakah kesombongan kita berasal dari insekuritas? Apakah kita mendapati diri kita terlalu mudah menyalahkan orang lain dan selalu menganggap diri benar? Well, apapun jawabannya, ingatlah ini baik-baik:

Capture
Jadi apakah kau ingin menjadi orang yang kuat di dalam kekuatanmu sendiri? Dan kuberi tahu padamu, iblis akan sangat senang mendengar hal tersebut. Atau kau akan memutuskan untuk mengakui kelemahan dan ketidakberdayaanmu di hadapan Allah, dan sebagai gantinya memberi dirimu dipimpin sepenuhnya oleh Dia. Itu terserah padamu.

Spurgeon

~Bersambung ke: Ketika Seorang Kuat Sakit Hati dan Mendendam

2. Ketika Seorang Kuat Jatuh Cinta

2. Ketika Seorang Kuat Jatuh Cinta

Pertama-tama aku meminta maaf sebab judul yang tertera di atas, sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan pesan yang sebentar lagi akan kita pelajari bersama. Aku hanya berpikir, “Ya sepertinya judul ini bagus” sehingga aku menjadikannya judul. Mungkin seharusnya aku mengganti judul itu dengan:
Ketika Seorang Kuat Jatuh dalam Cintanya

Oh maaf, itupun belum cukup akurat. Inilah pesan yang sebenarnya aku maksud:

Ketika seorang kuat jatuh pada apa yang dia kira sebagai cinta

Suatu kali Simson pergi ke Timna. Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan Simson di teritori musuh itu. Yang aku tahu adalah dia seharusnya tidak melakukan apa yang sebentar lagi dia perbuat, jatuh cinta kepada seorang wanita Filistin. Iapun menghadap kepada kedua orangtuanya dan berkata:

“Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin.
Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.” (Hakim-hakim 14:2)

Orangtua Simson tentu saja menolak permintaannya. Perkawinan campur antara bangsa Israel dengan penduduk asli tanah Kanaan adalah hal yang sangat ditentang oleh Allah. Allah ingin bangsa-Nya memisahkan diri dari bangsa-bangsa lain sebab interaksi dengan mereka hanya akan membawa Israel lebih dekat kepada dewa-dewa pujaan mereka dan berakhir pada penyembahan berhala. Larangan ini dicatat di Yosua 23:11-13.

Sebab jika kamu berbalik dan berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini yang masih tinggal di antara kamu, kawin-mengawin dengan mereka serta bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu, maka ketahuilah dengan sesungguhnya, bahwa TUHAN, Allahmu, tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu dari depanmu.

Tetapi mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

Sebagai seorang nazir Allah, Simson pasti tahu benar mengenai peraturan tersebut dan firman Tuhan juga mencatat bahwa hal yang sama juga ditekankan oleh orangtuanya. Akan tetapi,  bagaimana Simson menanggapi firman Allah dan perkataan orangtuanya itu? Dia berkata:

Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.” (Hak. 14:3)
Get her for me. She’s the right one for me.” (NIV)

Simson tidak peduli. Simson melupakan perintah Allahnya. Simson menjadi buta oleh cintanya sendiri. Simson baru saja melihat wanita itu loch tetapi dia sudah menyimpulkan bahwa wanita itulah yang benar untuk dia. Simson belum mengenal siapa wanita ini dan bagaimana dia bersikap, tetapi Simson sudah jatuh hati kepadanya. Simson bersedia menukar Allah yang dia kenal sejak kecil dengan wanita Filistin yang bahkan belum dia kenal. Betapa bodohnya lelaki kuat yang satu ini.

Bagi Simson, yang paling penting adalah:
Aku mau dia!
Aku butuh dia!
Aku harus memiliki dia!
Aku cinta dia!
Aku tidak peduli apapun kecuali memiliki dia saat ini juga!

Bagi Simson, wanita itu adalah pujaan hatinya. Simson menyukai wanita itu dan menganggap apa yang dia rasakan sebagai cinta. Tetapi apakah benar itu cinta? Apakah Simson mengalami apa yang orang banyak sebut sebagai cinta pada pandangan pertama? TIDAK. Aku yakin tidak. Apa yang Simson rasakan bukanlah cinta, melainkan hawa nafsu. It’s not LOVE, It’s LUST.

Dan itulah yang dilakukan oleh Simson, seorang nazir Allah. Itulah yang dilakukan oleh seorang pria, yang dianugerahi potensi yang begitu besar untuk menciptakan suatu perubahan di dunia ini. Itulah yang dilakukan oleh lelaki yang telah diberkati luar biasa oleh Allah dengan hukum yang jelas, visi yang jelas, dan kekuatan yang luar biasa besar, tetapi yang ditaklukkan oleh “cinta”-nya sendiri.

Tetapi cerita cinta ini belum berakhir. Suatu hari pergilah Simson bersama kedua orangtuanya ke Timna. Ketika mereka berada di daerah kebun-kebun anggur, nampaknya Simson terpisah dengan ayah dan ibunya. Sendirian, tiba-tiba datanglah seekor singa menyerang Simson. Lalu apa yang terjadi? Mimpi buruk bagi singa tersebut sebab dengan kekuatan Allah Simson mampu mencabik-cabiknya seperti orang yang mencabik anak kambing.

bible, samson, true freethinker, apologetics,,

Ada hal yang menarik di sini. Alkitab menambahkan keterangan bahwa Simson tidak menceritakan kejadian itu kepada kedua orangtuanya. Mengapa dia tidak menceritakannya? Karena Simson baru saja melanggar satu hukum kenaziran. Benar, Simson baru saja memegang bangkai yang tidak lain adalah bangkai dari singa yang dibunuhnya.

Simson tahu bahwa dia telah melanggar hukum. Simson tahu dia sedang berada dalam keadaan najis tetapi dia tidak mau menceritakannya kepada orangtuanya. Aku tidak tahu sepenuhnya alasan mengapa Simson merahasiakannya tetapi apapun alasan Simson, dia jelas-jelas melawan kehedak Allah sebab di ayat-ayat berikutnya tidak disebutkan sama sekali itikad baik Simson untuk melakukan ritual penebusan dosa karena telah memegang bangkai (baca Imamat 5).

Seperti anjing kembali ke muntahnya,
demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.
~ Amsal 26:11

Tanpa niat menghakimi, aku rasa ayat itu benar-benar cocok untuk menggambarkan Simson. Lelaki ini tidak belajar dari kesalahannya sebelumnya, malahan kembali melakukan kesalahan yang sama. Setelah beberapa waktu, Simson kembali ke Timna untuk bertemu dengan wanita Filistin itu. Di perjalanan, dia ingin melihat seperti apa bentuk dari bangkai singa itu setelah ditinggalkannya. Dan entah ada angin apa, kini bangkai itu menjadi sarang lebah dan sarang madu. Kau tahu apa yang melintas di benak Simson saat melihatnya? Simson lagi-lagi dilanda oleh HAWA NAFSU.

Aku mau madu itu!
Aku butuh madu itu!
Aku harus memiliki madu itu!
Aku tidak peduli apapun kecuali memiliki madu itu saat ini juga!

Bersama hawa nafsunya yang meledak-ledak dan tak terkendali, Simson seperti kehilangan akal sehatnya. Dia kemudian mendatangi bangkai itu, mengusir lalat yang beterbangan, menggeser beberapa daging busuk dan belatung sehingga dia bisa meraih madu tersebut, persis seperti orang yang ingin mengambil buah durian. Dikeruknya madu itu ke dalam tangannya dan sambil memakannya, ia berjalan terus. Sesampainya kepada ayah dan ibunya, Simson memberikan madu itu kepada mereka. Simson sekali lagi menyembunyikan fakta bahwa dia baru saja, dalam keadaan sadar, jelas-jelas menyentuh bangkai yang najis itu dan bukan cuma itu, dia juga turut menajiskan kedua orangtuanya yang memakan madu itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sekarang mungkin dua pertanyaan besar timbul di benak kita semua. Izinkan aku mengangkat keduanya di sini.

Orang bodoh macam apa yang sekalipun diberkati sedemikian melimpahnya tetapi rela menyangkal Allahnya hanya demi seorang wanita penyembah berhala yang bahkan baru saja dilihatnya?

Orang bodoh mana yang walaupun telah dianugerahi potensi yang luar biasa tetapi berani menentang Allah dan melanggar sumpah nazirnya hanya demi madu bodoh yang menjijikkan?

Pertanyaan itu sangat relevan untuk dipertanyakan dalam hal Simson ini, bukan? Tetapi camkan ini dengan baik, izinkan aku menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan satu jawaban untuk mewakili kita semua. Kita bertanya, “orang bodoh macam apa, orang bodoh mana?”, dan jawabannya adalah:

…KITA SEMUA…

Benar, kita semua menggambarkan Simson itu. Kita semua adalah Simson-Simson masa kini. Kita telah diberkati luar biasa oleh Allah, tetapi ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang, kita melupakan Dia. Kita menendang Dia dari tahta tertinggi dalam hati kita kemudian mempersembahkan bangku kosong itu untuk sebuah benda atau untuk seorang manusia yang berdosa.

Aku mau dia menjadi pacarku!
Aku mau gadget itu!
Aku harus mendapatkan nilai A!
Aku harus menjadi presiden!
Aku harus terkenal!
Aku harus menang!

Aku menginginkannya!
Aku haus akannya!
Aku membutuhkannya!
Aku mencintainya!
Tuhan jangan halangi aku, berikan itu padaku, serahkan itu padaku sekarang!!!

 

Hati-hati menyebut sesuatu sebagai cinta. Sangat besar, bahkan terlalu besar, kemungkinan apa yang kita kira sebagai cinta bukanlah cinta melainkan HAWA NAFSU. Hawa nafsu tidak selalu melibatkan hal-hal seksual. Kita bisa berhawa nafsu akan uang, jabatan, prestasi, pengakuan, ketenaran, bahkan pelayanan. Hawa nafsu melibatkan segala hal, yang untuk mendapatkannya, kita menjadi kehilangan akal sehat dan pengendalian diri.

Hawa nafsu melibatkan segala hal,
yang apabila kita tidak bisa memilikinya, maka kita kehilangan sukacita.

Adalah suatu hal yang lucu dan amazing ketika kita melihat seseorang yang begitu terobsesinya akan sesuatu atau seseorang, sampai-sampai orang itu melakukan hal-hal yang bodoh. Apabila kau menceritakan padaku kisah-kisahmu saat kau dilanda hawa nafsu, aku pasti akan berkata padamu, “Bro, bagaimana mungkin kau bisa sebodoh itu?” Dan apabila aku menceritakan kisahku padamu, kaupun pasti akan berkata, “Richard, aku tidak percaya kau bisa sebodoh itu!”

  • Sara melakukan kebodohan karena di dalam hawa nafsunya untuk memiliki anak, ia kehilangan akal sehat dan merelakan suaminya untuk bersetubuh dengan Hagar, budaknya.
  • Esau melakukan kebodohan karena di dalam hawa nafsunya untuk mendapatkan masakan kacang merah buatan Yakub, ia kehilangan akal sehat dan merelakan hak kesulungannya.
  • Rahel melakukan kebodohohan karena di dalam hawa nafsunya untuk memiliki anak, ia iri pada Lea, kakaknya, dan merelakan suaminya untuk bersetubuh dengan Bilha, budaknya.
  • Simson melakukan kebodohan, Daud melakukan kebodohan, Salomo melakukan kebodohan, dan banyak kisah bodoh lain sedang berlangsung hingga hari ini

Banyak orang berkata bahwa “Semua orang bodoh dalam hal cinta.” Akupun pernah setuju akan hal itu dan menjadikannya pembenaran untuk melakukan hal-hal bodoh yang kusangka adalah cinta. Kini dengan berani dan yakin aku menentang hal itu. Itu bukan cinta, itu hawa nafsu. Cinta sejati tidak membuatmu bodoh dan kehilangan kendali. Allah sangat mengasihi manusia tetapi Dia menahan diri untuk tidak buru-buru mengambil umat-Nya dari dunia ini.

Cinta tidak membuat bodoh. Apa yang membuatmu bodoh sebenarnya adalah hawa nafsumu. Hawa nafsu yang membuatmu mengikuti keinginanmu sendiri dan mengabaikan Allah. Hawa nafsu yang menimbulkan pembenaran diri dalam hatimu sehingga kau pikir menonton film-film komedi romantis berbumbu seks adalah hal yang menyenangkan hati Allah. Hawa nafsu yang membuatmu mengabaikan kesehatan demi mendapatkan nilai yang baik atau karir yang tinggi yang pada akhirnya tidak akan kau kenang dalam masa tuamu. Hawa nafsumu yang membuatmu membeli semua gadget yang kau inginkan, atau berlibur kemana saja kau mau, tetapi ketika melihat orang miskin engkau enggan memberi seribu rupiahpun. Uangmu bukan milikmu, Teman!

Aku percaya bahwasanya untuk menjadi seorang pemimpin sejati, kita harus memiliki kedisiplinan dalam dua hal, yakni DISIPLIN WAKTU dan DISIPLIN HATI. Dan karena mata adalah jendela hati, maka untuk mendisiplinkan hati, kita harus terlebih dahulu MENDISIPLINKAN MATA kita. Yesus berkata jangan sampai mata itu menyesatkan kita dan Dia memberikan kiasan bahwa adalah lebih baik mata itu dicungkil saja daripada mata itu menyesatkan seseorang.

Aku tidak tahu seberapa disiplin Simson dalam hal waktu tetapi aku punya dugaan yang kuat Simson tidak mendisplinkan matanya. Dan coba tebak! Semua hal di atas barulah awal dari kejatuhan Simson Sang Nazir Allah.

Lalu bagaimana dengan kita masing-masing? Sudahkah kita menjaga hati kita? Sudahkah kita mendisiplinkan mata kita? Sudahkah kita menjadikan Dia sebagai Allah dan Raja di dalam tahta hati kita? Ataukah kita terus menerus melakukan kesalahan yang sama?

Apakah kita sedang menginginkan seseorang atau sesuatu dengan begitu bernafsunya sampai-sampai kita tidak bisa merasakan sukacita sebelum bisa mendapatkannya? Dan bagaimana jika kita mengingat-ingat segala hal yang terjadi di masa lalu. Bisakah kita mengingat momen-momen di mana kita penuh hawa nafsu dan merasionalkan segala sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan kini kita bisa berkata bahwa itu semua bodoh? Mari, kita bercermin dari kisah ini!


~Bersambung ke: Ketika Seorang Kuat Sombong dan Emosional