Penciptaan Dunia dan Kelahiran Baru

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Bumi belum berbentuk dan kosong;
gelap gulita menutupi samudera raya,

dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
(Kejadian 1:1-4)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pada firman ini, Musa, di bawah tuntunan Roh Kudus, menulis tentang penciptaan dunia ini. Musa mencatat bahwa pada mulanya, bumi belum memiliki bentuk yang jelas serta kosong. Tidak ada sumber terang yang menyinari dunia sehingga seisi jagad raya diselimuti oleh kegelapan.

Dan di saat Allah hendak membentuk bumi dan menata seluruh antariksa, Roh Allah bekerja. Allah kemudian berfirman, “Jadilah terang!”, maka terang yang berasal dari Allah sendiri bergerak ke segala arah dan menerangi alam semesta. Allah melihat bahwa terang itu baik kemudian dipisahkan-Nyalah terang dari kegelapan.

Itu adalah sejarah bagaimana Allah menciptakan jagad raya ini. Namun, dari kacamata Firman Allah, kita dapat melihat kemiripan cara kerja Allah menciptakan dunia ini dengan cara-Nya bekerja untuk melahirkan seseorang kembali menjadi manusia baru.

Sebelum Allah melahirbarukan seseorang, orang itu adalah orang yang mati di dalam dosa-dosanya (Efesus 2:1). Seluarbiasa apapun hidup yang dijalani oleh orang itu dari kacamata dunia, hidupnya adalah hidup yang tidak berbentuk dan kosong dari kacamata rohani. Seindah apapun hidup yang dialami oleh orang yang demikian, hidupnya adalah kegelapan (Efesus 5:8). Keadaan orang yang belum diselamatkan oleh Allah sama dengan keadaan bumi sebelum Allah menatanya: tidak berbentuk, kosong, dan gelap gulita.

Namun, ketika Allah hendak menyatakan kasih-Nya dan menyelamatkan orang tersebut, maka Ia mengutus Roh-Nya untuk bekerja (Yehezkiel 36:26). Roh Kudus pun menjamah orang itu untuk menganugerahkannya kelahiran baru (Yohanes 3:3 & 8).

Roh Kudus bekerja sebagaimana Ia pernah bekerja di dalam penciptaan alam semesta. Melalui Roh Kudus, Allah berfirman, “Datanglah Terang!” dan Terang itupun datang ke dalam hati orang tersebut. Terang itu bercahaya dan menyingkirkan kegelapan dari hati orang tersebut dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yohanes 1:5).

Terang itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Sebagaimana penciptaan dunia diawali dengan datangnya terang, hidup yang sejati selalu diawali dengan kehadiran Tuhan Yesus Kristus. Dialah yang menata hidup manusia yang semula tidak berbentuk dan memberinya tujuan hidup yang sejati. Dialah yang mengisi hati manusia yang semula kosong dan mengisinya dengan Sang Air Hidup (Yohanes 4:10, 7:38). Dialah yang menerangi hati manusia yang awalnya gelap gulita dengan terang-Nya yang ajaib (1  Petrus 2:9).

“Allah melihat terang itu baik… ”
Ya, Tuhan Yesus itu baik, bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya (Mazmur 118:1).

“… lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.”
Ya, barangsiapa mengikut Dia, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12). Ia tidak akan berjalan menuju kegelapan, melainkan sebagaimana perkataan Tuhan Yesus Kristus:

“ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”
(Yohanes 3:21)

Orang yang telah diselamatkan akan selalu datang kepada terang supaya menjadi nyata di hadapan semua orang bahwa setiap perbuatan baik yang ia kerjakan dilakukannya menurut kehendak Allah dan dengan kekuatan Allah (Filipi 2:13). Dengan demikian, bukanlah dia yang akan mendapat kemuliaan, melainkan Bapa di sorgalah yang menerima pujian, hormat, dan kemuliaan (Matius 5:16).

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah, dan bagi Kristus, dan bagi Roh Kudus. Amin.

Advertisements

Siapakah Orang Kristen yang Sejati?

Bagi saya ini merupakan hal yang paling penting dan mendesak di seluruh dunia:
“Apakah seorang Kristen itu?”

Dan saya yakin bahwa jawabannya adalah:
seorang Kristen adalah seseorang yang dideskripsikan pada Yohanes 1:16 di mana Yohanes berkata:

“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”

Dan inilah pertanyaan besarnya:
“Apakah kita orang yang demikian?”
“Apakah kita pria dan wanita yang telah menerima kasih karunia demi kasih karunia dari Tuhan kita Yesus Kristus?”

~ Martyn Lloyd Jones ~
Dalam khotbahnya yang berjudul “The Church and the World”

Kelahiran Baru

Yesus menjawab, kata-Nya:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali,
ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
(Yohanes 3:3)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MLJ 2

Martyn Lloyd Jones berkata, “Tanda pertama dari kehidupan rohani adalah merasa bahwa kau mati.” Apakah yang Lloyd Jones maksud dengan hal tersebut? Di sini, ia membuat pernyataan yang sangat penting dan tegas. Ia sedang berbicara tentang kelahiran baru.

Kelahiran baru, jika yang kita maksud adalah kelahiran baru yang Alkitabiah, merupakan mujizat paling  besar yang Allah lakukan di dalam hidup manusia. Ya, mujizat terbesar yang Allah lakukan bukanlah ketika Ia membelah Laut Teberau melalui Musa, atau ketika Ia menurunkan api yang membakar habis korban yang disiapkan Nabi Elia, atau ketika Ia menguatkan Simson untuk menaklukkan seribu orang Filistin hanya dengan rahang keledai, atau ketika Tuhan Yesus menyembuhkan begitu banyak orang dari berbagai penyakit, melainkan ketika Allah menganugerahkan kelahiran baru kepada orang berdosa. Mengapa demikian? Allah berfirman melalui Nabi Yehezkiel:

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu
dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras
dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu
dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku
dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu
dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.

Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu
dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya,
dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu.”
(Yehezkiel 36:26-29)

Ketika Allah melahirbarukan seseorang, Allah memerdekakan orang tersebut dari hati yang keras. Hati yang keras tidak lagi berkuasa dan berdaulat atas orang tersebut sebagaimana yang terjadi sebelum orang tersebut diselamatkan. Pada titik ini, manusia lama dari orang tersebut mati. Paulus menjelaskan, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. (Roma 6:6-7).”

Namun, sekalipun hati yang keras itu sudah dimatikan atau manusia lama itu sudah disalibkan, hal ini tidak berarti bahwa manusia telah sepenuhnya terbebas darinya. Tidak. Manusia hanya akan benar-benar terbebas dari pengaruh dosa ketika manusia telah berada di sorga di mana tidak ada lagi dosa atau efek dari dosa. Ketika manusia mengalami lahir baru oleh anugerah Allah, hati yang keras itu tetap ada pada diri manusia. Hati itu sudah mati dan tidak lagi berkuasa, memang, tetapi ibarat manusia mati akan menjadi bangkai yang busuk, sisa-sisa dari hati yang keras yang tetap tinggal itu “bau” dan masih mengusik jiwa manusia dan menariknya kepada dosa. Apa yang menjadi perbedaan antara orang yang lahir baru dengan yang masih mati secara rohani adalah orang yang lahir baru, selain masih memiliki sisa-sisa hati yang keras di dalam dirinya, juga telah menerima hati yang baru dari Allah (Yehezkiel 36:26). Hati yang baru ini memampukan orang tersebut untuk percaya kepada Kristus, bertobat, berperang melawan dosa, dan bahkan menang dari banyak dosa, bukannya ditipu dan diperbudak oleh dosa seperti yang sejak lahir ia alami sebelum ia dilahirkan kembali oleh Allah.

Washer 3

Lalu, mengapa dapat dikatakan bahwa kelahiran baru merupakan mujizat terbesar yang Allah lakukan pada manusia? Sebab hati yang baru ini adalah sesuatu yang ilahi. Roh Kudus berfirman melalui Petrus:

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. (2 Petrus 1:4)

Ketika kita mengatakan “ilahi”, kita perlu menyadari bahwa itu sama sekali bukanlah hal yang sepele. Manusia adalah makhluk yang kekal, ya, roh manusia tidak akan binasa, ya, tetapi ia tidak ilahi. Manusia adalah makhluk yang berdosa. Dosa telah menjadi identitas manusia. Lebih dari itu, dosa telah menjadi natur atau kodrat manusia. Dan apakah yang terjadi pada saat lahir baru? Ya, Allah mengaruniakan kepada orang itu suatu kodrat yang baru, yang sebelumnya belum pernah ada di bumi ini sejak orang itu terlahir, yakni kodrat ilahi yang telah Allah siapkan sebelum dunia dijadikan. Jika boleh menggunakan perumpamaan yang lebih membumi, ketika seseorang terlahir kembali, ia seakan-akan menjadi alien di bumi ini. Ia menjadi tidak normal di dunia ini. Orang-orang di sekelilingnya hanya memiliki kodrat dosa tetapi ia memiliki kodrat yang ilahi.

Di dalam suratnya untuk jemaat Korintus, Paulus menggunakan istilah yang lain untuk mendeskripsikan kelahiran baru. Roh Kudus berfirman melalui tulisan Paulus, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17)”. Sama seperti kita tidak boleh menyepelekan kata “ilahi”, kita juga tidak boleh menyepelekan kata “ciptaan”. Satu permintaan sederhana: Cobalah sebutkan satu saja nama pencipta yang Anda kenal! Tentu apa yang dimaksud bukanlah pencipta lagu, melainkan pencipta yang benar-benar menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Adakah manusia yang demikian? Adakah orang yang mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada? Tentu saja tidak. Manusia hanya dapat menjadi penemu atau pengubah sesuatu dari sesuatu yang sudah ada, tetapi tidak pernah menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Hanya satu pribadi, dan itu adalah Allah, yang mampu menciptakan sesuatu. Dan perhatikanlah kalimat Paulus! Ia berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru…”

Ini merupakan pernyataan yang teramat sangat luar biasa. Orang yang berada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Sisa-sisa ciptaan yang lama memang masih melekat pada dirinya tetapi ia adalah ciptaan baru. Seseorang tidak akan dapat menjadi Kristen dengan kekuatan, hikmat, ibadah, atau keputusannya sendiri. Seseorang hanya dapat menjadi Kristen jika Allah, dengan kedaulatan dan kuasa-Nya, menciptakan dia menjadi ciptaan baru. Ia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri menjadi orang yang percaya, Allahlah yang menciptakannya kembali. Dan kuasa yang Allah nyatakan ketika Ia menciptakan seorang Kristen jauh lebih besar dibanding kuasa yang Ia nyatakan ketika Ia menciptakan dunia ini. Mengapa? Sebab, seperti kata Paul Washer, ketika Allah menciptakan dunia ini, Ia menciptakannya dari ketiadaan yang netral, tetapi ketika Allah menciptakan seorang Kristen ketika orang itu lahir baru, Ia menciptakannya dari seseorang yang pada awalnya tidak netral, melainkan  jahat dan memiliki natur dosa yang mengerikan. Atau seperti hamba Tuhan yang lain berkata, bahwa ketika Allah menciptakan alam semesta ini, Ia melakukannya dengan mudah, cukup dengan mengatakan “Jadilah…” maka hal itupun jadi, tetapi ketika Allah menciptakan seseorang menjadi Kristen, Ia harus mengorbankan Anak-Nya untuk mati terlebih dahulu untuk menjadi tebusan dosa bagi orang berdosa yang akan diciptakan kembali itu.

Lawson

Jadi, kelahiran baru adalah saat di mana seseorang menerima hati yang baru. Kelahiran baru adalah saat ketika seseorang menerima kodrat ilahi. Kelahiran baru adalah saat ketika seseorang menjadi ciptaan baru. Itulah mengapa kelahiran baru merupakan mujizat paling besar yang Allah lakukan pada manusia. Kelahiran baru merupakan perubahan yang paling dahsyat, radikal, dan signifikan di dalam hidup manusia. Dan ketika seseorang mengalami perubahan yang sebegitu besarnya, Martyn Lloyd Jones berani mengatakan, “Tanda pertama dari kehidupan rohani adalah merasa bahwa kau mati.”

Ya, seumpama anak bayi yang baru saja terlahir, jika ia lahir dalam keadaan normal, tentu akan menangis. Mengapa? Karena ia mengalami perubahan yang begitu besar dari yang awalnya ia berada di dalam rahim ibunya, kini ia berada di lingkungan yang sangat berbeda. Orang yang buta tidak mungkin tidak kaget ketika untuk pertama kalinya ia bisa melihat. Sama halnya dengan orang tuli yang akhirnya dapat mendengar, ia tentu kaget. Atau, jika boleh meminjam contoh yang lain, orang yang tertidur pasti akan kaget ketika air dingin dipercikkan ke wajahnya. Dan jika ada orang mati yang akhirnya dibangkitkan kembali, sebagaimana Lazarus, tentu ia akan sangat tercengang. Demikianlah halnya orang yang terlahir kembali. Memang mungkin ekstremitas perubahan tersebut berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Memang mungkin tidak semua orang akan sebegitu tersadarkan oleh perubahan yang ia alami ketika ia mengalami anugerah lahir baru. Namun, jika Anda mengaku adalah orang Kristen tetapi Anda tidak pernah tersadarkan bahwa dahulu Anda sudah “mati”, buta, bodoh, dan tersesat, dan jika tidak ada perubahan di dalam hidup dan pola pikir Anda akan hal-hal ilahi, sebaiknya Anda tidak menganggap sepele hal tersebut melainkan menguji kembali apakah iman yang Anda miliki adalah iman yang sejati atau tidak (2 Korintus 13:5). Mengapa? Sebab hal yang demikian merupakan salah satu tanda dari manusia duniawi atau manusia lama, yakni manusia yang hanya memiliki hati yang keras, yang belum menerima hati yang baru dari Allah.

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
(1 Korintus 2:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kini, setelah membahas semua ini, ke manakah kita akan melangkah? Hanya ada satu arah dan tujuan untuk melangkah: Yesus Kristus.

Perhatikanlah kembali perkataan Paulus. Siapakah orang yang merupakan ciptaan baru tersebut? Apakah ia merupakan orang yang hebat, pintar, religius, dan suci? Tidak. Manusia baru bukanlah semua itu, melainkan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus…” Apakah kau mendengar hal itu? Apakah kau mendengar nama terindah itu terucap oleh Paulus? Yesus, ya, Yesus Kristus, Dialah jawabannya. Barangsiapa ada di dalam Kristus, sekalipun dosanya merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yesaya 1:18). Barangsiapa ada di dalam Kristus, sekalipun ia telah mati di dalam dosa (Efesus 2:1) akan dijadikan-Nya ciptaan baru.

Perhatikanlah juga perkataan seorang pendeta Puritan, Thomas Watson. Ia mengutip kisah pencobaan Yesus di padang gurun dengan janji Allah akan hati yang baru di Yehezkiel 36 kemudian menggabungkannya menjadi kalimat yang begitu indah. Watson berkata:

Watson (2)

Ya, Setan mencobai Tuhan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah dengan mengubah batu menjadi roti. Tuhan Yesus tidak perlu melakukan hal itu. Ia tidak perlu menuruti permintaan Iblis. Ia juga tidak perlu membuktikan keilahian-Nya dengan mengubah batu menjadi roti. Itu terlalu mudah bagi-Nya, Ia adalah Pencipta jagad raya ini (Ibrani 1:2). Ia menolak permintaan Si Jahat tetapi sebagai gantinya, Ia menunjukkan mujizat yang jauh lebih dahsyat dari itu, Ia menggenapi janji Allah yang diucapkan oleh Yehezkiel, Ia mengubah hati manusia yang awalnya keras, jauh lebih keras dari batu, menjadi heart of flesh (terjemahan bahasa Inggris dari Yehezkiel 36:26), hati yang lembut, hati yang mau dibentuk oleh firman Tuhan, hati yang mau dituntun oleh Roh Kudus, hati yang taat.

Dan yang terakhir, perhatikanlah perkataan Tuhan Yesus sendiri. Ia berkata:

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.
(Yohanes 8:36)

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
(Yohanes 14:6)

Orang yang belum terlahir kembali adalah orang yang tertawan dan terpenjara oleh kuasa iblis dan kuasa dosa. Tuhan Yesus datang untuk memerdekakan orang-orang yang demikian (Yesaya 61:1). Orang yang belum terlahir kembali adalah orang yang mati di dalam dosa. Tuhan Yesus datang supaya orang yang demikian dapat memiliki hidup dan memilikinya di dalam kelimpahan hidup baru yang ilahi (Yohanes 10:10). Ya, Tuhan Yesus datang untuk menyediakan hidup yang baru itu untukku dan untukmu. Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan ke dalam hidup kita bukan karena kita tidak berdosa. Ia datang justru karena kita adalah orang-orang berdosa yang mati dan hopelessly desparate di dalam dosa-dosa. Oleh sebab itu, marilah kita memandang Dia yang mati di atas kayu salib demi menyediakan mujizat kelahiran baru tersebut untuk kita. Marilah kita percaya kepada Dia yang mau dan mampu menjadikan kita ciptaan baru di dalam diri-Nya. Marilah kita datang kepada Dia yang berkata, “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang (Yohanes 6:37).”

Jadi apabila Kristus memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. Ya, dan setelah kita dimerdekakan oleh-Nya, marilah kita bersama-sama memanjatkan satu lagu yang teramat sangat indah tentang hidup yang baru ini:

Lord, I was blind: I could not see
In Thy marred visage any grace;
But now the beauty of Thy face
In radiant vision dawns on me.

Lord, I was deaf: I could not hear
The thrilling music of Thy voice;
But now I hear Thee and rejoice,
And all Thine uttered words are dear.

Lord, I was dead: I could not stir
My lifeless soul to come to Thee;
But now, since Thou hast quickened me,
I rise from sin’s dark sepulcher.

Lord, Thou hast made the blind to see,
The deaf to hear, the dumb to speak,
The dead to live; and lo, I break
The chains of my captivity.

(Lord, I Was Blind, oleh William T. Matson)

Jadi, bagaimana denganmu? Apakah engkau telah terlahir kembali oleh kuasa-Nya yang ajaib? Janganlah biarkan dirimu tinggal tenang sebelum engkau bisa berkata, seperti orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, “tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat (Yohanes 9:25).”

Segala kemuliaan bagi Allah, di dalam Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita.
Amin

Hari yang Indah Itu

Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.

Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir:
gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung
dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit;
segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,

dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata:
“Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub,
supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya,
dan supaya kita berjalan menempuhnya;
sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”

Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa
dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa;
maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak
dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas;
bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa,
dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!
(Yesaya 2:1-5)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Betapa mulianya hari itu. Hari di mana gunung tempat rumah TUHAN menjulang begitu tinggi dan begitu megah. Hari di mana kebenaran Allah dinyatakan. Hari di mana firman Allah sampai ke pelosok-pelosok bumi. Hari di mana kasih setia Allah sampai ke ujung dunia. Hari di mana Injil Kristus sampai kepada segala suku bangsa. Hari di mana keselamatan yang Allah anugerahkan diberitakan di dalam semua bahasa.

Alangkah indahnya hari itu. Bangsa-bangsa yang awalnya tidak mengenal Allah, menjadi mengenal-Nya. Suku-suku bangsa yang awalnya terpisah, menjadi bersatu. Lebih dari itu, suku-suku bangsa itu bahkan saling mengajak untuk datang ke hadirat TUHAN, yakni ke rumah Allah Yakub. Berduyun-duyun, mereka pergi kepada Allah Israel. Bersama-sama, mereka memandang-Nya sebagai Sang Pengajar. Telinga mereka rindu mendengar kebenaran-Nya. Hati mereka haus dan lapar akan pengajaran dan firman-Nya. Mereka ingin melangkah di jalan-jalan-Nya.

IMG_569059694620376Oh, diberkatilah hari itu. Hari di mana Allah menjadi Hakim di antara bangsa-bangsa. Hari di mana pedang tidak lagi dipakai untuk membela diri atau menyerang, melainkan untuk membajak tanah. Hari di mana tombak tidak lagi dipakai untuk membunuh, melainkan untuk memangkas rumput dan dedaunan. Hari di mana tidak ada lagi peperangan. Hari di mana para pembunuh bertobat dan menjadi pekerja di ladang Tuhan. Hari di mana para pendosa dilahirkan kembali menjadi pekerja di kebun anggur kepunyaan Allah kita.

Sungguh indahlah hari itu. Itulah hari di mana para keturunan Yakub yang sejati, yakni bangsa Israel rohani, umat pilihan dan kepunyaan Allah sendiri, datang dan berjalan berbondong-bondong di dalam TERANG TUHAN. Kapankah datangnya hari yang indah itu? Sesungguhnya hari itu sudah datang, sedang datang, dan akan datang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya, sesungguhnya, hari yang indah itu sudah datang. Hari itu benar-benar telah tiba ketika untuk pertama kali-Nya, Raja kita datang dan menginjakkan kaki-Nya di bumi ini dan berkata, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15).

Ya, sesungguhnya, hari yang luar biasa itu sedang datang. Mengapa? Sebab hari-hari inipun adalah hari lawatan Tuhan kita. Hari-hari inipun adalah hari penyelamatan Allah kita. Wahai orang-orang berdosa, janganlah keraskan hatimu. Bukalah mata, telinga, dan hatimu dan percayalah kepada Dia yang berkata kepadamu:

Ayat - Korintus

Dan ya, sesungguhnya, hari yang agung itu akan datang. Oh, datanglah Engkau ya Tuhan di dalam hari-Mu yang dahsyat itu. Datanglah Engkau ya Juruselamat Dunia di dalam hari yang tentangnya Rasul Yohanes pernah bersaksi:

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata:
“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia
dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.
Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka,
dan maut tidak akan ada lagi;
tidak akan ada lagi perkabungan,
atau ratap tangis, atau dukacita,
sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”
(Wahyu 21:3-4)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya, hari yang terindah itu sudah datang, sedang datang, dan akan datang.

Oh, berbahagialah mereka yang percaya bahwa hari itu benar-benar sudah datang.
Diberkatilah mereka yang hidup dan bekerja di hari yang sedang datang itu.
Disertailah mereka yang senantiasa menunggu-Nya di hari yang akan datang itu.

Apakah kau percaya bahwa hari Tuhan itu sudah datang dua ribu tahun yang lalu?
Apakah kau sedang bekerja bagi-Nya di dalam hari-hari-Nya yang sedang datang ini?
Apakah kau berjaga-jaga dan setia menantikan kedatangan-Nya di hari yang akan datang itu?

Jika “tidak”, maka janganlah buang-buang waktumu. Rendahkanlah hatimu. Akuilah dosamu. Mintalah pengampunan di hadapan Allah di dalam kerendahan hati dan hati yang hancur. Kemudian bukalah hatimu akan berita Injil Kristus dan percayalah kepada-Nya.

Sproul (2)

Ia akan memberikanmu awal yang baru.
Ia akan memberikanmu hati yang baru.
Ia akan memberikan hidup yang baru.

Ia akan memberikanmu mata yang baru
sehingga kau dapat “melihat gunung tempat rumah TUHAN.” (Yesaya 2:2)

Ia akan memberikanmu kaki yang baru
sehingga kau dapat “menempuh jalan-jalan-Nya.” (Yesaya 2:3)

Ia akan memberikanmu telinga yang baru
sehingga kau dapat “mendengar ajaran-Nya.” (Yesaya 2:3)

Ia akan memberikanmu tangan yang baru
sehingga kau akan mengubah pedangmu menjadi mata bajak
dan tombakmu menjadi pisau pemangkas
supaya kau dapat bekerja di ladang dan kebun kepunyaan Tuhan kita. (Yesaya 2:4)

Ia akan memberikanmu bibir yang baru
yakni bibir yang akan berkata,
bersama-sama dengan seluruh suku bangsa:
Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN! (Yesaya 2:5)

Dan kau akan mengerti dan menyadari siapakah “terang TUHAN” yang Nabi Yesaya sebut dalam Yesaya 2:5 itu. Ya, kau pasti akan mengenal-Nya. Dan kau akan mengetahui bahwa Terang TUHAN itu sudah datang, sedang datang, dan akan datang untuk kali yang kedua di dalam pribadi Yesus Kristus, Bintang Timur yang Gilang Gemilang, Sang Terang Dunia, Tuhan kita.

Akulah Terang Dunia

Amin

4. Berbahagia atau Tidak Sama Sekali

Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman,
begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

sebab TUHAN mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
(Mazmur 1:3-5)

Whitefield

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Martyn Lloyd-Jones

Alkitab tidak pernah menyediakan zona netral atau abu-abu kepada manusia. Firman Allah hanya memberikan dua pilihan kepada setiap dari kita.

Apakah kau orang benar atau orang fasik?

Apakah kau anak Allah atau anak iblis?

Apakah kau sudah lahir baru atau masih mati di dalam dosa-dosamu?

Apakah kau seperti pohon yang tumbuh subur dan kokoh karena ditanam di tepi aliran air
atau seperti sekam yang mati dan ditiup angin kesana kemari?

Apakah kau berjalan di dalam dan menuju keselamatan
atau sadar atau tak sadar, kau sedang berjalan menuju kebinasaan?

Apakah kau berbahagia atau tidak berbahagia sama sekali?

Itu adalah pertanyaan paling penting dan mendasar di dalam hidup setiap orang, termasuk kau dan aku. Kita tidak bisa terus menghindar dari pertanyaan tersebut, kita harus menjawabnya. Namun, perlu kita ketahui bahwa untuk pertanyaan sepenting itu, kita tidak sepatutnya bergantung pada jawaban yang diberikan oleh perasaan hati kita. Mengapa? Sebab firman Tuhan pernah berkata:

Betapa Liciknya HatiHati kita sangat mungkin menipu diri kita sendiri. Dalam banyak kesempatan, kita tidak bisa membedakan siapa yang sedang mempengaruhi pikiran dan perasaan kita, apakah Allah melalui Roh Kudus, apakah kita sendiri, ataukah iblis. Oleh sebab itu, kita tidak semestinya menyerahkan semua kesempatan pada hati kita yang licik dan sangat mudah dikelabui oleh si jahat ini untuk menjelaskan kepada kita tentang kondisi spiritual kita. Apa yang baik dan benar untuk dilakukan oleh setiap orang percaya adalah kembali kepada Alkitab dan mengizinkan Firman Allah, yang adalah kebenaran, yang menjelaskan pada kita realita dan kondisi spiritual kita yang sebenarnya.

IMG_2378307802250

Lalu, apa kata Alkitab mengenai diri setiap manusia? Firman Allah, melalui Rasul Paulus menjelaskannya kepada kita:

Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Tidak ada seorangpun yang berakal budi,
tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
(Roma 3:10-12)

Kau tahu apa artinya? Artinya adalah semua orang, tanpa terkecuali, pada dasarnya adalah orang yang tidak berbahagia, fasik, anak iblis, mati di dalam dosa-dosanya, mirip seperti sekam yang ditiup angin, dan sedang berjalan menuju kebinasaan. Itulah firman Allah tentang semua manusia. Itulah kebenaran yang sejati, yang sama sekali bertentangan dengan filsafat dunia dan penuturan para pengajar “Injil” Kemakmuran, seperti Joel Osteen, yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah orang-orang yang baik. (*Joel Osteen pernah menyebut bahwa 99.9% manusia itu pada dasarnya baik. Silakan Anda memastikannya di berbagai sumber jika Anda tidak percaya. Namun, melalui ini saya sarankan dengan penuh kasih kepada Anda untuk tidak lagi menerima pengajaran dari beliau.)

Tidak. Manusia, setelah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, adalah makhluk yang secara natur bersifat jahat. Jika kau tidak percaya, ujilah dirimu sendiri! Apa yang ada di dalam pikiranmu? Apakah yang ada di dalam benakmu adalah hal-hal yang kudus semata? Apabila isi pikiranmu dapat dilihat oleh setiap orang, apakah kau akan tenang-tenang saja ataukah kau akan menjadi begitu malu karena orang-orang akhirnya tahu betapa kotornya hal-hal yang selalu ada di dalam kepalamu? Dan seandainya kau masih belum percaya bahwa manusia itu jahat, cobalah perhatikan pertumbuhan seorang bayi menjadi balita! Apakah kita perlu mengajarkan apa yang tidak baik kepada seorang anak sehingga ia tahu bagaimana melakukan kenakalan? Tentu tidak. Anak itu, cepat atau lambat, akan melakukan kenakalan sekalipun ia tidak pernah diajar untuk menjadi nakal. Kau tahu mengapa bisa begitu? Karena kenakalan atau kejahatan merupakan natur anak itu sebenarnya.
Mahan

Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya:
“Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia,
sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari SEJAK KECILNYA,
dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
(Kejadian 8:21)

Itulah kebenaran mengenai setiap manusia. Manusia tidak menyukai kebenaran dan kekudusan. Manusia cinta akan kegelapan. Manusia telah terjerumus dan mati di dalam lumpur dosa tanpa pernah bisa melepaskan diri dari cengkaramannya. Manusia adalah milik kerajaan maut dan apapun yang manusia lakukan tidak akan pernah bisa menebus atau membebaskannya dari kebinasaan kekal. Manusia adalah makhluk yang jahat, keras hati, buta, tuli, lumpuh, dan mati.

Roma 3 23

Sudahkah kau menyadari betapi jahat dan hancurnya dirimu? Sudahkah kau mengizinkan Firman Allah untuk menelusuri kedalaman hatimu dan menyingkapkannya ke hadapanmu dan menegaskan bahwa kau adalah makhluk yang jahat? R.C. Sproul dengan sangat baik mengatakan, “Kita berdosa bukan karena kita melakukan dosa; kita melakukan dosa karena kita adalah orang berdosa.” Hanya Adam dan Hawa yang menjadi berdosa karena melakukan dosa, selebihnya semua manusia melakukan dosa karena mereka, secara natur, adalah orang berdosa yang tidak dapat tidak berbuat dosa. Sudahkah kau memandang dirimu demikian?

Manusia adalah ciptaan yang penuh dosa dan kejahatan. Saking jahatnya manusia, tidak ada jalan keluar lain yang Allah punya selain mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati menggantikan manusia supaya mereka dapat diselamatkan. Tanpa pengorbanan Anak Allah, tidak mungkin manusia yang jahat dapat dibenarkan di hadapan-Nya. Sebelum kita menyadari hal itu, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti betapa kita membutuhkan pengampunan yang tersedia melalui Sang Anak dan betapa kita tidak memiliki pengharapan di luar Dia. Dan apabila kita tidak merasa sangat membutuhkan-Nya, kita tidak akan datang kepada-Nya dengan sikap hati dan iman yang benar. Dan apabila kita tidak memiliki iman yang benar itu, kita tidak akan pernah menerima anugerah yang Sang Anak berikan sebab anugerah pengampunan dosa dan keselamatan itu hanya bisa diterima melalui iman (Roma 3:28) yang ditandai dengan kerendahan hati di hadapan Allah ibarat seorang pengemis kelaparan yang meminta roti kepada orang-orang yang berlalu lalang. Kerendahan hati itulah yang Tuhan kita maksud ketika Ia berkata:

Berbahagialah orang yang MISKIN di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(Matius 5:3)

Alistair Begg

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Spurgeon

Sebagai penutup, aku ingin mengajak para pembaca yang terkasih untuk saat ini juga menjawab keenam pertanyaan di atas secara pribadi. Bagiku, adalah suatu sukacita yang luar biasa jika setiap pembaca dapat menjawab dengan iman bahwa mereka adalah orang benar, anak Allah, telah lahir baru, ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air, berjalan di dalam dan menuju keselamatan, serta berbahagia. Saranku untuk mereka yang memiliki jawaban demikian: tetaplah hidup dalam kekudusan dan kebenaran menurut tuntunan Roh Kudus dan arahan Firman Allah untuk berperang melawan dosa sebab keberadaan dosa akan mengeruhkan sukacita dan kedamaian yang telah kita miliki, bahkan bukan tidak mungkin dosa dapat menggoyahkan kepastian keselamatan seseorang sehingga untuk sekian waktu lamanya orang itu meragukan keselamatan yang sebenarnya telah ia terima. Apabila hal itu terjadi padamu, pandanglah salib Kristus dan berdoalah memohon pengampunan, maka kau akan menerimanya sebab Tuhan kita pernah berfirman melalui Rasul-Nya.

Ayat - Pengakuan Dosa

Dan untuk mereka yang memberikan jawaban yang sebaliknya atau mereka yang saat ini berpikir bahwa mereka tidak mungkin diselamatkan, izinkan aku mengingatkan kepadamu apa yang Tuhan Yesus pernah katakan, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Lebih jauh dari itu, Allah berfirman:

“Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau,
dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.”
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu;
sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.”
(2 Korintus 6:2)

Ya, hari ini juga, jika kau mau percaya dan menyerahkan hidupmu kepada Tuhan Yesus Kristus, maka Ia akan menganugerahkan keselamatan kepadamu dan akan membawamu kepada hidup yang baru. Jika masalahmu selama ini adalah dosa, dan memang itu adalah masalah bagi semua orang, ketahuilah bahwa jalan keluar bagimu bukanlah berusaha untuk berbuat baik. Satu-satunya jalan keluar dan pengharapan bagimu adalah Kristus sebab Ia datang ke dunia ini untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Matius 1:21) dan kau adalah umat-Nya apabila kau percaya kepada-Nya.

Ingatlah peristiwa ketika Tuhan kita membasuh kaki para murid. Ketika tiba giliran Tuhan membasuh kaki Simon Petrus, Petrus berkata, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” (Yohanes 13:8). Itu merupakan tanggapan yang tulus, penuh penghormatan, dan wajar diberikan oleh seorang murid kepada guru yang mau membasuh kakinya. Namun, apa yang Tuhan Yesus katakan menanggapi penolakan Petrus itu? Tuhan berkata:

“Jikalau Aku tidak membasuh engkau,
engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

Apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Petrus menggambarkan begitu banyak orang yang ada di dunia ini. Mereka merasa diri mereka begitu berdosa sampai-sampai mereka tidak percaya bahwa Tuhan Yesus MAU mengampuni bahkan menguduskan mereka dari dosa-dosa mereka. Mereka berpikir, “Tidak mungkin Tuhan sebaik itu mau menerima saya.” atau “Mustahil pengampunan Allah bisa diperoleh semudah itu.” atau “Aku harus berbuat baik dulu supaya aku layak diampuni.”

Apa itu yang juga ada di benakmu saat ini? Jika iya, izinkan aku menegaskan kepadamu bahwa Tuhan kita jauh lebih baik dari apa yang bisa kau bayangkan. Ia tidak hanya ingin mengampuni dan menguduskanmu, Ia mati dan menyerahkan hidup-Nya untukmu. Semua yang bisa Ia berikan, telah Ia korbankan untuk siapa saja yang mau percaya pada kasih-Nya yang tak terselami itu. Dan lagi, kau tidak akan pernah mampu membuat dirimu layak untuk diampuni dan diselamatkan melalui usaha dan tekadmu. Justru, berpikir bahwa kau mampu berbuat baik dan membuat dirimu layak untuk diselamatkan merupakan tindakan yang dibenci oleh Tuhan sebab sama saja kau berpikir bahwa kasih dan pengampunan-Nya dapat kau beli dengan kebaikan-kebaikan semu yang kau kerjakan.

Tidak, Allah bukanlah pengemis kebaikan. Ia tidak butuh kebaikan dari siapapun. Kasih-Nya tidak dapat dibeli oleh siapapun. Pengampunan-Nya tidak dapat dibeli dengan apapun. Ia mengasihi dan berbuat baik kepada siapa saja yang Ia kehendaki (Roma 9:18). Dari ayat itu, kau mungkin akan berkata, “Nah, Allah hanya mengasihi siapa yang Ia mau kasihi, pasti Ia tidak mau mengasihi orang jahat seperti aku ini.” Memang benar bahwa Allah bebas mengasihi siapa saja seturut kehendak-Nya tetapi janganlah kita lupa bahwa Ia juga pernah berjanji bahwa siapa saja, ya siapa saja, yang mau datang kepada-Nya, tidak akan Ia buang (Yohanes 6:37).

Ayat - Tidak akan dibuang

Itulah janji agung-Nya yang penuh dengan kasih setia. Dengan janji itu, siapapun, termasuk orang paling berdosa sekalipun, dapat datang kepada-Nya dengan kepercayaan bahwa Ia akan menepati kata-kata-Nya atau dengan kata lain, Ia pasti akan menerima dan mengampuni orang itu seandainya ia mau memberi diri kepada-Nya. Tuhan kita juga pernah berkata:

Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!
Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci:
Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.
(Yohanes 7:37-38)

Di bagian firman Tuhan yang lain, Allah berfirman melalui nabi-Nya, Yesaya:

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air,
dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah!

Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah,
juga anggur dan susu tanpa bayaran!

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku;
dengarkanlah, maka kamu akan hidup!
Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu,
menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.
(Yesaya 55:1 & 3)

Lihatkan? Kau tidak perlu menjadi orang yang baik dulu untuk datang kepada-Nya. Kau tidak perlu menjadi orang yang kudus atau sempurna dulu untuk menerima keselamatan dari-Nya. Apa yang perlu kau lakukan adalah “menyadari bahwa kakimu kotor dan kemudian memberikan kakimu untuk dibasuh oleh-Nya”. Apa yang perlu kau lakukan adalah menyelidiki hatimu, menyadari bahwa sebenarnya kau sedang haus, lalu percaya bahwa hanya di dalam Dia kau akan menerima pemuasan dahagamu, dan kemudian datang kepada-Nya untuk menerima air hidup itu. Dengan demikian, kebenaran Kristus akan menjadi kebenaranmu, kekudusan Kristus akan menjadi kekudusanmu, kesempurnaan Kristus akan menjadi kesempurnaanmu, dan hidup Kristus akan menjadi hidupmu.

IMG_68720405925818

Percayalah kepada-Nya!  Percayalah juga bahwa pengorbanan-Nya di atas kayu salib telah CUKUP dan SEMPURNA untuk menyediakan pengampunan bagi dosa-dosamu, maka dari dalam hatimu akan mengalir aliran-aliran air hidup, yakni Roh Kudus, sehingga kau beroleh hati yang baru. Sendengkanlah telingamu, dengarlah Dia, dan datanglah kepada-Nya, maka kau akan hidup. Tidak hanya itu, Ia akan mengikat perjanjian kekal denganmu. Berdasarkan apakah perjanjian itu Ia ikat? Apakah berdasarkan kebaikan atau kesempurnaanmu? Tidak. Perjanjian itu Ia ikat denganmu berdasarkan dan hanya berdasarkan kasih setia-Nya yang teguh (Yesaya 55:3).

Ia akan membimbingmu. Ia akan senantiasa menyertaimu. Ia akan membuatmu bertumbuh subur, kokoh, dan berbuah layaknya pohon yang ditanam di tepi aliran air. J.C. Ryle pernah berkata:

“Orang Kristen sejati merupakan satu-satunya orang yang berbahagia
sebab ia memiliki sumber kebahagiaan yang sepenuhnya tidak bergantung pada dunia ini.
Ia memiliki Sahabat yang tidak akan pernah mati,
ia memiliki harta setelah kematian yang tidak akan pernah direbut darinya.
Kebenarannya adalah tanpa Kristus tidak ada kebahagiaan di dunia ini.”

Maukah kau percaya akan kabar terbaik sejagad raya dan sepanjang masa ini? Jika kau mau percaya dan menyerahkan seluruh hidupmu kepada-Nya, maka kau akan hidup, maksudku benar-benar hidup, dan tahun 2015 yang akan segera kita masuki ini akan menjadi tahun paling berarti di dalam hidupmu sebab kau tidak akan hanya hidup melainkan hidup dengan kelimpahan akan kebahagiaan sorgawi yang belum pernah kau kenal sebelumnya.

Ayat - Pohon di tepi Air

Amin
Selamat Tahun Baru 

Tuhan Yesus memberkati

3. Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

3. Kebahagiaan Hanya akan Dialami oleh Orang yang Terlahir Kembali

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air…
(Mazmur 1:3)
Ayat - Air Hidup
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Yohanes 3Prinsip ketiga dari kebahagiaan yang Alkitabiah adalah kebahagiaan sejati hanya dapat dialami oleh mereka yang telah terlahir kembali melalui kuasa Roh Kudus. Prinsip ini pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kedua prinsip sebelumnya sebab hanya orang yang telah lahir baru yang dapat hidup kudus (prinsip pertama) serta menikmati dan menaati Firman Allah (prinsip kedua). Namun, untuk tujuan pemahaman yang lebih mendalam, kita perlu memisahkan prinsip ini dari dua prinsip yang lain.

Perhatikan bahwa pemazmur tidak menggambarkan orang yang berbahagia itu sebagai “pohon yang tumbuh” atau “pohon yang tertanam” melainkan “pohon yang di-tanam” di tepi aliran air. Apa yang pemazmur ingin sampaikan adalah bahwasanya pohon itu tidak tumbuh di tepi aliran air secara kebetulan atau sebagai akibat dari proses yang alamiah. Pohon itu tidak akan pernah tertanam di tepi aliran air seandainya tidak ada seseorang yang secara sengaja menanam bibit pohon itu di sana.

Ini merupakan kiasan yang sangat indah untuk menggambarkan orang yang pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sejati di dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah timbul, baik secara spontan, natural, maupun dengan usaha yang timbul dari kehendak seorang manusia. Sama seperti biji pohon tidak dapat memutuskan untuk tertanam di tepi aliran air, manusia tidak dapat membuat keputusan apapun untuk membuatnya hidup dalam kebahagiaan. Satu-satunya cara agar seseorang dapat menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya adalah apabila ada seorang Pribadi, yang berkuasa atas orang itu, yang berintervensi dan menempatkan orang itu ke dalam hidup yang baru. Pribadi yang dimaksud tentu saja adalah Allah, melalui Roh-Nya yang kudus.

Hal yang serupa pernah diungkapkan oleh Tuhan kita kepada Nikodemus yang pada suatu malam mendatangi Dia untuk bercakap-cakap dengan-Nya. Nikodemus bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan seorang Pengajar Israel yang tentu menguasai bagian Firman Tuhan yang saat ini kita kenal sebagai Perjanjian Lama. Ia juga termasuk golongan Farisi dan itu artinya ia berpikir bahwa manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan kerja keras dan ketaatannya kepada Firman Allah. Untuk mengoreksi pemahaman Nikodemus yang salah ini, Tuhan kita berkata kepadanya.

Yohanes 3 3Satu pernyataan dari Tuhan Yesus sudah cukup untuk menegaskan kepada Nikodemus bahwa apa yang telah ia pahami selama ini adalah salah sekalipun ia terkenal sebagai seorang ahli Firman Allah. Tuhan kita menggambarkan perihal masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagai suatu peristiwa kelahiran. Manusia tidak dapat melakukan atau membuat keputusan apapun untuk membuat dirinya dilahirkan. Sama dengan itu, manusia tidak berdaya melakukan apapun untuk membuatnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mendengar perkataan Tuhan, Nikodemus belum mengerti. Ia kemudian bertanya, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Di dalam kebingungannya, Nikodemus masih mengharapkan Tuhan Yesus untuk memberitahu kepadanya apa yang dapat ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Tetapi Tuhan Yesus berkata kepadanya:

Angin

Apa yang Tuhan kita maksud (kusarankan membaca satu perikop penuh dari Injil Yohanes pasal 3) adalah bahwa seseorang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kecuali ia telah dilahirkan kembali (atau dalam bahasa aslinya: dilahirkan dari atas), bukan dengan kehendak dan kuasanya sendiri, melainkan dengan kehendak dan kuasa Allah melalui Roh Kudus. Sama seperti angin yang tidak dapat dikendalikan serta tidak diketahui dari mana datangnya dan ke mana perginya, Roh Kudus mengerjakan kelahiran baru di dalam hidup seseorang tanpa campur tangan sedikitpun dari orang itu. Layaknya seorang bayi tidak memberi kontribusi apapun dalam kelahiran jasmani, seorang Kristen tidak memberi kontribusi sedikitpun dalam peristiwa kelahiran rohani. Ibarat mayat tidak dapat membuat dirinya bangkit dari kematian fisik, seorang manusia yang telah mati di dalam dosa tidak akan pernah mampu mengerjakan kebangkitan spiritual di dalam hidupnya.

10257654_10152474653308115_6854282495194062779_o

Ini merupakan kebenaran yang seharusnya menghancurkan kesombongan yang ada di dalam hati setiap orang, khususnya mereka yang menganggap dirinya cukup baik, seperti Nikodemus di malam itu. Manusia sama sekali tidak memiliki kuasa dan kedaulatan untuk memperoleh hidup dan kebahagiaan yang sejati. Apa yang manusia dapat lakukan hanyalah percaya dan meminta di dalam kerendahan hati namun hanya Allah yang dapat memberikan hidup yang baru seturut dengan kehendak-Nya. Seperti seseorang yang sengaja mengambil bibit pohon dan menanamkannya di tepi aliran air, begitu pula Allah yang di dalam kedaulatan-Nya mengambil seorang manusia yang awalnya mati secara rohani, memindahkannya dari kegelapan, dan akhirnya menanam orang itu ke dalam persekutuan yang intim dan indah dengan Anak-Nya, yang adalah Sumber Air Kehidupan.

10494674_10152357886368423_8905995408551234084_n

Ketika mengerjakan mujizat kelahiran baru atau regenerasi, Allah Bapa melalui Roh Kudus, datang kepada seseorang yang telah Ia pilih sebelum dunia dijadikan dan menganugerahkan kepadanya iman di dalam Yesus Kristus yang membawa orang itu kepada keselamatan sehingga ia tidak lagi mati secara spiritual, melainkan beroleh hati dan hidup yang baru di dalam Kristus. Ia yang telah mengalami kelahiran baru merupakan orang yang telah diselamatkan-Nya dan tanpa kelahiran baru tidak ada keselamatan.

Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita,
dan kasih-Nya kepada manusia,
pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita,
bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,

tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali
dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,
(Titus 3:4-6)

Setelah seseorang dilahirkan kembali, ia yang awalnya tidak pernah terlepas dari perbudakan dosa akhirnya dibebaskan oleh Allah dan ia dianugerahi-Nya kekuatan untuk berperang melawan dosa dan mengalahkannya. Ia yang pada awalnya buta dan tuli akan Firman Allah, dibuat-Nya menjadi berhikmat dan peka terhadap Firman-Nya. Tidak hanya itu, hatinya yang telah diperbaharui oleh Allah menjadikannya rindu untuk taat pada setiap perkataan dan hukum-Nya. Ia tidak lagi memandang ketaatan sebagai kewajiban yang memberatkan tetapi sebagai wujud ucapan syukur, penyembahan, sukacita, bahkan kehormatan karena telah diizinkan untuk melayani Allah yang telah menebus hidupnya dari maut. Ia, yang telah dilahirkan oleh Roh, akan mengikut teladan Kristus yang pernah berkata:

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(Yohanes 4:34)

Setiap hari, Roh Kristus terus membimbingnya untuk hidup di dalam kekudusan dan mengajarkan arti Firman Tuhan kepadanya. Ia menjalani hidup yang digambarkan oleh Raja Salomo sebagai “cahaya fajar” yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari (Amsal 4:18). Ia bersekutu dengan Allah. Ia menikmati persekutuan dengan Allah. Ia diperbaharui hari demi hari menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29).

10450139_10152238279248520_322665142783905292_n

Seperti bibit yang bertumbuh menjadi pohon yang kokoh, berdaun rimbun, dan berbuah lebat, ia yang semula adalah bayi rohani, dididik dan dibesarkan oleh Allah menjadi seorang Kristen yang dewasa, yang berakar kuat di dalam iman yang sejati, dan yang menghasilkan buah-buah yang baik yang Allah kehendaki untuk kemuliaan bagi Nama-Nya. Buah-buah apakah yang dimaksud? Ini mengantarkan kita kepada bagian yang selanjutnya.

Matthew_5-16

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil
(Mazmur 1:3)

J.-C.-Ryle

Pohon yang ditanam di tepi aliran air akan tumbuh subur dan menghasilkan buah pada musimnya. Keberadaan buah menunjukkan bahwa pohon tersebut memiliki makanan yang berlimpah sehingga ada bagian yang dapat disimpan sebagai cadangan makanan untuk bertahan hidup ketika musim kering tiba. Tidak hanya itu, buah tidak hanya berguna bagi pohon itu sendiri tetapi juga bagi sang penanam pohon. Orang itu menanam pohon itu di tepi aliran sungai dengan harapan suatu saat kelak ia akan menikmati buah-buah yang matang, manis, dan segar yang pohon itu hasilkan.

Demikianlah halnya mereka yang telah menemukan Yesus Kristus dan menerima hidup yang baru. Mereka tidak akan berkekurangan dalam segala hal yang baik yang mereka butuhkan. Mereka sama seperti Daud yang di dalam Mazmurnya mengatakan, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Tidak hanya itu, hidup mereka akan berkelimpahan dengan kasih karunia Allah sehingga akan selalu ada berkat yang bisa mereka bagikan sebagai buah untuk membangun orang lain dan terutama untuk memuliakan Allah yang adalah Sang Penanam. Mereka akan bersama-sama dengan Rasul Paulus menegaskan komitmen mereka kepada Allah dan berkata:

Bekerja Memberi Buah

Buah seperti apa yang akan mereka hasilkan? Firman Tuhan menjelaskannya, yaitu:

  • buah pertobatan (Matius 3:8)
  • buah kebenaran (2 Korintus 9:10 ; Filipi 1:11 ; Ibrani 12:11)
  • buah pengudusan (Roma 6:22)
  • buah pekerjaan yang baik (Kolose 1:10)
  • buah Roh (Galatia 5:22-23)
  • buah jiwa-jiwa (Yohanes 12:24 ; 1 Korintus 9:1 ; Filemon 1:12)

Ayat - Buah yang Baik

Semua yang digambarkan oleh Firman Allah sebagai buah berbicara tentang perbuatan atau cara hidup yang berkenan kepada Allah. Namun, ada satu buah yang unik dan berbeda dari buah-buah yang lain, yaitu buah jiwa-jiwa. Apakah arti dari buah jiwa ini? Buah jiwa adalah orang tak percaya yang akhirnya bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya melalui Injil yang diberitakan oleh seorang Kristen dan/atau orang percaya yang diteguhkan iman dan pemahamannya akan Firman Tuhan melalui pengajaran dan pemuridan yang dilakukan oleh seorang Kristen. Kecuali untuk kasus tertentu seperti orang-orang yang baru menerima anugerah iman dan pertobatan ketika menjelang akhir hidupnya, semua orang Kristen yang sejati dipanggil, diperlengkapi, dan dianugerahi kesempatan oleh Allah untuk menghasilkan buah jiwa-jiwa bagi-Nya.

IMG_63560266546871

Keselamatan dan penguatan iman bagi domba-domba Kristus, itulah yang selalu menjadi kerinduan bagi mereka yang telah menerima anugerah hidup yang baru. Itulah yang akan selalu mengisi doa-doa mereka. Itulah yang menjadi bahan bakar di dalam hidup mereka. Mereka paham benar artinya diampuni dan diselamatkan oleh Allah sehingga mereka rindu melihat orang lain juga diampuni dan diselamatkan oleh-Nya. Mereka sama seperti Raja Daud, yang ketika memohon pengampunan dari Allah berjanji:

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu,
dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu
kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran,
supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
(Mazmur 51:14-15)

Mereka tidak lagi hidup untuk kebahagiaan mereka sendiri. Keselamatan jiwa-jiwa menjadi kebahagiaan mereka. Amanat Agung Kristus menjadi hidup mereka. Bagi mereka, segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan perluasan Kerajaan Allah di muka bumi ini adalah suatu kesia-siaan yang tidak layak diperjuangkan. Di dalam Kristus, hidup mereka menjadi suatu ladang misi sekaligus ladang penggembalaan yang melaluinya orang-orang dapat melihat kemuliaan Allah dan datang kepada Kristus, Sang Juruselamat dunia.

10410704_780231608708168_8733410967724945748_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hidup yang berbuah bagi Allah, itulah arti kebahagiaan menurut Alkitab. Mereka yang berbahagia adalah orang yang kekuatan hidupnya bersumber dari persekutuan yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus dan yang dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang, khususnya bagi anak-anak-Nya. Sama seperti pohon yang akarnya menjalar semakin dalam dari hari ke hari, Kristus akan membawa setiap domba-Nya kepada pengenalan akan Allah yang semakin mendalam.

Dengan demikian, seperti kata Pemazmur yang mengatakan bahwa “daun pohon itu tidak akan layu”, anak-anak Tuhan yang telah terlahir kembali tidak akan berputus asa. Justru sebaliknya, mereka akan selalu memiliki pengharapan dan pengharapan itu tidak akan mengecewakan mereka (Roma 5:5 ; 15:3). Mereka akan giat bekerja bagi Kerajaan Allah dan sekalipun lelah, mereka akan menemukan sukacita di dalam setiap jerih payah mereka sebab Kristus akan selalu bersama-sama dengan mereka (Matius 28:20). Mereka akan mendapati apa yang mereka kerjakan berhasil sebab Allah menyertai mereka dan mendengarkan serta mengabulkan doa-doa mereka (Yohanes 15:7 ; 16:24).

Akulah Pokok Anggur

#Bersambung ke: 4. Berbahagia atau Tidak Sama Sekali