Kelahiran Baru

Yesus menjawab, kata-Nya:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali,
ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
(Yohanes 3:3)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MLJ 2

Martyn Lloyd Jones berkata, “Tanda pertama dari kehidupan rohani adalah merasa bahwa kau mati.” Apakah yang Lloyd Jones maksud dengan hal tersebut? Di sini, ia membuat pernyataan yang sangat penting dan tegas. Ia sedang berbicara tentang kelahiran baru.

Kelahiran baru, jika yang kita maksud adalah kelahiran baru yang Alkitabiah, merupakan mujizat paling  besar yang Allah lakukan di dalam hidup manusia. Ya, mujizat terbesar yang Allah lakukan bukanlah ketika Ia membelah Laut Teberau melalui Musa, atau ketika Ia menurunkan api yang membakar habis korban yang disiapkan Nabi Elia, atau ketika Ia menguatkan Simson untuk menaklukkan seribu orang Filistin hanya dengan rahang keledai, atau ketika Tuhan Yesus menyembuhkan begitu banyak orang dari berbagai penyakit, melainkan ketika Allah menganugerahkan kelahiran baru kepada orang berdosa. Mengapa demikian? Allah berfirman melalui Nabi Yehezkiel:

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu
dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras
dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu
dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku
dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu
dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.

Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu
dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya,
dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu.”
(Yehezkiel 36:26-29)

Ketika Allah melahirbarukan seseorang, Allah memerdekakan orang tersebut dari hati yang keras. Hati yang keras tidak lagi berkuasa dan berdaulat atas orang tersebut sebagaimana yang terjadi sebelum orang tersebut diselamatkan. Pada titik ini, manusia lama dari orang tersebut mati. Paulus menjelaskan, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. (Roma 6:6-7).”

Namun, sekalipun hati yang keras itu sudah dimatikan atau manusia lama itu sudah disalibkan, hal ini tidak berarti bahwa manusia telah sepenuhnya terbebas darinya. Tidak. Manusia hanya akan benar-benar terbebas dari pengaruh dosa ketika manusia telah berada di sorga di mana tidak ada lagi dosa atau efek dari dosa. Ketika manusia mengalami lahir baru oleh anugerah Allah, hati yang keras itu tetap ada pada diri manusia. Hati itu sudah mati dan tidak lagi berkuasa, memang, tetapi ibarat manusia mati akan menjadi bangkai yang busuk, sisa-sisa dari hati yang keras yang tetap tinggal itu “bau” dan masih mengusik jiwa manusia dan menariknya kepada dosa. Apa yang menjadi perbedaan antara orang yang lahir baru dengan yang masih mati secara rohani adalah orang yang lahir baru, selain masih memiliki sisa-sisa hati yang keras di dalam dirinya, juga telah menerima hati yang baru dari Allah (Yehezkiel 36:26). Hati yang baru ini memampukan orang tersebut untuk percaya kepada Kristus, bertobat, berperang melawan dosa, dan bahkan menang dari banyak dosa, bukannya ditipu dan diperbudak oleh dosa seperti yang sejak lahir ia alami sebelum ia dilahirkan kembali oleh Allah.

Washer 3

Lalu, mengapa dapat dikatakan bahwa kelahiran baru merupakan mujizat terbesar yang Allah lakukan pada manusia? Sebab hati yang baru ini adalah sesuatu yang ilahi. Roh Kudus berfirman melalui Petrus:

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. (2 Petrus 1:4)

Ketika kita mengatakan “ilahi”, kita perlu menyadari bahwa itu sama sekali bukanlah hal yang sepele. Manusia adalah makhluk yang kekal, ya, roh manusia tidak akan binasa, ya, tetapi ia tidak ilahi. Manusia adalah makhluk yang berdosa. Dosa telah menjadi identitas manusia. Lebih dari itu, dosa telah menjadi natur atau kodrat manusia. Dan apakah yang terjadi pada saat lahir baru? Ya, Allah mengaruniakan kepada orang itu suatu kodrat yang baru, yang sebelumnya belum pernah ada di bumi ini sejak orang itu terlahir, yakni kodrat ilahi yang telah Allah siapkan sebelum dunia dijadikan. Jika boleh menggunakan perumpamaan yang lebih membumi, ketika seseorang terlahir kembali, ia seakan-akan menjadi alien di bumi ini. Ia menjadi tidak normal di dunia ini. Orang-orang di sekelilingnya hanya memiliki kodrat dosa tetapi ia memiliki kodrat yang ilahi.

Di dalam suratnya untuk jemaat Korintus, Paulus menggunakan istilah yang lain untuk mendeskripsikan kelahiran baru. Roh Kudus berfirman melalui tulisan Paulus, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17)”. Sama seperti kita tidak boleh menyepelekan kata “ilahi”, kita juga tidak boleh menyepelekan kata “ciptaan”. Satu permintaan sederhana: Cobalah sebutkan satu saja nama pencipta yang Anda kenal! Tentu apa yang dimaksud bukanlah pencipta lagu, melainkan pencipta yang benar-benar menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Adakah manusia yang demikian? Adakah orang yang mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada? Tentu saja tidak. Manusia hanya dapat menjadi penemu atau pengubah sesuatu dari sesuatu yang sudah ada, tetapi tidak pernah menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Hanya satu pribadi, dan itu adalah Allah, yang mampu menciptakan sesuatu. Dan perhatikanlah kalimat Paulus! Ia berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru…”

Ini merupakan pernyataan yang teramat sangat luar biasa. Orang yang berada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Sisa-sisa ciptaan yang lama memang masih melekat pada dirinya tetapi ia adalah ciptaan baru. Seseorang tidak akan dapat menjadi Kristen dengan kekuatan, hikmat, ibadah, atau keputusannya sendiri. Seseorang hanya dapat menjadi Kristen jika Allah, dengan kedaulatan dan kuasa-Nya, menciptakan dia menjadi ciptaan baru. Ia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri menjadi orang yang percaya, Allahlah yang menciptakannya kembali. Dan kuasa yang Allah nyatakan ketika Ia menciptakan seorang Kristen jauh lebih besar dibanding kuasa yang Ia nyatakan ketika Ia menciptakan dunia ini. Mengapa? Sebab, seperti kata Paul Washer, ketika Allah menciptakan dunia ini, Ia menciptakannya dari ketiadaan yang netral, tetapi ketika Allah menciptakan seorang Kristen ketika orang itu lahir baru, Ia menciptakannya dari seseorang yang pada awalnya tidak netral, melainkan  jahat dan memiliki natur dosa yang mengerikan. Atau seperti hamba Tuhan yang lain berkata, bahwa ketika Allah menciptakan alam semesta ini, Ia melakukannya dengan mudah, cukup dengan mengatakan “Jadilah…” maka hal itupun jadi, tetapi ketika Allah menciptakan seseorang menjadi Kristen, Ia harus mengorbankan Anak-Nya untuk mati terlebih dahulu untuk menjadi tebusan dosa bagi orang berdosa yang akan diciptakan kembali itu.

Lawson

Jadi, kelahiran baru adalah saat di mana seseorang menerima hati yang baru. Kelahiran baru adalah saat ketika seseorang menerima kodrat ilahi. Kelahiran baru adalah saat ketika seseorang menjadi ciptaan baru. Itulah mengapa kelahiran baru merupakan mujizat paling besar yang Allah lakukan pada manusia. Kelahiran baru merupakan perubahan yang paling dahsyat, radikal, dan signifikan di dalam hidup manusia. Dan ketika seseorang mengalami perubahan yang sebegitu besarnya, Martyn Lloyd Jones berani mengatakan, “Tanda pertama dari kehidupan rohani adalah merasa bahwa kau mati.”

Ya, seumpama anak bayi yang baru saja terlahir, jika ia lahir dalam keadaan normal, tentu akan menangis. Mengapa? Karena ia mengalami perubahan yang begitu besar dari yang awalnya ia berada di dalam rahim ibunya, kini ia berada di lingkungan yang sangat berbeda. Orang yang buta tidak mungkin tidak kaget ketika untuk pertama kalinya ia bisa melihat. Sama halnya dengan orang tuli yang akhirnya dapat mendengar, ia tentu kaget. Atau, jika boleh meminjam contoh yang lain, orang yang tertidur pasti akan kaget ketika air dingin dipercikkan ke wajahnya. Dan jika ada orang mati yang akhirnya dibangkitkan kembali, sebagaimana Lazarus, tentu ia akan sangat tercengang. Demikianlah halnya orang yang terlahir kembali. Memang mungkin ekstremitas perubahan tersebut berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Memang mungkin tidak semua orang akan sebegitu tersadarkan oleh perubahan yang ia alami ketika ia mengalami anugerah lahir baru. Namun, jika Anda mengaku adalah orang Kristen tetapi Anda tidak pernah tersadarkan bahwa dahulu Anda sudah “mati”, buta, bodoh, dan tersesat, dan jika tidak ada perubahan di dalam hidup dan pola pikir Anda akan hal-hal ilahi, sebaiknya Anda tidak menganggap sepele hal tersebut melainkan menguji kembali apakah iman yang Anda miliki adalah iman yang sejati atau tidak (2 Korintus 13:5). Mengapa? Sebab hal yang demikian merupakan salah satu tanda dari manusia duniawi atau manusia lama, yakni manusia yang hanya memiliki hati yang keras, yang belum menerima hati yang baru dari Allah.

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
(1 Korintus 2:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kini, setelah membahas semua ini, ke manakah kita akan melangkah? Hanya ada satu arah dan tujuan untuk melangkah: Yesus Kristus.

Perhatikanlah kembali perkataan Paulus. Siapakah orang yang merupakan ciptaan baru tersebut? Apakah ia merupakan orang yang hebat, pintar, religius, dan suci? Tidak. Manusia baru bukanlah semua itu, melainkan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus…” Apakah kau mendengar hal itu? Apakah kau mendengar nama terindah itu terucap oleh Paulus? Yesus, ya, Yesus Kristus, Dialah jawabannya. Barangsiapa ada di dalam Kristus, sekalipun dosanya merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yesaya 1:18). Barangsiapa ada di dalam Kristus, sekalipun ia telah mati di dalam dosa (Efesus 2:1) akan dijadikan-Nya ciptaan baru.

Perhatikanlah juga perkataan seorang pendeta Puritan, Thomas Watson. Ia mengutip kisah pencobaan Yesus di padang gurun dengan janji Allah akan hati yang baru di Yehezkiel 36 kemudian menggabungkannya menjadi kalimat yang begitu indah. Watson berkata:

Watson (2)

Ya, Setan mencobai Tuhan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah dengan mengubah batu menjadi roti. Tuhan Yesus tidak perlu melakukan hal itu. Ia tidak perlu menuruti permintaan Iblis. Ia juga tidak perlu membuktikan keilahian-Nya dengan mengubah batu menjadi roti. Itu terlalu mudah bagi-Nya, Ia adalah Pencipta jagad raya ini (Ibrani 1:2). Ia menolak permintaan Si Jahat tetapi sebagai gantinya, Ia menunjukkan mujizat yang jauh lebih dahsyat dari itu, Ia menggenapi janji Allah yang diucapkan oleh Yehezkiel, Ia mengubah hati manusia yang awalnya keras, jauh lebih keras dari batu, menjadi heart of flesh (terjemahan bahasa Inggris dari Yehezkiel 36:26), hati yang lembut, hati yang mau dibentuk oleh firman Tuhan, hati yang mau dituntun oleh Roh Kudus, hati yang taat.

Dan yang terakhir, perhatikanlah perkataan Tuhan Yesus sendiri. Ia berkata:

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.
(Yohanes 8:36)

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
(Yohanes 14:6)

Orang yang belum terlahir kembali adalah orang yang tertawan dan terpenjara oleh kuasa iblis dan kuasa dosa. Tuhan Yesus datang untuk memerdekakan orang-orang yang demikian (Yesaya 61:1). Orang yang belum terlahir kembali adalah orang yang mati di dalam dosa. Tuhan Yesus datang supaya orang yang demikian dapat memiliki hidup dan memilikinya di dalam kelimpahan hidup baru yang ilahi (Yohanes 10:10). Ya, Tuhan Yesus datang untuk menyediakan hidup yang baru itu untukku dan untukmu. Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan ke dalam hidup kita bukan karena kita tidak berdosa. Ia datang justru karena kita adalah orang-orang berdosa yang mati dan hopelessly desparate di dalam dosa-dosa. Oleh sebab itu, marilah kita memandang Dia yang mati di atas kayu salib demi menyediakan mujizat kelahiran baru tersebut untuk kita. Marilah kita percaya kepada Dia yang mau dan mampu menjadikan kita ciptaan baru di dalam diri-Nya. Marilah kita datang kepada Dia yang berkata, “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang (Yohanes 6:37).”

Jadi apabila Kristus memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. Ya, dan setelah kita dimerdekakan oleh-Nya, marilah kita bersama-sama memanjatkan satu lagu yang teramat sangat indah tentang hidup yang baru ini:

Lord, I was blind: I could not see
In Thy marred visage any grace;
But now the beauty of Thy face
In radiant vision dawns on me.

Lord, I was deaf: I could not hear
The thrilling music of Thy voice;
But now I hear Thee and rejoice,
And all Thine uttered words are dear.

Lord, I was dead: I could not stir
My lifeless soul to come to Thee;
But now, since Thou hast quickened me,
I rise from sin’s dark sepulcher.

Lord, Thou hast made the blind to see,
The deaf to hear, the dumb to speak,
The dead to live; and lo, I break
The chains of my captivity.

(Lord, I Was Blind, oleh William T. Matson)

Jadi, bagaimana denganmu? Apakah engkau telah terlahir kembali oleh kuasa-Nya yang ajaib? Janganlah biarkan dirimu tinggal tenang sebelum engkau bisa berkata, seperti orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, “tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat (Yohanes 9:25).”

Segala kemuliaan bagi Allah, di dalam Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita.
Amin

Hari yang Indah Itu

Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.

Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir:
gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung
dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit;
segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,

dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata:
“Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub,
supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya,
dan supaya kita berjalan menempuhnya;
sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”

Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa
dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa;
maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak
dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas;
bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa,
dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!
(Yesaya 2:1-5)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Betapa mulianya hari itu. Hari di mana gunung tempat rumah TUHAN menjulang begitu tinggi dan begitu megah. Hari di mana kebenaran Allah dinyatakan. Hari di mana firman Allah sampai ke pelosok-pelosok bumi. Hari di mana kasih setia Allah sampai ke ujung dunia. Hari di mana Injil Kristus sampai kepada segala suku bangsa. Hari di mana keselamatan yang Allah anugerahkan diberitakan di dalam semua bahasa.

Alangkah indahnya hari itu. Bangsa-bangsa yang awalnya tidak mengenal Allah, menjadi mengenal-Nya. Suku-suku bangsa yang awalnya terpisah, menjadi bersatu. Lebih dari itu, suku-suku bangsa itu bahkan saling mengajak untuk datang ke hadirat TUHAN, yakni ke rumah Allah Yakub. Berduyun-duyun, mereka pergi kepada Allah Israel. Bersama-sama, mereka memandang-Nya sebagai Sang Pengajar. Telinga mereka rindu mendengar kebenaran-Nya. Hati mereka haus dan lapar akan pengajaran dan firman-Nya. Mereka ingin melangkah di jalan-jalan-Nya.

IMG_569059694620376Oh, diberkatilah hari itu. Hari di mana Allah menjadi Hakim di antara bangsa-bangsa. Hari di mana pedang tidak lagi dipakai untuk membela diri atau menyerang, melainkan untuk membajak tanah. Hari di mana tombak tidak lagi dipakai untuk membunuh, melainkan untuk memangkas rumput dan dedaunan. Hari di mana tidak ada lagi peperangan. Hari di mana para pembunuh bertobat dan menjadi pekerja di ladang Tuhan. Hari di mana para pendosa dilahirkan kembali menjadi pekerja di kebun anggur kepunyaan Allah kita.

Sungguh indahlah hari itu. Itulah hari di mana para keturunan Yakub yang sejati, yakni bangsa Israel rohani, umat pilihan dan kepunyaan Allah sendiri, datang dan berjalan berbondong-bondong di dalam TERANG TUHAN. Kapankah datangnya hari yang indah itu? Sesungguhnya hari itu sudah datang, sedang datang, dan akan datang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya, sesungguhnya, hari yang indah itu sudah datang. Hari itu benar-benar telah tiba ketika untuk pertama kali-Nya, Raja kita datang dan menginjakkan kaki-Nya di bumi ini dan berkata, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15).

Ya, sesungguhnya, hari yang luar biasa itu sedang datang. Mengapa? Sebab hari-hari inipun adalah hari lawatan Tuhan kita. Hari-hari inipun adalah hari penyelamatan Allah kita. Wahai orang-orang berdosa, janganlah keraskan hatimu. Bukalah mata, telinga, dan hatimu dan percayalah kepada Dia yang berkata kepadamu:

Ayat - Korintus

Dan ya, sesungguhnya, hari yang agung itu akan datang. Oh, datanglah Engkau ya Tuhan di dalam hari-Mu yang dahsyat itu. Datanglah Engkau ya Juruselamat Dunia di dalam hari yang tentangnya Rasul Yohanes pernah bersaksi:

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata:
“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia
dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.
Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka,
dan maut tidak akan ada lagi;
tidak akan ada lagi perkabungan,
atau ratap tangis, atau dukacita,
sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”
(Wahyu 21:3-4)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya, hari yang terindah itu sudah datang, sedang datang, dan akan datang.

Oh, berbahagialah mereka yang percaya bahwa hari itu benar-benar sudah datang.
Diberkatilah mereka yang hidup dan bekerja di hari yang sedang datang itu.
Disertailah mereka yang senantiasa menunggu-Nya di hari yang akan datang itu.

Apakah kau percaya bahwa hari Tuhan itu sudah datang dua ribu tahun yang lalu?
Apakah kau sedang bekerja bagi-Nya di dalam hari-hari-Nya yang sedang datang ini?
Apakah kau berjaga-jaga dan setia menantikan kedatangan-Nya di hari yang akan datang itu?

Jika “tidak”, maka janganlah buang-buang waktumu. Rendahkanlah hatimu. Akuilah dosamu. Mintalah pengampunan di hadapan Allah di dalam kerendahan hati dan hati yang hancur. Kemudian bukalah hatimu akan berita Injil Kristus dan percayalah kepada-Nya.

Sproul (2)

Ia akan memberikanmu awal yang baru.
Ia akan memberikanmu hati yang baru.
Ia akan memberikan hidup yang baru.

Ia akan memberikanmu mata yang baru
sehingga kau dapat “melihat gunung tempat rumah TUHAN.” (Yesaya 2:2)

Ia akan memberikanmu kaki yang baru
sehingga kau dapat “menempuh jalan-jalan-Nya.” (Yesaya 2:3)

Ia akan memberikanmu telinga yang baru
sehingga kau dapat “mendengar ajaran-Nya.” (Yesaya 2:3)

Ia akan memberikanmu tangan yang baru
sehingga kau akan mengubah pedangmu menjadi mata bajak
dan tombakmu menjadi pisau pemangkas
supaya kau dapat bekerja di ladang dan kebun kepunyaan Tuhan kita. (Yesaya 2:4)

Ia akan memberikanmu bibir yang baru
yakni bibir yang akan berkata,
bersama-sama dengan seluruh suku bangsa:
Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN! (Yesaya 2:5)

Dan kau akan mengerti dan menyadari siapakah “terang TUHAN” yang Nabi Yesaya sebut dalam Yesaya 2:5 itu. Ya, kau pasti akan mengenal-Nya. Dan kau akan mengetahui bahwa Terang TUHAN itu sudah datang, sedang datang, dan akan datang untuk kali yang kedua di dalam pribadi Yesus Kristus, Bintang Timur yang Gilang Gemilang, Sang Terang Dunia, Tuhan kita.

Akulah Terang Dunia

Amin

4. Berbahagia atau Tidak Sama Sekali

Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman,
begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

sebab TUHAN mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
(Mazmur 1:3-5)

Whitefield

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Martyn Lloyd-Jones

Alkitab tidak pernah menyediakan zona netral atau abu-abu kepada manusia. Firman Allah hanya memberikan dua pilihan kepada setiap dari kita.

Apakah kau orang benar atau orang fasik?

Apakah kau anak Allah atau anak iblis?

Apakah kau sudah lahir baru atau masih mati di dalam dosa-dosamu?

Apakah kau seperti pohon yang tumbuh subur dan kokoh karena ditanam di tepi aliran air
atau seperti sekam yang mati dan ditiup angin kesana kemari?

Apakah kau berjalan di dalam dan menuju keselamatan
atau sadar atau tak sadar, kau sedang berjalan menuju kebinasaan?

Apakah kau berbahagia atau tidak berbahagia sama sekali?

Itu adalah pertanyaan paling penting dan mendasar di dalam hidup setiap orang, termasuk kau dan aku. Kita tidak bisa terus menghindar dari pertanyaan tersebut, kita harus menjawabnya. Namun, perlu kita ketahui bahwa untuk pertanyaan sepenting itu, kita tidak sepatutnya bergantung pada jawaban yang diberikan oleh perasaan hati kita. Mengapa? Sebab firman Tuhan pernah berkata:

Betapa Liciknya HatiHati kita sangat mungkin menipu diri kita sendiri. Dalam banyak kesempatan, kita tidak bisa membedakan siapa yang sedang mempengaruhi pikiran dan perasaan kita, apakah Allah melalui Roh Kudus, apakah kita sendiri, ataukah iblis. Oleh sebab itu, kita tidak semestinya menyerahkan semua kesempatan pada hati kita yang licik dan sangat mudah dikelabui oleh si jahat ini untuk menjelaskan kepada kita tentang kondisi spiritual kita. Apa yang baik dan benar untuk dilakukan oleh setiap orang percaya adalah kembali kepada Alkitab dan mengizinkan Firman Allah, yang adalah kebenaran, yang menjelaskan pada kita realita dan kondisi spiritual kita yang sebenarnya.

IMG_2378307802250

Lalu, apa kata Alkitab mengenai diri setiap manusia? Firman Allah, melalui Rasul Paulus menjelaskannya kepada kita:

Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Tidak ada seorangpun yang berakal budi,
tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
(Roma 3:10-12)

Kau tahu apa artinya? Artinya adalah semua orang, tanpa terkecuali, pada dasarnya adalah orang yang tidak berbahagia, fasik, anak iblis, mati di dalam dosa-dosanya, mirip seperti sekam yang ditiup angin, dan sedang berjalan menuju kebinasaan. Itulah firman Allah tentang semua manusia. Itulah kebenaran yang sejati, yang sama sekali bertentangan dengan filsafat dunia dan penuturan para pengajar “Injil” Kemakmuran, seperti Joel Osteen, yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah orang-orang yang baik. (*Joel Osteen pernah menyebut bahwa 99.9% manusia itu pada dasarnya baik. Silakan Anda memastikannya di berbagai sumber jika Anda tidak percaya. Namun, melalui ini saya sarankan dengan penuh kasih kepada Anda untuk tidak lagi menerima pengajaran dari beliau.)

Tidak. Manusia, setelah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, adalah makhluk yang secara natur bersifat jahat. Jika kau tidak percaya, ujilah dirimu sendiri! Apa yang ada di dalam pikiranmu? Apakah yang ada di dalam benakmu adalah hal-hal yang kudus semata? Apabila isi pikiranmu dapat dilihat oleh setiap orang, apakah kau akan tenang-tenang saja ataukah kau akan menjadi begitu malu karena orang-orang akhirnya tahu betapa kotornya hal-hal yang selalu ada di dalam kepalamu? Dan seandainya kau masih belum percaya bahwa manusia itu jahat, cobalah perhatikan pertumbuhan seorang bayi menjadi balita! Apakah kita perlu mengajarkan apa yang tidak baik kepada seorang anak sehingga ia tahu bagaimana melakukan kenakalan? Tentu tidak. Anak itu, cepat atau lambat, akan melakukan kenakalan sekalipun ia tidak pernah diajar untuk menjadi nakal. Kau tahu mengapa bisa begitu? Karena kenakalan atau kejahatan merupakan natur anak itu sebenarnya.
Mahan

Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya:
“Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia,
sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari SEJAK KECILNYA,
dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
(Kejadian 8:21)

Itulah kebenaran mengenai setiap manusia. Manusia tidak menyukai kebenaran dan kekudusan. Manusia cinta akan kegelapan. Manusia telah terjerumus dan mati di dalam lumpur dosa tanpa pernah bisa melepaskan diri dari cengkaramannya. Manusia adalah milik kerajaan maut dan apapun yang manusia lakukan tidak akan pernah bisa menebus atau membebaskannya dari kebinasaan kekal. Manusia adalah makhluk yang jahat, keras hati, buta, tuli, lumpuh, dan mati.

Roma 3 23

Sudahkah kau menyadari betapi jahat dan hancurnya dirimu? Sudahkah kau mengizinkan Firman Allah untuk menelusuri kedalaman hatimu dan menyingkapkannya ke hadapanmu dan menegaskan bahwa kau adalah makhluk yang jahat? R.C. Sproul dengan sangat baik mengatakan, “Kita berdosa bukan karena kita melakukan dosa; kita melakukan dosa karena kita adalah orang berdosa.” Hanya Adam dan Hawa yang menjadi berdosa karena melakukan dosa, selebihnya semua manusia melakukan dosa karena mereka, secara natur, adalah orang berdosa yang tidak dapat tidak berbuat dosa. Sudahkah kau memandang dirimu demikian?

Manusia adalah ciptaan yang penuh dosa dan kejahatan. Saking jahatnya manusia, tidak ada jalan keluar lain yang Allah punya selain mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati menggantikan manusia supaya mereka dapat diselamatkan. Tanpa pengorbanan Anak Allah, tidak mungkin manusia yang jahat dapat dibenarkan di hadapan-Nya. Sebelum kita menyadari hal itu, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti betapa kita membutuhkan pengampunan yang tersedia melalui Sang Anak dan betapa kita tidak memiliki pengharapan di luar Dia. Dan apabila kita tidak merasa sangat membutuhkan-Nya, kita tidak akan datang kepada-Nya dengan sikap hati dan iman yang benar. Dan apabila kita tidak memiliki iman yang benar itu, kita tidak akan pernah menerima anugerah yang Sang Anak berikan sebab anugerah pengampunan dosa dan keselamatan itu hanya bisa diterima melalui iman (Roma 3:28) yang ditandai dengan kerendahan hati di hadapan Allah ibarat seorang pengemis kelaparan yang meminta roti kepada orang-orang yang berlalu lalang. Kerendahan hati itulah yang Tuhan kita maksud ketika Ia berkata:

Berbahagialah orang yang MISKIN di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(Matius 5:3)

Alistair Begg

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Spurgeon

Sebagai penutup, aku ingin mengajak para pembaca yang terkasih untuk saat ini juga menjawab keenam pertanyaan di atas secara pribadi. Bagiku, adalah suatu sukacita yang luar biasa jika setiap pembaca dapat menjawab dengan iman bahwa mereka adalah orang benar, anak Allah, telah lahir baru, ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air, berjalan di dalam dan menuju keselamatan, serta berbahagia. Saranku untuk mereka yang memiliki jawaban demikian: tetaplah hidup dalam kekudusan dan kebenaran menurut tuntunan Roh Kudus dan arahan Firman Allah untuk berperang melawan dosa sebab keberadaan dosa akan mengeruhkan sukacita dan kedamaian yang telah kita miliki, bahkan bukan tidak mungkin dosa dapat menggoyahkan kepastian keselamatan seseorang sehingga untuk sekian waktu lamanya orang itu meragukan keselamatan yang sebenarnya telah ia terima. Apabila hal itu terjadi padamu, pandanglah salib Kristus dan berdoalah memohon pengampunan, maka kau akan menerimanya sebab Tuhan kita pernah berfirman melalui Rasul-Nya.

Ayat - Pengakuan Dosa

Dan untuk mereka yang memberikan jawaban yang sebaliknya atau mereka yang saat ini berpikir bahwa mereka tidak mungkin diselamatkan, izinkan aku mengingatkan kepadamu apa yang Tuhan Yesus pernah katakan, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Lebih jauh dari itu, Allah berfirman:

“Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau,
dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.”
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu;
sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.”
(2 Korintus 6:2)

Ya, hari ini juga, jika kau mau percaya dan menyerahkan hidupmu kepada Tuhan Yesus Kristus, maka Ia akan menganugerahkan keselamatan kepadamu dan akan membawamu kepada hidup yang baru. Jika masalahmu selama ini adalah dosa, dan memang itu adalah masalah bagi semua orang, ketahuilah bahwa jalan keluar bagimu bukanlah berusaha untuk berbuat baik. Satu-satunya jalan keluar dan pengharapan bagimu adalah Kristus sebab Ia datang ke dunia ini untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Matius 1:21) dan kau adalah umat-Nya apabila kau percaya kepada-Nya.

Ingatlah peristiwa ketika Tuhan kita membasuh kaki para murid. Ketika tiba giliran Tuhan membasuh kaki Simon Petrus, Petrus berkata, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” (Yohanes 13:8). Itu merupakan tanggapan yang tulus, penuh penghormatan, dan wajar diberikan oleh seorang murid kepada guru yang mau membasuh kakinya. Namun, apa yang Tuhan Yesus katakan menanggapi penolakan Petrus itu? Tuhan berkata:

“Jikalau Aku tidak membasuh engkau,
engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

Apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Petrus menggambarkan begitu banyak orang yang ada di dunia ini. Mereka merasa diri mereka begitu berdosa sampai-sampai mereka tidak percaya bahwa Tuhan Yesus MAU mengampuni bahkan menguduskan mereka dari dosa-dosa mereka. Mereka berpikir, “Tidak mungkin Tuhan sebaik itu mau menerima saya.” atau “Mustahil pengampunan Allah bisa diperoleh semudah itu.” atau “Aku harus berbuat baik dulu supaya aku layak diampuni.”

Apa itu yang juga ada di benakmu saat ini? Jika iya, izinkan aku menegaskan kepadamu bahwa Tuhan kita jauh lebih baik dari apa yang bisa kau bayangkan. Ia tidak hanya ingin mengampuni dan menguduskanmu, Ia mati dan menyerahkan hidup-Nya untukmu. Semua yang bisa Ia berikan, telah Ia korbankan untuk siapa saja yang mau percaya pada kasih-Nya yang tak terselami itu. Dan lagi, kau tidak akan pernah mampu membuat dirimu layak untuk diampuni dan diselamatkan melalui usaha dan tekadmu. Justru, berpikir bahwa kau mampu berbuat baik dan membuat dirimu layak untuk diselamatkan merupakan tindakan yang dibenci oleh Tuhan sebab sama saja kau berpikir bahwa kasih dan pengampunan-Nya dapat kau beli dengan kebaikan-kebaikan semu yang kau kerjakan.

Tidak, Allah bukanlah pengemis kebaikan. Ia tidak butuh kebaikan dari siapapun. Kasih-Nya tidak dapat dibeli oleh siapapun. Pengampunan-Nya tidak dapat dibeli dengan apapun. Ia mengasihi dan berbuat baik kepada siapa saja yang Ia kehendaki (Roma 9:18). Dari ayat itu, kau mungkin akan berkata, “Nah, Allah hanya mengasihi siapa yang Ia mau kasihi, pasti Ia tidak mau mengasihi orang jahat seperti aku ini.” Memang benar bahwa Allah bebas mengasihi siapa saja seturut kehendak-Nya tetapi janganlah kita lupa bahwa Ia juga pernah berjanji bahwa siapa saja, ya siapa saja, yang mau datang kepada-Nya, tidak akan Ia buang (Yohanes 6:37).

Ayat - Tidak akan dibuang

Itulah janji agung-Nya yang penuh dengan kasih setia. Dengan janji itu, siapapun, termasuk orang paling berdosa sekalipun, dapat datang kepada-Nya dengan kepercayaan bahwa Ia akan menepati kata-kata-Nya atau dengan kata lain, Ia pasti akan menerima dan mengampuni orang itu seandainya ia mau memberi diri kepada-Nya. Tuhan kita juga pernah berkata:

Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!
Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci:
Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.
(Yohanes 7:37-38)

Di bagian firman Tuhan yang lain, Allah berfirman melalui nabi-Nya, Yesaya:

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air,
dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah!

Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah,
juga anggur dan susu tanpa bayaran!

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku;
dengarkanlah, maka kamu akan hidup!
Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu,
menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.
(Yesaya 55:1 & 3)

Lihatkan? Kau tidak perlu menjadi orang yang baik dulu untuk datang kepada-Nya. Kau tidak perlu menjadi orang yang kudus atau sempurna dulu untuk menerima keselamatan dari-Nya. Apa yang perlu kau lakukan adalah “menyadari bahwa kakimu kotor dan kemudian memberikan kakimu untuk dibasuh oleh-Nya”. Apa yang perlu kau lakukan adalah menyelidiki hatimu, menyadari bahwa sebenarnya kau sedang haus, lalu percaya bahwa hanya di dalam Dia kau akan menerima pemuasan dahagamu, dan kemudian datang kepada-Nya untuk menerima air hidup itu. Dengan demikian, kebenaran Kristus akan menjadi kebenaranmu, kekudusan Kristus akan menjadi kekudusanmu, kesempurnaan Kristus akan menjadi kesempurnaanmu, dan hidup Kristus akan menjadi hidupmu.

IMG_68720405925818

Percayalah kepada-Nya!  Percayalah juga bahwa pengorbanan-Nya di atas kayu salib telah CUKUP dan SEMPURNA untuk menyediakan pengampunan bagi dosa-dosamu, maka dari dalam hatimu akan mengalir aliran-aliran air hidup, yakni Roh Kudus, sehingga kau beroleh hati yang baru. Sendengkanlah telingamu, dengarlah Dia, dan datanglah kepada-Nya, maka kau akan hidup. Tidak hanya itu, Ia akan mengikat perjanjian kekal denganmu. Berdasarkan apakah perjanjian itu Ia ikat? Apakah berdasarkan kebaikan atau kesempurnaanmu? Tidak. Perjanjian itu Ia ikat denganmu berdasarkan dan hanya berdasarkan kasih setia-Nya yang teguh (Yesaya 55:3).

Ia akan membimbingmu. Ia akan senantiasa menyertaimu. Ia akan membuatmu bertumbuh subur, kokoh, dan berbuah layaknya pohon yang ditanam di tepi aliran air. J.C. Ryle pernah berkata:

“Orang Kristen sejati merupakan satu-satunya orang yang berbahagia
sebab ia memiliki sumber kebahagiaan yang sepenuhnya tidak bergantung pada dunia ini.
Ia memiliki Sahabat yang tidak akan pernah mati,
ia memiliki harta setelah kematian yang tidak akan pernah direbut darinya.
Kebenarannya adalah tanpa Kristus tidak ada kebahagiaan di dunia ini.”

Maukah kau percaya akan kabar terbaik sejagad raya dan sepanjang masa ini? Jika kau mau percaya dan menyerahkan seluruh hidupmu kepada-Nya, maka kau akan hidup, maksudku benar-benar hidup, dan tahun 2015 yang akan segera kita masuki ini akan menjadi tahun paling berarti di dalam hidupmu sebab kau tidak akan hanya hidup melainkan hidup dengan kelimpahan akan kebahagiaan sorgawi yang belum pernah kau kenal sebelumnya.

Ayat - Pohon di tepi Air

Amin
Selamat Tahun Baru 

Tuhan Yesus memberkati

3. Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

3. Kebahagiaan Hanya akan Dialami oleh Orang yang Terlahir Kembali

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air…
(Mazmur 1:3)
Ayat - Air Hidup
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Yohanes 3Prinsip ketiga dari kebahagiaan yang Alkitabiah adalah kebahagiaan sejati hanya dapat dialami oleh mereka yang telah terlahir kembali melalui kuasa Roh Kudus. Prinsip ini pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kedua prinsip sebelumnya sebab hanya orang yang telah lahir baru yang dapat hidup kudus (prinsip pertama) serta menikmati dan menaati Firman Allah (prinsip kedua). Namun, untuk tujuan pemahaman yang lebih mendalam, kita perlu memisahkan prinsip ini dari dua prinsip yang lain.

Perhatikan bahwa pemazmur tidak menggambarkan orang yang berbahagia itu sebagai “pohon yang tumbuh” atau “pohon yang tertanam” melainkan “pohon yang di-tanam” di tepi aliran air. Apa yang pemazmur ingin sampaikan adalah bahwasanya pohon itu tidak tumbuh di tepi aliran air secara kebetulan atau sebagai akibat dari proses yang alamiah. Pohon itu tidak akan pernah tertanam di tepi aliran air seandainya tidak ada seseorang yang secara sengaja menanam bibit pohon itu di sana.

Ini merupakan kiasan yang sangat indah untuk menggambarkan orang yang pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sejati di dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah timbul, baik secara spontan, natural, maupun dengan usaha yang timbul dari kehendak seorang manusia. Sama seperti biji pohon tidak dapat memutuskan untuk tertanam di tepi aliran air, manusia tidak dapat membuat keputusan apapun untuk membuatnya hidup dalam kebahagiaan. Satu-satunya cara agar seseorang dapat menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya adalah apabila ada seorang Pribadi, yang berkuasa atas orang itu, yang berintervensi dan menempatkan orang itu ke dalam hidup yang baru. Pribadi yang dimaksud tentu saja adalah Allah, melalui Roh-Nya yang kudus.

Hal yang serupa pernah diungkapkan oleh Tuhan kita kepada Nikodemus yang pada suatu malam mendatangi Dia untuk bercakap-cakap dengan-Nya. Nikodemus bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan seorang Pengajar Israel yang tentu menguasai bagian Firman Tuhan yang saat ini kita kenal sebagai Perjanjian Lama. Ia juga termasuk golongan Farisi dan itu artinya ia berpikir bahwa manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan kerja keras dan ketaatannya kepada Firman Allah. Untuk mengoreksi pemahaman Nikodemus yang salah ini, Tuhan kita berkata kepadanya.

Yohanes 3 3Satu pernyataan dari Tuhan Yesus sudah cukup untuk menegaskan kepada Nikodemus bahwa apa yang telah ia pahami selama ini adalah salah sekalipun ia terkenal sebagai seorang ahli Firman Allah. Tuhan kita menggambarkan perihal masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagai suatu peristiwa kelahiran. Manusia tidak dapat melakukan atau membuat keputusan apapun untuk membuat dirinya dilahirkan. Sama dengan itu, manusia tidak berdaya melakukan apapun untuk membuatnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mendengar perkataan Tuhan, Nikodemus belum mengerti. Ia kemudian bertanya, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Di dalam kebingungannya, Nikodemus masih mengharapkan Tuhan Yesus untuk memberitahu kepadanya apa yang dapat ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Tetapi Tuhan Yesus berkata kepadanya:

Angin

Apa yang Tuhan kita maksud (kusarankan membaca satu perikop penuh dari Injil Yohanes pasal 3) adalah bahwa seseorang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kecuali ia telah dilahirkan kembali (atau dalam bahasa aslinya: dilahirkan dari atas), bukan dengan kehendak dan kuasanya sendiri, melainkan dengan kehendak dan kuasa Allah melalui Roh Kudus. Sama seperti angin yang tidak dapat dikendalikan serta tidak diketahui dari mana datangnya dan ke mana perginya, Roh Kudus mengerjakan kelahiran baru di dalam hidup seseorang tanpa campur tangan sedikitpun dari orang itu. Layaknya seorang bayi tidak memberi kontribusi apapun dalam kelahiran jasmani, seorang Kristen tidak memberi kontribusi sedikitpun dalam peristiwa kelahiran rohani. Ibarat mayat tidak dapat membuat dirinya bangkit dari kematian fisik, seorang manusia yang telah mati di dalam dosa tidak akan pernah mampu mengerjakan kebangkitan spiritual di dalam hidupnya.

10257654_10152474653308115_6854282495194062779_o

Ini merupakan kebenaran yang seharusnya menghancurkan kesombongan yang ada di dalam hati setiap orang, khususnya mereka yang menganggap dirinya cukup baik, seperti Nikodemus di malam itu. Manusia sama sekali tidak memiliki kuasa dan kedaulatan untuk memperoleh hidup dan kebahagiaan yang sejati. Apa yang manusia dapat lakukan hanyalah percaya dan meminta di dalam kerendahan hati namun hanya Allah yang dapat memberikan hidup yang baru seturut dengan kehendak-Nya. Seperti seseorang yang sengaja mengambil bibit pohon dan menanamkannya di tepi aliran air, begitu pula Allah yang di dalam kedaulatan-Nya mengambil seorang manusia yang awalnya mati secara rohani, memindahkannya dari kegelapan, dan akhirnya menanam orang itu ke dalam persekutuan yang intim dan indah dengan Anak-Nya, yang adalah Sumber Air Kehidupan.

10494674_10152357886368423_8905995408551234084_n

Ketika mengerjakan mujizat kelahiran baru atau regenerasi, Allah Bapa melalui Roh Kudus, datang kepada seseorang yang telah Ia pilih sebelum dunia dijadikan dan menganugerahkan kepadanya iman di dalam Yesus Kristus yang membawa orang itu kepada keselamatan sehingga ia tidak lagi mati secara spiritual, melainkan beroleh hati dan hidup yang baru di dalam Kristus. Ia yang telah mengalami kelahiran baru merupakan orang yang telah diselamatkan-Nya dan tanpa kelahiran baru tidak ada keselamatan.

Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita,
dan kasih-Nya kepada manusia,
pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita,
bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,

tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali
dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,
(Titus 3:4-6)

Setelah seseorang dilahirkan kembali, ia yang awalnya tidak pernah terlepas dari perbudakan dosa akhirnya dibebaskan oleh Allah dan ia dianugerahi-Nya kekuatan untuk berperang melawan dosa dan mengalahkannya. Ia yang pada awalnya buta dan tuli akan Firman Allah, dibuat-Nya menjadi berhikmat dan peka terhadap Firman-Nya. Tidak hanya itu, hatinya yang telah diperbaharui oleh Allah menjadikannya rindu untuk taat pada setiap perkataan dan hukum-Nya. Ia tidak lagi memandang ketaatan sebagai kewajiban yang memberatkan tetapi sebagai wujud ucapan syukur, penyembahan, sukacita, bahkan kehormatan karena telah diizinkan untuk melayani Allah yang telah menebus hidupnya dari maut. Ia, yang telah dilahirkan oleh Roh, akan mengikut teladan Kristus yang pernah berkata:

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(Yohanes 4:34)

Setiap hari, Roh Kristus terus membimbingnya untuk hidup di dalam kekudusan dan mengajarkan arti Firman Tuhan kepadanya. Ia menjalani hidup yang digambarkan oleh Raja Salomo sebagai “cahaya fajar” yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari (Amsal 4:18). Ia bersekutu dengan Allah. Ia menikmati persekutuan dengan Allah. Ia diperbaharui hari demi hari menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29).

10450139_10152238279248520_322665142783905292_n

Seperti bibit yang bertumbuh menjadi pohon yang kokoh, berdaun rimbun, dan berbuah lebat, ia yang semula adalah bayi rohani, dididik dan dibesarkan oleh Allah menjadi seorang Kristen yang dewasa, yang berakar kuat di dalam iman yang sejati, dan yang menghasilkan buah-buah yang baik yang Allah kehendaki untuk kemuliaan bagi Nama-Nya. Buah-buah apakah yang dimaksud? Ini mengantarkan kita kepada bagian yang selanjutnya.

Matthew_5-16

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil
(Mazmur 1:3)

J.-C.-Ryle

Pohon yang ditanam di tepi aliran air akan tumbuh subur dan menghasilkan buah pada musimnya. Keberadaan buah menunjukkan bahwa pohon tersebut memiliki makanan yang berlimpah sehingga ada bagian yang dapat disimpan sebagai cadangan makanan untuk bertahan hidup ketika musim kering tiba. Tidak hanya itu, buah tidak hanya berguna bagi pohon itu sendiri tetapi juga bagi sang penanam pohon. Orang itu menanam pohon itu di tepi aliran sungai dengan harapan suatu saat kelak ia akan menikmati buah-buah yang matang, manis, dan segar yang pohon itu hasilkan.

Demikianlah halnya mereka yang telah menemukan Yesus Kristus dan menerima hidup yang baru. Mereka tidak akan berkekurangan dalam segala hal yang baik yang mereka butuhkan. Mereka sama seperti Daud yang di dalam Mazmurnya mengatakan, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Tidak hanya itu, hidup mereka akan berkelimpahan dengan kasih karunia Allah sehingga akan selalu ada berkat yang bisa mereka bagikan sebagai buah untuk membangun orang lain dan terutama untuk memuliakan Allah yang adalah Sang Penanam. Mereka akan bersama-sama dengan Rasul Paulus menegaskan komitmen mereka kepada Allah dan berkata:

Bekerja Memberi Buah

Buah seperti apa yang akan mereka hasilkan? Firman Tuhan menjelaskannya, yaitu:

  • buah pertobatan (Matius 3:8)
  • buah kebenaran (2 Korintus 9:10 ; Filipi 1:11 ; Ibrani 12:11)
  • buah pengudusan (Roma 6:22)
  • buah pekerjaan yang baik (Kolose 1:10)
  • buah Roh (Galatia 5:22-23)
  • buah jiwa-jiwa (Yohanes 12:24 ; 1 Korintus 9:1 ; Filemon 1:12)

Ayat - Buah yang Baik

Semua yang digambarkan oleh Firman Allah sebagai buah berbicara tentang perbuatan atau cara hidup yang berkenan kepada Allah. Namun, ada satu buah yang unik dan berbeda dari buah-buah yang lain, yaitu buah jiwa-jiwa. Apakah arti dari buah jiwa ini? Buah jiwa adalah orang tak percaya yang akhirnya bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya melalui Injil yang diberitakan oleh seorang Kristen dan/atau orang percaya yang diteguhkan iman dan pemahamannya akan Firman Tuhan melalui pengajaran dan pemuridan yang dilakukan oleh seorang Kristen. Kecuali untuk kasus tertentu seperti orang-orang yang baru menerima anugerah iman dan pertobatan ketika menjelang akhir hidupnya, semua orang Kristen yang sejati dipanggil, diperlengkapi, dan dianugerahi kesempatan oleh Allah untuk menghasilkan buah jiwa-jiwa bagi-Nya.

IMG_63560266546871

Keselamatan dan penguatan iman bagi domba-domba Kristus, itulah yang selalu menjadi kerinduan bagi mereka yang telah menerima anugerah hidup yang baru. Itulah yang akan selalu mengisi doa-doa mereka. Itulah yang menjadi bahan bakar di dalam hidup mereka. Mereka paham benar artinya diampuni dan diselamatkan oleh Allah sehingga mereka rindu melihat orang lain juga diampuni dan diselamatkan oleh-Nya. Mereka sama seperti Raja Daud, yang ketika memohon pengampunan dari Allah berjanji:

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu,
dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu
kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran,
supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
(Mazmur 51:14-15)

Mereka tidak lagi hidup untuk kebahagiaan mereka sendiri. Keselamatan jiwa-jiwa menjadi kebahagiaan mereka. Amanat Agung Kristus menjadi hidup mereka. Bagi mereka, segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan perluasan Kerajaan Allah di muka bumi ini adalah suatu kesia-siaan yang tidak layak diperjuangkan. Di dalam Kristus, hidup mereka menjadi suatu ladang misi sekaligus ladang penggembalaan yang melaluinya orang-orang dapat melihat kemuliaan Allah dan datang kepada Kristus, Sang Juruselamat dunia.

10410704_780231608708168_8733410967724945748_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hidup yang berbuah bagi Allah, itulah arti kebahagiaan menurut Alkitab. Mereka yang berbahagia adalah orang yang kekuatan hidupnya bersumber dari persekutuan yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus dan yang dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang, khususnya bagi anak-anak-Nya. Sama seperti pohon yang akarnya menjalar semakin dalam dari hari ke hari, Kristus akan membawa setiap domba-Nya kepada pengenalan akan Allah yang semakin mendalam.

Dengan demikian, seperti kata Pemazmur yang mengatakan bahwa “daun pohon itu tidak akan layu”, anak-anak Tuhan yang telah terlahir kembali tidak akan berputus asa. Justru sebaliknya, mereka akan selalu memiliki pengharapan dan pengharapan itu tidak akan mengecewakan mereka (Roma 5:5 ; 15:3). Mereka akan giat bekerja bagi Kerajaan Allah dan sekalipun lelah, mereka akan menemukan sukacita di dalam setiap jerih payah mereka sebab Kristus akan selalu bersama-sama dengan mereka (Matius 28:20). Mereka akan mendapati apa yang mereka kerjakan berhasil sebab Allah menyertai mereka dan mendengarkan serta mengabulkan doa-doa mereka (Yohanes 15:7 ; 16:24).

Akulah Pokok Anggur

#Bersambung ke: 4. Berbahagia atau Tidak Sama Sekali

2. Mengejar Kebahagiaan di Dalam Firman Allah

2. Kebahagiaan Berakar dari Kesukaan dan Ketaatan pada Firman Allah

Berbahagialah orang yang … kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam…
(Mazmur 1 : 2)

1919674_958133837534506_3781354289254485676_n
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Prinsip kedua dari kebahagiaan yang Alkitabiah adalah kebahagiaan bersumber dari kesukaan dan ketaatan pada Firman Allah. Aku rasa prinsip ini saja sudah cukup untuk memberikan kesimpulan kepada kita bahwa 50% lebih (saya hanya menduga di sini) manusia yang hidup di muka bumi ini tidak sedang berbahagia. Berbeda dengan Pemazmur yang menemukan sukacita di dalam perenungan Firman Allah, dunia termasuk sejumlah besar orang yang menyebut dirinya Kristen tidak merasakan hal yang sama. Berawal dari ketidaksukaan akan Firman Allah ini, dunia melarikan diri kepada kenikmatan-kenikmatan yang mereka ciptakan dan semakin hari semakin membuat dirinya terpuruk dalam kegelapan.

Martyn-Lloyd-Jones-Quote

Di dalam ketidaktaatan mereka, sebagian orang meninggalkan penghormatannya kepada Allah sementara sebagian lagi berusaha mengartikan, bahkan mengubah isi Firman Allah agar sesuai dengan keinginannya. Sebagai hasilnya, penderitaan demi penderitaan menimpa dunia ini sebab penderitaan bermula dari ketidaktaatan manusia. Semakin banyak penderitaan menerpa, orang-orang menjadi semakin memberontak kepada Allah dan semakin menjauh dari apa yang telah Allah tetapkan di dalam Firman-Nya. Ironisnya, justru di tengah-tengah kekacauan dan kegelapan inilah, orang-orang yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti arti sukacita kemudian menciptakan definisi mereka sendiri untuk kebahagiaan.

Kebahagiaan itu kemudian mereka kejar. Mereka melakukan dan mengorbankan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan itu. Ketika akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka mungkin akan merasakan kesenangan sekejap tetapi tidak lama setelah itu, mereka sadar bahwa keinginan hati mereka belum benar-benar terpuaskan. Mereka lalu menargetkan kebahagiaan baru yang kemudian mereka kejar kembali. Mereka kembali mendapatkan apa yang mereka harapkan tetapi hati mereka tidak kunjung damai dan puas. Di dalam kekecewaan yang tidak ingin mereka akui, mereka mengulang kembali lingkaran setan itu dengan harapan yang tetap sama, yaitu mereka ingin hidup bahagia. Proses itu berlangsung terus menerus dan semakin lama proses itu berlanjut semakin mereka jauh dan tersesat dari Firman Allah. Alhasil, mereka menjadi semakin jauh dari kebahagiaan yang sejati dan semakin dekat kepada kebinasaan.

IMG_325728570881348

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Raja Salomo, orang yang paling berhikmat (setelah Yesus Kristus) yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi ini, pernah berkata:

Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan,
dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.
(Amsal 16:20)

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus yang ketika berkhotbah di atas bukit pernah mengatakan:

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan.
(Matius 5:6)

dan dalam doa-Nya di taman Getsemani, Tuhan kita mengatakan, “firman-Mu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17). Dengan kata lain, Tuhan kita menegaskan bahwa mereka yang lapar dan haus akan kebenaran Firman Allah adalah orang-orang yang berbahagia sebab mereka akan dipuaskan, atau menurut terjemahan lain, mereka akan dipenuhi.

Dipuaskan atau dipenuhi dengan apa? Tentu saja dengan semua hal BAIK yang Allah Bapa siapkan dan sediakan bagi mereka yang mengasihi-Nya dan yang terpanggil menurut rencana-Nya (Roma 8:28). Mereka disebut berbahagia sebab mereka akan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (Efesus 3:19) yang mencakup:

  • segala pengetahuan (Roma 15:14)
  • buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus (Filipi 1:11)
  • sukacita (Kisah Para Rasul 13:52), dan
  • kepenuhan Roh Kudus (Lukas 11:13)

10513385_10152300797676961_8258025378463131414_n

Itu semua adalah berkat yang Allah sediakan bagi setiap orang yang lapar dan haus akan Firman-Nya. Namun, perlu kita ketahui bahwa orang yang benar-benar lapar dan haus akan Firman Allah, tidak hanya akan berhenti sampai pada titik di mana ia belajar Firman tersebut, tetapi lebih dari itu, ia juga akan memiliki kerinduan dan kesediaan untuk taat kepada Firman yang ia terima itu. Berkat Allah, yang disebut di atas, tidak tersedia untuk mereka yang hanya ingin mengenal Allah secara intelektual untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri tetapi hanya untuk mereka yang benar-benar mencintai-Nya dan memiliki relasi yang intim sebagai hamba sekaligus anak-Nya, yang mana semua itu akan ditandai dengan KETAATAN pada perintah-perintah-Nya.

Ayat

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Matius

Namun, kita perlu menyadari realitas yang terjadi di dalam hati dan hidup setiap manusia. Realitas apakah itu? Yakni pada dasarnya kita tidak sepakat dengan Tuhan Yesus ketika Ia mengatakan bahwa manusia hidup dari firman yang keluar dari mulut Allah. Bagi kita, yang membuat kita hidup adalah roti dan bukan Firman Allah. Kita tidak terlahir dan bertumbuh sebagai orang yang menyukai Firman Allah. Kita hidup sebagai orang yang menemukan kegembiraan di dalam hiburan dan kenikmatan dunia namun tidak di dalam Firman-Nya. Bagi kita, Firman Allah tidak lebih dari daftar peraturan yang harus ditaati, sejarah panjang yang tidak jelas ke mana arahnya, rincian kutuk yang menakutkan, deretan janji berkat yang tidak lebih menarik dan menggoda dibanding janji-janji dan kenikmatan dunia, serta kisah Yesus Kristus yang telah kita hapal di luar kepala sejak zaman sekolah Minggu. (Apakah itu yang ada di pikiranmu saat ini?)

Mengapa bisa begitu? Mengapa kisah dan kata-kata dari Allah tidak lebih menarik dibanding kisah dan kata-kata manusia yang hina dan fana? Jawaban Alkitab untuk pertanyaan itu adalah karena dosa telah menggelapkan pikiran setiap manusia duniawi sehingga mereka tidak memiliki cukup hikmat untuk memahami, apalagi menikmati Firman Allah. Melalui Rasul Paulus, Allah berfirman:

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,
karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;
dan ia tidak dapat memahaminya,
sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
(1 Korintus 2:14)

Semua manusia, dilahirkan sebagai manusia duniawi atau manusia yang berada di bawah kutuk perhambaan dosa. Mereka tidak dapat mengerti Firman Tuhan sebab Firman itu hanya dapat dipahami oleh manusia rohani.  Itulah alasan mengapa dunia tidak pernah menemukan kebahagiaan. Itulah alasan mengapa orang-orang tidak menemukan sukacita, kedamaian, dan penguatan dari janji-janji Allah dalam Firman-Nya. Itulah alasan mengapa Alkitab tidak lebih menarik dibanding novel dan komik buah pikiran manusia. Itulah asalan mengapa Injil tidak cukup untuk membuat orang-orang ingin menari.

Bukankah itu kabar yang menyedihkan? Bagiku, itu sangat menyedihkan dan membuat hati gentar. Sayangnya, ada kabar yang lebih buruk dari itu, yaitu bahwa tidak ada seorangpun yang dengan tekad dan usahanya dapat membuat dirinya menikmati dan mengerti Firman Allah. Manusia mungkin dapat melatih, bahkan memaksa diri mereka untuk rajin merenungkan Firman Tuhan tetapi jauh di dalam hati mereka, mereka tidak akan pernah sanggup membuat hati mereka cinta akan Firman-Nya. Mengapa? Sebab tidak peduli sekeras apa mereka berusaha, mereka tidak akan pernah bisa membuat diri mereka sendiri menjadi manusia yang rohani.

Hal itu menempatkan semua manusia pada kondisi yang tanpa pengharapan sebab dari diri mereka sendiri mereka tidak akan pernah menemukan pertolongan. Itu adalah kabar buruk bagi setiap manusia tanpa terkecuali seorangpun. Namun, ketiadaan pengharapan yang datangnya dari manusia tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki pengharapan sama sekali. Tuhan kita pernah berkata,

Bagi manusia hal ini tidak mungkin,
tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.
(Matius 19:26)

Ya, manusia  masih memiliki pengharapan. Masih ada kabar baik. Masih ada jalan keluar. Dan inilah jalan keluar yang Allah kerjakan agar manusia dapat menikmati Firman-Nya dan agar seorang manusia duniawi berubah menjadi manusia rohani:

IMG_512179803371

Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan
Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku
dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.
(Yehezkiel 36:26-27)

Apakah yang Allah maksud di dalam firman tersebut? Kelahiran baru, itulah satu-satunya jalan keluar bagi umat manusia. Hanya orang yang telah dilahirkan kembali yang akan memiliki hati yang menikmati Firman Allah. Hanya orang yang telah dilahirkan kembali yang memiliki hikmat untuk mengerti dan taat akan Firman-Nya sebab hanya merekalah yang memiliki Roh Kudus untuk mengajarkan kepada mereka arti dari Firman yang mereka terima dan renungkan. Dengan kata lain, hanya mereka yang telah mengalami mujizat lahir baru yang akan menemukan kebahagiaan sejati yang selalu dinantikan tetapi yang tidak pernah dikenal oleh dunia ini. Inilah yang menjadi prinsip ketiga dari kebahagiaan yang Alkitabiah dan ini mengantarkan kita kepada bagian selanjutnya.

10676352_10150462153014949_3686280372401967037_n

#Bersambung ke: 3. Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

1. Mengejar Kebahagiaan atau Kekudusan?

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil.

(Mazmur 1 : 1-3)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 A

Tahun 2014 sebentar lagi akan berlalu dan berganti menjadi tahun 2015. Ada begitu banyak cara yang dilakukan oleh masing-masing orang untuk mengisi waktu pergantian tahun ini. Ada yang bercengkerama bersama-sama dengan keluarga besar, ada yang bepergian bersama teman dekat, dan ada juga yang menikmatinya dalam kesendirian. Ada yang membuat resolusi untuk dilakukan di tahun depan, ada yang memasang target-target baru, dan ada juga yang mengilas balik semua kejadian penting yang telah terjadi di dalam hidupnya di tahun yang akan segera berlalu ini. Semua orang memiliki pengalaman yang berbeda di dalam tahun 2014 dan memiliki pengharapan yang berbeda pula untuk tahun yang baru. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka semua di pergantian tahun ini. Apakah itu?

Mereka mengharapkan tahun depan adalah tahun yang penuh KEBAHAGIAAN.

Kebahagiaan, itu merupakan harapan yang secara alami dimiliki oleh setiap orang. Tidak ada seorangpun yang hidup di muka bumi ini yang tidak ingin hidup berbahagia. Semua orang ingin hidup bahagia dan seperti apa yang dicetuskan dalam US Declaration of Independence, setiap orang berhak untuk mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) di dalam hidup yang dijalaninya.

Namun, ada satu masalah besar: dunia sama sekali tidak mengerti apa itu kebahagiaan. Bagi dunia, kebahagiaan adalah kondisi yang penuh dengan canda tawa dan senyuman, perasaan jauh dari atau lupa akan keberadaan masalah, atau kondisi di mana segala sesuatu berada di bawah kendali. Kebahagiaan adalah kekayaan, kesehatan, kesuksesan, dan kekuasaan. Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu meraih apa yang ia cita-citakan. Kebahagiaan adalah ketika seseorang memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang ia kehendaki tanpa ada seorangpun yang menghalangi. Kebahagiaan adalah ketika seseorang diterima dan dihargai. Kebebasan adalah ketika seseorang mampu memandang dirinya sebagai pribadi yang berharga terlepas dari pendapat siapapun.

Jika kau bertanya kepada orang-orang di luar sana, jawaban-jawaban seperti itulah yang akan kau dapatkan. Mungkin jawaban itu tidak akan keluar dari pengakuan atau penuturan bibir mereka namun gaya dan cara hidup mereka akan menegaskan bahwa hal-hal itulah yang mereka mengerti sebagai kebahagiaan dan itulah yang mengisi mimpi-mimpi mereka di masa pergantian tahun ini.

Lalu, apa tanggapan Alkitab mengenai definisi dunia tentang kebahagiaan itu? Memang benar bahwa untuk sekian waktu lamanya semua itu dapat membawa kenikmatan dan kegembiraan bagi mereka yang mendapatkannya. Namun, semua itu bukanlah kebahagiaan yang sejati dan yang ilahi menurut Firman Allah. Jika kebahagiaan adalah sama seperti apa yang dunia pahami dan inginkan, maka Tuhan kita tidak perlu turun dari sorga, menjadi manusia, dan mati di atas kayu salib untuk menanggung hukuman bagi orang-orang berdosa. Dunia sama sekali tidak mengenal apa itu kebahagiaan. Lebih buruk dari itu, dunia tidak sadar bahwa apa yang mereka kenal, harapkan, dan kejar selama ini bukanlah kebahagiaan melainkan tipuan iblis yang selalu berusaha memerangi Kerajaan Allah dan tidak pernah berhenti untuk menyesatkan dan membinasakan setiap orang.

Ayat - Pengkhotbah

Opini dan ekspektasi manusia bukanlah kebenaran. Satu-satunya kebenaran adalah Allah dan Firman-Nya. Oleh sebab itu, kita sebagai orang percaya tidak boleh menyerahkan kesempatan kepada dunia dan manusia untuk mendefinisikan bagi kita apa itu kebahagiaan. Aku katakan ini dengan segenap hatiku, “Jangan biarkan Pak Mario Teguh mengartikan apa itu kebahagiaan padamu!”. Apa yang perlu kau dan aku lakukan adalah datang kepada Allah dan memohon belas kasih-Nya untuk menjelaskan dan mengajarkan kepada kita arti kebahagiaan yang sejati melalui Firman-Nya yang ada di Alkitab. Tidak hanya sampai di sana, kita perlu mengerti bahwa Allah tidak hanya ingin mengajarkan apa itu kebahagiaan tetapi Ia juga rindu memberikannya kepada setiap orang yang Ia kehendaki menurut kasih setia dan janji-Nya.

37104_777900745607921_4859655576686665285_n

Nah, untuk itulah aku mengajak kita semua untuk bersama-sama denganku belajar tentang arti kebahagiaan berdasarkan Firman Allah. Melalui pembelajaran kali ini, aku berharap kita mengerti apa kata Tuhan mengenai kebahagiaan yang sesungguhnya, dan setelah kita mengerti kita percaya, dan setelah kita percaya kita meminta, dan setelah kita meminta kita menerima, dan akhirnya segala sesuatu kita kembalikan hanya untuk memuliakan Allah kita.

Maukah engkau memahami Firman-Nya dengan lebih dalam?
Siapkah engkau diajar oleh-Nya?
Jika “Ya”, semoga pembelajaran (4 judul) kali ini dapat menjadi berkat bagimu dan bagiku.

Ayat - Ayub

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Kebahagiaan Berakar dari Kekudusan

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh
(Mazmur 1:1)

J. I. Packer - To be Godly

Prinsip pertama dari kebahagiaan yang sejati menurut Alkitab adalah kebahagiaan berakar dari kekudusan. Mereka yang berbahagia adalah mereka yang hidupnya kudus dan jauh dari dosa. Ini adalah kebenaran yang tidak dimengerti oleh dunia. Bagi dunia, dosa adalah sumber kenikmatan. Bagi dunia, kebebasan untuk berbuat dosa merupakan kebahagiaan itu sendiri. Tidak demikian apa yang Alkitab katakan. Firman Allah menegaskan bahwa dosalah yang menyebabkan datangnya penderitaan dan maut ke dalam dunia ini. Oleh sebab itu, satu-satunya jalan agar manusia mengalami kebahagiaan adalah apabila ia terlepas dari kuasa dan perbudakan dosa. Dengan kata lain, hanya mereka yang hidup di dalam kekudusan yang akan mengerti dan mengalami kebahagiaan yang berasal dari Allah.

Martyn Lloyd-Jones Holiness

Dan inilah yang selama ini aku kuatirkan, yakni kalau-kalau iblis telah menggiring Kekristenan, khususnya di Indonesia, ke arah yang ia kehendaki, yaitu “Kekristenan” tanpa kekudusan. Mengapa aku menuliskan “Kekristenan” dengan tanda petik? Sebab tidak mungkin Kekristenan terpisah dari kekudusan. Tidak ada Kekristenan tanpa kekudusan. Kekristenan yang sejati akan ditandai oleh kekudusan hidup.

Lihatlah ke sekelilingmu! Adakah ajaran dan ajakan untuk menjaga dan mengejar kekudusan hidup disampaikan di persekutuan atau gerejamu? Jika tidak ada, berjaga-jagalah dan berdoalah agar Tuhan tidak membiarkan persekutuanmu jatuh ke tangan si jahat. Adapun untukmu, tuliskanlah ini di dalam hati dan pikiranmu: kekudusan adalah syarat mutlak untuk kebahagiaan yang sejati.

10551030_10152688286638385_6168516039088401875_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kini pertanyaannya, bagaimanakah cara agar manusia dapat hidup kudus. Jika kita bertanya kepada orang-orang religius yang memenuhi dunia ini dengan segala peraturan-peraturan yang mereka miliki, maka kita akan mendapat beberapa jawaban seperti ini: “Lakukan ini maka kau akan hidup kudus!” atau “Lakukan itu maka kau akan benar di hadapan Allah!”

Jawaban seperti itu tidaklah lebih dari tong kosong yang nyaring bunyinya. Firman Tuhan berkata bahwa merupakan suatu kemustahilan bagi seorang manusia, yang telah jatuh ke dalam dosa, untuk dapat hidup benar dan kudus di hadapan Allah. Manusia memang dituntut oleh Allah untuk hidup benar dan kudus namun manusia tidak akan pernah mampu memenuhi tuntutan tersebut bahkan barang sedikitpun. Ibarat kain kotor tidak dapat membersihkan lantai yang kotor, usaha dan ibadah manusia yang tidak sempurna tidak mungkin dapat menyucikan orang itu dari dosa-dosanya.

Ayub 14 4

Satu-satunya cara agar manusia dapat hidup kudus adalah apabila status dan natur dari orang itu terlebih dahulu dikuduskan oleh Allah. Dengan darah Anak-Nya yang tercurah di atas kayu salib, Allah membasuh orang-orang yang berdosa dan menguduskan mereka. Status mereka bukan lagi “orang berdosa” dan “orang yang dimurkai”, melainkan “orang kudus”, “orang benar”, dan “anak Allah”. Inilah yang di dalam Alkitab disebut sebagai peristiwa pembenaran (justification). Tidak hanya itu, natur mereka pun ditransformasi dari yang awalnya adalah “orang yang mati secara spiritual” menjadi “orang yang terlahir kembali”. Di dalam Alkitab, peristiwa ini disebut dengan kelahiran kembali (regeneration). Semua anugerah itu dapat diterima oleh manusia bukan dengan perbuatan baik atau pengetahuan yang mereka miliki, melainkan melalui dan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus dan kepada karya penebusan yang telah Ia tunaikan melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman,
dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
(Roma 3:28)

pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita,
bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,
tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali
dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
(Titus 3:5)

Pada saat status dan natur seseorang dikuduskan, Allah tidak lagi mengingat-ingat kesalahan yang orang itu perbuat (Yesaya 43:25). Ia dinyatakan benar di hadapan Allah dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang Allah selamatkan. Setelah itu, barulah orang itu dapat masuk ke dalam fase pengudusan hidup (sanctification). Berbeda dengan peristiwa pembenaran dan lahir baru yang terjadi secara sekejap (instan) dengan hanya melalui iman, pengudusan hidup merupakan suatu proses yang berlangsung secara progresif melalui ketaatan di mana seseorang yang berada di bawah tuntunan dan penguatan Roh Kudus berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Di dalam proses ini, gaya hidup orang itu dipangkas dan dibersihkan. Ia yang awalnya menikmati dan bersahabat dengan dosa, kini dimampukan oleh Allah untuk membenci dan menjauhinya. Ia yang awalnya adalah budak dosa, kini dikuatkan oleh Allah untuk berperang, bahkan mengalahkannya (sekalipun kemenangan mutlak atas dosa baru akan tercapai ketika tubuh dosa diganti oleh Allah dengan tubuh yang baru). Ia yang awalnya hidup duniawi dan penuh kebebasan, kini dibawa menuju kepada hidup yang kudus, benar, fokus, dan rohani.

Ayat - Pengudusan

Hidup yang demikian tentu tidak mudah. Akan ada begitu banyak penyangkalan diri, bahkan tangisan, yang terjadi dalam proses ini. Namun, seperti apa yang telah dibahas di atas, justru di dalam penyakalan diri itulah seseorang akan digiring oleh Allah kepada kekudusan yang semakin terang dan di dalam kekudusan yang semakin terang itulah ada kebahagiaan dan sukacita yang semakin hari semakin nyata.

Dalam menuntun dan mendidik umat-Nya menjalani proses pengudusan hidup, Allah memiliki cara yang unik dan khusus untuk masing-masing anak-Nya. Pengalaman orang Kristen yang satu tentu tidak akan persis sama dengan pengalaman orang Kristen yang lain. Namun, itu tidak berarti bahwa Allah akan memakai sembarang macam cara untuk menguduskan anak-anak-Nya. Itu juga tidak berarti bahwa Allah akan membiarkan setiap anak-Nya untuk berjalan menurut pikiran dan perasaannya sendiri kemudian berasumsi bahwa itu adalah tuntunan dari Allah. Tidak, Allah memang punya bermacam-macam cara namun semua cara itu tunduk pada satu prinsip, yaitu bahwa Allah hanya akan menguduskan umat-Nya dengan jalan membawa anak-Nya itu untuk hidup seturut dengan Firman-Nya.

Di luar Firman Allah, tidak ada pengudusan hidup. Itulah prinsip berikutnya dari kebahagiaan yang Alkitabiah. Firman Allah tidak akan pernah terlepas dari kebahagiaan sama seperti firman Allah tidak akan pernah terlepas dari kekudusan. Hal ini akan kita bahas dalam bagian berikutnya.

Ayat - Yohanes 17 17

#Bersambung ke: 2. Mengejar Kebahagiaan di dalam Firman Allah