Persembahkanlah Uangmu kepada Tuhan

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,
dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.

Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi,
dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.

(Matius 10:49-42)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman Tuhan Yesus di atas berbicara tentang bagaimana kita menyambut hamba-hamba Tuhan yang sedang menjalankan pelayanannya. Bentuk penyambutan yang dapat kita berikan tentu banyak macamnya. Namun, apa yang ingin dibagikan dalam bagian ini adalah bagaimana kita menyambut para pelayan Tuhan dan mendukung pelayanan yang mereka kerjakan dengan uang yang kita miliki.

Kita tahu dua hal yang pasti:

  1. Para pelayan Tuhan membutuhkan uang untuk melaksanakan pelayanan mereka dengan efektif.
  2. Uang yang kita miliki berasal dari Tuhan.

Kesimpulan apa yang dapat dipetik dari dua hal di atas?

Ya, Tuhan mengundang kita untuk mengambil bagian di dalam pelayanan-Nya dengan cara mempersembahkan sebagian uang yang telah kita terima dari Allah untuk mendukung para pelayan Tuhan di dalam mengerjakan tugas pelayanannya.

Orang bijaksana tahu bahwa semua uang mereka adalah milik Tuhan (John Piper). Semoga kita tidak hanya sadar bahwa segala harta yang kita miliki adalah milik kepunyaan Allah, tetapi juga dimampukan oleh Roh Kudus untuk bermurah hati dan berlimpah ucapan syukur sehingga kita rela mempersembahkan harta dan uang yang kita miliki, dalam jumlah yang sepatutnya, demi pekerjaan-Nya di dalam dunia ini.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah.
Amin

Advertisements

Nyanyian Pengajaran

Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi,
bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran!
(Mazmur 47:8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Allah memerintahkan umat-Nya untuk bernyanyi, tetapi bukan sekadar bernyanyi, melainkan “bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran.”

Musik dan lagu adalah dua hal yang sangat baik bagi jiwa,
namun musik dan lagu yang paling baik di atas segalanya adalah “nyanyian pengajaran”.

Dan dari manakah nyanyian pengajaran bersumber?
Dari hati dan pikiran yang diisi oleh Firman Allah.

Segala kemuliaan hanya bagi Dia.
Amin

Tetaplah Di Sana

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri dan berlakulah setia,
dan bergembiralah karena TUHAN;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN
dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang,
dan hakmu seperti siang.

(Mazmur 37:4-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

chambers-4

Kehidupan ini tidak selalu menyenangkan untuk dijalani. Ada banyak peristiwa, banyak pekerjaan, dan banyak pribadi yang keberadaannya seringkali mengusik hati kita. Tidak jarang hal ini terjadi di dalam dunia kerja. Tugas yang kurang disukai atau kurang mencerdaskan, suasana kerja yang kurang kondusif, bos yang kurang mengayomi, dan rekan kerja yang kurang kooperatif kerap menjadi alasan orang-orang, termasuk orang percaya, tidak betah dengan pekerjaannya dan hendak segera keluar dari sana demi mencari tempat pekerjaan baru yang lebih baik.

Apakah ini pernah terjadi padamu atau mungkin kau sedang mengalaminya saat ini? Jika “iya”, pernahkah engkau berpikir bahwa “tempat pekerjaan baru yang lebih baik” itu akan benar-benar lebih baik? Yakinkah engkau bahwa tempat itu akan menghadirkan kedamaian dan sukacita yang hatimu impikan?

Firman Tuhan di dalam mazmur ini berkata, apakah yang akan membuat manusia memiliki apa yang sebenarnya hatinya inginkan:

  • Percaya kepada Tuhan (ayat 3a)
  • Melakukan yang baik (ayat 3a)
  • Diam di negeri di mana engkau berada (ayat 3b)
  • Berlaku setia (ayat 3b)
  • Bergembira karena TUHAN (ayat 4)

Itulah jalan yang Tuhan sediakan, bukan jalan untuk lari dari kenyataan seperti yang seringkali terlintas di benak kita setiap kali kita merasa terusik dengan pekerjaan atau rekan kerja kita. Tuhan tahu dan mengerti setiap ketidaknyamanan dan penderitaan yang kita alami di tempat kita berada. Tetapi Tuhan tidak buru-buru mengizinkan kita untuk pergi dari tempat yang tidak menyenangkan itu, bahkan Ia mau agar kita bersabar di sana, sebab di sana Tuhan telah meletakkan mutiara-Nya, bukan untuk kenyamanan semu kita, melainkan untuk kedewasaan karakter kita yang tercapai oleh kekuatan-Nya, bukan kekuatan kita.

Ya, Tuhan jauh lebih peduli dengan karakter kita dibanding kenyamanan kita. Ia punya waktu yang kekal untuk kenyamanan kita di sorga kelak sehingga kini Ia lebih berfokus pada karakter kita.  Ia lebih tertarik untuk membenahi kondisi di dalam hati kita terlebih dahulu dibanding bergegas mengubah situasi di permukaan kita. Perhatikanlah apa yang Ia ucapkan. Ia mau kita berbuat baik, Ia mau kita tetap tinggal di sana dan berlaku setia di sana, bukan buru-buru pergi mencari tempat baru yang belum tentu lebih baik.

nn3

Mengapa belum tentu lebih baik? Sebab kebaikan dan sukacita yang hati kita butuhkan bukanlah berasal dari suatu tempat, melainkan dari Tuhan semata. Dialah awal dan akhir dari kegembiraan kita sebagaimana Ia membuka lima poin mazmur-Nya dengan percaya kepada Tuhan dan mengakhirinya dengan bergembira karena TUHAN (Mazmur 37:3, 4).

Di dalam segala sesuatu, mulailah dengan percaya kepada Tuhan. Salomo berkata di dalam Amsalnya, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5-6)”. Iman kepada Allah akan menjadi sumber kekuatan dan hikmat bagi kita untuk melakukan yang baik, tetap diam di tempat di mana Tuhan telah menempatkan kita, dan berlaku setia. Dan setelah kita mampu menjalani semua hal itu, hendaklah kita bergembira karena TUHAN, bukan karena hal lain, sebab hanya Dialah yang telah menuntun kita menjalani semua proses yang ada.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel:
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan,
dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(Yesaya 30:15)

Tetapi tidak hanya itu, Ia mengerti bahwa kita tidak hanya membutuhkan sukacita dan kedamaian. Apabila kita hidup taat kepada Allah, menurut tuntunan Roh dan firman-Nya serta berdasarkan kuat kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:20), Ia tahu bahwa pada waktu-Nya, Ia juga perlu memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang (Mazmur 37:6) di hadapan orang-orang yang menurut-Nya perlu melihatnya.

Tuhan tidak menghendaki kita merasa tidak nyaman hanya supaya kita merasa tidak nyaman. Ia mengizinkan kita hidup untuk sekian waktu lamanya di dalam ketidaknyamanan karena ada maksud yang indah di belakang semua itu dan itu adalah supaya kita mampu memancarkan terang-Nya yang benderang, bukan cahaya kita sendiri yang redup dan gelap. Ia menginginkan kita tidak mengejar kemuliaan kita sendiri sebab, sadar tidak sadar, justru itulah yang seringkali menjadi alasan utama mengapa kita merasa tidak nyaman dengan peristiwa, pekerjaan, dan pribadi mengusik yang ada di sekitar kita. Ya, sifat egois, ekspektasi yang tidak seturut dengan kehendak Tuhan, dan kehausan kita akan kemuliaan dan kenyamanan pribadi, itulah yang banyak kali menjadi akar dari segala penderitaan dan ketidaknyamanan yang kita alami. Jika kita merasa tidak betah karena pekerjaan kita menuntut kita untuk melakukan dosa, itu adalah hal yang wajar dan kita memang perlu keluar dari tempat itu tetapi jika tidak ada alasan yang cukup masuk akal dari ketidakbetahan kita akan pekerjaan itu, perhatikanlah, bisa jadi itu adalah tanda dari kondisi kerohanian yang buruk.

Allah tidak mau kita berada di dalam lumpur itu; Ia mau kita bekerja demi kemuliaan-Nya. Ia menghendaki “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Ia mau cahaya keindahan Injil Kristus terpancar dari hidup, performa, kedisiplinan, dan tutur kata kita di dalam tempat kita bekerja. Itulah makna terpendam di balik mazmur Daud ketika ia berkata “kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:6), yakni kebenaran dan hak yang merupakan buah dari karya Allah, bukan dari kekuatan kita semata. Dan sebelum Ia bertindak untuk mengerjakan semua itu, Ia memanggil kita untuk menyerahkan hidup kita kepada TUHAN dan percaya kepada-Nya terlebih dahulu.

Inilah janji TUHAN, Gembala kita, kepada setiap kita yang tidak sedang merasa nyaman di tempat di mana Tuhan telah menaruh kita demi rancangan-Nya. Ia tidak ingin kita tergesa-gesa dan pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat lain yang menurut pandangan kita lebih baik. Ia mau kita pertama-tama percaya kepada-Nya, melakukan yang baik, tetap tinggal di sana, setia, dan bergembira karena Dia. Ia ingin agar kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan sekali lagi, percaya kepada-Nya. Ia menghendaki kita tahu “…bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)”. Inilah yang akan menjadi sumber sukacita dan kedamaian yang sejatinya hati kita rindukan.

lawson

Dan yang terakhir, Tuhan Yesus pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan (Matius 11:28-29).”

Ini merupakan Mazmur 37:4-6 versi Tuhan kita. Ia berkata bahwa Ia tahu bahwa kita sedang letih, lesu, dan berbeban berat. Namun, apakah yang Ia katakan? Apakah Ia menyuruh kita untuk bergegas meninggalkan tempat yang membuat kita letih, lesu, dan berbeban berat itu? Tidak. Sebaliknya, Ia masih memberi tugas kepada kita. Ia memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Ia bahkan masih memanggil kita untuk memikul kuk yang Ia pasang dan untuk belajar pada-Nya. Apakah Tuhan sedang bercanda? Kita sedang letih, lesu, dan memiliki beban yang sangat berat tetapi Ia masih memerintahkan kita untuk memikul kuk yang Ia taruh dan untuk belajar pada-Nya, apakah Ia bercanda?

Tidak. Ia tahu bahwa akar dari segala masalah kita adalah cinta akan diri sendiri; kita ingin tujuan kita tercapai, kita ingin merasa nyaman, kita ingin terlihat mulia. Itulah sebabnya Ia mengajak kita untuk belajar dari-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Tidak hanya itu, kita tidak hanya bisa belajar dari Tuhan kita, ketika kita mulai sadar akan betapa jahatnya hati dan ekspektasi kita dibanding dengan kemurniaan hati-Nya, kita juga beroleh keberanian untuk tetap datang kepada-Nya dan memohon pengampunan dan penyucian dari-Nya sebab Ia adalah Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati. Ia berjanji tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (Yesaya 42:3). Ia berjanji tidak akan menolak siapapun yang datang kepada-Nya (Yohanes 6:37). Itulah mengapa Ia mengundang kita dan berkata, “Marilah kepada-Ku… dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Di manapun kita berada saat ini dan apapun kondisi kita, entahkah itu letih, lesu, berbeban berat, dan merasa tidak nyaman dan tertekan di tempat kita bekerja, marilah kita segera datang kepada Kristus, bukan ke tempat lain atau tempat pekerjaan yang baru, dan jiwa kita akan mendapat ketenangan. “Bergembiralah karena TUHAN maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

spurgeon-3

Amin

Di Mana Hikmat dapat Ditemukan?

Ayat - Amsal 3 13

Untuk hidup, manusia membutuhkan pengetahuan dan hikmat. Keduanya baik. Keduanya bermanfaat. Keduanya penting dari sudut pandang Alkitab.

Apakah beda dari keduanya? Banyak orang mengatakan bahwa pengetahuan adalah informasi yang diperoleh dari pengalaman, penelitian, dan pembelajaran sementara hikmat merupakan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, pengetahuan dapat berdiri tanpa hikmat namun hikmat hanya dapat ada ketika pengetahuan terlebih dahulu dimiliki. Orang yang berpengetahuan belum tentu berhikmat tetapi orang yang berhikmat tentu berpengetahuan sebab hikmat adalah kemampuan atau keterampilan untuk menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh.

Berdasarkan pemahaman ini, marilah kita memandang dunia saat ini. Ketika kita melihat dunia ini, kita tidak dapat membantah bahwa dunia ini, dari masa ke masa, selalu memiliki banyak orang yang berpengetahuan. Dunia ini tidak kekurangan orang-orang yang berpendidikan, berpengalaman, insinyur, saintis, peneliti, penulis, filsuf, sejarawan, reporter, motivator, bahkan komentator. Di lihat dari beberapa sudut pandang, kita bahkan dapat berkata, “Dunia ini penuh dengan orang-orang berpengetahuan.”

Namun, pertanyaan yang harus kita jawab saat ini adalah:

Mengapa dunia masih seperti saat ini?
Mengapa masih ada kejahatan?
Mengapa ketakutan ada di mana-mana?
Mengapa perceraian tidak berhenti?
Mengapa kebosanan semakin menjadi-jadi?
Mengapa masih banyak kegelapan di dunia ini?

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah karena untuk dapat memperbaiki dunia ini, orang-orang berpengetahuan saja tidak cukup. Apa yang sesungguhnya dunia ini butuhkan adalah orang-orang yang berhikmat. Kini pertanyaan yang harus kita tanyakan dan harus segera kita temukan adalah ini: Di manakah hikmat dapat diperoleh?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan kita bersyukur, kita memiliki jawaban untuk pertanyaan tersebut. Firman Tuhan berkata melalui surat rasul Paulus untuk Timotius:

Ayat - 2 Timotius 3 15

Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci
yang dapat memberi hikmat kepadamu
dan menuntun engkau kepada keselamatan
oleh iman kepada Kristus Yesus.
(2 Timotius 3:15)

Di manakah hikmat dapat ditemukan?
Ya, hikmat ditemukan di dalam Kitab Suci yang adalah firman Allah.

Dunia  dapat dan telah memberi kita berbagai-bagai pengetahuan  yang berharga. Namun, hanya firman Allah yang dapat memberi hikmat kepada kita. Lebih dari itu, firman Allah tidak hanya memberi kita hikmat tetapi juga menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Tuhan kita, Yesus Kristus yang sendirinya telah menjadi Hikmat kita (1 Korintus 1:30).

Kini, setelah kita beroleh hikmat dari Kitab Suci dan keselamatan dari Kristus, bagaimana kita akan menyelamatkan dunia yang telah mengajari kita banyak sekali pengetahuan ini? Apakah cukup hanya dengan memberi berbagai pengetahuan yang kita miliki untuk kemajuan dunia ini? Tidak, kita sudah menyadari hal itu. Kita dapat menyelamatkan dunia ini dari kejahatan, ketakutan, kebosanan, perceraian, pertengkaran, peperangan, keserakahan, kasih yang menjadi dingin, dan dari berbagai-bagai kegelapan hanya dengan dengan menyatakan kepadanya hikmat yang berasal dari Alkitab dan keselamatan yang ada di dalam Kristus Yesus yang adalah Sang Hikmat yang Sejati.

Torrey

Dunia ini butuh orang-orang berhikmat
dan untuk beroleh hikmat, orang-orang butuh Firman Allah.

Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Allah, di dalam Kristus Yesus, oleh kuasa Roh Kudus.

Amin

Wanita Smart atau Wanita Saleh?

Apa yang dibutuhkan oleh iblis untuk menghancurkan dunia ini?

Yang dibutuhkan oleh iblis untuk menghancurkan dunia ini adalah
menanti kapan ada celah di mana Hawa terpisah dari Adam,
kemudian menipu Hawa, dan ketika Hawa berhasil dikelabui,
tinggal menanti kapan Adam akan jatuh, dosa muncul, murka Allah bangkit,
dan seluruh dunia ciptaan Allah yang pada awalnya “sungguh amat baik” ini
menjadi terkutuk.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Iblis mengerti betapa pentingnya peran wanita
untuk menyelamatkan dunia atau untuk membuatnya menjadi terkutuk.

Iblis juga mengerti bahwa wanita memiliki kelemahan yang sama seperti Hawa
yang membuat mereka lebih rentan untuk dijatuhkan dibanding kaum pria.

Hawa tergoda akan sesuatu,
mendengar apa kata si ular,
mengabaikan apa kata Tuhan,
merasa mandiri dari Adam,
menjadi wanita smart di zamannya,
dan dunia ini menjadi hancur.

Dan sadar atau tidak sadar,
milyaran wanita di dunia ini menjadi incaran ular yang sama,
yakni yang mengelabui Hawa,
untuk membuat mereka haus akan smartness dan kemandirian ala dunia,
untuk kemudian membawa dunia ini ke dalam kehancuran yang lebih mengerikan.

Oh, betapa dunia ini membutuhkan wanita yang saleh,
bukan wanita yang smart ala dunia ini.

Oh, betapa dunia ini akan teramat sangat jauh lebih indah
seandainya saja para wanita lebih rindu untuk mengejar apa yang indah di mata Allah
dibanding mengikuti apa yang dunia ini anggap indah.

Oh, betapa pentingnya juga peran ayah dan pria yang Alkitabiah
yang menjadi wakil Allah untuk mengasihi, melayani, memimpin, membangun,
dan menjaga putri-putri kesayangan-Nya.

NN (2)

Wahai saudari-saudariku kaum wanita, bacalah Alkitab maka Allah akan menganugerahkan kepadamu mata untuk membaca dunia ini, tinggalkanlah Alkitab maka iblis akan menggerakkan dunia ini untuk membacamu, mengetahui kelemahanmu, mengelabuimu, dan membawa dunia ini ke dalam kehancuran yang semakin mengerikan.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,

sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik,
yang berkenan kepada Allah
dan yang sempurna.
(Roma 12:2)

Wanita smart atau wanita saleh?
Yang smart atau yang sempurna?

Pilihlah dengan hikmat dari Allah bukan dengan smartness dari dunia ini!
Wanita yang benar-benar smart tentu akan mengejar yang sempurna.

The Master of My Fate, The Captain of My Soul

Masalah seluruh manusia adalah tirani dosa di dalam dirinya. Sama seperti satu dosa Adam telah menjadikan seisi jagad raya yang tadinya baik di mata Allah menjadi terkutuk oleh-Nya, demikianlah satu dosa saja di dalam hidup seseorang telah menodai seluruh aspek hidup orang itu, baik perasaan, pikiran, kehendak, maupun tingkah lakunya. Dosa itulah yang mengendalikan dan menguasai manusia sehingga mereka semakin menjauh dari Allah dan semakin dekat kepada jurang kehancuran. Jauh dari apa yang dikatakan William Ernest Henley, I am the master of my fate, I am the captain of my soul, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tidak lagi berkuasa atas dirinya sendiri. Dosalah yang kini menjadi master dari jalan hidupnya. Dosa pulalah yang kini menjadi captain dari jiwanya.

Ia dibodohi dan ditipu oleh dosa. Ia dilumpuhkan, dijadikan tuli, dan dibutakan oleh dosa. Ia dikeraskan oleh dosa. Ia dibelenggu dan dipenjara oleh dosa. Ia mati karena pelanggaran dan dosa-dosanya (Efesus 2:1). Ia mungkin merasa bahwa dirinya baik-baik saja sementara masalahnya adalah apa yang terjadi di luar dirinya. Namun, Alkitab berkata lain. Jauh dari apa yang opini manusia katakan, masalahnya sesungguhnya bagi setiap insan manusia bukanlah apa yang terjadi di luar dirinya, melainkan realita yang ada di dalam dirinya. Ya, problema sebenarnya dari setiap manusia bukanlah peperangan, kemiskinan, bencana alam, sakit penyakit, kecelakaan, atau apapun itu yang terjadi di luar. Masalah semua orang yang sebenarnya adalah hatinya sendiri, yakni hati yang dicemari dan dikuasai oleh dosa.

Chandler

Itulah mengapa umat manusia membutuhkan Yesus Kristus sebab hanya Dia yang bisa mengakhiri masalah dosa tersebut. Ya, masalah dosa tidak dapat diselesaikan hanya dengan edukasi, sosialisasi, atau pemberian motivasi. Masalah dosa tidak dapat dituntaskan hanya melalui pemberian peraturan untuk dilakukan atau program pelatihan untuk dijalani. Masalah dosa hanya dapat dijawab oleh seorang Pribadi yang berkuasa menjadi Penebus dan Juruselamat manusia dari dosa.

Inilah kebenaran yang firman Allah nyatakan. Manusia tidak butuh ditolong dari dosa. Manusia butuh ditebus dan diselamatkan dari dosa. Dan siapakah Pribadi yang layak, mau, berkuasa, dan berdaulat untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya itu? Oh, kiranya kita tidak akan bosan-bosan untuk mengatakan ini: Ia adalah Kristus Yesus, Tuhan kita, yang mengenai-Nya firman Allah berkata:

“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan,
yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.”
(Efesus 1:7)

“karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
(Matius 1:21)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi pertanyaannya: Bagaimanakah Kristus akan menyelamatkan manusia dari dosa? Bagaimana Ia menjalankan peran-Nya untuk menjadi Penebus dan Juruselamat manusia dari dosa? Ia melaksanakannya melalui dua hal.

1) Kristus datang untuk menanggung hukuman atas dosa itu.

Mengapa Ia harus menanggung dosa? Sebab Allah tidak dapat mengabaikan dosa sedikitpun. Allah adalah Hakim yang absolut. Ia tidak dapat dan tidak pernah mengampuni dosa manusia, sekecil apapun itu, hanya dengan melupakan, mengabaikan, atau mentoleransi dosa tersebut. Jika Ia melakukan hal itu, Ia harus menodai hukum-Nya sendiri dan menipu diri-Nya sendiri sebagai Hakim yang sempurna. Tetapi Ia tidak akan melakukan hal itu. Ia tidak akan pernah menipu diri-Nya sendiri. Ia adalah Hakim yang kudus, benar, dan adil, dan ketiga karakter-Nya itu harus dinyatakan di hadapan manusia. Dan itu hanya dapat dipenuhi ketika semua dosa yang manusia lakukan itu dihukum oleh-Nya dengan penghukuman yang benar, adil, dan setimpal, bukan diampuni begitu saja.

Hal ini menuntun kepada satu kesimpulan, yaitu bahwa para pendosa harus binasa di dalam pengadilan Allah sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Dan siapakah para pendosa ini? Para pendosa itu adalah kau, aku, dan seluruh umat manusia sebab firman Tuhan berkata:
“karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).”

Namun, Allah tidak hanya benar dan adil. Pada saat yang sama, Ia juga penuh dengan belas kasihan. Karena Ia baik, Ia memberitakan pesan pengharapan. Karena Ia murah hati, Ia menyediakan jalan keselamatan. Karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia  telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, yakni Yesus Kristus dari Nazaret, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kristus, Dialah puncak kasih Allah bagi dunia ini. Dialah berkat paling besar yang bisa Allah karuniakan kepada manusia. Dialah wujud dan bukti pengampunan Allah bagi umat manusia. Dan mengenai Dia, firman-Nya berkata, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).” Apakah artinya itu? Artinya adalah sama seperti domba di zaman Musa harus disembelih, tertumpah darahnya, dan mati untuk menjadi pendamaian bagi orang-orang berdosa di hadapan Allah, demikianlah Kristus harus menderita, tertumpah darah-Nya, dan mati karena dosa umat manusia yang ditanggungkan Allah di atas bahu-Nya. Dengarlah nubuat yang disampaikan Nabi Yesaya mengenai Yesus, ratusan tahun sebelum Sang Juruselamat dunia menggenapinya:

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
(Yesaya 53:4-6)

Di dalam Kristus, tuntutan penghukuman Allah dipenuhi. Di dalam Kristus, identitas Allah sebagai Hakim yang benar, adil, dan kudus dinyatakan dan dibuktikan. Allah tidak memperhitungkan dan menuntut pelanggaran manusia kepada mereka sendiri, melainkan Ia memperhitungkan dan menuntut semua itu kepada Kristus. Ia yang tidak pernah melakukan dosa sedikitipun telah ditetapkan oleh Allah untuk menanggung dosa manusia pada diri-Nya sendiri supaya di dalam Dia, manusia yang berdosa dibenarkan di hadapan Allah (2 Korintus 5:18-19). Dengan demikian, melalui Kristus, Allah dapat menganugerahkan kasih, berkat, dan pengampunan kepada para pendosa dengan cuma-cuma. Oleh Kristus, Allah yang murka berdamai dengan umat manusia yang berdosa.

Lawson

Oleh penderitaan-Nya, orang yang percaya diampuni.
Oleh pengorbanan-Nya, orang yang percaya diselamatkan.
Oleh kematian-Nya, orang yang percaya beroleh hidup.
Oleh neraka yang ditanggung-Nya, orang yang percaya beroleh Kerajaan Sorga.

Dengan demikianlah, Allah menyatakan dua identitas dan karakter-Nya yang sejati dan utuh, yakni bahwa Ia Maha Pengasih dan Maha Adil. Tidak hanya itu, melalui salib Kristus, Ia juga mengatakan bahwa “Ia benar” dan “Ia juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26).” Ya, Allah tidak hanya merupakan Yang Benar. Pada saat yang bersamaan, Ia juga adalah Yang Membenarkan mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dan melalui semua ini, tergenapilah apa yang pernah dinubuatkan oleh Pemazmur dalam Mazmur 85:10. Oleh salib Kristus, kemurahan dan kebenaran Allah dinyatakan. Oleh salib Kristus, keadilan dan damai sejahtera dari Allah dibuktikan.

Ayat - Mazmur 85 10

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah jalan pertama yang harus Kristus penuhi untuk menjadi solusi bagi dosa umat manusia. Ia menyelamatkan manusia dengan cara menerima hukuman Allah yang kekal atas para pendosa. Dengan perkataan lain, Ia menanggung neraka yang seharusnya mereka alami. Tetapi Ia tidak berhenti sampai di situ. Tidak akan ada artinya jika Ia sudah berhenti hanya sampai pada menanggung dosa umat manusia. Mengapa? Sebab manusia yang berdosa masih memiliki kecenderungan yang terlalu kuat untuk melakukan dosa lagi dan lagi. Ya, manusia yang berdosa, sekalipun ia sudah diberi pengampunan dosa, tetap akan jatuh, jatuh, dan jatuh lagi ke dalam dosa.

Namun, Allah tidak menghendaki hal itu. Allah tidak memberikan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib supaya manusia bisa kembali hidup di dalam dosa setelah dosanya ditebus. Allah tidak meninggalkan Yesus di atas kayu salib supaya manusia bisa jatuh ke dalam dosa lagi, lagi, dan lagi setelah ia diselamatkan. Tidak. Allah menghendaki buah dari manusia yang telah diselamatkan (Yohanes 15:16). Allah menuntut pekerjaan baik yang telah Ia persiapkan untuk mereka hidupi dan lakukan (Efesus 2:10). Allah menuntut kekudusan di dalam hidup umat yang dipisahkan-Nya untuk menjadi milik kepunyaan-Nya (1 Tesalonika 4:3).

Lalu, bagaimanakah manusia yang berdosa dapat menghidupi semua itu? Bukankah kecenderungan dan kesukaan hati setiap manusia adalah untuk melakukan dosa? Bukankah di dalam hati manusia ada kebodohan dan kesombongan yang akut untuk berkata seperti Henley, bahwa “I am the master of my fate. I am the captain of my soul”? Bagaimanakah manusia dapat berbuah, melakukan pekerjaan baik, dan hidup dalam kekudusan sebagaimana yang Allah kehendaki? Dan jawabannya adalah dengan Kristus melakukan jalan yang kedua, yakni:

 2) Kristus memberikan esensi dari hidup-Nya yang kudus dan ilahi ke dalam hidup manusia yang berdosa.

Ya, Kristus memberikan hidup kepada setiap orang yang Ia kehendaki (Yohanes 5:21). Di dalam Kristus, Allah menciptakan kembali orang-orang berdosa yang percaya kepada-Nya dengan hidup yang baru, yakni hidup oleh iman (Efesus 2:8-10). Dengan demikian, setiap orang yang percaya kepada Kristus Yesus telah dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Ini bukanlah kiasan atau peribahasa. Orang Kristen, secara definisi, bukanlah manusia biasa. Ia tidak sama dengan orang-orang lain yang percaya. Ia memiliki hidup Allah di dalam diri-Nya. Ya, di dalam Kristus, Allah benar-benar membentuk setiap orang yang percaya menjadi manusia yang baru, yakni manusia yang memiliki hidup dan kondrat Kristus di dalam dirinya.

Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia (Yohanes 6:51).” Apakah yang Tuhan Yesus maksud? Inilah yang Ia katakan: Ia tidak hanya menjadi Penebus dosa kita. Ia adalah Roti Hidup bagi kita. Ia datang tidak hanya untuk menyelamatkan kita. Ia datang untuk menjadi makanan bagi jiwa kita. Ia datang tidak hanya untuk kita percayai. Ia ada untuk kita makan dan dengan memakan-Nya, kita hidup dengan hidup-Nya sendiri. Dengan demikianlah tergenapi janji-Nya bahwa kita akan hidup selama-lamanya sebab Ia menjadi hidup kita.

Tuhan Yesus juga mengatakan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5)” Apakah maksud Tuhan kita? Ya, Ia tidak hanya Juruselamat bagi kita. Ia adalah Pokok Anggur yang kepada-Nya kita melekat. Kita hidup jika dan hanya jika kita melekat kepada-Nya. Ini menegaskan kepada kita satu hal, yakni “unsur hara” dari hidup Kristus akan terus menerus disalurkan kepada kita yang tertancap pada-Nya. Kita ada di dalam Dia dan Ia ada di dalam kita. Hidup kita tidak sama dengan hidup orang-orang tidak percaya. Kita hidup karena hidup Kristus diberikan kepada kita senantiasa. Kita hidup karena Kristus telah menjadi hidup kita dan esensi dari hidup-Nya, yakni secercah keilahian dan kekudusan-Nya telah dibagikan kepada kita.

Apakah lagi yang dapat kita katakan mengenai Dia? Ia adalah Gembala dan kita adalah kawanan domba-Nya (Yohanes 10:14-16). Ia adalah Kepala dan kita adalah anggota tubuh-Nya (Kolose 1:18). Ia adalah Batu Penjuru dan kita adalah bangunan-Nya (Efesus 2:19-21). Ia adalah Mempelai Pria dan kita, sebagai kesatuan gereja Kristus, adalah mempelai wanita-Nya (Wahyu 19:7-9). Ia adalah Kebangkitan dan Hidup kita (Yohanes 11:25). Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup kita (Yohanes 14:6). Ia adalah Bapa kita yang Kekal (Yesaya 9:5). Semua ini menegaskan kepada kita satu hal, yaitu bahwa Kristus menganugerahkan kepada kita, yang adalah ciptaan baru di dalam Dia, hidup dan kodrat-Nya sendiri yang kudus dan ilahi.

Untuk apa Ia melakukan hal yang sangat besar ini? Untuk apa Ia mengerjakan anugerah yang luar biasa ini? Perhatikanlah rasul Petrus berkata:

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
(2 Petrus 1:4)

Ya, Allah menganugerahkan hidup dan kodrat ilahi, yang adalah hidup dan kodrat atau natur Allah sendiri, kepada kita supaya kita luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Anugerah yang begitu luar biasa itu Ia limpahkan kepada kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang adalah Hidup kita. Demikianlah Kristus menyelamatkan kita dari dosa, tidak hanya dengan menanggung dosa-dosa kita, tetapi juga mengaruniakan kepada kita esensi hidup-Nya yang ilahi dan kudus sehingga kita dimampukan untuk berperang melawan dosa dan diperkenankan untuk datang kepada Allah.

MLJ 2

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pembaca yang terkasih, untuk apa kita membahas semua ini? John Calvin pernah berkata, “Hikmat yang sejati mencakup dua hal: Pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri sendiri.” Kita membahas semua ini untuk kedua pengenalan tersebut.

Kita membahas ini supaya kita mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. Kita sama sekali tidak patut berkata bersama-sama dengan Henley, “I am the master of my fate.” Kita tidak pantas sedikitpun untuk mengucapkan dengan bibir kita, “I am the captain of my soul.” Kedua pernyataan itu adalah perkataan paling bodoh, paling sombong, dan paling kosong yang bisa seorang manusia katakan.

Seorang Kristen tidak akan berkata seperti itu. Seorang Kristen sadar bahwa ia tidak lagi berhak atas hidupnya sendiri dan ia tidak lagi ingin berkuasa atas dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia tidak lagi memiliki hidupnya sendiri. Ia bersyukur karena hidupnya berada di genggaman Allah dalam Kristus. Ia bersyukur karena ia telah menjadi milik Kristus. Ia bersukacita karena ia termasuk dalam kawanan domba Kristus. Ia bersorak-sorai karena ia, sebagai ranting, tertancap pada Kristus yang adalah Sang Pokok Anggur. Ia telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri. Ia berpusat hanya pada Kristus. Ia bersama-sama dengan Paulus berkata:

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
(Galatia 2:20)

Oleh sebab itu, jauh dari apa yang Henley pikirkan, kita harus menyadari satu hal, yakni hanya ada satu Pribadi yang berhak berkata kepada setiap kita, “I am the Master of your fate,” dan hanya ada satu Pribadi yang pantas untuk berseru kepada kita, “I am the Captain of your soul.” Pribadi yang sama juga berkuasa dan berdaulat untuk berkata:

I am the Light of the World (Yohanes 8:12)

I am the Way, the Truth, and the Life
(Yohanes 14:6)

I am the Author of Life (Kisah Para Rasul 3:15)

I am the Beginning and the End (Wahyu 22:13)

I am the King of kings and Lord of lords (Wahyu 19:16)

I am the Mighty God (Yesaya 9:6)

I am YAHWEH (Filipi 2:9-10 dan Yesaya 45:23-24)

Siapakah Dia? Ya, jutaan kali “Ya dan Amin,” Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kita yang terkasih, Yesus Kristus. Ia yang lahir di kandang domba, hidup di antara orang miskin dan berdosa, mati di atas kayu salib, tersalib telanjang di antara dua orang penjahat, dan dikuburkan di sebuah makam pinjaman, ya, tetapi bertahta di Kerajaan Sorga atas seisi jagad raya dan atas hidup seluruh umat manusia.

Biarlah William Ernest Henley saja yang menipu dan membodohi dirinya sendiri dengan angan-angannya yang semu. Tetapi kita, biarlah kita merendahkan hati dan menyerukan apa yang pernah Yohanes Pembaptis katakan:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30)

Biarlah kita menyadari kelemahan kita dan bersama-sama dengan Paulus berkata:

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9)

Biarlah kita, bersama-sama dengan Yudas, bersatu hati dan mengumandangkan pengakuan iman kita kepada-Nya:

“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung
dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan
di hadapan kemuliaan-Nya,
Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa
sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya.”
Amin. (Yudas 1:24-25)

IMG_175994562590997

Amin
Ya, Amin

“I am the Master of My Fate, The Captain of My Soul,” He Said.

Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate,
I am the captain of my soul.

(Invictus, oleh William Ernest Henley)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa tahun yang lalu, dua baris terakhir dalam puisi Henley yang cukup menarik ini mendapat perhatian, bahkan sanjungan dariku.

i-am-the-master-of-my-fate-william-ernest-henley-daily-quotes-sayings-pictures-810x810

Bukankah itu sebuah slogan yang membangkitkan semangat? Bukankah itu sebuah perkataan yang menumbuhkan motivasi di dalam diri? Bukankah itu ucapan yang membakar rasa percaya diri? Ya, itu adalah slogan yang sangat baik, tapi hanya jika kau bukanlah seorang murid Kristus.

Murid Kristus tidak akan pernah mengatakan hal yang demikian. Seekor domba tidak akan pernah mengatakan “I am the master of my fate” sebab domba, seandainya saja dapat berpikir dan berbicara, sadar bahwa ia senantiasa membutuhkan sang gembala. Seorang anak kecil tidak akan pernah mengatakan “I am the captain of my soul” sebab ia tahu bahwa ia mudah takut dan bahwa kapten dari jiwanya, yang juga adalah kebanggaannya, adalah ayahnya. Dan bukankah Kristus menyebut kita sebagai domba-domba-Nya dan bahwasanya hanya orang-orang yang seperti anak yang kecil yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga? Ya. Itulah mengapa seorang murid Kristus tidak dapat menyerukan seruan yang sama dengan apa yang Henley utarakan. Namun, nampaknya keadaanku saat itu tidak mencerminkan kedua gambar dari murid Kristus. Aku tidak hidup layaknya domba Kristus. Aku tidak bergantung layaknya seorang anak kecil di hadapan Allah. Di dalam kebutaanku dan kematian hatiku, aku setuju dengan Henley, bahkan menyanjung puisinya.

Ketika itu, akan mem-post perkataan Henley ini dengan segala kebanggaan dan aku cukup yakin quote ini juga bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang. Betapa bodohnya diriku. Tetapi puji Tuhan, seorang saudara di dalam Tuhan menegurku karena post-ku itu. Ia tidak setuju dengan slogan yang menurutku sangat baik itu. Apa yang bisa kuingat saat ini adalah saat itu aku menolak teguran kawanku tersebut dan aku mencoba membela apa yang Henley katakan dengan beberapa argumen yang terpikirkan olehku. Ah, betapa kelirunya diriku kala itu.

Tetapi terpujilah Tuhan, Allah telah menyelamatkanku di dalam Kristus Yesus, Anak-Nya, Tuhan kita. Ia menganugerahkan Roh-Nya yang kudus yang kini tinggal di dalamku. Roh Kebenaran itulah yang mencelikkan mataku, menerangi pikiranku, mengubah hatiku dengan hati yang baru, dan memberiku hidup yang sejati, yang kekal, yang terikat kepada Pokok Anggur-ku, Tuhan Yesus Kristus. Kini aku sadar dan menarik sebuah kesimpulan: “I am the master of my fate” tidaklah lebih dari sebuah kesombongan dan kebodohan, “I am the captain of my soul” adalah pemberontakan yang keji kepada Allah.

Dan beberapa minggu yang lalu, salah seorang pahlawanku di dalam iman, Dr. Martyn Lloyd Jones, semakin menguatkan kesimpulanku itu. Di dalam khotbahnya yang berjudul He Makes the Storm a Calm yang diangkat dari Mazmur 107:23-32, ia menyinggung puisi Henley tersebut. Lloyd Jones, dengan intonasi yang tinggi, berkata:

“I am the master of my fate.”
“I am the captain of my soul.”

Poor fool!
Master of his fate?

Well then I ask again why is his head bleeding? ­
Why can’t he stop the raging of the sea?
Why can’t he produce a calm?
Why can’t he arrive at his haven?

Is he the master, the captain of his soul?
Is he the pilot?
Is his engine still working?
Is his compass still in line?

What about his log book?
Where is he?
He doesn’t know.

No, no…

All that was so written by Henley is nothing but a picture
of a man whistling in the dark trying to keep up his courage.

He has no idea where he is going.
He has no control whatsoever over his life and over his fate.

And to talk about being the captain of his soul?
He is not at control at all.”

Aku setuju dengan Lloyd Jones.
Kau tahu mengapa?
Sebab Lloyd Jones benar dan Henley salah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1

Ya, manusia bukanlah tuan dari takdirnya. Manusia tidak memiliki kuasa atau kendali sedikitpun untuk mengubah masa hidupnya. Hanya ada satu tuan di dunia ini dan Ia adalah TUHAN. Daud benar ketika ia bermazmur, “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (Mazmur 31:15).

Manusia bukanlah kapten dari nyawanya. Hanya ada satu kapten di alam raya ini dan Ia adalah Allah. Oh, seandainya kita mau merendahkan hati, terbangun dari mimpi yang semu, dan menyadari kenyataan hidup ini, akan begitu mudah bagi kita untuk memahami bahwa manusia bukanlah tuan atas takdirnya atau kapten dari jiwanya.

Satu kuman yang sangat kecil saja bisa membunuh kita. Itu hanya satu kuman, sementara kuman yang mematikan seperti itu mungkin ada di mana-mana. Tetapi mengapa kita tidak mati olehnya? Mengapa kita relatif tidak mudah sakit sekalipun kita terpapar dengannya? Apakah karena kita adalah tuan dari takdir kita? Apakah karena kita yang secara sadar mengatur mekanisme kekebalan tubuh di dalam tubuh kita? Atau karena ada Pribadi yang lebih kuat dari kita yang mencegah kuman itu membunuh kita dan dengan kedaulatan-Nya mengendalikan sistem pertahanan tubuh kita yang bekerja sekalipun kita tidak mengaturnya dan menyadarinya? Kau dan aku tahu jawabannya.

Manusia berkata bahwa ia adalah kapten dari nyawanya. Apakah ia memegang kendali sepenuhnya untuk mengatur kedipan matanya? Apakah ia berkuasa sepenuhnya untuk mengatur denyut jantungnya? Apakah ia yang membuat tubuhnya tetap bernafas ketika ia sedang tidur? Apakah ia memerintah bakteri-bakteri positif yang ada di dalam tubuhnya? Apakah ia mengendalikan reaksi kimia yang terus menerus berlangsung selama ia hidup? Apakah ia adalah tuan dari semua itu? Ataukah mata berkedip, jantung berdenyut, tubuh bernafas, bakteri-bakteri itu bekerja, dan reaksi kimia itu terus berlangsung karena mereka melayani perintah dari seorang Pribadi yang Maha Kuasa? Kau dan aku tidak dapat menyangkal hati nurani kita. Kita tahu jawabannya dengan pasti.

Seandainya manusia mengambil waktu sejenak untuk memikirkan semua itu, tidak akan ada orang yang seperti Henley berkata, “I am the master of my fate. I am the captain of my soul.” Hanya ada satu Penguasa di dalam hidup manusia dan Ia adalah Allah. Spurgeon memang benar ketika ia berkata bahwa Allah memberi kita tidur supaya kita ingat bahwa kita bukanlah Allah. Dialah satu-satunya Tuhan atas takdir kita dan Pemimpin bagi jiwa kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi cobalah selidiki hidup kita. Kita hidup seolah-olah kita adalah pemilik hidup ini. Kita hidup seakan-akan kita adalah penguasa hidup kita sendiri. Kita mengatakan, “Aku akan melakukan ini dan itu. Aku ingin menjadi ini dan itu. Aku akan pergi ke sana dan kemari. Aku mengejar ini, ini, ini, dan itu.” Tetapi kita tidak menanyakan Allah. Kita menutup mata dan telinga kita dari firman-Nya. Kita tetap berjalan maju sekalipun kita tahu bahwa Allah mungkin tidak akan setuju dengan keinginan kita. Di kepala, kita tahu bahwa jalan Allah adalah yang terbaik bagi hidup kita, tetapi di dalam totalitas hidup, kita lebih memilih jalan kita sendiri.

Mengapa bisa begitu?
Mengapa hati kita condong untuk menguasai diri kita dibanding bergantung pada Allah?
Mengapa kita begitu malas menanyakan dan menanti Allah?
Hanya satu jawabannya: Dosa

Bridges

Ketika dosa memiliki dan menguasai kita, kita akan hidup seolah-olah kita memiliki dan menguasai hidup kita sendiri. Jikalah dosa hidup dan berkuasa di dalam diri kita, maka kita akan mati dan menjadi budak dosa. Kita tidak mendengar suara Allah yang nyata dari firman-Nya. Kita tidak melihat wajah Allah yang nyata dari buku-Nya. Kerajaan-Nya tidak menjadi kerajaan kita. Rumah-Nya tidak menjadi perteduhan kita. Umat-Nya tidak menjadi kekasih dan kesukaan jiwa kita. Kehendak-Nya tidak menjadi kerinduan kita. Pekerjaan dan misi-Nya tidak menjadi perhatian kita. Ia tidak menjadi sukacita dan kepuasan bagi hasrat jiwa kita. Kita tidak mengenal-Nya sebagai Bapa di dalam hidup kita. Kita terpisah dari-Nya. Kita menjauh dari-Nya. Ia, yang menciptakan kita, asing bagi kita.

Oh, betapa mengerikannya hal itu. Dan betapa banyak manusia berada di dalam kegelapan yang demikian. Manusia yang begitu cerdas dan pintar dalam sangat banyak hal tetapi untuk satu hal, yaitu hidup yang sejati, menjadi begitu bodoh. Manusia yang begitu luar biasa dalam memahami begitu banyak hal tetapi untuk mengenal dan memahami Penciptanya sendiri, menjadi begitu buta.

Manusia mengira bahwa mereka memiliki hidup padahal dosa yang memiliki mereka. Mereka berpikir bahwa mereka menguasai hidup padahal dosa yang memerintah di dalam hati mereka. Mereka menyangka bahwa mereka hidup padahal mereka mati. Manusia mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri sembari meninggalkan Kemuliaan Yang Sejati.

Mengapa bisa demikian?
Ya, karena dosa.

MLJ 2 (2)

Itulah kenyataan mengenai umat manusia yang berkata, “I am the master of my fate.”
Itulah kebenaran mengenai manusia yang berpikir, “I am the captain of my soul.”
Itulah realita manusia di dalam dosa.

Kebodohan dan kesombongan telah membunuh umat manusia. Jika ditinggalkan dengan diri mereka sendiri, maka seluruh umat manusia akan berakhir di dalam kebinasaan. Tetapi terpujilah Tuhan karena masih ada pengharapan bagi manusia. Terpujilah Allah karena kita masih memiliki pesan yang menuntun kepada hidup. Dan pesan itu adalah Injil yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang-orang yang percaya. Injil itu berkata:

Hanya ada satu masalah utama umat manusia: Dosa.
Dan oleh sebab itu,
hanya ada satu solusi bagi umat manusia: Juruselamat dan Penebus dosa.

Siapakah Dia?
Siapakah Sang Juruselamat dan Penebus dosa itu?
Ya, Ia adalah Tuhan kita, Yesus Kristus.

Calvin2

#Bersambung